TEXT: Rangkaian Hadits tentang Akhir Zaman
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 001/12111447 – 30042026
DEKATNYA HARI KIAMAT
عن سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِإِصْبَعَيْهِ هَكَذَا، بِالْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ: بُعِثْتُ وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ» رواه البخاري
Dari Sahl bin Sa’d رضي الله عنه, ia berkata: “Aku melihat Rosũlullōh ﷺ memberi isyarat dengan dua jari beliau seperti ini, yaitu jari tengah dan jari yang di sebelah ibu jari (telunjuk), seraya bersabda: ‘Aku diutus dengan Hari Kiamat Adalah seperti dua jari ini (sangat berdekatan).’”
(HR. Al-Bukhōry no: 4936)
عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “بعثت أنا والساعة كهاتين”» متفق عليه واللفظ لمسلم
Dari Anas bin Mãlik رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullōh ﷺ bersabda: “Aku diutus, dan Hari Kiamat adalah seperti dua jari ini.”
(Muttafaq ‘alaih, HR. Al-Bukhōry no: 6504 dan HR. Muslim no: 2951; dan lafadz ini dari Riwayat Muslim ibn al-Hajjaj)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ» رواه البخاري
Dari Abu Hurairoh, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Aku diutus dan Hari Kiamat seperti dua jari ini.”
(HR. Al-Bukhōry no: 6505)
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ؛ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ. حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ، يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ. وَيَقُولُ. “بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ”. ويقرن بين أصبعيها لسبابة وَالْوُسْطَى. وَيَقُولُ: “أَمَّا بَعْدُ. فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ. وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ. وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا. وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ”. ثُمَّ يَقُولُ: ” أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ. وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضياعا فإلي وعلي”» رواه مسلم
Dari Jãbir bin ‘Abdillãh رضي الله عنه, ia berkata: “Apabila Rosũlullōh ﷺ berkhutbah, maka keadaan kedua mata beliau memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya memuncak, seakan-akan beliau seorang pemberi peringatan tentang datangnya pasukan musuh, seraya berkata: “Musuh menyerang kalian pagi dan petang!” Beliau ﷺ juga bersabda: “Aku diutus dan Hari Kiamat adalah seperti dua jari ini,” sambil merapatkan jari telunjuk dan jari tengah beliau.
Kemudian beliau ﷺ bersabda lagi: “Amma ba‘du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Alloh (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam urusan agama), dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.” Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Aku lebih berhak terhadap setiap mukmin daripada dirinya sendiri. Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu untuk keluarganya. Barangsiapa meninggalkan hutang atau tanggungan (anak-anak/lemah yang terlantar), maka semua itu menjadi urusanku dan menjadi tanggunganku.”
(HR. Muslim no: 867)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 002/14111447 – 02052026
SEPERTI PERSIA & ROMAWI
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ » رواه البخاري
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti (meniru) umat-umat sebelum mereka, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”
Lalu ditanya: “Wahai Rosũlullõh, apakah seperti Persia dan Romawi?”
Beliau menjawab: “Memang siapa lagi manusianya selain daripada mereka.”
(HR. Al-Bukhõri, no: 7319)
SEPERTI YAHUDI & NASHRONI
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ «لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ » متفق عليه
Dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan (jalan hidup) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika mereka masuk ke lubang biawak pun, kalian pasti akan mengikutinya.”
Kami bertanya: “Wahai Rosũlullõh, apakah (yang dimaksud) orang-orang Yahudi dan Nasrani?”
Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”
(Muttafaq ‘alaih, HR. Al-Bukhõri, no: 3456 dan 7320, dan HR. Muslim, no: 2669)
Kalau kita tilik sejarah….
Maka pada saat Nabi Muhammad ﷺ dibangkitkan, memang super power kekuasaan dunia disaat itu adalah: kalau tidak Persia ya Romawi; dan atau kalau tidak Ahlul Kitab ya kaum Majusi….
Bahkan ketika Nabi ﷺ menjawab: “Siapa lagi manusianya, kalau bukan mereka Yahudi dan Nashroni…?!”; atau ketika Nabi ﷺ menjawab: “Siapa lagi manusianya, selain daripada mereka Persia dan Romawi…?!”
Atau dalam dunia masa kini adalah “seperti Barat dan Timur, yang mereka saling berebut pengaruh dan kekuatannya”….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 003/15111447 – 03052026
BAGAI MENGGENGGAM BARA
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ» رواه الترمذي
Dari ‘Anas bin Mãlik رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana orang yang sabar (teguh) dalam berpegang teguh pada agamanya di tengah-tengah mereka adalah seperti orang yang menggenggam bara api.”_
(HR. At-Tirmidzi, no: 2260)
Seperti di “era Islamophobia” ini…
Dimana julukan-julukan “Wahhabi – radikal – teroris – fundamentalis” dan lain sebagainya…,
yang datang dari Bukan Muslim adalah lebih diminati dan digandrungi…
Daripada kembali pada sikap KRITIS terhadap KEBENARAN HAKIKI ISLAM dengan mengkaji / mempelajari dari sumber-sumbernya (Al-Qur’an & Hadits-Hadits Nabi ﷺ)….
Dan “menggenggam bara” itu….
Tak hanya terjadi di bidang keilmuan maupun Dakwah…
Bahkan dalam berbagai perkara lainnya, seperti: Memperjuangkan Masjidil Aqsho, Membela Syari’at Islam di berbagai lini kehidupan…
Maka “menggenggam bara” itu akan semakin lebih berat, sesuai tingkat besarnya perjuangan yang dilakukan….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 004/16111447 – 04052026
MUNCUL KARAKTER PENGKHIANAT
عن عبد الله بن عمرو بن العاص، قال: بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذ ذكر الفتنة، فقال: «إذا رأيتم الناس قد مرجت عهودهم، وخفت أماناتهم، وكانوا هكذا» وشبك بين أصابعه، قال: فقمت إليه، فقلت: كيف أفعل عند ذلك، جعلني الله فداك؟ قال: «الزم بيتك، واملك عليك لسانك، وخذ بما تعرف، ودع ما تنكر، وعليك بأمر خاصة نفسك، ودع عنك أمر العامة» رواه أبو داود
Dari ‘Abdullõh bin ‘Amr bin al-Ash رضي الله عنه, ia berkata: “Ketika kami berada di sekitar Nabi Muhammad ﷺ, beliau menyebutkan tentang berbagai fitnah, lalu beliau ﷺ bersabda: ‘Apabila kalian melihat manusia telah merusak perjanjian-perjanjian mereka dan berkurang sikap amanah mereka, dan mereka akan menjadi seperti ini,’ sambil beliau ﷺ menyilangkan jari-jemarinya.
Aku pun berdiri mendekat kepada beliau ﷺ dan bertanya: ‘Apa yang harus aku lakukan di saat seperti itu? Semoga Allōh menjadikanku tebusan bagimu.’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Tinggallah kamu di rumahmu, kendalikanlah lisanmu, ambillah (amalkan) apa-apa yang kamu ketahui (kebenarannya), dan tinggalkan apa-apa yang kamu ingkari, fokuslah pada urusan dirimu sendiri, dan tinggalkan urusan orang banyak.’”
(HR. Abu Dãwud, no: 4343)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 005/17111447 – 05052026
DUNIA MENJADI IMAM
عَنْ أَبي ثَعْلَبَةَ الشَّعْبَانِيِّ، عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ} [المائدة: 105] فَقَالَ أَبُو ثَعْلَبَةَ: أَنَا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبْلًا فَقَالَ: «يَا أَبَا ثَعْلَبَةَ، مُرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ، فَإِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَرَأَيْتَ أَمْرًا لَابُدَّ لَكَ مِنْ طَلَبِهِ فَعَلَيْكَ نَفْسَكَ وَدَعْهُمْ وَعَوَامَّهُمْ، فَإِنَّ وَرَاءَكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ صَبْرٌ فِيهِنَّ كَقَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ أَجْرُ خَمْسِينَ يَعْمَلُ مِثْلَ عَمَلِهِ» رواه الحاكم قال: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ ” صححه الذهبي وقال الألباني في صحيح الترغيب والترهيب: صحيح لغيره
Dari Abu Tsa’labah asy-Sya’bãnĩ رضي الله عنه, ia berkata tentang firman Allõh: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tidak akan membahayakan kalian orang yang sesat apabila kalian berpegang teguh pada petunjuk” (QS. Al-Mā’idah: 105),” lalu ia melanjutkan perkataannya: “Aku pernah menanyakannya kepada Nabi Muhammad ﷺ sebelumnya, maka beliau bersabda: ‘Wahai Abu Tsa’labah, perintahkanlah oleh kalian yang ma’ruf dan cegahlah kemunkaran. Namun apabila engkau melihat sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia lebih diutamakan, dan engkau melihat suatu keadaan yang tidak bisa engkau hindari, maka perhatikanlah dirimu sendiri dan tinggalkan mereka serta orang-orang awamnya. Sesungguhnya di belakang kalian akan datang hari-hari kesabaran; dimana bersabar (dalam berpegang teguh pada prinsip agama) pada masa itu seperti menggenggam bara api. Bagi orang yang beramal pada masa itu, ia akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya (di masa ini).’”
(HR. Al-Hakim, no: 7912; ia berkata: “Sanadnya shohĩh, meskipun tidak diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhōry dan Imam Muslim“. Dishohĩhkan oleh Adz-Dzahabi, dan Muhammad Nashiruddĩn al-Albãny dalam Shohĩh at-Targhib wat-Tarhib, no: 3172: berkata: “Shohĩh li ghoirihi“)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 006/18111447 – 06052026
YAHUDI DITAMPAR
عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: «اسْتَبَّ رَجُلَانِ: رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَرَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ، قَالَ الْمُسْلِمُ: وَالَّذِي اصْطَفَى مُحَمَّدًا عَلَى الْعَالَمِينَ، فَقَالَ الْيَهُودِيُّ: وَالَّذِي اصْطَفَى مُوسَى عَلَى الْعَالَمِينَ، فَرَفَعَ الْمُسْلِمُ يَدَهُ عِنْدَ ذَلِكَ فَلَطَمَ وَجْهَ الْيَهُودِيِّ، فَذَهَبَ الْيَهُودِيُّ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ مِنْ أَمْرِهِ وَأَمْرِ الْمُسْلِمِ، فَدَعَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمُسْلِمَ، فَسَأَلَهُ عَنْ ذَلِكَ فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: لَا تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى، فَإِنَّ النَّاسَ يَصْعَقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَأَصْعَقُ مَعَهُمْ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُفِيقُ، فَإِذَا مُوسَى بَاطِشٌ جَانِبَ الْعَرْشِ، فَلَا أَدْرِي: أَكَانَ فِيمَنْ صَعِقَ فَأَفَاقَ قَبْلِي، أَوْ كَانَ مِمَّنِ اسْتَثْنَى اللهُ.» متفق عليه
Dari Ibnu Syihãb az-Zuhri, dari Abu Salamah dan ‘Abdurrohman al-A’roj, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata: “Terjadi dua orang saling mencaci, yaitu: antara seorang Muslim dan seorang Yahudi. Orang Muslim itu berkata: ‘Demi Dzat yang telah memilih Muhammad atas seluruh alam.’ Lalu orang Yahudi itu berkata: ‘Demi Dzat yang telah memilih Musa atas seluruh alam.’ Maka orang Muslim itu mengangkat tangannya lalu menampar wajah orang Yahudi tersebut. Kemudian orang Yahudi itu datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan orang Muslim tersebut. Maka Nabi ﷺ memanggil orang Muslim itu dan menanyakan hal tersebut, lalu ia pun menceritakannya. Maka Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah kalian melebihkanku atas Musa. Sesungguhnya manusia akan pingsan pada Hari Kiamat, dan aku pun termasuk yang pingsan bersama mereka. Kemudian aku adalah orang pertama yang sadar kembali, lalu ternyata Musa sudah berpegangan di sisi ‘Arsy. Aku tidak tahu apakah ia termasuk yang ikut pingsan lalu sadar sebelumku, atau termasuk orang yang dikecualikan oleh Allōh (tidak pingsan).’”
(Muttafaq ‘alaih, HR. Al-Bukhōry, no: 2411 dan 6517 dan HR. Shohĩh Muslim, no: 2373)
“Fitnah Akhir Zaman” yang dimaksud dalam Hadits ini adalah…
Bahwa Muslim di saat sekarang ini adalah pihak yang justru “ditampar” oleh orang-orang Yahudi…
Bahkan tak hanya “ditampar“, namun juga dibunuh, dirampok, dijajah, dan ditindas; seperti terutama terjadi dan dialami saat ini oleh saudara-saudara Muslim kita di Palestina dan atau di belahan bumi lainnya….
Padahal dahulu Yahudi itu memiliki “sikap segan” terhadap kaum Muslimin….
Satu hal lagi yang perlu direnungkan dan disadari adalah…
Bahwa dahulu kaum Yahudi itu justru mengadukan masalah-masalah mereka dan meminta putusan nasib mereka pada Nabi Muhammad ﷺ, yang dikala itu memang beliau ﷺ lah sang pemutus perkara….
Seperti itu lah yang terjadi manakala Islam berjaya dan memimpin dunia…
Berbeda dengan kondisi “Fitnah Akhir Zaman” di masa kini….
Dimana kaum Muslimin dalam keadaan terpuruk, tanpa pemimpin yang “solid” diatas Islam…
Dan justru kaum Muslimin berada dibawah Keputusan, Peraturan dan Ketentuan dari kaum Yahudi.
Lã haula wa lã quwwata illa billãh…
Semoga Allōh عز وجل menolong kaum Muslimin dari keterpurukan ini…
Dan hanya dengan cara “kembali kepada Islam“, maka hal itulah yang dapat menjadikan Muslim bangkit dari keterpurukannya….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 007/19111447 – 07052026
BERLOMBA DALAM KEMAKMURAN DUNIA
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ. قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى قَتْلَى أُحُدٍ. ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ كَالْمُوَدِّعِ لِلْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ. فَقَالَ: “إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ. وَإِنَّ عَرْضَهُ كَمَا بَيْنَ أَيْلَةَ إِلَى الْجُحْفَةِ. إِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي. وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا، وَتَقْتَتِلُوا، فَتَهْلِكُوا، كَمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ”.» متفق عليه واللفظ لمسلم
Dari ‘Uqbah bin ‘Āmir رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullõh ﷺ pernah menyolatkan para syuhada Uhud. Kemudian beliau naik ke atas mimbar seakan-akan berpamitan kepada yang hidup dan yang telah wafat, lalu bersabda: “Sesungguhnya aku akan mendahului kalian ke Telaga (Haudh). Luasnya (Haudh) seperti jarak antara Ailah dan Juhfah. Aku tidak khawatir kalian akan berbuat Syirik setelahku, tetapi aku khawatir terhadap kalian akan (Fitnah) Dunia: kalian akan saling berlomba memperebutkan (dunia), lalu saling berperang karenanya, sehingga kalian binasa sebagaimana binasanya orang-orang sebelum kalian.”
(Muttafaqqun ‘alaihi, HR. Al-Bukhōry, no: 1344, 3596, 4085 dan 6590 dan HR. Shohĩh Muslim, no. 2296 dan ini adalah lafadz dari Muslim)
عن الْمِسْوَرَ بْنِ مَخْرَمَةَ: «أَنَّ عَمْرَو بْنَ عَوْفٍ وَهُوَ حَلِيفٌ لِبَنِي عَامِرِ بْنِ لُؤَيٍّ، كَانَ شَهِدَ بَدْرًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ يَأْتِي بِجِزْيَتِهَا، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم هُوَ صَالَحَ أَهْلَ الْبَحْرَيْنِ وَأَمَّرَ عَلَيْهِمُ الْعَلَاءَ بْنَ الْحَضْرَمِيِّ، فَقَدِمَ أَبُو عُبَيْدَةَ بِمَالٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ، فَسَمِعَتِ الْأَنْصَارُ بِقُدُومِهِ، فَوَافَتْهُ صَلَاةَ الصُّبْحِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَلَمَّا انْصَرَفَ تَعَرَّضُوا لَهُ، فَتَبَسَّمَ حِينَ رَآهُمْ وَقَالَ: أَظُنُّكُمْ سَمِعْتُمْ بِقُدُومِ أَبِي عُبَيْدَةَ، وَأَنَّهُ جَاءَ بِشَيْءٍ؟ قَالُوا: أَجَلْ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ.» متفق عليه
Dari Al-Miswar bin Makhromah رضي الله عنه: “Bahwa ‘Amr bin ‘Auf—sekutu Bani ‘Amir bin Lu’ayy dan termasuk yang ikut perang Badar bersama Rosũlullõh ﷺ — memberitahu bahwa Rosũlullõh ﷺ mengutus Abu ‘Ubaidah bin al-Jarroh untuk mengambil jizyah dari Bahrain.
Rosũlullõh ﷺ sebelumnya telah mengadakan perjanjian dengan penduduk Bahrain dan mengangkat Al-‘Ala bin al-Hadromi sebagai pemimpin mereka. Lalu Abu ‘Ubaidah datang membawa harta dari Bahrain.
Kaum Anshor mendengar kedatangannya, maka mereka menghadiri sholat Shubuh bersama Rosũlullõh ﷺ. Ketika beliau ﷺ selesai sholat, mereka mendekati beliau.
Beliau ﷺ tersenyum melihat mereka dan bersabda: “Sepertinya kalian mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah dan bahwa ia membawa sesuatu?”
Mereka menjawab: “Benar, wahai Rosũlullõh.”
Beliau bersabda: “Bergembiralah dan berharaplah apa yang menyenangkan kalian. Demi Allõh, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia akan dibentangkan kepada kalian, sebagaimana (dunia telah) dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba memperebutkannya sebagaimana mereka telah berlomba atasnya, dan dunia itu akan melalaikan kalian sebagaimana dunia telah melalaikan mereka.”
(Hadis ini juga Muttafaq ‘alaih. HR. Al-Bukhōry, no: 6425 dan 3158 dan HR. Muslim, no: 2961)
Diantara “Fitnah Akhir Zaman” adalah….
Manakala manusia…
Bukanlah berlomba dalam keshōlihan….
Bukanlah berlomba dalam membumikan Syari’at Allōh….
Atau bukan pula berlomba dalam melestarikan potensi alam….
Namun….
Malah justru berlomba dalam ketamakan….
Malah justru berlomba dalam keangkuhan dan keegoan…
Hingga…
Masing-masing pihak pun sibuk menetapkan bagaimana agar mereka memiliki “Standar Kebenaran menurut versi diri mereka masing-masing“…
Bahkan…
Mereka pun kemudian saling bunuh, saling serang dan saling berebut pengaruh…
Sehingga…
Tak lagi peduli dengan harga diri orang lain…
Tak lagi peduli dengan benar atau salah…
Tak lagi peduli apakah bersikap adil ataukah aniaya…
Tak lagi peduli apakah akan merusak ataukah melestarikan…
Maka….
Semua akan berakhir dengan “kacau dan kiamat“…
Bahkan sebelum Hari Kiamat itu sendiri tiba….
Na’ũdzu billãhi min dzãlik…
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 008/20111447 – 08052026
JANGAN SAMPAI KALIAN BUTA
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ أَكْثَرَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللهُ لَكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ. قِيلَ: وَمَا بَرَكَاتُ الْأَرْضِ؟ قَالَ: زَهْرَةُ الدُّنْيَا، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: هَلْ يَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ؟ فَصَمَتَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ يُنْزَلُ عَلَيْهِ، ثُمَّ جَعَلَ يَمْسَحُ عَنْ جَبِينِهِ، فَقَالَ: أَيْنَ السَّائِلُ؟ قَالَ: أَنَا، قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: لَقَدْ حَمِدْنَاهُ حِينَ طَلَعَ ذَلِكَ، قَالَ: لَا يَأْتِي الْخَيْرُ إِلَّا بِالْخَيْرِ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ مَا أَنْبَتَ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ حَبَطًا، أَوْ يُلِمُّ، إِلَّا آكِلَةَ الْخَضِرَةِ، أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتِ الشَّمْسَ فَاجْتَرَّتْ وَثَلَطَتْ وَبَالَتْ، ثُمَّ عَادَتْ فَأَكَلَتْ، وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ حُلْوَةٌ، مَنْ أَخَذَهُ بِحَقِّهِ وَوَضَعَهُ فِي حَقِّهِ فَنِعْمَ الْمَعُونَةُ هُوَ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ كَانَ الَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ.» رواه البخاري
Dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah apa yang Allõh keluarkan untuk kalian dari keberkahan bumi.”
Lalu ada yang bertanya: “Apakah yang dimaksud keberkahan bumi?”
Beliau ﷺ menjawab: “Perhiasan dunia.”
Seorang laki-laki kemudian bertanya lagi: “Apakah kebaikan bisa mendatangkan keburukan?”
Nabi ﷺ terdiam, hingga kami mengira Wahyu (Allõh) sedang turun kepada beliau. Kemudian beliau ﷺ mengusap keringat dari dahinya dan bersabda: “Dimanakah orang yang bertanya?” Ia menjawab: “Saya.”
Beliau ﷺ bersabda: “Kebaikan tidaklah datang melainkan dengan kebaikan. Sesungguhnya harta itu hijau lagi manis (menarik). Apa yang ditumbuhkan oleh musim semi bisa membinasakan (hewan) karena ia kekenyangan atau hampir membinasakannya, kecuali jika hewan itu hanya makan secukupnya. Ia makan hingga perutnya penuh, lalu menghadap matahari, memamah biak, buang kotoran dan kencing, kemudian kembali makan. Sesungguhnya harta itu manis. Barangsiapa mengambilnya dengan cara yang benar dan menggunakannya pada jalan yang benar, maka ia adalah sebaik-baik penolong. Namun barangsiapa mengambilnya tanpa haq, maka ia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang.”
(HR. Al-Bukhōry, no: 6427)
Mentang-mentang dunia ini hijau, menarik, manis, lezat, menyenangkan, memuaskan, dan membahagiakan….
Maka…
Kebanyakan orang lalu mengejarnya hingga ke ujung dunia…
Seberapapun resikonya….
Bahkan sampai tidak lagi dianggap perlu olehnya “rambu-rambu“ Allōh عز وجل, Tuhan Pencipta dirinya, Yang menjadikan dirinya mampu….
Bahkan sampai tidak lagi dianggap perlu olehnya “rambu-rambu” Wahyu Allōh عز وجل, Tuhan yang menyediakan dan memberikan padanya semua kebutuhan hidupnya itu….
Betapa sedikit yang sadar bahwa….
Dia adalah manusia, yang seharusnya tidak boleh rela bernasib lebih rendah daripada “apa yang dikejarnya“….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 009/23111447 – 11052026
MENGIKUTI SELAIN KITABULLÕH & SUNNAH ROSŪLULLÕH
عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ، قَالَ: وَفَدْتُ مَعَ أَبِي إِلَى يَزِيدَ بْنِ مُعَاوِيَةَ بِحُوَّارَيْنَ حِينَ تُوُفِّيَ مُعَاوِيَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، نُعَزِّيهِ وَنُهَنِّيهِ بِالْخِلَافَةِ، فَإِذَا رَجُلٌ فِي مَسْجِدِهَا يَقُولُ: أَلَا إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْأَشْرَارُ، وَيُوضَعَ الْأَخْيَارُ. أَلَا إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، أَنْ يَظْهَرَ الْقَوْلُ وَيُخْزَنَ الْعَمَلُ، أَلَا إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، أَنْ تُتْلَى الْمَثْنَاةُ فَلَا يُوجَدُ مَنْ يُغَيِّرُهَا»، قِيلَ لَهُ: وَمَا الْمَثْنَاةُ؟ قَالَ: «مَا اسْتُكْتِبَ مِنْ كِتَابٍ غَيْرِ الْقُرْآنِ، فَعَلَيْكُمْ بِالْقُرْآنِ فَبِهِ هُدِيتُمْ، وَبِهِ تُجْزَوْنَ، وَعَنْهُ تُسْأَلُونَ». فَلَمْ أَدْرِ مَنِ الرَّجُلُ، فَحَدَّثْتُ هَذَا الْحَدِيثِ بَعْدَ ذَلِكَ بِحِمْصَ، فَقَالَ لِي رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَوَ مَا تَعْرِفُهُ؟ قُلْتُ: لَا. قَالَ: ذَلِكَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.» رواه الدارمي
Dari ‘Amr bin Qois, ia berkata: “Aku datang bersama ayahku menemui Yazid bin Muawiyah di Hawwarin ketika Muawiyah bin Abi Sufyan wafat. Kami datang untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus ucapan selamat atas kekholifahan beliau. Tiba-tiba ada seorang laki-laki di masjid daerah itu berkata: “Ketahuilah, diantara tanda-tanda Kiamat ialah diangkatnya orang-orang jahat dan direndahkannya orang-orang baik. Ketahuilah, diantara tanda-tanda Kiamat ialah banyaknya ucapan sementara amal semakin sedikit dan tersimpan (ditinggalkan). Ketahuilah, diantara tanda-tanda Kiamat ialah dibacakannya al-Matsnah namun tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.”
Ditanyakan kepadanya: “Apakah al-Matsnah itu?”
Ia menjawab: “Apa saja tulisan yang ditulis (yang berasal) selain dari Kitabullōh (Al-Qur’an). Maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada Al-Qur’an. Dengan Al-Qur’an kalian mendapat petunjuk, dan dengannya kalian diberi balasan, dan tentangnya kalian akan ditanya.”
Aku tidak mengetahui siapa laki-laki itu. Kemudian setelah itu aku menceritakan Hadits ini di Himsh. Lalu seseorang dari kaum itu berkata kepadaku: “Apakah engkau tidak mengenalnya?” Aku menjawab: “Tidak.”_Ia berkata: “Itu adalah ‘Abdullōh bin ‘Amr bin al-‘Ash.”
(HR. ad-Darimi, no: 493)
عن عبد الله بن عَمرو، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ: أَنْ يُرْفَعَ الأَشْرَارُ، ويُوضَعَ الأَخْيَارُ، ويُفْتَحَ القَوْلُ، ويُحْبَسَ العَمَلُ، ويُقْرَأَ في القَوْمِ المَثْنَاةُ»، قيل: وما المثناة؟ قال: «مَا كُتِبَ سِوَى كِتَابِ اللهِ» رواه الطبراني في الكبير قال الهيثمي: رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ
Dari ‘Abdullōh bin ‘Amr bin al-Ash رضي الله عنه, dari Rosũlullõh ﷺ, beliau bersabda: “Diantara dekatnya Hari Kiamat ialah diangkatnya orang-orang jahat, direndahkannya orang-orang baik, ucapan dibuka lebar-lebar, sedangkan amal ditahan (ditinggalkan), dan dibacakannya al-Matsnah di tengah-tengah manusia.”
Ditanyakan: “Apakah al-Matsnah itu?”
Beliau menjawab: “Apa saja yang ditulis selain dari Kitabullõh (Al-Qur’an).”
(HR. ath-Thobroni dalam “Al-Mu’jam al-Kabir“; no: 14559; Al-Haitsami dalam “Al-Majma’“, no: 12446 berkata: “Diriwayatkan oleh ath-Thobroni dan para perowinya adalah perowi-perowi shohĩh”)
Ada yang tersurat dari Hadits diatas bahwa fitnah-fitnah di akhir zaman yang akan muncul, atau bisa jadi sekarang sudah muncul, dan akan muncul, adalah:
1) Orang jahat diangkat menjadi pemimpin;
2) Orang baik, shõlih dan kompeten dipersekusi, dikriminalisasi atau bahkan ditumpas;
3) Di sana-sini banyak pembahasan tentang bagaimana ke depan menuju keidupan yang lebih baik; mungkin dalam obrolan biasa, mungkin dalam pembahasan akademis atau bahkan mungkin di atas mimbar; akan tetapi justru pengamalannya dan realisasinya adalah semakin disendat, dihalangi atau bahkan bila perlu dipendam;
4) Teori-teori dan konsep-konsep yang berasal bukan dari konsep Wahyu (Allõh dan Rosũl-Nya ﷺ), maka justru itulah yang mengemuka, bahkan tidak mustahil dikagumi, atau bahkan diupayakan supaya dibumikan dalam kehidupan masyarakat.
Namun di sisi lain….
Hadits diatas juga memberikan isyarat kepada kita bahwa….
Agar siapa saja diantara kita yang berharap memperoleh hidayah….
Agar siapa saja diantara kita yang berharap memperoleh kebaikan….
Agar siapa saja diantara kita yang berharap dimudahkan di Hari Perhitungan dan Hari Pembalasan….
Agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 010/24111447 – 12052026
ISLAM KEMBALI TERASING
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ قَالَ: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “بَدَأَ الإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا. فطوبى للغرباء”» رواه مسلم وابن ماجة
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing”.”
(HR. Muslim, no: 145 dan HR. Ibnu Mãjah, no: 3986)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: «إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ» رواه ابن ماجة
Dari Anas bin Mãlik رضي الله عنه, dari Rosũlullõh ﷺ, beliau bersabda: “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi dianggap asing. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.”
(HR. Ibnu Mãjah, no: 3987)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ الإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ» رواه الترمذي وابن ماجة
Dari ‘Abdullõh bin Mas’ũd رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi dianggap asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing“.”
(HR. At-Tirmidzi, no: 2629 dan HR. Ibnu Mãjah, no: 3988)
عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ الإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ. وَهُوَ يَأْرِزُ بَيْنَ المسجدين كما تأرز الحية في جحرها”» روا مسلم
Dari ‘Abdullõh bin ‘Umar رضي الله عنهما, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya. Dan Islam itu akan berkumpul diantara dua masjid (Makkah dan Madinah), sebagaimana ular masuk dan kembali ke liangnya.”
(HR. Muslim, no: 146)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 011/02121447 – 19052026
LABILNYA IMAN
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ إن رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ “بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ. يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا. أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كافرا. يبيع دينه بعرض من الدنيا”» رواه مسلم
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa sesungguhnya Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Bersegeralah kalian melakukan amal-amal shõlih sebelum datang berbagai fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang pada pagi hari masih beriman, namun pada sore harinya menjadi kãfir; atau pada sore hari masih beriman, namun pada pagi harinya menjadi kãfir. Ia menjual agamanya demi sedikit kesenangan dunia.”
(HR. Muslim, no: 118)
RENUNGAN:
Nabi ﷺ memerintahkan umatnya untuk segera memperbanyak amal shõlih sebelum datang masa fitnah dan ujian berat yang dapat mengguncang iman….
Fitnah itu begitu dahsyat….
Hingga seseorang dapat berubah keyakinannya dalam waktu sangat singkat…
Karena tergoda kepentingan dunia, harta, jabatan, atau keuntungan sesaat yang lainnya…..
Demi yang demikian itu, dia dengan mudah mengorbankan agama dan Prinsip Imannya….
Na’üdzu billāhi min dzālik…
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 012/03121447 – 20052026
KARENA KAMU MENGANIAYA ORANG
عن أَبي هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم “يوشك، إن طالت بك مدة، أن ترى قوما في أيديهم مثل أذناب البقر. يغدون في غضب الله، ويروحون في سخط الله”.» رواه مسلم
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata: “Rosūlullōh ﷺ bersabda: “Hampir saja, jika umurmu panjang, engkau akan melihat suatu kaum dimana di tangan mereka (memegang) sesuatu seperti ekor-ekor sapi (– cemeti — pent.). Mereka berangkat pada pagi hari dalam kemurkaan Allōh, dan pulang pada sore hari dalam kemurkaan Allōh.”
(HR. Muslim, 2587)
Hasan Abu al-Asybal al-Mishri menjelaskan Hadits ini:
“Pada pagi dan petang hari, laknat tidak pernah berpisah dari mereka (kaum penindas itu), demikian pula kemurkaan dan kebencian (Allōh) pun tidak pernah meninggalkan mereka, yaitu: kebencian dan kemurkaan Allōh ‘Azza wa Jalla kepada mereka, karena mereka telah mendzōlimi hamba-hamba Allōh, memerangi dan membunuh hamba-hamba-Nya, juga memukul hamba-hamba-Nya tanpa alasan dan bukti yang benar. Bahkan sekalipun telah tegak hujjah dan bukti-bukti nyata bahwa hamba-hamba-Nya tersebut adalah pihak yang didzōlimi / pemilik kebenaran, serta pembawa dakwah yang benar. Namun meskipun demikian, hamba-hamba-Nya itu tetaplah dipukul, disiksa/dianiaya, diseret, bahkan disetrum; sementara orang-orang dzōlim terus menindas tanpa alasan dan bukti yang sah. Maka balasan terhadap orang-orang dzōlim itu di sisi Allōh adalah bahwa mereka “berangkat pada pagi hari dalam kemurkaan Allōh dan pulang pada sore hari dalam kebencian dari Allōh ‘Azza wa Jalla“.”
Melalui Hadits ini….
Rosūlullōh ﷺ memberi isyarat bahwa…
Diantara Fitnah Akhir Zaman…
Tidak sedikit orang mengira bahwa: Para Penguasa yang dihormati, yang disanjung-sanjung, yang dilindung-lindungi itu adalah manusia yang bermartabat….
Padahal dalam kenyataannya…
Orang yang berkuasa itu adalah tergolong orang yang TIRANI…
Karena ia menganiaya hamba-hamba Allōh yang teguh diatas Kebenaran….
Karena ia berlaku dzōlim terhadap orang banyak….
Karena bahkan terhadap rakyatnya sendiri pun, ia telah menyebabkan rakyatnya itu menderita…
Maka…
Hadits ini memberitakan kepada kita adanya Realita di Akhir Zaman…
Bahwa….
Sesungguhnya para Penguasa Tirani itu bukanlah orang-orang yang bermartabat….
Akan tetapi…
Justru para Penguasa Tirani itu tergolong orang-orang terkutuk yang berhak akan murka Allōh dalam sepanjang hayatnya…
Apalagi jika dia mati dan menghadap Allōh tanpa pernah bertaubat…
Maka pastilah dia akan menyesal dan menderita…
Karena pastilah ia harus mempertanggungjawabkan segala konsekuensi kedzōliman yang telah menjadi asas kehidupannya selama dia berkuasa di dunia…
Na’üdzu billāhi min dzālik…
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 013/04121447 – 21052026
BAYANGAN MURKA ALLÕH
عن أَبي هُرَيْرَةَ قال: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم “يوشك، إن طالت بك مدة، أن ترى قوما في أيديهم مثل أذناب البقر. يغدون في غضب الله، ويروحون في سخط الله”» رواه مسلم
Dalam Shohĩh Muslim pada bab “Neraka dimasuki oleh orang-orang yang sombong, dan surga dimasuki oleh orang-orang yang lemah” disebutkan:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullōh ﷺ bersabda: “Hampir tiba (waktunya), jika umurmu masih panjang, engkau akan melihat suatu kaum yang di tangan mereka ada sesuatu seperti ekor-ekor sapi. Mereka berangkat pagi dalam kemurkaan Allōh dan pulang sore dalam kemurkaan Allōh.”
(HR. Muslim no. 2857)
Menurut para ‘Ulama, Hadits ini berisi peringatan Nabi ﷺ tentang munculnya kelompok manusia yang menggunakan kekuasaan dan alat pemukul untuk menindas masyarakat secara dzōlim….
Ungkapan “di tangan mereka ada sesuatu seperti ekor-ekor sapi” oleh para ‘Ulama Hadits, seperti Imam An-Nawawi رحمه الله تعالى, ditafsirkan sebagai: “cambuk / cemeti atau alat pukul yang biasa dipakai aparat kekuasaan pada masa itu”….
Adapun frasa “berangkat pagi dalam kemurkaan Allōh dan pulang sore dalam kemurkaan Allōh”, menunjukkan bahwa: Aktivitas mereka sehari-hari dipenuhi tindakan aniaya, intimidasi, dan penyalahgunaan wewenang, sehingga terus-menerus berada dalam dosa dan murka Allōh….
Dengan kata lain, Hadits ini mengandung kritik moral terhadap praktik kekuasaan yang represif; dan menjadi landasan etika Islam bahwa otoritas publik haruslah ditegakkan dengan keadilan, kasih sayang, serta perlindungan terhadap hak-hak manusia; bukan dengan ketidak-adilan, kekerasan maupun penindasan.
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 014/05121447 – 22052026
JIKA KEMUNGKARAN, TIDAK DICEGAH
عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ بِنْتِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ زَيْنَبَ بْنَةِ جَحْشٍ رضي الله عنهن «أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَاجُوجَ وَمَاجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.» متفق عليه[1] واللفظ للبخاري
Dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dari Zainab binti Jahsy رضي الله عنهما: “Bahwa Nabi ﷺ masuk menemui Zainab dalam keadaan terkejut dan cemas, seraya bersabda: ‘Lā ilāha illallāh (Tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allāh). Celaka bagi bangsa Arab dari keburukan yang semakin dekat. Pada hari ini telah dibuka dari bendungan Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini,’ lalu beliau membuat lingkaran dengan jari ibu jari dan jari yang di sebelahnya (telunjuk).
Maka Zainab binti Jahsy رضي الله عنها berkata: ‘Wahai Rosūlullōh, apakah kita akan binasa padahal di tengah-tengah kami masih ada orang-orang shōlih?’
Beliau menjawab: ‘Ya, apabila keburukan (kerusakan, kemaksiatan, dan kefasikan) telah banyak.”
(Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhōry, no: 3346, 3598 dan 7059; dan Muslim, no: 2880, dan lafadz diatas adalah riwayat Al-Bukhōry)
Isyarat Rosūlullōh ﷺ dalam Hadits ini adalah bahwa….
Keberadaan orang shōlih saja tidak otomatis mencegah adzab dari Allōh; apabila kemungkaran, kekufuran, kefasikan dan kedzoliman telah meluas…
Sementara…
Upaya pencegahan tidak ada, tidak seimbang; apalagi jika dibungkam…
Na’üdzu billāhi min dzālik…
[1] «صحيح البخاري» بَابُ قِصَّةِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ (4/ 138) برقم: 3346 وبَابُ عَلَامَاتِ النُّبُوَّةِ فِي الْإِسْلَامِ (4/ 198) برقم: «3598» وبَابُ قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ (9/ 48) برقم: «7059» و«صحيح مسلم» باب اقتران الفتن، وفتح ردم يأجوج ومأجوج (4/ 2207 ت عبد الباقي) برقم: (2880)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 015/12121447 – 29052026
MEREBAKNYA BID’AH (#1)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ. وَلَأُنَازِعَنَّ أَقْوَامًا ثُمَّ لَأُغْلَبَنَّ عَلَيْهِمْ، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أَصْحَابِي. أَصْحَابِي. فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي ما أحدثوا بعدك“.» رواه مسلم[1]
Dari ‘Abdullōh bin Mas‘üd رضي الله عنه, ia berkata: “Rosūlullōh ﷺ bersabda: “Aku akan mendahului kalian di Telaga (al-Haudh). Sungguh, aku akan membela beberapa kaum (agar mendekat kepadanya), namun kemudian aku dikalahkan terhadap mereka (sehingga mereka pun lalu dijauhkan). Maka aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, (bagaimana dengan) sahabat-sahabatku! Sahabat-sahabatku!’ Lalu dikatakan: ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan (ubah-ubah) sepeninggalmu.’”
(HR. Muslim, no: 2297)
عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ؛ أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَال “لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَاحَبَنِي. حَتَّى إِذَا رَأَيْتُهُمْ وَرُفِعُوا إِلَيَّ، اخْتُلِجُوا دُونِي. فَلَأَقُولَنَّ: أَيْ رَبِّ! أُصَيْحَابِي. أُصَيْحَابِي. فَلَيُقَالنَّ لِي: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ“. رواه مسلم[2] وأحمد[3]
Dari Anas bin Mālik رضي الله عنه, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Benar-benar akan datang kepadaku di Telaga (al-Haudh) beberapa orang dari kalangan yang pernah menyertaiku. Hingga ketika aku melihat mereka dan mereka diangkat (didekatkan) kepadaku, tiba-tiba mereka diseret dan dijauhkan dariku. Maka sungguh aku akan berkata: ‘Ya Allōh! Mereka adalah orang-orang yang pernah menyertaiku, Mereka adalah orang-orang yang pernah menyertaiku; Maka akan dikatakan kepadaku: ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan (melakukan perubahan) setelahmu.’”
(HR. Muslim, no: 23044 dan HR. Ahmad, no: 13991)
Hadits-hadits tentang Telaga Nabi ﷺ diatas, menunjukkan peringatan yang sangat keras bahwa “Mengada-adakan Perkara Baru dalam Agama Islam (Bid‘ah)” dan menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ adalah dapat menjadi sebab seseorang dijauhkan dari Telaga beliau ﷺ pada Hari Kiamat. Hal itu tampak dari sabda Nabi ﷺ bahwa ketika sebagian orang yang dahulu tampak dekat dengan Islam namun ia ternyata termasuk yang dihalang-halangi dari Telaga Nabi ﷺ (Al-Haudh), lalu dikatakan kepada beliau: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelahmu.”
Para ‘Ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa lafadz ini menjadi dalil tentang bahaya besar Bid‘ah, terutama perkara-perkara baru dalam hal Agama Islam yang merusak ‘Aqidah, mengubah Sunnah, atau menyelisihi jalan Nabi Muhammad ﷺ dan Ijma’ para Sahabat rodhiyallōhu ‘anhum.
Oleh karena itu, semakin seseorang berpegang teguh kepada Sunnah, menjaga kemurnian ‘Aqidah dan ibadahnya, serta menjauhi perkara yang diada-adakan dalam Agama Islam, maka akan semakin besar harapan baginya termasuk kedalam golongan yang mendapat minum dari Telaga Nabi ﷺ pada Hari Kiamat kelak.
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 016/13121447 – 30052026
MEREBAKNYA BID’AH (#2)
عن ابن عباس قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خطيبا بموعظة. فقال “يا أيها الناس! إنكم تحشرون إلى الله حفاة عراة غرلا. {كما بدأنا أول خلق نعيده، وعدا علينا، إنا كنا فاعلين} [21 /الأنبياء /104] ألا وإن أول الخلائق يكسى، يوم القيامة، إبراهيم عليه السلام. ألا وإنه سيجاء برجال من أمتي فيؤخذ بهم ذات الشمال. فأقول: يا رب! أَصْحَابِي. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بعدك. فأقول، كما قال العبد الصالح: {وكنت عليهم شهيدا ما دمت فيهم، فلما توفيتني كنت أنت الرقيب عليهم، وأنت على كل شيء شهيدا* إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ، وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فإنك أنت العزيز الحكيم} [5 /المائدة /117 و-118] قال فيقال لي: إنهم لم يزالوا مرتدين على أعقابهم منذ فارقتهم“. وفي رواية: “فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ“.» متفق عليه[4] والرواية لمسلم وابن حبان[5]
Dari Ibnu ‘Abbās رضي الله عنه, ia berkata: “Rosūlullōh ﷺ berdiri di hadapan kami untuk menyampaikan khutbah berisi nasihat. Beliau ﷺ bersabda: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan menuju Allōh dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.
“(Ingatlah) pada hari Kami menggulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.“ (QS. Al-Anbiyā’/21: 104)
Ketahuilah, sesungguhnya makhluq pertama yang akan diberi pakaian pada Hari Kiamat adalah Nabi Ibrohim ‘alaihis salam.
Ketahuilah, sesungguhnya kelak akan didatangkan beberapa orang dari umatku, lalu mereka digiring ke sebelah kiri (Neraka). Maka aku berkata, ‘Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku!‘
Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan (– perkara-perkara baru / Bid’ah dalam urusan agama Islam –) setelahmu.”
Maka aku pun berkata sebagaimana perkataan seorang hamba yang shōlih (Nabi Isa ‘alaihis salam):
“…dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Mā’idah/5: 117-118)
Beliau ﷺ bersabda kembali: “Lalu dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya mereka senantiasa murtad (berbalik ke belakang) sejak engkau meninggalkan mereka.’“
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: “Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelahmu.’“
(Muttafaq ‘Alaih; HR. Al-Bukhōry, no: 4625 dan 6526; dan HR. Muslim, no: 2860, dan Hadits ini adalah redaksi Muslim; Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, no: 7347)
عن أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا، لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ، فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي. رواه البخاري[6]
Dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, ia berkata: “Nabi ﷺ bersabda: “Aku mendahului kalian di Telaga (Al-Haudh). Siapa saja yang melewatiku, dia akan meminumnya. Dan siapa saja yang meminumnya, niscaya dia tidak akan pernah haus selama-lamanya.
Kelak benar-benar akan datang kepadaku beberapa kaum yang aku mengenali mereka dan mereka pun mengenali aku. Kemudian, didirikanlah penghalang (ditolak) antara aku dan mereka.
Maka aku berkata: ‘Sesungguhnya mereka adalah bagian dariku!‘
Lalu dikatakan (kepadaku): ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan (– perkara-perkara baru dalam agama Islam –) setelahmu.‘
Maka aku pun berkata: ‘Celaka, celakalah bagi orang yang mengubah-ubah (ajaran agama Islam) setelahku.'”
(HR. Al-Bukhōry, no: 6584)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 017/14121447 – 31052026
MEREBAKNYA BID’AH (#3)
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم؛ أَنَّهَا قَالَتْ: كُنْتُ أَسْمَعُ النَّاسَ يَذْكُرُونَ الْحَوْضَ. وَلَمْ أَسْمَعْ ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. فَلَمَّا كَانَ يَوْمًا مِنْ ذَلِكَ. وَالْجَارِيَةُ تَمْشُطُنِي. فَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ “أَيُّهَا النَّاسُ” فَقُلْتُ لِلْجَارِيَةِ اسْتَأْخِرِي عَنِّي. قَالَتْ: إِنَّمَا دَعَا الرِّجَالَ وَلَمْ يَدْعُ النِّسَاءَ. فَقُلْتُ: إِنِّي مِنَ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “إني لَكُمْ فَرَطٌ عَلَى الْحَوْضِ. فَإِيَّايَ! لَا يَأْتِيَنَّ أَحَدُكُمْ فَيُذَبُّ عَنِّي كَمَا يُذَبُّ الْبَعِيرُ الضَّالُّ. فَأَقُولُ فِيمَ هَذَا؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي ما أحدثوا بعدك. فأقول سحقا“.» رواه مسلم[7]
Dari Ummu Salamah رضي الله عنها, istri Nabi ﷺ, bahwasanya ia berkata: “Dahulu aku sering mendengar orang-orang memperbincangkan tentang Telaga (al-Haudh), namun aku belum pernah mendengar hal itu langsung dari Rosũlullōh ﷺ. Hingga pada suatu hari ketika seorang pelayan wanita sedang menyisir rambutku, aku mendengar Rosũlullōh ﷺ dari atas mimbar beliau bersabda: ‘Wahai sekalian manusia!‘ Maka aku pun berkata kepada pelayan wanita tersebut, ‘Tangguhkanlah (menyisir) sejenak dariku.’
Pelayan itu berkata, ‘Sesungguhnya beliau hanyalah menyeru kaum laki-laki dan tidak menyeru kaum wanita.’ Maka aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku termasuk dari bagian manusia.‘(Lalu aku mendengar) Rosũlullōh ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya aku akan mendahului kalian di Telaga (al-Haudh). Maka berhati-hatilah! Jangan sampai salah seorang dari kalian datang, lalu dia diusir dariku sebagaimana diusirnya unta yang tersesat.’
Maka aku bertanya, ‘Karena alasan apa ini?‘
Lalu dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan (– perkara-perkara baru dalam agama Islam –) setelahmu.’
Maka aku pun berkata, ‘Celakalah !“
(HR. Muslim, no: 2295)
عن العرباض بن سارية، قال: صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم، ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال «أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة، وإن عبدا حبشيا، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة» رواه أبو داود[8] والترمذي[9] وأحمد[10]
Dari Al-‘Irbãdh bin Sãriyah رضي الله عنه, ia berkata: “Pada suatu hari Rosũlullōh ﷺ sholat mengimami kami, kemudian beliau menghadap ke arah kami lalu memberikan nasihat yang sangat mendalam kepada kami, yang membuat air mata kami berlinang dan hati kami menjadi takut. Maka seseorang berkata: “Wahai Rosũlullōh, seolah-olah ini adalah nasihat dari orang yang akan berpisah (wafat), lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami?“
Beliau ﷺ bersabda: “Aku berpesan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allōh, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin diatas Syari’at), meskipun yang memimpin kalian itu adalah seorang budak Habasyi (Ethiopia). Karena sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian yang hidup setelahku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para al-Khulafã’ur Rōsyidĩn yang mendapat petunjuk. Pegang erat-eratlah ia dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Serta jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (diada-adakan dalam agama Islam), karena setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah, sedangkan setiap bid’ah adalah kesesatan.“
(HR. Abu Dãwud, no: 4607, HR. At-Tirmidzi, no: 2676 dan HR. Ahmad, no: 17145)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فقال: ” أَيُّهَا النَّاسُ! قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ” فقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ! فَسَكَتَ. حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا. فقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم” “لَوْ قُلْتُ: نَعَمْ. لَوَجَبَتْ. وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ“. ثُمَّ قَالَ “ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ. فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ. فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ. وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ“.» رواه مسلم[11]
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullōh ﷺ berkhutbah di hadapan kami, lalu bersabda: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allōh telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah kalian.“
Lalu seorang laki-laki bertanya: “Apakah setiap tahun, wahai Rosũlullōh?“
Beliau terdiam (tidak menjawab) hingga orang tersebut mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali.
Maka Rosũlullōh ﷺ bersabda: “Seandainya aku menjawab ‘ya’, niscaya haji itu akan menjadi wajib (setiap tahun) dan kalian pasti tidak akan sanggup melaksanakannya.“
Kemudian beliau ﷺ bersabda lagi: “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian (jangan menambahi dan atau menguranginya). Karena sesungguhnya penyebab binasa orang-orang sebelum kalian, hanyalah karena mereka banyak bertanya dan karena menyelisihi nabi-nabi mereka. (Maka dari itu), apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan apabila aku melarang kalian sesuatu, maka tinggalkanlah hal itu oleh kalian.”
(HR. Muslim, no: 1337)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 018/16121447 – 02062026
FITNAH SYUBHAT
قال حذيفة بن اليمان. والله! إني لأعلم الناس بكل فتنة هي كائنة، فيما بيني وبين الساعة. وما بي إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أسر إلي في ذلك شيئا، لم يحدثه غيري. وَلَكِنْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال، وهو يحدث مجلسا أنا فيه عن الْفِتَنِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، وهو يعد الفتن “منهن ثلاث لا يكدن يذرن شيئا. ومنهن فتن كرياح الصيف. منها صغار ومنها كبار“.قال حذيفة: فذهب أولئك الرهط كلهم غيري.» رواه مسلم
Dari Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه, ia berkata: “Demi Allōh, sungguh aku adalah orang yang paling mengetahui tentang setiap fitnah yang akan terjadi antara sekarang dan Hari Kiamat. Bukan karena Rosūlullōh ﷺ menyampaikan kepadaku sesuatu secara rahasia yang tidak beliau sampaikan kepada orang lain. Akan tetapi, karena Rosūlullōh ﷺ pernah berbicara dalam suatu majelis yang aku hadiri (yang memberitakan) tentang berbagai fitnah.
Lalu Rosūlullōh ﷺ bersabda sambil menghitung berbagai fitnah: “Diantaranya ada 3 (tiga) fitnah yang hampir-hampir tidak menyisakan sesuatu pun. Dan diantaranya ada fitnah-fitnah yang seperti angin musim panas; ada yang kecil dan ada yang besar.‘
Hudzaifah berkata: ‘Maka seluruh kelompok yang hadir itu telah pergi (meninggal dunia), dan tidak ada yang tersisa selain aku.‘”
(HR. Shohīh Muslim, no: 2891)
Berkata Aunuddin (wafat 560 H): “Adapun 3 (tiga) fitnah tersebut, maka telah terjadi pada masa para sahabat sebelum terbunuhnya ‘Utsman, dan juga dalam peristiwa Jamal dan Shiffin, dan berbagai fitnah yang hampir-hampir tidak menyisakan sesuatu pun, dan kalau bukan karena rahmat Allōh maupun kelembutan-Nya kepada para hamba-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa debu, sisa-sisa, dampak, dan penyakit yang ditinggalkannya pada hati-hati yang sakit tetap berlanjut hingga Hari Kiamat, kecuali pada orang yang dijaga Allōh dan dipelihara hatinya dari fitnah tersebut.
Sebab fitnah-fitnah itu berlalu dihadapannya laksana potongan-potongan malam yang gelap, namun ia tetap berada dalam keselamatan.”
(Aunuddin (wafat 560 H), Al-Ifshāḥ ‘an Ma‘ānī ash-Shiḥāḥ, 2/249).
عَنْ حُذَيْفَةَ؛ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ. فَقَالَ: أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَذْكُرُ الْفِتَنَ؟ فَقَالَ قَوْمٌ: نَحْنُ سَمِعْنَاهُ. فَقَالَ: لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ؟ قَالُوا: أَجَلْ. قَالَ: تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ. وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ. قَالَ حُذَيْفَةُ: فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ. فَقُلْتُ: أَنَا. قَالَ: أَنْتَ، لِلَّهِ أَبُوكَ! قَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا. فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ. وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ. حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا. فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ. وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا، كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا. إِلَّا مَا أشرب من مراه“.
قَالَ حُذَيْفَةُ: وَحَدَّثْتُهُ؛ أَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا يُوشِكُ أَنْ يُكْسَرَ. قَالَ عُمَرُ: أَكَسْرًا، لَا أَبَا لَكَ! فَلَوْ أَنَّهُ فُتِحَ لَعَلَّهُ كَانَ يُعَادُ. قُلْتُ: لَا. بَلْ يُكْسَرُ. وَحَدَّثْتُهُ؛ أَنَّ ذَلِكَ الْبَابَ رَجُلٌ يُقْتَلُ أَوْ يَمُوتُ. حَدِيثًا لَيْسَ بِالأَغَالِيطِ.
قَالَ أَبُو خَالِدٍ: فَقُلْتُ لِسَعْدٍ: يَا أَبَا مَالِكٍ! مَا أَسْوَدُ مُرْبَادًّا؟ قَالَ: شِدَّةُ الْبَيَاضِ فِي سَوَادٍ. قَالَ، قُلْتُ: فما الكوز مجخيا؟ قال: منكوسا»
Dari Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه, ia berkata: “Kami sedang berada di sisi ‘Umar bin al-Khoththōb, tatkala beliau berkata: “Siapakah diantara kalian yang pernah mendengar Rosūlullōh ﷺ menyebutkan tentang fitnah?‘
Sekelompok orang menjawab: ‘Kami pernah mendengarnya.‘ Maka ‘Umar berkata: ‘Barangkali yang kalian maksud adalah fitnah seseorang terhadap keluarganya dan tetangganya?‘ Mereka menjawab: ‘Benar.‘ ‘Umar رضي الله عنه berkata: ‘Fitnah semacam itu dihapus oleh sholat, shoum (puasa), dan shodaqoh. Akan tetapi, siapakah diantara kalian yang mendengar Nabi ﷺ menyebutkan fitnah-fitnah yang bergelombang seperti ombak lautan?‘
Hudzaifah رضي الله عنه pun berkata: ‘Maka semua orang terdiam.’ Lalu aku (Hudzaifah) berkata: ‘Aku.’
‘Umar رضي الله عنه pun berkata: ‘Engkau? Semoga ayahmu tidak kehilanganmu!‘
Lalu Hudzaifah رضي الله عنه berkata: ‘Aku mendengar Rosūlullōh ﷺ bersabda: “Fitnah-fitnah akan dihadapkan kepada hati satu demi satu, sebagaimana anyaman tikar disusun batang demi batang. Hati mana saja yang menyerap fitnah itu, maka akan ditorehkan padanya satu titik hitam. Dan hati mana saja yang mengingkari fitnah itu, maka akan ditorehkan padanya satu titik putih. Hingga akhirnya hati manusia menjadi dua macam:
Pertama, hati yang putih bersih seperti batu licin yang kokoh. Fitnah apa pun tidak akan membahayakan dirinya selama langit dan bumi masih ada.
Kedua, hati yang hitam kelam keabu-abuan, seperti bejana yang terbalik. Ia tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali apa yang sesuai dengan hawa nafsu yang telah meresap ke dalam dirinya.”‘
Hudzaifah رضي الله عنه melanjutkan: ‘Aku juga menyampaikan kepada ‘Umar bahwa diantara dirinya dan fitnah besar itu terdapat sebuah pintu yang tertutup, yang hampir saja akan dihancurkan.’
‘Umar رضي الله عنه pun berkata: ‘Dihancurkan? Bukan dibuka? Seandainya hanya dibuka, mungkin masih bisa ditutup kembali.‘
Aku (Hudzaifah) menjawab: ‘Tidak. Tetapi akan dihancurkan.’
Aku (Hudzaifah) juga memberitahunya bahwa pintu itu adalah seorang laki-laki yang akan terbunuh atau meninggal dunia. Dan ini adalah berita yang benar, bukan dugaan-dugaan yang keliru.”
Berkata Abu Khōlid:
“Aku bertanya kepada Sa’d bin Mālik: ‘Wahai Abu Mālik, apakah makna “aswadu murbāddan” (hitam keabu-abuan)?‘
Beliau menjawab: ‘Yaitu hitam yang sangat pekat bercampur dengan putih.’
Aku bertanya: ‘Lalu apa makna “al-kūz mujakhkhiyan” (bejana yang terbalik)?‘
Beliau menjawab: ‘Yaitu bejana yang dibalikkan ke bawah (terjungkir).‘
(HR. Muslim, no: 144)
Mutiara Hadits:
Hadits diatas mengisyaratkan beberapa hal penting, antara lain:
1) Fitnah itu tidak datang sekaligus, melainkan masuk ke dalam hati manusia sedikit demi sedikit.
2) Hati yang menerima syubhat dan hawa nafsu, maka lama kelamaan akan semakin menghitam. Sedangkan hati yang menolak fitnah karena iman, maka akan semakin bercahaya.
3) Setelah berulang kali menghadapi fitnah, maka manusia akan terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
a) Hati yang putih dan kokoh di atas iman;
b) Hati yang gelap sehingga tidak lagi mampu membedakan antara kebenaran dan kebathilan.
4) Salah satu sebab keselamatan manusia dari fitnah itu adalah berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, diatas pemahamannya para sahabat Nabi رضي الله عنهم.
5) Terbunuhnya ‘Umar bin al-Khoththōb رضي الله عنهmerupakan terbukanya pintu berbagai fitnah besar yang kemudian terjadi di tengah-tengah umat Islam. Terbukti setelah wafatnya beliau, maka muncullah berbagai fitnah antara lain memuncak pada saat terbunuhnya ‘Utsman bin Affān رضي الله عنه, kemudian perang Jamal dan Shiffin, serta berbagai perpecahan yang dampaknya masih terasa hingga hari ini.
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 019/18121447 – 04062026
ADA BANYAK FITNAH, DI PINTU PENGUASA (#1)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ سَكَنَ البَادِيَةَ جَفَا، وَمَنْ اتَّبَعَ الصَّيْدَ غَفَلَ، وَمَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُّلْطَانِ افْتَتَنَ» رواه أبو داود والترمذي وأحمد قال الألباني في صحيح الترغيب والترهيب
Dari Ibnu ‘Abbās رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Barangsiapa yang tinggal di pedalaman (gurun pasir/jauh dari peradaban), maka tabiatnya (biasanya) akan menjadi keras/kaku. Barangsiapa yang sibuk berburu, maka (biasanya) ia akan lalai. Dan barangsiapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka (biasanya) ia akan terkena fitnah (ujian/godaan).”
(HR. Abu Dawud, no: 2859, HR. At-Tirmidzi, no: 2256, dan HR. Ahmad, no: 3362; Syaikh Al-Albāny berkata dalam “Shohīh at-Targhīb wa at-Tarhīb“, no: 2240: “Hasan Shohīh“.)
RESIKO MASUK PINTU PENGUASA
Ibnu Mas’ūd رضي الله عنه berkata:
إِنَّ عَلَى أَبْوَابِ السُّلْطَانِ فِتَنًا كَمَبَارِكِ الْإِبِلِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تُصِيبُونَ مِنْ دُنْيَاهُمْ شَيْئًا إِلَّا أَصَابُوا مِنْ دِينِكُمْ مِثْلَهُ
“Sesungguhnya di pintu-pintu penguasa itu ada fitnah (ujian/godaan) seperti tempat menderumnya unta. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah kalian mendapatkan sesuatu dari dunia mereka para penguasa, kecuali mereka (para penguasa) itu juga akan mengambil dari agama kalian yang sebanding dengannya.”
(Al-Khoththōbi [wafat 388 H], “Al-Uzlah lil-Khoththōbi”, hal.93)
Diantara Fitnah Akhir Zaman adalah Fitnah di Pintu-Pintu Penguasa….
Atsar (perkataan Ibnu Mas’ūd رضي الله عنه) diatas merupakan peringatan, agar seseorang hendaknya berhati-hati dalam mendekati para penguasa…
Apalagi jika dia mengincar harta atau jabatan duniawi….
Karena seringkali ada “harga mahal” yang harus dibayar, yaitu mengorbankan prinsip atau nilai-nilai agama melalui menjilat, membenarkan yang salah, atau diam terhadap kedzoliman penguasa…
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 020/19121447 – 05062026
ADA BANYAK FITNAH, DI PINTU PENGUASA (#2): DEKAT DENGAN PENGUASA, MENJAUHKAN SESEORANG DARI ALLŌH
عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال: «ومن لزم السلطان افتتن وما ازداد عبد من السلطان دنوا إلا ازداد من الله بعدا» رواه أبو داود صححه المنذري
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “… Dan barangsiapa yang selalu dekat penguasa, maka ia akan terkena fitnah. Tidaklah seorang hamba semakin bertambah dekat dengan penguasa, maka ia akan semakin bertambah jauh dari Allōh.”
(HR. Abu Dawud, No. 2860 dan dishohīhkan oleh Al-Mundziri)
Diantara Fitnah Akhir Zaman adalah Fitnah-Fitnah di Pintu-Pintu para Penguasa…
Karena Karakter Manusia pada Umumnya adalah sebagai berikut ini.
KARAKTER MANUSIA (Pada Umumnya)
‘Abdullōh bin al-Muqoffa (wafat 142 H) berkata:
«الناس، إلا قليلا ممن عصم الله، مدخولون في أمورهم: فقائلهم باغٍ، وسامعهم عياب، وسائلهم متعنت، ومجيبهم متكلف، وواعظهم غير محقق لقوله بالفعل، وموعوظهم غير سليم من الاستخفاف، والأمين منهم غير متحفظ من إتيان الخيانة، والصدوق غير محترس من حديث الكذبة، وذو الدين غير متورع عن تفريط الفجرة، والحازم منهم غير تارك لتوقع الدوائر. يتناقضون البناء، ويتراقبون الدول، ويتعايبون بالهمز، مولعون في الرخاء بالتحاسد، وفي الشدة بالتخاذل.
“Manusia (kecuali segelintir orang yang dijaga oleh Allōh), memiliki kecacatan dalam urusan mereka:
• Orang yang berbicara diantara mereka, biasanya cenderung melampaui batas (dzōlim/mencari muka),
• Orang yang mendengarkan, biasanya cenderung suka mencari-cari aib/cela dari pembicaraan,
• Orang yang bertanya, biasanya cenderung ingin menyudutkan (mencari celah),
• Orang yang menjawab, biasanya cenderung memaksakan diri (sok tahu),
• Pemberi nasihat diantara mereka, biasanya tidak membuktikan ucapannya dengan tindakan,
• Orang yang dinasihati, biasanya tidak selamat dari sikap meremehkan (nasihat tersebut),
• Orang yang terpercaya diantara mereka, biasanya tidak benar-benar menjaga diri dari sikap khianat,
• Orang yang jujur, biasanya tidak waspada dari menukil perkataan dusta/hoax,
• Orang yang taat beragama, biasanya tidak membentengi diri dari kelalaian orang-orang fajir (pelaku dosa),
• Dan orang yang waspada diantara mereka, biasanya tidak pernah lepas dari rasa cemas akan perputaran nasib buruk.
• Mereka meruntuhkan apa yang telah dibangun,
• Saling mengintai pergantian kekuasaan, dan
• Saling mencela dengan umpatan.
• Di masa lapang mereka gemar saling mendengki, dan
• Di masa sulit, mereka saling abai (tidak menolong).”
(‘Abdullōh bin al-Muqoffa [wafat 142 H], “Al-Adab ash-Shoghīr wa al-Adab al-Kabīr”,_hal. 29)
Oleh karena itu….
Janganlah tertipu oleh dunia…
JANGAN TERTIPU DUNIA
‘Abdullōh bin al-Muqoffa (wafat 142 H) berkata:
كم قد انتزعت الدنيا ممن استمكن منها، واعتكفت له، فأصبحت الأعمال أعمالهم، والدنيا دنيا غيرهم، وأخذ متاعهم من لم يحمدهم، وخرجوا إلى من لا يعذرهم. فأصبحنا خلفًا من بعدهم، نتوقع مثل الذي نزل بهم، فنحن إذا تدبرنا أمورهم، أحقَّاء أن ننظر ما نغبطهم بهو فنتَّبعه، وما نخاف عليهم منه فتجتنبه
“Janganlah engkau terpedaya oleh dunia. Betapa sering dunia ini direnggut dari orang-orang yang telah menguasainya dan yang telah mencurahkan diri kepadanya. Lalu (setelah kematian datang), amal perbuatan tetap menjadi milik mereka, namun dunia (harta benda) mereka menjadi milik orang lain. Harta benda mereka diambil oleh orang yang tidak akan memuji mereka, dan mereka pergi menghadap (Allōh) yang tidak akan menerima alasan (kelalaian) mereka. Maka kita pun menjadi generasi penerus setelah mereka, menanti kepastian (kematian) yang serupa dengan apa yang menimpa mereka. Jika kita merenungkan urusan mereka, sudah sepatutnya kita melihat hal apa yang membuat mereka beruntung (berupa amal-amal shōlih), lalu kita mengikutinya, dan hal apa yang kita takuti akan mencelakakan mereka, lalu kita menjauhinya.”
(‘Abdullōh bin al-Muqoffa [wafat 142 H], “Al-Adab ash-Shoghīr wa al-Adab al-Kabīr”, hal. 30)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 021/20121447 – 06062026
ISLAM YANG TERCEMARI
عن حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ يَقُولُ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْخَيْرِ. وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ. مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ. فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ. فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟
قَالَ (نَعَمْ)
فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟
قَالَ (نَعَمْ. وَفِيهِ دَخَنٌ).
قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟
قَالَ (قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي. ويهدون بغير هديي. عرف مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ).
فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟
قَالَ (نَعَمْ. دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ. مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا).
فَقُلْتُ: يا رسول الله! فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! صِفْهُمْ لَنَا.
قَالَ (نَعَمْ. قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا. وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا)
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ!
قَالَ (تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ)
فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟
قَالَ (فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا. وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ. حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ، وأنت على ذلك) رواه مسلم »
Dari Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه, ia berkata:
“Orang-orang biasanya bertanya kepada Rosũlullõh ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku justru bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku takut keburukan itu akan menimpaku.”
Maka aku (Hudzaifah) bertanya: ‘Wahai Rosũlullõh, dahulu kami berada dalam masa Jahiliyyah dan keburukan, lalu Allōh mendatangkan kebaikan ini (Islam) kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?‘
Beliau ﷺ menjawab: ‘Ya.‘
Aku (Hudzaifah) bertanya lagi: ‘Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan?‘
Beliau ﷺ menjawab: ‘Ya, namun di dalamnya ada asap (kekeruhan/cacat).‘
Aku (Hudzaifah) bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan asapnya itu ?‘
Beliau ﷺ menjawab: ‘Akan ada suatu kaum yang mengambil sunnah bukan dari sunnahku, dan mengambil petunjuk namun bukan dari petunjukku. Engkau mengenali mereka (ada kebaikan pada mereka), namun engkau juga mengingkari mereka (karena ada kemungkaran pada mereka).’
Aku (Hudzaifah) bertanya lagi: ‘Apakah setelah kebaikan (yang ada asapnya) itu akan ada keburukan lagi?‘
Beliau ﷺ menjawab: ‘Ya, akan ada para penyeru di pintu-pintu neraka Jahanam. Barangsiapa yang memenuhi seruan mereka, maka mereka akan melemparkannya ke dalam neraka.’
Aku (Hudzaifah) berkata: ‘Wahai Rosūlullōh, sebutkanlah sifat-sifat mereka kepada kami!‘
Beliau ﷺ menjawab: ‘Ya, mereka adalah kaum (yang berasal) dari kulit kita (bangsa kita) dan berbicara dengan bahasa kita.’
Aku (Hudzaifah) bertanya: ‘Wahai Rosūlullōh, lalu apa yang Anda perintahkan kepadaku jika aku mendapati zaman tersebut?‘
Beliau ﷺ menjawab: ‘Engkau harus berkomitmen (setia) kepada Jama’ah kaum muslimin dan Imam (Pemimpin diatas Syariat) mereka.‘
Aku (Hudzaifah) bertanya lagi: ‘Bagaimana jika mereka tidak memiliki Jama’ah maupun Imam?’
Beliau ﷺ menjawab: ‘Maka jauhilah semua kelompok (faksi) tersebut, walaupun engkau harus menggigit akar pohon, hingga maut menjemputmu dalam keadaan seperti itu.’“
(HR. Muslim, no: 1847)
MUTIARA HADITS:
1) Masa sebelum Islam disebut “Jahiliyyah“….
Masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ* dikenal dengan istilah “Jahiliyyah“, yaitu: Masa yang ditandai oleh kebodohan terhadap petunjuk Allōh…
Meskipun masyarakat Arab disaat itu memiliki kemajuan dalam bidang bahasa, perdagangan, dan sebagian aspek kehidupan sosial…
“Jahiliyyah” bukan sekadar ketiadaan ilmu duniawi, akan tetapi suatu keadaan tatkala manusia hidup tanpa bimbingan Wahyu, sehingga syirik, kedzōliman, fanatisme kesukuan, dan berbagai penyimpangan menjadi sesuatu yang lumrah…
Oleh karena itu…
Kedatangan Islam merupakan Cahaya yang mengeluarkan manusia dari kegelapan, menuju Petunjuk dan Kebenaran dari Allōh عز وجل.
2) Kebaikan Sesungguhnya adalah: Sikap berpegang teguh dengan Petunjuk Allōh dan pedoman Nabi ﷺ….
‘Kebaikan yang Hakiki” tidak diukur oleh akal, perasaan, tradisi, atau perkembangan zaman semata, melainkan ditentukan oleh sejauh mana seseorang berpegang teguh kepada Petunjuk Allōh dan Rosūl-Nya ﷺ…
Segala bentuk keselamatan, keberuntungan, dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, hanyalah dapat diraih dengan mengikuti Sunnah Rosūlullōh ﷺ dalam Aqidah, Ibadah, Akhlaq, dan Mu’amalah….
Oleh karena itu…
Ketika fitnah dan penyimpangan semakin banyak…
Maka…
Seorang Muslim diperintahkan untuk semakin kuat berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah Nabi ﷺ serta ia haruslah sesuai atau berada diatas Pemahamannya para Sahabat Nabi رضي الله عنهم / generasi As-Salafush Shōlih.
3) Akibat tidak adanya Pemimpin ummat Islam, yang menyatukan kaum Muslimin seluruh dunia….
Dalam periode sejarah….
Salah satu realitas yang dihadapi umat Islam adalah tidak adanya seorang pemimpin tunggal yang mempersatukan seluruh kaum muslimin, sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Al-Khulafā’ur Rōsyidīn…..
Kondisi ini menyebabkan lemahnya persatuan umat Islam dan munculnya berbagai kepentingan yang saling bertentangan….
Namun…
Keadaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk serta-merta memberontak (tanpa menimbang secara teliti diatas timbangan Syari’at) atau merusak stabilitas masyarakat, melainkan justru menjadi dorongan untuk memperbaiki keadaan ummat Islam dengan ilmu, dakwah, dan berbagai usaha yang sesuai dengan Syari’at.
4) Hukum Asal ummat Islam adalah berjama’ah dibelakang seorang Imam diatas Syari’at…
Syariat Islam mengajarkan bahwa Hukum Asal kehidupan kaum Muslimin adalah bersatu dalam satu jama’ah dan berada dibawah kepemimpinan seorang Imam yang menegakkan agama Allōh (diatas Syari’at)….
Persatuan tersebut adalah bertujuan menjaga agama (Islam), serta menjaga keamanan, dan kemaslahatan ummat Islam….
Oleh karena itu…
Islam sangatlah menekankan pentingnya mendengar dan taat kepada pemimpin (diatas Syari’at) dalam perkara-perkara yang ma’ruf, serta melarang segala tindakan yang dapat mengakibatkan perpecahan dan kerusakan yang lebih besar.
5.) Akibat Banyak perpecahan…
Diantara tanda kerusakan yang semakin tampak pada Akhir Zaman adalah banyaknya perpecahan di tengah-tengah ummat Islam….
Perbedaan yang semestinya dapat diselesaikan dengan ilmu dan dalil, seringkali berkembang menjadi permusuhan dan fanatisme golongan / kelompok…
Akibatnya….
Kekuatan umat melemah, dan fokus perjuangan berpindah dari membela kebenaran menjadi membela kelompoknya masing-masing….
Oleh karena itu…
Syari’at memerintahkan agar perselisihan dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah diatas Pemahaman Sahabat Nabi…
Serta menjadikan hal itu sebagai Standar Kebenaran dan sebagai ukuran dan rujukan Persatuan Ummat…
6) Keterasingan Islam…
Islam yang murni ajarannya, seringkali menjadi sesuatu yang asing di tengah-tengah masyarakat…
Terutama ketika kebanyakan manusia berada dalam kejahilan (kebodohan terhadap Syari’at), serta lebih memilih mengikuti Hawa Nafsu, Adat-Istiadat (yang tidak sesuai Islam), atau Pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari Petunjuk Wahyu.
Keterasingan ini tidak menunjukkan kelemahan Islam…
Akan tetapi justru menjadi tanda bahwa seorang Muslim di masa seperti itu haruslah berusaha keras Mempertahankan Kebenaran di tengah-tengah arus penyimpangan yang deras…
Oleh karena itu…
Rosūlullōh ﷺ memberikan kabar gembira berupa pahala yang besar bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada ajaran Islam, ketika manusia telah banyak meninggalkannya…..
7) Beratnya Istiqomah pada Akhir Zaman…
Istiqomah pada Akhir Zaman, merupakan ujian yang sangat berat…
Karena seorang Muslim akan menghadapi berbagai bentuk Syubhat (kerancuan pemikiran) dan Syahwat (godaan Hawa Nafsu) yang datang dari berbagai arah…
Kemudahan akses informasi dan kuatnya tekanan lingkungan, seringkali dapat membuat seseorang tergelincir dari jalan yang benar….
Oleh karena itu…
Istiqomah memerlukan kesabaran, ilmu, keikhlasan, dan pertolongan Allōh….
Sehingga orang yang mampu mempertahankan agamanya pada masa fitnah ini, akan memperoleh keutamaan yang sangat besar…
8) Menggali kedalaman ilmu dīn dapat dengan bertanya dan dialog…._
Metode para Sahabat رضي الله عنهم dalam Memahami Agama adalah dengan banyak bertanya kepada Rosūlullōh ﷺ dan berdialog untuk memperoleh Pemahaman yang Benar….
Pertanyaan yang lahir dari Keinginan Mencari Kebenaran, sebagaimana dilakukan oleh Hudzaifah رضي الله عنه dalam hadits ini, adalah merupakan pelajaran bahwa Dialog dan Tanya Jawab adalah suatu sarana penting untuk memperdalam pemahaman atas ilmu dīn serta menghilangkan berbagai keraguan…
Oleh karena itu…
Seorang penuntut ilmu tidaklah cukup hanya mendengar dan membaca belaka…
Akan tetapi ia juga perlu berdiskusi, mengkaji, dan meminta penjelasan kepada para ‘Ulama yang Shōlih, agar pemahamannya semakin kokoh dan terhindar dari barbagai kesalahan/kerancuan…
9) Keutamaan Hudzaifah bin Al-Yaman رضي الله عنه…..
Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه memiliki keutamaan yang sangat besar di kalangan para Sahabat Nabi Muhammad ﷺ ….
Karena beliau dikenal sebagai Sahabat Nabi yang secara khusus mempelajari berbagai bentuk fitnah yang akan menimpa ummat Islam….
Jika para Sahabat Nabi lainnya banyak bertanya tentang kebaikan, maka Hudzaifah رضي الله عنه justru bertanya tentang keburukan, dengan tujuan agar dapat menghindarinya…
Sikap ini menunjukkan pentingnya mengenali berbagai penyimpangan dan sebab-sebab kesesatan; bukan untuk mengikutinya; akan tetapi agar mampu mewaspadai dan menjaga diri sendiri, maupun menjaga ummat Islam dari kerusakannya….
10) Kaidah “Saddudz Dzarō’i“, yaitu Upaya Menutup Jalan Menuju Bahaya yang Mungkin Terjadi di Masa Mendatang….
Kaidah “Saddudz Dzarō’i” merupakan Prinsip Syari’at yang bertujuan menutup segala sarana yang dapat mengantarkan kepada kerusakan, kemaksiatan, atau bahaya yang lebih besar.…
Islam tidak hanya melarang perbuatan harom itu sendiri, akan tetapi bahkan melarang berbagai jalan yang berpotensi mengarah kepadanya.
Dengan kaidah ini, Syari’at Islam menunjukkan kesempurnaannya dalam menjaga agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta manusia; sebelum kerusakan benar-benar terjadi.
11) Arus Islamophobia yang sangat besar….
Pada masa kini, ummat Islam menghadapi gelombang Islamophobia yang cukup besar, yaitu: Upaya menggambarkan Islam sebagai agama yang identik dengan kekerasan, keterbelakangan, atau ancaman bagi peradaban…
Propaganda semacam ini seringkali disebarkan melalui berbagai media, sehingga mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap Islam…
Dalam menghadapi kondisi tersebut…
Maka kaum Muslimin dituntut untuk menampilkan Ajaran Islam yang Benar melalui ilmu yang lurus, akhlaq yang mulia, dan dakwah yang bijaksana; sehingga kesalahpahaman dapat diluruskan dengan hujjah yang kuat.
12) Banyaknya tokoh-tokoh yang menjerumuskan kepada Kesesatan dan Jahannam….
Rosūlullōh ﷺ telah mengabarkan akan muncul para tokoh dan pemimpin yang mengajak manusia kepada kesesatan…
Mereka (para tokoh dan pemimpin) itu, mungkin memiliki pengaruh, kepandaian berbicara, atau kedudukan yang tinggi…
Akan tetapi, seruan mereka justru menyimpang dari Petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ…..
Akan tetapi, seruan mereka justru menjerumuskan manusia kedalam Jahannam…
Bahaya mereka adalah jauh lebih besar dibandingkan musuh yang tampak jelas…
Karena banyak orang tertipu oleh penampilan dan popularitas mereka….
Oleh karena itu…..
Seorang Muslim wajib Menimbang setiap berita / ajaran / pemikiran yang tersebar di masyarakat itu dengan Timbangan Dalil Syar’i, Bukan dengan ketokohan si pembicara atau banyaknya pengikutnya….
13) Perpecahan adalah sesuatu yang dilarang dalam Islam…
Islam menegaskan larangan ummatnya berpecah-belah…
Islam justru memerintahkan ummatnya untuk berpegang teguh kepada tali agama Allōh secara bersama-sama….
Perpecahan yang lahir dari Fanatisme Kelompok, Hawa Nafsu, ataupun Penyimpangan dari Kebenaran, adalah merupakan sebab utama melemahnya ummat Islam dan hilangnya keberkahan dari diri mereka…
Oleh karena itu….
Persatuan yang diperintahkan dalam Islam, bukanlah persatuan diatas kebathilan….
Melainkan persatuan yang dibangun diatas Petunjuk Al-Qur’an, Sunnah Nabi ﷺ, dan Pemahaman yang Benar terhadap Islam dari kalangan Sahabat Nabi رضي الله عنهم yang merupakan generasi terbaik ummat ini...
Dengan demikian, Persatuan dan Kebenaran harus berjalan beriringan dan tidak boleh dipisahkan !!!
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 022/21121447 – 07062026
ADA BANYAK FITNAH DI PINTU PENGUASA (#3): RESIKO MENDIAMKAN KEMUNKARAN YANG DILAKUKAN PEMIMPIN
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ؛ أَنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال (سَتَكُونُ أُمَرَاءُ. فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ. فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ. ومن أنكر سَلِمَ. وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ) قَالُوا: أَفَلَا نقاتلهم؟ قال (لا. ما صلوا) » رواه مسلم
Dari Ummu Salamah رضي الله عنها (istri Rosũlullõh ﷺ), bahwa Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Akan ada para Pemimpin (yang berbuat ma’ruf dan munkar). Kalian akan mengenali (kebaikan mereka) dan mengingkari (kemunkaran mereka). Maka barangsiapa yang membenci (kemunkaran)-nya (di dalam hati), maka dia telah bebas (dari dosa); dan barangsiapa yang mengingkarinya, maka dia telah selamat. Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang ridho’ dan mengikuti (kemunkarannya, maka dialah yang justru terancam tidak selamat).”
Para shohabat bertanya: “Apakah tidak sebaiknya kita memerangi mereka?“
Beliau ﷺ menjawab: “Tidak, selama mereka masih mendirikan sholat.“
(HR. Muslim, no: 1854)
RENUNGAN:
Ketaatan kepada Pemimpin dalam ajaran Islam, tidak berarti mematikan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, atau membiarkan kemunkaran yang terjadi akibat keputusan sang Pemimpin berjalan tanpa nasihat dan koreksi….
Justru Syari’at Islam mewajibkan kaum muslimin untuk menasihati Pemimpin, mengingatkan kesalahan-kesalahan mereka, serta mengingkari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi akibat keputusan sang Pemimpin yang justru bertentangan dengan ajaran Allōh dan Rosűl-Nya ﷺ.”
Namun….
Pengingkaran tersebut haruslah dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan syari’at, yaitu dengan ilmu, dengan hikmah / kebijaksanaan, serta dengan pertimbangan maslahat maupun mudhorot….
Bukanlah dilakukan dengan seruan yang kasar, celaan, maupun penghinaan, apalagi serta merta dengan pemberontakan (tanpa menimbang sebab akibatnya dengan teliti diatas Syari’at)….
Islam menggabungkan dua prinsip sekaligus…
Tetap menjaga hak kepemimpinan untuk ditaati dalam perkara-perkara yang ma’ruf; dan tetap menegakkan kewajiban nahi munkar serta menasihati dan mengkoreksi kesalahan-kesalahan / penyimpangan para Pemimpin yang bertentangan dengan aturan Allōh dan Rosūl-Nya ﷺ yang hal itu berpotensi berdampak buruk bagi keberlangsungan Islam dan kaum Muslimin…
Dengan demikian….
Seorang muslim tidaklah bersikap pasif terhadap kemungkaran penguasa, akan tetapi juga tidak menempuh cara-cara yang dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar bagi agama, keamanan / stabilitas masyarakat, serta persatuan ummat.
Disisi lain….
Islam mengingatkan bahaya bagi orang yang justru mendiamkan kemunkaran Pemimpin…
Apalagi jika justru “menjilat / mencari muka” Pemimpin (demi keuntungan duniawinya) dengan cara meridhoi’ atau bahkan menyeru manusia untuk mengikuti / membela kemungkaran yang dilakukan sang Pemimpin…
Maka…
Bersiaplah atas ancaman kemurkaan Allōh di Hari Akherat kelak pada orang yang demikian…
Berupa…
Terusir dari Telaga Rosūlullōh ﷺ…
PENJILAT PENGUASA TIDAK AKAN MENIKMATI TELAGA ROSŪLULLŌH
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «حَوْضِي كَمَا بَيْنَ عَدْنَ وَعُمَانَ، فِيهِ الْأَكَاوِيبُ عَدَدُ نُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا، وَإِنَّ مِمَّنْ يَرِدُ عَلَيْهِ مِنْ أُمَّتِي الشَّعِثَةُ رُءوسُهُمِ الدَّنِسَةُ ثِيَابُهُمْ، لَا يَنْكِحُونَ الْمُتَنَعِّمَاتِ، وَلَا يَحْضُرُونَ السُّدَدَ – يَعْنِي أَبْوَابَ السُّلْطَانِ – الَّذِينَ يُعْطُونَ كُلَّ الَّذِي عَلَيْهِمْ، وَلَا يُعْطَوْنَ كُلَّ الَّذِي لَهُمْ» رواه الطبراني في الكبير قال الألباني: صحيح لغيره
Dari Abu’ Umāmah al-Bāhilī رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Telagaku luasnya sejauh jarak antara ‘Aden (Yaman) dan Oman. Di dalamnya terdapat wadah-wadah minum sebanyak jumlah bintang di langit. Barangsiapa yang minum darinya, maka ia tidak akan pernah haus lagi setelahnya untuk selama-lamanya. Dan sesungguhnya, diantara banyak orang yang akan mendatangi Telaga tersebut dari kalangan ummatku adalah mereka yang rambutnya kusut, pakaiannya kotor (karena kemiskinan), mereka tidak menikahi wanita-wanita yang hidup mewah, dan tidak mendatangi as-Syudad (pintu-pintu Penguasa). Merekalah orang-orang yang menunaikan semua kewajiban mereka, tetapi mereka tidak diberikan hak-hak yang seharusnya mereka terima.”
(HR. Ath-Thobroni, “Al-Kabīr“, no: 7546. Dan Syaikh Al-Albāny berkata: “Shohīh Lighoirihi“, no: 3617)
Di Hadits lainnya, Rosũlullōh ﷺ bersabda:
أُعِيذُكَ بِاللَّهِ يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ مِنْ أُمَرَاءَ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِي، فَمَنْ غَشِيَ أَبْوَابَهُمْ فَصَدَّقَهُمْ فِي كَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ، وَلَا يَرِدُ عَلَيَّ الحَوْضَ، وَمَنْ غَشِيَ أَبْوَابَهُمْ أَوْ لَمْ يَغْشَ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ فِي كَذِبِهِمْ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ، وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الحَوْضَ، يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ الصَّلَاةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ حَصِينَةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ، يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ، إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Aku mohon perlindungan Allōh untukmu, wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, dari para penguasa yang muncul setelahku; barangsiapa yang masuk pintu-pintu (berpihak kepada) mereka, membenarkan kedustaan mereka dan menolong kedzoliman mereka, maka dia bukan bagian dari (ummat)-ku dan aku bukan bagian darinya dan dia tidak akan melewati Telagaku; sedangkan barangsiapa yang tidak masuk ke pintu-pintu (berpihak kepada) mereka, tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak menolong kedzoliman mereka, maka dia bagian dariku dan aku bagian darinya dan dia akan melalui Telagaku. Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sholat itu adalah bukti, shoum adalah perisai, shodaqoh adalah pemadam kesalahan (dosa) sebagaimana air memadamkan api. Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya tidaklah daging manusia yang tumbuh dari yang Harom, melainkan neraka lah yang lebih patut membakarnya.”
(HR. At-Turmudzi no: 614, dari Ka’ab bin ‘Ujroh رضي الله عنه, dishohĩhkan oleh Al-Albāny)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 023/22121447 – 08062026
ADA BANYAK FITNAH, DI PINTU PENGUASA (#4): PEMIMPIN YANG MEMADAMKAN SUNNAH
عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «سَيَلِي أُمُورَكُمْ بَعْدِي، رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ، وَيَعْمَلُونَ بِالْبِدْعَةِ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا» فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُهُمْ، كَيْفَ أَفْعَلُ؟ قَالَ: «تَسْأَلُنِي يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ كَيْفَ تَفْعَلُ؟ لَا طَاعَةَ، لِمَنْ عَصَى اللَّهَ» رواه ابن ماجة
Dari ‘Abdullōh bin Mas’ūd رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Akan memegang urusan (pemerintahan) kalian setelahku, orang-orang yang justru memadamkan sunnah, melakukan bid’ah, dan mengakhirkan sholat dari waktu-waktu yang semestinya.“
Maka aku (Ibnu Mas’ūd) bertanya: “Wahai Rosūlullōh, jika aku mendapati mereka, apa yang harus aku lakukan?“
Beliau ﷺ menjawab: “Apakah engkau bertanya kepadaku, wahai anak Ummu ‘Abd, tentang apa yang harus engkau lakukan? (Tentulah) tidak ada ketaatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allōh.“
(HR. Ibnu Măjah, no: 2865)
RENUNGAN:
Diantara Fitnah yang sangat berat pada Akhir Zaman….
Adalah munculnya para Pemimpin yang justru menjauhkan ummat dari Petunjuk Sunnah Rosūlullōh ﷺ, dan memadamkan ajaran-ajaran Islam yang Lurus…
Bahkan Pemimpin itu memberi ruang bagi berbagai bentuk kebid’ahan dan penyimpangan-penyimpangan untuk berkembang di tengah-tengah masyarakat….
Keadaan menjadi semakin berat…
Ketika perkara-perkara agama yang paling mendasar, seperti sholat yang merupakan Hak Allōh dan tiang agama, tidak lagi mendapatkan perhatian dan prioritas sebagaimana mestinya…
Kesibukan dunia, kepentingan politik, dan berbagai urusan materi, justru sering kali lebih diutamakan daripada penegakan syiar-syiar Islam…
Dalam kondisi seperti ini…..
Seorang Muslim menghadapi ujian yang besar untuk tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ, dan menjaga sholat pada waktu-waktunya…
Dan seorang Muslim harus tetap teguh mempertahankan Identitas ke-Islamannya, meskipun lingkungan di sekitarnya semakin jauh dari nilai-nilai Islam….
Justru pada masa-masa seperti inilah…
Bobot Nilai Istiqomah semakin tinggi…
Karena seorang Muslim dituntut untuk tetap teguh diatas Kebenaran Islam, ketika kebanyakan manusia justru berpaling darinya…
Dan bahkan ketika dukungan terhadap urusan agama Islam, tidak lagi menjadi arus utama dalam kehidupan masyarakat….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 024/23121447 – 09062026
ADA BANYAK FITNAH, DI PINTU PENGUASA (#5): PEMIMPIN YANG MENGAKHIRKAN SHOLAT DARI WAKTUNYA
BERKATA “ALLŌH MAHA BESAR”; TAPI SHOLAT DIAKHIRKAN…
عَنِ امْرَأَةِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” سَيَكُونُ أُمَرَاءُ يَشْغَلُهُمْ أَشْيَاءُ وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا، فَصَلُّوا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا، ثُمَّ اجْعَلُوا صَلَاتَكُمْ مَعَهُمْ تَطَوُّعًا “» رواه أحمد وابن ماجة واللفظ لأحمد
Dari istri ‘Ubādah bin ash-Shōmit, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Akan ada para pemimpin yang disibukkan oleh berbagai urusan, sehingga mereka mengakhirkan sholat dari waktunya. Maka sholatlah kalian tepat pada waktunya, kemudian jadikanlah sholat kalian bersama mereka sebagai sholat sunnah (tambahan).”
(HR. Ahmad, no: 23852; HR. Ibnu Mājah, no: 1257, dan lafadz ini dari Imam Ahmad)
RENUNGAN:
Diantara Fitnah besar di Akhir Zaman adalah….
Ketika manusia lebih memprioritaskan urusan dunia daripada menjaga sholat yang merupakan tiang keislaman….
Kesibukan pekerjaan, perdagangan, pendidikan, hiburan, dan berbagai aktivitas duniawi, seringkali membuat banyak orang menunda sholat, lalu mengakhirkan dari waktunya…
Dan lebih sangat besar keburukannya, jika mereka bahkan meninggalkan sholat sama sekali….
Padahal Allōh عز وجل memerintahkan agar sholat menjadi Prioritas Utama dalam kehidupan seorang Mukmin…
Karena sholat merupakan hubungan langsung antara seorang hamba dan Robb-nya….
Rosululloh ﷺ juga mengabarkan bahwa _akan datang para Pemimpin yang mengakhirkan sholat dari waktunya, yang menunjukkan bahwa ia meremehkan sholat…
Hal ini merupakan salah satu tanda kerusakan yang akan muncul di tengah-tengah umat….
Apabila Pemimpin yang harusnya dijadikan sebagai panutan, justru ia tidaklah menjaga agama dan tidak memberi tauladan yang baik kepada ummat….
Oleh karena itu….
Seorang Muslim hendaknya selalu berusaha menjadikan sholat sebagai pusat pengaturan seluruh aktivitas hidupnya….
Dan bukan justru menjadikan aktivitas dunia, sebagai alasan untuk mengabaikan sholat….
Keberhasilan Sejati, bukanlah dengan banyaknya urusan dunia yang terselesaikan…
Akan tetapi Keberhasilan Sejati adalah kemampuan sang Muslim untuk menjaga sholat tepat waktu di tengah-tengah padatnya kesibukan dirinya…
Karena sholat adalah pembeda antara Petunjuk dan Kesesatan, serta sebab utama keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di Akhirat kelak…
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 025/24121447 – 10062026
ADA BANYAK FITNAH, DI PINTU PENGUASA (#6)
AL-IMAM AL-HASAN AL-BASHRI, MENJAUH DARI PENGUASA
Dari Al-Hasan al-Bashri رحمه الله تعالى, bahwa saat beliau melewati sekelompok Qori’ (Ahli Ilmu Agama dan Pembaca Al-Qur’an) yang berada di salah satu pintu para Penguasa. Maka beliau رحمه الله تعالى berkata:
أفرحتم حمائمكم وفرطحتم نعالكم وجئتم بالعلم تحملونه على رقابكم إلى أبوابهم فزهدوا فيكم، أما إنكم لو جلستم ببيوتكم حتى يكونوا هم الذين يرسلون إليكم لكان أعظم لكم في أعينهم، تفرقوا فرق الله بين أعضائكم.»
“Apakah kalian (para Qori’) telah menggemukkan burung-burung merpati kalian, melapangkan sandal-sandal kalian, lalu datang membawa ilmu (dīn/agama) yang kalian pikul diatas pundak-pundak kalian menuju pintu-pintu mereka (Penguasa) ? Akibatnya mereka pun memandang rendah kalian. Ketahuilah, seandainya kalian tetap duduk di rumah-rumah kalian hingga mereka sendiri yang mengutus orang untuk mendatangi kalian, niscaya kedudukan kalian akan lebih besar (mulia) dalam pandangan mereka. Berpencarlah kalian! Semoga Allōh mencerai-beraikan anggota tubuh kalian.”
(Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shofwah, (2/139)
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 026/26121447 – 12062026
ADA BANYAK FITNAH, DI PINTU PENGUASA (#7): PEMIMPIN YANG SESAT DAN MENYESATKAN
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:
« إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ مِنَ النَّاسِ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ فَيَرْفَعُ الْعِلْمَ مَعَهُمْ وَيُبْقِى فِى النَّاسِ رُءُوسًا جُهَّالاً يُفْتُونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ
“Sesungguhnya Allõh tidak mencabut ‘ilmu begitu saja dari manusia, tetapi Allõh mencabut ‘ilmu itu melalui diwafatkannya para ‘Ulama, sehingga jika tidak tersisa satu ‘alim pun, maka orang pun akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka. Jika mereka ditanya, maka mereka akan berfatwa tanpa ‘ilmu, sehingga mereka akan sesat dan menyesatkan orang lain.”
(HR. Muslim no: 6974, dari ‘Abdullõh bin ‘Amr bin Al Ash رضي الله عنه)
RENUNGAN:
Diantara Fitnah yang muncul di Akhir Zaman adalah….
Para ‘Ulama dan orang-orang Shōlih semakin banyak yang diwafatkan oleh Allōh Subhãnahu Wa Ta’ãlã…
Tokoh dan Kader Ummat Islam semakin sulit dibentuk…
Dan bilangannya pun semakin langka…
Orang-orang jahil (bodoh terhadap agama dan Syari’at) lah yang pada saat itu justru semakin tumbuh berkembang, dan jumlahnya semakin memadati dunia….
Karena langkanya para ‘Ulama dan tokoh-tokoh yang Shōlih…
Maka kebutuhan akan sosok pemimpin ummat, tidak bisa lagi terelakkan dari mengangkat “orang yang seadanya”….
Dan “orang yang seadanya” dikalangan ummat disaat itu adalah orang-orang yang jahil (bodoh) yang bahkan tidak mengerti tentang apa yang harus dilakukannya terhadap Allōh Penciptanya…
Tidak mengerti tentang apa yang harus dilakukannya terhadap Syari’at-Nya…
Tidak tahu tentang apa yang patut dilakukan terhadap sesamanya…
Bahkan justru berperan serta dalam merusak alam dan lingkungannya…
Akibatnya…
Mereka berfatwa tanpa petunjuk ilmu (agama/dīn yang benar), sehingga tak hanya dirinya yang sesat…
Bahkan ia pun menyesatkan orang-orang lainnya….
Oleh karena itu….
Ummat Islam haruslah semakin sadar…
Bahwa sebelum saat sulit itu semakin tiba membelit….
Sebelum ilmu menjadi semakin langka….
Sebelum para ‘Ulama semakin habis, karena Allōh wafatkan satu demi satu….
Maka seharusnya mulailah dari diri kita dan keluarga kita…
Tumbuhkan kecintaan untuk mencari dan mempelajari ilmu-ilmu Syar’i, lalu berupayalah mengamalkannya…
Agar mampu beribadah dengan benar itu bisa dilakukan sesegera mungkin…
Bukan di hari esok, dikala sudah semakin langka….
Karena…
Dari waktu ke waktu…
Kualitas manusia akan semakin merosot, sejalan dengan masanya dimana semakin dekat dengan Hari Kiamat…
Adalah justru bukan kebaikan yang mudah untuk dilaksanakan….
Akan tetapi justru kemungkaran yang ditumbuhkembangkan di kalangan manusia….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 027/28121447 – 14062026
ADA BANYAK FITNAH, DI PINTU PENGUASA (#8): PEMIMPIN YANG DUNGU & ENAM FITNAH SEKALIGUS
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا: إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ، وَسَفْكُ الدِّمَاءِ، وَبَيْعُ الْحُكْمِ، وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ، وَنَشْوٌ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ، وَكَثْرَةُ الشُّرَطِ
“Aku takut 6 perkara menimpa kalian:
a) Kepemimpinan yang bodoh (dungu),
b) Tumpah darah
c) Jual beli hukum
d) Putus Silaturrohim
e) Anak-anak kecil menjadikan Al-Qur’an sebagai seruling
f) dan Banyaknya Polisi.”
(HR. Ath-Thobrony, dalam “Al Mu’jam Al Kabĩr”, no: 14532, di-shohĩh-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny dalam “Shohĩh Al Jãmi’ush Shoghĩr“, no: 216, dari Shohabat ‘Auf bin Mãlik رضي الله عنه)
RENUNGAN:
Diantara Fitnah Akhir Zaman adalah munculnya 6 Fitnah berikut ini:
1] Kepemimpinan yang bodoh (dungu)
Yang dimaksud adalah: Ketika urusan ummat dan masyarakat atau negara, dipimpin oleh orang-orang yang justru tidak memiliki ilmu dīn yang lurus, serta tidak pula memiliki sikap hikmah, sifat amanah, kompetensi, keimanan dan ketaqwaan yang seharusnya.
Akibatnya…
Mereka mengambil keputusan berdasarkan Hawa Nafsu, kepentingan pribadi/ golongannya, atau dengan kejahilan (kebodohan) terhadap kebutuhan ummat, sehingga menimbulkan kerusakan yang luas.
Kepemimpinan semacam ini…
Menyebabkan hilangnya keadilan, rusaknya tatanan sosial, memutuskan harapan masyarakat, bahkan justru menyebabkan tersesatnya rakyat yang dipimpinnya…
Karena pemimpin seharusnya menjadi tauladan dan penunjuk jalan; dan bukan justru menjadi sumber kesesatan, kecekcokan, serta sumber kesusahan masyarakat….
2] Tumpah darah
Maksudnya adalah: Banyaknya tawuran antar komunitas, pembunuhan, peperangan, pertikaian, dan hilangnya penghormatan terhadap nyawa manusia….
Darah manusia menjadi murah, sehingga pembunuhan terjadi karena sebab-sebab yang sepele, atau tanpa alasan yang benar…
Fenomena ini menunjukkan merosotnya nilai kemanusiaan, hilangnya rasa aman, dan melemahnya agama dalam kehidupan masyarakat.
Rosũlullõh ﷺ menyebut banyak Hadits terkait meluasnya pembunuhan, sebagai salah satu Tanda mendekatnya Hari Kiamat.
3] Jual beli hukum
Yang dimaksud adalah: hukum dan peradilan dapat diperjualbelikan demi keuntungan duniawi.
Putusan peradilan diberikan, bukan berdasarkan pada nilai-nilai kebenaran; akan tetapi karena adanya suap, tekanan, pemanfaatan kedudukan/ jabatan, atau kepentingan tertentu lainnya.
Akibatnya…
Pihak yang salah justru dapat dinyatakan benar…
Sementara…
Pihak yang benar, malah sebaliknya adalah dikalahkan dan tidak diberi keberpihakan ….
Keadaan ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah dan termasuk salah satu penyebab runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum dan kepemerintahan.
4] Putus Silaturrohim
Maksudnya adalah: Rusaknya hubungan kekeluargaan dan persaudaraan; baik karena permusuhan, kesombongan, perebutan harta, maupun kepentingan dunia lainnya.
Hubungan antara orangtua dan anak, hubungan antara saudara kandung, kerabat, dan sesama muslim; menjadi renggang, bahkan terputus.
Padahal…
Silaturahim merupakan sebab datangnya keberkahan umur, rizqi, dan persatuan ummat.
Ketika silaturahim terputus, maka masyarakat akan mudah terpecah, dan kehilangan kekuatan sosialnya.
5] Anak-anak kecil menjadikan Al-Qur’an bagaikan seruling
Ungkapan ini dipahami oleh para ‘Ulama sebagai peringatan terhadap kecenderungan membaca Al-Qur’an hanya untuk memperindah suara dan mencari hiburan atau popularitas belaka; tanpa memperhatikan tadabbur, penghayatan, dan pengamalan isi pedoman maupun kandungannya.
Al-Qur’an seakan diperlakukan seperti “nyanyian belaka”, yang dinikmati lantunannya semata….
Hal ini bukan berarti memperindah bacaan Al-Qur’an itu dilarang; karena hal itu memang dianjurkan Syari’at…
Namun yang tercela, yang dimaksud dalam hal ini adalah….
Ketika tujuan utama membaca Al-Qur’an itu bergeser dari yang semestinya menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk/pedoman hidup untuk diamalkan secara nyata dalam kehidupan…
Berubah menjadi hanya sekedar sebagai perlombaan suara lantunan bacaan belaka…
6] Banyaknya Polisi
Yang dimaksud adalah…
Bukan semata-mata jumlah aparat penegak hukum yang banyak…
Akan tetapi…
Justru menunjukkan bahwa kondisi masyarakat tengah dipenuhi berbagai bentuk pelanggaran, kejahatan, kerusakan moral, dan aneka kekacauan…
Sehingga membutuhkan pengawasan dan penegakan keamanan yang semakin besar….
Namun selain itu…
Dalam sebagian penjelasan Ulama, hal ini juga dapat mengisyaratkan bahwa….
Meluasnya kekuasaan yang bertumpu pada banyaknya aparat dan penjagaan terhadap kekuasaan…
Adalah akibat rasa ketakutan yang muncul di kalangan para penguasa terhadap penjagaan eksistensi kekuasaannya…
Sehingga dibutuhkan pengamanan berlapis, dan dari berbagai arah / penjuru itu; adalah diakibatkan karena keinginan mengontrol penuh kehidupan publik, demi terjaganya eksistensi kekuasaan yang dimilikinya…
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 028/02011448 – 17062026
KERUSAKAN ZAMAN SEMAKIN TERJADI
عن عبد الله بن مسعود قال قلت يا رسول الله هل للساعة من علم تعرف به الساعة
فقال نعم
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ لِلسَّاعَةِ أَعْلامًا، وَإِنَّ لِلسَّاعَةِ أَشْرَاطًا، أَلا وَإِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُونَ الْوَلَدُ غَيْظًا، وَأَنْ يَكُونَ الْمَطَرُ قَيْظًا، وَأَنْ تَفِيضَ الأَشْرَارُ فَيْضًا،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُصَدَّقَ الْكَاذِبُ، وَأَنْ يُكَذَّبَ الصَّادِقُ،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ، وَأَنْ يُخَوَّنَ الأَمِينُ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَوَاصَلَ الأَطْبَاقُ، وَأَنْ تَقَاطَعَ الأَرْحَامُ،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَسُودَ كُلَّ قَبِيلَةٍ مُنَافِقُوهَا، وَكُلَّ سُوقٍ فُجَّارُهَا،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تُزَخْرَفَ الْمَسَاجِدُ، وَأَنْ تُخَرَّبَ الْقُلُوبُ،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُونَ الْمُؤْمِنُ فِي الْقَبِيلَةِ أَذَلَّ مِنَ النَّقْدِ،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكْتَفِيَ الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ وَالنِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَكْثُفَ الْمَسَاجِدُ وَأَنْ تَعْلُوَ الْمَنَابِرُ،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُعْمَرَ خَرَابُ الدُّنْيَا، وَيُخْرَبَ عِمْرَانُهَا،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَظْهَرَ الْمَعَازِفُ، وَتُشْرَبَ الْخُمُورُ،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا شُرْبَ الْخُمُورِ،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا الشُّرَطُ وَالْغَمَّازُونَ وَاللَّمَّازُونَ،
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكْثُرَ أَوْلادُ الزِّنَى،
قُلْتُ: أَبَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، وَهُمْ مُسْلِمُونَ؟
قَالَ: نَعَمْ،
قُلْتُ (يعني عتي السعدي): أَبَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ (يعنى عبد الله بن مسعود)، وَالْقُرْآنُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ؟
قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ: أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَأَنَّى ذَاكَ؟
قَالَ: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُطَلِّقُ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ، ثُمَّ يَجْحَدُ طَلاقَهَا فَيُقِيمُ عَلَى فَرْجِهَا، فَهُمَا زَانِيَانِ مَا أَقَامَا
Dari ‘Abdullōh bin Mas’ūd رضي الله عنه, ia berkata: “Aku bertanya, ‘Wahai Rosũlullõh ﷺ, apakah Hari Kiamat memiliki Tanda-Tanda yang dapat diketahui?‘”
Beliau ﷺ menjawab: “Ya, wahai Ibnu Mas’ūd. Sesungguhnya Hari Kiamat memiliki tanda-tanda dan syarat-syarat.
Ketahuilah, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah anak menjadi sumber kemurkaan, hujan turun pada musim panas yang terik, dan orang-orang jahat semakin banyak serta berlimpah.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah pendusta dipercaya dan orang yang jujur didustakan.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dianggap pengkhianat.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah orang-orang yang berjauhan saling terhubung, sedangkan hubungan kekerabatan diputuskan.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah orang-orang Munafiq menjadi pemimpin setiap kabilah, dan orang-orang durhaka menguasai pasar-pasar.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah masjid-masjid dihiasi dengan megah, sedangkan hati-hati (ummat) menjadi rusak.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah seorang mu’min di tengah-tengah kaumnya, bahkan menjadi lebih hina daripada uang recehan.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah laki-laki merasa cukup dengan sesama laki-laki, dan perempuan merasa cukup dengan sesama perempuan.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah masjid-masjid semakin banyak, dan mimbar-mimbar semakin ditinggikan.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah tempat-tempat yang dahulu rusak di dunia dibangun kembali, sedangkan tempat-tempat yang makmur justru menjadi hancur.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah alat-alat musik bermunculan dan khomr diminum.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah tersebarnya minuman keras.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah banyaknya aparat penindas, para pengadu domba, dan orang-orang yang suka mencela.
Wahai Ibnu Mas’ūd, diantara tanda-tanda dan syarat-syarat Hari Kiamat adalah semakin banyak anak-anak yang lahir dari perzinaan.“
Aku (‘Atiy as-Sa’diy رضي الله عنه) bertanya, “Wahai Abu ‘Abdurrohmān, apakah mereka itu kaum Muslimin?“
Beliau (‘Abdullōh bin Mas’ūd رضي الله عنه) menjawab, “Ya.“
‘Atiy As-Sa’diy berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdurrohmān—yakni ‘Abdullōh bin Mas’ūd—’Apakah Al-Qur’an berada di tengah-tengah mereka?’“
Beliau (‘Abdullōh bin Mas’ūd رضي الله عنه) menjawab, “Ya.“
Aku (‘Atiy As-Sa’diy) bertanya lagi, “Wahai Abu Abdurrahmān, bagaimana hal itu bisa terjadi?“
Beliau (‘Abdullōh bin Mas’ūd رضي الله عنه) menjawab: “Akan datang suatu masa ketika seorang laki-laki menceraikan istrinya, kemudian ia mengingkari talaknya, lalu tetap hidup bersamanya sebagai suami istri. Selama keduanya tetap dalam keadaan demikian, maka keduanya berstatus sebagai pezina.“
(HR. Imām Ath-Thobrony no: 10405 dalam “Al-Mu’jamul Kabīr”)
Namun “Di dalam sanad Hadits ini terdapat Saif bin Miskīn.” Adz-Dzahabi berkata dalam “Mīzān al-I‘tidāl” bahwa: “Ia adalah seorang syekh dari Bashroh yang meriwayatkan Hadits-Hadits yang terbalik sanad atau matannya (al-maqlūbāt) serta berbagai riwayat palsu (al-asyyā’ al-mawḍū‘ah).“
Demikian pula, Nuruddin al-Haitsami menilainya sebagai perowi yang lemah dalam kitab “Majma‘ az-Zawā’id wa Manba‘ al-Fawā’id“, sehingga dengan demikian Hadits ini sebenarnya adalah tergolong Hadits yang dho’if atau lemah. Dan kalau demikian keadaannya, maka tidak dapat dijadikan sandaran dalam perkara ‘Aqidah.
RENUNGAN:
ATSAR diatas….
Walaupun berasal dari Hadits yang lemah, sehingga tidak kita nisbatkan langsung kepada Rosūlullōh ﷺ, tetapi hanya sebagai ATSAR…
Merupakan suatu renungan terhadap REALITAS HIDUP kita pada ZAMAN SEKARANG….
Dimana berbagai kejadian yang disampaikan dalam ATSAR ini, sesungguhnya memang benar-benar terjadi dan bisa kita saksikan beritanya di aneka media di zaman sekarang….
Sehingga…
Minimal kewaspadaan terhadap berbagai Fitnah Akhir Zaman yang tercakup dalam atsar diatas, tetaplah harus kita tumbuh sadarkan dalam diri kita…
Dan dalam hal ini…
Merupakan bukti keunggulan pemahaman para ‘Ulama Pendahulu Ummat….
Betapa pemahaman para ‘Ulama Salafush Shōlih terdahulu, telah menyimpulkan keadaan yang demikian….
Diantara 16 tanda-tanda yang disebutkan dalam ATSAR diatas adalah….
1) Anak menjadi sumber kemurkaan,
2) Hujan turun pada musim panas yang terik, dan
3) Orang-orang jahat semakin banyak, serta berlimpah,
4) Pendusta dipercaya, sedangkan orang-orang yang jujur justru didustakan,
5) Pengkhianat diberi amanah, sementara orang-orang yang amanah justru dianggap pengkhianat,
6) Orang-orang yang berjauhan saling terhubungkan, sementara hubungan kekerabatan justru terputuskan.
7) Orang-orang Munafiq menjadi pemimpin setiap kabilah, dan orang-orang durhaka menguasai pasar-pasar.
8) Masjid-masjid dihiasi dengan megah, sedangkan hati-hati (ummat) justru menjadi rusak.
9) Seorang mu’min ditengah-tengah kaumnya, bahkan menjadi lebih hina daripada uang recehan,
10) Laki-laki merasa cukup dengan sesama laki-laki, dan perempuan merasa cukup dengan sesama perempuan.
11) Masjid-masjid semakin banyak, dan mimbar-mimbar semakin ditinggikan,
12) Tempat-tempat yang dahulu rusak di dunia dibangun kembali, sedangkan tempat-tempat yang makmur justru menjadi hancur.
13) Alat-alat musik bermunculan, dan khomr diminum.
14) Tersebarnya minuman keras.
15) Banyaknya aparat penindas, para pengadu domba, dan orang-orang yang suka mencela.
16) Semakin banyak anak-anak yang lahir dari perzinaan.”
Renungkanlah…
Betapa 16 poin yang disampaikan dalam ATSAR diatas memang REALITA nya bisa kita saksikan terjadi di zaman sekarang…..
Betapa….
Kemungkaran demi kemungkaran terus bermunculan bertubi-tubi….
Dan maraknya jumlah kemungkaran itu justru tidak sebanding dengan Upaya Perbaikannya….
Betapa….
Pada poin no: 10 Atsar, dimana khusus terkait “laki-laki yang merasa cukup hanya dengan sesama laki-laki, dan perempuan yang merasa cukup dengan sesama perempuan”….
Maka pada zaman sekarang, justru keabnormalan seperti ini lah yang semakin marak…
Bukannya berhenti dan menghilang…
Akan tetapi, perilaku abnormal yang dulu pernah terjadi pada masa kaum Nabi Luth, justru sekarang tumbuh berkembang kembali, bahkan menjadi apa yang dikenal dengan istilah “LGBTQIA+”, yaitu: Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer/ Questioning, Intersex, Aseksual dan Plus….
Di media massa bahkan diberitakan….
Betapa….
Di kota-kota besar, seperti: Bandung, Surabaya, dan Bekasi, juga menjadi pusat komunitas LGBT, dengan jumlah yang terus meningkat dari tahun ke tahun….
Di Kota Bekasi, misalnya, diperkirakan terdapat sekitar 9.033 orang LGBT dari total penduduk 2,53 juta jiwa pada tahun 2024; dengan peningkatan signifikan dari 544 orang pada tahun 2023 menjadi 5.632 orang pada tahun 2024…..
Rentang usia terbanyak, adalah berada pada kelompok usia 25-49 tahun, dengan jumlah 3.921 orang….
Sungguh memprihatikan kondisi ini…
Dan sekaligus, hal ini menunjukkan…
Betapa realita aneka penyimpangan dan kemunkaran ini terus tumbuh berkembang…
Sementara….
Upaya Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar, bisa dikatakan semakin dibungkam dan dibuat redup….
Na’ūdzu billāhi min dzălik….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 029/04011448 – 04062026
KONSEP PERUBAHAN
Dari ‘Abdullōh bin ‘Umar رضي الله عنهما, bahwa Rosũlullõh ﷺ bersabda:
«إذا تبايعتم بالعينة، وأخذتم أذناب البقر، ورضيتم بالزرع، وتركتم الجهاد، سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم»
“Apabila kalian telah melakukan transaksi ‘Inah (bagian daripada riba), dan kalian sibuk “memegang ekor-ekor sapi” (– disibukkan perkara-perkara duniawi — pent.), dan kalian telah merasa puas dengan bercocok tanam (– puas dalam kesibukan meraih dunia — pent.), lalu kalian meninggalkan jihad, niscaya Allōh akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut-Nya, hingga kalian kembali kepada agama kalian.“
(HR. Abu Dawud, no: 3462)
RENUNGAN:
Dalam hadits diatas, terdapat kata: “Hingga kalian kembali kepada agama kalian“…
Hal itu menunjukkan bahwa…
Kemuliaan ummat ini ditentukan oleh kesempurnaan pengamalan ajaran Islam, dalam seluruh aspek kehidupan….
Baik dalam urusan ‘Aqidah, Ibadah, Akhlaq, Mu’amalah, dan Tanggung Jawab Sosial….
Merasa puas hanya dalam urusan duniawi belaka…
Namun…..
Lalai dalam berjuang menegakkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan…
Maka….
Dapat berakibat kehinaan bagi ummat ini….
Masih maukah kita menuju perubahan itu…
Atau apakah kita lebih memilih betah dalam kehinaan?
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 030/08011448 – 23062026
JIKA ALLŌH MENCABUT ‘ILMU
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا». متفق عليه واللفظ للبخاري
Dari ‘Abdullōh bin ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله عنه, ia berkata: “Aku mendengar Rosūlullōh ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allōh tidak mencabut ‘ilmu (dīn) begitu saja dari dada para hamba-Nya. Akan tetapi, Allōh mencabut ilmu dengan mewafatkan para ‘Ulama. Hingga ketika Dia tidak menyisakan seorang ‘alim pun, maka manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin bagi mereka. Lalu mereka ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu. Akibatnya, mereka sesat dan menyesatkan orang lain.”
(Muttafaq ‘alaih; HR. Al-Bukhōry, no: 100; dan HR. Muslim, no: 2672; dan lafadz ini adalah lafadz Al-Bukhōry).
MUTIARA HADITS:
1) Diantara Tanda dekatnya Hari Kiamat adalah: diangkat dan menghilangnya ilmu syar’i yang akan terjadi secara bertahap, melalui wafatnya para ‘Ulama.
2) Kekosongan ‘Ulama yang benar-benar ber-ilmu dan berakhlaq; akan membuka jalan bagi munculnya tokoh-tokoh yang tidak memiliki kompetensi ilmu.
3) Bahaya berfatwa tanpa ilmu adalah karena yang demikian itu berpotensi merupakan suatu dosa besar, manakala ia menyesatkan dirinya sendiri, maupun orang lain.
4) Sesungguhnya ilmu syar’i itu berasal dari Allōh عز وجل; dan dengan Kekuasaan dan Kehendak-Nya pula lah ilmu syar’i itu akan dicabut.
5) Tanda-Tanda Hari Kiamat, sesungguhnya merupakan “Pelajaran Besar” bagi orang-orang yang beriman, yaitu diantaranya adalah agar orang-orang beriman sadar dan bersegera mempersiapkan segala sesuatunya sebelum “Hari Penyesalan yang tak berguna lagi” (– Hari Akherat–) itu tiba.
6) Ummat Islam diperintahkan untuk merujuk kepada ‘Ulama yang terpercaya, untuk memahami agama mereka dengan benar.
Dan pemahaman agama (dīn) itu hendaknya mengikuti tuntunan Al-Qur’an, As-Sunnah dan selaras dengan pemahaman para Pendahulu Ummat yang shōlih; yang dinyatakan Nabi ﷺ sendiri sebagai “Generasi Terbaik Ummat“.
Amatlah berbahaya manakala “pemahaman terhadap Islam” itu tercemari oleh pemikiran-pemikiran menyimpang / isme-isme / paham-paham yang justru bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri; yang dibawa oleh kalangan Orientalis Barat, Timur, maupun yang lainnya….
7) Motivasi bagi Muslim agar bersemangat dalam Tholabul ‘Ilmi, sebelum ‘ilmu syar’i itu menjadi langka.
8) ‘Ilmu Syar’i bukanlah sekedar data yang dapat dibaca ataupun dihafal belaka, namun ‘ilmu syar’i pada hakekatnya adalah “sikap robbani dan wujud keteladanan” dalam penerapan atas ilmu itu.
Karena betapapun ‘ilmu syar’i bertaburan dan mudah diakses maupun didownload seperti saat ini; namun justru keberkahan ilmu, karakter dan keteladanan yang terbentuk dari tempaan pengamalan ilmu itu lah yang menjadi langka….
Sehingga…
Sebenarnya ilmu itu pun “seakan-akan menjadi tidak ada”…
9) Di zaman ini, ilmu pengetahuan di bidang teknologi dan sains tak dipungkiri kemutakhirannya…
Bahkan ilmu syar’i pun demikian pula, penyebarannya tak berbilang di berbagai penjuru dunia…
Demikian pila….
Berbagai Lembaga, Institusi, Majelis, Forum, Universitas dan aneka Lembaga Pengkajian dan Pengajaran pun tersebar luas….
Namun….
Disaat KEBERKAHAN KUALITAS ‘ILMU, maupun KEBERKAHAN ‘ILMU SYAR’I itu Alloh cabut…
Maka…
Bukanlah kemajuan…
Bukanlah ketentraman….
Dan bukanlah kesejahteraan yang dirasakan oleh manusia…
Namun….
Justru ketakutan, ancaman dan korban keserakahan manusia lah yang mendominasi dan terus-menerus akan menyeretnya pada kehancuran….
Na’ūdzu billāhi min dzālik….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 031/11011448 – 26062026
MEREKA LEBIH BERHAK DIPENJARA
Al-Imām Mālik رحمه الله تعالى berkata:
أَخْبَرَنِي رَجُلٌ ” أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَوَجَدَهُ يَبْكِي، فَقَالَ لَهُ: مَا يُبْكِيكَ؟ وَارْتَاعَ لِبُكَائِهِ فَقَالَ لَهُ: أَمُصِيبَةٌ دَخَلَتْ عَلَيْكَ؟ فَقَالَ: لَا، وَلَكِنِ اسْتُفْتِيَ مَنْ لَا عِلْمَ لَهُ وَظَهَرَ فِي الْإِسْلَامِ أَمْرٌ عَظِيمٌ، قَالَ رَبِيعَةُ: وَلَبَعْضُ مَنْ يُفْتِي هَا هُنَا أَحَقُّ بِالسَّجْنِ مِنَ السُّرَّاقِ “
“Telah sampai padaku berita bahwa seseorang masuk ke ruang Robī’ah bin ‘Abdirrohmān, yang ditemuinya saat itu sedang menangis. Lalu ditanya, “Apakah yang menyebabkan anda menangis? Apakah musibah telah menimpamu?“
Beliau (Robī’ah) menjawab, “Tidak. Akan tetapi orang-orang yang tidak berilmu telah dimintai fatwa, sementara di dalam Islam telah muncul perkara-perkara yang besar (serius).”
Robī’ah berkata, “Sebagian daripada mereka itu berfatwa disana dan disini, padahal dia itu lebih pantas dipenjara, daripada para pencuri.”
(Ibnu ‘Abdil Barr, “Jamī’ul ‘Ulūm wal Hikam”, no: 2410)
RENUNGAN:
Adalah merupakan Tanda dekatnya Hari Kiamat, dan disisi lain juga merupakan keprihatinan yang sangat mendalam…
Bahwa di zaman sekarang, apa yang diberitakan oleh Rosūlullōh ﷺ tentang carut marutnya ummat manakala ‘ilmu telah dicabut, dan juga sebagaimana kegelisahan Robi’ah dalam kisah diatas, telah nyata dalam keseharian hidup ummat saat ini….
Betapa tidak….
Pendusta dikatakan orang jujur, lalu dipercaya dan diamanahi…
Sementara…
Orang jujur dan orang benar justru mengalami sebaliknya, ia lah yang dinyatakan sebagai pendusta dan tidak benar….
Betapa….
Para pengkhianat menyandang amanah, karena dianggapnya terpercaya….
Sebaliknya….
Orang-orang yang terpercaya justru dituduh disebut pengkhianat….
Betapa..
Orang-orang yang baik justru dituduh buruk….
Sementara…
Orang-orang yang buruk, dikatakan baik….
Betapa….
Al-Qur’an dan As-Sunnah, dikatakan sebagai “Agama Baru”…..
Sementara…
Hawa Nafsu, Filsafat, Tradisi/ Budaya yang bertentangan dengan Islam, Isme-Isme / Pemikiran yang menyimpang (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme, Komunisme, Atheisme, Kapitalisme, Materialisme, dan lain sebagainya); justru dijadikan sebagai landasan beragama…..
Betapa….
“As-Sunnah” disebut sebagai “Bid’ah”…..
Sementara….
Yang “Bid’ah” justru dianggap sebagai “Sunnah”…..
Betapa….
Mukmin yang “berjihad fī sabīlillāh” membela agama, kehormatan Islam dan tanah airnya, justru dituduh sebagai “Teroris”…..
Sebaliknya….
“Teroris” yang menjajah berbagai negeri serta membunuhi ummat manusia tanpa Haq, justru disebut sebagai “Pahlawan”….
Betapa….
“Zina” dianggap mata pencaharian dan diberi sebutan “PSK (pekerja seks komersial)”….
Sementara….
Pernikahan yang Halal menjadi sulit ditempuh….
Betapa….
“Nilai-nilai yang Benar (dalam tuntunan Allōh dan Rosūl-Nya ﷺ)”, justru dianggap salah oleh kebanyakan manusia….
Sementara…
Nilai-nilai yang salah, justru dianggap benar…..
Betapa….
Hukum Allōh عز وجل (–Syari’at yang telah sempurna hingga akhir zaman yang diturunkan Allōh Sang Pencipta untuk makhluq-Nya –), justru dikatakan “tidak benar, tidak cocok dan tidak relevan dengan perkembangan zaman“…..*
Sementara….
Hukum buatan Manusia, Undang-Undang ala orang-orang Kāfir dan Penjajah serta aturan-aturan yang berasal dari Hawa Nafsu; justru itulah yang dijadikan sebagai Pedoman Hidup yang harus menjadi acuan, sembari ancaman ditebar terhadap para pengkritisi dan pelaku amar ma’ruf nahi munkar.…
Sementara….
Orang-orang ‘ālim yang berusaha menasehati, melakukan amar ma’ruf nahi munkar; justru mereka tidak lagi digubris, dianggap, apalagi dihormati seruan dan nasehatnya….
Betapa….
Orang-orang yang jāhil / bodoh, kurang ilmu, atau bahkan tidak berilmu dijadikan sebagai rujukan….
Sementara…
Fatwa para ‘Ulama Ahlus Sunnah yang valid keilmuannya dari masa ke masa yang selaras dengan tuntunan Allōh dan Rosūl-Nya; justru tidak diambil sebagai rujukan….
Betapa….
Jika seseorang dipenjara, berarti dianggap sudah hebat, dan perkataannya patut menjadi rujukan…..
Sementara….
Jika seseorang belum dipenjara, maka dianggap belum apa-apa dan tidaklah patut dijadikan panutan….
Betapa…
Orang-orang yang baik justru dijatuhi hukuman, dan dipenjara baik fisik maupun lisannya…
Sementara…
Orang-orang yang jahat, justru diberi kuasa memenjarakan orang yang baik….
Betapa….
Orang-orang dzōlim, orang yang jahat, kāfir, fāsiq, dan orang-orang yang jāhil; mereka justru menjadi penyuara dan penetap Undang-Undang…
Sementara….
Orang-orang shōlih yang setia kepada Tauhīd; justru dituduh dan dikategorikan sebagai “Ancaman”….
Betapa….
Fatwa bukan lagi keluar dari Ahli Fatwa….
Betapa….
Pembahasan masa depan bangsa dan negara, bukan lagi dibuat oleh Ahlinya….
Betapa….
Kedamaian dan keselamatan ummat manusia; bukan lagi para ‘Ulama yang shōlih yang memberikan bimbingannya….
Akan tetapi….
Para pejoget, artis, dukun, kaum penikmat LGBT, dan para pelaku maksiat lah yang menetapkannya….
Betapa
Vonis “Fāsiq”, “Mubtadi’”, “Kāfir”; bukan lagi berasal dari Ahli Fatwa, Ahli Ilmu dan Mahkamah Syari’ah yang memutuskannya…
Akan tetapi….
Cukup sekumpulan jama’ah pengajian yang memutuskannya…
Seandainya saja…
Robī’ah bin ‘Abdurrohmān, guru Al-Imām Mālik رحمه الله تعالى hidup di zaman kita hidup saat ini…..
Maka….
Bisa jadi menurut beliau رحمه الله تعالى….
Penjara untuk mereka-mereka itu haruslah lebih luas disediakan, ketimbang memenjarakan para pencuri…
Karena….
Pencuri, yang dirugikan adalah material….
Sedangkan….
Ber-Fatwa Tanpa Ilmu, yang dirugikan adalah tak hanya para penyesat namun juga orang-orang yang disesatkan; karena dialamatkan menuju Neraka….
Na’ūdzu billāhi min dzālik.
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 032/16011448 – 01072026
KEPEMIMPINAN UMMAT
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ رَجُلٌ مِنْ قَحْطَانَ، يَسُوقُ النَّاسَ بِعَصَاهُ.» رواه البخاري
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Tidak akan terjadi Hari Kiamat, hingga muncul seorang laki-laki dari Qohthōn yang menggiring manusia dengan tongkatnya.”
(HR. Al-Bukhōry, Shohīh al-Bukhōry, Bab: “Seiring Perkembangan Waktu/Zaman, diantara ummat ada yang Kembali Menyembah Berhala“, (9/58), no: 7117)
Al-Muhallab berkata:
“Penjelasan daripada Hadits tersebut adalah bahwa….
Apabila muncul seorang laki-laki dari keturunan Qohthōn yang bukan termasuk garis keturunan kenabian (bukan dari Quraisy), dan bukan pula dari golongan terhormat yang telah Allōh tetapkan sebagai Khilāfah (kepemimpinan) pada mereka….
Maka…
Hal tersebut termasuk dalam bentuk Perubahan Zaman yang paling besar dan pergantian terhadap Hukum-Hukum Islam….
Yaitu…..
Ketika ada orang yang (berani) mengklaim tampuk kekholīfahan pada dirinya, serta ditaati dalam urusan agama; padahal ia bukanlah orang yang berhak atau ahli dalam urusan tersebut….
Hadits ini juga mengandung isyarat, sekaligus peringatan….
Bahwa….
Diantara tanda kerusakan besar menjelang Akhir Zaman adalah….
Ketika Kepemimpinan Ummat dan urusan agama diambil alih oleh orang-orang yang tidak memiliki hak, kapasitas, dan kualifikasi syar’i; namun ia tetap diikuti dan ditaati oleh manusia….
Keadaan ini menunjukkan terjadinya perubahan besar dalam Tatanan Ummat….
Dimana Ukuran Kepemimpinan tidak lagi didasarkan pada ilmu (dīn/agama), ketaqwaan, dan kelayakan; melainkan pada kekuatan, popularitas, pengaruh politik, atau dukungan massa….
Realitas seperti saat ini telah memperlihatkan gejala yang patut diwaspadai, yaitu munculnya tokoh-tokoh yang berbicara dan memimpin urusan agama tanpa bekal ilmu (dīn) yang memadai….
Sementara sebagian masyarakat lebih mengutamakan retorika, kharisma, atau kepentingan kelompok; daripada mengikuti para ulama yang robbani dan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah….
Oleh karena itu…..
Hadits ini mengingatkan ummat, agar senantiasa sadar dan menempatkan kepemimpinan pada ahlinya, terutama pada Ulama yang Shōlih.
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 033/18011448 – 03072026
BANYAK ORANG MENJADI MURTAD
عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ عَلَى ذِي الْخَلَصَةِ». وَذُو الْخَلَصَةِ: طَاغِيَةُ دَوْسٍ الَّتِي كَانُوا يَعْبُدُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ. » رواه البخاري
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosūlullōh ﷺ bersabda: “Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga bergoyang (bergerak) pantat-pantat wanita dari (kabilah) Dawus di sekitar Dzū al-Kholaṣoh.” Dan Dzū al-Kholaṣoh adalah berhala milik kabilah Dawus yang dahulu mereka sembah pada masa Jahiliyyah.
(HR. Al-Bukhöry, no: 7116)
Al-Ashfahāni رحمه الله تعالى (wafat 535 H) berkata: “…. Hingga suku Dawus kembali keluar dari Islam, lalu wanita-wanita mereka mengelilingi (bertawaf di sekitar) berhala Dzū al-Kholaṣoh, dan pinggul-pinggul mereka bergoyang (karena berdesak-desakan di saat tawaf). (Seperti) demikian itulah yang dahulu mereka lakukan pada masa Jahiliyyah.”
RENUNGAN:
Hadits ini merupakan salah satu Tanda Kenabian (Mukjizat) Rosūlullōh ﷺ …..
Yaitu bahwa beliau ﷺ mengabarkan akan terjadinya Fitnah Besar berupa kembalinya sebagian manusia kepada kesyirikan menjelang datangnya Hari Kiamat.
Na’ūdzu billāhi min dzālik.
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 034/19011448 – 04072026
EMPAT TANDA KIAMAT
عن عَائِشَةَ، قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول “لا يذهب الليل والنهار حتى تعبد اللات والعزى ” فقلت: يا رسول الله! إن كنت لأظن حين أنزل الله: {هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون} [9 /التوبة /33] و [61 /الصف /9] أن ذلك تاما قال “إنه سيكون من ذلك ما شاء الله. ثم يبعث الله ريحا طيبة. فتوفى كل من فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنَ إِيمَانٍ. فيبقى من لا خير فيه. فيرجعون إلى دين آبائهم”.» رواه مسلم
Dari ‘Ā’īsyah rodhiyallōhu ‘anhā, ia berkata: “Aku mendengar Rosūlullōh ﷺ bersabda: “Tidak akan lenyap malam dan siang (tidak akan terjadi Hari Kiamat) hingga Latta dan ‘Uzza kembali disembah.”
Mendengar hal itu, aku (‘Ā’īsyah) bertanya: “Wahai Rosūlullõh! Sungguh, ketika Allōh menurunkan ayat: ‘Dialah yang mengutus Rosūl-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya diatas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya‘ (QS. At-Taubah: 33 dan QS. Ash-Shoff: 9), aku mengira bahwa hal itu (kejayaan Islam) sudah sempurna (dan akan terus berlangsung selamanya).”
Rosūlullōh ﷺ menjawab: “Sesungguhnya hal itu (kejayaan Islam) akan terus terjadi sesuai dengan apa yang Allōh kehendaki. Kemudian, Allōh akan mengirimkan angin yang lembut (wangi), lalu angin tersebut akan mewafatkan setiap orang yang di dalam hatinya masih ada iman seberat biji sawit. Maka yang tersisa hanyalah orang-orang yang tidak memiliki kebaikan sama sekali, lalu mereka pun kembali kepada agama nenek moyang mereka (menyembah berhala).”
(HR. Muslim, no: 2907)
RENUNGAN:
Menjelang Hari Kiamat akan terjadi….
Maka…
Terjadilah kemunduran besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam aspek ‘Aqidah, Kepemimpinan, dan Moral….
Dahulu Rosūlullōh ﷺ diutus untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan Syirik menuju Cahaya Tauhīd, serta membawa ummat Islam mencapai masa kejayaan dengan tegaknya Agama Allōh, Al-Islam….
Sebagaimana firman-Nya: “Dialah yang mengutus Rosūl-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya diatas seluruh agama.” (QS. At-Taubah: 33).
Pada masa beliau ﷺ dan para Khulafā’ur Rōsyidīn, Tauhīd ditegakkan, Syirik dihancurkan, dan Hukum Allōh lah yang menjadi pedoman bagi kehidupan manusia….
Akan tetapi….
Menjelang Kiamat nanti akan terjadi proses kemunduran secara bertahap…
Yaitu antara lain….
Pertama, sebagian manusia akan kembali kepada kemusyrikan, sebagaimana diberitakan dalam Hadits tentang kembalinya sebagian suku Dawus menyembah Dzul Kholāshoh….
Yang menunjukkan bahwa….
Penyembahan pada selain Allōh, akan muncul kembali setelah sebelumnya diberantas oleh dakwah Nabi ﷺ….
Kedua, ketika ajal dunia semakin dekat, Allŏh akan mengutus angin yang lembut untuk mencabut nyawa setiap orang yang masih memiliki iman walaupun hanya sebesar biji sawit…
Sehingga tidak tersisa di bumi, kecuali orang-orang kafir dan para pelaku kejahatan….
Ketiga, karena orang-orang beriman telah diwafatkan; maka orang-orang jahat menjadi kelompok yang mendominasi bumi….
Dan mereka itu tidak lagi mengenal Tauhid, tidak memerintahkan yang ma’ruf, tidak mencegah kemungkaran; bahkan syirik, kemaksiatan, dan kerusakan adalah menjadi hal yang biasa terjadi…
Keempat, keadaan manusia pun kembali menyerupai masa Jahiliyah; bukan hanya karena penyembahan berhala kembali dilakukan, tetapi juga karena rusaknya akhlaq, hilangnya ilmu (dīn/agama), maraknya pembunuhan, tersebarnya kebodohan, hawa nafsu yang dijadikan pedoman, (disisi lain) Hukum Allōh justru tidak dijadikan pedoman tetapi menjadi sesuatu yang ditinggalkan….
Maka….
Dalam kondisi seperti inilah Kiamat akhirnya terjadi….
Sehingga benarlah sabda Nabi ﷺ bahwa Hari Kiamat tidak akan terjadi, kecuali terhadap manusia-manusia yang paling buruk dan paling jahat di muka bumi….
Hadits-hadits seperti ini sekaligus menjadi peringatan agar ummat Islam senantiasa menjaga kemurnian Tauhïd, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta memohon kepada Allōh agar diwafatkan di atas keimanan….
Sebelum datangnya Fitnah-Fitnah Besar di Akhir Zaman….
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 035/21011448 – 06072026
BELAJAR ILMU (DĪN), TIDAK LAIN HANYA UNTUK DUNIA
عن جرير بن زيد قال: سمعت تبيعا يقول: إني لأجد نعت أقوام يتفقهون لغير الله ويتعلمون لغير العبادة ويلتمسون الدنيا بعمل الآخرة يلبسون جلود الضأن على قلوب الذئاب فبي يغترون وإياي يخادعون فبي حلفت لأتيحن لهم فتنة تترك الحليم فيها حيران» رواه البيهقي
Dari Jarīr bin Zaid, ia berkata: “Aku mendengar Tabi’ berkata: “Sesungguhnya aku mendapati sifat suatu kaum yang mendalami agama (tafaqquh) tetapi bukan karena Allōh; belajar tetapi bukan untuk beribadah, melainkan untuk mencari dunia dengan amalan akhirat. Mereka memakai kulit domba diatas hati serigala. Apakah kepada-Ku mereka tertipu, atau kepada-Ku mereka hendak menipu? Demi Diri-Ku, Aku (Allōh) bersumpah, benar-benar akan Aku timpakan kepada mereka suatu fitnah (ujian/kekacauan) yang membuat orang yang santun/bijak diantara mereka menjadi kebingungan.“
(HR. Al-Baihaqi dalam “Syu’ab al-Iman“)
RENUNGAN HADITS:
ATSAR ini mengandung peringatan yang sangat serius tentang rusaknya niat dalam menuntut ilmu agama….
Ilmu Syari’at adalah ibadah yang paling mulia….
Sehingga apabila dipelajari bukan karena Allōh, maka kemuliaannya berubah menjadi sebab kebinasaan….
Serta musnahnya keberkahan….
Adapun yang dimaksud dengan “belajar bukan untuk beribadah” adalah….
Menjadikan ilmu agama hanya sekedar sebagai alat untuk memperoleh kedudukan, popularitas, harta, pengaruh, jabatan, atau kepentingan duniawi….
Dan bukanlah digunakan untuk semakin mengenal Allōh, mengamalkan syari’at-Nya, dan mengajak manusia kepada kebenaran, serta menepis kebodohan dan kejahiliyahan….
Beberapa pelajaran penting dari ATSAR tersebut adalah sebagai berikut:
1] Hakikat Ilmu Syar’i adalah Ibadah kepada Allōh.
Menuntut ilmu (dīn) dalam Islam, bukan sekadar kegiatan akademik….
Tetapi merupakan ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allōh عز وجل….
Oleh karena itu…..
NIAT menjadi FONDASI UTAMA….
Apabila niat rusak…
Maka….
Ilmu yang semestinya menjadi Cahaya, justru berubah menjadi Hujjah yang memberatkan pemiliknya pada Hari Kiamat kelak….
2] Belajar Ilmu Syar’i demi dunia, merupakan penyimpangan yang berbahaya.
Orang yang mempelajari ilmu syar’i demi memperoleh kedudukan, pujian, pengaruh, atau keuntungan materi….
Maka….
Pada hakekatnya ia telah menukar sesuatu yang sangat mulia, dengan sesuatu yang rendah.
3] Mereka menampilkan keshōlihan, tetapi menyembunyikan kebusukan.
Ucapan: “Mereka memakai kulit domba diatas hati serigala” adalah merupakan….
Perumpamaan yang sangat mengerikan.
Artinya:
• lahiriahnya lembut,
• tutur katanya penuh nasihat,
• pakaiannya menunjukkan keshōlIhan,
• lisannya dipenuhi dalil,
NAMUN hatinya dipenuhi:
• ambisi kekuasaan,
• kesombongan,
• riya’,
• hasad,
• cinta dunia,
• dan keinginan menguasai manusia.
Inilah Bentuk Kemunafikan Amal…
Yakni penampilan yang shōlih, namun tidak sejalan dengan keadaan hati.
4] Ilmu yang tidak melahirkan ibadah, akan mengeraskan hati
Sejatinya Tujuan Ilmu Syar’i itu adalah….
Menumbuhkan:
• rasa takut kepada Allōh,
• ketundukan,
• keikhlasan,
• tawadhu’,
• amal shōlih.
NAMUN….
Apabila semakin tinggi ilmu, tetapi semakin tinggi kesombongan, semakin keras hati, semakin rakus terhadap dunia….
Berarti ada Kerusakan pada Niat atau Kerusakan dalam Pengamalan Ilmu pada dirinya.
5] Ilmu Syar’i yang dijadikan Alat Mencari Dunia, justru menghilangkan keberkahan Ilmu.
Karena….
Ilmu Syar’i yang berkah akan menghasilkan:
• ketenangan,
• hikmah,
• akhlaq mulia,
• manfa’at bagi umat.
NAMUN sebaliknya….
Ilmu dīn/agama/syar’i yang dijadikan Alat Mencari Dunia justru melahirkan:
• perselisihan,
• iri dengki,
• saling menjatuhkan,
• perebutan jabatan,
• fanatisme kelompok,
• serta hilangnya ukhuwwah.
Oleh karena itu….
Tidaklah aneh jika sering kita menjumpai orang yang sangat luas ilmunya, akan tetapi sedikit manfa’atnya bagi ummat….
Alih-alih justru dapat menjadi fitnah tak hanya bagi dirinya, namun juga bagi orang-orang yang mengikutinya….
Apabila Hawa Nafsunya diletakkannya diatas Ilmunya….
6] Ancaman fitnah dari Allōh.
Bagian paling menggetarkan adalah firman Allōh dalam atsar tersebut:
“Benar-benar akan Aku timpakan kepada mereka, suatu fitnah yang membuat orang yang santun diantara mereka menjadi bingung….”
Fitnah di sini dapat berupa:
• hilangnya petunjuk,
• kebingungan membedakan yang Haq dan Bāthil,
• perselisihan yang berkepanjangan,
• rusaknya hati,
• munculnya syubhat,
• cinta dunia yang semakin kuat,
• hingga wafat dalam keadaan tidak istiqōmah.
Dan lebih parah lagi adalah bahwa…..
Fitnah ini bukan hanya menimpa pelakunya, akan tetapi juga dapat merusak masyarakat; akibat mereka telah dijadikan panutan oleh masyarakat.
7] Relevansi dengan kondisi sekarang.
Peringatan ini sangat relevan pada masa kini….
Karena…
Di satu sisi adalah….
Kemudahan berdakwah melalui Media Sosial, menyebabkan banyak tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan agama, dan terbukanya peluang ekonomi dari aktivitas keagamaan tersebut….
Meskipun hal itu merupakan nikmat yang harus disyukuri…
Namun disisi lain….
Semua itu juga membawa UJIAN BESAR…
Karena….
Ilmu Syar’i dapat berubah menjadi:
* sekedar digunakan sebagai “sarana Membangun Citra Diri agar tampak shōlih“,
* sekedar digunakan untuk mengejar popularitas,
* sekedar untuk memperoleh keuntungan finansial,
* sekedar untuk memperluas pengaruh, atau memenangkan persaingan antar kelompok.
Maka….
AKIBATNYA adalah….
“ORIENTASI IBADAH” BERGESER menjadi “ORIENTASI MENCARI DUNIA”…..
Manakala hal ini terjadi….
Maka sedikit demi sedikit Ilmu Syar’i/ dīn/ agama tersebut akan kehilangan keberkahannya…
Dakwah akan kehilangan keikhlasannya….
Dan ummat Islam pun tidak mustahil akan lebih banyak disibukkan oleh konflik, daripada oleh pembinaan iman dan amal shōlih.
8] Cara menjaga keikhlasan dalam menuntut ilmu.
Para ‘Ulama telah menekankan beberapa cara, agar Niat tetap terjaga dengan utuh, diantaranya adalah:
• selalu Memperbarui Niat, bahwa belajar ilmu dīn/syar’i itu adalah saat untuk mencari ridho Allōh.
• Mengamalkan setiap ilmu syar’i yang telah dipelajari, sebelum menambah ilmu baru; sedapat mungkin.
• Memperbanyak ibadah yang tersembunyi, agar hati tidak terbiasa bergantung pada pujian manusia.
• Senantiasa ber-muhasabah terhadap tujuan belajar ilmu syar’i, serta tujuan dalam berdakwah maupun beramal shōlih.
• Berdo’a agar diberi ilmu yang bermanfa’at dan Hati yang Ikhlas oleh Allōh Subhānahu wa Ta’ālā.
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 036/22011448 – 07072026
ISLAM AKAN BERTAHAP MELENYAP
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” يَدْرُسُ الْإِسْلَامُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ، حَتَّى لَا يُدْرَى مَا صِيَامٌ، وَلَا صَلَاةٌ، وَلَا نُسُكٌ، وَلَا صَدَقَةٌ، وَلَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللَّهِ عز وجل فِي لَيْلَةٍ، فَلَا يَبْقَى فِي الْأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ، وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْعَجُوزُ، يَقُولُونَ: أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَنَحْنُ نَقُولُهَا “» رواه ابن ماجة والحاكم
Dari Hudzaifah bin al-Yamān رضي الله عنه, ia berkata: “Rosūlullōh ﷺ bersabda: “Islam akan pudar (lenyap), sebagaimana pudarnya corak/hiasan pada pakaian; hingga tidak diketahui lagi apa itu shoum (puasa), sholat, nusuk (ibadah/Haji), dan shodaqoh. Al-Qur’an, Kitabullōh ‘Azza wa Jalla akan diangkat (dihilangkan) dalam satu malam, sehingga tidak tersisa satu ayat pun di bumi. Yang tersisa hanyalah sekelompok manusia yang terdiri dari orang-orang tua yang renta dan wanita-wanita tua, dan mereka berkata: ‘Kami mendapati bapak-bapak kami dahulu berada di atas kalimat ini: Lā ilāha illallōh (Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi/disembah, selain hanyalah Allōh), maka kami pun mengucapkannya.'”
(HR. Ibnu Mājah, no: 4049 dan HR. Al-Hakim, no: 8636)
RENUNGAN:
1] Islam akan menjadi terasing, bahkan rusak pada saat menjelang Kiamat
2] Semakin banyak orang yang ber-Islam berasal dari sekedar ikut-ikutan.
3] Pada suatu masa nanti, generasi tuanya saja ber-Islam tanpa ilmu selain hanya bertaqlid pada generasi pendahulunya; maka apalagi generasi mudanya.
4] Dengan kekuasaan Allōh, bahwa Al-Qur’an suatu saat nanti akan Allōh cabut; sehingga tidak ada lagi orang yang menyimpan Al-Qur’an di dalam dadanya.
5] Dalam Hadits ini terdapat isyarat bahwa hendaknya Muslim menyadari pentingnya mempelajari dan mengamalkan Islam sedapat mungkin, sebelum Allōh angkat sehingga tidak menyesal kelak disaat Al-Qur’an sudah tidak ada lagi di muka bumi.
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 037/23011448 – 08072026
SERIGALA BERBULU DOMBA
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” لَا تَذْهَبُ الْأَيَّامُ وَاللَّيَالِي حَتَّى يَخْلَقَ الْقُرْآنُ فِي صُدُورِ أَقْوَامٍ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ كَمَا تَخْلَقُ الثِّيَابُ وَيَكُونُ مَا سِوَاهُ أَعْجَبُ إِلَيْهِمْ وَيَكُونُ أَمْرُهُمْ طَمَعًا كُلُّهُ لَا يُخَالِطُهُ خَوْفٌ، إِنْ قَصَّرَ عَنْ حَقِّ اللهِ مَنَّتُهُ نَفْسُهُ الْأَمَانِيَّ، وَإِنْ تَجَاوَزَ إِلَى مَا نَهَى اللهُ قَالَ: أَرْجُو أَنْ يَتَجَاوَزَ اللهُ عَنِّي، يَلْبَسُونَ جُلُودَ الضَّأْنِ عَلَى قُلُوبِ الذِّئَابِ أَفَاضِلُهُمْ فِي أَنْفُسِهِمُ الْمُدَاهِنُ، قِيلَ: وَمَنِ الْمُدَاهِنُ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا يَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ» رواه أبو نعيم
Dari Ma’qil bin Yasār رضي الله عنه, ia berkata: “Aku mendengar Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Tidak akan lenyap hari dan malam hingga Al-Qur’an menjadi usang di dalam dada sebagian kaum dari ummat ini, sebagaimana usangnya pakaian. Dan perkara selain Al-Qur’an (urusan duniawi) menjadi lebih menarik bagi mereka. Urusan mereka seluruhnya didasari oleh ketamakan yang tidak dicampuri rasa takut (kepada Allōh). Jika ia melalaikan Hak Allōh, maka Hawa Nafsunya akan menghibur dirinya dengan angan-angan kosong. Dan jika ia melanggar apa yang dilarang Allōh, maka ia berkata: ‘Aku berharap Allōh akan mengampuniku.’ Mereka memakai kulit domba di atas hati serigala. Orang yang paling utama diantara mereka dalam pandangan diri mereka sendiri adalah orang yang bermuka dua (al-mudāhin).“
Ditanyakan kepada beliau: “Siapakah orang yang bermuka dua (al-mudāhin) itu?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang tidak menyuruh kepada kebaikan dan tidak mencegah dari kemungkaran.“
(HR. Abu Nu’aim, dalam “Hilyat al-Auliya’“)
RENUNGAN HADITS:
1] Nabi ﷺ memberitakan melalui Hadits ini bahwa Al-Qur’an akan rusak pada dada-dada ummat ini, sebagaimana rusaknya pakaian; sebelum kemudian akan hilangnya mushaf Al-Qur’an pada Akhir Zaman…..
Saat ini, telah dapat kita amati gejala memudarnya penghayatan, hafalan, pemahaman, dan pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan ummat Islam.
Al-Qur’an memang tetap dibaca; akan tetapi tidak lagi menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan….
Perumpamaan “sebagaimana usangnya pakaian“, menggambarkan berkurangnya pengaruh Al-Qur’an terhadap karakter dan perilaku ummat secara bertahap.
2] Di sisi lain, cinta dunia semakin mendominasi dan membutakan hatinya; sehingga rasa takut terhadap Allōh tidak lagi membatasi mereka dari Halal dan Harom….
Dalam artian, adanya pergeseran orientasi hidup, dari “untuk akhirat” menuju “untuk dunia“.
Ketika ketamakan menjadi motivasi utama, maka fungsi khosy-yah (rasa takut kepada Allōh) melemah; sehingga standar benar dan salah tidak lagi didasarkan pada Syari’at, melainkan pada keuntungan pribadi.
Kondisi ini merupakan salah satu penyebab lahirnya berbagai penyimpangan moral dan sosial.
3] Pada masa seperti itulah yang ada adalah angan-angan panjang tentang kenikmatan dunia….
Yaitu bahwa sikap “merasa memiliki waktu yang panjang” sehingga menunda-nunda taubat, amal shōlih, dan perbaikan diri.
Seseorang selalu berharap mendapatkan ampunan Allōh, akan tetapi hal itu tidak disertai kesungguhan untuk meninggalkan maksiat.
Optimisme terhadap rahmat Allōh, berubah menjadi angan-angan kosong yang menipu dirinya sendiri.
4] Kemunafikan dan sikap menjilat yang menjadi ciri pada zaman seperti itulah yang bahkan diperibahasakan sebagai “Serigala berbulu domba“….
Perumpamaan ini merupakan metafora yang menggambarkan adanya ketidaksesuaian antara penampilan lahiriah dan kondisi batin.
Seseorang menampilkan keshōlihan, kelembutan, atau loyalitas; tetapi menyembunyikan ambisi, kepentingan duniawi, dan keburukan hati.
Dalam konteks sosial, fenomena ini melahirkan budaya pencitraan, oportunisme, dan hilangnya integritas.
5] Orang yang meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, oleh Nabi ﷺ dikategorikan sebagai penjilat.
Orang yang tidak menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, demi menjaga kepentingan pribadinya, kedudukan, atau hubungannya dengan manusia…..
Maka yang dimaksud adalah bahwa….
Sikap ini BUKAN hanya SEKEDAR DIAM….
Akan tetapi merupakan bentuk KOMPROMI terhadap KEMUNGKARAN yang didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan atau menghindari kerugian duniawi.
Oleh karena itu…..
Di masa seperti ini….
Amar Ma’ruf Nahi Mungkar merupakan indikator keberanian moral dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam……
Dan bukan sekedar aktivitas dakwah semata.
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 038/28011448 – 13072026
LUKA’ YANG BERKUASA
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ اليَمَانِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَعٍ» رواه الترمذي وابن حبان صححه الألباني في صحيح الجامع
Dari Hudzaifah bin Al-Yamān رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Hari Kiamat tidak akan terjadi, hingga orang yang paling bahagia (paling sukses/berkuasa) di dunia adalah Luka’ bin Luka’ (orang yang bodoh lagi berkedudukan rendah).”
(HR. Tirmidzi no: 2209, HR. Ibnu Hibban no: 6721; dan dishohīhkan oleh Al-Albāny dalam “Ṣoḥīḥ al-Jāmiʿ al-Ṣoghīr wa-Ziyādatuhu”, (2/1238), no: 7431)
Al-Harowi al-Baghdadi [wafat 224 H] menjelaskan: “Arti Luka’ adalah budak dan orang yang berkedudukan rendah (secara moral/sosial).”
(Al-Harowi al-Baghdadi [wafat 224 H], “Ghorib al-Hadīts”, 3/154)
Sedangkan Ibnu al-Atsīr [wafat 606 H] menjelaskan: “Dikalangan bangsa Arab, kata Luka’ awalnya berarti budak. Namun, dalam perkembangannya, istilah ini digunakan untuk mencela orang yang bodoh atau dungu. Untuk laki-laki maka disebut Luka’, dan untuk perempuan adalah disebut Laka’. Bentuk kata kerjanya adalah laki’a – yalka’u – lak’an, yang berarti orang tersebut berjiwa kerdil/hina. Kata ini paling sering digunakan dalam kalimat seruan untuk merujuk pada orang yang hina/sangat buruk akhlaqnya ataupun keji. Ada juga yang mengartikannya sebagai ‘orang yang kotor’. Terkadang istilah ini dipakai untuk anak kecil, namun jika disematkan kepada orang dewasa, maksudnya adalah orang yang pemikiran dan akalnya kekanak-kanakan (sangat dangkal).”
(Ibnu al-Athīr [wafat 606 H], “An-Nihāyah fī Ghorīb al-Ḥadīts wa-al-Atsar”, 4/268)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَنْقَضِي الدُّنْيَا حَتَّى تكون عند لكع بن لكع”» رواه ابن حبان
Dari Anas bin Mālik رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Dunia tidak akan lenyap (Kiamat), hingga urusan dunia ini dikuasai atau berada di tangan Luka’ bin Luka’.“
(HR. Ibnu Hibban, “Al-Iḥsān fī Taqrīb Ṣoḥīḥ Ibnu Ḥibbān”, (15/116), no: 6721. Al-Arna’ūṭ berkata: “Rangkaian riwayatnya shohīh”)
عن أَبي ذَرٍّ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْلِبَ عَلَى الدُّنْيَا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ، وَأَفْضَلُ النَّاسِ مُؤْمِنٌ بَيْنَ كَرِيمَيْنِ» رواه الطبراني في الأوسط قال الهيثمي: رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ بِإِسْنَادَيْنِ، وَرِجَالُ أَحَدِهِمَا ثِقَاتٌ صححه الألباني في الصحيحة
Dari Abu Dzar رضي الله عنه, ia mendengar Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Hari Kiamat tidak akan terjadi, hingga dunia ini dikuasai oleh Luka’ bin Luka’. Pada masa itu, manusia yang terbaik adalah seorang mu’min yang berada diantara dua orang mulia (karimain).”
(HR. At-Thobrony, “Al-Mu’jam al-Awsaṭ”, 3/257, no: 3076)
Al-Haitsami menyatakan: “Diriwayatkan oleh At-Thobrony dalam “Al-Awsath” dengan dua jalur sanad, dan para perowi dari salah satu jalur tersebut adalah orang-orang yang tepercaya (tsiqot).“
(“Majma’ az-Zawā’id wa Manba’ al-Fawā’id”, 7/325, no: 12442. Dan dishohīhkan oleh Al-Albāny dalam “Silsilat al-Aḥādīth ash-Ṣoḥīḥah wa-Shayʾ min Fiqhihā wa-Fawāʾidihā”, 4/9, no: 1505)
Seseorang bertanya kepada Imam Az-Zuhri: “Apa yang dimaksud dengan dua orang mulia (karimain) tersebut?”
Maka *Imam Az-Zuhri* رحمه الله تعالى menjawab: “Dua orang yang terpandang lagi kaya raya.”
Mendengar itu, seorang pria dari Irak menyanggah: “Tidak tepat, namun yang dimaksud (karimain) adalah dua orang yang bertaqwa lagi shōlih.“
(Al-Jāmiʿ, Maʿmar ibn Roshid, 11/316)
عن زَيْدِ بْنِ حَسَنٍ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” لَنْ تَذْهَبَ الدُّنْيَا حَتَّى تَكُونَ عِنْدَ لُكَعِ ابْنِ لُكَعٍ “» رواه أحمد
Dari Zaid bin Hasan, ia berkata: Aku mendengar Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Dunia tidak akan berakhir, hingga urusannya berada di tangan Luka’ bin Luka’.”
(HR. Ahmad, Musnad Aḥmad, 25/159-160, no: 15837. Syaikh Syu’aib Al-Arna’ūth menyatakan: “Sanadnya hasan, para perowinya terpercaya dan merupakan perowi Kitab-Kitab Shohīh, hanya saja ada sedikit kritik ringan terhadap perwi bernama Al-Walīd bin ‘Abdullōh bin Jumi’, yang membuat derajat Haditsnya sedikit turun dibawah standar shohīh)
RENUNGAN:
Dalam Hadits-Hadits diatas dan sejenisnya…..
Rosũlullõh ﷺ telah memberikan peringatan keras tentang akan adanya FENOMENA INVERSI NILAI / PEMBALIKAN NILAI-NILAI menjelang Hari Kiamat….
Dimana panggung kepemimpinan dan kesuksesan dunia justru didominasi oleh Luka’ bin Luka’….
Yaitu individu-individu yang tidak memiliki kapasitas intelektual (bodoh), tidak kompeten, serta cacat secara moral dan integritas….
Sehingga….
Jika fenomena kehancuran tatanan sosial ini terjadi pada bangsa yang besar dan majemuk (seperti Indonesia)…
Maka….
Dampaknya akan sangat destruktif….
Karena….
Kekayaan Sumber Daya Alam akan salah dikelola….
Kebijakan publik akan lahir dari kedangkalan berpikir….
Dan Keadilan akan runtuh…
Yang pada akhirnya, itu semua dapat menyeret negara dan bangsa tersebut ke jurang disintegrasi dan kesengsaraan massal.
نعوذ بالله من ذلك
*******o0o*******
Silsilah: RANGKAIAN HADITS TENTANG AKHIR ZAMAN
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i.
Edisi: 039/30011448 – 15072026
RUWAIBIDHOH
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ»، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ» رواه ابن ماجة صححه الألباني
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullõh ﷺ bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipu daya. Pada masa itu, pendusta dibenarkan (dianggap jujur), sedangkan orang yang jujur didustakan. Orang yang khianat diberikan amanah, sedangkan orang yang amanah dikhianati. Dan pada masa itu, Ruwaibidhoh akan berbicara.”
(Kemudian) ada yang bertanya: “Apakah itu Ruwaibidhoh?“
Beliau ﷺ menjawab: “(Ruwaibidhoh) yaitu orang yang bodoh/remeh (– tidak berilmu/ tidak paham Syari’at — pent.), namun berbicara dalam urusan masyarakat luas (publik).“
(HR. Ibnu Mājah, no: 4036, dishohīhkan oleh Al-Albāny)
RENUNGAN:
1) Fitnah paling besar yang harus diwaspadai akan terjadi pada Akhir Zaman adalah KRISIS NILAI.
Bisa dibayangkan…
Betapa nilai dan norma-norma menjadi terbalik…
Perkara yang benar secara syari’at, justru dianggap keliru….
Dan sebaliknya, perkara yang salah/bathil (dalam pandangan syari’at) justru disikapi seakan-akan sebagai suatu kebenaran….
Orang yang berada diatas Kebenaran (diatas Syari’at), justru menjadi terasing ditengah-tengah lingkungan dimana dia hidup….
Hal itu terjadi karena sedemikian banyak orang-orang disekitarnya yang sudah berada dalam kebathilan dan kesalahan…
Namun….
Mereka (yang diatas kebathilan dan kesalahan) itulah yang justru dibenarkan….
2) Bahaya Normalisasi Kebathilan !!
Yaitu ketika kebohongan dan kepalsuan lah yang justru dijadikan sebagai nilai kebenaran oleh suatu masyarakat…
Sehingga…
Ukuran moral menjadi terbalik…
Dan Keadilan pun menjadi rusak….
Ummat Islam harus waspada….
Benar-benar waspada…
Agar Nilai-Nilai Kebenaran yang dituntunkan Allōh سبحانه وتعالى dan Rosūl-Nya ﷺ, tidaklah tenggelam oleh desakan popularitas….
Ataupun tesingkir oleh tekanan kekuasaan….
Karena akibat dari Menormalisasi suatu Kebathilan…
Maka…
Lama kelamaan hal itu akan menggerogoti Dasar Kepercayaan Agama (‘Aqidah), serta meruntuhkan Nilai-Nilai Sosial/ Moral suatu masyarakat.
3) Keutamaan Mempertahankan Kejujuran, serta Berdiri Teguh dalam Membela Syari’at; meskipun ditentang banyak orang.
Di zaman sekarang…
Bisa jadi apa yang diperingatkan dalam Hadits, telah terjadi….
Dimana orang-orang yang jujur justru dicurigai, dituduh berdusta, bahkan diancam/ dikriminalisasi….
Manakala seseorang berusaha menegakkan Kejujuran….
Jujur menyampaikan mana Benar mana Salah, mana Haq mana Bathil, disaat melakukan Nahi Munkar….
Betapa…
Disaat-saat demikian, merupakan momen dimana dibutuhkan Kejujuran dalam Ucapan, Perkataan, Perbuatan demi Membela yang Haq; menjadi Ujian Iman dan Keberanian Moral bagi dirinya….
Karena…
Para pengusung kebathilan yang terusik; akan menempuh segala cara untuk membungkam Suara Kebenaran…
Meskipun demikian….
Islam mengajarkan…
Hendaknya Orang-Orang Beriman dipanggil untuk Tetap Berkata Jujur dan Benar, serta Tetap Bersikap Sabar dalam menghadapi Aneka Fitnah yang muncul menghantam dirinya….
Kemudian…
TETAPLAH MEMILIH INTEGRITAS, daripada mengikuti arus yang membenarkan kebohongan dan kepalsuan hanya demi keuntungan sesaat….
4) Resiko Menyerahkan Amanah kepada yang Tidak Layak / Tidak Kompeten.
Hadits ini mendorong selektivitas dalam memilih pemimpin dan pengelola urusan publik….
Serta Hadits ini juga menekankan pentingnya pendidikan moral dan adanya mekanisme pertanggungjawaban untuk menjaga amanah tetap di tangan orang-orang yang memiliki integritas….
Sikap memberi tanggung jawab kepada pengkhianat atau orang-orang yang tidak kompeten…
Bisa dipastikan memantik pemicu bagi Kerusakan berbagai Institusi…
Bahkan kehancuran terhadap Kepercayaan Publik…
5) Orang-orang yang jahil/bodoh, tak berilmu, dan atau tidak berpengalaman yang justru diberi amanah besar; maka istilah “Ruwaibidhoh” merujuk pada orang yang demikian.
Manakala….
Orang-orang yang dangkal ilmunya itu diberi kekuasaan….
Sehingga ia pun kemudian berbicara berkenaan urusan orang banyak/ kepentingan umum, atau dalam perkara-perkara besar…
Maka….
Bisa saja keputusan-keputusan penting yang dikeluarkannya, adalah didasari atas kebodohan, hawa nafsu serta emosinya…..
Bukan diatas tuntunan Ilmu (Syari’at)….
Bukan diatas sikap Hikmah dan Kebijaksanaan, yang seharusnya dimiliki oleh Pejabat Publik….
Manakala hal demikian terjadi….
Maka….
Masyarakat perlu menegakkan penghormatan terhadap ilmu, memiliki sikap kritis diatas landasan syariat, serta menegakkan kompetensi dan tata krama berpikir; sebelum menerima pendapat-pendapat yang dilemparkan oleh sang “Ruwaibidhoh”.
6) Pentingnya menegakkan ilmu dan adab berbicara
Dalam Hadits ini ditegaskan…._
Tentang betapa pentingnya ilmu dan adab dalam berbicara; terlebih dalam urusan yang menyangkut masyarakat banyak….
Ummat Islam juga dituntut dapat mengutamakan belajar ilmu syar’i, merujuk kepada Ulama yang kompeten, memiliki wawasan luas, dan menghindari komentar yang dilontarkan secara terburu-buru (tanpa mempelajari permasalahan dengan detail dan mendalam); agar publik terlindungi dari kebingungan, kegaduhan dan kepalsuan.
7) Peran komunitas dalam mempertahankan kebenaran.
Kondisi fitnah seperti digambarkan dalam Hadits ini bukan hanya terkait dengan tanggung jawab individu, melainkan juga komunitas….
Masyarakat harus saling mengoreksi dengan hikmah, membangun sistem yang menghargai kejujuran, dan menolak budaya penghormatan “ewuh pakewuh” (sungkan/segan mengkritik) ataupun sikap “ABS” (“Asal Bapak Senang”) semata kepada status atau retorika kosong dari si Pembicara; agar ruang publik tetap sehat dan kondusif.
8) Perhatian pada Tanda-Tanda Akhir Zaman sebagai motivasi perbaikan.
Menyadari tanda-tanda sosial yang disebutkan dalam Hadits…
Seharusnya memacu Muslim untuk introspeksi dan melakukan berbagai sikap perbaikan; baik pribadi maupun kolektif…
Melalui memperkuat aqidah, ibadah, akhlaq, dan pengajaran agama; sehingga ummat tidak hanyut begitu saja ketika zaman dipenuhi banyak ujian moral.
9) Kewaspadaan terhadap retorika tanpa dasar
Hadits ini mengingatkan kita…
Bahwa kata-kata yang lantang yang diucapkan seseorang bukanlah merupakan jaminan kebenaran…
Sebaliknya..
Ummat harus kritis terhadap retorika yang memikat namun kosong isi dan realita…
Ummat Islam justru harus MEMERIKSA ANTARA DALIL DAN FAKTA, serta mengutamakan ARGUMEN yang BERLANDASKAN ILMU SYAR’I, agar tidak terombang-ambing oleh suara-suara yang sekadar keras namun tidak bermutu.
*******o0o*******

