Skip to content

Hikmah

ustadzachmadrofii.com

ustadzrofii.wordpress.com

MUTIARA HIKMAH

 

(1) Keutamaan 10 Hari Awal Dzul Hijjah

Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

Tidaklah ada hari-hari beramal yang di dalamnya paling dicintai oleh Allooh kecuali hari-hari ini (sepuluh hari bulan Dzul Hijjah)”.
Para shohabat bertanya: “Ya Rosuulullooh, bagaimana dengan jihad fisabilillah?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab: Bahkan dari jihad sekalipun. Kecuali seseorang keluar (berjihad) dengan jiwa, harta dan jiwanya dan tidak kembali sedikit pun dari itu”.

(HR. Bukhoory no: 969, HR. Abu Daawud no: 2440, HR. Imaam At Turmudzy no: 757 dan HR. Ibnu Maajah no: 1727)

(2) Du’a Hari ‘Arofah

خير الدعاء دعاء يوم عرفة وخير ما قلت أنا والنبيون من قبلي : لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

Artinya:

Sebaik-baik du’a adalah du’a pada hari ‘Arofah, dan sebaik-baik apa yang aku (Muhammad صلى الله عليه وسلم) dan para Nabi sebelumku katakan adalah “Laa Ilaaha Illalloohu Wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa ‘Alaa Kulli Syai’in Qodiir” (artinya: Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya, kecuali hanya Allooh dan tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala Kerajaan dan Pujian dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu)

(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3585 dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya رضي الله عنهم)

(3) Syari’at Islaam

قال ابن قيم الجوزية في إعلام الموقعين عن رب العالمين : إن الشريعة مبناها وأساسها على الحكم ومصالح العباد في المعاش والمعاد وهي عدل كلها ورحمة كلها ومصالح كلها وحكمة كلها

Artinya:

Berkata ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yakni Ibnul Qoyyim رحمه الله :
Sesungguhnya Syari’at Islaam itu dasar dan bangunannya adalah diatas hikmah dan untuk kebaikan manusia, baik dalam kehidupan didunia maupun di akherat. Syari’at itu seluruhnya berupa keadilan dan kasih sayang, kebaikan dan hikmah.

(4) An Najaat (Selamat)

عن عقبة بن عامر قال : قلت يا رسول الله ما النجاة ؟ قال أمسك عليك لسانك وليسعك بيتك وآبك على خطيئتك

Artinya:

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir رضي الله عنه berkata, “Aku bertanya kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, apakah An Najaat itu (selamat)?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Hendaknya kamu kendalikan mulutmu, cukupkan rumahmu dan tangisilah kesalahanmu.

(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzi no: 2406 dan kata beliau رحمه الله hadits ini adalah Hasan)

(5) Haq Allooh dalam ketaatan

حقُّ اللهِ تَعَالَى فِي الطَّاعةِ ستَّةُ أُمورٍ، وهي:
1 الإخلاصُ فِي العملِ.
2 والنَّصيحَةُ للهِ فيهِ.
3 ومُتابعَةُ الرَّسُولِ فيهِ.
4 وشُهُودُ مَشْهَدِ الإِحسانِ فيهِ.
5 وشُهُودُ مِنَّةِ اللهِ عَلَيهِ.
6 وشُهودُ تَقصيرِهِ فِيهِ بَعْدَ ذَلِكَ كلِّهِ

Artinya:

Haq Allooh سبحانه وتعالى dalam ketaatan itu ada 6, yaitu:

1. Ikhlash dalam beramal
2. Menasehati Allooh سبحانه وتعالى di dalamnya
3. Mengikuti Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam ta’at
4. Mempersaksikan unsur kebajikan di dalamnya
5. Mempersaksikan karunia Allooh سبحانه وتعالى padanya
6. Mempersaksikan kekurangan dirinya dalam ta’at kepada Allooh سبحانه وتعالى.”

(“Dzammun Nafsi wal Hawaa“, karya Syaikh ‘Abdul Haady Hasan Wahby)

(6) Orang ber-‘ilmu dan ber-‘imaan

قال ابن القيم رحمه الله تعالى :
أفضل ما اكتسبته النفوس, وحصلته القلوب, ونال به العبد الرفعة في الدنيا والآخرة, هو العلم والايمان, ولهذا قرن الله سبحانه بينهما في قوله: { وقال الذين أوتوا العلم والايمان لقد لبثتم في كتاب الله الى يوم البعث فهذا يوم البعث}الروم 56. وقوله:{ يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات}المجادلة11

Artinya:

Berkata Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله:
Sebaik-baik apa yang diraih oleh jiwa dan hati adalah apa yang diraih oleh seorang hamba berupa ketinggian derajat di dunia dan di akhirat, yaitu berupa ‘ilmu dan ‘imaan. Oleh karena itu, Allooh سبحانه وتعالى mendampingkan “Dan orang-orang yang diberi ‘ilmu dan ‘imaan berkata (kepada orang kaafir), ‘Sungguh kalian telah berdiam (dalam kubur) sesuai ketetapan Allooh سبحانه وتعالى sampai hari kebangkitan, maka inilah hari kebangkitan itu” [QS. Ar Ruum (30) ayat 56] dengan “Allooh akan mengangkat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang diberi ‘ilmu beberapa derajat” [QS Al Mujaadalah (58) ayat 11]

(“Al Fawaa’id”, karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah)

(7) Agar tidak mengkufuri nikmat Allooh

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, telah bersabda Rosuululllooh صلى الله عليه وسلم:
Lihatlah oleh kalian orang yang di bawah kalian dan jangan kalian lihat orang yang di atas kalian. Yang demikian itu lebih dekat dari mengkufuri nikmat Allooh.

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7619)

(8) Perkara Penyebab Masuk Surga atau Masuk Neraka

عن ابي هريرة : قال سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن أكثر ما يدخل الناس الجنة ؟ فقال تقوى الله وحسن الخلق وسئل عن أكثر ما يدخل الناس النار فقال الفم والفرج

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ditanya tentang perkara yang terbanyak menyebabkan manusia masuk kedalam surga, lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Bertaqwa kepada Allooh dan ber-akhlaq yang baik.”

Dan ditanya tentang perkara terbanyak yang menyebabkan manusia masuk neraka, lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mulut dan kemaluan.

(Hadits Shohiih Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2004)

(9) Ciri Kesempurnaan Amal

Berkata Imaam Sa’iid bin Yaziid Abu ‘Abdillah as Saajii r رحمه الله:
Lima perkara jika lima ini ada, maka pertanda bahwa ‘ilmu telah sempurna dan amalan menjadi bermakna dan tidak sia-sia:

1. Mengenali Allooh سبحانه وتعالى
2. Mengenali kebenaran
3. Tulus beramal karena Allooh سبحانه وتعالى
4. Beramal sesuai Sunnah
5. Tidak makan, kecuali dari yang halaal.”

(10) Enam Perkara Aneh dalam Enam Perkara

“Ada enam perkara dia aneh dalam enam perkara:
1. Masjid aneh di tengah-tengah orang yang tidak sholat didalamnya

2. Mushaaf aneh di rumah suatu kaum yang tidak membacanya

3. Al Qur’an aneh pada orang yang faasiq

4. Wanita muslimah aneh berada pada seorang laki-laki yang dzoolim lagi berakhlaq buruk

5. Seorang muslim yang shoolih aneh berada pada seorang wanita yang buruk dan buruk pula akhlaqnya

6. Seorang ‘aalim aneh di tengah suatu kaum yang tidak mendengarkan pada petuahnya.”

(Dinukil dari Kitab “Iiqoodz Ulil Himaamil ‘Aaliyah”)

(11) Cara Mengetahui Riya’

Berkata Imaam Muhammad bin Idriis Abu ‘Abdillaah Asy Syaafi’iy رحمه الله:
Tidak mengetahui Riya’ kecuali orang mukhlis (– orang yang ikhlas – pent)”

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul ‘Aarifiin”, karya Imaam An Nawaawy رحمه الله)

(12) Para Da’i Penyeru ke Pintu-Pintu Jahannam

عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Artinya:

Dari Hudzaifah bin Al Yamaan رضي الله عنه berkata, “ Orang-orang bertanya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang kejahatan, karena takut hal itu menimpaku.

Maka aku katakan, “Wahai Rosuulullooh, sesungguhnya dulu kita berada dalam kejahiliyahan (kebodohan) dan kejahatan, lalu Allooh datangkan pada kami kebaikan (–Islam –pent) ini, maka apakah setelah kebaikan ini akan datang kejahatan?

Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.
Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kejahatan itu akan muncul lagi kebaikan?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Tetapi di dalamnya terdapat noda.
Aku bertanya lagi, “Noda apakah itu?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Yaitu suatu kaum yang berpedoman bukan dengan pedomanku. Kamu tahu dari mereka dan kamu ingkari.”

Aku bertanya lagi, “Lalu apakah setelah kebaikan itu akan muncul lagi kejahatan?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Yaitu para da’i (penyeru) kepada pintu-pintu jahannam. Maka barangsiapa yang memenuhi panggilan mereka, niscaya mereka akan mencampakkannya pada jahannam itu.

Aku bertanya lagi, “Wahai Rosuulullooh, gambarkanlah kepada kami tentang mereka.”
Lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mereka adalah dari kalangan kita. Berkata dengan bahasa kita.”
Aku bertanya, “Apa yang kau perintahkan padaku, jika hal itu menimpaku?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Berpegang teguhlah dengan jama’ah muslimin, dan Imaam mereka (– kelompok yang berpegang teguh dengan Al Haq – pent).”
Aku bertanya, “Jika mereka tidak punya jama’ah dan tidak punya Imaam?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Maka tinggalkan semua golongan itu, walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai kamu mati, sedangkan kamu berada dalam keadaan demikian.”

(Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3606)

(13) Akibat Ambisi Terhadap Harta

Telah berkata Imaam Sofyaan Ats Tsauury رحمه الله:
Tidak berkumpul harta pada seseorang di zaman ini kecuali dia akan memiliki 5 sifat:

1. Panjang angan-angan
2. Sangat ambisius
3. Kikir yang sangat (bakhiil)
4. Kurang Waro’ (berhati-hati terhadap sesuatu yang tidak halal)
5. Lupa akhirat.”

(Dinukil dari Kitab “Iiqoodz Ulil Himaamil ‘Aaliyah”)

(14) Harusnya Ada Pada Seorang Sahabat / Kawan Baik

Berkata Imaam Al Ghodzaaly رحمه الله :
Orang yang diutamakan boleh menjadi seorang sahabat (kawan baik) adalah yang memiliki lima karakter :
1. Berakal (pintar)
2. Berakhlaq baik
3. Tidak faasiq
4. Tidak melakukan kebid’ahan
5. Tidak ambisius terhadap dunia.”

(Dinukil dari Kitab “Ihyaa u ‘Uluumiddiin”)

(15) Kebaikan Dunia dan Akhirat

Berkata Imaam Muhammad bin Idriis Abu ‘Abdillaah Asy Syaafi’iy رحمه الله:
Kebaikan dunia dan akhirat itu terdapat pada lima perkara:

  1. Adanya rasa cukup dalam jiwa (kaya hati)
  2. Menahan diri dari melukai orang lain
  3. Mencari rizqi dari yang halaal
  4. Berpakaian taqwa
  5. Yakin terhadap Allooh سبحانه وتعالى dalam segala hal.”

(Kitab “Bustaanul ‘Aarifiin” oleh Imaam An Nawawy رحمه الله)

(16) Ciri Orang Bodoh

“Ada lima perkara jika terdapat pada seseorang berarti dia adalah orang bodoh:
1. Marah dalam segala hal
2. Percaya pada setiap orang
3. Berkata tanpa manfa’at
4. Memberi nasehat tidak pada tempatnya
5. Tidak dapat mengetahui dan membedakan siapa musuh dan siapa kawan”.

(Dinukil dari Kitab “Iiqoodz Ulil Himaamil ‘Aaliyah”)

(17) Khuluuf

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, Tidak seorang Nabi pun yang Allooh utus pada suatu kaum sebelumku, kecuali dia mempunyai para penolong dan para shohabat dari ummatnya, dimana mereka mengambil sunnahnya dan berpanutan pada perintahnya. Kemudian, muncullah setelah mereka KHULUUF, dimana mereka berkata apa yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan apa yang mereka tidak diperintahkan.

Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya maka dia adalah mu’min. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan mulutnya, maka dia adalah mu’min. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia adalah mu’min. Dan tidak ada setelah itu iimaan walaupun hanya sebesar biji sawit.”
(HR. Muslim no: 188)

(18) Karakteristik Hari Jum’at

قال سعد بن عبادة:
خمس خصال من خصائص يوم الجمعة :
فيه خلق الله آدم،
وفيه أهبط من الجنة إلى الأرض،
وفيه توفي
وفيه ساعة لا يسأل العبد فيها شيئاً إلا أعطاه إياه ما لم يسأل إثماً أو قطيعة رحم،
وفيه تقوم الساعة

Berkata Shohabat Sa’ad bin ‘Ubaadah رضي الله عنه, Dalam Islam, semua hari adalah baik, hanya hari Jum’at memiliki keistimewaan tersendiri, antara lain:

1. Pada hari itu, Allooh سبحانه وتعالى ciptakan Adam عليه السلام
2. Pada hari itu, Allooh سبحانه وتعالى turunkan Adam عليه السلام dari surga ke bumi
3. Pada hari itu, Allooh سبحانه وتعالى wafatkan Adam عليه السلام
4. Pada hari itu, tidaklah ada seorang yang bermohon (berdo’a) kepada Allooh سبحانه وتعالى, kecuali Allooh سبحانه وتعالى akan kabulkan, selama dia tidak meminta perbuatan dosa dan memutus silaturrohim
5. Pada hari itu, akan terjadi hari Kiamat.

(Dinukil dari Kitab “Irsyaadul Ibaad ilaa Sabiilil Rosyaad”)

(19) Sebaik-baik Simpanan / Tabungan

وقال الشافعي رضي الله تعالى :
أنفع الذخائر التقوى وأضرها العدوان

Artinya:

Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, Simpanan yang paling bermanfaat adalah taqwa. Dan simpanan yang mencelakakan adalah permusuhan.”

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin“)

(20) Sendi Kekufuran

قال وهب بن منبه :
للكفر أربعة أركان الغضب والشهوة والخرق والطمع

Artinya:

Berkata Wahab bin Munabbih رحمه الله, “Sendi Kekufuran itu ada empat:
1. Marah
2. Syahwat (Hawa Nafsu)
3. Mencampuradukkan antara Haq dan Baathil
4. Rakus (Tamak)

(Dinukil dari Kitab “Ihyaa Ulumiddiin”)

(21) Qonaa’ah

وعن الشافعي رحمه الله تعالى قال :
من غلبت عليه شدة الشهوة لحب الدنيا لزمته العبودية لأهلها ومن رضي بالقنوع زال عنه الخضوع

Artinya:

Telah berkata Imaam Syaafi’iy رحمه الله, Barangsiapa yang dikuasai oleh nafsu cinta dunia, niscaya dia akan berhamba kepadanya. Dan barangsiapa yang Qonaa’ah (puas apa adanya), maka akan hilang darinya sikap tunduk pada selain Allooh سبحانه وتعالى.”

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin“)

(22) Mencuci Hati

قال عبدالملك القاسم
عجبت لمن يغسل وجهه خمس مرات في اليوم مجيباً داعي اللّه، ولا يغسل قلبه مرة في السنة ليزيل ما علق به من أدران الدنيا، وسواد القلب، ومنكر الأخلاق

Artinya:

Berkata Syaikh ‘Abdul Maalik Al Qoosim, Aku heran pada orang yang lima kali membasuh wajahnya setiap hari, memenuhi panggilan mu’adzdzin, tetapi tidak mencuci hatinya sekalipun dalam satu tahun agar menghilangkan kotoran ketergantungan terhadap dunia, kelamnya hati dan buruknya akhlaq.”

(Dinukil dari Kitab “Husnul Khuluq”)

(23) Keterpujian

وقال الشافعي رضي الله تعالى عنه:
من أحب أن يفتح الله قلبه ويرزقه العلم فعليه بالخلوة وقلة الأكل وترك مخالطة السفهاء وبعض أهل العلم الذين ليس معهم إنصاف ولا أدب

Artinya:

Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, Barangsiapa yang ingin Allooh سبحانه وتعالى buka hatinya untuk ‘ilmu, maka :
1. Ber-kholwat-lah / bermunajat disaat sepi terhadap Allooh سبحانه وتعالى
2. Menyedikitkan makan
3. Tidak bergaul dengan orang bodoh
4. Tidak bergaul dengan ahli ‘ilmu yang tidak memiliki ‘adab dan keadilan.”

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin“)

(24) Pelindung dari Syaithoon

وقال الحسن : أربعٌ من كُنَّ فيه عصمه الله من الشيطان ، وحرَّمه على النار : مَنْ ملك نفسَه عندَ الرغبة ، والرهبة ، والشهوةِ ، والغضبِ

Artinya:

Berkata Imaam Al Hasan Al Bashry رحمه الله, Empat perkara jika ada pada seseorang maka Allooh سبحانه وتعالى jaga dia dari syaithoon dan Allooh سبحانه وتعالى haromkan api neraka untuknya:

1. Menjaga mulutnya, dalam keadaan suka
2. Menjaga mulutnya, dalam keadaan benci (tidak suka)
3. Mengendalikan hawa nafsunya
4. Mengendalikan amarahnya.”

(Dinukil dari Kitab “Hilyatul Auliyaa’”)

(25) ‘Amalan Terbaik

وقال الشافعي رضي الله تعالى عنه ورحمه :
أفضل الأعمال ثلاثة :
ذكر الله تعالى
ومواساة الأخوان
وإنصاف الناس من نفسك

Artinya:

Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, “Sebaik-baik ‘amalan adalah:
1. Dzikir / mengingat Allooh سبحانه وتعالى
2. Setia kawan
3. Adil terhadap diri sendiri

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin”)

(26) Kunci Keberuntungan

عمرُ بنُ عبد العزيز : قد أفلحَ مَنْ عُصِمَ من الهوى ، والغضب ، والطمع

Artinya:

Berkata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz رضي الله عنه, “Sungguh beruntung orang yang terjaga dari hawa nafsu, marah, rakus.

(Dinukil dari Kitab “Hilyatul Auliyaa”)

(27) Perkara Yang Dibenci Manusia

عن محمود بن لبيد ان النبي صلى الله عليه و سلم قال : اثنتان يكرههما بن آدم الموت والموت خير للمؤمن من الفتنة ويكره قلة المال وقلة المال أقل للحساب

Artinya:

Dari Mahmuud bin Labiid رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda :
Dua perkara yang dibenci manusia :
1. Kematian, padahal dia lebih baik bagi mu’min dari pada ujian

2. Sedikit harta, padahal dia menyebabkan sedikit hisab.”

(Hadits Riwayat Imaam Ahmad رحمه الله, dan Syaikh Syu’aib Al Arna’uuth berkata sanadnya baik)

(28) Karakteristik Dunia

عن أبي عبد رب يقول : سمعت معاوية على هذا المنبر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : لم يبق من الدنيا إلا بلاء وفتنة

Artinya:

Dari Abi ‘Abdi Robb رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
Tidak tersisa dari dunia ini kecuali cobaan dan ujian

(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibbaan رحمه الله no: 690 dan Syaikh Syu’aib Al Arna’uuth berkata sanadnya kuat)

(29) Perkataan “Saya Tidak Tahu”

ويقول علي ابن أبي طالب –رضي الله عنه-:
لا يستحي من يعلم أن يتعلم، ولا يستحي من إذا سئل عما لا يعلم أن يقول: لا أعلم

Artinya:

Telah berkata ‘Ali Bin Abii Thoolib رضي الله عنه :
Orang yang mengetahui, tidak malu untuk belajar dan mencari tahu serta tidak malu jika dia ditanya tentang masalah yang tidak diketahui untuk mengatakan ‘Saya tidak tahu’.

(30) Lima Tanda Orang Sengsara

يقول الفضيل بن عياض -رحمه الله-:
خمس من علامات الشقوة: القسوة في القلب وجمود العين، وقلة الحياء، والرغبة في الدنيا، وطول الأمل

Artinya:

Telah berkata Al Fudhoil Bin ‘Iyaadh رحمه الله:
Ada lima tanda orang yang sengsara :

1) Hati yang keras membatu
2) Mata yang tidak pernah menangis
3) Sedikit malu
4) Cinta dunia
5) Panjang angan-angan

(31) Sholaahhuddiin dan Palestine

قال صلاح الدين الأيوبي:
إني لأستحيي من الله أن أضحك وفي القدس صليبي واحد

Artinya:

Telah berkata Sholaahhuddiin Al Ayyuuby رحمه الله:
Sungguh aku malu pada Allooh سبحانه وتعالى untuk tertawa padahal di Baitul Maqdiis masih ada seorang Nashroony.”

(32) Malu dan Kematangan Sosial

استحي أن ينظر إلي ذو عينين وأنا أكل فلا أعطيه شيئاً

Artinya:

Berkata orang shoolih zaman dahulu :
Saya malu jika ada dua mata melihat saya sedang makan, lalu saya tidak memberinya sesuatu.”

(33) Tahapan ‘Ilmu

وَاعْلَمْ أَنَّ لِلتَّعَلُّمِ سِتَّ مَرَاتِبَ :
أَوَّلُهَا حُسْنُ السُّؤَالِ :
ثَانِيهَا حُسْنُ الإِنْصَاتِ وَالاسْتِمَاعِ .
ثَالِثُهَا حُسْنُ الْفَهْمِ .
رَابِعُهَا الْحِفْظُ ،
خَامِسُهَا التَّعْلِيمُ
سَادِسُهَا وَهِيَ الثَّمَرَةُ الْعَمَلُ بِهِ وَمُرَاعَاةُ حُدُودِهِ

Artinya:

Mendapatkan ‘ilmu itu dengan enam tahapan :

1. Bertanya yang baik
2. Mendengarkan dan memperhatikan dengan baik
3. Memahami dengan baik
4. Menghafalkan
5. Mengajarkan
6. Mengamalkan.”

(Dinukil dari Kitab “Ghidzaa’ul Albaab”)

(34) Dampak Buruk Menyanyi

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ وَالذِّكْرُ يُنْبِتُ الإِيمَانَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ

Artinya:

Berkata ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه:

Menyanyi itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanam-tanaman; dan dzikir itu menumbuhkan iman dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanam-tanaman.

(Diriwayatkan oleh Imaam Al Baihaqy رحمه الله dalam Kitab “As Sunanul Kubro”)

(35) Penghalang ‘Ilmu

وَحِرْمَانُ الْعِلْمِ يَكُونُ بِسِتَّةِ أَوْجُهٍ :
أَحَدُهَا تَرْكُ السُّؤَالِ .
الثَّانِي سُوءُ الإِنْصَاتِ وَعَدَمُ إلْقَاءِ السَّمْعِ .
الثَّالِثُ سُوءُ الْفَهْمِ .
الرَّابِعُ عَدَمُ الْحِفْظِ .
الْخَامِسُ عَدَمُ نَشْرِهِ وَتَعْلِيمِهِ ،
السَّادِسُ عَدَمُ الْعَمَلِ بِهِ

Artinya:

Perkara yang menghalangi ilmu :

1. Tidak bertanya
2. Tidak mendengarkan dan memperhatikan dengan baik
3. Pemahaman yang buruk
4. Tidak menghafal
5. Tidak menyebarkan dan tidak mengajarkan ilmu
6. Tidak mengamalkan ilmu.”

(Dinukil dari Kitab “Ghidzaa’ul Albaab”)

(36) Hakekat Zuhud

قال يحيى بن معاذ: لا يبلغ أحد حقيقة الزهد حتى يكون فيه ثلاثُ خصال: عمل بلا علاقة، وقول بلا طمع، وعز بلا رياسة

Artinya:

Berkata Yahya bin Mu’adz رحمه الله:
Tidaklah seseorang sampai pada Zuhud yang sebenarnya hingga pada dirinya terdapat 3 sifat:
1. Bekerja tanpa keterkaitan (bekerja tanpa mengharap penilaian manusia)
2. Berkata tanpa rakus (berkata tanpa mengharapkan perkara duniawi yang lebih)
3. Mulia tanpa ambisi (mulia walau tanpa jabatan duniawi)

(37) Ciri-Ciri Orang ‘Aalim

يُرَادُ لِلْعَالِمِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ :
الْخَشْيَةُ ،
وَالنَّصِيحَةُ ،
وَالشَّفَقَةُ ،
وَالاحْتِمَالُ ،
وَالصَّبْرُ ،
وَالْحِلْمُ ،
وَالتَّوَاضُعُ ،
وَالْعِفَّةُ عَنْ أَمْوَالِ النَّاسِ ،
وَالدَّوَامُ عَلَى النَّظَرِ فِي الْكُتُبِ ،
وَتَرْكُ الْحِجَابِ

Artinya:

Seorang ‘aalim itu adalah :
1. Takut pada Allooh سبحانه وتعالى
2. Memberi nasihat
3. Sayang
4. Tahan uji
5. Shobar
6. Lembut
7. Tawaadhu’
8. Bersih hati terhadap harta orang
9. Selalu membaca Kitab
10. Meninggalkan pembatas dengan manusia.”

(Dinukil dari Kitab “Ghidzaa’ul Albaab”)

(38) Jangan Taqliid

ألا لا يقلّدنّ أحدكم دينه رجلاً؛ إن آمن آمن، وإن كفر كفر؛ فإنه لا أسوة في الشرّ

Artinya:

Berkata ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه:
Janganlah seseorang ber-taqliid (mengekor) dalam perkara dien-nya (agamanya) pada orang lain. Jika dia beriman maka dia (ikut) beriman dan jika dia kaafir maka dia pun (ikut) menjadi kaafir. Sesungguhnya, janganlah ikut-ikutan di dalam kejahatan.”

(39) Hakekat Malu

عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم استحيوا من الله حق الحياء قال قلنا يا رسول الله إنا نستحيي والحمد لله قال ليس ذاك ولكن الاستحياء من الله حق الحياء أن تحفظ الرأس وما وعى والبطن وما حوى ولتذكر الموت والبلى ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء

Artinya:

Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
Malu lah kalian dengan sebenar-benar malu.

Kami bertanya, “Ya Rosuulullooh, kami punya malu. Alhamdulillah.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bukan itu, akan tetapi malu kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sebenarnya itu adalah:
1) Kamu pelihara kepalamu dan apa yang menjadi isinya
2) Kamu pelihara perutmu dan apa yang ditampungnya
3) Ingatlah olehmu kematian dan kemusnahan
4) Dan barangsiapa yang menginginkan akherat, maka dia tinggalkan perhiasan dunia

Dan barangsiapa yang melakukan itu, maka dia sungguh telah malu kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sesungguhnya.”

(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2458, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)

(40) Tiga Sifat Agar Tidak Aneh

قيل: ثلاث خصال ليس معهن غُربة: مجانبةُ أهل الرِّيب، وحسن الأدب.وكف الأذى

Artinya:

Ada 3 sifat yang jika dimiliki seseorang, maka ia tidak akan terasing:
1. Menjauh dari orang yang meragukan (Jangankan orang yang jelas faasiq-nya, yang tidak jelas faasiq-nya pun tidak didekatinya. Ia lebih suka bergaul dengan orang yang shoolih)
2. Berakhlaq yang santun
3. Menghentikan perkara yang menimbulkan luka atau menyakiti orang lain.”

(41) Busuknya Seorang ‘Ulama

مكحولا يقول لا يأتي على الناس ما يوعدون حتى يكون عالمهم فيهم أنتن من جيفة حمار

Artinya:

Imaam Makhuul رحمه الله berkata, “Tidak datang pada manusia apa yang dijanjikan pada kalian, sehingga seorang ‘aalim ditengah-tengah mereka lebih busuk daripada bangkai keledai.”

(Dinukil dari Kitab “Hilyatul Auliyaa’)

(42) Pentingnya Bertanya

ابن شهاب : العلم خزانة مفاتحها المسألة

Artinya:

Imaam Ibnu Syihaab رحمه الله berkata, “Ilmu itu adalah simpanan berharga. Kuncinya adalah bertanya.

(43) Sempurnanya Suatu ‘Amalan

قال أبو عبد اللَّه الباجي الزاهد رحمه اللَّه : خمس خصال بها تمام العمل : الإيمان بمعرفة اللَّه عز وجل ، ومعرفة الحق ، وإخلاص العمل لله ، والعمل على السنة ، وأكل الحلال ، فإن فقدت واحدة لم يرتفع العمل

Artinya:

Berkata Imaam Abu ‘Abdillah Al Baaji رحمه الله, Ada 5 perkara penyebab sempurnanya amalan:

1. Beriman dengan pengetahuan terhadap Allooh سبحانه وتعالى
2. Mengetahui Al Haq (kebenaran)
3. Ikhlas dalam beramal
4. Beramal diatas As Sunnah
5. Memakan makanan yang halal.

Jika salah satu dari lima perkara itu hilang, maka amalan tidak akan diangkat.

(44) Bahaya ‘Ulama Suu’

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ وَضَّاحٍ :
إِنَّمَا هَلَكَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ عَلَى يَدَيْ قُرَّائِهِمْ وَفُقَهَائِهِمْ ، وَسَتَهْلِكُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى يَدَيْ قُرَّائِهِمْ وَفُقَهَائِهِمْ

Artinya:

Berkata Imaam Muhammad bin Wadhdhooh رحمه الله:
Binasanya Bani Isroo’il itu tidak lain kecuali oleh para Pembaca dan para Fuqoha (‘Ulama) dari mereka. Dan ummat ini akan binasa juga diatas para Pembaca dan para Fuqohanya (‘Ulamanya).

(Dinukil dari Kitab “Al Bidaa’” no: 153)

(45) Al Qur’an yang Disalahgunakan

عن معاذ بن جبل قال : سيبلى القرآن في صدور أقوام كما يبلى الثوب فيتهافت يقرؤونه لا يجدون له شهوة ولا لذة يلبسون جلود الضأن على قلوب الذئاب أعمالهم طمع لا يخالطه خوف إن قصروا قالوا سنبلغ وإن أساؤوا قالوا سيغفر لنا إنا لا نشرك بالله شيئا

Artinya:

Berkata Mu’adz bin Jabbal رضي الله عنه, Al Qur’an akan rusak pada dada-dada banyak kaum, sebagaimana rusaknya baju. Mereka membacanya, sedang mereka tidak merasakan keasyikan dan kelezatannya, mereka memakai kulit-kulit domba diatas hati serigala.
Pekerjaan mereka rakus, tidak tercampur rasa takut.

Jika mereka kurang dalam beramal, mereka mengatakan, “Kita akan sampai.

Dan Jika mereka berbuat buruk, mereka mengatakan, “Kita akan diampuni, karena kita tidak menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى dengan apa pun.”

(Sunan Ad Daarimy no: 3346)

(46) Sholat dan Kehidupan

قال أحد العلماء العارفين: إن في الصَّلاة ثلاث خصال: الإخلاص والخشية وذكر الله؛ فالإخلاص يقود العبد إلى المعروف، والخشية تنهاه عن المنكر، وذكر الله ـ القرآن ـ يأمره وينهاه، فكلُّ صلاة لا يكون فيها شيء من هذه الخلال فليست بصلاة

Artinya:

Berkata seorang ‘Ulama:
Sesungguhnya didalam sholat itu terdapat tiga karakter: Ikhlas, Takut dan Ingat pada Allooh سبحانه وتعالى. Ikhlas memandu seorang hamba pada suatu kebaikan dan takut melarangnya dari kemunkaran, sedang dengan dzikir (ingat Allooh سبحانه وتعالى) akan memerintah dan melarangnya. Maka setiap sholat yang tidak mengandung tiga perkara ini, maka dia bukanlah sholat.”

(Al Qur’an, “Minhaaj Hayaatin”)

(47) Pengeras Hati

عن عائشة رضي الله عنها: تُوْرِثُ القسوةَ في القلب ثلاثُ خصال: حبُّ الطعام، وحبُّ النوم، وحبُّ الراحة

Artinya:

Diriwayatkan dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, “Tiga perkara penyebab kerasnya hati:
1. Hobby makan,
2. Hobby tidur,
3. Hobby istirahat.

(Dinukil dari Kitab “Jam’ul Jawaa’mi’”, karya Imaam Jalaaluddin As Suyuuthy رحمه الله)

(48) Kunci Selamat

قال بعضهم أجمع الفقهاء والعلماء على ثلاث خصال أنها إذا صحت ففيها النجاة ولا يتم بعضها إلا ببعض الإسلام الخالص عن البدعة والهوى والصدق لله تعالى في الأعمال وطيب المطعم

Artinya:

Para Fuqoha dan ‘Ulama bersepakat; ada tiga hal jika benar maka akan selamat, dimana satu sama lain saling terkait:
1. Ber-Islam yang terbebas dari Bid’ah dan Hawa’.
2. Benar terhadap Allooh سبحانه وتعالى dalam berbagai amalan
3. Memakan makanan yang baik-baik.

(Dinukil dari Kitab  “‘Ihyaa’u ‘Uluumiddiini” karya Imaam Al Ghozaaly رحمه الله)

(49) Riskannya Harta

قال عيسى -عليه السلام-: في المال ثلاث خصال: أن يأخذه من غير حله. فقيل: إن أخذه من حله؟ فقال: يضعه في غير حقه. فقيل: إن وضعه في حقه؟ فقال: يشغله إصلاحه عن ذكر الله -تعالى

Artinya:

‘Iisa عليه السلام berkata, “Pada harta itu terdapat tiga hal:
1. Mengambilnya bukan dari yang semestinya, dan jika berasal dari yang semestinya maka,
2. Membelanjakannya bukan pada tempatnya, dan jika membelanjakannya pada tempatnya, maka
3. Mengelolanya akan melalaikan dari mengingat Allooh سبحانه وتعالى.”

(Dinukil dari Kitab “Al Aadaabusy Syar’iyyah“, karya Imaam Ibnu Muflih Al Maqdisy )

(50) Orang Lain Darimu

قال يحيى بن معاذ: ليكن حظ المؤمن منك ثلاث خصال: إن لم تنفعه فلا تضره، وإن لم تسره فلا تغمه، وإن لم تمدحه فلا تذمه

Artinya:

Berkata Imaam Yahya bin Mu’adz رحمه الله, “Hendaknya mu’min itu mendapatkan darimu tiga perkara:
1. Jika kamu tidak bisa memberinya manfaat, maka janganlah memberinya bahaya
2. Jika kamu tidak bisa memberinya bahagia, maka janganlah memberinya gundah
3. Dan jika kamu tida memujinya, maka janganlah mencelanya.

(Dinukil dari Kitab “Ar Risaalah Al Qusyairiyyah“, karya Imaam Al Qusyairy رحمه الله)

(51) Menjelang Kematian

قال يوسف بن أسباط رحمه الله إني لأشتهى من الله ثلاث خصال أن أموت حين أموت وليس في ملكي درهم ولا يكون على دين ولا على عظمي لحم فأعطى ذلك كله

Artinya:

Berkata Imaam Yuusuf bin Asbaath رحمه الله, “Sungguh aku sangat berkeinginan dari Allooh سبحانه وتعالى tiga perkara:
1. Mati, sedang aku tidak mempunyai satu dirham pun
2. Tidak memiliki hutang
3. Tidak ada daging yang menempel pada tulangku.

(Dinukil dari Kitab “‘Ihyaa’u ‘Uluumiddiini” karya Imaam Al Ghozaaly رحمه الله)

(52) Obat Sakit

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

داووا مرضاكم بالصدقة

Artinya:

“Obatilah orang sakit dari kalian dengan shodaqoh.”

(Lihat “Shohiih Al Jaami’ush Shoghiir” no: 5669 dari Shohabat Abu Umaamah Al Baahily رضي الله عنه)

(53) Generasi Berikutnya Tidak Sebaik Generasi Pendahulu

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لا يأتي عليكم زمان إلا وهو شر من الذي كان قبلكم

Artinya:

Tidaklah datang suatu zaman pada kalian, kecuali orang-orang pada zaman tersebut lebih jahat dari orang-orang yang ada pada zaman sebelum kalian.”

(Dinukil oleh Al Imaam Al Qudhoo’i dalam “Musnad Asy Syihaab” dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه)

(54) Menikahi Wanita Kaya

من تزوج غنية كان له منها خمس خصال :
مغالاة الصداق
وتسويف الزفاف
وفوت الخدمة
وكثرة النفقة
وإذا أراد طلاقها لم يقدر خوفا على ذهاب مالها

Artinya:

Berkata Imaam Al Ghozaly رحمه الله dalam Kitabnya “Ihyaa’ ‘Ulumuddiin”, “Barangsiapa menikahi wanita kaya, maka dia akan dihadapkan pada lima perkara:
1. Berlebihan dalam mahar
2. Mengundurkan walimah
3. Kehilangan khidmat
4. Besar nafaqohnya
5. Dan jika hendak menceraikannya, maka dia khawatir terhadap kepergian hartanya.”

(55) Senantiasa Muda

لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ

Artinya:

Hati orangtua senantiasa muda dalam dua perkara:
1. Cinta dunia,
2. Panjang angan-angan.”

(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6420 dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه)

(56) Sempitnya Dunia

ذهب رجل إلى إبراهيم أين أدهم وقال له : يا أبا اسحق أنى مسرف على نفسي في ارتكاب المعاصي فاعرض علي ما يكون لها زاجرا ومستنقذ قال : أن قبلت خمس خصال وقدرت عليها لم تضرك المعصية ولم توبقك لذة ، قال : هات يا أبا اسحق قال : أما الأولى فإذا أردت أن تعصى الله عز وجل فلا تأكل من رزقه قال فمن أين آكل وكل ما في الأرض من رزقه ؟ قال : يأخذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتعصيه ؟ قال : لا هات الثانية : قال وإذا أردت أن تعصيه فلا تسكن شيئا من بلاده قال : هذه اعظم من الأولى يأخذا إذا كان المشرق والمغرب وما بينهما ملك له فأين أسكن ؟ قال يأخذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه ؟ قال : هات الثالثة : قال وإذا أردت أن تعصيه وأنت تحت رزقه وبلاده فانظر موضعا لا يراك فيه فاعصه فيه قال يا إبراهيم ما هذا وهو يعلم السر و أخفي قال : يا هذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه وهو يراك ويعلم ما تجاهر به ؟ قال : لا هات الرابعة قال : فإذا جاءك ملك الموت ليقبض روحك فقل له أخرني حتى أتوب توبة نصوحا وأعمل لله صالحا ، قال : لا يقبل مني قال : يأخذا أفأنت إذا لم تقدر أن تدفع عنك الموت لتتوب وتعلم أنه إذا جاءك لم يكن له تأخير فكيف ترجو وجه الخلاص ؟ قال : هات الخامسة قال : إذا جاءك الزبانية يوم القيامة ليأخذوك إلى النار فلا تذهب معهم قال : انهم لا يدعونني ولا يقبلون مني قال : فكيف ترجو النجاة أذن ؟ قال له يا إبراهيم حسبي حسبي ، أنا أستغفر الله وأتوب إليه ولزم العبادة والأدب مع الله حتى فارق الدنيا

Artinya:

Seseorang menemui Ibrohim bin Adham lalu berkata, “Wahai Abu Ishaq, sungguh aku orang yang berlebihan pada diriku dalam melakukan ma’shiyat. Maka sampaikanlah padaku sesuatu yang dapat membuatku jera dan menyelamatkanku.”

Ibrohim bin Adham menjawab, “Kalau kamu terima 5 perkara, dan kamu mampu melakukannya, maka tidak mengapa berbuat ma’shiyat dan kepuasanmu tak akan membinasakanmu.”

Lalu orang tadi berkata, “Coba sampaikanlah padaku.”

Ibrohim bin Adham menjawab, Adapun yang pertama, jika kamu mau berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى, maka janganlah kamu memakan rizqy yang berasal dari-Nya.

Orang itu berkata, “Darimana saya makan? Bukankah segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah rizqy dari Allooh سبحانه وتعالى?”
Kata Ibrohim bin Adham, “Yaa Fulan, pantaskah kamu memakan rizqy dari-Nya, lalu kamu berma’shiyat pada-Nya?
Orang itu berkata lagi, “Sampaikanlah yang kedua.”

Ibrohim bin Adham berkata, Jika kamu akan berma’shiyat, maka jangan tinggal di bumi-Nya.”

Orang itu berkata, “Ini lebih sulit dari yang pertama. Kalau seandainya Timur dan Barat dan antara keduanya merupakan milik Allooh سبحانه وتعالى, maka dimana aku akan tinggal?
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, pantaskah kamu makan rizqy dari-Nya, kamu tinggal di bumi-Nya, lalu kamu berma’shiyat pada-Nya?
Orang itu berkata lagi, “Sampaikan yang ketiga.”

Ibrohim bin Adham berkata, Jika engkau akan berma’shiyat, sedangkan engkau menikmati rizqy-Nya, tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang Allooh سبحانه وتعالى tidak melihatmu, maka lakukanlah ma’shiyat disitu.”

Orang itu berkata, “Yaa Ibrohim, apa ini? Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Mengetahui yang tersembunyi dan apa yang kusembunyikan.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, pantaskah, kamu makan dari rizqy-Nya, kamu tinggal di bumi-Nya, kamu berma’shiyat dan Allooh سبحانه وتعالى melihatmu dan mengetahui perbuatanmu?
Orang itu berkata lagi, “Tidak. Berikan padaku yang keempat.”

Ibrohim bin Adham berkata, Jika datang padamu malakul maut untuk mencabut nyawamu, maka katakan padanya, ‘Tangguhkan aku hingga aku bertaubat nasuuha dan beramal shoolih untuk Allooh سبحانه وتعالى‘.”

Orang itu berkata, “Tidak mungkin ia menerima permintaan itu dariku.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, jika kamu tidak mampu menolak kematian untuk bertaubat dan kamu tahu jika dia datang padamu tidak mungkin menangguhkan ajalmu, maka bagaimana kamu berharap untuk menghindar?
Orang itu berkata, “Berikan yang kelima.”

Ibrohim bin Adham berkata, Jika datang padamu malaikat Zabaaniyah pada hari Kiamat untuk menyeretmu ke neraka, maka jangan engkau ikuti dia.”

Orang itu berkata, “Malaikat itu tidak akan mungkin membiarkanku dan menerima permintaanku.
Ibrohim bin Adham berkata, “Bagaimana kamu berharap selamat kalaulah demikian?

Maka orang itu berkata, “Wahai Ibrohim, cukup… cukup.. Aku memohon ampunan Allooh سبحانه وتعالى. Aku bertaubat pada-Nya. Senantiasa beribadah dan berbuat baik pada Allooh سبحانه وتعالى, sehingga berpisah dari dunia ini.”

(Dinukil dari “Ma’a Allooh” karya Muhammad Al Ghozaly)

(57) Kriteria Seorang Hakim

عن يحيى بن سعيد ، قال : سأل عُمَر بن عَبد العزيز رضي الله عنه عن قاضي الكوفة ، وقال : القاضي لاَ ينبغي أن يكون قاضيا حتى يكون فيه خمس خصال : عفيف ، حليم ، عالم بما كان قبله ، يستشير ذوي الألباب ، لاَ يبالي بملامة الناس

Artinya:

Dari Yahya bin Sa’iid رحمه الله, beliau berkata, “’Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz رضي الله عنه bertanya tentang hakim wilayah Kuufah dan berkata, “Seorang Qoodhi (Pemutus Perkara) tidak boleh menjadi Qoodhi sehingga dia memenuhi 5 perkara:

1. Bersih hati
2. Lembut
3. ‘Aalim terhadap pejabat sebelumnya (– berupa keputusan-keputusan yang diputuskan oleh pejabat sebelumnya –)
4. Berkonsultasi pada ahli ‘ilmu
5. Tidak peduli terhadap celaan manusia.

(Kitab “As Sunan Ash Shughro” no: 4504, karya Al Imaam Al Baihaqy رحمه الله)

(58) Kriteria Mufti (Pemberi Fatwa)

قال الإمام أحمد: “لا ينبغى للرجل أن ينصب نفسه للفتيا حتى يكون فيه خمس خصال: أولها أن تكون له نية فإن لم تكن له نية لم يكن عليه نور ولا على كلامه نور، والثانية: أن يكون له علم وحلم ووقار وسكينة، الثالثة: أن يكون قويا على ماهو فيه وعلى معرفته ، الرابعة: الكفايه وإلا مضغه الناس ، الخامسة: معرفة الناس

Artinya:

Berkata Imaam Ahmad bin Hanbal رحمه الله, sebagaimana dinukil oleh Imaam Ibnu Qoyyim رحمه الله, Seseorang dilarang berfatwa, kecuali jika memenuhi 5 perkara:

1. Memiliki niat dan sebab. Jika tidak memiliki itu, maka dia tidak akan memiliki cahaya, baik pada dirinya maupun pada perkataannya.
2. Memiliki ilmu, kelembutan, tawaadhu’ dan ketenangan
3. Kuat dalam pendirian dan pengetahuannya
4. Memiliki kompetensi
5. Mengetahui keadaan orang.

(Kitab “’Iiqoodz Ulil Himamil Al ‘Aaliyah”)

(59) Ruju’nya Imaam Asy Syaafi’iy

قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى:
كل مسألة تكلمت فيها بخلاف السنة؛ فأنا راجع عنها؛ في حياتي وبعد مماتي

Artinya:

Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berkata, Setiap masalah yang aku bahas tetapi menyelisihi Sunnah, maka aku ruju’ darinya di masa hidupku atau setelah matiku.

(Dinukil dari Kitab “Al Faqiih Wal Muttafaqqih” karya Al Imaam Al Khothib Al Baghdady رحمه الله)

(60) Islam Palsu

قال الإمام مالك رحمه الله تعالى : لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها؛ فما لم يكن يومئذ ديناً لا يكون اليوم دينا

Artinya:

Imaam Maalik رحمه الله berkata, “Akhir ummat ini tidak akan baik kecuali dengan apa-apa yang membuat baik generasi pendahulunya. Maka apa-apa yang pada hari itu (– di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para shohabatnya –) bukan merupakan dien (ajaran Islam), maka pada suatu hari kapanpun tidak bisa menjadi dien (ajaran Islam).”

(Dinukil dari Kitab “Syarof Ashaabil Hadiits” karya Al Imaam Al Khothiib Al Baghdaady رحمه الله)

(61) Pengikut Hadiits

قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى : إذا رأيت رجلاً من أصحاب الحديث فكأني رأيت رجلاً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم

Artinya:

Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berkata: Jika aku melihat seorang pengikut Hadits maka seakan-akan aku melihat seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”

(Dinukil dari Kitab “Syarof Ashaabil Hadiits” karya Al Imaam Al Khothiib Al Baghdaady رحمه الله)

(62) Kekasih Iblis

قال سفيان الثوري رحمه الله تعالى:
البدعة أحب إلى إبليس من المعصية، المعصية يتاب منها، والبدعة لا يتاب منها

Artinya:

Berkata Sofyan Ats Tsaury رحمه الله, Bid’ah itu lebih dicintai oleh Iblis daripada ma’shiyat; sebab ma’shiyat itu diampuni sedang Bid’ah itu tidak diampuni.

(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’i رحمه الله)

(63) Penghidup Negeri

قال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى:
إن لله عباداً يحيي بهم البلاد؛ وهم أصحاب السنة

Artinya:

Berkata Imaam Fudhoyl bin ‘Iyaadh رحمه الله, “Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى memiliki hamba, yang karena mereka maka negeri ini menjadi hidup. Mereka itu adalah Ahlus Sunnah.”

(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’i رحمه الله)

(64) Sedihnya Seorang Imaam

عن عبد الله بن المبارك – رحمه الله – قال:
اعلم – أي أخي – أن الموت اليوم كرامة لكل مسلم لقي الله على السنة؛ فإنا لله وإنا إليه راجعون؛ فإلى الله نشكو وحشتنا، وذهاب الإخوان، وقلة الأعوان، وظهور البدع، وإلى الله نشكو عظيم ما حل بهذه الأمة من ذهاب العلماء، وأهل السنة، وظهور البدع

Artinya:

Imaam ‘Abdullooh bin Mubaarok رحمه الله berkata,
Ketahuilah olehmu, bahwa mati pada hari ini adalah kemuliaan bagi setiap Muslim, karena dia menemui Allooh سبحانه وتعالى diatas Sunnah. Akan tetapi, innaa Lillaahi wa innaa illaihi rooji’uun, kepada Allooh سبحانه وتعالى kami mengadu atas kecemasan kami karena perginya para ikhwaan (saudara seperjuangan), sedikitnya penolong, dan munculnya ke-Bid’ahan. Kita mengadu kepada Allooh سبحانه وتعالى, betapa besar perkara yang menimpa ummat ini, karena perginya para ‘Ulama dan Ahlus Sunnah dan nampaknya ke-Bid’ahan.”

(Dinukil dari Kitab “Al Bidaa’ An Nahyu ‘Anhaa”, karya Imaam Ibnu Wadhdhoh رحمه الله)

(65) Salam untuk Ahlus Sunnah

قال سفيان الثوري رحمه الله تعالى:
إذا بلغك عن رجل بالمشرق؛ أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام؛ فقد قل أهل السنة

Artinya:

Berkata Imaam Sofyan Ats Tsauury رحمه الله: “Jika sampai padamu seseorang dari Timur, sedangkan dia adalah Ahlus Sunnah, maka sampaikanlah salam (dariku). Sebab sungguh Ahlus Sunnah telah menjadi orang-orang yang langka.”

(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’i رحمه الله)

(66) Pokok-Pokok Ahlus Sunnah

قال الإمام أحمد بن حنبل؛ إمام أهل السنة رحمه الله:
أصول السنة عندنا: التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم والاقتداء بهم، وترك البدع، وكل بدعة فهي ضلالة

Artinya:

Berkata Imaam Ahmad bin Hambal رحمه الله, “Pokok-pokok Sunnah itu adalah :

1. Berpegang-teguh pada apa yang para Shohabat diatasnya, dan menjadikan mereka sebagai panutan.
2. Meninggalkan ke-Bid’ahan karena setiap ke-Bid’ahan itu adalah kesesatan.

(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’i رحمه الله)

(67) Berhati-hatilah

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم : سيكون في آخر أمتي أناس يحدثونكم ما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم؛ فإياكم وإياهم

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Akan muncul di akhir ummat ini, manusia-manusia yang menyampaikan pada kalian sesuatu yang kalian serta bapak-bapak kalian belum pernah mendengarnya (sesuatu yang baru dalam perkara Islam). Karena itu, berhati-hati dan hindarilah mereka.

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 15, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه)

(68) Pasrah

وقال بعض السلف:
قدم الإسلام لا تثبت إلا على قنطرة التسليم

Artinya:

Berkata sebagian Pendahulu Ummat (Salaf) :
Islam itu tidak ajeg, kecuali diatas jembatan pasrah.”

(Dinukil dari Kitab “Syarhus Sunnah” karya Imaam Al Baghowy رحمه الله)

(69) Menyikapi Risaalah

قال الإمام الزهري رحمه الله تعالى:
من الله الرسالة وعلى الرسول البلاغ وعلينا التسليم

Artinya:

Berkata Imaam Az Zuhry رحمه الله:
Risaalah ini berasal dari Allooh سبحانه وتعالى. Kewajiban Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah menyampaikan. Kewajiban kita adalah pasrah.”

(Dinukil dari Kitab “Syarhus Sunnah” karya Imaam Al Baghowy رحمه الله)

(70) Harom Masuk Surga

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم :
ما من عبد يسترعيه الله رعية، يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته، إلا حرم الله عليه الجنة

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, Tidak seorang pun yang Allooh سبحانه وتعالى angkat dia sebagai pemimpin, kemudian ketika dia mati, dia dalam keadaan curang (dzolim) terhadap rakyatnya; maka Allooh سبحانه وتعالى haromkan baginya masuk surga.”

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 380, dari Shohabat Ma’qil bin Yasaar Al Muuzany رضي الله عنه)

(71) Sedikit Bekerja, Banyak Bicara

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ ». قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : « التَّحْلِيقُ

Artinya:

Dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, Akan terjadi di tengah ummatku perselisihan dan perpecahan; kaum yang mereka itu indah dalam berbicara dan buruk dalam beramal. Mereka membaca Al Qur’an, tidak melewati kerongkongannya, mereka keluar dari Islam seperti keluarnya panah dari busurnya, tidak lagi kembali ke tempat semula. Mereka adalah sejahat-jahat makhluk. Berbahagialah siapa yang memerangi mereka, atau yang diperangi. Kaum tersebut menyeru pada Kitab Allooh سبحانه وتعالى, padahal mereka bukan sama sekali bagian darinya. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka Allooh سبحانه وتعالى berhak menolongnya memerangi (kaum tsb).”
Para Shohabat bertanya, “Ya Rosuulullooh, apa tanda-tanda mereka?
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Kepalanya botak.”

(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4767, dan Imaam Ahmad no: 13338, dan Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth berkata bahwa sanadnya shohiih)

(72) Meruqyah Diri Sendiri

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِى الْعَاصِ الثَّقَفِىِّ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَعًا يَجِدُهُ فِى جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Artinya:

Dari ‘Utsman bin ‘Abil ‘Ash Tsaqoofy رضي الله عنه, bahwa beliau mengadu kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan sakit yang dideritanya pada tubuhnya.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab kepadanya, “Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit, lalu bacalah “Bismillaah (Dengan nama Allooh)” (3X), dan bacalah 7X “A’uudzubillaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (Aku berlindung kepada Allooh dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang kualami dan aku menghindar darinya)”.

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5867)

(73) Kiat Menghindar Dari Bala’

عن عُثْمَانَ ابْنَ عَفَّانَ – يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُمْسِىَ

Artinya:

Dari ‘Utsman bin Affaan رضي الله عنه berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang membaca “Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma’a ismihi syai’un fil ardhi wa laa fissamaa’i wa huwa as samii’u al ‘aliimu (Dengan nama Allooh yang tidak akan dapat memberi bahaya sesuatu apa pun bersama nama-Nya di bumi maupun di langit, dan Allooh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)” (3X), maka dia tidak akan terkena Bala’ mendadak hingga pagi hari, dan barangsiapa membacanya di pagi hari 3X, maka dia tidak akan dikenai bahaya mendadak hingga petang hari.”
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 5090 dan Imaam At Turmudzy no: 3388)

(74) Imunisasi Generasi Dari Syaithoon

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

Artinya:

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
Seandainya seorang dari kalian ketika hendak mendatangi (berjima’) dengan istrinya, lalu berdoa sebelumnya “Bismillaah Alloohumma jannibnaasy syaithoona wa jannisbisy syaithoona maa rozaqtanaa (Dengan nama Allooh, ya Allooh, jauhkanlah kami dari syaithoon dan jauhkan syaithoon dari apa yang Engkau karuniakan pada kami)”.

Maka sesungguhnya, jika ditakdirkan dari keduanya itu anak maka syaithoon tidak bisa membahayakannya selamanya.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 7396 dan Imaam Muslim no: 3606)

(75) Menyikapi Kesalahan

قال ابن المبارك المؤمن يطلب المعاذير و المنافق يطلب العثرات

Artinya:

Berkata Imaam ‘Abdullooh bin Al Mubaarok رحمه الله, “Seorang mu’min mencari permakluman, sedangkan seorang munafiq mencari cacat.”
(Dinukil dari Kitab “Ihya ‘Ulumuddiin” karya Imaam Al Ghodzaly رحمه الله)

(76) Mujaahirun

عن أَبَي هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Setiap ummatku selamat kecuali Al Mujaahirin, dimana termasuk bagian dari Mujaahirin adalah seseorang mengamalkan suatu amalan di waktu malam, dimana pada waktu pagi Allooh سبحانه وتعالى telah tutupi aibnya, lalu orang itu mengatakan “Ya Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu”; semalam Allooh سبحانه وتعالى tutupi aibnya, dan di pagi hari dia singkap apa yang telah Allooh سبحانه وتعالى tutupi.”

(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6069)

(77) Cinta Al Qur’an

وقال عثمان بن عفان: لو طهرت قلوبنا ما شبعت من كلام ربنا

Artinya:

Berkata ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه, “Seandainya hati-hati kita bersih, maka dia tidak pernah akan merasa kenyang dengan firman Allooh سبحانه وتعالى.”
(Dinukil dari “Al ‘Aadaab Al Islaamiyyah Linnaasyi’ah” karya Muhammad Khoyr Faathimah)

(78) Berlindung dari Tetangga yang Buruk

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول :  اللهم إني أعوذ بك من جار السوء في دار المقاومة فإن جار البادي يتحول 

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berdo’a,”Ya Allooh, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jelek di negeri pemukiman. Sesungguhnya tetangga yang tidak tetap itu berpindah-pindah.”
(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban no:1033, berkata Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth sanad hadits ini Hasan)

(79) Honor Pelacur dan Dukun

عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن ثمن الكلب ومهر البغي وحلوان الكاهن

Artinya:

Dari Abu Mas’uud Al Anshoory رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melarang:
1. Nilai jual beli anjing
2. Hasil honor pelacuran
3. Uang bayaran dukun.
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2122)

(80) Diantara Penghapus Dosa

عن أبي مسعود الأنصاري عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya:

Dari Abu Saa’id Al Khudry dan Abu Hurairoh رضي الله عنهما, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidaklah rasa capai, sakit, bingung, sedih, luka dan gundah menimpa seorang Muslim, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allooh سبحانه وتعالى hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5642 dan 5643)

(81) Anti Pengangguran

قال عبد الله بن مسعود إني لأبغض الرجل أن أراه فارغا ليس في شيء من عمل الدنيا ولا في عمل الآخرة

Artinya:

‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه berkata, Sungguh aku benci seorang yang aku lihat menganggur, tidak bekerja dalam urusan dunia dan tidak bekerja dalam urusan akhirat.

(Dikutip dari “Shifatush Shofwah” no: I/414 karya Ibnul Jauzy رحمه الله)

(82) Nasehat Ali bin Abi Thoolib kepada ‘Umar bin Al Khoththoob # 1

عن ابن عباس قال : قال عمر لعلي : عظني يا أبا الحسن قال : لا تجعل يقينك شكا ولا علمك جهلا ولا ظنك حقا واعلم أنه ليس لك من الدنيا إلا ما أعطيت فأمضيت وقسمت فسويت ولبست فأبليت قال : صدقت يا أبا الحسن

Artinya:

Dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه, beliau berkata, “’Umar bin Al Khoththoob رضي الله عنه berkata kepada Ali رضي الله عنه: “Berilah aku nasehat, wahai Abul Hasan.”
Maka berkatalah Ali bin Abi Thoolib رضي الله عنه,
Janganlah jadikan yakinmu ragu. Janganlah jadikan ilmumu bodoh. Janganlah jadikan prasangkamu benar. Dan ketahuilah, bahwa kamu tidak berhak dari dunia ini kecuali dari apa yang diberikan kepadamu, lalu engkau menerimanya, lalu engkau bagi, lalu engkau sama ratakan, lalu engkau pakai, lalu rusak.”

Berkata ‘Umar bin Al Khoththoob رضي الله عنه, “Benar engkau, wahai Abul Hasan.”
(Dari Kitab “Mukhtashor Tariikh Dimasyqo” karya Ibnu Mandzuur رحمه الله)

(83) Nasehat Ali bin Abi Thoolib kepada ‘Umar bin Al Khoththoob # 2

عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه أنه قال لعمر : يا أمير المؤمنين إن يسرك أن تلحق بصاحبيك فأقصر الأمل وكل دون الشبع وانكس الإزار وارفع القميص واخصف النعل تلحق بهم

Artinya:

Dari Ali bin Abi Thoolib رضي الله عنه, bahwa beliau berkata kepada ‘Umar رضي الله عنه:
Wahai Amiirul Mu’miniin, jika engkau senang menyusul kedua Shohabatmu (– maksudnya: Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه – pent.) maka:
1. pendekkan angan-anganmu
2. makanlah tidak kenyang
3. tinggikan sarung (celana) (– maksudnya: tidak isbal – pent.)
4. tinggikan baju (– maksudnya: tidak isbal – pent.)
5. pendekkan langkah sandalmu,
niscaya engkau bisa menyusul mereka.”
(Dari Kitab “Mukhtashor Tariikh Dimasyqo” karya Ibnu Mandzuur رحمه الله)

(84) Obat Al ‘Aiin

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

Artinya:

Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda, Al ‘Aiin (– penyakit yang disebabkan oleh sorot pandang mata yang dengki – pent.) adalah benar (kejadiannya). Seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir, maka ‘Aiin lah pendahulunya, dan jika kalian diminta untuk mandi (– sebagai obat bagi orang yang terkena ‘aiin-nya – pent.) maka mandi lah.”

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5831)

(85) Imunisasi dari Al ‘Aiin # 1

عن أبي سعيد قال : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يتعوذ من عين الجان وعين الإنس فلما نزلت المعوذتان أخذ بهما وترك ما سوى ذلك

Artinya:

Dari Abu Saa’id رضي الله عنه berkata, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berlindung dari ‘aiin jin maupun ‘aiin manusia. Ketika Al Mu’awwidzataan (Al Qur’an surat Al Falaq dan An Naas) turun, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencukupkan dengan keduanya dan meninggalkan dari selainnya.”

(Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’I no: 5494, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله)

(86) Imunisasi dari Al ‘Aiin # 2

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Artinya:

Dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنهما, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memohon perlindungan kepada Allooh سبحانه وتعالى untuk Al Hasan dan Al Husein رضي الله عنهما, seraya bersabda, “Sesungguhnya bapak (– Ibroohiim عليه السلام – pent.) kalian memohon perlindungan kepada Allooh سبحانه وتعالى untuk Isma’il عليه السلام dan Ishaq عليه السلام dengan membaca “ ‘A’uudzu bikalimaatillaahit taammat min kulli syaithoonin wa Haammaatin wa min kulli ‘aiinin laammatin (Aku berlindung pada firman-firman Allooh سبحانه وتعالى yang sempurna dari setiap syaithoon dan dari setiap yang berbisa serta dari setiap ‘aiin yang tercela).”

(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3371)

(87) Berlindung dari Tetangga yang Buruk

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول : اللهم إني أعوذ بك من جار السوء في دار المقاومة فإن جار البادي يتحول

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم membaca, Alloohumma inni ‘a’uudzu bika min jaarissuu’I fii daaril muqowwamati fa inna jaarobaadii yatahawwalu (Ya Allooh, sungguh aku berlindung kepadamu dari tetangga yang jelek, di negeri pemukimanku, sebab sesungguhnya tetangga musafir pendatang itu adalah berpindah-pindah).”

(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban no: 1033, dan menurut Syu’aib Al Arnaa’uth sanadnya adalah Hasan)

(88) Ketaqwaan dan Keilmuan Seseorang

عن أبي الدرداء قال لا تكون تقيا حتى تكون عالما ولا تكون بالعلم جميلا حتى تكون به عاملا

Artinya:

Abu Darda رضي الله عنه berkata, Engkau tidak akan menjadi orang yang bertaqwa sehingga engkau menjadi orang yang ‘aalim. Dan engkau tidak akan tampak indah (mulia) dengan ilmu itu sehingga engkau mengamalkannya.”

(Dari Kitab “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmy” karya Ibnu ‘Abdil Barr رحمه الله)

(89) Keutamaan Infaq

قال أبي أمامة : أيها الناس لأنتم أضل من أهل الجاهلية إن الله تعالى قد جعل لأحدكم الدينار ينفقه في سبيل الله بسبعمائة دينار والدرهم بسبعمائة درهم ثم إنكم صارون

Artinya:

Abu Umamah رضي الله عنه berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian adalah lebih sesat dibandingkan dengan kaum Jahiliyyah. Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى telah menjanjikan salah seorang dari kalian 1 dinar yang diinfaqkan di jalan Allooh سبحانه وتعالى untuk dilipatgandakan menjadi 700 dinar. Dan berinfaq 1 dirham dengan pahala 700 dirham. Namun walau demikian, kalian tetap enggan.
(Dari Kitab “Kanzul Ummal” oleh Al Muttaqii Al Hindy no: 44238)

(90) Lebih Baik daripada Jihad

عن علي الأزدي قال سألت ابن عباس عن الجهاد فقال ألا أدلك على ماهو خير لك من الجهاد تبني مسجدا تعلم فيه القرآن وسنن النبي صلى الله عليه وسلم والفقه في الدين

Artinya:

Dari Al Azdy رحمه الله berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas رضي الله عنه tentang Jihad.”
Beliau رضي الله عنه menjawab, “Maukah kutunjukkan padamu sesuatu yang lebih utama daripada Jihad?

Aku mengatakan, “Tentu.”
Beliau رضي الله عنه berkata, Engkau bangun masjid, lalu engkau ajari ilmu waris (faro’idh) didalamnya, juga sunnah dan pemahaman tentang dienul Islam.”

(Dari Kitab “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmy” oleh Ibnu ‘Abdil Barr رحمه الله)

(91) Mencari Ridho Allooh atau Ridho Manusia

عن عبد الوهاب ابن الورد عن رجل من أهل المدينة قال : كتب معاوية إلى عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها أن اكتبي إلي كتابا توصيني فيه ولا تكثري علي فكتبت عائشة رضي الله عنها إلى معاوية سلام عليك أما بعد فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من التمس رضاء الله بسخط الناس كفاه الله مؤنة الناس ومن التمس رضاء الناس بسخط الله وكله الله إلى الناس والسلام عليك

Artinya:

Dari ‘Abdul Wahaab bin Al Wirdh, dari seseorang diantara penghuni Madinah berkata, “Mu’awiyyah رضي الله عنه telah menulis kepada ‘Aa’isyah رضي الله عنها (ummul mu’minin) :
Tulislah padaku suatu tulisan yang didalamnya engkau menasehatiku dan jangan engkau perbanyak.”
Maka ‘Aa’isyah رضي الله عنها pun menulis kepada Mu’awiyyah رضي الله عنه
Selamat atasmu:
Amma Ba’du,
Sungguh aku mendengar Rosuulullooh
صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa mencari ridho Allooh سبحانه وتعالى dengan kemurkaan manusia, maka Allooh سبحانه وتعالى akan cukupkan dia dari beban manusia. Dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan murka Allooh سبحانه وتعالى, maka Allooh سبحانه وتعالى akan membiarkan dia tergantung pada manusia. Wassalamu’alaika.”
(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2414, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله)

(92) Iman dan Akhlaq Terpuji

قال عبد الله بن مسعود لا يبلغ عبد حقيقة الإيمان حتى يحل بذروته حتى يكون الفقر أحب إليه من الغنى والتواضع أحب إليه من الشرف وحتى يكون حامده وذامه عنده سواء قال ففسرها أصحاب عبد الله قالوا حتى يكون الفقر في الحلال أحب إليه من الغنى في الحرام والتواضع في طاعة الله أحب إليه من الشرف في معصية الله وحتى يكون حامده وذامه عنده في الحق سواء

Artinya:

Berkata ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, “Tidak akan seorang hamba sampai pada hakekat imaan sehingga menempati puncaknya (– puncak imaan –), kecuali :
1. Dia lebih mencintai faqiir, daripada mencintai kaya
2. Dia mencintai tawaadhu’, daripada kehormatan
3. Dia menganggap sama orang yang memuji dan mencelanya.”

(Dikutip dari “Shifatush Shofwah” no: I/417 karya Ibnul Jauzy رحمه الله)

(93) Tiga Jalan Selamat

عن عبد الله بن مسعود أتاه رجل فقال يا أبا عبد الرحمن علمني كلمات جوامع نوافع فقال له عبد الله لاتشرك به شيئا وزل مع القرآن حيث زال ومن جاءك بالحق فاقبل منه وإن كان بعيدا بغيضا ومن جاءك بالباطل فاردده عليه وإن كان حبيبا قريبا

Artinya:

Telah datang seseorang kepada ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه lalu berkata, “Wahai Abu ‘Abdurrohmaan, ajarilah aku kalimat yang padat tapi bermanfaat.
Maka ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه menjawab:
1. Janganlah engkau menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى
2. Selalu lah engkau bersama Al Qur’an dimanapun dan kapan pun
3. Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran, maka terimalah darinya, betapa pun orang itu sangat jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebaathilan, maka tolaklah darinya, betapa pun orang itu sangat dicinta dan dekat.”

(Dikutip dari “Shifatush Shofwah” no: I/419 karya Ibnul Jauzy رحمه الله)

(94) Tertawalah dan Menangislah

عن الحسن ومسلم ابن أبي عمران قالا قال سلمان أضحكني ثلاث وأبكاني ثلاث
قالوا وما هي يا سلمان قال أبكاني فراق الأحبة محمد وحزبه وهول المطلع عند سكرة الموت وموقفي بين يدي الرحمن لا أدري أساخط علي هو أم راض

قالوا وما أضحكك يا سلمان قال مؤمل الدنيا والموت يطلبه وغافل وليس بمغفول عنه وضاحك ملء فيه لا يدري ما يفعل الله به

Artinya:

Dari Al Hasan dan Muslim bin Abi ‘Imroon berkata, “Telah berkata Salman Al Faarisy رضي الله عنه : 3 perkara telah membuatku tertawa dan 3 perkara telah membuatku menangis.”

Mereka berkata, “Apa itu, wahai Salman?
Salman رضي الله عنه berkata, “Membuatku menangis:
1. Berpisah dengan orang-orang yang kucintai, Muhammad صلى الله عليه وسلم dan pengikutnya
2. Dahsyatnya saat sakarotul maut,
3. Berdiriku di hadapan Allooh سبحانه وتعالى, sedangkan aku tidak tahu, marahkah Allooh سبحانه وتعالى padaku atau ridho’.”
Mereka berkata, “Dan apa yang membuatmu tertawa, wahai Salman?
Salman رضي الله عنه menjawab, “
1. Berangan-angan panjang dalam urusan dunia, padahal mati sedang menjemputnya
2. Lalai, padahal dia tidak dilalaikan
3. Tertawa memenuhi mulutnya, sedangkan dia tidak tahu apa yang akan Allooh سبحانه وتعالى perbuat padanya.”
(Dari Kitab “Thobaqootusy Syaafi’iyyatil Kubro” karya Imaam Taajuddiin As Subki رحمه الله)

(95) Menghidupkan Bid’ah dan Mematikan Sunnah

قال ابن عباس رضي الله عنهما: ابن عباس قال ما يأتى على الناس من عام إلا أحدثوا فيه بدعة وأماتوا فيه سنة حتى تحيى البدع وتموت السنن

Artinya:

‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه berkata, Tidaklah suatu tahun datang pada manusia, kecuali mereka pada tahun itu mengada-ada perkara Bid’ah, dan mematikan Sunnah, sehingga Bid’ah menjadi hidup dan Sunnah menjadi mati.”

(Dinukil dari Kitab “As Sunnan Al Waaridatu Fil Fitany” karya Abu ‘Amr Ad Daany III/612 no: 277)

(96) Jiwa Tokoh

قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : فِي تَقَلُّبِ الْأَحْوَالِ تُعْرَفُ جَوَاهِرُ الرِّجَالِ

Artinya:

Seorang sastrawan berkata, “Melalui berbagai gejolak kehidupan, akan diketahui kesatriaan seseorang.”
(Dinukil dari Kitab “’Aadaabud Dunya Wad Diin” I/298)

(97) Hidup adalah Menit dan Detik

دقات قلب المرء قائلة له … … إن الحياة دقائق وثوان
فارفع لنفسك بعد موتك ذكرها … … فالذكر للإنسان عمر ثاني
تذكرة المتقين

Artinya:

Detak jantung seseorang mengatakan bahwa,
Sesungguhnya hidup hanyalah menit dan detik.
Maka, tinggikanlah sebutan dirimu setelah matimu.

Sebab sebutan bagi seseorang adalah umur kedua.”

(Dinukil dari Kitab “Tadzkirotul Muttaqin” I/173)

(98) Bagian dari Hidup

قال أبو الدرداء: ابنَ آدم طأ الأرض بقدمك فإنها عن قليل تكون قبرك؛ ابن آدم إنما أنت أيام، فكلما ذهب يوم ذهب بعضك؛ ابن آدم إنك لم تزل في هدم عمرك منذ يوم ولدتك أمك

Artinya:

Berkata Abud Darda رضي الله عنه,
Wahai anak Adam, injaklah bumi dengan kakimu. Sesungguhnya kuburanmu hanya sedikit.

Wahai anak Adam, sesungguhnya hidupmu adalah hari-hari. Setiap pergi satu hari, berarti pergi pula bagian dari harimu.

Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau dalam keadaan menghancurkan umurmu, sejak dilahirkan oleh ibumu.”

(Dinukil dari Kitab “Al Jauhar An Naqi Al Multaqith Min Zuhdil Baihaqy” I/28)

(99) Menangis dari 4 Perkara

عن عقبة بن أبي الصَّهباء قال: لما ضرب ابن ملجم – لعنة الله – أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضوان الله عليه دخل عليه الحسن رضوان الله عليه – وهو باكٍ – فقال: ما يبكيك يا بني ؟ قال: وما لي لا أبكي، وأنت في أول يوم من الآخرة وآخر يوم من الدنيا ؟! قال يا بني، احفظ عني أربعاً وأربعاً، لا يضرك ما عملت معهن. قال: وما هن يا أبَه ؟ قال: ” أغنى الغنى العقل، وأكبر الفقر الحمق، وأوحش الوحشة العُجب، وأكرم الحسب حسن الخُلق ” . قال: يا أبَهْ هذه الأربع فأعطني الأربع. قال: ” يا بني، إياك ومصادقة الكذاب؛ فإنه يقرّب عليك البعيد، ويبعد عليك القريب. وإياك ومصادقة الأحمق؛ فإنه يريد أن ينفعك فيضرك. وإياك ومصادقة البخيل؛ فإنه يقعد عنك أحْوج ما تكون إليه. وإياك ومصادقة الفاجر، فإنه يبيعك بالتافه

Artinya:

Dari ‘Uqban bin Abi Ash Shohbaa’ رضي الله عنه, berkata, “Ketika Ibnu Muljam (– semoga Allooh SWT mengutuknya –) memukul ‘Aamiirul Mu’miniin Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه, masuklah Hasan رضي الله عنه pada beliau dalam keadaan menangis, maka berkatalah Ali رضي الله عنه, “Apa yang menyebabkanmu menangis?
Hasan رضي الله عنه menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sedangkan ayahku di hari pertama menuju akherat dan hari terakhir dari dunia (– kematian –)?”
Ali رضي الله عنه berkata, “Wahai anakku, ingatlah dariku 4 perkara, niscaya 4 perkara tidak akan membahayakanmu jika kamu mengetahuinya.”
Hasan رضي الله عنه berkata, “Apakah itu wahai ayahku?
Ali رضي الله عنه menjawab,
1. Sekaya-kaya kekayaan adalah akal,
2. Seberat-seberat kemiskinan adalah dungu,
3. Sekejam-kejam kekerasan adalah ‘Ujub (Kagum diri),
4. Semulia-mulia keturunan adalah akhlaq yang baik.”

Hasan رضي الله عنه berkata, “Wahai ayahku, ini adalah 4 perkara, berikan padaku 4 perkara yang lainnya.”
Ali رضي الله عنه menjawab, “Wahai anakku,
1. Hindarilah olehmu berteman dengan pendusta, sebab dia mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat,
2. Hindarilah olehmu berteman dengan orang dungu, sebab dia menginginkan manfaat padamu lalu membahayakanmu,
3. Hindarilah olehmu berkawan dengan orang kikir, sebab dia akan mendiamkan dari sesuatu yang kamu membutuhkannya,
4. Hindarilah olehmu duduk dengan orang faasiq, sebab dia akan menjualmu dengan harga yang hina.”

(Dinukil dari Kitab “Lubaabul ‘Aadaab” karya ‘Usaamah bin Mungqidz I/4)

(100) Aneh Pada 4 Perkara

وفي صحف موسى عجبا لمن أيقن بالنار كيف يضحك عجبا لمن أيقن بالموت كيف يفرح عجبا لمن أيقن بالقدر كيف ينصب عجبا لمن رأى الدنيا وتقلبها بأهلها كيف يطمئن إليها

Artinya:

Sungguh aneh orang yang meyakini adanya neraka, namun bagaimana dia masih tertawa?
Sungguh aneh orang yang meyakini adanya kematian, namun bagaimana dia masih bisa bersenang-senang?
Sungguh aneh orang yang meyakini takdir, namun bagaimana dia masih bersantai-santai?
Sungguh aneh orang yang melihat dunia dan gelimangnya, namun bagaimana dia masih merasa tentram?

(Dinukil dari Kitab “Faidhul Qodiir” karya Imaam Al Manaawy I/124)

(101) Pesan Khidir untuk Musa عليه السلام

وقال موسى للخضر أوصني فقال : كن بساما ولا تكن غضابا وكن نفاعا ولا تكن ضرارا وانزع عن اللجاجة ولا تمش في غير حاجة ولا تضحك من غير عجب ولا تعير الخطائين بخطاياهم وابك على خطيئتك يا ابن عمران

Artinya:

Telah berkata Musa عليه السلام terhadap Khidir, “Berilah aku pesan.”
Maka Khidir berkata,
Jadilah engkau orang yang suka tersenyum, dan jangan menjadi orang yang pemarah.
Jadilah engkau orang yang banyak memberi manfaat, dan jangan menjadi orang yang menjadi sumber bahaya (madhorot).
Cabutlah sifat membangkang, dan jangan engkau berjalan tanpa keperluan.
Jangan engkau tertawa tanpa kekaguman.
Jangan engkau mempermalukan orang yang salah karena kesalahan mereka.
Menangislah terhadap kesalahanmu, wahai putra ‘Imron
.”
(Dinukil dari Kitab “Faidhul Qodiir” karya Imaam Al Manaawy I/124)

(102) Diantara Wasiat Luqmaanul Hakiim pada Putranya

قال لقمان لابنه : يا بني لا تكثر الضحك من غير عجب ولا تمشي من غير أرب ولا تسأل عما لا يعنيك ولا تضيع مالك وتصلح مال غيرك فإن مالك ما قدمت ومال غيرك ما أخرت

Artinya:

Telah berpesan Luqmaanul Hakiim pada putranya:
Wahai anakku, jangan engkau memperbanyak tertawa tanpa kekaguman.
Jangan engkau berjalan pada jalannya.
Jangan engkau bertanya tentang perkara yang tidak berguna untukmu.
Jangan engkau sia-siakan hartamu, sedangkan engkau memperbaiki harta orang lain.
Sesungguhnya hartamu adalah apa yang engkau segerakan, dan harta selainmu adalah apa yang engkau akhirkan
.”
(Dinukil dari Kitab “Faidhul Qodiir” karya Imaam Al Manaawy I/124)

(103) Akibat Banyak Tertawa

قال عمر رضي الله عنه: من كثر ضحكه قلت هيبته ومن كثر مزاحه استخف به ومن أكثر من شيء عرف به ومن كثر كلامه كثر سقطه ومن كثر سقطه قل حياؤه ومن قل حياؤه قل روعه ومن قل روعه مات قلبه

Artinya:

Berkata ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه:
Barangsiapa yang banyak tertawa, maka akan sedikit wibawanya.
Barangsiapa yang banyak guraunya, maka dengannya dia akan rendah.
Barangsiapa yang memperbanyak sesuatu, maka dengannya dia dikenal.
Barangsiapa yang banyak berbicara, maka akan banyak salahnya.
Barangsiapa yang banyak salahnya, maka akan berkurang malunya.
Barangsiapa yang berkurang malunya, maka akan berkurang pula waro’ (kehati-hatian dalam hidup)-nya.
Barangsiapa yang bekurang waro’-nya, maka akan mati hatinya
.”
(Diriwayatkan oleh Al Imaam Al Baihaqy dalam Kitab “Syu’abul ‘Iimaan” no: 5019

(104) Keutamaan Syahiid

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطَى الشَّهِيدُ سِتَّ خِصَالٍ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهِ يُكَفَّرُ عَنْهُ كُلُّ خَطِيئَةٍ وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُزَوَّجُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُؤَمَّنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ

Artinya:

Telah bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, Diberikan kepada seorang Syahiid 6 perkara pada saat darah pertamanya tercurah :

1. Dihapuskan seluruh kesalahannya
2. Diperlihatkan tempat duduknya didalam surga
3. Dijodohkan dengan bidadari
4. Diberi rasa aman dari ketakutan pada hari Kiamat
5. Diberi rasa aman dari adzab kubur
6. Diberi hiasan dengan hiasan iimaan
(Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 17783 dari Qois Al Judzaamy رضي الله عنه Menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth Hadits ini Hasan)

(105) Ambillah Jalan Orang Shoolih Sebelum Kalian

قال حذيفة بن اليمان رضي الله عنه : كل عبادة لم يتعبد بها أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم فلا تتعبدوا بها؛ فإن الأول لم يدع للآخر مقالاً؛ فاتقوا الله يا معشر القراء، خذوا طريق من كان قبلكم

Artinya:

Telah berkata Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه, Setiap Ibadah yang tidak pernah dikerjakan para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka jangan kalian beribadah dengannya, sebab generasi awal tidak meninggalkan kesempatan kepada generasi berikutnya, maka bertaqwalah kepada Allooh سبحانه وتعالى wahai segenap para Pembaca. Ambillah oleh kalian jalan orang shoolih sebelum kalian.”
(Dari Kitab “Al Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘Anil Ibtida’” karya Al Imaam As Suyuuthy رحمه الله)

(106) Qodho Sholat Yang Benar

قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Artinya:

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,Barangsiapa yang lupa suatu sholat atau ketiduran, maka kaffaarotnya (penghapusnya) adalah sholat ketika dia tersadar.”

(Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1600, dari Anas bin Maalik رضي الله عنه)

Dalam riwayat lain:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, Jika seorang dari kalian ketiduran dari sholat, atau tidak sadar meninggalkannya, maka sholatlah ketika menyadarinya, sebab Allooh سبحانه وتعالى berfirman, “Tegakkanlah sholat agar mengingat Aku”.”
(Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1601, dari Anas bin Maalik رضي الله عنه)

(107) Wujud Lain Dari Thooghuut

Pada suatu hari muncullah seorang pemuda yang gagah perkasa, sehingga Abu Hurairoh رضي الله عنه meriwayatkan bahwa para Shohabat berkata, “Seandainya pemuda ini menjadikan kepemudaan dan kegagah-perkasaannya di jalan Allooh سبحانه وتعالى.”
Didengarnya perkataan ini oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,

وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ قُتِلَ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُعِفَّهَا فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى التَّكَاثُرِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ الشَّيْطَانِ

Artinya:

Dan apakah di jalan Allooh سبحانه وتعالى itu hanya orang yang terbunuh (– syahiid — pent.)?
Barangsiapa yang berupaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya, maka dia di jalan Allooh سبحانه وتعالى.
Dan barangsiapa yang berusaha untuk menafkahi keluarganya, maka dia di jalan Allooh سبحانه وتعالى.
Dan barangsiapa berusaha untuk membersihkan hatinya (– berusaha mencari rizqy untuk mencukupi kebutuhan dirinya agar dia tidak meminta-minta kepada orang — pent.), maka dia di jalan Allooh سبحانه وتعالى.
Dan barangsiapa yang berusaha untuk berbanyak-banyak (– tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, dan ingin selalu menambah dan memperbanyak — pent.), maka dia di jalan syaithoon. Dan dalam riwayat yang lain: “… di jalan Thooghuut.”

(Hadits Riwayat Imaam Al Baihaqy dalam “As Sunnan Al Kubro” no: 18280 dan Al Imaam Ath Thobroony dalam “Al Mu’jam Al Ausath” no: 4214 dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam “Silsilah Hadits Shohiih” no: 2232 dan 3248)

(108) Cacian Terhadap Shohabat Rosuulullooh

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah bersabda, Janganlah kalian mencaci shohabat-shohabatku! Janganlah kalian mencaci shohabat-shohabatku! Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan menyamai satu raupan (– tangan — pent.) bahkan tidak setengahnya.”

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 2540, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

(109) Wahyu Syirik

قال الله تعالى: وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Artinya:

Allooh سبحانه وتعالى berfirman, Dan sesungguhnya syaithoon-syaithoon itu memberikan wahyunya kepada para walinya, agar mereka mendebat kalian; dan jika kalian taati mereka maka sesungguhnya kalian benar-benar menjadi orang-orang musyrik.
(QS. Al An’aam (6) ayat 121)

(110) Tidak Wajib Taat Dalam Ma’shiyat

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم : السمع والطاعة على المرء المسلم، فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية، فإذا أمر بمعصية؛ فلا سمع ولا طاعة

Artinya:

Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda, “Mendengar dan taat itu wajib atas seorang Muslim, baik dalam perkara yang dia suka, maupun yang dia benci; selama tidak diperintah dengan ma’shiyat. Jika diperintah ma’shiyat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar dan taat.”

(Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 7144, dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه)

(111) Ketaatan Yang Tidak Mutlak

Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

سَيَلِيأُمُورَكُمْبَعْدِي،رِجَالٌيُطْفِئُونَالسُّنَّةَ،وَيَعْمَلُونَبِالْبِدْعَةِ،وَيُؤَخِّرُونَالصَّلاَةَعَنْمَوَاقِيتِهَافَقُلْتُ : يَارَسُولَاللهِ،إِنْأَدْرَكْتُهُمْ،كَيْفَأَفْعَلُ؟قَالَ : تَسْأَلُنِييَاابْنَأُمِّعَبْدٍكَيْفَتَفْعَلُ؟لاَطَاعَةَ،لِمَنْعَصَىاللَّهَ

Artinya:

Akan mengurusi perkara kalian orang-orang setelah aku, dimana mereka memadamkan sunnah, mereka mengerjakan Bid’ah, mereka mengakhirkan sholat dari waktu-waktunya.

Lalu aku (‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه) bertanya, “Wahai Rosuulullooh, jika aku mengalami zaman mereka, bagaimanakah aku harus berbuat?

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Wahai Ibnu ummi ‘abdin, engkau bertanya apa yang harus engkau perbuat? Tidak ada ketaatan terhadap siapapun yang berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى.”

(HR. Ibnu Maajah no: 2865, di-Shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Shohiih Sunnan Ibnu Maajah)

(112) Semakin Kufur Semakin Merusak

(وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ)

Artinya:

Dan berkatalah Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi” – [QS. Ghafir (40) : 26]

📌 Perhatikan :

Namanya KUFUR itu, bukan melahirkan rasa aman, apalagi toleransi….
Justru mendatangkan rasa takut,
walaupun dia “TUHANNYA” sekalipun…..
Gejala takut itu hingga tampak dari membabi buta dari BURUK SANGKA, HINGGA MEMBUNUH Nabi sekalipun….
SEMAKIN KUFUR SEMAKIN MERUSAK…..
tetapi TIDAK TERASA….

(Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd)

(113) Sesat Menyesatkan

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالاً فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا)

Artinya

Dari ‘Abdullőh Bin Amr Bin Al ‘Ãsh رضي الله عنه, beliau berkata : “Aku mendengar Rosūlullőh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allőh سبحانه وتعالى tidak akan mencabut ‘ilmu sekaligus dari manusia. Akan tetapi, Allőh mencabut dan mengangkat ‘ilmu itu dengan mewafatkan para Ulama. Ketika tidak tersisa dari para Ulama, maka manusia mengambil pemimpin-pemimpin yang jãhil. Maka mereka pun ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ‘ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” – (HR. Al Bukhőry no: 100 dan HR. Muslim no: 2673)

📌 RENUNGAN :

Ulama Ahlus Sunnah yang faqīh ‘ilmu-nya, mereka adalah PENJAGA….
‘Ulama adalah PEMIMPIN,
‘Ulama adalah MUFTI (yang mengeluarkan Fatwa)….
Ummat menjadi KACAU, TERSESAT, bahkan KEHANCURAN DUNIA semakin menjemput adalah pada saat GHOIB-nya ‘ULAMA…..

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(114) Bergandeng Tangan dalam Merusak

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌا

Artinya:
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” – [QS. Al-Anfal (8) : 73]

📌 RENUNGAN :

Ibnu Katsĩr رحمه الله dalam tafsirnya berkata :

” ومعنى قوله “إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير” أي إن لم تجانبوا المشركين وتوالوا المؤمنين وإلا وقعت فتنة في الناس وهو التباس. الأمر واختلاط المؤمنين بالكافرين فيقع بين الناس فساد منتشر عريض طويل.

Jika kalian TIDAK MENJAUHI MUSYRIKIN, jika kalian TIDAK LOYAL PADA MU’MININ, maka FITNAH pastilah akan MENIMPA manusia, perkara menjadi bias dan mu’min akan bercampur baur dengan orang-orang kafir; sehingga mengakibatkan di tengah manusia terjadi kerusakan yang tersebar, merebak dan dalam waktu yang lama

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd ~)

(115) Kunci Hindari Petaka

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
رواه البخاري 6744 ومسلم : 2380 وأحمد :10127

Artinya

Telah menceritakan kepada kami Ismail: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Abu Zinad, dari Al A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi sholallõhu ‘alaihi wassallam, beliau bersabda: “Biarkanlah apa yang akau tinggalkan untuk kalian, hanyasanya orang-orang sebelum kalian binasa, karena mereka gemar bertanya dan menyelisihi Nabi mereka; jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian.”

📌 RENUNGAN :

Tidak mudah TIDAK MENYELISIHI NABI Dan TIDAK NGEYEL itu….
Sebagaimana…
Tidak mudah MENDAPAT TAUFIQ untuk SENANTIASA menapaki HIDUP ini SESUAI dengan TUNTUNAN NABI….
Karenanya….
Kebanyakan manusia menjadi TERSESAT…..

الله المستعان

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd ~)

(116) Yang Manakah Kita ?

عن أبي كَبْشَةَ الأَنَّمَارِيُّ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :
إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ،
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ،
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.
رواه الترمذي (2325) ، وأحمد (18031) وقال الترمذي : ” هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ” ، وصححه الألباني في “صحيح سنن الترمذي “.

Artinya:
Dari Abu Kabsyah Al Anmari ia mendengar صلى الله عليه وسلم bersabda:
Tiga Hal, aku bersumpah atasnya dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
(1) “Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah,
(2) Tidaklah seseorang diperlakukan secara lalim lalu ia bersabar, melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya, dan
(3) Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta, melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya — atau kalimat sepertinya.”

Dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Dunia itu untuk empat orang :

Pertama, seorang hamba yang dikarunia Allah harta dan ilmu, dengan ilmu ia bertakwa kepada Allah dan dengan harta ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah memiliki hak padanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik,

Kedua, selanjutnya hamba yang diberi Allah ilmu tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, ia berkata: ‘Andai saja aku memiliki harta, niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan‘, maka ia mendapatkan apa yang ia niatkan; pahala mereka berdua sama,

Ketiga, selanjutnya hamba yang diberi harta oleh Allah tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu menggunakan hartanya, ia tidak takut kepada Rabb-nya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah padanya, ini adalah tingkatan terburuk,

Keempat, selanjutnya orang yang tidak diberi Allah harta atau pun ilmu, ia bekata: ‘Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan mengelola hartanya‘, dan niatnya benar, dosa keduanya sama.”

Al Imãm At Turnudzy berkata hadits ini hasan shohīh dan syaikh Nashiruddin Al Albany juga men-shohīh-kannya.

📌 RENUNGAN :

HARTA, ILMU dan NIAT adalah begitu urgennya, sehingga memungkinkan kita menjadi BERKEDUDUKAN MULIA dalam pandangan Allőh سبحانه وتعالى.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(117) ADZAB ALLŐH YANG MANA YANG ANDA SUKA ?

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
[Surat Al-Ankabut 40]

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya HUJAN BATU KERIKIL dan diantara mereka ada yang ditimpa SUARA KERAS YANG MENGGUNTUR, dan diantara mereka ada yang Kami BENAMKAN KE DALAM BUMI, dan diantara mereka ada yang Kami TENGGELAMKAN, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi MEREKA LAH YANG MENGANIAYA DIRI MEREKA SENDIRI.”

RENUNGAN :

Telah berlalu pada ummat manusia berbagai kaum dan bersama itu pula telah Allőh utus berbagai Nabi dan Rosūl….

Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã dengan Rohmat-Nya menghendaki agar manusia selamat dan bahagia di dunia dan di Akherat….

Tetapi…

Karena manusia menolak Rohmat Allőh…
menolak pedoman Utusan Allőh….

Dan MEMPERTUHANKAN KEHENDAKNYA,
maka MURKA DAN PETAKA yang Allőh RASAKAN pada mereka.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(118) MASING-MASING

(قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ)
[Surat Al-Baqarah : 139]

“Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati“.

RENUNGAN :

Jika manusia menolak diseru untuk meyakini ISLAM sebagai PEDOMAN HIDUP, dan tetap pada KESYIRIKAN DAN KEKUFURANnya, maka PILIHANNYA adalah: BAGI KALIAN AMALAN KALIAN DAN BAGI KAMI JUGA AMALAN KAMI.

Jika kalian tetap di jalan itu maka kami akan tetap di jalan TAUHID.

Sudahkan kita berani berbeda karena memang keyakinan dan pedoman kita berbeda ?

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

(119) KARAKTER PERUSAK

(إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ)
[Surat Al-Qasas : 4]

Sesungguhnya FIR’AUN telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan MENJADIKAN PENDUDUKNYA BERPECAH-BELAH, dengan MENINDAS SEGOLONGAN DARI MEREKA, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

RENUNGAN :

Banyak yang TIDAK SADAR…
Bahwa FIR’AUN itu bukan sekedar PENGUASA,
tetapi PERUSAK BUMI

Perilakunya SEWENANG-WENANG…

MEMECAH BELAH RAKYATNYA BERKEPING-KEPING….

Yang satu seolah dimuliakan, yang lain di hinakan….

Yang satu diangkat, yang lain dijatuhkan….

Yang satu diakui, yang lain diusir…

Yang laki-laki dibunuh, yang perempuan diberi kehidupan…

Yang laki-laki dijadikan seperti perempuan, yang perempuan dijadikan seperti laki-laki….

Yang laki-laki tidak dikembangkan menjadi pemimpin dan ksatria, sementara yang perempuan diusung agar memimpin dan berkuasa…

maka…

FIR’AUN adalah PERUSAK

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(120) KITA TINGGAL MENGIKUTI

(وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ)
[Surat Az-Zumar : 55]

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.”

RENUNGAN :

Sadarlah…

ADZAB ALLŐH itu bisa saja menjemput anda TIBA TIBA…

Tanpa ANDA MENYADARINYA dan MEMPERHITUNGKAN SEBELUMNYA….

Anda ingin terbebas dari ancaman itu?
Anda ingin tenang dari ancaman itu?
Anda ingin selamat?
Anda ingin berakhir dari hidup ini dengan tenang dan penuh kebaikan?
Anda ingin hidup tenang dan tentram?

IKUTI ISLAM…
IKUTI AJARAN YANG BERASAL DARI ALLŐH…
IKUTI WAHYU…
IKUTI AL QUR’AN…
IKUTI MUHAMMAD ROSŪLULLŐH DENGAN SUNNAH-SUNNAHNYA…

ALLŐH YANG MEMBERI GARANSINYA PADA ANDA….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(121) LARANGAN PUTUS ASA DARI ROHMAT ALLŐH

(قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ)
[Surat Az-Zumar : 53]

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, JANGANLAH KAMU BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

RENUNGAN :

Seandainya kita adalah orang yang merasa dan mengaku “orang yang BERLEBIHAN TERHADAP DIRINYA”, dengan mengabaikan perintah Allőh, dan atau justru terjerumus ke dalam larangan Allőh….
dalam bentuk kekufuran atau kefasikan atau ma’shiyat apa saja….

Maka jangan panik…
Jangan putus asa….
Jangan putus harapan….

SEGERALAH MENGHADAP ALLŐH yang MAHA PENGAMPUN…
Atas SEGALA DOSA APAPUN….

Kita butuh untuk menyadari kesalahan dan dosa kita…

Kita dilarang putus asa dari kasih sayang Allőh…

Yakinlah bahwa dengan Maha kasih dan Maha sayang-Nya,
Allőh akan mengampuni SEGALA DOSA KITA….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

(122) LALAI

Allőh berfirman :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)

Hai orang-orang beriman, janganlah HARTAMU dan ANAK-ANAKMU MELALAIKAN KAMU dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” ~ (QS Al Munafiqūn ayat 9)

RENUNGAN :

Bisa dibayangkan kah? …

Allőh mengajak agar kita BERUNTUNG…..

Tapi….

Tidak sedikit manusia yang justru lebih memilih RUGI….

SEKEDAR MENGINGAT ALLŐH….
Berapa banyak dari kita justru LALAI….

Kita harus SADAR….

Di dunia ini banyak hal yang menyebabkan kita menjadi lalai dan jauh dari Allőh…

Dia yang kita CINTAI dan menyebabkan kita “bahagia”….
Tapi dibalik itu semua…
Jika kita tidak pandai,
maka kita akan terbuai lalu kita lupa akan Allőh

HARTA dan ANAK …

Keduanya bisa membuat kita lupa bahkan jauh dari Allőh….

Maka SADARILAH SELALU akan langkah kita,
menjauhkan ataukah mendekatkan kita pada Allőh ?

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(123) MENGOLOK-OLOK ?

(وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ)
[Surat At-Tawbah : 65]

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?

RENUNGAN :

BESAR RESIKO MENGOLOK-OLOK ALLŐH dan ROSŪLULLŐH dan atau ISLAM itu, sedemikian rupa bisa MENGELUARKAN seseorang DARI ISLAM-nya….

Tapi di negara seperti Indonesia ini, paling tergantung NIAT si pelakunya….

ALLŐH MAHA MENGETAHUI APA YANG DIRAHASIAKAN….

MENGOLOK-OLOK ATAU BUKAN, yang pasti ALLŐH yang akan membalasnya…
Tidak di dunia ini ya paling di Akhirat….

“Urusan demikian paling YANG BERWENANG lah yang MENGUSUTNYA….”

“Kalau kita jangan MEMBIKIN KUSUT diantara kita; kan SUDAH ADA JALUR masing-masing….”

“UKHUWWAH di atas jalan ALLŐH tetap harus DIJAGA. Walau tetap harus SALING BERPESANAN diantara kita….”

Yang pasti, setiap kita akan dimintai pertanggung-jawaban pada saat MULUT DIBUNGKAM…
dan SELURUH TUBUH yang dimintai PERSAKSIAN…

Dan hati-hatilah MULUT kita, perbuatan dan sikap kita; termasuk JEMARI kita yang kita suka mejet-mejet HP…

Semua itu akan dimintai PERTANGGUNGAN-JAWAB.

والله أعلم بالصواب

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(124) KRISIS AKHLAQ

 “زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي  . فَزَمَّلوهُ حتَّى ذهَبَ عنهُ الروعُ . قالَ لخَدِيجَةَ : ( أيْ خَدِيجَةُ ، مَا لِي ، لقدْ خَشِيتُ على نفسِي ) . فأخبرَهَا الخَبَرَ ، قالتْ خَدِيجَةُ : كلَّا ، أَبْشِرْ ، فواللهِ لا يُخْزِيكَ اللهُ أبدًا ، فواللهِ إنَّكَ لَتَصِلُ الرحِمَ ، وتصدُقُ الحديثَ، وتَحْمِلُ الكَلَّ ، وتَكْسِبُ المَعْدُومَ ، وتَقْرِي الضَّيْفَ ، وتُعِينُ على نَوَائِبِ الحقِّ “.

Sepulangnya Rosūlullőh Sholallőhu ‘alaihi wassallam dari Gua Hira menerima Wahyu, beliau pulang ke rumahnya dan mengatakan kepada Khodījah rhodiyallőhu ‘anha — istrinya, “Selimuti aku, selimuti aku…”

Dan pada saat diselimuti oleh Khodijah, beliau Sholallőhu ‘alaihi wassallam mengatakan, “Wahai Khodijah, apa yang terjadi pada diriku?… Aku takut terjadi sesuatu pada diriku…”

Lalu Khodijah rhodiyallőhu ‘anha seraya menyahut, “Tidak… Justru, demi Allőh, Allőh sama sekali tidak akan menghinakanmu. Demi Allőh, engkau adalah orang yang MENYAMBUNG SILATURROHIM, BENAR DALAM BERBICARA, TAHAN UJI, MEMBANTU ORANG yang LEMAH, MENGHORMATI TAMU & MENOLONG KEBENARAN.”

Hadits yang diriwayatkan dari ‘Ã’isyah rhodhiyallőhu ‘anha, dan diriwayatkan oleh Al Imãm Al Bukhőry no: 4953 ini, menampakkan kepada kita bahwa inilah KARAKTER MANUSIA PILIHAN, bahkan sebelum menjadi Nabi & Rosūl.

Kita telah menjadi Muslim sekian lama…

Apakah karakter dan sifat ini telah ada, menjadi bakat setiap kita ?

Setelah menjadi Muslim, pastinya sifat dan karakter itu semestinya lebih dan menonjol…

Akan tetapi…

Jika ada seorang Muslim yang justru tidak ada dari sikap-sikap diatas, berarti….

Kemanusiaannya telah tercemar,
sebelum ke-Islaman-nya.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(125) AKIBAT KEBODOHAN

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ãsh, beliau berkata:
“Aku mendengar Rosūlullőh shollallőhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allőh tidak akan mencabut ‘ilmu begitu saja dari manusia, akan tetapi Allőh mencabut ‘ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama, sehingga bila tidak lagi tersisa seorang ‘ãlim pun maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, kemudian ketika mereka (pemimpin itu) ditanya maka mereka berfatwa tanpa ‘ilmu, sehingga menyebabkan mereka sendiri sesat dan menyesatkan orang lain.”
(~ HR Al Bukhőry no: 86 dan Muslim nomor: 2673 ~)

RENUNGAN :

KEBODOHAN adalah SUMBER PETAKA.

Kebodohan telah menjadikan tuannya sebagai korban…
Karena bukannya menyelamatkan…
Malah menyesatkan…

Kebodohan telah menyebabkan korban terhadap orang lain,
karena orang lain juga menjadi disesatkan…

Orang yang bodoh,
betapapun niat baiknya tidak dapat diharapkan terjadi perbaikan…
Bahkan yang pasti adalah bukan memperbaiki,
akan tetapi justru merusak…

Bukan saja sekedar merusak bumi seisinya,
akan tetapi bahkan merusak akheratnya…

Jika manusia sesat…
Berarti dia celaka…

Jika dia celaka…
Dunia sengsara,
Akherat pun neraka…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(126) PRASANGKA PENYEBAB RUGI

Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman dalam QS. Fushshilat (41) ayat 20-23 :

حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ * وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ * وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ * وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

(20) “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka; pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan.
(21) Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ” Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?”
(Kulit) mereka menjawab, “Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allőh, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dia lah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.
(22) Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu; bahkan KAMU MENGIRA ALLŐH TIDAK MENGETAHUI banyak tentang APA YANG KAMU LAKUKAN.
(23) Dan ITU ADALAH DUGAANMU yang telah KAMU SANGKAKAN TERHADAP TUHAN-MU, (DUGAAN itu) telah MEMBINASAKAN KAMU, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang merugi.

RENUNGAN :

Orang kãfir mengira bahwa prasangka mereka adalah benar.

Mereka mengira bahwa di dunia ini boleh semau sendiri….

Mereka mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan setelah mereka mati….

Mereka mengira bahwa tubuh mereka, pendengaran mereka, penglihatan mereka; bahkan kulit mereka akan menjadi hancur, punah; lalu tidak bisa berbicara…

Mereka mengira bahwa kehidupan di dunia ini tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban….

Mereka mengira bahwa surga itu mereka yang menentukan….

Mereka mengira bahwa apa yang mereka sembunyikan di dalam dada mereka adalah suatu kebenaran…

Mereka mengira bahwa perbuatan mereka, ulah mereka, makar mereka, rencana jahat mereka, kedzoliman mereka tidaklah diketahui oleh Allőh Subhãnahu wa Ta’ãla…

Akhir dari prasangka yang buruk dan salah ini akan justru menjerumuskan mereka ke dalam api neraka...

Na’ūdzu billãhi min dzãlik…

Maka ambillah ibroh,
Wahai kaum Muslimin…

Dan jangan mengambil ibroh dari orang kãfir

Jadikanlah Al Qur’an dan Sunnah Muhammad Rosūlullőh sholallőhu ‘alaihi wassallam sebagai sumber panduan dan pembimbing hidup yang lurus dan yang pasti akan membuat kita selamat…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd ~)

(127) KONSISTEN

(إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ)
[Surat Fussilat ayat 30]

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allőh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allőh kepadamu“.

(إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
[Surat Al-Ahqaf ayat 13 – 14]

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allőh”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

RENUNGAN :

Di Dunia anda akan BEBAS dati TAKUT MENGHADAPI MASA DEPAN….

Bahkan bebas dari SEDIH SAAT ANDA INGAT MASA LALU…

Bahkan KEDUANYA akan anda raih di akherat lebih sempurna…

Semuanya anda dapat raih dengan KONSISTEN…

Nyatakan dengan HATIMU, dengan LISANMU dan dengan BUKTI NYATA AMALMU….
Bahwa hanya ALLŐH adalah TUHAN-mu…

Jangan PLINTAT-PLINTUT….
Jangan MENCLA-MENCLE…
Jangan PLIN-PLAN…
Dan jangan TENGOK KIRI DAN KANAN….

Karena…

JALAN LURUS itu BUKAN LEBIH DARI SATU….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(128) PENYESALAN ORANG YANG TIDAK MENTAATI ROSŪL

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا * وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا * رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
[Surat Al-Ahzab ayat 66 – 68]

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul“.
Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar“.

RENUNGAN :

MAU ???…

Kalau sudah Allőh adzab terlebih dahulu di dalam adzab neraka, BARU MENYESAL ???…

TIDAK SEDIKIT orang yang mengatakan, “Susah-susah amat…. KITA TA’ATI saja PEMBESAR DAN PEMIMIPIN kita…. Kan mereka yang akan mempertanggung-jawabkan perkara kita dihadapan Allőh pada HARI PEMBALASAN?….

TAQLID itu memang PRAKTIS dan MUDAH…

TAQLID itu memang TIDAK RUWET…

TAQLID itu TINGGAL IKUT, lalu AMAN…

TAQLID itu TIDAK PERLU BELAJAR….

TAPI, renungkan AKIBATNYA…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(129) PERBUATAN KEJI ini adalah ISROF, IJROM dan ‘ÃDY

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ * إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ * وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ * فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ * وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ
[Surat Al-A’rőf ayat 80 – 84]

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji (fãhisyah) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu syahwatmu (kepada mereka), bukan kepada wanita. Kamu ini benar-benar adalah kaum yang melampaui batas.
Jawab kaumnya tidak lain hanyalah mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”.
Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya, kecuali isterinya; (karena) dia (istrinya) termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).
Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.”

Juga :

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ * وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ * قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ
[Surat Asy-Syu’arő ayat 165 – 167]

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,
dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas“.
Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir“.

RENUNGAN :

PERBUATAN KEJI ini telah DIHAPUS sejak KEROSŪLAN MUHAMMAD Sholallőhu ‘Alaihi Wassallam…

Kekejian ini BARU MUNCUL sejak masa KAUM NABI LUTH…

Kekejian ini belum pernah ada sebelum itu…

PELAKU KEKEJIAN ini oleh TUHAN SEMESTA ALAM disebutnya sebagai MUSRIF (berlebih-lebihan), MUJRIM (orang yang berdosa) dan ‘ÃDY (melampaui batas)….

PELAKU PERBUATAN KEJI INI justru MENUDING sok suci pada orang yang menasehatinya,
Bahkan MENGANCAM dengan MENGUSIR mereka dari tanah tumpah darahnya….

PERBUATAN KEJI ini MENGUNDANG ADZAB DAHSYAT PENUH MURKA dari Allőh Subhãnahu Wa Ta’ãlã….

Yaitu….

ALLŐH AKAN BALIK BUMI INI LALU MEREKA AKAN TERPENDAM DI DALAMNYA…
Bahkan akan DILEMPARI BATU DARI NERAKA….

KEKEJIAN ini adalah SEX YANG MENYIMPANG….
Dimana perjodohan bukan lah antara Laki-Laki dan Perempuan…
Akan tetapi MEREKA MEROBAHNYA menjadi PEREMPUAN DENGAN PEREMPUAN, dan LAKI-LAKI DENGAN LAKI-LAKI…

Marilah kita cegah dengan iman, ilmu, dan nahi mungkar….

SAYANGILAH DIRI DAN UMMAT MANUSIA….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. PD. ~)

(130) PEWARIS BUMI

(وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ)
[Surat Al-Anbiya’ : 105]

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shőlih“.

RENUNGAN:

Tidak sedikit kalangan mengira…

Bahwa bumi ini…
Dan atau langit dan jagat raya ini…
Terjadi dengan sendirinya…
Dan tidak ada yang memiliki dan menguasainya….

Karenanya…

Mereka SALING BEREBUT untuk menjadi pemilik dan penguasanya dengan cara apapun…

Tidak sedikit kalangan yang berambisi…

Untuk memusnahkan penghuni bumi lainnya…
Agar HANYA DIA yang boleh menikmatinya….

Tidak sedikit pula kalangan yang NGOYO MERAIH BENDA di dunia ini….

Sembari dia LALAI….
Yang penting meraihnya…
Yang penting menguasainya…
Bila perlu, hingga tujuh generasi dari turunannya…

Padahal segenap benda itu…
Ada yang mengawasi dan mengaturnya…

KETAHUI dan SADARI…

Bahwa BUMI dengan apa yang terkandung di dalamnya….
Dan apa yang terdapat di permukaannya…
Serta apa yang ada di atasnya…

HANYA akan ALLŐH wariskan pada HAMBA-HAMBA-NYA YANG SHŐLIH

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd. ~)

(131) MANUSIA DAN WAHYU

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
[Surat Al-An’am : 50]

Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?

RENUNGAN:

Jangankan selain Rosūl….

Rosūl sholallőhu ‘alaihi wassallam saja…
Beliau tidak mengatakan : “AKU MEMILIKI SIMPANAN ALLŐH”

Jangankan selain Rosūl….

Rosūlullőh sholallőhu ‘alaihi wassalam saja…
Beliau TIDAK MEMILIKI PENGETAHUAN TERHADAP YANG GHOIB…

Jangankan selain Rosūl…

Rosūlullőh sholallőhu ‘alaihi wassallam saja…
Beliau mengatakan: “AKU BUKAN MALAIKAT”….

Rosūlullőh sholallőhu ‘alaihi wassallam yang MA’SHUM (terjaga dari dosa)…
Beliau HANYA lah MENGIKUTI WAHYU….

Maka….

Mengapakah kita yang berpeluang banyak dosa…
Masih TIDAK MAU MENGIKUTI WAHYU?…

Masih MENAMBAHI dari apa yang terdapat dalam WAHYU?…

Masih MENGURANGI apa yang terdapat dalam WAHYU?….

Masih MENCURIGAI WAHYU?….

Masih MENCURIGAI ORANG-ORANG YANG BERUSAHA MENGIKUTI WAHYU?….

Masih MENCURIGAI ORANG-ORANG yang MENGAJARKAN WAHYU?…

Mengapakah…
Dan ada apakah kalian dengan dan TERHADAP WAHYU?…

Padahal WAHYU itu…
Dari ALLŐH Subhãnahu wa Ta’ãlå….

Apa yang kalian akan tuduhkan kepada YANG BERFIRMAN?….

SAMAKAH ORANG YANG “BUTA” DENGAN ORANG YANG “MELIHAT” ?…

Orang yang BERPEGANG TEGUH PADA WAHYU ADALAH ORANG YANG “MELIHAT”…

Dan sebaliknya….

ORANG YANG MENYELISIHI DAN ATAU MENOLAK WAHYU ADALAH ORANG YANG “BUTA”….

Yang BUTA adalah HATINYA…
Dan bukan buta MATA PENGLIHATAN-nya….

Duhai…
DIKEMANAKAN kah AKAL PIKIRAN ?

لا حول ولا قوة إلا بالله

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(132) PENGUNDANG PETAKA

(قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ)
[Surat Al-An’am : 47]

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?

RENUNGAN :

Bisa jadi ADZAB Allőh itu datangnya dengan TIBA-TIBA…
Atau…
Bahkan dengan NYATA DAN TERANG akan DITIMPAKAN….

Tetapi Allőh tidak akan membinasakan kecuali ORANG-ORANG yang DZOLIM….

Maka barangsiapa yang beriman, TAKUTLAH…
Lalu…
PATUHILAH Allőh…

Jika TAKUT dan PATUH itu LENYAP….
Maka itu merupakan sebuah tantangan terhadap YANG MAHA TAK TERKALAHKAN…

Jadi…

IMAN lah yang MENGAKIBATKAN KESELAMATAN dan KETENTRAMAN….

Sedangkan….

KESYIRIKAN dan KEDZOLIMAN lah pengundang PETAKA dan KESENGSARAAN.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd ~)

(133) WAHYU SYAITHŐN

Allőh berfirman:

(…وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ)
[Surat Al-An’am : 121]

…Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

RENUNGAN :

(1) Syaithőn itu mempunyai wali-wali (yatu mereka yang loyal kepada syaithőn)

(2) Wali Syaithőn adalah mereka yang selalu setia menyuarakan bisikan dan inspirasi syaithőn;

(3) Wali Syaithőn adalah mereka yang selalu mengajak kepada jalan yang menyelisihi tuntunan Allőh Subhãnahu Wa Ta’ãlã dan Rosūl-Nya sholallőhu ‘alaihi wasallam;

(4) Wali Syaithőn adalah mereka yang selalu men-jidal, mendebat dan ataupun menebar syubhat terhadap kebenaran yang berasal dari Allőh dan Rosūl-Nya;

(5) Mereka yang hanyut dalam bisikan ajakan ataupun syubhat syaithőn, adalah TERANCAM menjadi orang yang MUSYRIK.

(6) SYIRIK THŐ’AH adalah seseorang yang MENYEKUTUKAN KETAATAN-nya, dari ketaatan dan kepatuhan terhadap Allőh, menjadi ketaatan dan kepatuhan terhadap syaithőn.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd. ~)

(134) UJIAN, SADARKAH?

(إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا)
[Surat Al-Kahf : 7]

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.

RENUNGAN :

(1) segala sesuatu di DUNIA ini adalah PERHIASAN….
(2) Bumi dan isinya adalah UJIAN dan BALÃ’ untuk kita; akankah kita menjadi lebih mulia ataukah justru semakin terhina?
(3) Hidup ini untuk BERLOMBA dalam menggapai LULUS UJIAN…
(4) Amalan-amalan kita itu bertingkat-tingkat….

Ada amalan yang terbaik…
Ada amalan yang sekedar baik….
Ada amalan yang buruk…

Bahkan…

Ada amalan yang mengundang murka Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã….

Sadarkah kita?….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(135) CONTOHLAH MEREKA

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ ….
[QS. Al-An’ãm:90]

Mereka adalah orang-orang yang Allőh telah beri petunjuk, maka berqudwah lah dengan hidayah mereka.

RENUNGAN:

Dalam ayat sebelum ini, Allőh mengisyaratkan siapakah “mereka” yang dimaksud…

“Mereka” adalah orang-orang yang telah dikaruniai oleh Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã berupa Kitab, Hukum dan kenabian….

“Mereka” adalah para Nabi dan para Rosūl…

“Mereka” adalah orang-orang yang Allőh nyatakan diatas petunjuk Allőh yang benar…

Pada giliran berikutnya, Rosūl Sholallőhu ‘alaihi wassallam diperintahkan Allőh agar mengikuti “mereka”…

Dan sebagai ummatnya, kita diperintahkan oleh Allőh untuk mengikuti Nabi Muhammad Sholallőhu ‘alaihi wassallam…

Artinya, bahwa JALAN yang LURUS itu sama dengan MENGIKUTI AJARAN dan SYARI’AT Rosūlullőh Sholallőhu ‘alaihi wassallam
Dan…
MENYELISIHI AJARAN dan SYARI’AT-nya adalah sama dengan KESESATAN

Petunjuk yang lurus, yang merupakan petunjuk para Nabi, termasuk didalamnya Nabi Muhammad Sholallőhu ‘alaihi wassallam adalah:

1) Berpegang teguh dengan dīn (agama) yang benar yang berasal dari Allőh
2) Memelihara dan menjaga ayat-ayat yang terkandung dalam Kitab Allőh (Al-Qur’an)
3) Tegak menjalankan hukum/ syari’at-Nya
4) Mengikuti yang dihalalkan-Nya, serta menjauhi apa yang diharomkan-Nya
5) Mengamalkan apa yang diperintahkan Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã dan menghindarkan diri dari apa yang dilarang-Nya
6) Meniti pola hidup yang telah “mereka” jalani
7) Berakhlaq dan berperilaku yang terpuji

Inilah KUNCI KEUNGGULAN Rosūlullőh, sehingga beliau Sholallőhu ‘alaihi wassallam mencapai derajat tertinggi dan terkemuka di segenap Nabi dan Rosūl, serta menjadi penghulu bagi segenap orang-orang yang bertaqwa…

Oleh karena itu….

Jika kita berangan-angan untuk meraih apa yang “mereka” raih….

maka…

MENITI JALAN “MEREKA” adalah HARGA MATI

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(136) BULAN YANG PENUH KEUTAMAAN

Bulan yang penuh keutamaan mulai kita masuki…

Rosūlullőh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إذا كانَت أوَّلُ ليلةٍ من رمَضانَ صُفِّدتِ الشَّياطينُ ومَردةُ الجِنِّ وغلِّقت أبَوابُ النَّارِ فلم يُفتَحْ منها بابٌ وفُتِحت أبوابُ الجنَّةِ فلم يُغلَقْ منها بابٌ ونادى منادٍ يا باغيَ الخيرِ أقبِلْ ويا باغيَ الشَّرِّ أقصِر وللَّهِ عتقاءُ منَ النَّارِ وذلِك في كلِّ ليلةٍ

Artinya :
Jika malam pertama bulan Romadhőn tiba, maka :

(1) Syaithon dan para pembangkang dari kalangan jin dibelenggu,

(2) Pintu syurga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup,

(3) Pintu neraka ditutup dan tidak ada satupun yang dibuka,

(4) Dan ada penyeru yang menyeru: ‘Wahai pencari kebajikan, SAMBUTLAH….
Dan wahai pencari keburukan BERHENTILAH,

(5) Allőh memberi kesempatan bagi hamba-Nya untuk BEBAS DARI ANCAMAN ADZAB NERAKA dan itu SETIAP MALAM.

( HR. Ibnu Majah nomor: 1339 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه dan Syaikh Al Albãny menshohīhkannya)

HIKMAH :

Mari kita berlomba dalam BERBAGAI KETAATAN…

Semoga Allőh memberi kemudahan pada kita mnerima segala ibadah kita…
Menyempurnakan kekurangan kita…
Dan membebaskan kita dari ancaman adzab neraka…
Aamiiin

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(137) BIARKANLAH

(ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ)
[Surat Al-Hijr : 3]

BIARKANLAH mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka.

RENUNGAN :

1) Allőh perintahkan Nabi dan orang beriman agar MEMBIARKAN orang Kafir tenggelam dalam kenikmatan dunia dan berbagai angannya.

Walaupun yang demikian itu, kita TELAH BERUPAYA MENDA’WAHI MEREKA.

2) Sifat LALAI tenggelam dalam dunia dengan berbagai kesenangan dan kelezatannya; yang melalaikan akan IBADAH sebagai tugas utamanya, termasuk lalai untuk MELANJUTKAN PERJUANGAN ROSŪLULLŐH sholallőhu ‘alaihi wassallam adalah merupakan TASYABBUH terhadap ORANG-ORANG KÃFIR.

3) PANJANG ANGAN- ANGAN adalah selain sifat orang kãfir juga adalah sikap yang menyebabkan pelakunya berhaq akan MURKA ALLŐH pada hari Kiamat.

4) Jika ALLŐH Subhãnahu wa Ta’ãlã MEMBERI PEMBIARAN pada kita, itu artinya Allőh sudah mulai murka pada kita.

Hanya karena iman kita yang sudah kurang SENSITIF saja yang menyebabkan kita tidak menyadarinya.

5) BERIMAN pada ALLŐH dan HARI AKHIR adalah cerminan orang yang selalu GIGIH mengabdi pada Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã. Demikian pula perlu disadari akan hal yang sebaliknya.

SEMOGA MENJADI PELAJARAN

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd ~)

(138) IBLIS TERKUTUK

(قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ * قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ * وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ)
[Surat Al-Hijr : 33 – 35]

Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk
Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari Kiamat.

RENUNGAN :

1) ALLŐH Subhãnahu wa Ta’ãlã adalah PENCIPTA MANUSIA.
2) Asal manusia adalah dari tanah liat.
3) Iblis MEMBANGKANG ALLŐH.
4) ALASAN IBLIS membangkang, tidak lain kecuali dari PRASANGKA bahwa asal muasal dirinya adalah LEBIH MULIA dari asal muasal manusia.
5) Pembangkangan iblis menjadikannya berhak akan KUTUKAN (Rojīm dan laknat) Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã hingga hari Kiamat.
6) Sujud (simbol dan atau makna ibadah) itu bukanlah hanya sekedar gerak fisik dan ritual belaka, tetapi hakekatnya adalah KETUNDUKAN dan KEPATUHAN pada PERINTAH SANG PENCIPTA, yakni ALLŐH Subhãnahu wa Ta’ãlã….

Bukan Ka’bah-nya…
Bukan Hajar Aswad-nya…
Bukan MANUSIA ADAM-nya…

7) SOMBONG itu adalah sikap AKU lah YANG LEBIH BERHAQ, BUKAN KAMU….

Ada EGO…
Ada vonis berlandaskan PRASANGKA…
Dan ada PEMBANGKANGAN….

8) Sekedar berpikir bahwa itu DOSA dan atau HUKUM FIQIH, adalah awal bersikap yang DANGKAL.
Harus tumbuh dari kita adalah DARI MANA dan DARI SIAPAKAH SUMBER PERINTAH itu… ?
Semakin terasa Mulia dan Agung, maka semakin terasa BESAR GEMA dan KHARISMA perintah itu…

9) Jika Allőh yang menutup pintu Hidayah, maka TIDAK akan ditemukan pintu itu terbuka….
Dan jika Allőh MURKA, maka tidak akan ada kemampuan yang menyebabkannya PADAM….
SEMOGA HIDAYAH ALLŐH ADALAH CAHAYA PENERANG HIDUP KITA

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd ~)

(139) MAKAR YANG MENGGELEPAR

(قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ)
[Surat An-Nahl : 26]

Sesungguhnya ORANG-ORANG yang sebelum mereka telah MENGADAKAN MAKAR, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah AZAB itu kepada mereka DARI TEMPAT YANG TIDAK MEREKA SADARI.

RENUNGAN :

1) JARANG DISADARI bahwa Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã memberitau ummat Muhammad sholallőhu ‘alaihi wassallam, bahwa ORANG-ORANG KÃFIR itu karena bencinya pada Allőh dan pada Rosūl, termasuk pada Islam dan kaum Muslimin, maka mereka itu BERMAKAR.

2) MAKAR mereka itu bukan hanya sekarang….
Tapi sejak dahulu kala…

Bukan hanya yunior…
Bahkan sudah senior…
(~ dalam berbuat makar ~)…

Karena mereka itu juga mempelajari ADA APA DALAM ISLAM…

3) SEJARAH menjadi BUKTI bahwa MAKAR mereka itu justru KEHANCURAN bagi mereka sendiri….

Bukan mereka menjatuhkan Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã…
Namun malah MEREKA lah yang TERPENDAM oleh peradaban dan kebanggaan mereka sendiri…

4) KECANGGIHAN ORANG-ORANG KÃFIR itu sejak dahulu kala…
Dan akan seperti dahulu, mereka BERBANGGA dengan KECANGGIHAN mereka…

Akan tetapi….

Mereka TIDAK BERKUTIK untuk memprediksi ADZAB yang ALLŐH hadirkan ke hadapan mereka….

5) LALAI akan APA YANG telah ALLŐH nyata BUKTIKAN pada orang-orang yang memusuhi Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã…
Baik berupa bencana dan adzab…
Maka itu adalah bukti IMAN yang TAK BERDAYA….

Dan melalui MEDIA MEREKA….
TIDAK SEDIKIT MUSLIMIN dibuat TAK BERDAYA….

IBROH INI UNTUK MENJADI IBROH….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(140) KEBENARAN PENYEBAB KEPATUHAN

لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ ۚ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ * وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ * وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ * وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ * أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ ۚ بَلْ أُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
[Surat An-Nur : 46 – 50]

Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”

Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)“.

Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.

Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

RENUNGAN :

1) Ayat-ayat sudah Allőh turunkan.

2) Seseorang berada di jalan yang lurus adalah kehendak Allőh…

3) Diantara manusia ada yang MENYIKAPI SYARI’AT itu dengan KEIMANAN DAN KETAATAN…

Namun, diantara mereka juga bahkan ada yang murtad kembali pada TIDAK BERIMAN….

4) MURTAD karena saat mereka diseru untuk BERHUKUM dengan HUKUM ALLŐH,
justru sebagian mereka itu MENENTANG….

5) Karena mereka TIDAK MEMILIKI KEBENARAN, penyebab mereka semakin membangkang….

6) PENYAKIT HATI atau KERAGUAN atau BURUK SANGKA mereka bahwa Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã akan berbuat DZOLIM terhadap mereka, itu lah penyebab mereka semakin dzolim…

7) DZOLIM karena tidak memposisikan hati mereka dalam IMAN kepada Allőh…

DZOLIM karena tidak memposisikan hidup mereka dalam THŐ’AH kepada Allőh….

8) Sedemikian sistematis Allőh telah sajikan PEDOMAN ini….

TUNTUNAN terlebih dahulu…

Menyusul SERUAN agar dipatuhi….

Berikutnya adalah JANJI dan ANCAMAN…

Dan pada akhirnya adalah KEUTAMAAN atau KEADILAN….

9) HAWA NASFU yang terpedaya SYAITHŐN lah yang telah mencenderungkan seseorang untuk BERPALING…
Untuk MENYELEWENG….
Bahkan untuk KUFUR pada TUNTUNAN yang sebenarnya merupakan ROHMAT Allőh bagi mereka….

#SERINGLAH SETIAP KITA BERINTROSPEKSI

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(141) INNÃ LILLÃHI WA INNÃ ILAIHI RŐJI’UŪN

Musibah berupa banjir bandang di Garut…
Kembali mengingatkan kita, bahkan mengingatkan manusia…
Bahwa air adalah merupakan bagian dari tentara Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã…
Dia bergerak karena perintah Allőh…

Allőh perintahkan tentara-Nya, karena Allőh mengingatkan hamba-Nya…

Berimankah hamba-Nya… ?!
Bersyukurkah…. ?!
Taatkah… ?!

Atau justru…

Lagi-lagi kufur…
Lagi-lagi ma’shiyat…
Lagi-lagi menentang Allőh Penguasa alam semesta..

Seluruh alam jagad raya ini tunduk pada aturan Allőh..
Tidak ada yang bergerak, kecuali atas instruksi dari Pencipta-Nya…

Hanya manusia yang karena hawa bisa jadi menguasai; dialah yang lalai…..

Seolah Allőh tidak Melihat…
Seolah Allőh buta
Seolah Allőh tidak berdaya…

1437 tahun yang lalu, melalui Rosūl-Nya Muhammad Sholallőhu ‘alaihi wassallam
Telah diberitahukan….
Telah diceritakan….
Telah dikhobarkan…
Tentang berbagai peristiwa, agar akal manusia menjadi tunduk kepada Allőh…

Dan bukan justru menentang…
Bukan justru membangkang…

Bagi orang yang berakal, berbahaya menentang Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã…

Dan bagi orang jãhil (bodoh), beserta teman-temannya dari kalangan orang-orang kãfir,
atau dari kalangan orang-orang musyrikin…
Yang menganggap masih ada yang bisa menangkal bala’….
Menangkal rugi..
Menangkal bencana…
Menangkal marabahaya..
Selain daripada Allőh…

Ternyata…
Terbukti semua itu adalah PRASANGKA…

Saudara-saudaraku…

IMAN yang bisa menggerakkan nurani kita sebagai manusia…
IMAN yang bisa menggerakkan kita akan kemana jalur perjalanan kita…

Dunia memang terkadang membuat kita lalai dan terbuai…

Sehingga lupa bahwa kenikmatan yang ada di dalamnya adalah ujian…
Kenikmatan yang ada di dunia ini adalah tidak pernah lepas dari keluh dan kesah, resiko dan gundah serta galau…

IMAN akan mampu menentramkan, membahagiakan,
bahkan menjamin rasa aman..

Tidak mungkin Allőh menganiaya hamba-Nya yang setiap saat mengakui kesalahan dan dosa…
lalu kembali kepada Allőh, bermunajat kepada Allőh…

Mengakui kesalahan dan dosanya…
Mengejar ketertinggalan di masa lalu karena dosa yang telah menyelimuti…
Berencana dan bergegas memperbaiki diri di sisa usianya…

Sungguh manakah yang bisa menggetarkan sikap yang mulia itu…

Banjir bandang belum seberapa bila dibanding dengan dahsyatnya Hari Kiamat…

Dahsyatnya manusia menghadapi tuntutan pertanggungan jawab Robbul ‘Ãlamīn atas apa yang telah dia nikmati pada saat dia menghirup udara di dunia….

Semua akan ditanya…

Karena semua adalah Milik-Nya…
Dan semua adalah AMANAH di tangan kita….

Marilah kita SADAR…

Allőh menjanjikan keberuntungan bagi orang yang beriman….

Allőh menjanjikan rasa aman, tentram dan bahagia, bahkan hakiki…
Jangankan di dunia….
Di hari yang abadi,
Allőh hanya pilih yang berhak atas itu semua adalah hamba-Nya yang taat dan patuh pada-Nya….

Dan jikalau sebaliknya….
Maka….
Bukan sekedar bencana dan derita yang dia rasakan di dunia…
Bahkan di hari yang tak berujung akan penuh dengan duka dan siksa…

Karena seorang mengira bahwa dia akan memperdaya Allőh…
dengan cara lalai…
dengan cara ma’shiyat…
dengan cara meninggalkan apa yang diperintah-Nya…
dengan cara melanggar apa yang dilarang-Nya…
dengan cara menantang….
dengan cara memusuhi…..
atau dengan cara memerangi….

Sungguh sejarah membuktikan bahwa tidak pernah berhasil orang yang sombong terhadap Allőh….

Tidak ada…
dan tidak ada…

Hanya saja mengapa…
Mata kita tertutup,
dan hati kita lalai…
Minat kita tidak punya ketertarikan untuk membaca sejarah…

Sejarah yang memenuhi hari-hari di masa lampau…
Seharusnya menjadi pelajaran bagi hamba-Nya yang beriman….
yang ingin masih punya harapan di masa depan…

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ …

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal...”
[Surat Yusuf : 111]

Banjir, badai, kebakaran, tanah longsor, tsunami, dan sejenisnya….
dan atau lebih dahsyat darinya….
adalah sudah Rosūlullőh Sholallőhu ‘alaihi wassallam aba-abakan:
“Jangan ma’shiyat kepada Allőh….
Jangan kufur kepada Allőh….
Taatlah kepada Allőh..

Semua kebaikan, Rosūlullőh Sholallőhu ‘alaihi wassallam telah tunjukkan….
Semua pelanggaran telah Allőh ancam setiap pelakunya dengan siksa…

Namun syaithőn dianggap pandai telah memperdaya…
Sehingga dia lupa…
Seolah dia (manusia) yang menentukan bahagia dan selamatnya…

Semoga kejadian demi kejadian menjadikan kita pandai mengambil pelajaran…

Wassalamu’alaikum Warohmatullőhi Wabarokãtuh,

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd ~)

(142) “SAUDARA” ORANG KÃFIR

Kaum Munãfiq…
Mereka adalah saudara bagi orang-orang kãfir….

Orang munãfiq adalah bukan saudara bagi muslim…
Betapapun dia ‘casing’-nya, berpenampilan muslim….
Betapapun dia hidup di tengah muslimin….
Betapapun dia seolah lebih shõlih, atau sama shõlihnya jika dibanding dengan muslimin…..

Atau bahkan….

Betapapun orang munãfiq itu berbicara semanis madu….
Tetapi dia demikianlah keadaan sebenarnya…..

Orang munãfiq adalah senantiasa menampakkan keimanan dan keshõlihan…
Padahal di dalam hati mereka terkandung kekufuran dan kebusukan…

Maka kembalilah kepada setiap kita untuk berintrospeksi….

Siapakah yang sesungguhnya kita jadikan sebagai teman dan saudara di dalam kehidupan dan keseharian kita ???

Jika jawabannya, yang dianggap teman dan saudara adalah dari kalangan muslimun, mu’minun, dan shõlihun, maka kita adalah mu’min….

Dan sebaliknya, jika yang dianggap teman, saudara, penolong serta sahabat bagi kita adalah dari kalangan orang-orang kãfir; maka kita harus segera memohon ampunan kepada Allõh سبحانه وتعالى, dan memohon petunjuk Allõh سبحانه وتعالى; karena posisi yang demikian ini adalah justru rawan untuk berada di posisi sebagai orang munãfiq…..

Na’ũdzu billãhi min dzãlik.

Demikian jelas, bahwa orang munãfiq adalah saudara bagi orang kãfir….
Adalah menjadi suatu kaidah yang sangat mendasar….
Bahkan sebetulnya dia adalahakar daripada “Lã Ilãha Ilallõh”….

Kalau seseorang telah menyatakan syahadat bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benarkecuali Allõh سبحانه وتعالى, dan bahwa Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah utusan Allõh سبحانه وتعالى; maka merekat pada dirinya bahwa dia bersaudara dengan muslim….

Dan sebaliknya, berarti orang kãfir bagi dia bukanlah dianggap sebagai saudara….

Kita hendaknya mempelajari, menghayati dan merenungkan firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Hasyr (59) : 11, maka dengan terang Allõh سبحانه وتعالى menjelaskan kepada kita tentang identitas orang-orang munãfiq.
Allõh سبحانه وتعالى berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لإخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Artinya:

Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, ‘Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.’ Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta.”

Di dalam QS. Al Hajj (22) : 4, Allõhسبحانه وتعالى pun berfirman,

كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ تَوَلاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ

Artinya:

(Tentang setan), telah ditetapkan bahwa siapa yang berkawan dengan dia, maka dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.”

Ayat ini memberitakan kepada mereka yang senantiasa bergandeng-tangan dan menolong orang-orang dzolim, yang mengira bahwa jika mereka menolong orang dzolim, mensukseskan orang dzolim, berada disekitar orang dzolim; mereka akan memperoleh kejayaan….

Padahal Allõh سبحانه وتعالى berfirman, “Kutiba ‘alayhi annahu man tawalahu fa annahu yudhilluhu wa yahdĩhi ila ‘azhãbis-sa’ĩr”….

Allõh سبحانه وتعالى telah catat…

Allõh سبحانه وتعالى telah tetapkan kepada siapa yang menjadikan orang dzolim, apalagi orang kãfir sebagai teman dekat atau pemimpin

Maka sungguh dia akan menjadi orang yang akan disesatkan….

Karena yang menjadi teman dekat, teman setia orang dzolim dan orang kãfir; maka sahabatnya itu akan membawa dia menuju kepada adzab yang pedih…..

Na’ũdzu billãhi min dzãlik.

Betapa kita butuh hidayah dan bimbingan Allõh سبحانه وتعالى …..
Agar mata kita benar-benar terang melihat mana yang benar dan mana yang menyesatkan ….

Tidak sedikit orang yang pandangannya hanya sekedar dunia dan materi….
Dia bahkan lupa, apalagi menolak, menentang dan tidak meyakini tentang apa yang ada di sisi Allõh سبحانه وتعالى adalah lebih baik

Maka bagi mereka ini, terpeleset dan terperosok untuk menolong orang dzolim adalah alternatif di dalam hidup mereka….

Padahal kalau saja mereka beriman kepada Allõh سبحانه وتعالى, maka sungguh apa yang mereka upayakan itu justru akan menjerumuskan mereka sendiri ke dalam rugi yang nyata….

Jangankan di akherat, di dunia pun dia akan mulai merasakannya….

Karena Allõh سبحانه وتعالى menegaskan betapa PENOLONG ORANG DZOLIM itu sesungguhnya adalah TERTIPU….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(143) SADARKAH KITA ?

Kata-kata apa yang sering terucap dari mulut kita, dalam keseharian kita, atau bahkan sepanjang hidup kita…

Jika kita menghitung berapa kali suatu kata terucap di dalam Al Qur’an, tentu kita akan mengetahui apa sebenarnya hikmah dan rahasia sedemikian rupa Allõh سبحانه وتعالى mengulang kata-kata ini dengan sebanyak ini….

Ternyata kita akan temukan bahwa terbanyak kata yang terulang di dalam Al Qur’an adalah lafadz: الله (“ALLÕH”)…

Berapa kali lafadz الله (“Allõh”) ini diulang di dalam Al Qur’an?
Ternyata tidak kurang dari 2.697 kali…

Subhãnallõh, maka ini adalah sekaligus menjadi pelajaran…

Kalau saja setiap muslim setiap hari membaca Al Qur’an, maka bisa dipastikan ia akan mengucapkan lafadz الله (“Allõh”) ini berkali-kali…

Dan apa maknanya?

Artinya adalah diantaranya bahwa seorang muslim hendaknya yang sering terucap dari mulutnya adalah lafadz ini: الله (“Allõh”).

Atau dengan kata lain itu adalah dzikrullõh (mengingat Allõh)….
Sering-seringlah mengingat Allõh سبحانه وتعالى…..

Bahkan lebih bermakna lagi dari itu adalah bahwa setelah kita sedemikian sering membaca dalam Al Qur’an, setelah kita berusaha membiasakan memperbanyak lafadz ini dalam keseharian kita, maka itu berarti bahwa Allõh سبحانه وتعالى itu ma’bud….

Allõh سبحانه وتعالى adalah yang kita ibadahi…..
Ibadah artinya adalah taat…
Berarti seharusnya keseringan hidup kita, kebanyakan hidup kita adalah tidak lain kecuali beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى.

Apa arti kita banyak mengulang lafadz ini?

Tentu diantara hikmah dan maknanya adalah kita disuruh bukan sekedar mengingat lafadznya, namun justru lebih penting dari itu hendaknya seluruh hidup kita atau mayoritas hidup kita adalah diisi dengan beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى….

Sesuai dengan firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. Al An’aam (6) ayat 162,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya:
Katakanlah (Muhammad),“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allõh, Tuhan seluruh alam.”

Dengan demikian itu artinya setiap muslim harus menyadari dan menjadikan tekad dalam hidupnya bahwa hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى….

Dan diantara yang harus dia biasakan adalah seringlah mengingat Allõh سبحانه وتعالى dalam setiap gerak dan diam kita….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.~)

(144) NELANGSA

Terdapat dalam suatu sabda Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم :

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Artinya:

Tidaklah dua ekor serigala yang sedang kelaparan dilepas pada seekor kambing akan lebih rusak jika dibandingkan dengan ambisiusnya seseorang terhadap harta dan kehormatan.”[1]

Manusia berkejar-kejaran, dan berlomba….

Terkadang dia lalai, dia lupa, terkadang dia sadar…
Terkadang dia tega, bahkan untuk menginjak, menyikut, menyakiti, menganiaya saudaranya …
Yang penting dia yang harus menang…
Yang penting orang lain terkesampingkan…
Yang penting rekening dia gendut…
Yang penting dia meraih apa yang dia cita-citakan….
Yang penting dia kenyang….
Yang penting dia terhormat….

Tidak lagi berpikir bahwa dia akan mati…

Di dunia ini pasti tidak lama…
Dia harus menghadap Penciptanya…
Bahkan dia harus mempertanggungjawabkan apa yang pernah dia katakan dan apa yang pernah dia perbuat…

Kalau saja manusia menyadari…

Maka sungguh dia akan ngeri, takut dan membelalak…

Karena Allõh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Haqqoh ayat 28-29,

مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (٢٨) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (٢٩

Artinya:

(28) “Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. “
(29) “Kekuasaanku telah hilang dariku.

Tiadalah berguna baginya harta, kekuasaan, status maupun kehormatan…
Di Hari semua itu menjadi binasa….

Kalaulah akhir dari suatu perjalanan, ternyata itulah yang didapat…

Harta tidak dibawa…
Kekuasaan juga dia harus melepasnya….
Yang harus dihadapi adalah Allõh سبحانه وتعالى yang menciptakannya,
Yang membuatnya berawal dari lemah lalu perkasa, lalu dia menjadi lemah kembali…
Allõh سبحانه وتعالى yang akan mempertanyakan-nya…

Hanya orang yang tidak beriman lah yang tidak takut menghadapi Hari Ini (Akhirat)….
Sangat mudah bagi Allõh سبحانه وتعالى untuk menghinakan orang itu…

Betapapun kadang manusia menjadi lupa
Karena asyiknya di dunia menjadi orang yang terhormat….

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Lã hawlã wa lã quwwata illa billãh

[1] At Turmudzy, Sunan At Turmudzy, Riyaadh: Al Ma’aarif, I, 1417 H, 534 no: 2376

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(145) KELOMPOK ALLÕH LAH YANG AKAN MENANG

Allõh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Mujãdalah (58) ayat 22 :

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya:
Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allõh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allõh dan Rosũl-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Meraka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allõh keimanan dan Allõh telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allõh ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allõh (hizbullõh). Ingatlah, sesungguhnya golongan Allõh itulah yang beruntung.

📌 RENUNGAN:

Sejak dahulu kala dan terutama akhir-akhir ini….
Mereka yang memusuhi Allõh سبحانه وتعالى ….
Mereka yang memusuhi Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم …
Mereka yang memusuhi Al Islam…
Mereka yang memusuhi Al Qur’an…..
Mereka yang memusuhi orang-orang yang membenarkan Allõh سبحانه وتعالى ….
Mereka yang memusuhi orang-orang yang membenarkan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم ….
Mereka yang memusuhi orang-orang yang membenarkan Al Islam ….
Mereka yang memusuhi orang-orang yang membenarkan Al Qur’an ….
Dari berbagai penjuru….
telah terang dan jelas menampakkan permusuhan dan kebenciannya…

Wajar kalau seorang muslim tidak ber-simpatik…
Apalagi bersahabat…
Apalagi menggantungkan hidup dan nasibnya kepada mereka….

Bukankah dalam ayat diatas, Allõh سبحانه وتعالى telah menegaskan bahwa…
BUKAN….
Sungguh BUKAN ORANG YANG BERIMAN, orang yang menjalin kasih sayang dan cinta kasih terhadap orang-orang kafir….

BUKAN BAGIAN DARI BUKTI IMAN…
Bahkan bukan bagian dari bukti cinta kepada Allõh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم …
menjadikan musuh-Nya dan penentang-Nya sebagai orang yang dicintai….

Akal sehat yang mana, yang mau mencintai orang / obyek yang dibenci dan dimusuhi oleh “Yang diaku dicintainya (Allõh سبحانه وتعالى & Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم)” ?

Akan tetapi sungguh aneh…
Ada orang yang mengaku beriman….
Akan tetapi….
Dalam kenyataannya….
Ia berkasih sayang dan bahkan mencintai orang yang menjadi MUSUH dari “yang diaku dicintainya (Allõh سبحانه وتعالى & Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم)”….

Itu hanyalah bentuk PENGAKUAN CINTA YANG PALSU…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(146) JÃHIL YANG TAK DISADARI

Telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullõh,

Barangsiapa yang mempermasalahkan kaum mu’minin atas dosa yang mereka lakukan…
Sementara dia tidak mempermasalahkan orang-orang kãfir maupun orang-orang munãfiq atas kekufuran dan kemunãfiqan mereka…

Atau bahkan….

Justru menyanjung orang-orang kãfir dan munãfiq itu, serta memuji-muji mereka…

Maka sungguh yang demikian itu merupakan indikasi…
Bahwa dia adalah manusia yang paling JÃHIL (bodoh) dan paling ANIAYA….
Sekalipun kebodohan dan kedzolimannya itu belum membawa dia pada kekufuran dan kemunãfiqan.”

Dinukil dari:
Minhaj As Sunnah An Nabawiyyah” Jilid 4 halaman 373-374.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd ~)

(147) TIDAK SEKEDAR “INGGIH SUMUHUN”

Dari ummu Salamah رضي الله عنها, salah seorang istri Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ، فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ أَسْلَمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ. قَالُوا: أَلاَ نُقَاتِلُوهُمْ؟ قَالَ: لاَ مَا صَلَّوْا

Artinya:
Akan menjadi para Amir bagi kalian orang-orang yang kalian kenal dan kalian ingkari, maka barangsiapa yang membenci (– kedzoliman, kejahatan mereka – pent.) itu (dengan hatinya) maka dia telah berlepas diri, dan barangsiapa yang mengingkari dengan lisannya maka dia telah selamat. Akan tetapi barangsiapa yang ridho (puas) dan mengikuti (maka ia telah bersalah dan terancam tidak selamat).
Para sahabat bertanya, “Ya Rosũlullõh, tidakkah kita memerangi mereka?
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Tidak, selama mereka sholat”.
[HR. Muslim no: 1854 (63)]

Hadits ini memberikan pelajaran kepada kita agar menjadi RAKYAT YANG PRO-AKTIF….
Menjadi RAKYAT YANG PEKA….
Menjadi RAKYAT YANG SENSITIF…

Menjadi RAKYAT YANG TIDAK “INGGIH SUMUHUN”….
Menjadi RAKYAT YANG TIDAK HANYA SEKEDAR MENERIMA APA ADANYA….
Namun…
Menjadi RAKYAT YANG BERSPIRIT UNTUK TERWUJUDNYA PERBAIKAN….
Menjadi RAKYAT YANG MENGINGINKAN MA’RUF DAN MENGINGKARI KEMUNKARAN….

Dengan kata lain….

Hadits ini mendidik agar Muslim MENJADI ORANG YANG TIDAK SEKEDAR BERPANGKU TANGAN….
Tidak hanya sekedar memasrahkan nasibnya terhadap kebijakan para Amir dan para Penguasa….
Yang bahkan terhadap mereka (para Penguasa itu) justru berhak untuk dikenalkan apa itu ma’ruf, dan apa itu munkar…
Sehingga mereka (para Penguasa itu) dapat menjadikan ma’ruf tadi sebagai dasar untuk berpijak di dalam kekuasaannya;
Sebagaimana mereka mengetahui munkar sebagai hal yang harus dibasmi, dicegah dan ditindak ….

Menjadi rakyat tidaklah hanya sekedar ma’mum secara membabi buta….
Tetapi dia haruslah menjadi RAKYAT YANG KRITIS…

Rosũlullõh bahkan mengancam dengan isyarat, “Bahkan bagi mereka yang ridho dan mengikuti…”, maka Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم isyaratkan bahwa rakyat yang seperti ini justru terancam tidak selamat….

Sebelumnya sudah ada pernyataan dari Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bahwa siapa yang membenci (Amir yang dzolim itu) maka ia telah berlepas diri, dan siapa yang mengingkari Amir yang demikian berarti dia telah selamat…

Sebaliknya kalau dia tidak mengingkari (Amir yang dzolim itu) karena ridho dan mengikuti,
Berarti dia justru terancam sesat, dan celaka; karena tidak selamat….
Begitu juga kalau dia tidak membenci, dia ridho dan bahkan dia mengikuti (Amir yang dzolim itu), maka seolah Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم menyatakan bahwa rakyat yang seperti ini seolah menyatu dengan kemunkaran, dia mendiamkan kemunkaran…
Dan itu berarti kekacauan dan celaka…

Perlu perenungan….
Perlu hati yang lurus…..
Perlu bersih jiwa dari Hawa Nafsu…
Untuk sampai pada pemahaman yang benar….
Sehingga berkata dengan benar…
Bersikap dengan benar….
Serta mengajak orang dengan benar…

Dan itu semua adalah TAUFIQ dari ALLÕH سبحانه وتعالى ….

Oleh karena itu,
Hadits ini janganlah sekedar dibaca terjemahannya secara sekilas…
Melainkan harus penuh perenungan dan penghayatan….
Penuh pemahaman dan do’a…
Sehingga Allõh سبحانه وتعالى memberi taufiq pada kita…
Yang berujung pada selamat di dunia dan di Hari Akhir nanti….

Bahkan….
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم memang menjawab pertanyaan Shohabatnya, “Apakah kita perangi mereka ya Rosũl?
Jawaban Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, “Tidak, selama mereka sholat !”….
Ya, kita tidak memerangi mereka….
Kita harus patuhi tuntunan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم untuk tidak memerangi Pemimpin yang tidak lagi mengenal mana yang ma’ruf (yang baik) dan mana yang munkar (yang buruk)….

Namun…

Apatah kita tetap menjadi orang yang cerdas….
Manakala merekalah yang memerangi rakyatnya….
MEREKA YANG MEMERANGI….

Lalu, apakah sebagai rakyat kita cuma pasrah, serahkan jiwa dan raga pada Amir yang seperti itu ???…
Toh pada akhirnya, Amir itu tidaklah diatas Syari’at….
Apalagi kalau Amir itu lah yang menghalalkan darah kaum Muslimin….
Mendukung orang-orang kãfir untuk memusnahkan kaum Muslimin….

Maka bukanlah disikapi lagi sebagai “Muslim yang Fãsiq”….
Akan tetapi harusnya disikapi sebagai “Muslim tadinya, lalu sekarang menjadi Munãfiq (Nifaq yang besar)”….
Atau bahkan….
Jangan-jangan…
Jangan-jangan bisa jadi telah keluar dari Islam (Murtad) ?…
Na’ũdzu billãhi min dzãlik….

والله أعلمُ بالـصـواب

Semoga Allõh سبحانه وتعالى senantiasa melindungi kaum Muslimin….

(~ ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M Pd ~)

(148) MISI HIDUP MANUSIA

MASIH BANYAK manusia yang belum SADAR bahwa sesungguhnya hidupnya untuk menjadi HAMBA bagi ALLÕH Subhãnahu wa Ta’ãlã dan bukan menjadi hamba bagi KEMAUANNYA.

Renungkan QS. Adz-Dzariyat/51:56, Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

(149) KUALITAS HIDUP

KEHIDUPAN YANG BAIK adalah ketika rizki didapat dari yang HALAL, ketika jiwa penuh dengan QONA’AH (puas dengan apa yang diterima), ketika hidup dalam ketaatan pada Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã serta adanya kelezatan dalam beribadah pada-Nya, atau kehidupan dalam Syurga di esok hari. BUKAN sekedar dalam KELAPANGAN DUNIA.

Renungkan firman Allõh dalam QS. An-Nahl/16: 97.
Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًـا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَـنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚ  وَلَـنَجْزِيَـنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 97)

(150) KEBERKAHAN ATAU KEBINASAAN

Kunci KEBERKAHAN adalah IMAN dan TAQWA. Sebaliknya pengundang PETAKA dan ADZAB adalah KUFUR dan MENDUSTAKAN KEBENARAN ISLAM.

Renungkan QS. Al-A’rof/7: 96.
Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ  مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا  كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

(151) IMAN DALAM HIDUP MANUSIA

Sekedar nyawa dikandung badan, makan, minum dan bersenang-senang itu bahkan binatang merasakannya. Akan tetapi ber-ISLAM lah JATI DIRI MANUSIA yang SEBENARNYA.

Renungkan QS. Muhammad/47: 12.
Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ   ۗ  وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia), dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad 47: Ayat 12)

(152) CITA-CITA

Cita-cita penyebab manusia bergegas dan berlomba. Apakah cita-cita kita? Tidakkah kita belajar dari cita-cita Nabi Yusuf ‘alaihissalaamYa Allõh MATIKANLAH AKU DALAM KEADAAN MUSLIM dan  masukkanlah aku ke dalam kalangan orang-orang yang sholih.”

Perhatikan firman Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã:

(رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ)

[Surat Yusuf (12) : 101]
“Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.”

(153) AKHLAK

Sekedar akhlak dan perilaku, siapapun mungkin merealisasikannya; tetapi KETERPUJIAN dan KEMULIAAN menurut Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã HANYA ADA DALAM ISLAM.

Semua orang benci DUSTA. Semua orang suka KEJUJURAN. Tetapi hanya MUSLIM yang MEYAKINI bahwa DUSTA ADALAH DOSA DAN PETAKA, sedangkan KEJUJURAN adalah IBADAH DAN SURGA.

Nabi Muhammad sholallõhu ‘alaihi wassallam didustakan oleh orang-orang kafir, tapi beliau TERPUJI MENURUT ALLÕH.

Perhatikan firman Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã:

(وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ)

[Surat Al-Qalam : 4]
Dan sungguh engkau ya Muhammad berada di atas akhlak yang agung.”

154) TAKUT LUKA

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

(وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا)

Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana yang kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.
[QS. An-Nisa’ : 104]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rohimahullõh di dalam tafsirnya mengatakan:

Jangan kalian melemah…. 
Jangan kalian malas dalam berjihad menghadapi orang-orang kafir…..”

Jika kalian merasakan kepedihan…..
Sungguh mereka orang kafir pun merasakan kepedihan itu….

Yang berbeda adalah…
Mereka mencari dunia…..
Mencari materi…..
Mencari status….
Mencari sesuatu yang akan mereka tinggalkan…..

Sedangkan…..
Kalian mengharapkan sesuatu yang abadi…..
Kalian mengharapkan rahmat Allõh…..

Hina itu adalah rendah…..
Kedudukan hina itu artinya adalah tercela, buruk dan tidak baik….

Allõh mengisyaratkan bahwa dalam jiwa umat Islam ada gejala ini….
Sadarkah kaum muslimin bahwa mereka menyandang predikat ini ???
Sadarkah apa yang menyebabkan mereka HINA ???
Adakah cita-cita untuk mengakhiri nasib bak hina ini ???
Maukah mereka BERKORBAN tuk sekedar TERHINDAR dari HINA ini ???

Bahkan sadarkah bahwa MISI ROSŪL dahulu adalah menjadikan KALIMAH ALLÕH itu yang TERTINGGI ???

Sadarkah bahwa “mereka yang berpredikat mendapatkan ridho Allõhrodhiyallõhu ‘anhum adalah karena mereka itu telah merelakan harta dan jiwanya, agar mereka tidak menjadi kaum yang Hina ???
Agar Islam tidak hina ????
Bahkan agar “Lā Ilaha Ilallõh” menjadi yang paling mulia ????

Sakit yang membahayakan adalah sakit yang tidak dirasakan oleh penderitanya…..
Bahkan lebih parah…..
Menuding orang sakit dan dirinya bebas dari sakit, dan hanya orang lain yang perlu disembuhkan dari sakit…..

Kemenangan itu adalah karunia Allõh….
Kejayaan itu adalah anugerah Allõh……
Kalahnya orang kafir adalah karena keperkasaan Allõh….
Orang-orang kafir menjadi penghuni jahanam adalah karena keadilan Allõh….
Siapapun kita tak akan mampu membalas budi anugrah karunia dan kemuliaan Allõh….

Siapapun yang beramal sebiji atom kebajikan, dia pasti akan melihatnya…..
Dan Allõh akan menukarnya dengan keutamaan-Nya……

Sayang disayang kita sering memandang kelezatan, kenikmatan kebahagiaan itu hanya yang ada di depan mata……
Dan kerap kali melupakan apa yang Allõh janjikan lebih baik dan lebih abadi…..

Yang harus selalu diingat jika kalian merasa pedih…. 
Maka orang-orang kafir pun jangan dikira mereka tidak merasakan pedih….

Yang pasti, AKHIR dari TRANSAKSI kepedihan itu yang akan ALLÕH BEDAKAN…. 
Antara HAMBA-Nya dan MUSUH-Nya…..

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

155) MOHONKAN AMPUN UNTUK KAMI

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

(سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا ۚ يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا ۚ بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا)

Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan berkata kepadamu, Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami. Mereka mengucapkan sesuatu dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki bencana terhadap kamu atau jika Dia menghendaki keuntungan bagimu? Sungguh, Allah Maha Mengetahui dengan apa yang kamu kerjakan.[QS. Al-Fath : 11]

Dalam suasana yang riuh….
Tidak lama akan muncullah sosok yang mengatakan:
Berikanlah permakluman kepada kami…

Beribadah kepada Allõh adalah suatu hal yang biasa….
Tapi itu memang di sela kesibukan kami….
Tapi jika kami harus meninggalkan kesibukan kami….
Maka kami akan katakan: “Maaf kami sibuk....”

Sadarkah bahwa saat sibuk, Allõh tahu….
Saat tidak sibuk, Allõh pun tahu….
Sebagaimana saat sibuk tidak patut untuk menjadi alasan sibuk, Allõh juga mengetahui….

Sadarkah bahwa yang memiliki bahaya adalah Allõh….
Yang memiliki manfaat adalah Allõh….
Adakah yang mampu menghalangi sampainya keduanya atau salah satu dari keduanya, jika Allõh menghendaki ??

Jangan kalian kira…..
Jika kalian beralasan dengan sesuatu yang tidak patut menjadi alasan, maka Allõh pasti tahu ucapan kalian….
Putih hati kalian ataukah hitamnya, Allõh tahu….
Siapa yang berhak dari kalian mendapat manfaat…..
Siapa diantara kalian yang berhak mendapatkan bahaya, Allõh lah yang mengetahui….

Orang munafik mengira bahwa Allõh bisa mereka jadikan objek tipudaya…..
Mereka kira bahwa Allõh tidak berdaya….
Mereka tidak tahu bahwa yang mereka miliki berupa tipudaya, pastilah dihadapan Allõh tak akan mungkin berdaya….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

156) KARUNIA PAHAM

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

(فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ)

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rosūlullõh. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allõh dan mereka berkata, Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini. Katakanlah (Muhammad), Api neraka Jahanam lebih panas, jika mereka mengetahui.” [QS. At-Taubah : 81]

Diantara umat tidak sedikit yang tidak sadar bahwa bersenang-senang saat menyelisihi Rosūl dan syariatnya adalah sesuatu yang merugikan…..

Tidak sedikit dari umat ini yang tidak menyadari bahwa jihad adalah bagian dari syariat….
Suka atau tidak suka…..
Dan bahwa harta dan nyawa adalah modalnya…..

Mereka berkata :
Janganlah berjihad, karena cuaca sedang dingin“….
Apalagi jika terkena teriknya matahari….
Mereka akan berkata: “Sayangi dirimu dari cuaca yang panas“….

Pernahkah kita merasakan panasnya api dunia ???

Jika jawabannya bahwa api dunia adalah panas,
maka jahanam adalah lebih panas,
bahkan jauh amat sangat panas dibanding api dunia….

Kembali kita diuji tentang kepahaman……

Merasa senang saat menyelisihi Rosūl adalah hasil dari gagal paham…..
Menghalangi orang lain dari menunaikan tuntunan Rosūl adalah hasil dari gagal paham…..
Mengira bahwa teriknya matahari dan buruknya cuaca lebih ringan dari panasnya jahanam itu adalah juga hasil dari gagal paham….

Berapa banyak orang gagal paham….
Berapa banyak orang yang tidak paham atau salah paham…..
Betapa besarnya nilai “paham“…..
Paham adalah diantara karunia Allõh yang terbesar…..

Maka jangan jemu dan bosan….
Apalagi terputus memohon agar Allōh karuniakan dan anugerahi kita dengan “paham yang benar“….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

157) AGAR SELALU BERUNTUNG #1

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.[QS. Ali ‘Imran : 200]

Agar kalian selalu beruntung…..
Ya, agar kalian selalu beruntung…..

Setiap kita…
Jika ditanya apa yang anda cari…
Apa yang anda kejar…
Apa yang anda inginkan…
Apa yang anda cita-citakan…
Dan apa yang menjadi visi hidup anda…
Semua mereka pasti menjawab : INGIN BERUNTUNG…
Bahkan….
Ingin terbebas dari segala makna rugi….

Tetapi….

Tahukah kita apa yang harus dilakukan…..
Agar keberuntungan dan keuntungan dapat kita raih dengan hakiki dan penuh cinta dan ridho Allah ???

Sadarkah kita….
Bahwa BUKAN AKAL yang menjadi sumber utama untuk memastikan akan tercapainya keberuntungan yang kita kejar itu…..

Sadarkah kita…..
Bahwa BUKAN RASA, BUKAN KECENDERUNGAN yang menjadi petunjuk yang benar atas jalan yang harus ditempuh menuju tercapainya makna keberuntungan itu…..

Sadarkah kita…..
Bahwa PENGALAMAN dari orang ke orang BISA BERBEDA….
Bahwa PENGALAMAN BISA TIDAK BERLAKU dari zaman ke zaman lain….
Bahkan PENGALAMAN BISA BERUBAH, BISA BERBEDA dalam kondisi dan situasi pola yang berbeda….

Yakinkah kita…
Bahwa bagi orang yang beriman…
Petunjuknya dalam hidup ini….
Dan agar hidup ini menjadi berarti….
Menjadi kesempatan menuju teraihnya keberuntungan….
Menjadi terbebas dari rugi dan petaka….
Tidak ada yang lain, kecuali RUMUS dan RESEP ILAHI…..

Tahukah Anda….
Bahwa agar “kalian selalu beruntung” di dalam al-Qur’an…
Ternyata…
11 kali kalimat itu lah (QS. Ali ‘Imran : 200) yang selalu berulang di dalam al-Qur’an…

Menunjukkan sesuatu yang harus kita ketahui….
Kemudian…

Kita harus berusaha untuk menjalaninya….
Dan menitinya dengan penuh keyakinan dan kesabaran…..

Maka….
Marilah kita selalu merujuk…
Membaca….
Melihat….
Memperhatikan…..
Kemudian meyakini….
Dan istiqomah dalam menjalani petunjuk al-Qur’an…

Agar kalian selalu beruntung….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

158) AGAR SELALU BERUNTUNG #2 :KEBAJIKAN & KEBERUNTUNGAN

Allõh Subhãnahu Wa Ta’ãlã telah berfirman di dalam surat Al Hajj ayat 77 :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَ اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوْا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ  

Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj (22): Ayat 77)

Wahai orang-orang yang beriman…
Rukuklah kalian…
Sujudlah kalian…
Beribadahlah kalian kepada Allõh…
Dan…
Kerjakanlah kebajikan…
Mudah-mudahan kalian beruntung…

BERUNTUNG seperti yang dipahami oleh para ahli tafsir adalah SURGA….

Ya….
Jika seseorang dimasukkan oleh Allõh ke dalam surga-Nya…
Maka…
Itulah KEBERUNTUNGAN yang HAKIKI….

Manusia berusaha berdagang….
Lalu dia terbebas dari rugi…
Modalnya kembali….
Bahkan beruntung mungkin berlipat ganda…
Lalu dengan itu,
dia menjadi senang, kaya dan terhormat di mata manusia….
Beruntung karena dia mendapatkan apa yang dicita-citakannya…
Lalu orang-orang pun memeluknya dan mengucapkan selamat atas keberhasilan dan kesuksesannya itu, seraya mengatakan: “Beruntunglah anda“….

Dalam lika-liku kehidupan…
Orang pun terkadang menghadapi kesulitan…
Kebuntuan….
Bahkan ancaman marabahaya….
Lalu dia terbebas dari musibah yang menimpa bahkan teman dan atau tetangganya….
Dia sendiri segar bugar…
Dia sendiri sehat wal afiyat….
Bahkan terlepas dari marabahaya itu…
Maka….
Orang-orang pun mengatakan padanya: “Beruntunglah anda“…

Terkadang…
Bisa jadi orang mengatakan pada anda: “Beruntunglah Anda“…
Padahal jiwa anda menderita dan menjerit…
Karena sesuatu yang hanya anda yang bisa merasakannya….

Ada penderitaan yang mungkin sangat mendalam yang anda alami….
Tetapi…
Orang lain tak tahu…
Dan mereka tetap mengatakan pada anda: “Beruntunglah anda“…

Beruntunglah anda” seperti ungkapan di atas…
Belumlah tentu menjadi keberuntungan yang sesungguhnya….

Adapun….

KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah….
Jika saat manusia MATI….
Maka usianya ditutup dengan HUSNUL KHOTIMAH…..
KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah….
Pada saat selama di kuburannya….
Yang dia nikmati adalah NIKMAT KUBUR….

KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah…..
Keadaan yang dirasakan esok di Hari Kiamat…
Dimana kemudahan yang senantiasa dialaminya di Padang Mahsyar….
Dia tidak kepanasan saat Hisab….
Karena Hisab dan perhitungan amalan pun dipermudah baginya….
Disaat haus,
Telaga Rosul pun menjadi penghilang dahaganya….

KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah….
Saat manusia saling balas dan saling qishos….
Dia justru terbebas dari tuntutan….

Dan KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah….
Dia selamat saat menyeberangi Siroth yang mencekam….

KEBERUNTUNGAN HAKIKI adalah….
SURGA yang diraihnya karena keutamaan Allõh yang dihadiahkan untuknya….

Namun….

KEBAIKAN APA yang harus kita jadikan SEBAGAI TEBUSAN agar ALLÕH MERIDHOI dan menghadiahkan keutamaan-Nya kepada kita ?

Inilah rahasia yang seharusnya setiap manusia berlomba dengan segala kesadaran….

Ahli Tafsir Ibnu ‘Abbas rodhiyallõhu ‘anhu memberikan kejelasan kepada kita…
Bahwa ternyata KEBAIKAN itu adalah SILATURROHIM….
KEBAIKAN itu adalah AKHLAQ MULIA….

Bahkan ada pula ulama lain yang mengatakan bahwa….
KEBAIKAN itu adalah ZAKAT yang DITUNAIKAN….
Dan KEBAIKAN itu adalah melakukan AMAR MA’RUF dan NAHI MUNKAR…

Ternyata KEBAJIKAN itu adalah….
Upaya setiap kita untuk selalu baik terhadap sesama….
Akhlak yang baik….
Tidak melakukan sesuatu yang membuat cerai berai dan permusuhan….
Bahkan mempererat ukhuwah,
bukan saja dengan perilaku,
akan tetapi juga dengan finansial yang Allõh amanahkan kepadanya…..

Bahkan adanya sikap tidak rela jika saudaranya dimurkai oleh Allõh akibat kemungkaran yang diperbuatnya….
Dia pun tidak rela, jika ada pada saudaranya kesempatan untuk berbuat suatu kebaikan, akan tetapi saudaranya itu tidak mengerjakannya…..

Inilah kemuliaan dan keluhuran yang Islam usung sepanjang masa….

KEBAJIKAN dan KEBAIKAN yang harus ada, tumbuh pada setiap diri kita….
Bahkan TIDAK tinggal DIAM….
SENANTIASA BERUSAHA AGAR ORANG LAIN pun BERSAMANYA DALAM mengerjakan berbagai KEBAIKAN….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

159) BOIKOT PRODUK YAHUDI ZIONIS ISRAEL

WALA dan BARO’ adalah…
Bagian dari KONSEKWENSI TAUHID…
Bagian dari konsekwensi AQĪDAH….
Karena LÃ ILÃHA ILALLÕH itu ISI nya adalah MENYATAKAN “TIDAK / BERLEPAS DIRI / BERBEBAS DIRI dari apa saja SELAIN ALLÕH” dan HANYA MENERIMA / MEYAKINI / MEMBENARKAN “SATU YANG TIDAK ADA DUANYA, “SATU YANG TIDAK ADA SEKUTU BAGI-Nya”, “SATU YANG TIDAK BOLEH KITA MENENTANG-Nya”…
DIA adalah ALLÕH Subhãnahu wa Ta’ãlā….

APLIKASINYA :
MENERIMA DARI ALLÕH saja….
MENERIMA DARI ROSŪLULLÕH sholalloohu ‘alaihi wassallam saja….
MENERIMA DARI MUKMININ saja…..
Dan TIDAK MENERIMA, TIDAK BERGABUNG, TIDAK MENOLONG, TIDAK MENSUKSESKAN, dan TIDAK BERSAMA ORANG-ORANG KAFIR….

Jadi LĀ ILÃHA ILALLÕH mutlak harus ADA KONSEKWENSI nya….
Sebagaimana orang yang membeli barang….
Maka dia memilikinya, kemudian otomatis menjaganya….
Adapun RESIKO adalah merupakan sesuatu hal yang rasional sebagai KONSEKWENSI PILIHAN-nya, yaitu membeli….

Perlu disadari bahwa…
Seandainya tidak bekerja pada perusahaan Yahudi tadi ia TIDAK BERADA DALAM KATEGORI DARURAT atau TIDAK MENYEBABKANNYA MATI, maka jawabannya adalah TIDAK BEKERJA disitu….
Ini sikap Muslim yang memiliki prinsip Al Wala wal Baro…..
Ini sikap Muslim yang MENGEDEPANKAN KONSEKWENSI TAUHID (LĀ ILÃHA ILALLÕH)…..
Tapi kalau yang ada adalah sebaliknya, maka yang terjadi juga sebaliknya….

Kalau baginya TIDAK TERMASUK DARURAT….
Maka HARUS ADA UPAYA NYATA….
DIMULAI DARI KEMARIN, atau kalau tidak berarti DIMULAI DARI HARI INI….
Oleh SETIAP PRIBADI MUSLIM / KELOMPOK-KELOMPOK/ KOMUNITAS MUSLIM….
Untuk MEMULAI SECARA BERTAHAP untuk BERLEPAS DIRI DARI MEREKA (Yahudi / orang-orang kafir)….
Untuk TIDAK BERGANTUNG PADA MEREKA….
Dengan menjadikan YAKIN, SABAR, QONA’AH, ULET dan KERJA KERAS demi MENUJU KEMANDIRIAN MUSLIM….

HARUS DIINGAT jika dahulu kala Rosūlullõh sholallòhu ‘alaihi wassallam bekerjasama dengan Yahudi, Maka itu BUKAN DALAM POSISI ROSŪL DIDIKTE OLEH YAHUDI (atau menjadi objek eksploitasi mereka)…..

Terbukti bahwa….
Ketika seorang musyrik meminta izin kepada Rosūlullòh sholallõhu ‘alaihi wassallam untuk diikutsertakan dalam Perang Badar dan setelah kemudian diketahui bahwa orang itu adalah musyrik maka Rosūl pun menyuruhnya untuk pulang, dan menyatakan bahwa beliau tidak akan meminta pertolongan pada orang musyrik :

فارجِعْ فلن أستعين َبمشركٍ 

Artinya :
Aku tidak akan meminta tolong pada orang musyrik
(Hadits Riwayat Muslim no: 1817, dari ‘Aa’isyah rodhiyallõhu ‘anha)

Demikianlah sikap Rosūlullõh sholallõhu ‘alaihi wassallam….
SEJAK AWAL bersabda, “AKU TIDAK AKAN MEMINTA TOLONG PADA ORANG MUSYRIK“….
Sedangkan musyrik itu adalah bagian dari kekufuran dan orang kafir….

Itu adalah karena Rosūlullõh sholallõhu ‘alaihi wassallam MEMILIKI IZZAH (KEMULIAAN & HARGA DIRI MUSLIM)….

Ini BERBEDA dengan MUSLIM ZAMAN SEKARANG…..
Yang tidak sedikit dari mereka yang bekerjasama dengan Yahudi / orang kafir itu adalah karena SEMATA-MATA KEBUTUHAN HIDUPNYA….
Ingin senang… 
Ingin punya mobil…
Ingin punya rumah…. 
Ingin punya status….
Dan lain sebagainya….
Yang menyebabkan dalam posisi demikian itu, MEREKA MENERIMA DI-DIKTE ORANG YAHUDI / orang kafir…

Padahal….

Lambat laun….
Yang demikian itu akan menyampaikan pada NASIB seperti yang dialami UMMAT SAAT INI…..

Mungkin sekarang “ENAK” BERSAMA DENGAN ORANG KAFIR….
Tapi…
Hendaknya DISADARI…
Bahwa ANDA, ANAK KETURUNAN ANDA, KELUARGA ANDA, BANGSA ANDA AKAN SEMAKIN TERGANTUNG PADA ORANG KAFIR…
SEMAKIN TIDAK MANDIRI…
DAN SEMAKIN HILANGLAH HARGA DIRI MUSLIM…
TERMASUK AGAMA ANDA DINISTAKAN PUN, ANDA TAK BISA BERBUAT APA-APA….

KUALITAS MUSLIM ZAMAN DAHULU….
Bukan mereka tidak bisa hidup bersenang-senang dan bermegah-megahan….
Akan tetapi….
MEREKA YAKIN…
Bahwa DUNIA INI BUKAN TEMPAT BERSENANG-SENANG….
Akan tetapi….
Tempat bersibuk diri dalam amal shōlih….
Tempat beribadah pada Allõh…
Dan tempat untuk MENYEBARKAN ISLAM KE SEANTERO DUNIA….

BERBEDA dengan MUSLIM ZAMAN SEKARANG….
Dimana yang dicari adalah KESENANGAN DAN KEMEGAHAN DUNIA….
Adapun URUSAN MENYEBARKAN ISLAM, ITU URUSAN ORANG LAIN….

Maka wajarlah….
Kalau ia TAKUT BERESIKO dan HANYA MENCARI AMAN BAGI DIRINYA SENDIRI…..
Allõhul musta’an.….

Padahal Allõh berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ)

Artinya:
Wahai orang orang yang beriman, jika kalian menolong Allõh maka niscaya Allõh akan menolong kalian dan Allõh akan meneguhkan kaki kalian.[QS. Muhammad : 7]

Allõh pun berfirman dalam ayat yang lain :

(إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ)

Artinya:
Jika Allõh menolong kalian maka tidak akan ada yang menjadi pemenang atas kalian. Dan jika Allõh menghinakan kalian, maka siapa lagi yang akan bisa menolong kalian setelah Allõh. Dan hanya kepada Allõh lah hendaknya orang orang beriman bertawakkul.[QS. Aali ‘Imron : 160]

Berarti…..
Jika ALLÕH MENOLONG….
Maka MESTINYA TIDAK PERLU KHAWATIR…..
Karena TIDAK AKAN ADA SIAPAPUN YANG AKAN MAMPU MENGALAHKAN KITA…..

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

160) PENYESALAN TIADA ARTI

Allõh Subhānahu wa Ta’ãlã berfirman:

(حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ)

Artinya:
(99) “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia),
(100) “agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh-barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.
[QS. Al-Mu’minun (23) ayat 99 – 100]

Tidak sedikit dari manusia….
Bahkan muslim sekalipun….
Yang mengira bahwa hidup ini menjadi sempurna dengan ANGAN-ANGAN….

Demikian tinggi angan-angan itu, hingga mengakibatkan dirinya lalai dari mengerjakan apa yang menjadi misi di dalam hidupnya….

Yakni…

Beribadah kepada Allõh…
Mendekatkan diri kepada Allõh….
Mengejar apa yang ada di sisi Allõh….
Menghindar dari murka Allõh….
Menjauhkan diri dari apa-apa yang menjauhkan dirinya dari Allõh atau mengundang murka Allõh….

Tidak sedikit yang menganggap bahwa tingginya kedudukan….Atau bahwa lapangnya rizqi…
Atau bahwa kepandaian dan kemampuannya…
Akan bisa menghindarkan dirinya dari kematian…
Padahal tidak ada seorangpun yang bisa menaklukkan atau mempercepat kematian….

Bagaimanakah jika kematian menghampirinya dengan tiba-tiba???…
Lalu dia masih dalam keadaan jauh dari Allõh ???….
Tidak punya bekal menuju kehidupan abadi di Hari Akhir nanti ???…

Maka…
Penyesalan lah yang tiada berarti....

Harus menjadi pelajaran…
Jika datang kepada mereka kematian yang menjemput dengan tiba-tiba…
Lalu mengetahui sebenarnya apa yang Allõh beritakan sebelumnya…
Barulah dia tersadar dan menyesal akan kehidupannya selama ini…
Kemudian mengadu dan meminta kepada Allōh :
Ya Allõh, kembalikanlah aku untuk hidup kembali di dunia…
Aku pasti akan beramal yang baik-baik yang mengundang ridho-Mu dan cinta-Mu….
Dulu aku lalai….
Aku tidak percaya dan lalai terhadap peringatan-Mu dan berbuat yang merugikan diriku sendiri….
Duhai ya Allõh….
Kembalikanlah aku ke dunia….
Agar aku sejenak dapat memperbaiki diri….
Sungguh..
Penyesalan itu lalu menjadi tiada arti apa-apa baginya

Maka…

Sebelum menyesal…
Bersegeralah untuk berbenah…
Karena semua itu pada hakekatnya….
Adalah untuk diri kita sendiri….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

161) SEGALA NIKMAT ADALAH ANUGRAH ALLŌH

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman :

(وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ)

Artinya :
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allõh, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” [QS. An-Nahl (16) ayat 53]

BERIMAN kepada Allõh adalah PENYEBAB LURUSNYA CARA BERPIKIR seorang manusia….

Dia sadar….
Bahwa hidup ini ciptaan Allõh….

Dia sadar….
Bahwa dia berada dalam kehidupan ini, adalah atas kehendak Allõh…..

Dia sadar…
Bahwa seluruh apa yang dirasakan, baik umur maupun raga yang sehat, rizqi yang mudah dan lapang, serta kemampuan untuk beribadah, dan seterusnya….
Adalah berasal dari Allõh….

Sudah merupakan suatu kemestian….
Setelah pengakuan itu….
Seyogyanya….
Dia mensyukuri nikmat-nikmat tersebut….

NIKMAT-NIKMAT itu adalah AMANAH…

Adalah titipan yang esok akan Allõh tanyakan pada setiap yang pernah merasakannya….
Dikemanakankah amanah itu digunakan ???….

Bagi orang yang pandai untuk menunaikan amanah….
Maka pastilah dia akan berbahagia….

Tetapi bagaimanakah dengan orang yang dia luput menunaikannya ?
Diawali dengan dia adalah buta, tak berilmu….
Bahkan sampai dengan dia mengingkari….
Bahwa semua itu milik Allõh, dan berasal dari Allõh….
Maka merugilah atas mereka itu…

Bahkan ironisnya…
Disaat dia susah….
Disaat dia lemah….
Disaat dia butuh….
Dia datang kepada Allõh…
Merengek….
Meminta….
Mengemis…
Kepada ALLÕH….
Karena dia butuh….

Akan tetapi setelah semua cita dan angannya diraih dan dirasakannya, bahkan puaslah dia atasnya…

Lalu….
Seakan dia lupa….
Tidak ingat ada yang namanya Allõh….

Lalu….
Semua nikmat itu….
Dia atur sesuka hawa nafsunya..
Hingga ajal menjemput, menghampirinya….

Lalu…
Dia pun akan merasakan bukti atas apa yang Allõh janjikan….

Wahai saudaraku se-Iman dan se-Islam….
Semua nikmat….
Bukan milik siapa-siapa….
Melainkan milik Allõh semata….

Semua nikmat…
Pastilah akan ditanya….
Digunakan untuk apa oleh setiap diri kita….

Maka dari itu….

Sebelum kita menyesal dan menderita….
Marilah seluruh nikmat itu….
Kita gunakan untuk bermanfaat terhadap diri sendiri…
Bahkan kebaikan itu akan menjadi bertambah bagi kita….
Jika kita berbagi dengan sesama….

Karena Allõh tidak butuh kepada kita…
Justru kitalah yang membutuhkan segalanya dari Allõh…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

162) TUHAN FIKTIF

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman :

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا 

Namun mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal mereka (tuhan-tuhan itu) tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat (mendatangkan) manfaat serta tidak kuasa mematikan, menghidupkan, dan tidak (pula) membangkitkan.
[QS. Al-Furqon (25) ayat 3]

Pada saat di dunia…
Mereka yang tidak beriman kepada Allõh…
Mereka yang menjadikan selain Allõh sebagai Tuhan bagi mereka, padahal itu semua tidak pantas diangkat menjadi Tuhan; karena itu semua merupakan sesuatu yang tercipta dan bukan Pencipta….

Tidaklah semua itu bisa memberikan kebaikan pada dirinya….
Bagaimana dapat memberi pada yang lain….

Tuhan-tuhan fiktif itu pun tidak bisa menolak bahaya yang tertuju pada dirinya sendiri….
Maka bagaimana pula akan sanggup melindungi selainnya???

Mereka hidup pun adalah karena Allòh yang menjadikan mereka hidup…
Sehingga wajar jika mereka tidak bisa memberi kehidupan pada selainnya, dan tidak pula bisa mematikan….

Bagi orang yang berakal…
Sungguh sia-sia mempertuhankan sesuatu yang tidak pantas untuk dijadikan “Tuhan”….

Betapa bahagianya menjadi seorang Muslim yang memiliki Allõh yang Mencipta….

Bahkan yang Mengatur semesta alam ini….

Mereka yang memilih tuhan-tuhan fiktif itu…
Bersikukuh untuk tetap menjadikan selain Allõh sebagai Tuhan…
Karena mereka belum merasakan gelapnya kuburan…
Pedihnya azab…
Dahsyatnya kiamat…
Dan penyesalan tiada arti….
Ketika mereka dimasukkan ke dalam jahanam….

Mereka tidak tahu atau bahkan mereka tidak mau tahu..
Bahwa kelak pada hari kiamat, Allõh akan bangkitkan tuhan-tuhan fiktif itu,  yang pernah mereka jadikan sebagai Tuhan ketika di dunia….

Kalau saja mereka tahu….
Bahwa ternyata tuhan-tuhan fiktif yang pernah mereka jadikan Tuhan itu akan Allõh bangkitkan pula….
Bahkan bukan sekedar itu….
Allõh Yang Maha Kuasa akan menjadikan mereka bisa berbicara dan menjawab pertanyaan Allõh…

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَقُولُ أَأَنتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي هَٰؤُلَاءِ أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيلَ  

Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allõh menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allõh, lalu Allõh berkata (kepada yang disembah); “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?
[QS. Al-Furqon (25) ayat 17]

Mereka mengatakan, “Ya Allõh, bukan…
Bukan kami yang menyesatkan mereka…
Justru mereka sendiri yang memilih untuk menjadi orang-orang yang sesat.…”
Mereka selanjutnya justru bertasbih mensucikan Allõh

قَالُوا سُبْحَانَكَ مَا كَانَ يَنبَغِي لَنَا أَن نَّتَّخِذَ مِن دُونِكَ مِنْ أَوْلِيَاءَ ….. 

Mereka (yang disembah itu) menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain Engkau (sebagai) pelindung….
[QS. Al-Furqon (25) ayat 18]

Wahai Manusia….
Pilihlah Allõh sebagai satu-satunya Tuhan untuk diibadahi…
Dan puaslah untuk menjadikan pedoman-Nya: Al-Qur’an dan penjelasannya yaitu sunnah-sunnah Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam….
Sebagai pembimbing…
Sebagai penyuluh….
Sebagai pengarah kita sekalian….
Menuju keselamatan dan kebahagiaan yang Hakiki…

Dan janganlah sekali-kali memilih “TUHAN yang BUKAN TUHAN“…

(~ Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

163) BAU BUSUK

قال الأوزاعي رحمه الله شكت النواويس ما تجد من نتن جيف الكفار فأوحى الله إليها بطون علماء السوء أنتن مما أنتم فيه

Al-Imam al-Auzã’i berkata:
Peti mati mengadu tentang busuknya bau bangkai orang–orang kafir…
Maka Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã memberitahukan padanya…..
Bahwa….
Isi perut-perut ulama yang jahat adalah….
Lebih busuk dari apa yang kalian temui.”

(Ihya Ulumuddin 1 / 63)

164) SELEKTIFLAH

Pada zaman dahulu, ada seorang alim yang selalu menasehati sahabat-sahabatnya dengan perkataan,

Janganlah kalian duduk bersama setiap orang alim….
Kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima perkara menuju kepada lima perkara :

1) Dari ragu kepada yakin,
2) Dari permusuhan kepada nasehat,
3) Dari sombong kepada tawadhu / rendah hati,
4) Dari riya’ kepada ikhlas,
5) Dari rasa cinta kepada rasa takut.

(Abu Nu’aim Al Asfahani, Hilyatul Auliya, jilid 8 halaman 72. Kata beliau, “Pernyataan ini sering digunakan oleh Syaqiq bin Salamah dalam menasehati para sahabatnya, sehingga karena seringnya maka para perawi keliru menganggapnya sebagai Hadits.” Ibnul Jauzi, al Maudhu’at, jilid 1 halaman 275, dan kata beliau, “Ini adalah bukan sabda Rosūlullòh sholallõhu ‘alaihi wassallam“)

165) KEROSUULAN NABI MUHAMMAD SHOLALLOOHU ‘ALAIHI WASSALLAM

Di dalam suatu Hadits yang berasal dari salah seorang Shohabat bernama Jãbir bin ‘Abdillah rodhiyallõhu ‘anhu, sebagaimana dikeluarkan oleh al-Imām As Suyūthi di dalam “Al Jami’ ash-Shoghīr” dan di-Hasan-kan oleh syaikh Nashiruddin al-Albãni dalam “Shohīh Al-Jami’ ash-Shoghīr” nomor: 2409, bahwa Rosūlullõh Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

إِنَّهُ ليس شيءٌ بينَ السماءِ والأرضِ ، إلَّا يعلَمُ أنِّي رسولُ اللهِ ، إلَّا عاصي الجنِّ و الإِنَّسِ .

Sesungguhnya tidak ada apapun di langit dan di bumi, kecuali dia tahu bahwa aku adalah utusan Allõh, kecuali yang berma’shiyat dari kalangan jin dan manusia.”

Hadits ini dengan terang mengabarkan kepada kita bahwa Muhammad bin ‘Abdillah Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam adalah utusan Allõh…
Yang Allõh utus…
Bukan sekedar untuk orang yang berada di Jazirah Arab….
Akan tetapi untuk semesta alam…

Bagaimana tidak….
Langit dan bumi itu bukan sekedar dihuni oleh manusia….
Akan tetapi dengan kekuasaan Allõh, maka mereka itu semua mengetahui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allõh…
Dengan hadits ini pula…
Kita mengetahui bahwa Islam adalah untuk segenap penghuni bumi…
Karena Allõh mengutus Nabi Muhammad untuk menjadi wujud rahmat dan kasih sayang Allõh bagi semesta alam…

Hanya satu dari dua pilihan…
Beriman dan membenarkan kerosūlan Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam…
Berikutnya, konsekwen dengan hakikat makna keimanan itu…

Ataukah tidak beriman dan tidak membenarkan kerosūlan Nabi Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam lalu konsekwensinya adalah….
Siap dengan ancaman Allõh dan murka-Nya, kalau tidak di dunia…
Maka setelah manusia itu mati…
Pastilah akan terbukti akibat dari sikapnya itu….

Bagi yang beriman dan membenarkan kerosūlan Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam…
Maka yang harus dia sadari adalah…
Bahwa dia harus membenarkan bahwa Muhammad adalah manusia pilihan…
Yang Allõh pilih atas kehendak dan putusan-Nya….
Yang mana Muhammad Rosūlullõh adalah keturunan Arab…
Bahkan dari Quraisy….
Bahkan dari turunan ‘Ismail ‘alaihissalām…
Dan berarti menjadi cucu dari ‘Ibrohim ‘alaihissalām…

Beriman kepada kerosūlan Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam berarti membenarkan dengan seyakin-yakinnya bahwa yang diterima oleh Rosūlullõh adalah wahyu yang disampaikan oleh Jibril ‘alaihissalãm dari Allõh….
Dan itu adalah benar….
Tidak ada keraguan sedikitpun….

Begitupun dengan penjelasan, baik berupa perkataan — perbuatan ataupun sesuatu yang menjadi sikap Rosūlullõh…
Pada hakekatnya adalah wahyu yang menjelaskan al-Qur’an…

Bagi yang beriman kepada kerosūlan Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam akan menjadi berarti dan bermanfaat bagi dirinya…
Jika keimanan itu dibuktikan dengan ittiba’….
Dan mengikuti apa saja yang shohīh dari Nabi Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam…

Apakah masuk diakal/rasional…
Ataukah tidak masuk diakal/ irrasional…

Apakah sesuai dengan kemauan dan kehendaknya….
Ataukah tidak sesuai dengan kemauan dan kehendaknya….

Atau apakah disepakati, disetujui dan diridhoi oleh manusia….
Ataukah tidak disepakati, tidak disetujui dan tidak diridhoi oleh manusia….

Maka….
Beriman kepada kerosūlan Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam…
Adalah semata-mata menjadi konsekwensi dari sikap membenarkan terhadap kerosūlan itu…

Bahkan…
Bukanlah merupakan sesuatu yang aneh…
Jika pengorbanan melalui jiwa, raga dan harta menjadi taruhannya…
Untuk membuktikan keimanannya terhadap kerosūlan itu….

Karena yang demikian itu…
Telah tergores di dalam sejarah…
Bahwa pengikut-pengikut Nabi Muhammad…
Adalah mereka yang mengikuti seluruh gerak dan jejak, langkah Nabi Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam…
Baik dalam suka…
Maupun dalam duka…
Baik dalam keadaan sempit…
Maupun dalam keadaan lapang…

Bahkan tidaklah Islam sampai kepada hati kita…
Tanpa pengorbanan mereka para pengikut setia Nabi Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam…

Pertanyaannya adalah…

Apakah kita menjadi orang yang BERIMAN DENGAN SEKEDAR MENCUKUPKAN ISLAM SEBAGAI PENGAKUAN, TANPA EKSISTENSI….

Ataukah…

BERIMAN DENGAN SEGENAP PENGAKUAN YANG DIBUKTIKAN DALAM SELURUH EKSISTENSI KEHIDUPANNYA…???

Marilah…
Setiap kita mencari jawabannya…

Semoga bermanfaat !

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

166) DIALOG IBROHIM ‘ALAIHISSALAM

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ (٦٩) إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ (٧٠)قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ (٧١) قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ (٧٢) أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ (٧٣) قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ (٧٤) قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (٧٥)أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأقْدَمُونَ (٧٦) فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلا رَبَّ الْعَالَمِينَ (٧٧)الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (٧٨) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (٧٩)وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (٨٠) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (٨١)وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (٨٢) رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (٨٣)

Artinya:
69. Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrohim.
70. Ketika dia (Ibrohim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya,Apakah yang kamu sembah?
71. Mereka menjawab,Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.”
72. Dia (Ibrohim) berkata,Apakah mereka (berhala-berhala itu) mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?,
73. Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?
74. Mereka menjawab,Tidak, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat begitu.”
75. Dia (Ibrohim) berkata,Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah,
76. kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu?
77. Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya Tuhan seluruh alam,
78. (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku,
79. dan Yang memberi makan dan minum kepadaku;
80. dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,
81. dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),
82. Dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat
83. (Ibrohim berdoa),Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” ~ (QS. Asy Syu’aro (26) : 69-83)

RENUNGAN :

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlā memerintahkan kita untuk membaca, bahkan membacakan sebagian dari kisah perjalanan dakwah Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam…

Bacakanlah olehmu kepada mereka berita tentang Ibrohim…

Sebagai seorang dai…
Sebagai seorang pembaharu…
Sebagai seorang yang berilmu…
Sebagai seorang yang mengetahui kebenaran…
>Sebagai seorang yang TERPANGGIL UNTUK MEMPERBAIKI UMMAT yang dinilai berada diatas kesesatan…
Sebagai seorang yang merasa PUNYA TANGGUNG JAWAB MENGATASI KERUSAKAN yang bisa saja mengundang murka Allõh Subhãnahu Wa Ta’ãlã…

Maka ….
Sebelum kemurkaan itu Allòh timpakan pada mereka…
Ibrohim ‘Alaihissalam adalah manusia yang Allõh pilih untuk berada di tengah-tengah mereka dan MELAKUKAN PERBAIKAN….

Dengan hikmah dan bijaksana…
Ibrohim ‘Alaihissalam lalu memulai upaya dakwah dan ishlah…
Dengan ber-DIALOG TENTANG KONSEP KEAGAMAAN DAN KEYAKINAN mereka di dalam hidup…
Tentang peribadatan yang mereka persembahkan kepada Tuhan mereka selama ini….
Juga tentang hakekat yang menjadikan mereka berharap kebaikan dan terhindar dari segala keburukan…

Wahai kaum…
Berikanlah penjelasan kepadaku…
Definisikan dengan benar tentang “Siapa sesungguhnya Tuhan kalian yang kalian selalu berhamba kepadanya“…

Berhala-berhala yang kalian sembah itu apakah mereka mendengar jika kalian mengadu kepada mereka, pada saat kalian meminta dan mengajukan kebutuhan kalian ?…

Apakah benda-benda yang kalian anggap Tuhan itu mampu mendatangkan kebaikan dan manfaat yang kalian cari dan kalian harapkan ?…

Atau sebaliknya…

Apakah benda-benda yang kalian anggap Tuhan itu mampu untuk menyingkap, menjauhkan, mengangkat dan menghindarkan kalian dari bahaya ?…

Ternyata kebodohan kaum Ibrohim ‘Alaihissalam terungkap dari jawaban mereka…

Mereka tidaklah paham tentang itu…
Tidaklah mengkritisi sebelum itu…
Tidaklah pernah meneliti sebelum itu…

Bahkan tidak pula mengkaji…
Karena apa yang mereka lakukan selama ini…<
Tidak lain SEKEDAR IKUT-IKUTAN…
Tidak lain SEKEDAR TURUN-TEMURUN…
Tidak lain SEKEDAR APA YANG MENJADI BUDAYA NENEK MOYANG…

Maka…
Itulah yang menjadi IDENTITAS MEREKA hari ini…

Dengan ‘simple’ mereka menjawab… “Dulu bapak-bapak dan nenek moyang kami melaksanakan ini“…
Karena itu kami hanyalah MELANGGENGKAN TRADISI mereka

Mendengar jawaban itu…
Ibrohim ‘Alaihissalam pun menelisik lebih lanjut…
Dan setelah itu menyatakan sikapnya…
Bukan sekedar agar mereka tahu tentang keyakinan Ibrohim ‘Alaihissalam…
Bukan sekedar agar mereka tahu tentang sikap Ibrohim ‘Alaihissalam mengapa beliau tidak mau bersama mereka melakukan penghambaan terhadap Tuhan-Tuhan mereka itu…

Akan tetapi…
Bahkan justru lebih dahsyat dan lebih tegas dari itu…

Ibrohim ‘Alaihissalam menyatakan sikapnya bahwa TAUHĪD adalah pegangan Ibrohim ‘Alaihissalam…
Yaitu…
Tidak ada Tuhan yang berhak dengan sebenarnya untuk diibadahi, berharap kepada-Nya, patuh kepada-Nya, tunduk kepada-Nya dan menghinakan diri kepada-Nya selain HANYA SATU, yakni kepada ALLŌH…

Bahkan lebih dahsyat dari itu…
Ibrohim ‘Alaihissalam menyatakan bahwa SESEMBAHAN SELAIN ALLŌH ADALAH MUSUH…
Bukan teman…
Bukan sahabat…
Apalagi tempat mengadu…
Apalagi menjadi tempat meminta…
Apalagi didudukkan pada status sebagai Tuhan…

Ibrohim ‘Alaihissalam memandang perlu untuk MENGENALKAN kepada umatnya, kepada kaumnya..
Tentang…
SIAPA SESUNGGUHNYA YANG BERHAK UNTUK DIJADIKAN TUHAN…
Tempat mengadu…
Tempat untuk dipatuhi…
Tempat menghinakan diri…
Tempat berharap…
Tempat meminta…
Dan tempat berlindung itu…

TUHAN SATU-SATUNYA yang berhak, pantas dan patut berkedudukan sebagai Tuhan…
HANYA lah DIA, ALLŌH…
Yang mencipta…
Yang memberi petunjuk menuju selamat dan bahagia di dunia dan setelah mati…
Yang memberi makan…
Yang memberi minum…
Yang menyembuhkan dikala sakit…
Yang membuat semua yang hidup menjadi mati…
Dan Yang menghidupkan apapun sesuai dengan kehendak-Nya….

Ibrohim ‘Alaihissalam kemudian memberi CONTOH tentang BAGAIMANA SIKAP YANG BENAR seorang MANUSIA YANG TELAH MENJADIKAN ALLŌH SEBAGAI TUHANNYA…

Sebagai manusia…
Tentu saja manusia tidak luput dari salah dan dosa…
Dan semua itu tidak ada yang bisa membersihkan dan menghapus dosa kecuali Allõh…
Maka Ibrohim ‘Alaihissalam kemudian menyatakan bahwa…
Aku berharap Allõh lah yang mampu dan bisa memberiku pengampunan…
Sehingga aku tidak lagi bersalah…
Sehingga aku tidak lagi berdosa…
Sehingga aku patut menghuni surga-Nya…

Ibrohim ‘Alaihissalam pun mengatakan kepada kaumnya…

Wahai kaum…
Sesungguhnya kalian berada di dunia ini adalah atas kehendak Allõh…
Keberadaan kalian di dunia ini tidaklah abadi…
Setelah dunia ini ada alam lain, dia adalah Hari Akhirat…

Diawali dengan kiamat pada Hari Kiamat…
Sebelum manusia menerima keputusan neraka atau surga, maka manusia harus disidang… Diperhitungkan salah dan benarnya…
Amal shõlih dan dosanya semuanya harus diperhitungkan…
Siapa yang beramal buruk sekecil apapun, maka Allõh akan tampakkan padanya…
Sebagaimana jika beramal baik sekecil apapun, maka dia akan melihatnya…
Setiap manusia berhak mendapatkan balasan keadilan jika dia dihukum, atau bahkan berhak mendapatkan “fadlun” Jika dia berhak mendapatkan surga…

Hari Kiamat itu pasti adanya…
Akhirat itu adalah negeri yang akan dialami dan dirasakan, bahkan oleh orang yang mengingkarinya….
Maka bersiaplah…
Bersiaplah…
Bersiaplah…
>Bagi setiap orang yang meyakini keberadaan dan kedahsyatannya…

Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam mengajarkan…
Bahwa siapa pun orangnya…
Jangankan orang biasa…
Bahkan setingkat Nabi pun, sebagaimana dirinya (Ibrohim ‘Alaihissalam) masih butuh dan bermohon agar Allõh senantiasa memberinya ILMU…

Ilmu yang dengannya seseorang tahu…
Mana yang benar, mana yang salah…
Mana yang haq, mana yang bathil…
Mana yang boleh, mana yang dilarang…
Mana yang patut, mana yang tidak patut…
Mana yang hina, mana yang mulia…

ILMU lah yang memberitahukan kepada kita…
Tentang siapa kita…
Tentang apa yang harus kita lakukan…
Tentang apa akibat jika kita melakukan sesuatu…

Bahkan ilmu lah yang menjelaskan kepada kita…
Tentang bagaimana menjalani hidup menuju selamat dan bahagia dengan sangat terang dan jelas…

Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam adalah Nabi utusan Allõh…
Pilihan Allõh…
Tentu adalah manusia yang bermartabat…
Manusia yang tinggi…
Manusia yang mulia…
Manusia yang luhur…
Jika dibandingkan dengan umatnya…
Maka pastilah Allõh akan tempatkan ia pada kedudukan yang patut, layak bahkan mulia sesuai dengan statusnya sebagai nabi dan rosūl di Hari Akherat kelak….

Tetapi betapa pun demikian…
Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam mengajarkan bahwa…
Nabi Ibrohim tetap berdoa memohon…
Meminta kepada Allòh…
Agar beliau digolongkan bersama orang-orang yang shõlih…

Jika Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam saja demikian….
Maka bukankah kita lebih butuh ?
Bukankah kita lebih patut berdoa daripada beliau ?

Sungguh tidak tahu diri…
Dan tidak sadar tentang diri lah orang-orang yang tidak memohon, meminta serta menyadari butuhnya setiap diri mereka terhadap Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã…

Jangankan di Hari Akhir…
Bahkan manusia sejak dicipta menjadi calon manusia…

Sejak saat itu, dia tidak pernah lepas dari membutuhkan Allõh…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

167) MELURUSKAN MAKNA “‘IEDUL FITHRI”

Kata ‘Ied ( عيد)
Berasal dari kata :
عاد يعود عودة
Artinya adalah: “pulang atau kembali“.

Jadi kata “‘Ied” digunakan untuk sesuatu yang selalu kembali; arti nya adalah karena selalu kembali menemui kita setiap tahun.

Sementara kata “Fithri” berasal dari kata “futhur” atau “fathur” yang bermakna “berbuka dari shoum“,
artinya jika shoum bermakna “menahan diri dari makan dan minum, juga jima‘”; maka “futhur” artinya “boleh makan, boleh minum, boleh berjima‘”.

Sehingga kata ‘Iedul Fitri dimaknakan “kembali pada keadaan dimana setiap muslim tidak lagi shaum di siang hari, yakni sejak tanggal 1 Syawwal muslim kembali boleh makan dan minum, serta berjima’ di siang hari, apalagi di malam hari.

Hal itu juga sejalan dengan makna dari Hadist Rosul

… وللصائم فرحتانِ : فرحةٌ حين يفطِرُ ، وفرحةٌ حين يَلْقَى ربَّه…

(HR al-Bukhōri No. 7492 dari Abu Hurairoh rodhiyallõhu ‘anhu)
Artinya:
Ada 2 kebahagiaan yang berhak dirasakan oleh orang yang melaksanakan shoum: pertama, berbahagia pada saat berbuka dan yang kedua kebahagiaan pada saat dia bertemu Tuhannya yaitu Allõh.”

Bagi orang shoum, ketika berbuka saat terbenam matahari, dia merasakan senang dan bahagia karena seharian lapar dan haus; demikian pula pada saat ‘Iedul Fitri dia berbahagia karena sejak hari itu dan selanjutnya dia tidak lagi berdosa jika dia makan, minum atau berjima’ di siang hari.

Adapun jika “‘Iedul Fithri” diartikan “kembali kepada kesucian“, selain ini tidak tepat dari sisi bahasa, juga tidak ada jaminan bahwa setiap orang yang keluar melalui Romadhõn memasuki 1 Syawwal dan seterusnya, kalau dia itu benar-benar bebas dari dosa.

Jangankan orang yang masih berdosa pada bulan Romadhõn, orang yang shaum saja pada hakekatnya dia tidak dapat memastikan bahwa dosanya diampuni, walaupun berupa harapan tentu saja dibolehkan.

Bagi orang yang senang karena boleh makan dan minum atau berpakaian baru pada tanggal 1 Syawwal karena hari itu hari ‘Iedul Fitri; sesungguhnya hal itu menunjukkan kekurangannya terhadap makna Islam yang diyakininya; karena
dalam peribahasa bahasa Arab terdapat perkataan:

ليس العيد لمن لبس الجديد
ولكن العيد لمن كان إيمانه يزيد

Hari raya ‘Iedul Fithri itu bukan bagi mereka yang berpakaian baru,tetapi hari raya itu bagi mereka yang IMANnya BERTAMBAH.”

Jadi kalau sekedar senang karena boleh makan, boleh minum, boleh berjima’ yang hal itu dilarang di siang hari Romadhon, lalu bersenang hati dengan pakaian baru dan banyaknya makanan; maka hal ini sesungguhnya baru ibarat “perasaan anak kecil“.

Justru bagi mereka yang beriman dan taqwanya tinggi, berpisah dengan Romadhõn adalah merupakan kesedihan yang mendalam dan kekhawatiran yang membayangi hidup mereka, sehingga sejak Romadhõn sampai dengan 6 bulan berikutnya mereka selalu bermohon kepada Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã agar seluruh amalan shõlih yang pernah dilakukannya pada bulan Romadhõn diterima oleh Allõh, dan kekurangannya disempurnakan.

Bahkan dari sisi Hikmah, sesungguhnya dengan berlalunya bulan Romadhõn, justru merupakan tantangan tersendiri sejauh mana hasil yang dapat melahirkan “bekas dari Romadhon” ini di bulan Syawwal dan bulan-bulan berikutnya.

Apakah ibadahnya itu hanya hidup pada bulan Romadhon saja? Lalu mengapa pada bulan Syawwal dan bulan-bulan berikutnya, ibadah-ibadah itu menjadi nyaris tak lagi nampak?

Belum lagi…

Kemanakah makna hakiki dari bentuk-bentuk ibadah yang hidup selama ini pada bulan Romadhon? Apakah telah dapat mewujudkan akhlak dan karakter yang dimaksudkan dari ibadah-ibadah pada bulan Romadhon itu, yaitu misalnya ketaat-patuhan pada Allõh, kejujuran, keteraturan, kedisiplinan, persaudaraan sesama muslim, peduli dan solidaritas dan masih banyak lagi; masihkah akan terus berbekas?

Ketika Romadhõn berlalu kemudian tidak ada karakter dan akhlak yang berubah menuju lebih baik jika dibanding dengan sebelum Romadhõn, maka sesungguhnya seolah Romadhõn tak meninggalkan bekas…. dan itu artinya adalah KERUGIAN yang NYATA….

(Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd.)

168) HINA AKIBAT AMBISI DUNIA

‘Abdullõh bin Mas’ūd rodhiyallõhu ‘anhu berkata :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ :
لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ صَانُوا الْعِلْمَ، وَوَضَعُوهُ عِنْدَ أَهْلِهِ لَسَادُوا بِهِ أَهْلَ زَمَانِهِمْ،وَلَكِنَّهُمْ بَذَلُوهُ لِأَهْلِ الدُّنْيَا لِيَنَالُوا بِهِ مِنْ دُنْيَاهُمْ فَهَانُوا عَلَيْهِمْ.

Seandainya Ahlul ‘Ilmi (para ‘Ulama) menjaga ilmu mereka…
Dan hanya meletakkan ilmunya pada orang yang berhak….
Niscaya mereka akan menjadi orang-orang yang unggul dan terhormat pada masanya…..

Akan tetapi….
Ketika mereka telah menempatkan ilmunya pada ahlud dunya (para pengejar dunia) untuk mendapatkan harta…..
Maka yang demikian itu akan menyebabkan mereka menjadi orang yang hina.
(Sunan Ibnu Mājah, I/95, no: 257)

Renungan:

Perkataan ‘Abdullõh bin Mas’ūd rodhiyallõhu ‘anhu ini, jika kita amati dan kita cermati dengan apa yang terjadi pada masa kini….

Adalah bahwa….

Pada saat ilmu disampaikan untuk mengejar dan memperoleh duniawi melalui “order” dan atau pesanan yang harus disesuaikan dengan selera dan kondisi…
Maka inilah yang menyebabkan tidak adanya suatu perubahan pada ummat ini….
Atau bahkan menyebabkan kemunduran dan kelemahan….
Bukan saja pada harga diri ‘Ulama itu sendiri…
Akan tetapi….
Bahkan bagi Islam dan kaum muslimin, yang harus menanggung “resiko yang mahal” dari sikapnya itu…..

Seolah ilmu merupakan alat bagi hiburan dan atau pemuas selera…

Karena kalau yang demikian itu tidak dipenuhinya,
maka bisa jadi dunia yang dicarinya akan terlepas dan terpeleset dari tangannya…..

Maka pada saat ilmu sudah dijadikan sebagai “alat jual beli” untuk meraih perkara dunia yang hina, dan tega untuk tidak peduli dengan masa depan kejayaan Islam dan kaum Muslimin….
Maka pada hakekatnya yang mulia dan terhormat adalah dunia….
Sementara ilmu adalah tidak lebih menjadi budak dan pemuas bagi para tuannya…..

Dahulu Islam adalah kunci peradaban dan kunci kejayaan….
Karena yang mereka cari adalah akhirat, dan bukan dunia…..

Namun ketika yang dicari adalah kemuliaan, kehormatan dan kepuasan dunia….
Sedangkan akhirat menjadi sesuatu hal yang kerapkali dilalaikan dan dilupakan….
Maka umat ini bukan semakin jaya, akan tetapi semakin hina dan tak berdaya….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.~)

169) MEMANG MEREKA ADALAH ORANG-ORANG DZOLIM

Allõh berfirman:

(وَإِذْ نَادَىٰ رَبُّكَ مُوسَىٰ أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ * قَوْمَ فِرْعَوْنَ ۚ أَلَا يَتَّقُونَ)

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), _“Datangilah kaum yang dzolim itu,(yaitu) kaum Fir‘aun. Mengapa mereka tidak bertaqwa?
[QS. Asy-Syu’aro (10) : 11]

Juga berfirman:

(كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ ۙ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ ۚ وَكُلٌّ كَانُوا ظَالِمِينَ)

(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan pengikut Fir‘aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan oleh dosa-dosanya, dan Kami tenggelamkan Fir‘aun dan pengikut-pengikutnya; karena mereka adalah orang-orang yang dzolim.”
[QS. Al-Anfal (8) : 54]

RENUNGAN:

Sebelum kita lahir….
Sebelum Bapak kita lahir…
Sebelum Kakek kita lahir….
Bahkan lebih dari 14 abad lalu….
Kata “dzolim” itu sudah ada….

Suka atau tidak suka…
Pas atau tidak pas…
Cocok atau tidak cocok…
Senang atau tidak senang….
Sesuai atau tidak sesuai…
ISLAM adalah WAHYU…
Dan Wahyu bersumber dari Allõh Subhānahu wa Ta’ãlã…

ALLÕH TIDAK PUNYA KEPENTINGAN meraih untung dari Wahyu-Nya…
BEDA dengan MANUSIA….
Manusia selalu diselimuti oleh keinginan untuk memenuhi hawa nafsunya….

Hawa nafsunya untuk kenyang…
Hawa nafsunya untuk menang…
Hawa nafsunya untuk selalu untung dan tidak buntung…

Bila perlu, dia tidak perlu menoleh pada luar dirinya….
Bila perlu, dia harus egois….
Bila perlu, yang lain harus jadi korban ambisinya…
Bila perlu, orang lain harus berada di bawah kakinya…

Ya…
Karena yang memfatwakan “perlu” itu adalah HAWA NAFSU-nya…

Tak peduli Wahyu…
Tak peduli norma dan nilai…
Tak peduli tuntunan dan pedoman…
Tak peduli agama….
Semua tidak perlu baginya…
Karena dia sudah dibuat BUTA oleh HAWA NAFSU-nya

Memang Fir’aun itu orang yang dzolim…
Tidak aneh kalau orang-orang yang berada di sekelilingnya juga dzolim…
Bahkan bisa jadi…
Orang yang berada di sekeliling Fir’aun itu menjadikan Fir’aun lebih dzolim….

Yang pasti…
Fir’aun dan kaumnya adalah orang-orang dzolim…
Karena itu, setiap mereka…
Bahkan seluruh mereka, bisa jadi adalah orang-orang yang dzolim…

Setiap kita harus mengetahui…
Bahwa di dunia ini ada….
Bahkan banyak…
Orang-orang yang dzolim” itu…

Betapapun mereka tidak suka dan sangat membenci kata-kata “dzolim“….
Apalagi jika mereka ditunjuk hidung sebagai orang yang dzolim…
Amarah mereka pun akan menjadi membara…
Karena kata “dzolim“…

Memang mereka adalah orang-orang yang dzolim…

Berlindunglah setiap kita kepada Allõh dari segala bentuk kedzoliman yang mungkin bisa muncul dari diri kita sendiri….
Dan berlindunglah kepada Allõh dari Fir’aun dan kaumnya…
Dimana setiap mereka adalah orang-orang yang dzolim….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd.~)

170) DEKLARASI IBLIS

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

(قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ)

(Iblis) menjawab, Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” [QS. Al-A’rof/7: 16]

Juga berfirman dalam ayat yang lain :

(قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ)

Ia (Iblis) berkata, Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.” [QS. Al-Hijr/15: 39]

Ketika iblis dikutuk oleh Alloh karena pembangkangannya terhadap perintah Alloh agar sujud kepada Adam….
Iblis justru mengajukan permintaan kepada Alloh agar ditangguhkan hingga Hari Kiamat…..

Bukan tersentak karena merasa bersalah….
Atau bahkan bertaubat memohon ampunan kepada Alloh….
Justru kesombongannya malah menjadi pencetus ide untuk bermakar kepada manusia….

Tapi itulah iblis….

Terpenting, nilai positif yang harus pandai kita serap, walau dari iblis sekalipun, adalah:
– Tekad yang bulat
– Kemauan yang kuat
– Cita-cita yang jelas
– Perjuangan yang gigih
– Bekerja tak kenal henti
– Berstrategi
– Kenali kelemahan musuh

Dan hasilnya adalah:

(ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ)

Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.[QS. Al-A’rof/7: 17]

Juga sebagaimana dalam ayat berikut :

(إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ)

kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” [QS. Al-Hijr/15: 40]

Kebanyakan manusia tertipu…..
Kebanyakan manusia tersesatkan……
Kebanyakan manusia terjerat…..
Kebanyakan manusia tidak sadar bahwa mereka berada diatas bahaya…..

Bahkan…..

Kebanyakan manusia merasa bahwa jika mereka berada dalam posisi yang banyak, mereka seolah terbebas dari salah, keliru dan khilaf…..

La hawla wala quwwata illa billah.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

171) LENYAPNYA KURSI KEKUASAAN

ومن كلام كسرى: لا ملك إلا بالجند، ولا جند إلا بالمال، ولا مال إلا بالبلاد ولا بلاد إلا بالرعايا، ولا رعايا إلا بالعدل

Tanpa keadilan, bahkan siapapun penguasanya akan lenyap….

Seperti dikatakan oleh Muhammad bin Ahmad bin Manshur Al-Absyîhy (wafat tahun 852 Hijriyah), beliau berkata:

“Diantara perkataan Kaisar:
Tidak ada raja tanpa tentara….
Tidak ada tentara tanpa harta…
Tidak ada harta tanpa Negeri….
Tidak ada Negeri tanpa rakyat…
Dan tidak ada rakyat tanpa keadilan.”

(Oleh ARMAS, dari Al-Mustathrof fî Kulli Fannin Mustathrof, 1/112)

172) ADIL TIDAK PANDANG BULU

ووقف يهودي لعبد الملك بن مروان فقال: يا أمير المؤمنين إن بعض خاصتك ظلمني فأنصفني منه وأذقني حلاوة العدل، فأعرض عنه، فوقف له ثانيا، فلم يلتفت إليه، فوقف له مرة ثالثة، وقال يا أمير المؤمنين إنا نجد في التوراة المنزّلة على كليم الله موسى صلوات الله وسلامه عليه: إن الإمام لا يكون شريكا في ظلم أحد حتى يرفع إليه فإذا رفع إليه ذلك ولم يزله، فقد شاركه في الظلم والجور. فلما سمع عبد الملك كلامه فزع وبعث في الحال إلى من ظلمه، فعزله وأخذ لليهودي حقه منه.

Keadilan dalam Islam itu tidak pandang bulu…

Jangankan adil terhadap umat Islam…
Bahkan Islam memerintahkan seorang Penguasa untuk berlaku adil terhadap bukan Muslim, termasuk Yahudi sekalipun…

Seperti dikatakan oleh Muhammad bin Ahmad bin Manshur Al-Absyîhy (wafat tahun 852 Hijriyah), beliau berkata:

“Seorang Yahudi berdiri dan berkata pada Abdul Malik bin Marwan: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya staf khususmu telah berbuat dzolim padaku; maka berlakulah adil padaku, sehingga aku dapat merasakan keadilan itu.”
Maka Abdul Malik bin Marwan berpaling. Tetapi orang Yahudi itu kembali mengemukakannya untuk kedua kalinya, akan tetapi Abdul Malik bin Marwan kembali bersikap seperti pertama kali. Karena itu pada kali yang ketiga, orang Yahudi itu pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kami mendapati di dalam Taurat yang diturunkan kepada Musa ‘alaihissalam bahwa sesungguhnya seorang Imam atau Pemimpin itu tidak menjadi sekutu dalam keimanan seseorang; karena justru dia akan mengangkat kedzoliman. Akan tetapi jika dia tidak menghapuskan kedzoliman itu, maka berarti dia telah berikut serta dalam kalimat itu (~ ikut serta didalam kedzoliman ~ pen.).”
Pada saat Abdul Malik bin Marwan mendengar perkataan orang Yahudi itu, langsung ia tersentak ketakutan; dan seketika bersegera mengirim utusannya kepada orang yang berbuat dzolim itu, serta memecatnya, dan mengembalikan hak sang Yahudi.

(Oleh ARMAS, dari Al Mustathrof fî Kulli Fannin Mustathrof, 1/113)

173) PEMIMPIN YANG DICINTAI RAKYATNYA

اعلم أن عدل الملك يوجب محبته، وجوره يوجب الافتراق عنه، وأفضل الأزمنة ثوابا أيام العدل

Tanpa keadilan, bahkan siapapun penguasanya akan lenyap; seperti dikatakan oleh Muhammad bin Ahmad bin Manshur Al-Absyîhy (wafat tahun 852 Hijriyah), beliau berkata:

“Ketahuilah olehmu, bahwa adilnya seorang raja atau penguasa adalah penyebab orang mencintainya….

Sedangkan, jika dia berbuat kedzoliman; maka kedzoliman itu akan menyebabkan mereka menjauh darinya.”

(oleh ARMAS, dari Al Mustathrof fî Kulli Fannin Mustathrof, 1/112)

174) KEADILAN DAN KEMAKMURAN

زمن أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله عنه كان مائة ألف ألف وسبعة وثلاثين ألف ألف، فلم يزل يتناقص حتى صار في زمن الحجاج ثمانية عشر ألف ألف. فلما ولي عمر بن عبد العزيز رضي الله عنه ارتفع في السنة الأولى إلى ثلاثين ألف ألف، وفي الثانية إلى ستين ألف ألف، وقيل أكثر. وقال: إن عشت لأبلغنه إلى ما كان في أيام أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله عنه، فمات في تلك السنة.

Seandainya negeri ini dipenuhi oleh Keadilan, maka bukan hutang yang melilit negara dan bangsa ini; akan tetapi justru Rizki melimpah lah yang akan mereka rasakan; seperti dikatakan oleh Muhammad bin Ahmad bin Manshur Al-Absyîhy (wafat tahun 852 Hijriyah), beliau berkata:

“Kekayaan negeri pada masa Umar bin Al-Khothob mencapai 137 juta, kemudian berangsur-angsur berkurang hingga masa Al-Hajjaj; menjadi tinggal hanya 18 juta….

Ketika ‘Umar bin Abdul ‘Aziz kembali memimpin, maka kekayaan negeri itu kembali pulih dan meningkat menjadi: pada tahun pertama mencapai 30 juta, sedangkan pada tahun kedua mencapai 60 juta bahkan lebih…. dan beliau (– ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rohimahulloh — pent.) berkata:

“Kalau aku diberi hidup panjang, in syaa Allooh aku akan berusaha untuk mencapai seperti pada masa ‘Umar bin Al-Khothob.”…. Sayangnya beliau mati pada tahun itu.

(oleh ARMAS, dari Al Mustathrof fî Kulli Fannin Mustathrof, 1/112)

175) MEMPERBAIKI NEGERI

Memperbaiki dan membangun negeri itu dengan keadilan, bukan dengan kedzoliman….; karena jika suatu negeri dipenuhi oleh kedzoliman maka bukanlah membangun, akan tetapi justru merusak.

Seperti dikatakan oleh Muhammad bin Ahmad bin Manshur Al-Absyîhy (wafat tahun 852 Hijriyah), beliau berkata:

قد فهمت كتابك، فإذا قرأت كتابي، فحصن مدينتك بالعدل، ونق طرقها من الظلم، فإنه مرمتها والسلام.

Salah seorang pegawai ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rohimahullooh mengeluh tentang kotanya yang porak poranda; oleh karenanya ia mengajukan permohonan untuk merenovasinya. Maka pengajuan itu pun dibalas oleh ‘Umar sebagai berikut:
“Aku telah mengerti surat ajuanmu dan jika engkau baca surat balasanku ini maka: BENTENGILAH KOTAMU dengan KEADILAN, dan BERSIHLANLAH jalan-jalannya dari KEDZOLIMAN. Sesungguhnya yang demikian ITU adalah RENOVASINYA. Wassalam.”

(oleh ARMAS, dari Al Mustathrof fî Kulli Fannin Mustathrof, 1/112)

176) GARIS VERTIKAL DAN HORISONTAL MANUSIA HIDUP

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱرۡكَعُوا۟ وَٱسۡجُدُوا۟ وَٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُوا۟ ٱلۡخَیۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ )

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Hajj/22: 77)

Manusia adalah makhluk ciptaan Allooh…

Kesadaran akan hal ini menjadikan manusia berbuat hal yang patut terhadap Penciptanya, yaitu : ber-Ibadah.

Dan ibadah yang paling utama adalah seorang melakukan ruku’ dan sujud…
Yang kemudian kita kenal dengan : Sholat.

Sholat adalah merupakan bagian dari ibadah.

Allooh sebut “sholat” yang merupakan bagian dari ibadah, sebelum kata “ibadah” yang mengandung ibadah sholat…
Menunjukkan bahwa sholat adalah berkedudukan luar biasa dibandingkan dengan ibadah lainnya….
Karena dia adalah HAK ALLOOH yang harus diutamakan.

Selain itu,
perlu disadari bahwa manusia hidup bersama manusia lainnya…
Karenanya dia harus memposisikan dalam posisi yang benar dan tepat…
Dan itu adalah dengan berbuat baik terhadap sesamanya….

Oleh karena itu…
Allooh perintahkan manusia,“Wahai manusia, berbuat baiklah kalian”…

Jika manusia pandai melakukan apa yang harus dilakukan terhadap Allooh…
Yang dikenal dengan “hablum minallooh”.

Dan pandai melakukan apa yang harus dilakukan terhadap sesama manusia…
Yaitu berbuat kebajikan terhadap sesama manusia…
Yang dikenal sebagai “hablum minannaas”.

Maka…
Allooh akan jamin orang ini menjadi orang yang beruntung.

(ARMAS)

177) HIDUP ADALAH PILIHAN

Allooh Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam QS. Thoha/20 : 74-76 :

({إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلا يَحْيَا (74) وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلا (75) جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى (76) } )

(74) “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sungguh, baginya adalah neraka Jahanam. Dia tidak mati (terus merasakan azab) di dalamnya dan tidak (pula) hidup (tidak dapat bertobat).”
(75) “Tetapi barangsiapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia),”
(76) “(yaitu) Surga-Surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri.”
(QS. Ta-Ha/20: 74-76)

Ayat ini jelas memberikan perbandingan kepada setiap orang yang berakal untuk memilih.

Memilih apa yang menjadi VISI dari HIDUP nya….

Jahanam kah…
Dimana didalam Jahanam ini dia akan mendapat gambaran akan keadaan bagaimana kemurkaan dan kemarahan Allooh Subhanahu Wa Ta’ala yang akan dialaminya, akibat dari perbuatan dosa yang selalu diperbuatnya….

Ataukah dia akan memilih Surga, dimana didalam Surga ini dia akan ditempatkan oleh Allooh sebagai manusia yang mendapatkan derajat yang tinggi, dan karena itu mereka kekal di dalamnya dengan menikmati segala keridhoan dan kecintaan Allooh pada mereka….
Sekaligus balasan yang lebih baik daripada apa yang mereka perbuat di dunia….

PILIHAN ini tentu adalah HASIL….
Konsekwensi itu adalah USAHA dan PERJUANGAN….

Tidak mungkin seseorang tiba-tiba dijerumuskan oleh Allooh kedalam Jahanam tanpa sebab….
Sebagaimana tidak mungkin Allooh angkat manusia ke dalam Surga-Nya tanpa sebab….
Ada isyarat tentang SEBAB disini, sebagai AKIBAT dari KONSEKWENSI daripada PILIHAN itu….

PROSES itu SANGAT PENTING….

Tidak mungkin seseorang meraih cita-citanya, menjangkau visi hidupnya dengan gratis….
Semua harus SIAP dengan RESIKO dan KERJA KERAS….

Mereka yang akan masuk Jahanam adalah karena mereka memilih dosa, ma’shiyat, bahkan kufur kepada Allooh Subhanahu wa Ta’ala sebagai pilihan hidupnya.

Sebaliknya, kenapa ada sebagian orang yang Allooh janjikan surga dengan segala kenikmatan di dalamnya….
Itu adalah karena mereka selama di dunia adalah memproses dirinya untuk berusaha selalu diatas iman kepada Allooh Subhanahu Wa Ta’ala, dan berusaha pula dalam seluruh hidupnya untuk BERAMAL yang SHOOLIH….

Beramal yang shoolih dalam artian melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, dan juga melakukan sesuatu yang bermakna perbaikan dengan berkhidmat kepada Islam, berkhidmat kepada kaum Muslimin, serta berkhidmat kepada kebaikan-kebaikan manusia….

Sehingga keberadaannya bukan sekedar hanya untuk dirinya sendiri yang merasakan manfaat itu….
Akan tetapi….
Juga manusia yang ada di sekitarnya bisa merasakan manfaat atas keberadaannya di dunia ini….

Oleh karena itu, tinggal kita memilih….

Kita memilih Jahanam kah…
Atau Surga kah…. ?

Tetapi…
Tidak cukup hanya pada Pilihan…

Karena PILIHAN itu menuntut adanya RESIKO PERJUANGAN, KONSEKWENSI, USAHA KERAS dan dengan penuh KESUNGGUHAN serta PENGORBANAN.

Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia yang berpikir.

(~ Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc., M.M.Pd. ~)

178) PERTANGGUNG-JAWABAN

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

(ٱلۡیَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰۤ أَفۡوَ ٰ⁠هِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَاۤ أَیۡدِیهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ یَكۡسِبُونَ)

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” [QS. Ya-Sin/36 : 65]

Bagi seorang muslim yang sudah barang tentu beriman kepada adanya Hari Kiamat, beserta apa yang akan terjadi di dalamnya; termasuk hari dimana dia akan dimintai tanggung jawab…
dihisab…
dihitung…
dan ditimbang…
Maka semestinya dia menyadari…
Bahwa semua yang dikatakan dan semua yang diperbuat di dunia ini pastilah akan meminta pertanggungjawaban….

Jika kita berkata sesuatu, maka mulut kita akan dimintai tanggung jawab….
Jika kita berbuat sesuatu, maka anggota tubuh kita akan dimintai tanggung jawab…
Jika kita mendengar sesuatu, maka pendengaran kita pun akan dimintai tanggung jawab…
Jika kita melihat sesuatu, maka mata kita pun akan diminta tanggung jawab…
Begitu pula dengan tangan…..
Begitu pula dengan kaki……..
Semua pasti tidak akan luput dari pertanggungjawaban.

Bahkan kita akan ditanya tentang umur kita…
Kita akan ditanya tentang keperkasaan dan kepemudaan kita….
Kita akan ditanya tentang harta yang kita dapat, berasal dari halal kah, atau berasal dari haram kah….
Jika kita berbelanja atau mengeluarkan rizki yang kita miliki, kita pun akan dimintai tanggung jawab…
Apakah terhadap sesuatu yang ma’ruf ataukah terhadap sesuatu yang mungkar….

Termasuk ilmu yang kita pelajari, yang kita ketahui, yang kita pahami, yang kita yakini; Allah pun akan meminta tanggung jawab…
Apakah kita telah mengamalkannya….
Ataukah hanya menjadi debu di dalam rak atau menjadi beku di dalam kalbu….

Dan yang perlu kita sadari di era teknologi seperti kita sekarang ini….
dimana gadget telah mengganti berbagai peradaban masa lalu (kertas, bolpen, meja kelas, bahkan komputer, termasuk jam tangan)….
Bahkan masih banyak lagi…..
Sekarang sudah tergantikan dengan ujung jari yang menyentuh smartphone yang dimiliki oleh banyak orang…

Bukan saja yang terpelajar, bahkan yang tidak terpelajar pun kebiasaan mereka adalah bermain ujung jari….

Ayat di atas harusnya menjadi pengingat bagi kita, bahwa kalau lah biasanya pertanggungan jawab itu melalui mulut, hari esok justru mulut kita akan dibungkam dan yang berbicara adalah justru jari jemari, baik tangan maupun kaki….
Semua mereka akan angkat bicara dan bersaksi.

Pada hari itu, siapa pun tidak akan ada yang bisa berdusta, menipu dan mengelabui, berkilah atau membayar agar perkaranya menjadi menang…
Tetapi jika benar, maka berbahagialah….
Dan jika salah, maka jangan mencela kecuali dirinya sendiri….

Bersiaplah wahai siapa yang beriman kepada Alloh….
Bahwa tangannya akan membawa dia selamat dan bahagia, menuju keberuntungan di Hari Kiamat…
Ataukah sebaliknya…
Akan membawa dia menuju murka Alloh di Hari Kiamat….

Menyebar dusta…
Menyebar hoax…
Menyebar fitnah…
Menyebar aurat….
Memprovokasi….
Mengadu domba….
Menebar musik….
Menebar video yang kontennya adalah bisa jadi berupa maksiat kepada Alloh…
Atau bahkan menyebarkan Hadits yang Dhoif apalagi Palsu, tanpa penjelasan dan maksud agar orang menghindari dan menjauhinya….
Memberi penjelasan atau mengajak orang lain kepada hal yang tidak benar….
dan seterusnya…
dan seterusnya….
Siapa yang melakukan hal seperti ini, maka bersiaplah dia untuk mempertanggungjawabkan semua itu di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala…

(~ Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc., M.M.Pd ~)

179) YANG HAK DAN YANG BATHIL

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

(ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا یَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِیُّ ٱلۡكَبِیرُ)

“Demikianlah (kebesaran Allooh) karena Allooh, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang bathil, dan sungguh Allooh, Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.”
[QS. Al-Hajj/22 : 62]

Di dalam Tafsir _At-Tanwir_ dijelaskan bahwa Allooh adalah Tuhan yang Benar dan bahwa tuhan-tuhan yang mereka orang-orang musyrikin seru dan mereka berdoa memohon kepadanya yang sudah barang tentu selain Allooh, semua itu adalah kebathilan.

Karena itu apabila Allooh berkehendak, maka Allooh pasti mengerjakannya; bahkan menolong para wali-Nya.

Sedangkan tuhannya orang-orang musyrikin disebut bathil, karena mereka tidak bisa menolong para walinya, para pengikutnya…
Bahkan mereka sendiri tidak bisa memberi pertolongan pada diri mereka sendiri…

Allooh lah satu-satunya Tuhan yang Benar yang berhak diibadahi oleh segenap manusia…

Hal itu dibuktikan karena langit milik Allooh…
Bumi juga milik Allooh…
Dan Allooh menyatakan bahwa Allooh adalah Maha Kaya…
Allooh telah menyediakan apa saja yang ada di bumi ini, termasuk lautan, termasuk pengaturan hujan….
Sampai dengan Allooh lah yang menghidupkan dan mematikan….

Demikianlah Allooh terangkan mengapa manusia harus mengetahui dan membenarkan bahwa Allooh adalah Tuhan satu-satunya bagi mereka yang beriman….
Sebagaimana hal itu diurai dalam 3 ayat setelah ayat ini.

Sedangkan alasan mengapa tuhan-tuhan selain Allooh disebut bathil, adalah karena mereka sesungguhnya tidak memiliki kepatutan apapun bentuknya untuk berstatus sebagai tuhan.

Allooh setelah memastikan yang demikian itu di dalam akhir-akhir surat Al Hajj, yaitu pada ayat ke-73 bahwa yang dianggap sebagai tuhan-tuhan selain Allooh itu kenapa disebut bathil, adalah karena jangankan satu dari mereka, bahkan seluruh mereka jika mereka itu berkongsi semuanya, mereka itu tetaplah tidak akan bisa menciptakan sesuatu, bahkan sekecil lalat sekalipun :

(يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَا بًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗ وَاِ نْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَا بُ شَيْـئًـا لَّا يَسْتَـنْـقِذُوْهُ مِنْهُ ۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَا لْمَطْلُوْبُ)

“Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allooh tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.”
(QS. Al-Hajj/22: Ayat 73)

Maka berbanggalah wahai saudara-saudaraku se-Iman se-Islam yang ber-Tuhan pada Tuhan yang Benar….
Karena Allooh Maha Kaya…
Allooh Maha Terpuji…
Allooh Maha Besar…
Dan Allooh adalah Maha Penyayang…

Kebenaran dan kebatilan itu benar adanya sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qur’an….
Dan tidaklah patut meragukan hal yang demikian itu…

Dan oleh karena itu, KEYAKINAN ini harus BERKONSEKWENSI bahwa seorang mukmin hanya BERTUMPU dan BERGANTUNG dalam segenap pengaduannya HANYA kepada ALLOOH saja…
Dan TIDAK kepada yang BATHIL.

( ARMAS )

180) “TUHAN” KOK CELAKA* ?

Ayat berikut ini mungkin sering kita temui, baik melalui membaca sendiri atau melalui mendengarnya dibacakan orang lain :

(فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ)

“(Seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” [QS. An-Nazi’at/79 : 24]

Semakin sombong dan congkak….
Maka semakin dahsyat pula kehinaan dan kesengsaraannya…
Di dunia maupun di akhirat….

Bagaimana tidak…
Perhatikanlah antara lain ayat berikut ini :

(۞ ٱحۡشُرُوا۟ ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ وَأَزۡوَ ٰ⁠جَهُمۡ وَمَا كَانُوا۟ یَعۡبُدُونَ * مِن دُونِ ٱللَّهِ فَٱهۡدُوهُمۡ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طِ ٱلۡجَحِیمِ)

(22) “(Diperintahkan kepada malaikat), Kumpulkanlah orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah,”
(23) “selain Allooh, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.”
[QS. Ash-Shaffat/37 : 22 – 23]

Di dunia, Allooh bahkan tenggelamkan ratusan meter di bawah dasar laut…
Di alam barzah, setiap pagi dan petang disiksa, bahkan diperlihatkan jalannya menuju neraka…
Dan setelah kiamat nanti, dia pun diusung tidak lain melainkan ke neraka yang adzabnya penuh dengan kepedihan….

Perhatikan firman Allooh :

(فَوَقَاهُ ٱللَّهُ سَیِّـَٔاتِ مَا مَكَرُوا۟ۖ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوۤءُ ٱلۡعَذَابِ * ٱلنَّارُ یُعۡرَضُونَ عَلَیۡهَا غُدُوࣰّا وَعَشِیࣰّاۚ وَیَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوۤا۟ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ)

(45) “Maka Allooh memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk.”
(46) “Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!”
[QS. Ghafir/40 : 45 – 46]

Maka…
Semakin sombong…
Semakin congkak….
Semakin kejam…
Semakin dzolim…
Akan semakin dahsyat pula hinaan dan siksaan adzab dari Allooh untuknya….
Na’uudzu billahi min dzaalik.

( ARMAS )

181) HOAX ANDA MENGANCAM ANDA

Rosuulullooh sholalloohu ‘alaihi wassallam bersabda :

“… ومن قال في مؤمن ما ليس فيه أسكنه الله ردغة الخبًال حتى يخرج مما قال”

“Barangsiapa yang mengatakan tentang seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak ada padanya; maka Allooh akan tenggelamkan dia di dalam nanah penghuni jahanam, sehingga dia keluarkan apa yang dia telah katakan…”
(HR. Abu Daud no. 3597, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhu, menurut Syaikh Syu’aib Al-Arnauth sanadnya shohiih)

RENUNGAN :

Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh setiap orang yang beriman kepada Allooh adalah….
Bahwa Islam yang diyakininya itu….
Merupakan tuntunan yang mengajarkan segala keluhuran….

Tidak ada apapun yang bernilai baik, mulia dan luhur; kecuali Islam pastilah mengajarkan dan menganjurkannya….

Dan sebaliknya….
Tidaklah ada sesuatu yang bernilai buruk, merugikan dan tercela; melainkan Islam pastilah akan membenci dan melarangnya….

Seorang yang telah menjadi muslim; maka dia haram bagi Muslim lainnya…
Baik hartanya, harga dirinya, apalagi jiwanya….

Oleh karena itu…
Maka hadits diatas adalah merupakan salah satu contoh…
Betapa harga diri seorang yang beriman kepada Allooh sangatlah mahal harganya…
Sehingga siapapun yang melukai, mengganggu dan menghalalkannya; berarti dia telah rela untuk dijerumuskan oleh Allooh pada Hari Kiamat ke dalam jahanam yang penuh dengan siksa yang pedih….

Islam mengajarkan bahwa seseorang hendaknya berbicara sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya….
Sedangkan membicarakan aib orang lain, apalagi jika aib itu tidak terdapat pada saudaranya; maka sungguh yang demikian adalah merupakan bentuk dosa…
Bukan sekedar perkara yang sia-sia; akan tetapi merupakan dosa…
Yang dapat menyeretnya ke dalam petaka…
Bahkan sejak di dunia….

Kalaulah di dunia pelaku keburukan itu adalah akan dihujat…
Bahkan bisa saja menjadi penghuni penjara yang dibenci orang, yang sudah barang tentu menjadikan hidupnya menjadi tidak nyaman dan stress…

Maka bagaimana lagi dengan kehidupannya di akhirat nanti yang lebih dahsyat adzabnya….

Na’uudzu billahi min dzaalik…

(~ Ust. ARMAS ~)

182) LAGI-LAGI TEMANNYA SYAITHON

Allôh berfirman :

(۞ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ ٰ⁠تِ ٱلشَّیۡطَـٰنِۚ وَمَن یَتَّبِعۡ خُطُوَ ٰ⁠تِ ٱلشَّیۡطَـٰنِ فَإِنَّهُۥ یَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَاۤءِ وَٱلۡمُنكَرِۚ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدࣰا وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ یُزَكِّی مَن یَشَاۤءُۗ وَٱللَّهُ سَمِیعٌ عَلِیمࣱ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Alloh dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Alloh membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Mendengar, Maha Mengetahui”
[QS. An-Nur/24 :21]

Wahai orang-orang yang beriman….

Berapa banyak kita saksikan pada masa dimana kita hidup saat ini…
Petunjuk…
Ajakan kepada Allooh….
Melalui upaya menjalankan TUNTUNAN dan HUKUM yang DISYARIATKAN oleh ALLOOH dan oleh Rosuulullooh…
Sebagai bukti pengamalan dari Ketuhanan Yang Maha Esa….
JUSTRU DICURIGAI dan DIPENUHI dengan BURUK SANGKA…

Upaya mengajak…
Menggiring….
Dan mendidik khalayak…
Agar kembali berpegang teguh kepada keyakinan atas benarnya Islam sebagai pedoman hidup yang harus eksis dalam berbagai sikap dan tindakan hidup seorang muslim….
JUSTRU DIJADIKAN sebagai ALASAN untuk KRIMINALISASI dan PERSEKUSI….

Para penyeru Zina dan Pergaulan Bebas…
Masih menuntut ruang untuk lebih berwarna-warni…
Dan lebih bebas lagi….

Riba yang sudah menyelimuti berbagai sisi dan lini kehidupan…
Masih menuntut ruang untuk menjadi rentenir yang lebih dahsyat lagi….

Dekadensi moral…
Yang melanda, bukan saja orang yang tidak terpelajar…
Akan tetapi….
Bahkan dari kalangan orang yang seharusnya menjadi tauladan bagi para pelajar….
Semakin marak….

Kedzoliman….
Tidak puas mendzolimi diri sendiri…
Akan tetapi…
Bahkan menimpa setiap orang yang memungkinkan untuk menjadikan dirinya puas untuk menjadi budak akibat ketidak berdayaannya….

Kerakusan untuk meraup segala kepuasan/kesenangan dunia….
Walaupun tanpa memperhatikan perasaan, harga diri bahkan masa depan generasi….
Semakin membelit….

Gerbang kebobrokan dan keterpurukan melalui narkoba dan pornografi…..
Menjadi sesuatu yang sudah darurat dan sulit dibendung….

Mengapa semua muncul….
Bahkan semakin berjaya ????

Tentu ayat diatas menjawab dan memberi informasi kepada kita…
Bahwa…
Betapa banyak orang yang rela menjadikan dirinya berkawan dengan Syaithon….
Baik Syaithon dari kalangan Jin yang ghoib…
Maupun Syaithon yang berwujud manusia….

Syaithon memang telah berpengalaman…
Bahkan sangat berpengalaman….
Bagaimana menipu…
Memperdaya….
Dan menjerumuskan manusia….

Kebodohan…
Atau kelalaian lah…
Yang telah menutupi pengetahuan mereka bahwa Syaithon itu lah yang senantiasa menyuruh manusia untuk berbuat berbagai kemungkaran…
Dan Syaithon itu lah yang melarang serta menghalangi mereka dari segala bentuk perkara yang Ma’ruf (perkara yang Baik)….
Serta menghalangi mereka dari kemuliaan, maupun keluhuran….

Kalau lah bukan karena Allooh Maha Mengetahui dan Maha Rohman serta Rohim…
Maka setiap orang yang berdosa tidak akan terhapus dari kesalahannya, yang dengannya akan berdampak pada penyesalan dan kepetakaan….

Sebelum penyesalan tiada arti…
Maka…
Marilah kita bergegas untuk kembali kepada-Nya.

(~ Ust. ARMAS ~)

183) HINDARILAH MUSIBAH

Allôh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

(لَّا تَجۡعَلُوا۟ دُعَاۤءَ ٱلرَّسُولِ بَیۡنَكُمۡ كَدُعَاۤءِ بَعۡضِكُم بَعۡضࣰاۚ قَدۡ یَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ یَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذࣰاۚ فَلۡیَحۡذَرِ ٱلَّذِینَ یُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦۤ أَن تُصِیبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ یُصِیبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمٌ)

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rosuul (Muhammad) diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allooh mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi diantara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosuul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”
[QS. An-Nuur/24 : 63]

Seorang muslim dilarang untuk mempersamakan seruan diantara mereka, dengan saat menyikapi seruan Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam….

Seorang muslim dilarang untuk mempersamakan ajakan diantara sesama mereka, dengan saat menyikapi ajakan Rosuulullooh…

Atau perintah diantara mereka dengan perintah Rosuulullooh…

Atau aturan-aturan yang mereka buat sesama mereka, dengan aturan Rosuulullooh…

Mereka dilarang mempersamakan itu….

Karena….
Perbedaannya jelas….

Bahwa manusia selain Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam adalah tidak ada yang patut untuk ditaati dan dipatuhi sepenuhnya…..
Tidak ada yang patut untuk ditaati dan dipatuhi secara mutlak…..

Sementara…
Ketaatan dan kepatuhan kepada Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam adalah merupakan KONSEKUENSI IMAN…

Bagi seorang mukmin….
Mentaati Rosuulullooh adalah EKSISTENSI….
Bahkan KUALITAS IMAN…
Yang terhunjam di dalam lubuk hatinya….

Sementara…..
Siapapun tidak ada yang wajib ditaati dan dipatuhi….
Terlebih jika menyimpang dan menyeleweng dari kepatuhan terhadap Rosuulullooh….

Tidak mungkin seseorang mampu bersembunyi dan menyembunyikan diri dari pengawasan Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa…

Jika dia taat kepada Allooh…
Dan taat kepada Rosuulullooh…
Pastilah sekecil apapun, Allooh akan memperlihatkannya….

Dan demikian pula…
Jika dia berbuat kejahatan dan perlawanan terhadap Allooh dan Rosuulullooh…
Maka….
Jangankan yang nyata dan tampak…
Yang tidak terlihat…
Bahkan yang tersembunyi pun…
Pastilah Allooh akan melihatnya…
Dan karenanya…
Dia tidak akan bisa bersembunyi dan lari dari kemurkaan-Nya…

Orang-orang yang menyelisihi aturan Allooh dan aturan Rosuulullooh…
Haruslah diwaspadai….
Haruslah dihindari…
Haruslah dijauhi…
Jika ingin selamat dan terhindar dari musibah, bencana maupun petaka…
Bila berada disekelilingnya….

Menghindari dengan menjauh dari mereka…
Tidak berada bersama mereka…
Mewaspadai mereka….
Serta memberitahu saudara-saudara kita lainnya, agar mereka juga menghindar….
Itu adalah karena…
Bukanlah selamat…
Bukanlah keberkahan….
Akan tetapi…
Justru membiarkan…
Terlebih memberikan dukungan kepada orang yang menyelisihi tuntunan Muhammad Rosuulullooh…
Menyelisihi Al-Islam yang dianutnya….
Adalah dapat menjadi penyebab turunnya musibah dan petaka….

Maka HINDARILAH PENYEBAB TURUNNYA PETAKA dan MUSIBAH itu !!

(~ Ust. ARMAS ~)

184) ORANG YANG BERUNTUNG

Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

عن عبدالله بن عمرو: قَدْ أَفْلَحَ مَن أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بما آتاهُ.

“Sungguh telah beruntung orang yang tangannya tidak dipakai untuk meminta-minta, dan orang yang qona’ah (puas) dengan apa yang Allooh berikan padanya.”
(HR. Muslim no: 1054, dari ‘Abdullooh bin ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhu)

RENUNGAN :

MERASA CUKUP dengan apa yang merupakan PEMBERIAN dan karunia dari ALLOOH….
Ternyata menjadi IDENTITAS bagi ORANG YANG akan BERUNTUNG…

Pemberian Allooh kepada manusia….
Sesungguhnya teramat sangat banyak…
Bahkan kalau mau disadari….
Pastilah dia tidak akan mampu untuk merincinya satu persatu…

Pada umumnya….
Manusia hanya menghitung sesuatu yang merupakan hasil dari apa yang diupayakannya….
Sehingga…
Jika yang diraihnya itu adalah tidak sesuai dengan harapannya….
Maka…
Dia beranggapan bahwa yang demikian itu menurutnya sedikit…
Karena baginya…
Barulah disebutnya banyak…
Apabila sesuai dengan target yang direncanakan atau bahkan melebihi apa yang direncanakannya…

Dia memutuskan…
Bahwa sesuatu yang sedikit dan tidak sesuai dengan target yang diharapkannya itu….
Menyebabkannya punya alasan bahwa dia tidak mensyukuri Allooh…

Sebagian manusia…
Jangankan tidak dipenuhi apa yang menjadi target dan harapannya…
Bahkan jika harapan dan targetnya tercapai sekalipun…
Dia belum tentu bersyukur….

Bahkan lebih sesat lagi…
Jika orang itu semakin lupa diri dan semakin kufur kepada (Allooh) yang memberinya….

Diantara CIRI ORANG yang berpaham MATERIALISTIS adalah…
Jika seseorang itu menghitung suatu prospek atau keberuntungan apabila apa yang diinginkannya, ditargetkannya dan menjadi harapan dunianya itu dia berhasil meraihnya….
Akan tetapi….
APA yang DIJANJIKAN DISISI ALLOOH dan ROSUUL-Nya….
Baginya BUKANLAH merupakan PROSPEK atau keberuntungan….
Orang seperti ini…
Sesungguhnya telah CACAT dalam KEIMANAN TERHADAP HARI AKHIR…
Maka pantaslah….
Kalau kehidupannya menjadi selalu berada dalam kekurangan dan jauh dari keberkahan….

(~ Ust. ARMAS ~)

185) PERBEDAAN MUNAFIQ DAN MU’MIN

Diantara KARAKTER MUNAFIQ :
1. Orang-orang Munafiq itu satu golongan
2. Memerintahkan yang Mungkar
3. Mencegah yang Ma’ruf
4. Bakhil/kikir

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَا لْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِا لْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْ ۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Alloh, maka Alloh melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. At-Taubah/9: 67)

Diantara KARAKTER MU’MIN :
1. Saling tolong menolong
2. Memerintahkan yang Ma’ruf
3. Mencegah yang Mungkar
4. Mendirikan Sholat
5. Menunaikan Zakat
6. Ta’at pada Allôh dan Rosul-Nya.

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

وَا لْمُؤْمِنُوْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Alloh dan Rosul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Alloh swt. Sungguh, Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah/9: 71)

PERBEDAAN yang JELAS adalah :
Apabila….
Orang Mu’min memerintahkan yang Ma’ruf dan mencegah yang Munkar….
Maka….
Sebaliknya….
Orang-orang Munafiq itu justru memerintahkan yang Munkar dan mencegah yang Ma’ruf….

[Kuliah Shubuh Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd]

186) PENGHARAM TELAGA ROSÛLULLÔH

Rosûlullôh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

عن جابر بن عبد الله: أنَّ رسولَ اللهِ ﷺ قال لكعبِ بنِ عُجْرةَ:يا كعبُ بنَ عُجْرةَ أعاذنا اللهُ مِن إمارةِ السُّفهاءِ ) قالوا: يا رسولَ اللهِ وما إمارةُ السُّفهاءِ؟ قال: ( أمراءُ يكونون بعدي لا يهتدون بهَدْيي ولا يستنُّون بسنَّتي فمَن صدَّقهم بكذبِهم وأعانهم على ظُلمِهم فأولئك ليسوا منِّي ولَسْتُ منهم ولا يرِدوا عليَّ حوضي ومَن لم يُصدِّقْهم بكذبِهم ولم يُعِنْهم على ظلمِهم فهم منِّي وأنا منهم وسيرِدون عليَّ حوضي يا كعبُ بنَ عُجْرةَ الصَّومُ جُنَّةٌ والصَّدقةُ تُطفئُ الخطيئةَ والصَّلاةُ برهانٌ ـ أو قال: قربانٌ ـ يا كعبُ بنَ عُجْرةَ النّاسُ غاديانِ: فمبتاعٌ نفسَه فمُعتِقُها وبائعٌ نفسَه فموبِقُها

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata : “Sesungguhnya Rosûlullôh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepada Ka’ab bin Ujroh, “Semoga Allooh melindungi kita dari para pemimpin yang dungu”.
Mereka bertanya, “Siapakah para pemimpin yang dungu itu, ya Rosûlullôh?”
Rosûl Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam menjawab: “Para pemimpin setelah aku, yang mereka tidak menjadikan pedomanku sebagai petunjuknya, dan tidak menjadikan sunnahku sebagai jalannya; maka BARANGSIAPA MEMBENARKAN MEREKA (pemimpin dungu itu) DALAM KEBOHONGANNYA, dan MENOLONG dalam KEDZOLIMANNYA, maka MEREKA itu BUKAN dari GOLONGANKU, dan AKU juga BUKAN BAGIAN dari MEREKA, dan MEREKA TIDAK AKAN MELEWATI TELAGAKU.”
“Dan barangsiapa TIDAK MEMBENARKAN dalam DUSTANYA, dan TIDAK MENOLONG dalam KEDZOLIMANNYA, maka mereka ITULAH GOLONGANKU dan aku bagian dari mereka, dan merekalah yang akan melewati telagaku.”
“Wahai Ka’ab bin Ujroh, shoum itu perisai, shodaqoh penghapus dosa, sholat itu hujjah (bukti keimanan).”
“Wahai Ka’ab bin Ujroh, ada dua orang yang pergi di waktu pagi, seorang yang menebus diri dan membebaskannya supaya tidak celaka, dan ada yang menjual dirinya kemudian menjerumuskannya ke dalam api neraka.”

(HR. Ibnu Hibban No. 4514, Hadits ini menurut Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam “Shohiih At Targhib wat Tarhib” no: 2242 adalah Hadits Shohiih Lighoirihi, dari Jabir Bin ‘Abdillâh rodhiyalloohu ‘anhu)

Melalui hadits diatas dapat disarikan antara lain beberapa poin :

KETEGASAN BERSIKAP ternyata juga merupakan IDENTITAS seorang MUSLIM…..

KETEGASAN BERPIHAK pada KEBENARAN, dan BERLEPAS DIRI dari KEBATHILAN ternyata juga merupakan IDENTITAS seorang MUSLIM…..

Mengapa harus meng-iya-kan sesuatu yang tidak patut di-iya-kan ???….
Apalagi mendukung dan menolong kedzoliman ???…

Sebaliknya….

Mengapa harus ragu….
Atau tidak berani mengingkari….
Kalau sesuatu itu memang tidak patut, dan tidak berhak untuk diikuti ???…

Mengapa RAGU BERPIHAK pada KEBENARAN ???…

Telaga Rosúlullôh adalah satu-satunya….

Telaga itu tersedia bagi ummat Rosûl, yang jika dia meminumnya, maka sungguh dia tidak akan pernah haus selama-lamanya….

Jangan sepelekan atau bertindak konyol….
Dengan sikap yang tidak mencerminkan ke-Islaman ataupun keteguhan Iman….
Hanya demi mengejar keuntungan dunia yang sesaat belaka….

Berapa banyak ummat ini yang terancam DILARANG menikmati TELAGA ROSÛL….
Akibat mereka itu KRISIS KETEGASAN SIKAP…..
Yang dapat menjadikannya menyesal terutama di Hari Akhirat yang tak berujung kelak….

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

187) DOA ADALAH SENJATA BAGI MUKMIN

Bagi orang yang beriman….
ALLOOH adalah AWAL dan AKHIR…
Baik disaat lapang…
Maupun disaat sempit…
Terlebih disaat menghadapi berbagai kesulitan…
Maka dari itu…
JANGAN LUPA BERDOA KEPADA ALLOOH…
Karena….
Doa bagi Muslim/Mukmin adalah SENJATA yang TIDAK AKAN TERKALAHKAN….

وَالدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الْأَدْوِيَةِ، وَهُوَ عَدُوُّ الْبَلَاءِ، يَدْفَعُهُ، وَيُعَالِجُهُ، وَيَمْنَعُ نُزُولَهُ، وَيَرْفَعُهُ، أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ، وَهُوَ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ.

“Doa adalah obat yang paling bermanfaat….
Ia merupakan musuh bagi bala/bencana…
Ia adalah solusi bagi bala….
Ia adalah penghalang turunnya bala…
Ia adalah pengangkat bala…
Ia adalah peringan bala….
Dan….
Ia adalah SENJATA bagi MUKMIN…..”

(Ibnul Qoyyim, Al Jawabul Kaafi, hal.10)

188) DOA BERLINDUNG DARI PEMIMPIN YANG KEJAM

عن عبدالله بن عمر: قَلَّما كان رسولُ اللهِ ﷺ يقومُ من مَجْلِسٍ حتى يدعوَ بهؤلاءِ الكَلِماتِ لأصحابِه اللهم اقْسِمْ لنا من خشيتِكَ ما يَحُولُ بيننا وبين مَعاصِيكَ ومن طاعتِكَ ما تُبَلِّغُنا به جنتَكَ ومن اليقينِ ما تُهَوِّنُ به علينا مُصِيباتِ الدنيا ومَتِّعْنا بأسماعِنا وأبصارِنا وقوتِنا ما أَحْيَيْتَنا واجعلْه الوارثَ منا واجعلْ ثأرَنا على من ظلمنا وانصُرْنا على من عادانا ولا تجعلْ مُصِيبَتَنا في دينِنا ولا تجعلِ الدنيا أكبرَ همِّنا ولا مَبْلَغَ علمِنا ولا تُسَلِّطْ علينا من لا يَرْحَمُنا

Ibnu Umar berkata; jarang Rosuulullooh sholalloohu ‘Alaihi Wasallam berdiri dari majelis, kecuali beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya: “ALLAAHUMMAQSIM LANAA MIN KHASYYATIKA MAA YAHUULU BAINANAA WA BAINA MA’AASHIIKA, WA MIN THAA’ATIKA MAA TUBALLIGHUNAA BIHI JANNATAKA, WA MINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU BIHI ‘ALAINAA MUSHIIBAATID DUNYAA WA MATTI’NAA BIASMAAINAA WA ABSHAARINAA WA QUWWATINAA MAA AHYAITANAA, WAJ’ALHUL WAARITSA MINNAA WAJ’Al TSA`RANAA ‘ALAA MAN ZHALAMANAA WANSHURNAA ‘ALAA MAN ‘AADAANAA, WALAA TAJ’Al MUSHIIBATANAA FII DIININAA WA LAA TAJ’ALID DUNYAA AKBARA HAMMINAA WA LAA MABLAGHA ‘ILMINAA, WA LAA TUSALLITH ‘ALAINAA MAN LAA YARHAMUNAA”
(Ya Allooh, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepada-Mu, yang menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami kepada Surga-Mu, dan curahkanlah keyakinan yang meringankan musibah di dunia. Berilah kenikmatan kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan dari kami, dan jadikan pembalasan atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai impian kami terbesar, serta pengetahuan kami yang tertinggi, *serta JANGAN ENGKAU KUASAKAN ATAS KAMI ORANG-ORANG YANG TIDAK MENYAYANGI KAMI*).”

(HR. At-Turmudzi no. 3502, dari Abdullôh bin Umar At-Turmudzi berkata: “Abu Isa berkata: Hadits ini adalah hadits Hasan Ghorib” dan Syaikh Nashiruddin Al-Albani menghasankannya)

189) SAAT PERTOLONGAN ALLÔH TIBA

Allôh berfirman :

(حَتَّىٰۤ إِذَا ٱسۡتَیۡـَٔسَ ٱلرُّسُلُ وَظَنُّوۤا۟ أَنَّهُمۡ قَدۡ كُذِبُوا۟ جَاۤءَهُمۡ نَصۡرُنَا فَنُجِّیَ مَن نَّشَاۤءُۖ وَلَا یُرَدُّ بَأۡسُنَا عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُجۡرِمِینَ)

“Sehingga apabila para rosul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rosul) itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa.”
[QS. Yusuf/12: 110]

RENUNGAN:

Kecamuk PERJUANGAN untuk MENEGAKKAN dan MEMBELA KEBENARAN….
Tentu merupakan UPAYA GIGIH yang TIDAK MENGENAL LELAH….
Bahkan PENGORBANAN…..

Apabila seluruh upaya telah diperjuangkan sedemikian rupa….
Akan tetapi….
Justru terasa SEMPIT…..
Justru terasa SULIT…
Dan keadaan yang MENJEPIT itu…
Dirasakan menyesakkan sampai MENDEKATI TITIK NADIR (titik terendah harapan/tipis harapan)….
Bahkan mungkin….
Hampir membuat putus asa….
Dikarenakan tipu daya dan penolakan yang begitu besar yang menggelinding…
Maka….
Dalam keadaan seperti ini….
Justru ALLÔH TURUNKAN PERTOLONGAN-Nya…

Lalu…
KEBENARAN pun menjadi MENANG….
Dan KEBATHILAN pun menjadi TERHINA….

Maka RUMUS INI TIDAK BOLEH LENYAP DARI MEMORI ORANG YANG BERIMAN……

Karena….
Sesungguhnya SELURUH PERJUANGAN itu adalah UJIAN….
Sungguh-sungguh kah kita ???….
Tuluskah kita ???….
Dan berada di atas jalan yang benar kah kita ???…

Allooh Maha Bijaksana…..
Allooh Maha Perkasa….
Tidak akan ada siapapun yang akan mampu memperdaya Allooh…..
Tidak akan ada siapapun yang akan mampu menipu Allooh….
Tidak akan ada siapapun yang akan mampu mengalahkan Allooh…

KEBENARAN pasti DITOLONG dan DIMENANGKAN oleh ALLÔH….
Betapapun sebelumnya harus berpeluh keringat….
Berurat tegang….
Dan berlumuran darah terlebih dahulu….
ALLÔH MENYUKAI HAMBA-Nya untuk BERJUANG DI JALAN-Nya….

Ingatlah….

Sesungguhnya dosa kefasikan…
Dosa kedzoliman…
Dan dosa kekufuran…
Tidak akan berakhir kecuali akan berada dalam keadaan hina…

Dan sebaliknya….

Kebenaran…
Ketaqwaan…
Dan cahaya Allooh….
Tidak akan berakhir, kecuali dalam keadaan tersanjung…
Mulia..
Dan tak tersaingi !!!

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

190) HUKUM SHAUM SETELAH MELEWATI PERTENGAHAN SYA’BAN

Terdapat dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُوا

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda: “Apabila sudah pertengahan Sya’ban maka janganlah kalian shaum.” (HR. Abu Dawud No. 2337 dishahihkan oleh al Albany).

Syaikh Muhammad Asyraf al ‘Adzim Abady mengatakan: “Hikmah tidak disunnahkannya Shaum setelah pertengahan Sya’ban adalah agar seorang muslim mempersiapkan kekuatan untuk menyambut bulan Ramadhan.” (‘Aunul Ma’bud 6/330).

Sedangkan al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Larangan ini ditujukan bagi mereka yang tidak terbiasa shaum sebelumnya.” (Fathul Baary 4/215)

Jadi bagi mereka yang terbiasa shaum Senin Kamis atau Shaum Dawud, maka tidak termasuk dalam apa yang dilarang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam dalam hadist ini.

والله أعلم بالصواب

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

191) KECURANGAN ADALAH KEKALAHAN DAN KEHINAAN

Allôh berfirman:

(وَإِلَىٰ مَدۡیَنَ أَخَاهُمۡ شُعَیۡبࣰاۚ قَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۖ قَدۡ جَاۤءَتۡكُم بَیِّنَةࣱ مِّن رَّبِّكُمۡۖ فَأَوۡفُوا۟ ٱلۡكَیۡلَ وَٱلۡمِیزَانَ وَلَا تَبۡخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشۡیَاۤءَهُمۡ وَلَا تُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَاۚ ذَ ٰ⁠لِكُمۡ خَیۡرࣱ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ)

“Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syuaib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allooh. Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.”
[QS. Al-A’raf/7: 85]

RENUNGAN:

Curang itu adalah penyakit moral yang sudah menjangkiti umat manusia berabad-abad yang lalu sejak kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam….

Nabi Syu’aib ‘alaihissalam menyeru kaumnya yaitu kaum Madyan agar mereka menepati dan menyempurnakan takaran dan timbangan dan tidak berbuat curang….

Oleh Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, CURANG DISETARAKAN dengan BERBUAT KERUSAKAN DI MUKA BUMI, bahkan BERBUAT CURANG adalah CIRI ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN….

Orang yang beriman kepada Allooh, orang beriman kepada Rosuulullooh, orang beriman dengan adanya Hari Kematian, orang beriman dengan adanya Hari Perhitungan dan Pembalasan; mereka akan memiliki rasa takut untuk berbuat curang….

CURANG adalah simbol dari KARAKTER RAKUS….

CURANG adalah penampakan dari GEJALA EGOIS, INGIN MENANG SENDIRI, INGIN UNTUNG SENDIRI…..

Curang menimbulkan sikap yang tidak peduli dengan orang lain, dan dengan kepentingan orang lain; apalagi dengan kepentingan bangsa dan negara….

Siapapun yang memiliki sifat dan karakter curang maka tidak berhak untuk mendapatkan amanah atau kepercayaan….
Karena kalau dia mendapatkan kepercayaan, pastilah dia akan merugikan orang lain; bahkan merugikan orang banyak, dan menyusahkan masyarakat….

Kecurangan bisa terjadi dalam menakar, dalam menimbang, dalam mengukur, dalam bekerja…
Bahkan dalam pemungutan suara dalam Pemilu…

Kecurangan dalam Pemilu, misalnya dengan cara kertas suara digotong ke tempat yang tidak jelas arahnya kemana, adanya petugas KPPS yang menyoblos sendiri, kertas suaranya kemudian tiba-tiba muncul menjadi angka yang fantastis….
dan seterusnya….
dan seterusnya….

Tapi ingat…
Jangan dikira bahwa kecurangan adalah kebenaran….
Yang pasti KECURANGAN adalah KEBATHILAN….
Dan kebathilan tidak akan berakhir, kecuali dalam keadaan kalah, malu, hina, nestapa dan petaka !!!

Perhatikanlah bagaimana Allooh menghukum dan mengadzab kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam yang tidak beriman, yang tidak mengindahkan larangan curang, dan yang tetap berbuat curang…
Mereka disapu-bersih….
Dibinasakan….
Dibuat-Nya tidak berkutik….
Dibuat-Nya menderita….
Dibuat-Nya celaka….
Dibuat-Nya terhina….
Dibuat-Nya musnah…
Melalui halilintar yang memekakkan telinga mereka sampai mati, yang menjemput mereka hingga tempat-tempat persembunyian mereka….

Bagi orang yang berakal sehat…
Pastilah akan mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah yang kelam itu….

Ingatlah….
Allooh yang Maha Perkasa pasti berada di pihak yang benar….
Pasti membela yang benar….
Pasti akan mengalahkan yang curang….
Pasti akan menghinakan orang-orang yang curang….

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

192) MEMBANGKANG ADALAH BENTUK DARI KEDZOLIMAN DAN KESOMBONGAN

Allôh berfirman :

(فَلَمَّا جَاۤءَتۡهُمۡ ءَایَـٰتُنَا مُبۡصِرَةࣰ قَالُوا۟ هَـٰذَا سِحۡرࣱ مُّبِینࣱ * وَجَحَدُوا۟ بِهَا وَٱسۡتَیۡقَنَتۡهَاۤ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمࣰا وَعُلُوࣰّاۚ فَٱنظُرۡ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِینَ)

“Maka ketika mukjizat-mukjizat Kami yang terang itu sampai kepada mereka, mereka berkata, “Ini sihir yang nyata.” Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
[QS. An-Naml/27: 13 – 14]

RENUNGAN:

Bisa jadi kedzoliman dan kesombongan itu tidak disadari oleh pelakunya…
Atau tidak diketahui oleh orang yang ada di sekelilingnya….
Karena sudah menjadi kebiasaan dan karakter hidupnya….

Kedzoliman adalah perilaku aniaya dan merugikan…
Baik merugikan dirinya sendiri…
Apalagi merugikan orang dan pihak lain….

Sedangkan….
Kesombongan adalah sikap menolak kebenaran….
Dan menganggap sepele orang lain atau pihak lain….

Apa jadinya jika dua karakter buruk dan tercela ini ada dan dimiliki oleh mereka yang berwenang dan berkuasa??…
Pastilah yang akan menjadi korban adalah rakyatnya, bangsanya dan negaranya…..

Melalui ayat ini…
Allôh menampakkan dan memberi identifikasi serta indikator kepada orang yang berakal…
Tentang…
SIKAP dan KARAKTER daripada FIR’AUN….

FIR’AUN itu memang SENANTIASA MENOLAK KEBENARAN….
MENOLAK BUKTI….
MENOLAK DATA…
Dan….
MENOLAK FAKTA….
Betapapun sudah di depan mata….
Kalaupun ada kebenaran…
Maka sesungguhnya kebenaran itu dia nyatakan kepada orang yang berada di sekelilingnya sebagai sihir, yang sudah barang tentu sihir adalah bathil…..

Data, fakta dan bukti telah menjelma di depan mata….
Tetapi….
Yang dipublikasikan adalah Kepalsuan….
Pengingkaran….
Penolakan….
Dan pembangkangan….

Jika pemimpin telah memiliki karakter seperti ini….
Maka…
Kehancuran, kerusakan dan kebinasaan yang akan mengakhirinya…

Sejarah Fira’un telah menjadi bukti sejarah…
Yang tidak mungkin dipungkiri….

Pada saat Fira’un itu congkak, sombong, angkuh dan menolak kebenaran….
Bahkan….
Dia mengaku bahwa dialah yang tertinggi, termulia dan teragung….
Maka saat itu pulalah tiba nasib buruk yang menghinakannya….
Berupa Allôh tenggelamkan dia ke dasar laut merah…
Lalu beberapa saat kemudian menjadi bangkai….
Yang kemudian Allôh abadikan sampai akhir zaman…
Agar setiap orang yang berakal sehat dapat mengambil pelajaran….

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

193) BINASA ADALAH AKHIR DARI KEDZOLIMAN

Allôh berfirman :

(وَلَقَدۡ أَهۡلَكۡنَا ٱلۡقُرُونَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَمَّا ظَلَمُوا۟ وَجَاۤءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَیِّنَـٰتِ وَمَا كَانُوا۟ لِیُؤۡمِنُوا۟ۚ كَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِینَ)

“Dan sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat zhalim, padahal para rosuul mereka telah datang membawa keterangan-keterangan (yang nyata), tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.”
[QS. Yunus/10: 13]

Renungkanlah:

Perbuatan DOSA itu, tidak lain kecuali hanya akan MENGAKIBATKAN PETAKA….

Sedemikian sayang Allooh pada makhlukNya….
Bagaimana tidak….
Allooh telah turunkan ke tengah-tengah mereka….
Para Rosuul…
Para Ulama….
Para Dai….
Para Ustadz….
Dan…
Para Mubaligh…
Yang sudah barang tentu menjelaskan apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus dihindari….

Janganlah coba-coba melanggar….
Janganlah coba-coba melawan….
Janganlah coba-coba menentang….
Karena sejarah telah membuktikan….
Berabad-abad manusia hidup di dunia ini, sejak Adam ‘alaihissalam sampai Nabi Isa ‘alaihissalam…
Bahkan sampai saat ini…
Semua telah menggoreskan sejarah…
Bahwa KEDZOLIMAN pasti akan BERAKHIR dengan NESTAPA…

Kasih sayang Allooh itu sesungguhnya menggiring manusia….
Agar mereka memperoleh rahmat di Hari Akhirat kelak lebih banyak dan lebih berlipat daripada rahmat yang mereka nikmati selama hidup di dunia….

Petaka itu banyak bentuknya…
Bisa kepada dirinya berupa sakit badannya, pikirannya, jiwanya…
Atau bahkan terhalang dari petunjuk Allooh…

Bahkan lebih besar daripada itu akan menimpa orang lain….
Mereka menjadi sengsara…
Mereka menjadi kelaparan….
Mereka menjadi bodoh….
Mereka menjadi terbelakang….
Mereka menjadi budak….
Mereka menjadi sakit….
Mereka menjadi gila….
Mereka menjadi bunuh diri…
Bahkan menyebabkan mereka saling tumpah darah….
Saling bermusuhan….
Dan saling berpecah….
Bahkan juga bisa memungkinkan negara menjadi terbelah….
Persatuan menjadi perpecahan….
Persaudaraan menjadi permusuhan….

Semua itu antara lain KARENA KEDZOLIMAN yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang…..

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

194) ALLOOH MEMBENCI PENGKHIANAT

Allôh berfirman :

(وَلَا تُجَـٰدِلۡ عَنِ ٱلَّذِینَ یَخۡتَانُونَ أَنفُسَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّانًا أَثِیمࣰا)

“Dan janganlah kamu berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sungguh, Allooh tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa.”
[QS. An-Nisa’/4: 107]

RENUNGAN:

Kecurangan, adalah bentuk dan wujud dari hilangnya kejujuran….

Sedangkan…

Kecurangan dan ketidakjujuran, adalah merupakan bentuk penghianatan seseorang terhadap dirinya sendiri….

Jika seseorang telah menghianati dirinya sendiri, bagaimana bisa kita berharap kejujuran darinya terhadap orang lain?

Jika orang yang telah menghianati dirinya sendiri itu tidak bisa menerima nasehat orang lain, maka ayat ini mengisyaratkan bahwa tidak ada gunanya untuk membela orang seperti itu….

Dengan jelas dan tegas bahwa…
Allooh tidak menyukai, tidak mencintai; bahkan membenci penghianat dan pelaku dosa.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

195) KEBATHILAN PASTI TERHINA

Allôh berfirman :

(فَلَمَّاۤ أَلۡقَوۡا۟ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ إِنَّ ٱللَّهَ سَیُبۡطِلُهُۥۤ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِینَ)

“Setelah mereka melemparkan, Musa berkata, “Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allooh akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sungguh, Allooh tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.”
[QS. Yunus/10 : 81]

RENUNGAN:

Ketika Musa ‘alaihissalam menampakkan mu’jizatnya sebagai bukti kebenaran dakwah yang dibawanya,
Fir’aun justru menantangnya dengan sihir…

Maka Musa ‘alaihissalam dengan penuh keyakinan dan tidak gentar menyatakan bahwa…
Apapun bentuk kehebatan yang kalian perjuangkan dan kalian tampakkan, semua tidak lain adalah merupakan sihir…..

Sedangkan…
Allooh tidak akan memenangkan kebathilan…
Termasuk pula sihir yang ditampakkan oleh team Fir’aun…

Allooh tidak akan mewujudkan perbaikan dan kemajuan atas upaya dan perjuangan dari mereka orang-orang yang merusak….

Maka sudah menjadi keharusan bagi orang yang menjadi pelanjut risalah Musa ‘alaihissalam dan pengikut setia Muhammad sholalloohu ‘alaihi wassallam untuk meyakini bahwa : “Sehebat apapun upaya Fir’aun untuk memadamkan cahaya Allooh dengan merusak tatanan di permukaan bumi ini agar tidak sesuai dengan Kehendak Allooh, Pencipta semesta alam, maka akhir dari upaya mereka itu hanyalah kekalahan dan kehinaan.”

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

196) KRONOLOGIS KEJATUHAN

Allôh berfirman :

(ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ * فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰۤ أَن تَزَكَّىٰ * وَأَهۡدِیَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ * فَأَرَىٰهُ ٱلۡـَٔایَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ * فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ * ثُمَّ أَدۡبَرَ یَسۡعَىٰ * فَحَشَرَ فَنَادَىٰ * فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ * فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡـَٔاخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰۤ * إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَعِبۡرَةࣰ لِّمَن یَخۡشَىٰۤ)

“Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas,
Maka katakanlah (kepada Fir‘aun), “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?”
Lalu (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi dia (Fir‘aun) mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Kemudian dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya). (Seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
Maka Allooh menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia.
Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allooh).”
[QS. An-Nazi’at/79 : 17 – 26]

RENUNGAN:

Sebagai utusan Allooh…
Allooh Subhaanahu Wa Ta’aala menyuruh Musa ‘alaihissalam untuk mendatangi Fir’aun; karena dia telah melampaui batas….

Serulah dan tawarkanlah kepada Fir’aun jalan yang benar….
Dan agar dia mensucikan dirinya, jiwanya akhlaknya dan sikap-sikapnya…
Kemudian tunjukkan dia kepada jalan yang menghantarkannya kepada Allooh…
Lalu diharapkan dia akan menjadi orang yang takut kepada-Nya….

Sebagai bukti bahwa Musa ‘alaihissalam adalah utusan Allooh….
Sebagai bukti bahwa ajaran, tuntunan dan pedoman yang ditawarkan kepada Fir’aun adalah suatu kebenaran…
Maka diperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran Allooh….

Akan tetapi…

Kecongkakan, kesombongan dan kekufuran Fir’aun mulai tampak melalui mendustakan dan tidak membenarkan apa yang disampaikan oleh Musa ‘alaihissalam….
Dan justru semakin mengingkari, menyalahi, menentang….
Kemudian bahkan berpaling….
Untuk kemudian merencanakan penolakan, perlawanan dan makarnya kepada orang yang telah berusaha menunjukkan padanya jalan yang baik….

Tidak cukup sampai disitu….

Tetapi Fir’aun juga membentuk team untuk mempublikasikan serta mengumumkan kepada khalayak ramai yang menjadi bawahannya, yang menjadi rakyatnya…
Bahwa dia adalah “Tuhan yang Maha Tinggi”….

Fir’aun itu tidak lagi meyakini bahwa dia adalah makhluk yang hina….
Dia menjadi sombong….
Dia menjadi congkak….
Dia tidak ingin direndahkan….
Dia tidak ingin ditinggalkan kaumnya….
Bahkan lebih dari itu….
Dia ingin memusnahkan orang yang memberinya nasehat dan petunjuk….

Pada saat kondisi pendustaan, penolakan, pembangkangan terhadap kebenaran sudah semakin memuncak….
Sudah semakin mengkerucut pada titik puncaknya….
Bahkan pelakunya tidak lagi menyadari keangkuhannya…

Maka pada saat itulah….
Allooh hinakan Fir’aun….
Ke titik yang paling rendah….
Terbenam di dasar lautan….

Kabar ini….
Berita ini….
Sejarah ini….
Hanya akan dijadikan sebagai nasehat…
Dijadikan sebagai penuntun….
Dijadikan sebagai pelajaran….
Oleh orang-orang yang beriman…
Yang meyakini bahwa hanya Allooh lah yang berhak untuk ditakuti….

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

197) PERBEDAAN MISKINNYA MEREKA DAN MISKINNYA KITA

Terdapat dalam riwayat yang shohihah bahwa :

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ
كَانَ يَقُولُ أَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنْ كُنْتُ لَأَعْتَمِدُ بِكَبِدِي عَلَى الْأَرْضِ مِنْ الْجُوعِ وَإِنْ كُنْتُ لَأَشُدُّ الْحَجَرَ عَلَى بَطْنِي مِنْ الْجُوعِ وَلَقَدْ قَعَدْتُ يَوْمًا عَلَى طَرِيقِهِمْ الَّذِي يَخْرُجُونَ مِنْهُ فَمَرَّ أَبُو بَكْرٍ فَسَأَلْتُهُ عَنْ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِيُشْبِعَنِي فَمَرَّ وَلَمْ يَفْعَلْ ثُمَّ مَرَّ بِي عُمَرُ فَسَأَلْتُهُ عَنْ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِيُشْبِعَنِي فَمَرَّ فَلَمْ يَفْعَلْ ثُمَّ مَرَّ بِي أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَبَسَّمَ حِينَ رَآنِي وَعَرَفَ مَا فِي نَفْسِي وَمَا فِي وَجْهِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْحَقْ وَمَضَى فَتَبِعْتُهُ فَدَخَلَ فَاسْتَأْذَنَ فَأَذِنَ لِي فَدَخَلَ فَوَجَدَ لَبَنًا فِي قَدَحٍ فَقَالَ مِنْ أَيْنَ هَذَا اللَّبَنُ قَالُوا أَهْدَاهُ لَكَ فُلَانٌ أَوْ فُلَانَةُ قَالَ أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْحَقْ إِلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ فَادْعُهُمْ لِي قَالَ وَأَهْلُ الصُّفَّةِ أَضْيَافُ الْإِسْلَامِ لَا يَأْوُونَ إِلَى أَهْلٍ وَلَا مَالٍ وَلَا عَلَى أَحَدٍ إِذَا أَتَتْهُ صَدَقَةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْهِمْ وَلَمْ يَتَنَاوَلْ مِنْهَا شَيْئًا وَإِذَا أَتَتْهُ هَدِيَّةٌ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ وَأَصَابَ مِنْهَا وَأَشْرَكَهُمْ فِيهَا فَسَاءَنِي ذَلِكَ فَقُلْتُ وَمَا هَذَا اللَّبَنُ فِي أَهْلِ الصُّفَّةِ كُنْتُ أَحَقُّ أَنَا أَنْ أُصِيبَ مِنْ هَذَا اللَّبَنِ شَرْبَةً أَتَقَوَّى بِهَا فَإِذَا جَاءَ أَمَرَنِي فَكُنْتُ أَنَا أُعْطِيهِمْ وَمَا عَسَى أَنْ يَبْلُغَنِي مِنْ هَذَا اللَّبَنِ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُدٌّ فَأَتَيْتُهُمْ فَدَعَوْتُهُمْ فَأَقْبَلُوا فَاسْتَأْذَنُوا فَأَذِنَ لَهُمْ وَأَخَذُوا مَجَالِسَهُمْ مِنْ الْبَيْتِ قَالَ يَا أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ خُذْ فَأَعْطِهِمْ قَالَ فَأَخَذْتُ الْقَدَحَ فَجَعَلْتُ أُعْطِيهِ الرَّجُلَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ الْقَدَحَ فَأُعْطِيهِ الرَّجُلَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ الْقَدَحَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ الْقَدَحَ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ رَوِيَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ فَأَخَذَ الْقَدَحَ فَوَضَعَهُ عَلَى يَدِهِ فَنَظَرَ إِلَيَّ فَتَبَسَّمَ فَقَالَ أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بَقِيتُ أَنَا وَأَنْتَ قُلْتُ صَدَقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اقْعُدْ فَاشْرَبْ فَقَعَدْتُ فَشَرِبْتُ فَقَالَ اشْرَبْ فَشَرِبْتُ فَمَا زَالَ يَقُولُ اشْرَبْ حَتَّى قُلْتُ لَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أَجِدُ لَهُ مَسْلَكًا قَالَ فَأَرِنِي فَأَعْطَيْتُهُ الْقَدَحَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَسَمَّى وَشَرِبَ الْفَضْلَةَ

Abu Hurairah pernah mengatakan: “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, aku pernah menempelkan lambungku di atas tanah karena rasa lapar, aku juga pernah mengikatkan beberapa batu diperutku karena rasa lapar. Pada suatu hari aku pernah duduk di jalan yang biasa para sahabat lewati, kemudian lewatlah Abu Bakar, lalu aku bertanya kepadanya tentang ayat dari Kitabullah, dan aku tidaklah menanyakannya kecuali hanya agar ia menjamuku namun ia tidak melakukannya. Setelah itu lewatlah Umar, kemudian aku bertanya kepadanya tentang suatu ayat di Kitabullah, tidaklah aku bertanya kepadanya kecuali hanya agar ia menjamuku, namun ia tidak melakukannya. Setelah itu lewatlah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika melihatku beliau tersenyum dan mengetahui apa yang tergambar dari wajah dan hatiku, beliau lalu bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah?’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda: ‘Ikutlah.’
Lalu aku mengikuti beliau, aku lalu minta izin untuk masuk dan beliau mengizinkanku, Ternyata aku mendapatkan susu di dalam mangkok, beliau bersabda: ‘Dari mana kalian mendapatkan susu ini?’
Orang-orang rumah menjawab, ‘Fulan atau Fulanah menghadiahkannya kepada anda.’
Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah!’
Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda: ‘Temuilah ahli suffah (para sahabat yang tinggal di pelataran masjid) dan ajaklah mereka kemari.’
Abu Hurairah berkata; ‘Ahli Suffah adalah para tamu kaum muslimin, mereka tidak tinggal bersama keluarga dan tidak memiliki harta, jika Nabi mendapatkan hasil dari sedekah, maka beliau tidak akan memakannya dan akan mengirimnya kepada Ahli Suffah, dan apabila beliau diberi hadiah, maka mereka akan mendapatkan bagian dan kadang beliau mengirim sebagiannya untuk mereka.’
Lalu aku berkata, ‘Hal itu membuatku sedih’. Lalu aku berkata (dalam hati), ‘Apa perlunya Ahli Suffah dengan susu tersebut, karena akulah yang berhak daripada mereka, aku berharap dapat minum seteguk susu sekedar bisa bertahan dari sisa waktuku, apabila ada kaum yang datang maka akulah yang menyuguhi mereka,’ (kataku selanjutnya). ‘Apalah artinya susu yang tersisa jika bukan untuk suatu ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya’, lalu aku pergi dan mengundang mereka.
Mereka akhirnya datang dan meminta izin, beliau kemudian mengizinkan, sehingga mereka pun mengambil posisi tempat duduk mereka masing-masing, beliau bersabda: ‘Hai Abu Hurairah.’
Aku menjawab; ‘Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda: ‘Ambil dan berikanlah kepada mereka.’
Akupun mengambil mengkok tersebut dan memberikannya kepada seorang laki-laki, maka laki-laki itu meminumnya hingga kenyang, setelah itu ia mengembalikannya kepadaku, kemudian aku berikan kepada yang lain, dan ia pun minum hingga kenyang kemudian ia mengembalikan mangkok tersebut kepadaku hingga aku kembalikan mangkok itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga mereka semua sudah merasa kenyang. Beliau kemudian mengambil mangkok itu dan menaruhnya di tangan, lalu beliau melihatku sembari tersenyum, beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah!’
Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda: ‘Sekarang tinggal aku dan kamu.’
Aku menjawab; ‘Benar wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda: ‘Duduk dan minumlah.’
Lalu aku duduk dan meminumnya, beliau bersabda kepadaku; ‘Minumlah.’
Lalu aku minum lagi dan beliau terus menyuruhku untuk minum, hingga aku berkata; ‘Tidak, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku sudah tidak sanggup lagi.’
Beliau bersabda: ‘Berikan bejana itu.’
Aku lalu memberikannya kepada beliau, setelah memuji Allah dan menyebut nama-Nya beliau akhirnya meminum sisanya.”
(HR al-Bukhory no: 6452)

Dalam hadits lainnya :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ بُرٍّ ثَلَاثَ لَيَالٍ تِبَاعًا حَتَّى قُبِضَ

Dari ‘A’isyah rodhiyallohu ‘anha dia berkata; “Semenjak tiba di Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang dari makanan gandum hingga tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal.”
(HR. al-Bukhory no: 6454)

Kemudian juga :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
مَا أَكَلَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْلَتَيْنِ فِي يَوْمٍ إِلَّا إِحْدَاهُمَا تَمْرٌ

Dari ‘A’isyah rodhiyallahu ‘anha dia berkata, “Keluarga Muhammad tidak pernah makan hingga dua kali dalam sehari melainkan salah satunya dengan makan kurma.”
(HR. al-Bukhory no: 6455)

RENUNGAN:

Kesederhanaan perikehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimana sejak beliau hijrah ke Madinah, kehidupan ekonomi sehari-hari beliau sangat-sangat lah sederhana sekali….

Betapapun….

Jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menghendaki…
Maka Rasul bisa saja berkondisi seperti para penguasa dan para raja pada umumnya….
Karena…
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pada masa di Madinah ini sudah berstatus sebagai pemimpin atau “seperti raja”, yang tinggal bertitah, maka para sahabat yang sangat setia tentulah hanya akan berkhidmat untuk memenuhi apa saja yang menjadi kebutuhan dan permintaannya…

Namun…

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tidak demikian…

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallan terbukti sangat berbeda dengan para penguasa hari ini, yang mereka sedemikian tamak dan rakus untuk sibuk memiliki dan menikmati materi dan kenikmatan dunianya sendiri…

Bisa dibayangkan…
Bagaimana keadaan keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai penguasa…
Yang dapurnya bahkan tidak “ngebul” 3 hari berturut-turut…
Kalau setiap hari makan pun, tidak sampai dua kali makan….

Sementara….

Orang-orang kaya masa kini….
Terlebih para penguasanya….
Bila perlu makan di satu tempat, minum di satu tempat, dan membuangnya di tempat yang lain….
Mereka sibuk antara cara mencari dan meraih serta menumpuk hartanya….
Sebagaimana mereka juga sibuk untuk menghabiskan dan membelanjakannya….

Di dalam kisah diatas….
Secara Shahih diriwayatkan…
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam begitu peduli kepada nasib orang lain…
Sampai-sampai rela untuk lebih lapar dibandingkan saudaranya….
Karena mendahulukan mereka daripada dirinya sendiri….

Betapa jauhnya hal itu….
Dibanding dengan kehidupan hari ini….

Bahkan tak bisa dipungkiri…
Bahwa diantara realitas kehidupan di masa kini….
Kejahatan yang ada…..
Jangankan dilakukan oleh orang diakibatkan karena miskinnya….
Orang kayanya pun melakukannya….
Jangankan orang yang tidak berpendidikan…
Bahkan orang yang telah berhasil mencicipi pendidikan tinggi sekalipun mengerjakannya….
Mencuri…
Menggarong…..
Atau kriminal lainnya….
Tak hanya beralasan karena kemiskinan….
Bahkan bisa dilakukan oleh yang sudah kaya…..

Orang kaya di masa kini pun tidak kalah mencuri…
Menggarong….
Dan mengkorupsi…
Bahkan dalam jumlah yang jauh lebih banyak….
Dimana itu dilakukan…
Karena statusnya yang tinggi….
Bahkan karena pendidikannya yang tinggi pula….

Perlu disadari bahwa….
Solidaritas pada masa lalu…
Tidak mesti diawali oleh kecukupan dan kekayaan….

Adapun kenyataan di masa kini….
Jangankan berbicara cara meratakan kebahagiaan dan berbagi dengan sesama….
Yang ada justrulah….
Bagaimana agar kenikmatan itu hanya menjadi milik dirinya sendiri….
Dan menjadi milik keturunannya sendiri….
Hingga tujuh turunan sekalipun….

Romadhon….
Harusnya menjadi pelajaran bagi kita tentang semua nilai-nilai yang terkandung dalam hadits diatas…
Dan bagaimana merealisasikan serta mengimplemetasikannya di dalam kehidupan nyata…..

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

198) PERBUATANMU ADALAH NASIBMU

Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam bersabda :

ارحموا من في الأرضِ يرحمُكم من في السما

“Sayangilah oleh kalian yang di bumi, niscaya Yang di langit akan membalas kalian dengan kasih sayang.”
(HR. At-Turmudzi, dari ‘Abdullooh bin ‘Amr bin al ‘Ash, nomor: 1924, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albany)

Inilah bukti fundamental bahwa Islam adalah ajaran Rahmatan lil ‘Alamin….

Oleh karena itu…

Diantara misi Islam dan Rosuulullooh Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam adalah….
Menebar kasih sayang di seantero bumi ini….

Namun….
Kesan yang dimiliki dan disebar saat ini….
Adalah bahwa Islam itu ajaran yang radikal, bengis dan kejam….

Pandangan itu adalah hanya dimiliki oleh orang yang tidak tahu tentang Islam…
Atau…
Memang berstatus sebagai musuh Islam…

Namun harus dipahami pula….
Hadits di atas memberi isyarat….
Bahwa…
Siapa saja yang berbuat onar…
Berbuat kekejian….
Berbuat kelaliman…..
Berbuat aniaya….
Maka dia pastilah akan menerima nasib yang sama….
Atau bahkan lebih dahsyat….
Kalau tidak hari ini maka kelak di Hari Kiamat….

كما تدين تدان

“Sebagaimana kamu berbuat pada orang lain, maka kamu akan diperbuat oleh orang lain.”

Itu adalah salah satu peribahasa orang Arab…

Artinya adalah….
Kalau kamu berbuat dzolim dan aniaya terhadap orang lain….
Maka….
Itu berarti kamu harus bersiap….
Bahwa pada suatu saat dan suatu hari….
Dirimu pun kelak akan menerima perbuatan yang sama dari orang lain….

Oleh karena itu…
Wahai mereka orang-orang yang sedang berkuasa….
Yang mungkin saja tangannya sedang memegang besi….
Maka….
Janganlah kalian semena-mena….
Janganlah mentang-mentang….
Karena hukum alam pun akan berlaku….

Terlebih bagi kalian yang memiliki iman….
Maka bersiaplah….
Bahwa cepat atau lambat….
Hari ini atau esok….
Kalau tidak di dunia, maka di akhirat….
Akan ada pembalasan dari YANG MAHA ADIL.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

199) RAJA 10 TAHUN

Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam telah bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Siapapun diantara manusia yang Allooh jadikan sebagai Pemimpin, lalu pada saat dia mati dia berada dalam keadaan dzolim dan aniaya terhadap rakyatnya, maka Allooh akan haramkan baginya untuk masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim no: 142, dari ‘Abdullooh bin Ziyad bin Ma’qil bin Yasar al-Muzani rodhiyalloohu ‘anhu)

Adz Dzahabi dalam kitabnya “Al-Kabair” berkata:
“Perbuatan dzolim itu bisa berupa memakan atau mengambil harta orang lain dengan cara yang dzolim, atau berbuat aniaya, atau dalam bentuk lainnya seperti: memukul, memaki dan atau berbuat melampaui batas lainnya, termasuk congkak dan semena-mena terhadap orang-orang yang lemah.” (Al-Kabair, hal. 104)

Tidak ada yang meragukan betapa nikmatnya menjadi seorang raja….
(Ini bagi mereka yang mengkategorikan bahwa jabatan itu sebagai “puncak kenikmatan” dirinya)….
Hal ini karena bagi seorang raja….
Segala perkataannya akan selalu harus didengar….
Segala titahnya harus selalu dipatuhi….
Segala permintaannya harus selalu dipenuhi….
Belum lagi…..
Berbagai kenikmatan dan kelezatan hidup akan senantiasa mengelilinginya…..

Namun di Indonesia….
Untuk menjadi Presiden, maka tidak bisa semaunya sendiri….
Karena sesuai dengan Pasal 7 UUD 1945 (Perubahan Pertama) disebutkan bahwa:
“Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”

Ini artinya….
Masa jabatan Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia dibatasi hanya sepuluh tahun saja…..

Bersamaan dengan itu….
Sepertinya sulit dipungkiri oleh seseorang….
Bahwa jika dia sudah terbiasa mudah dan senang….
Maka amat sangat berat untuk kembali menjadi susah, sedih dan duka…..
Oleh karena itu…
Tidak mustahil dengan segala upaya….
Ia akan berusaha untuk tetap bertahan dalam kekuasaannya…
Bila perlu dengan cara apapun…..

Apalagi jika imannya sangat lemah…..

Pada saat seseorang tahu bahwa masa jabatannya dibatasi dengan waktu…..
Atau dibatasi dengan “job description”….
Maka dia sesungguhnya sudah merasa kurang puas….
Terlebih jika orang itu dalam dirinya tertanam sikap ambisius dengan jabatan dan kehormatan…..

Maka apabila orang itu tidak menyadari…
Bahwa jabatan itu adalah AMANAH yang kelak akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Allooh….
Maka….
Apapun akan diperbuatnya…
Yang penting kepuasannya tercapai…..

Akibatnya….

Ia akan menjadi orang yang egois….
Jauh dari sikap peduli…..
Bahkan semua upayanya hanya diperuntukkan untuk memperoleh kepuasannya semata….

Jangankan berpikir tentang negara….
Yang notabene itu adalah benda….
Bahkan bangsanya….
Yang berupa nyawa manusia sekalipun…
Dia enggan untuk memikirkannya….

Oleh karena itu….
Inilah rahasianya….
Mengapa orang yang memiliki sikap seperti ini…
Maka baginya, Allooh haramkan untuk masuk ke dalam surga-Nya.

(UAR)

200) BERHIAS DENGAN BUKAN MILIKNYA

Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

… ومن تحلّىَ بما لم يُعطهُ كان كلابسِ ثوبَي زورٍ

“Barangsiapa yang berhias dengan perhiasan yang bukan apa yang diberikan padanya, maka dia seperti orang yang mengenakan 2 pakaian yang palsu.”
(HR At-Turmudzi, 4/379, no: 2034, dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyalloohu ‘anhu, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albany)

Hadits ini memberi pelajaran kepada kita…
Agar kita bersikap jujur….
bersikap qona’ah…
Dan bersikap tidak tamak dengan sesuatu yang bukan milik kita….

Kita diajari oleh Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam agar tidak merasa senang, atau merasa puas…
Apalagi merasa bangga….
Dengan sesuatu yang kita pakai, padahal itu bukan milik kita….

Kita diajarkan untuk menerima apa adanya dengan apa yang kita miliki….
Dan itu adalah sikap qona’ah yang dipuji oleh Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam.

Orang mengira bahwa kita adalah berkepunyaan, padahal kita tidak….

Kita merasa keren dan merasa bangga dengan penampilan, yang sesungguhnya kerennya kita bukan karena milik kita; tetapi milik orang….

Sikap itu juga adalah bisa menumbuhkan sifat munafik…
Karena akan menumbuhkan sikap berpura-pura….

Hati-hatilah…
Asal kebanggaan kita itu bisa jadi karena rumah…
Karena pakaian…
Karena kendaraan, mobil atau motor atau apa saja yang sesungguhnya itu kita banggakan, kita merasa senang, kita merasa puas….
Padahal semua itu adalah bukan milik kita tetapi milik orang lain…
Milik saudara kita…
Milik tetangga kita…
Atau hasil meminjam.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

201) BENCI PENASEHAT

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

(فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ وَقَالَ یَـٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّی وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِینَ)

“Kemudian dia (Shaleh) pergi meninggalkan mereka, sambil berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu. Tetapi kamu tidak menyukai orang yang memberi nasihat.”
[QS. Al-A’raf/7 : 79]

Para Nabi dan Rosuul itu adalah penyeru manusia kepada kebaikan…

Para Nabi dan Rosuul itu adalah pembimbing manusia menuju jalan yang dicintai dan diridhoi oleh Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa….

Para Nabi dan Rosuul itu adalah sesungguhnya memberi bimbingan, agar manusia memperoleh kebahagiaan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat….

Para Nabi dan Rosuul itu mengarahkan manusia, agar mereka hidup di dunia aman, damai, sejahtera dan tentram; lahir maupun batin….

Para Nabi dan Rosuul itu adalah mengajari, membimbing, dan memberi contoh bagi manusia; agar mereka menunaikan kewajiban mereka terhadap Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa…
Melalui melaksanakan ibadah dengan benar, sesuai dengan kehendak Allooh dan contoh Rosuul-Nya….

Para Nabi dan Rosuul itu membimbing, memberi petunjuk dan memberi pedoman dan tuntunan; agar manusia mampu membangun alam dan membina kerukunan hidup bersama dengan sesama manusia, dan bahkan makhluk lainnya…

Para Nabi dan Rosuul itu tidak bermaksud untuk mengeruk keuntungan dan kemaslahatan untuk diri mereka sendiri….

Ketika kaum Nabi Shaleh ‘Alaihissalam ini telah diberikan pengajaran, bimbingan dan nasehat….
Akan tetapi….
Tetap saja mereka membangkang dan menolak, bahkan memusuhi….
Maka pada saat itulah Allooh murka dan menurunkan azab-Nya….
Sebagai ibroh agar mereka belajar dan bertobat, sehingga kembali kepada jalan yang benar….

Ketika mereka mulai merasakan dan menemui akibat dari penentangan mereka terhadap bimbingan dan nasehat Nabi….
Maka mereka pun menyesal atas perbuatan dan sikapnya selama ini, yang sebenarnya seluruh penyesalan mereka itu tidaklah berguna lagi….

Maka Nabi Shaleh ‘Alaihissalam sambil berpaling, ia mengatakan, “Kalian sih tidak suka kepada orang yang memberi kalian nasehat…”

Akibatnya….

Nabi Shaleh ‘Alaihissalam, Allooh selamatkan….
Sedangkan….
Kaumnya yang membangkang dan menentang itu, pada akhirnya mereka menerima kenyataan berupa penyesalan atas petaka yang dideritanya.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

202) ANTARA SURGA DAN NERAKA

Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam bersabda :

القضاةُ ثلاثةٌ: واحدٌ في الجنَّةِ، واثنان في النّارِ؛ فأما الذي في الجنَّةِ، فرجلٌ عرف الحقَّ فقضى به. ورجل عرَف الحقَّ، فجارَ في الحُكمِ، فهو في النّارِ، ورجلٌ قضى للناسِ على جهلٍ فهو في النّارِ

“Hakim (pemutus perkara) itu ada 3: Satu dari mereka akan masuk surga, sedangkan dua yang lainnya akan masuk ke dalam neraka. Adapun Hakim yang akan masuk ke dalam surga, adalah Hakim yang mengetahui kebenaran dan dia memutuskan perkara dengannya. Adapun Hakim yang akan masuk ke dalam neraka adalah Hakim yang memutuskan perkara tidak sesuai dengan kebenaran yang diketahuinya, dan hakim yang memutuskan perkara di atas kebodohan.”
(HR. Abu Dawud no: 3573, HR. At-Turmudzi no: 1322 dan HR. Ibnu Majah no: 2315, dari Buraidah bin al-Hushoib al-Aslamy rodhiyalloohu ‘anhu; dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albany dalam Shohiih tiga Sunnan ini)

Kita doakan semoga para Hakim kita membaca Hadits ini, memahami isinya, lalu tumbuh ketakutannya kepada Allooh Subhanahu Wa Ta’ala; sehingga memutuskan dan menetapkan permasalahan dengan seadil-adilnya. Sehingga bukan saja dia akan selamat dan beruntung dunia dan akherat, tetapi juga keluarga dan bangsa serta negara akan terselamatkan.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

203) DOA UNTUK MUSLIMIN DAN BANGSA INDONESIA

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu telah berkata:
“Apabila kalian dipimpin oleh seseorang, kemudian kalian takut akan kehadiran dan kedzolimannya; maka hendaknya kalian berdoa dengan doa ini:

إذا كانَ على أحدِكم إمامٌ يخافُ تَغطرُسَهُ أو ظلمَهُ فليقلِ (اللَّهمَّ ربَّ السَّمواتِ السَّبعِ وربَّ العرشِ العظيمِ كن لي جارًا من فلانِ بنِ فلانٍ وأحزابِهِ من خلائقِكَ أن يفرطَ عليَّ أحدٌ منْهم أو يَطغى عزَّ جارُكَ وجلَّ ثناؤُكَ ولا إلَهَ إلّا أنتَ)

“Ya Allooh, Penguasa langit yang tujuh, dan Penguasa ‘Arsy yang agung; jadilah Engkau penolong bagiku dari kejahatan Si Fulan dan Si Fulan beserta para pembelanya dari segenap makhlukmu, dari berbuat aniaya terhadapku; atau seorangpun dari mereka dari berbuat melampaui batas terhadapku. Pertolongan-Mu amat perkasa dan Maha Terpuji. Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi, kecuali Engkau.”

(Atsar ini berasal dari ‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu; dan diriwayatkan oleh Al-Imam al-Bukhory dalam kitabnya “Al-‘Adabul Mufrod”, hal. 247, no: 707, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albany)

Ya Allooh….
Pilihkanlah untuk kemaslahatan umat Islam dan bangsa Indonesia: pemimpin yang beriman, yang bertaqwa, dan yang berkeadilan….

Ya Allooh….
Anugerahkanlah kepada kami bangsa Indonesia pemimpin yang berpihak kepada muslimin dan bangsa Indonesia, dan bukan orang yang berpihak kepada kemaksiatan dan atau bangsa yang ingin merusak negara dan bangsa Indonesia…

Ya Allooh…
Selamatkanlah negara dan bangsa Indonesia dari petaka dan kejahatan orang-orang yang ambisius dalam memperjuangkan kepentingan pribadinya, dan atau golongannya, dan atau hanya untuk kepentingan sesaat; serta tidak memikirkan kebaikan dan kemaslahatan bangsa dan generasi yang akan menyusul dan lahir setelah kami…

Ya Allooh….
Limpahkanlah kepada kaum muslimin dan bangsa Indonesia keberkahan…

Ya Allooh….
Wujudkanlah di tengah-tengah kaum muslimin dan bangsa Indonesia keadilan, keamanan, ketentraman dan kesejahteraan….

Âmîn Âmîn Âmîn ya Robbal ‘âlamin…

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

204) PELUANG YANG TERABAIKAN

Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam bersabda :

عن أبي هريرة: رَغِمَ أنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أنْفُهُ قيلَ: مَنْ؟ يا رَسولَ اللهِ، قالَ: مَن أدْرَكَ والِدَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أحَدَهُما، أوْ كِلَيْهِما، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الجَنَّةَ.

“Terhinalah, terhinalah, terhinalah orang yang sempat mengetahui kedua orangtuanya, atau salah satu dari keduanya dalam keadaan sepuh; tetapi dia tidak memperoleh kesempatan untuk masuk surga.”
(HR. Muslim no. 2551, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

Walaupun tidak semua orang memiliki kesempatan ini….
Tetapi tidak mustahil banyak dari kita kaum muslimin yang mengalami hal ini….
Dimana orangtua kita, baik keduanya atau salah seorang dari keduanya, masih Allooh beri usia panjang sampai dengan kita menjadi dewasa…
Bahkan mungkin menjadi orang yang sukses….

Namun..

Tidak sedikit orang yang dalam keadaan susahnya, dia justru lupa kepada orangtuanya….

Atau sebaliknya….
Justru karena keadaan suksesnya, maka dia pun tidak luput dari lupa terhadap orangtuanya…
Padahal orangtuanya lah yang menghantarkan dia sampai dengan hidup sukses seperti itu…

Bagi perempuan yang telah berstatus istri, mungkin beralasan akan tersibukkan oleh suaminya atau pekerjaannya….

Demikian pula bagi laki-laki yang sekarang menjadi suami, atau orang yang sukses/ sibuk…
Sehingga terkadang orangtuanya yang sesungguhnya bisa menjadi kunci bagi susah dan sukses dirinya, menjadi sesuatu yang terabaikan….

Melalui hadits Abu Hurairoh diatas…
Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam memberikan tuntunan dan peringatan…
Bahwa siapapun kita yang ingin memperoleh cinta dan ridho Allooh melalui surga yang Allooh janjikan….
Maka sesungguhnya orangtua adalah peluang yang tidak boleh disepelekan…

Berlaku baik…
Berbakti…
Dan menyenangkan orangtua sampai meraih ridhonya adalah diantara kiat bagi orang yang beriman untuk meraih surga Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa…

Berbahagialah bagi orang yang Allooh beri kesempatan untuk berbuat baik, berbakti dan menyenangkan kedua orangtuanya…

Sebaliknya….
Merugilah bagi siapa yang melupakan, atau enggan, atau beralasan apapun; sehingga orangtuanya menjadi terlantar, tidak terurus, apalagi murka dan menderita karena perlakuan anaknya yang durhaka….

Renungkanlah….
Sadarilah…
Ingatlah….
Bahwa hidup seseorang yang dinikmatinya selama ini dengan berbagai kesuksesan dan kenikmatannya…
Adalah tidak luput dari keberadaan orangtuanya…
Jerih payah orangtuanya…
Bahkan doa orangtuanya…

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

205) KETEGARAN DIATAS KEPENTINGAN

Ketika Ibnu Abi Hatim menafsirkan QS. An-Nisa’/4: 143, beliau mengemukakan sebagai berikut:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ وَالْمُنَافِقِ وَالْكَافِرِ مَثَلُ ثَلاثَةِ نَفَرٍ انْتَهَوْا إِلَى وَادٍي فَوَقَعَ أَحَدُهُمْ فَعَبَرَ، ثُمَّ وَقَعَ الآخَرُ حَتَّى أَتَى عَلَى نِصْفِ الْوَادِي نَادَاهُ الَّذِي عَلَى شَفِيرِ الْوَادِي: وَيْلَكَ أَيْنَ تَذْهَبُ؟ إِلَى الْهَلَكَةِ، إرْجِعْ عَوْدَكَ عَلَى بَدْئِكَ، وَنَادَاهُ الَّذِي عَبَرَ: هَلُمَّ النَّجَاةَ فَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى هَذَا مَرَّةً وَإِلَى هَذَا مَرَّةً، قَالَ: فَجَاءَ سَيْلٌ فَأَغْرَقَهُ وَالَّذِي عَبَرَ الْمُؤْمِنُ وَالَّذِي غَرِقَ الْمُنَافِقُ، مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَلَا إِلَى هؤلاء والذي مكث الكافر.

Dari ‘Abdullooh Rodhiyalloohu ‘Anhu, beliau berkata: “Perumpamaan seorang Mukmin dengan seorang Munafik dan Kafir, adalah seperti 3 orang yang sampai pada suatu lembah; seorang dari mereka berhasil menyeberanginya, sedangkan yang lain sampai di pertengahan; maka mereka yang berada di tepi menyeru kepada yang lainnya: “Celaka, kamu akan pergi kemana? Nanti kamu celaka, kembalilah kamu ke tempat semula”; sedangkan mereka yang telah berhasil menyeberangi lalu menyeru: “Mari kesini agar selamat”; maka orang (yang di pertengahan) ini pun melihat ke sana sesekali dan ke sini sesekali, sehingga datanglah banjir yang akhirnya menenggelamkannya. Adapun orang yang berhasil menyeberangi adalah Mukmin; sedangkan orang yang tenggelam adalah orang Munafik, dimana mereka tidak mampu bersikap tegas sehingga terkadang ke sana dan terkadang ke sini; sedangkan orang yang tetap di tempat (tidak bergerak) adalah orang Kafir.”

Hidup ini memang pilihan….
Oleh karenanya….
Setiap orang harus siap menanggung resiko atas apa yang menjadi pilihannya…..
Salah memilih pilihan, maka dia akan menyesalinya….
Sebagaimana jika dia tepat memilih pilihannya, maka dia akan berbahagia dan puas untuk menikmatinya…

Bagi orang yang beriman….
Maka ajaran keimanan dan keislaman, dengan berbagai resikonya….
Adalah suatu pilihan yang harus diambil dan dijadikan sebagai pijakan dalam hidupnya….
Untuk mencapai suatu keselarasan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat….
Betapapun….
Dalam perjalanan keimanannya….
Akan ditemui dan dialaminya onak dan duri ujian….
Namun…
Cobaan itu, sudah sejak awal disadarinya….
Oleh karena itu…
Dia tidak akan bergeming, ketika diuji aneka cobaan….
Tetapi…
Justru ia akan berusaha dan berjuang untuk Istiqomah diatas keyakinan yang mendasarinya….

Berbeda dengan orang yang tidak beriman…
Dimana mereka hanya menjadikan akal dan hawa nafsu, serta kepentingan sesaat / kepentingan duniawi / kepentingan materi…
Sebagai spirit keyakinan dan penuntun hidupnya….
Mereka dengan penuh keyakinannya tegar pula diatas ukuran itu…
Bahkan…
Tidak segan untuk menyalahkan, membangkang serta menolak terhadap ajaran keimanan dan kebenaran yang menurut kasat mata mereka, semata-mata adalah merupakan “Belenggu”….
Yang dirasanya mengganggu dan menghalangi hawa nafsunya….

Akan tetapi….
Ada pula pihak yang ketiga…
Dimana pihak ini adalah tidak hidup kecuali diatas kebimbangan dan keraguan serta prasangka….
Bagi orang seperti ini….
Keimanan hanyalah sebagai “bemper” dan kepura-puraan…
Karena sesungguhnya….
Dia meyakini kebenaran, keimanan, dan keislaman itu ada….
Namun pada hakekatnya ia adalah mengikuti prasangka dan hawa nafsunya belaka…
Permasalahannya…
Yang menjadi pedoman bagi orang-orang seperti ini…
Adalah bahwa orang ini tidak mau disebut sebagai orang tidak beriman….
Padahal…
Berbagai ucapan dan tindakannya adalah cenderung kepada orang-orang yang tidak beriman…
Bahkan dia “napak tilas” kepada orang-orang yang tidak beriman itu…

Adalah sudah merupakan suatu ketentuan…
Baik ketentuan Sang Penguasa semesta alam…
Bahkan ketentuan yang diakui secara rasio yang sehat…
Bahwa…
Benar berarti selamat….
Taqwa berarti cinta dan ridho Allooh…
Dan Iman berarti surga…

Demikian pula dengan…
Salah berarti celaka….
Maksiat berarti murka Allooh…
Dan kufur berarti neraka….

Adalah tidak mungkin…
Bila selamat diraih dengan kesalahan…
Cinta Allooh diraih dengan kemaksiatan…
Dan surga diraih dengan kekufuran….

Siapapun yang tidak berpihak kepada kebenaran…
Berarti dia berpihak kepada kebathilan….

Sebaliknya…
Bagi siapapun yang berpihak kepada kebathilan…
Berarti dia tidak berpihak kepada kebenaran…

Sedangkan…
Berpura-pura berpihak kepada kebenaran, tetapi tidak melepas keberpihakan kepada kebathilan adalah sikap nifak….
Dimana menurut penjelasan diatas…
Sikap ini akan membawanya kepada petaka….

Jika ada orang berpindah, dan atau tidak berpindah, dari atau ke suatu komunitas atau kelompok…
Sesungguhnya..
Itu adalah sikapnya yang tegar sesuai dengan kepentingannya….
Disaat kepentingannya berfatwa bahwa A yang benar…
Maka dia pasti akan ghoib dari B…
Dan sebaliknya….
Jika kepentingannya yang berfatwa bahwa B yang benar…
Maka dipastikan bahwa dia tidak akan hadir di A….

Maka pertanyakannlah pada setiap diri kita…
Diatas mana kita berdiri…
Diatas KEPENTINGAN HAWA NAFSUKAH atau diatas AQIDAHKAH?

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

206) ISLAM DAN KEADILAN SOSIAL

Pada masa Kholifah al Walid bin ‘Abdul Malik, telah diupayakan : TUNJANGAN khusus bagi para penyandang KUSTA sebagai kompensasi dari isolasi, PEMBANTU bagi para JOMPO dan GUIDE/PENUNTUN bagi para TUNANETRA.
(al-Islam wal Hadhoroh wa Daurusy Syababil Muslim, 1/146)

Bukti ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN dalam sejarah perjalanan ummat Islam tak mungkin dinafikan.

Sedemikian rupa negara berbagi bahagia dan kesejahteraan secara merata ke seluruh rakyat, sehingga kemakmuran dirasakan secara merata diantara mereka, tanpa kepentingan dan atau pencitraan; melainkan merupakan bentuk nyata motivasi spiritual yang mereka miliki.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc., M.M.Pd.)

207) EFEK AMBISI KEDUDUKAN

Fudhail Bin Iyadh rohimahullooh berkata,
“Barangsiapa yang mencintai kedudukan, maka dia akan memiliki sifat hasad, melampaui batas, dan gigih untuk mencari-cari kesalahan orang lain; dan dia tidak suka sebutan kebaikan ada pada orang lain.”
(Ibnu ‘Abdil Barr, wafat 463 Hijriyah, Jami’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hlm. 569).

Tidak sedikit penduduk bumi masa kini….
Yang mengkritik teriakan kesuksesan seseorang, jika orang tersebut mencapai kedudukan yang tinggi dan terhormat di mata manusia….

Kehormatan dan tingginya status di hadapan manusia ini memang menggiurkan…
Betapa tidak….
Dengan kedudukannya yang terhormat itu, dia disanjung, dihormati, dimanja…
Sehingga yang demikian itu dikiranya dapat menyebabkan kepuasan yang sangat…

Namun…
Jika tidak dibarengi, dan tidak didampingi, serta tidak dituntun oleh kebenaran dan petunjuk Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa….
Maka kecintaan itu akan melahirkan karakter-karakter yang sangat tercela…
Sampai-sampai 4 karakter buruk akan muncul dari orang tersebut….

Sifat-sifat buruk itu antara lain adalah…
1) Iri terhadap orang lain…
2) Cenderung mendorong untuk berlaku aniaya dan melampaui batas….
3) Gigih dalam mencari celah dan kesalahan orang lain…
4) Bahkan ada rasa tidak suka dan rasa tidak senang, ataupun ada rasa dongkol; jika orang lain kebaikannya disebut-sebut…

Dapat dibayangkan kalau karakter ini terdapat pada sebagian orang yang berkuasa…
Maka….
Itu adalah merupakan indikasi…
Bahwa cinta dan ambisi jabatan terdapat pada mereka yang memang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan hidupnya.

(~ Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc., M.M.Pd. ~)

208) SYARAT ULAMA MUJTAHID


قال ابن القيم :
وَالْمُجْتَهِدُ مَنْ جَمَعَ خَمْسَةَ عُلُومٍ عِلْمُ كِتَابِ اللَّهِ وَعِلْمُ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَقَاوِيلُ عُلَمَاءِ السَّلَفِ مِنْ إِجْمَاعِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ وَعِلْمُ اللُّغَةِ وَعِلْمُ الْقِيَاسِ

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata :
“Ulama yang bertingkat Mujtahid adalah mereka yang terhimpun padanya 5 ilmu, yakni : 1) Ilmu tentang Kitabulloh; 2) Ilmu tentang Sunnah Rosululloh; 3) Ilmu tentang Pernyataan dan Pendapat para Ulama Salaf, baik dalam hal Ijma'(perkara yang disepakati), maupun perkara yang diperselisihkan; 4) Ilmu Bahasa Arab; dan 5) Ilmu tentang Qiyas.”

Dinukil dari:
Kitab ‘Aunul Ma’bud, 9/354.

209) SIAPA YANG DIMAKSIATI


بِلَالَ بْنَ سَعْدٍ يَقُولُ:
لَا تَنْظُرْ إِلَى صُغْرِ الْخَطِيئَةِ وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْتَ

Bilal bin Sa’ad berkata :
“Janganlah engkau melihat pada kecilnya dosa (kesalahan); akan tetapi lihatlah olehmu SIAPA yang engkau maksiati.”

(Hilyatul Auliya, 5/223, no: 1)

210) 3 JENIS HAKIM

Rosuulullooh sholalloohu ‘alaihi wassallam bersabda :


الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ، اثْنَانِ فِي النَّارِ، وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ، رَجُلٌ عَلِمَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ جَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ

“Hakim itu ada tiga golongan; satu akan masuk surga dan dua golongan lainnya akan masuk ke dalam neraka. Adapun Hakim yang akan masuk ke dalam surga adalah Hakim yang mengetahui kebenaran lalu dia memutuskan perkara dengannya. Sedangkan Hakim yang akan masuk neraka adalah Hakim yang mengetahui kebenaran, akan tetapi dia berbuat dzolim dalam memutuskan perkaranya; dan juga Hakim yang memutuskan perkara diatas kebodohan.”

(HR. Abu Daud no: 3573, HR At-Turmudzi no: 1322, dan HR. Ibnu Majah no: 2315, dari Buraidah bin al-Hushoib al-Aslamy radhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albaany)

211) 5 JENIS HARI

Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu berkata :


أَشَدُّ الْأَعْمَالِ ثَلَاثَةٌ: إِعْطَاءُ الْحَقِّ مِنْ نَفْسِكَ، وَذِكْرُ اللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَمُوَاسَاةُ الْأَخِ فِي الْمَالِ

“Amalan yang paling berat adalah 3 perkara, yaitu : 1) Menunaikan hak orang lain, 2) Mengingat Alloh di setiap keadaan, dan 3) Solider dengan harta terhadap saudara.”

(Hilyatul Auliya’, 1/85)

212) KUATIRNYA SHOHABAT ROSUL

‘Umar bin Al-Khothob rodhiyallohu ‘anhu berkata :


كنا ندع تسعة أعشار الحلال مخافة أن نقع في الحرام

Kami tinggalkan 9 dari 10 perkara yang halal, karena kami takut terjebak dalam perkara yang harom.”

(Ihya ‘Ulumuddin, 2/95)

213) 3 PERKARA BAGI GURU & MURID

Al Ghozali berkata :


إذا جمع المعلم ثلاثاً تمت النعمة بها على المتعلم الصبر والتواضع وحسن الخلق وإذا جمع المتعلم ثلاثاً تمت النعمة بها على المعلم العقل والأدب وحسن الفهم

“Jika pada seorang Mu’allim (guru) terdapat tiga perkara, maka telah sempurnalah nikmat bagi seorang Murid (pelajar), yakni: Sabar, Tawadhu’ dan Akhlaq yang Mulia. Dan jika tiga perkara terdapat pada seorang Murid (pelajar), maka demikian pula nikmat telah sempurna bagi seorang Mu’allim (guru), yakni : Akal yang cerdas, Akhlaq yang mulia dan Kemampuan paham yang tajam.”

(Ihya”Ulumuddin, 1/76)

214) PALING KIKIR DAN PALING LEMAH

Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu berkata :


أَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلَامِ، وَأَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ

“Manusia yang paling kikir adalah manusia yang kikir dalam bersalam; dan manusia yang paling lemah adalah manusia yang tidak berdo’a.”

(Adh-Dhobiy ad-Du’a, hal. 220)

215) AKIBAT MAKSIAT

Al-Hasan al Bashri berkata :


ما عصى الله عبد إلا أذله الله

“Tidaklah seorang hamba bermaksiat kepada Allooh, maka Allooh akan hinakan dia.”

(Ibnul Qoyyim, Roudhotul Muhibbin, hal. 441)

216) AKIBAT PERBUATAN

Al-Hasan al-Bashri berkata :


الْعَمَلُ بِالْحَسَنَةِ نُورٌ فِي الْقَلْبِ وَقُوَّةٌ فِي الْبَدَنِ، وَالْعَمَلُ بِالسَّيِّئَةِ ظُلْمَةٌ فِي الْقَلْبِ، وَوَهَنٌ فِي الْبَدَنِ

“Perbuatan baik menyebabkan hati menjadi bercahaya, dan badan menjadi sehat; sedangkan perbuatan buruk menyebabkan hati menjadi gelap, dan badan menjadi sakit.”

(Ibnu Abid Dunya, At-Taubah, hal. 141, no: 193)

217) BERLINDUNG DARI TIRANI

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata :


إِذَا كَانَ عَلَى أَحَدِكُمْ إِمَامٌ يَخَافُ تَغَطْرُسَهُ، أَوْ ظُلْمَهُ، فَلْيَقُلِ: “اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، كُنْ لِي جَارًا مِنْ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ وَأَحْزَابِهِ مِنْ خَلَائِقِكَ؛ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيَّ أَحَدٌ مِنْهُمْ، أَوْ يَطْغَى، عَزَّ جَارُكَ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ، وَلَا إِلَهَ إلا أنت”

“Jika seorang dari kalian takut terhadap kedzoliman dan ketiranian penguasa, maka hendaknya ia berdo’a dengan do’a ini : “Ya Allooh, Penguasa tujuh langit dan Penguasa ‘arsy yang agung, jadilah Engkau Pelindungku dari si Fulan (– sebut nama sang penguasa — pent.) dan kelompoknya. Sungguh perlindungan-Mu Maha Perkasa dan Engkau Maha Terpuji, dan tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanyalah Engkau.”

(Al-‘Adabul Mufrod, no: 707, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albaany)

218) SAAT PATAH HARAPAN

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata :


لَوْ يَئِسْتَ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى لَا تُرِيدَ مِنْهُمْ شَيْئًا، لَأَعْطَاكَ مَوْلَاكَ كُلَّ مَا تُرِيدُ.

“Jika engkau patahkan harapanmu dari manusia, sehingga tidak berharap apapun dari mereka, maka Allooh akan beri apa yang engkau mau.”

(Ibnu ‘Abdil Barr [wafat 795 H], Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/494)

219) SEIMBANG DALAM CINTA, HARAP (ROJA’) & TAKUT (KHOUF)

Sebagian Ulama Salaf berkata :


مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِالْحُبِّ وَحْدَهُ فَهُوَ زِنْدِيقٌ وَمَنْ عَبَدَهُ بِالرَّجَاءِ وَحْدَهُ فَهُوَ مُرْجِئٌ وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْخَوْفِ وَحْدَهُ فَهُوَ حروري وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْحُبِّ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُوَحِّدٌ

“Barangsiapa beribadah kepada Allooh semata-mata karena Cinta, maka dia seorang Zindiq (Munafiq); barangsiapa beribadah kepada Allooh semata-mata karena ber-Harap (Roja’), maka dia seorang Murji’ah; dan barangsiapa beribadah kepada Allooh semata-mata karena Takut (Khouf), maka dia seorang Khowarij. Tetapi, barangsiapa beribadah kepada Allooh dengan rasa Cinta, Harap, dan Takut; maka dia seorang Mu’min yang ber-Tauhid.”

(Ibnu Abil Izz al-Hanafi [wafat 792 H], Syarah al-‘Aqidah ath-Thohawiyyah, hal. 331)

220) SEDIKITNYA YANG MENJADIKAN SEBAGAi PELAJARAN

Bahaa’uddiin al-Baghdaady berkata :


ما أكثر العبر وأقلّ الاعتبار

“Berapa banyak pelajaran, namun betapa sedikit orang yang menjadikannya sebagai pelajaran.”

(Bahaa’uddin al-Baghdaady [wafat 562 H], At-Tadzkiroh Al-Hamduniyyah, 1/77)

221) CINTA ITU TAAT

Al-Hasan Al-Bashri berkata :


اعلَم أَنَّكَ لَن تُحِبَّ اللَّهَ حَتَّى تُحِبَّ طَاعَتَهُ

“Ketahuilah olehmu, bahwa engkau tidak akan disebut benar dalam mencintai Allooh, sehingga engkau mencintai ketaatan kepada-Nya.”

(Ibnu Rojab al-Hambali [wafat 795 H], Syarah Kalimat al-Ikhlash, hal. 85)

222) PENYEBAB HINA

Abu Hanifah rohimahullooh berkata :


مَنْ طَلَبَ الرِّيَاسَةَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَوَانِهِ لَمْ يَزَلْ فِي ذُلٍّ مَا بَقِيَ

“Barangsiapa yang mencari jabatan dengan ilmu sebelum saatnya tiba (– menjilat — pent.), niscaya dia akan selalu berada dalam kehinaan selama hidupnya.”

(Imam Al-Khothooby [wafat 388 H], Al-‘Uzlah, hal. 83)

223) TIDAK MENGUMBAR SUMPAH

Al-Imaam Asy-Syafi’iy rohimahullooh berkata :


ما حلفت بالله تعالى لا صادقاً ولا كاذباً قط

“Aku tidak pernah bersumpah, baik pada saat benar, maupun pada saat dusta.”

(Al-Ghozali, Ihya’u ‘Ulumuddiin, 1/24)

224) TANDA KEDUNGUAN

Al-Ahnaf berkata :


علامة الأحمق ثلاَث: سرعةُ الجواب، وكثرة الاَلتفاف، والثقة بكل أحد

“Tanda seorang itu dungu ada tiga : 1) Cepat menjawab, 2) Banyak tolah-toleh, dan 3) Percaya pada setiap orang.”

(Ahmad An-Naisabury [wafat 518 H], Majma’ul Amtsal, 2/458)

225) KLAIM YANG BATHIL

Abu Ya’qub Annahr Jaury berkata :


كل من ادعى محبة الله ولم يوافق الله في أمره فدعواه باطلة

“Setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allooh, tetapi dia tidak menepati syari’at-Nya, maka klaimnya itu adalah bathil.”

(Ibnu Rojab al-Hambali, Majmu Rosa’il Ibnu Rojab, 3/60)

226) JANGAN MANFAATKAN AGAMA UNTUK MAKSIAT

Al-Hasan al-Bashri memberi nasehat kepada Abu Hubairoh :


لا تركبن دين الله وعباده بسلطان الله، فإنه لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

“Janganlah engkau menjadikan agamamu dan manusia sebagai tungganganmu dengan mengatasnamakan Allooh, sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allooh.”

(Ibnu Khalikan [wafat 681 H], Wafayat al-A’yaan, 2/71)

227) AKIBAT KEBAIKAN & KEBURUKAN

‘Abdullooh bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu berkata :


إنّ للحسنة ضياءً في الوجه، ونورًا في القلب، وسعة في الرزق، وقوةً في البدن، ومحبةً في قلوب الخلق. وإنّ للسيئة سوادًا في الوجه، وظلمةً في القلب، ووهنًا في البدن، ونقصًا في الرزق، وبغِضةً في قلوب الخلق

“Sesungguhnya kebajikan itu menyebabkan wajah bersinar, hati bercahaya, lapang rizqi, badan kuat, dan dicintai oleh manusia; sedangkan keburukan itu menyebabkan wajah suram, hati gelap, badan lemah, rizqi berkurang, dan kebencian dari manusia.”

(Ibnul Qoyyim al-Jauziyah [wafat 751 H], Ad-Da’u wad Dawa’u, 1/135)

228) PEMBERI MANFAAT & PENYELAMAT

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh berkata :

مَنْ خَافَ اللهَ، لَمْ يَضُرَّهُ أَحَدٌ، وَمَنْ خَافَ غَيْرَ اللهِ، لَمْ يَنْفَعْهُ أَحَدٌ

“Barangsiapa yang takut kepada Allooh, maka tidak akan sesuatu apapun dapat memberinya bahaya: dan barangsiapa yang takut kepada selain Allooh, maka tidak akan ditemui apapun yang dapat memberinya manfaat.”

(Syamsuddiin Adz-Dzahaby [wafat 758 H], Siyaru A’lamin Nubala, 8/426-427)

229) AKIBAT TAKUT PADA ALLOOH & ZUHUD

قال الفُضَيْلَ بن عياض :رَهْبَةُ العَبْدِ مِنَ اللهِ عَلَى قَدْرِ عِلْمِهِ بِاللهِ، وَزَهَادَتُهُ فِي الدُّنْيَا عَلَى قَدْرِ رَغْبَتِهِ فِي الآخِرَةِ، مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ، اسْتَغنَى عَمَّا لاَ يَعْلَمُ، وَمَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ، وَفَّقَهُ اللهُ لِمَا لاَ يَعْلَمُ، وَمَنْ سَاءَ خُلُقَهُ شَانَ دِيْنَهُ، وَحَسَبَهُ، وَمُرُوءتَهُ.

Al-Fudhoil bin ‘Iyaadh berkata:
“Takutnya seorang hamba terhadap Allooh adalah sesuai dengan kadar ilmunya tentang Allooh, zuhudnya seseorang terhadap dunia adalah sesuai dengan cintanya pada akherat. Barangsiapa yang beramal sesuai dengan ilmu yang dimilikinya, dia akan merasa cukup dari apa yang tidak diketahuinya. Dan barangsiapa yang beramal sesuai dengan apa yang diketahuinya, maka Allooh akan mudahkan baginya terhadap sesuatu yang belum ia ketahui. Dan barangsiapa yang buruk perangainya, berarti dia telah mencoreng agamanya, harga dirinya dan kepatutannya.”

(Syamsudin Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyaru A’laamin Nubala, 8/427)

230) PERHATIKAN APA YANG DIUTAMAKAN

قال الفُضَيْلَ بن عياض : أَكذَبُ النَّاسِ العَائِدُ فِي ذَنْبِهِ، وَأَجهَلُ النَّاسِ المُدِلُّ بِحَسَنَاتِه، وَأَعْلَمُ النَّاسِ بِاللهِ أَخْوَفُهُم مِنْهُ، لَنْ يَكْمُلَ عَبْدٌ حَتَّى يُؤثِرَ دِيْنَهُ عَلَى شَهْوَتِهِ، وَلَنْ يَهْلِكَ عَبدٌ حَتَّى يُؤثِرَ شَهْوَتَه عَلَى دِيْنِهِ.

Al-Fudhoil bin ‘Iyaadh berkata:
“Manusia yang paling dusta adalah orang yang selalu kembali kepada perbuatan dosa; manusia yang paling bodoh adalah orang yang melenyapkan kebajikannya; manusia yang paling tahu tentang Allooh adalah mereka yang paling takut kepada-Nya. Tidaklah sempurna seorang hamba sehingga ia mengutamakan agamanya daripada syahwatnya; dan tidak akan celaka seorang hamba sehingga ia lebih mengedepankan syahwatnya daripada agamanya.”

(Syamsudin Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyaru A’laamin Nubala, 8/427)

231) 3 TINGKAT TAQWA

قال ابن القيم : التَّقْوَى ثَلَاث مَرَاتِب إِحْدَاهَا حمية الْقلب والجوارح عَن الآثام والمحرّمات الثَّانِيَة حميتها عَن المكروهات الثَّالِثَة الحمية عَن الفضول وَمَا لَا يَعْنِي

Ibnul Qoyyim berkata:
“Taqwa itu ada 3 tingkatan, yakni sikap hati dan anggota badan untuk: 1) Menghindar dari dosa dan perkara-perkara harom; 2) Menghindar dari perkara-perkara yang makruh (dibenci); 3) Menghindar dari perkara-perkara yang sia-sia/ tak berguna.”

(Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], Al-Fawaa’id, hal. 31-32)

232) BERATNYA DOSA TERHADAP SESAMA MANUSIA

قال سفيان الثوري رحمه الله تعالى : إِنْ لَقِيتَ اللَّهَ تَعَالَى بِسَبْعِينَ ذَنْبًا فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى أَهْوَنُ عَلَيْكَ مِنْ أَنْ تَلْقَاهُ بِذَنْبٍ وَاحِدٍ فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِبَادِ

Sufyaan Ats-Tsaury berkata:
“Jika engkau bertemu Allooh, sedangkan engkau membawa 70 dosa antaramu dengan-Nya; maka yang demikian itu lebih mudah; dibandingkan dengan engkau membawa dosa antara dirimu dengan seseorang.”

(As-Samarqondy [wafat 373 H], Tanbihu al-Ghofiliin, hal. 380)

233) MENCARI MANISNYA IMAN

قال الحسن البصري رحمه الله تعالى : تفقدوا الحلاوة فِي ثلاثة أشياء فِي الصلاة والذكر وقراءة الْقُرْآن فَإِن وجدتم وإلا فاعلموا أَن الباب مغلق

Al-Hasan al-Bashry berkata:
“Carilah manisnya iman dalam 3 hal: 1) Sholat; 2) Dzikir; dan 3) Mengingat Allooh. Jika kalian menemukannya, berarti iman ada pada diri anda; tetapi jika tidak, maka ketahuilah bahwa pintu kebaikan telah tertutup.”

(Abdul Karim al-Qusyairy [wafat 465 H], Ar-Risaalah Al-Qusyairiyyah, 2/378)

234) AKIBAT MURKA ALLOOH

قال الغزالي الطوسي (المتوفى: 505هـ) : قال بعضهم إذا أبغض الله عبداً أعطاه ثلاثاً ومنعه ثلاثاً أعطاه صحبة الصالحين ومنعه القبول منهم وأعطاه الأعمال الصالحة ومنعه الإخلاص فيها وأعطاه الحكمة ومنعه الصدق فيها

Al Imam Al-Ghozali berkata:
“Sebagian Ulama berkata: Jika Allooh murka pada seorang hamba, niscaya Allooh beri padanya 3 hal, dan Allooh halangi darinya 3 hal, yaitu: 1) Allooh beri padanya kesempatan berteman dengan orang shoolih, tetapi dia tidak menerima dari mereka; 2) Kesempatan beramal shoolih, tetapi dia tidak ikhlas; 3) Diberi hikmah, tetapi dia tidak berupaya untuk menerapkannya dalam kehidupan.”

(Abu Hamid Al-Ghozali [wafat 505 H], Ihya’u ‘Ulumuddiin, 4/378-379)

235) DIANTARA 9 TANDA ORANG IKHLAS

قال الحارث بن أسد المحاسبي، (المتوفى: 243هـ)  :علامة المخلصين: إِذا نظر اعْتبر وَإِذا صمت تفكر وَإِذا تكلم ذكر وَإِذا منع صَبر وَإِذا أعطي شكر وَإِذا ابْتُلِيَ اسْترْجع وَإِذا جهل عَلَيْهِ حلم وَإِذا علم تواضع وَإِذا علم رفق وَإِذا سُئِلَ بذل

Al Haarits bin Assad Al-Muhaasiby berkata:
“Tanda orang ikhlas itu antara lain: 1) Jika dia melihat (sesuatu), maka dia akan mengambil pelajaran; 2) Jika dia diam, maka dia berpikir; 3) Jika dia berbicara, maka dia berdzikir; 4) Jika dia terhalang dari apa yang dia cari, maka dia sabar; 5) Jika diberi, maka dia bersyukur; 6) Jika diuji, maka dia bertaubat; 7) Jika dia tidak tahu, maka dia akan bersikap lembut; 8) Jika dia berilmu, maka dia tawadhu’ (rendah hati), dan 9) Jika dia diminta, maka dia memberi.”

(Al Haarits bin Assad Al-Muhaasiby [wafat 763 H], Risaalah Al-Mustarsyidiin, hal.102)

236) BUKAN SEKEDAR MENANGIS

قال القشيري (المتوفى: 465هـ) : لَيْسَ الخائف الَّذِي يبكي ويمسح عينيه إِنَّمَا الخائف من يترك مَا يخاف أَن يعذب عَلَيْهِ.

Imam Al-Qusyairy berkata:
“Takut (– kepada Allooh –pent.) itu bukanlah sekedar menangis atau menyeka kedua mata; tetapi takut itu adalah meninggalkan sesuatu yang dia takut diadzab (– oleh Allooh — pent.) karenanya.”

(Al-Qusyairy [wafat 465 H], Ar-Risaalah Al-Qusyairiyyah, 1/253)

237) MAKNA KECUKUPAN

قَالَ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ: مَنْ نَقَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذُلِّ الْمَعَاصِي إلَى عِزِّ الطَّاعَةِ أَغْنَاهُ بِلَا مَالٍ، وَآنَسَهُ بِلَا أُنْسٍ، وَأَعَزَّهُ بِلَا عَشِيرَةٍ.

Ja’far bin Muhammad berkata:
“Barangsiapa yang Allooh rubah nasibnya dari kehinaan dan ma’shiyat menjadi ketaatan; maka itu berarti Allooh telah memberinya kecukupan, walaupun bukan dengan harta dan keluarga.”

(Muhammad Ibnu Muflih Ash-Shoolihy [wafat 763 H], Al-Aadaabusy Syar’iyyah wal Minahul Mar’iyyah, 1/153)

238) LEBIH BUSUK BAUNYA

إحياء علوم الدين (1/ 63): وقال الأوزاعي رحمه الله شكت النواويس ما تجد من نتن جيف الكفار فأوحى الله إليها بطون علماء السوء أنتن مما أنتم فيه

Imam al-Auza’i berkata:
“Peti mati mengadu tentang busuknya bau bangkai orang-orang kafir; maka Allooh memberitahu padanya, bahwa isi perut-perut ‘Ulama yang jahat lebih busuk dari apa yang kalian temui.”

(Ihya’u ‘Ulumuddin, 1/63)

239) HARTA & ANAK SEBAGAI COBAAN

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

 وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

(QS. Al-Anfal/8: 28)

240) JANGAN CAMPURKAN HAQ & BATHIL

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

 وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil; dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah/2: 42)

241) PERTOLONGAN ALLOOH

Dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 2699, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Dan Allõh akan menolong seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.”

242) KEMUDAHAN DUNIA AKHERAT

Dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 2699, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda :

ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة

“Barangsiapa yang memberi kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan, maka Allõh  akan memberi kemudahan kepada orang itu di dunia dan di akhirat.”

243) SEBAIK-BAIK ORANG BERSALAH

Dalam Hadits Shohĩh Riwayat Al Imãm At Turmudzy no: 2499 di-Hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny, dari Shohabat Anas bin Mãlik رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

“Setiap anak Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat.”

244) BAGAI TAK BERDOSA

Dalam Hadits Riwayat Al Imãm Ibnu Mãjah no: 4250 di-Hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny, dari Shohabat Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdillah dari ayahnya رضي الله عنهما, beliau berkata bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم telah bersabda :

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ ، كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertaubat dari suatu dosa, maka orang itu bagaikan orang yang tidak berdosa.”

245) SYAFA’AT BERSYARAT TAUHID

Dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 199, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِى شَفَاعَةً لأُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِىَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi mempunyai do’a yang mustajab. Maka, masing-masing Nabi segera menggunakan do’a tersebut. Namun, aku menyimpan do’a itu untuk memberi Syafã’at kepada ummatku pada Hari Kiamat, yang Syafã’at tersebut in syã Allõh akan sampai pada ummatku yang MATI TANPA MENYEKUTUKAN ALLOOH dengan sesuatu apa pun.”

246) SYAFA’AT ITU MILIK ALLOOH

Sebagaimana firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. Az-Zumar/39 : 44 :

قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعاً لَّهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah: “HANYA KEPUNYAAN ALLOOH syafã’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

247) 3 AMALAN TAK TERPUTUS

Dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 1631, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): 1) Shodaqoh jãriyah, 2) Ilmu yang bermanfaat,  3) Do’a anak yang shõlih.”

248) KEPALA, TIANG & PUNCAKNYA

Dalam Hadits Riwayat Al Imãm At Turmudzy no: 2616 dan Hadits ini di-Shohĩh-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny, dari Shohabat Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ

“Kepala segala perkara adalah Islam. Tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah Al Jihãd.”

249) AGAR TERHINDAR NERAKA

Dalam Hadits dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم  melalui Abu Hurairoh رضي الله عنه, dimana beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi yang jiwaku ditangan-Nya, tidak ingin kudengar seorangpun dari ummat ini, Yahudi atau Nashroni, yang mati lalu tidak beriman kepada ajaran yang kubawa, kecuali dia akan menjadi penghuni neraka.”

(Hadits Riwayat Imam Muslim no: 403)

250) 3 TAHAPAN NAHI MUNKAR

Abu Sa’id Al Khudri رضي الله عنه berkata: _”Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka ubahlah kemunkaran itu dengan tangannya. Dan jika ia tidak mampu, maka ingkarilah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga dengan lisannya, maka ingkarilah dengan hatinya. Dan mengingkari dengan hati itu adalah iman yang sangat lemah (selemah-lemahnya iman).”

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 186)

251) 3 MACAM ULAMA

قال ابن كثير: الْعُلَمَاءُ ثَلَاثَةٌ: عَالِمٌ بِاللَّهِ، عَالِمٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَعَالِمٌ بِاللَّهِ لَيْسَ بِعَالِمٍ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَعَالِمٍ بِأَمْرِ اللَّهِ، لَيْسَ بِعَالِمٍ بِاللَّهِ، فَالْعَالِمُ بِاللَّهِ وَبِأَمْرِ اللَّهِ الذي يخشى الله تعالى وَيَعْلَمُ الْحُدُودَ وَالْفَرَائِضَ، وَالْعَالِمُ بِاللَّهِ لَيْسَ بِعَالِمٍ بِأَمْرِ اللَّهِ الَّذِي يَخْشَى اللَّهَ وَلَا يَعْلَمُ الْحُدُودَ وَلَا الْفَرَائِضَ، وَالْعَالِمُ بِأَمْرِ اللَّهِ لَيْسَ العالم بِاللَّهِ الَّذِي يَعْلَمُ الْحُدُودَ وَالْفَرَائِضَ وَلَا يَخْشَى الله عز وجل .

Ibnu Katsir rohimahullooh berkata:
“Ulama itu ada 3 macam: 1) Orang berilmu tentang Allooh dan berilmu tentang perintah Allooh; 2) Orang berilmu tentang Allooh, tetapi tidak berilmu tentang perintah Allooh; 3) Orang berilmu tentang perintah Allooh, tetapi tidak berilmu tentang Allooh.

1) Adapun “orang yang berilmu tentang Allooh dan tentang perintah Allooh” adalah: orang yang takut kepada Allooh, tetapi dia juga mengetahui tentang hukum-hukum dan syari’at Allooh.

2) Sedangkan “orang yang berilmu tentang Allooh, tetapi dia tidak berilmu tentang perintah Allooh” adalah: orang yang takut kepada Allooh, tetapi dia tidak tahu tentang hukum-hukum dan syari’at Allooh.

3) Kemudian, “orang yang berilmu tentang perintah Allooh, tetapi dia tidak berilmu tentang Allooh” adalah: orang yang mengetahui tentang hukum-hukum dan syari’at Allooh, tetapi sayangnya dia tidak takut kepada Allooh.”

(Ibnu Katsir [wafat tahun 774 H], Tafsir Ibnu Katsir, 6/483)

252) ILMU ITU BUKAN DENGAN BANYAKNYA RIWAYAT (#1)

قال الخطيب البغدادي : عن أَبي بَكْرٍ الرَّازِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ الْخَوَّاصَ، يَقُولُ: «لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، وَإِنَّمَا الْعَالِمُ مَنَ اتَّبَعَ الْعِلْمَ وَاسْتَعْمَلَهُ، وَاقْتَدَى بِالسُّنَنِ، وَإِنْ كَانَ قَلِيلَ الْعِلْمِ »

Al-Khowwaash berkata:
“Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya meriwayatkan; melainkan orang yang berilmu itu adalah orang yang setia menggunakan dan mengamalkan ilmu yang diketahuinya, serta mengikuti sunnah-sunnah Nabi, betapapun ilmunya sedikit.”

(Al-Khatib al-Baghdaady, [wafat tahun 463 H], Iqtidhoo’ al-‘Ilmi al-‘Amal al-Khatib al-Baghdaady, hal. 30, no: 24)

253) ILMU ITU BUKAN DENGAN BANYAKNYA RIWAYAT (#2)

قال مَالِك يَقُولُ: «إِنَّ الْعِلْمَ لَيْسَ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ وَلَكِنَّهُ نُورٌ يَجْعَلُهُ اللَّهُ فِي الْقُلُوبِ»

Al-Imam Maalik berkata:
“Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu itu merupakan cahaya yang Allooh jadikan di dalam hati.”

(Ibnu ‘Abdil Barr [wafat tahun 463 H], Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/758, no: 1398)

254) ILMU ITU BUKAN DENGAN BANYAKNYA RIWAYAT (#3)

قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: «لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، إِنَّمَا الْعِلْمُ خَشْيَةُ اللَّهِ»

‘Abdullooh bin Mas’uud berkata:
“Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu itu adalah takut kepada Allooh.”

(Ibnu ‘Abdil Barr [wafat tahun 463 H], Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/758, no: 1401)

255) ILMU ITU BUKAN DENGAN BANYAKNYA RIWAYAT (#4)

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ الْمِصْرِيُّ: مَعْنَاهُ أَنَّ الْخَشْيَةَ، لا تدرك بكثرة الرواية، وإنما الْعِلْمُ الَّذِي فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُتَّبَعَ، فَإِنَّمَا هُوَ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَمَا جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، فَهَذَا، لَا يُدْرَكُ إِلَّا بِالرِّوَايَةِ

Ahmad bin Shoolih al-Mishry berkata ketika mentafsirkan QS. Faathir/35: 28:
“Sikap takut itu tidak didapat dengan banyaknya riwayat; akan tetapi ilmu yang Allooh wajibkan untuk diikuti adalah Al-Kitab dan As-Sunnah, beserta apa saja yang berasal dari para Shahabat Nabi dan para Imam setelah mereka, yang semua ini tidaklah didapat kecuali dengan riwayat.”

(Ibnu Katsir [wafat tahun 774 H], Tafsir Ibnu Katsir, 6/482)

256) ANTI SEKULERISME

قَالَ الْقَاضِي: عِلْمُ الدُّنْيَا عِنْوَانُ الْآخِرَةِ وَسَبِيلُهَا 

Al-Imam al-Qodhi ‘Iyaadh rohimahullooh berkata:
“Ilmu dunia itu SEMESTINYA adalah merupakan petunjuk dan jalan menuju akherat.”

(Ibnul ‘Aroby [wafat 453 H], Ahkaamul Qur’aan, 2/262)

257) KEWAJIBAN PENUNTUT ILMU

قال مالك: « إِنَّ حَقًّا عَلَى مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ وَخَشْيَةٌ وَأَنْ يَكُونَ مُتَّبِعًا لِآثَارِ مَنْ مَضَى قَبْلَهُ »

Imam Malik rohimahullooh berkata:
“Adalah merupakan suatu kewajiban bagi siapa yang mencari ilmu untuk memiliki sikap tawadhu’, tenang dan takut kepada Allooh, serta mengikuti peninggalan orang-orang (shoolih – pent.) sebelumnya.”

(Ibnu ‘Abdil Barr [wafat tahun 463 H], Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/543, no: 899)

258) 5 PERKARA PENIMBANG ILMU

Syaqiq rohimahullooh berkata:

“لَا تَجْلِسُوا مَعَ كُلِّ عَالِمٍ، إِلا عَالِمٍ يَدْعُوكُمْ مِنْ خَمْسٍ إِلَى خَمْسٍ: مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ، وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى النَّصِيحَةِ، وَمِنَ الْكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ، وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الإِخْلاصِ، وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى الرَّهْبَةِ”

“Janganlah kamu duduk dengan setiap orang yang berilmu, kecuali orang yang berilmu itu menyuruh kalian dari 5 kepada yang 5, yaitu: 1) dari ragu kepada yakin; 2) dari permusuhan kepada nasehat; 3) dari sombong kepada tawadhu’; 4) dari riya’ kepada ikhlas; dan 5) dari cinta dunia kepada zuhud.”

(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Al-Maudhu’at, 1/257)

259) HARGA KEPATUHAN

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullooh berkata:

من كان لله كما يريد كان الله له فوق ما يريد

“Barangsiapa yang selalu melakukan apa yang Allooh kehendaki, maka dia berhak mendapatkan lebih dari apa yang dia kehendaki.”

(Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], Thoriiqul Hijrotaini Baabus Sa’aadataini, hal. 25)

260) TIDAK AKAN DIBIARKAN

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman dalam QS. Yunus/10: 81:

{ … إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ}

“Sesungguhnya Allooh tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang membuat kerusakan.”

261) YANG DILIHAT: HATI & AMAL

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allooh tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian; akan tetapi Allooh memperhatikan hati dan amal-amal kalian.”

(HR. Muslim no: 2564, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه)

262) DOA ANAK SHOOLIH

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم : وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول أنى هذا ؟ فيقال باستغفار ولدك لك )

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Sungguh derajat seseorang diangkat di dalam surga, lalu dia bertanya, “Darimana aku mendapatkan seperti ini?”
Lalu dijawab, “Karena istighfar (permohonan ampun) dari anakmu terhadapmu.”

(Ibnu Maajah, Sunnan Ibnu Maajah, Beirut: Daar Ihya Al-Kutub Al-A’robiyyah, hal.1207, no: 3660, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albaany dalam Shohiih Sunnan Ibnu Maajah no: 3650)

263) 5 YANG DITANYA

Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda :

لاَ تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ »

“Tidak akan bergerak kedua kaki manusia pada Hari Kiamat disisi Allõh, sehingga ia ditanya tentang 5 perkara :
1. Tentang UMUR-nya, dirusak (dipakai) untuk apa;
2. Tentang KEPEMUDAAN-nya, dihabiskan untuk apa;
3. Tentang HARTA-nya, darimana didapat;
4. Tentang HARTA-nya, kemana dibelanjakan;
5. Tentang AMALAN, apa yang diamalkan dari ilmu yang diketahuinya.”

(HR. At-Turmudzy no: 2602, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albãny رحمه الله, dari ‘Abdullõh bin Mas’ũd رضي الله عنه)

264) MENOLAK MASUK SURGA

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Semua ummatku akan masuk surga kecuali yang menolak.”
Lalu dikatakan: “Siapakah yang menolak, ya Rosuulullooh?”
Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mentaatiku, maka dia pasti masuk surga; sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang menolak.”

(HR. Al-Bukhoory no: 7280, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

265) SALAH NIAT DALAM MENUNTUT ILMU

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang belajar ilmu yang dengannya wajah Allooh dicari (– ‘ilmu syar’i — pent.), ia tidak mempelajarinya melainkan karena untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan aroma Surga nanti di Hari Kiamat.”

(HR. Abu Daawud no: 3664 dan HR. Ibnu Maajah no: 252, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, dishohiihkan Syaikh Nashiruddiin Al-Albaany)

266) ANAK-ANAK AKHERAT

قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: «ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ اليَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ»

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:
“Dunia pergi membelakangi, sedangkan Akherat datang menyambut. Setiap dari dunia maupun akhirat, keduanya memiliki anak; maka jadilah kalian anak-anak dari Akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak dari Dunia. Sungguh hari ini adalah kesempatan untuk beramal dan tidak ada perhitungan; sementara besok yang ada adalah perhitungan dan tidak ada kesempatan untuk beramal.”

(Shohiih al-Bukhory, 8/89)

267) PENJARA MUKMIN

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ»

Abu Hurairoh berkata, “Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Dunia itu adalah penjara bagi orang yang beriman, dan surga bagi orang kafir.”

(HR. Muslim, 4/2272, no: 2956, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu

268) BERMODAL CINTA

Dalam Hadits Riwayat Al Imãm Al Bukhõry no: 6171 dan Al Imãm Muslim no: 2639, dari Shohabat Anas bin Mãlik رضي الله عنه, beliau mengatakan bahwa :

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ ، وَلاَ صَوْمٍ ، وَلاَ صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ : أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Seseorang bertanya pada Nabi صلى الله عليه وسلم, “Kapan terjadi Hari Kiamat, wahai Rosũlullõh?”
Beliau صلى الله عليه وسلم berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak sholat, banyak shoum dan banyak shodaqoh. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allõh dan Rosũl-Nya.”
Beliau صلى الله عليه وسلم berkata: “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan yang engkau cintai.”

269) BALASAN ORANG PENYAYANG

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أهل الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهل السَّمَاء

“Orang-orang yang penyayang, niscaya akan disayangi pula oleh (Allooh) Yang Maha Penyayang. Maka sayangilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit pun akan menyayangi kalian.”

(HR. Ahmad no: 6494, dari ‘Abdullooh bin ‘Amr رضي الله عنه, menurut syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth Hadits ini Shohiih li ghoirihi)

270) BERSATU TEGAKKAN SYARI’AT ISLAM

Allõh سبحانه وتعالى berfirman:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ …

“Dia (Allõh) telah mensyari’atkan kepadamu agama, yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada ‘Ibrohim, Musa dan ‘Isa; yaitu: TEGAKKANLAH AGAMA dan JANGAN lah kamu BERPECAH-BELAH di dalam (menegakkan)-nya…..”
(QS. Asy Syũrõ/42: 13)

271) LEBIH MERUSAK DARI SERIGALA

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya, karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.”

(HR. At Turmudzy no: 2376, dari Ka’ab bin Maalik رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)

272) ADIL DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Allooh سبحانه وتعالى berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allooh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allooh, sesungguhnya Allooh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al Maa’idah/5 : 8)

273) DIRI SENDIRI YANG MENANGGUNG

Allooh سبحانه وتعالى berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shoolih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Robb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.”
(QS. Fushshilat/41: 46)

274) BAGAIKAN SATU BANGUNAN

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

“Seorang mukmin terhadap orang mukmin yang lain seperti satu bangunan, sebagian mereka menguatkan sebagian yang lain, dan beliau menjalin antara jari-jarinya.”

(HR. Bukhoory no: 6026, dari Abu Musa Al-Asy’ari رضي الله عنه)

275) ALLOOH ITU DEKAT

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”
(QS. Al-Baqoroh/2: 186)

276) BERLOMBALAH DALAM KEBAIKAN

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

(وَأَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقࣰا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَمُهَیۡمِنًا عَلَیۡهِۖ فَٱحۡكُم بَیۡنَهُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَهُمۡ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ لِكُلࣲّ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةࣰ وَمِنۡهَاجࣰاۚ وَلَوۡ شَاۤءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ وَلَـٰكِن لِّیَبۡلُوَكُمۡ فِی مَاۤ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُوا۟ ٱلۡخَیۡرَ ٰ⁠تِۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِیعࣰا فَیُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِیهِ تَخۡتَلِفُونَ)

“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allooh dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allooh menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allooh hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allooh kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.”
[QS. Al-Ma’idah/5: 48]

RENUNGAN:

Pertama kali dalam ayat ini…
Allooh memberi informasi kepada kita :

(وَأَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقࣰا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَمُهَیۡمِنًا عَلَیۡهِۖ

Bahwa Allooh telah menurunkan kepada Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam Al-Qur’an…
Yang disini disebut sebagai Al-Kitab..

Informasi itu pun lengkap dengan pernyataan bahwa Al-Kitab (Al-Qur’an) itu adalah benar dan dengan sebenarnya…
Bukanlah tidak didasarkan kepada kehendak Allooh diturunkannya…
Bukan tidak ada maksud tertentu ia diturunkan…
Bukan merupakan suatu kesalahan, apalagi merupakan suatu kebathilan…

Isi Al-Kitab (Al-Qur’an) ini adalah tidak terputus dengan sejarah-sejarah agama dan Wahyu sebelumnya…
Dalam artian…
Bahwa Al-Qur’an sebenarnya membenarkan tentang pernah diturunkannya beberapa Kitab atau Wahyu sebelum Al-Qur’an…
Jadi dengan ini dikesankan…
Bahwa Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang baru, sehingga manusia tidak perlu merasa kaget…

Lebih dari itu…
Al-Qur’an juga terkait dengan masa dan zaman yang akan datang…
Yang menjadi tanggung jawab bagi Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam…
Untuk membimbing umat ini…
Dan menuntun mereka menuju jalan yang benar…

Dengan meyakinkan…
Melalui ayat ini pun, Allooh memberi penjelasan tentang isi yang dikandung oleh Al-Qur’an…
Yaitu bahwa bukanlah merupakan suatu hal yang aneh…
Apabila zaman dahulu berbeda dengan zaman kini, dan zaman yang akan datang….
Problematika pun berbeda dan berubah….
Akan tetapi…
Allooh memberikan kepastian
Bahwa Al-Qur’an yang menjadi kitab terakhir bagi umat manusia hingga akhir zaman tersebut, isinya akan SELALU “UP-TO-DATE”
Dan akan SELALU RELEVAN dengan kebutuhan dan tuntutan manusia DI SETIAP ZAMAN

Oleh karena itu…
Setelah informasi tersebut…
Kemudian Allooh melanjutkan dengan tuntutan berupa KONSEKUENSI
Bahwa mengimani saja tidaklah cukup…
Mempercayai saja tidaklah cukup…
Membenarkan saja dalam hati tidaklah cukup…
Karena Islam ini adalah tuntunan, bahkan cahaya yang merupakan jalan lurus, yang harus diikuti dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari…

Dalam menempuh jalan lurus itu…
Maka selanjutnya, Allooh memberi perintah :

فَٱحۡكُم بَیۡنَهُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَهُمۡ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ

Kalau kalian membutuhkan suatu kepastian, suatu ketetapan dan suatu keputusan hukum…
Maka janganlah bimbang…
Janganlah ragu…
Allooh sudah mempersiapkannya…
Maka putuskanlah segala perkara itu dengan Al-Qur’an !!!

Sedemikian meyakinkannya jaminan Allooh…

Bahkan Allooh melarang untuk mengikuti kecenderungan dan kemauan hawa nafsu…
Yang muncul dan ada dalam diri manusia…

Sehingga…
Dalam ayat ini pun…
Adalah merupakan implementasi dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Muslim…
Bahwa “Laa Ilaaha Illallooh”, yang artinya adalah: “Tidak ada Tuhan yang benar dan berhak untuk diibadahi, kecuali hanyalah Allooh”
Dimana dalam ayat ini…
Ditafsirkan bahwa…
Tidak ada hukum yang benar dan patut untuk dijadikan pedoman, kecuali adalah Kitab Allooh !!!

Oleh karena itu…

Maka orang yang tidak memutuskan suatu perkara dalam perkara-perkara manusia dan kemanusiaan….
Atau tidak memutuskan suatu perkara dalam perkara-perkara kehidupan dan setelah kehidupan…
Dengan menggunakan pedoman dan tuntunan dari Al-Qur’an….
Bahkan ia memilih menggunakan pedoman dan tuntunan dari selain Al-Qur’an…
Maka…
Bisa dipastikan bahwa orang itu tidak mengerti dan tidak memahami tentang MAKNA HAKIKI dari pernyataan (Laa Ilaaha Illallooh) yang dilontarkan oleh mulutnya sendiri…
Karena terbukti…
Bahwa ia cenderung memutuskan perkara yang dihadapinya itu…
Semata-mata menggunakan hawa nafsu dan kecenderungan manusia belaka…

لِكُلࣲّ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةࣰ وَمِنۡهَاجࣰاۚ

Maka…
Berikutnya, Allooh memberikan perbandingan…
Bahwa jika masa lalu dan masa kini itu berbeda, Allooh pun sudah menetapkan adanya perbedaan antara ketetapan dan pedoman bagi umat terdahulu dengan ketetapan dan pedoman bagi umat akhir zaman….
Sehingga tidak perlu lagi ragu, apakah Al-Qur’an ini masih relevan atau tidak untuk masa kini…
Bahkan untuk masa yang akan datang…

Karena sudah menjadi ketetapan Allooh…
Bahwa di setiap umat, pasti Allooh sudah tetapkan pedoman dan aturannya tersendiri…
Yang akan cocok untuk masanya…
Sebagaimana Al-Qur’an pastilah akan cocok dan relevan untuk akhir zaman !!!

وَلَوۡ شَاۤءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ وَلَـٰكِن لِّیَبۡلُوَكُمۡ فِی مَاۤ ءَاتَىٰكُمۡۖ

Perbedaan…
Perselisihan…
Bahkan perpecahan…
Adalah juga sudah merupakan _sunnatullooh_…
Ketentuan dan kepastian yang mesti berlaku di alam semesta ini…

Akan tetapi…
Kecenderungan peluang terjadinya perselisihan, bahkan perpecahan itu…
Bukanlah untuk dibenarkan…
Karena sesungguhnya…
Justru hal itu merupakan UJIAN…
Apakah kita termasuk orang yang mengerti, memahami dan konsekuen dalam mengimplementasikan keyakinan dan keimanan kita dalam realitas kehidupan nyata…
Ataukah termasuk orang yang tidak memahaminya….
Karena sesungguhnya…
Berbagai perbedaan, bahkan penyimpangan itu adalah semata-ma merupakan UJIAN…
Yang dengan ujian itu, manusia pasti akan tersaring….
Ada yang gagal…
Dan ada yang sukses…
Dan sudah barang tentu, kesuksesan itu adalah jika manusia mematuhi tuntunan yang dikehendaki Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa dan yang Allooh perintahkan manusia untuk menepatinya.

فَٱسۡتَبِقُوا۟ ٱلۡخَیۡرَ ٰ⁠تِۚ

Janganlah menjadi manusia yang tertinggal…

Akan tetapi…
Berlombalah dan bersainglah dalam kebaikan…

Jika anda ingin jadi pemenang…
Maka melajulah dengan kencang…
Akan tetapi…
Jika anda ingin menjadi manusia yang tertinggal…
Maka bukan suatu hal yang merugikan bagi Allooh, jika kalian pun tidak ikut masuk dalam arena…

إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِیعࣰا فَیُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِیهِ تَخۡتَلِفُونَ

Kemudian…
Allooh menutup ayat ini dengan isyarat dan aba-aba…
Bagi orang yang berakal…
Bagi orang yang menela’ah dan merenungkan kejadian yang tidak pernah luput di semesta alam ini…
Bahwa bila ada permulaan, pastilah akan ada akhir…
Bila ada hidup, maka pastilah akan ada mati…
Bila ada pergi, maka pastilah akan ada kembali…
Hal ini pun Allooh tidak luput menunjukkannya …

Allooh mengingatkan kepada manusia : _Wahai manusia, pastilah kalian akan dikembalikan…
Bukan hanya orang per orang…
Bukan hanya komunitas per komunitas…
Melainkan segenap manusia…
Kalian semuanya pasti akan Allooh kembalikan…
Tidak selamanya hidup di dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk ini….
Bahkan ketika kalian pun menetapkan permasalahan kalian dengan kehendak kalian sendiri…
Dengan hawa-hawa nafsu kalian sendiri…
Dan enggan untuk menjadikan Kitab Allooh sebagai pedoman dan tuntunan bagi keselamatan dan kebahagiaan kalian…
Maka ingatlah…
Apabila kelak kalian telah kembali mati dan menjadi tidak ada lagi di dunia ini…
Pastilah Allooh akan hidupkan kaian kembali…
Allooh akan bangkitkan dan kumpulkan kalian kembali…
Dan DI SAAT ITU lah…
ALLOOH akan SIDANG KALIAN…
DI SAAT ITU lah…
KALIAN PASTI akan TERCENGANG…
Dikala berita tentang perkara kecil maupun besar, yang pernah kalian ucapkan dan kalian kerjakan di saat kalian hidup di dunia…
Atau perkara yang kalian perselisihkan…
Atau perkara yang kalian ingkari…
Akan disidang satu persatu dihadapan Allooh… !!!

Sehingga kalian pasti tahu apa yang akan kalian terima…
Sebagai BALASAN…

Apabila apa yang kalian temukan dalam berita tentang prestasi ketika kalian di dunia itu menggembirakan…
Maka kelak kalian berhak untuk menghuni surga Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa…
Yang di dalamnya tidak pernah akan ditemukan keluh kesah, kelelahan, kepahitan, dan kesusahan; sebagaimana yang kalian pernah rasakan saat hidup di dunia…

Akan tetapi sebaliknya…

Jika kalian menemui berita dari catatan amal kalian itu sesuatu yang mengenaskan, memilukan, memprihatinkan, menyedihkan, bahkan menakutkan….
Maka kalian pasti tidak akan lagi ada kesempatan untuk melarikan diri, menolaknya, atau berpaling dari neraka jahanam yang merupakan siksa dan azab yang pedih yang siap untuk membakar…

Sehingga DI SAAT ITU kalian baru akan merasakan…
Betapa APA YANG ALLOOH telah FIRMANKAN semuanya adalah suatu KEBENARAN !!!

(UAR)

277) 3 PELAJARAN BERHARGA

Abu Ayyũb رضي الله عنه berkata bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم lalu orang itu berkata, “Wahai Rosũl, ajarilah aku dan ringkaslah.”
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم pun menjawab,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍ ، وَلاَ تَكَلَّمْ بِكَلاَمٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ ، وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Jika kamu sholat, maka sholatlah seperti sholat perpisahan, dan janganlah kamu berbicara dengan suatu perkataan dimana kamu akan menyesal karenanya. Dan putuskanlah harapanmu dari apa yang ada di tangan manusia.”

(HR. Ibnu Mãjah no: 4171, dari Abu Ayyũb رضي الله عنه , di-Hasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny dalam “Shohĩh Ibnu Mãjah” no: 3363)

278) PALING UTAMA & PALING CERDIK

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

Dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنه, ia berkata: Aku bersama Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, lalu seorang laki-laki Anshor datang kepada beliau صلى الله عليه وسلم, seraya mengucapkan salam, lalu bertanya: “Wahai Rosũlullõh, Mukmin manakah yang paling utama?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Yang paling baik akhlaknya diantara mereka.”
Orang itu bertanya lagi: “Mukmin manakah yang paling cerdik?”
Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian diantara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu lah orang-orang yang cerdik.”

(HR. Ibnu Mãjah no: 4259, dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنه, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddiin Al-Albaany dalam “Ash Shohĩhah” no:1384)

279) PENGANTAR MAYIT

Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda :

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ؛ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ؛ فَرَجَعَ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، رَجَعَ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Tiga perkara yang akan mengantarkan mayit: keluarga, harta, dan amalannya. Dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap tinggal bersamanya. Yang akan kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tetap tinggal bersamanya adalah amalannya.”

(HR. Al-Bukhõry no: 6514 dan HR. Muslim no: 2960, dari Anas bin Mãlik رضي الله عنه)

280) YANG BERMANFA’AT SETELAH MATI

Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Sesungguhnya diantara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shõlih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shõdaqõh yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia mati”.

(HR. Ibnu Mãjah no: 242, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, di-Hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny)

281) DIANTARA SYARAT AGAR DOA TERKABUL

Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda :

والذي نفسي بيده لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر أو ليوشكن الله أن يبعث عليكم عقابا منه ثم تدعونه فلا يستجاب لكم

“Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran atau (kalau kalian tidak lakukan, maka pasti) Allooh akan menurunkan siksa kepada kalian, hingga kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan.”

(HR. At-Turmudzy no: 2169, dari Hudzaifah رضي الله عنه, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddiin Al-Albaany dalam “Shohiih Jami’ush Shoghiir” no: 7070)

282) UNGKAPAN DUKA

Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda:

ليسَ مِنّا مَن ضَرَبَ الخُدُودَ، وشَقَّ الجُيُوبَ، ودَعا بدَعْوى الجاهِلِيَّةِ.

*Bukanlah merupakan bagian dari umat kami, barangsiapa yang memukul pipi, merobek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”
(HR. Al-Imam Al-Bukhoory no: 1297 dan HR. Muslim no: 103, dari ‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu)

Ibroh :

Senang dan susah…
Sedih dan bahagia…
Untung dan rugi…
Sengsara dan berjaya…
Adalah sudah merupakan sunnatullooh…
Bahkan dia adalah merupakan takdir yang tidak bisa dipungkiri di semesta alam ini…

Bahkan di sisi lain…
Yang demikian itu, adalah merupakan ujian bagi manusia…
Terutama yang beriman
kepada Allooh dan Rasuul-Nya…

Islam hadir membimbing, menuntun, serta mengarahkan manusia dalam berbagai situasi dan kondisi…

Bagi orang yang beriman…
Sunnah Rosuul dan Hadits-Hadits Nabi adalah merupakan penuntun…
Dan bukanlah hawa nafsu, kemauan, dan ambisi yang menjadi kendali atau yang dipatuhi…

Maka…
Hindarilah ancaman dalam Hadits ini…

Sungguh hal itu bukanlah main-main…
Atau bukanlah perkara sepele…

Saat seorang yang beriman sadar…
Bahwa apa yang menimpanya adalah tidak luput dari takdir Allooh Subhaanahu Wa Ta’ala…

Maka disaat dia bersenang dan berjaya, maka dia bersyukur kepada Allooh…
Dan disaat dia gagal, bahkan terkena marabahaya atau duka, maka dia bersabar

Sedih dan duka itu adalah manusiawi…
Tetapi bagaimana cara mengungkapkannya itulah yang tidak boleh melanggar ketentuan syari’at…

Apabila ada orang yang mengungkapkan duka dan kesedihan mendalam itu…
Dengan menempeleng pipi sendiri…
Dengan merobek baju yang menutup tubuh dan auratnya sendiri…
Apalagi sampai mencederai dirinya sendiri…

Maka….
Rosuuullooh dengan tegas menyatakan…
Bahwa itu adalah BUKAN sikap …
Dan BUKAN perilaku dari umat Islam.

(UAR)

283) AMAR MUNKAR NAHI MA’RUF

Allooh سبحانه وتعالى ber firman :

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ …

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama; mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf …”
(QS. At Taubah/9: 67)

284) PONDASI ISLAM

ليس لأحد أبداً أن يقول في شيء حلَّ ولا حرُم إلا من جهة العلم. وجهةُ العلم الخبرُ: في الكتاب، أو السنة، أو الإجماع، أو القياس.

“TIDAK DIPERBOLEHKAN bagi siapapun untuk MENGATAKAN HALAL atau HARAM, KECUALI jika berlandaskan DENGAN ILMU. Sedangkan Ilmu itu adalah kabar atau berita yang terdapat dalam AL-QUR’AN atau AS-SUNNAH (AL-HADITS) atau AL-IJMA’ (kesepakatan Ulama) atau Al-QIYAS (analogi).”

(Al-Imam Asy-Syafi’i [wafat 204 H], Ar-Risalah, 1/39)

285) SENYAWA

اعلموا أن الإسلام هو السنة، والسنة هي الإسلام، ولا يقوم أحدهما إلا بالآخر

“Ketahuilah oleh kalian bahwa Islam itu adalah Sunnah dan Sunnah itu adalah Islam; salah satu dari keduanya tidak akan tegak tanpa yang lainnya.”

(Al-Imam Al-Barbahari [wafat 329 H], Syarhus Sunnah, hal. 35)

286) ORISINALITAS

وَاللَّهُ تَعَالَى قَدْ ضَمِنَ حِفْظَ مَا أَوْحَاهُ إِلَيْهِ وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ لِيُقِيمَ بِهِ حُجَّتَهُ عَلَى الْعِبَادِ إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ

“Allooh telah menjamin untuk menjaga apa yang diwahyukan-Nya dan diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad; untuk menegakkan hujjah-Nya terhadap manusia hingga akhir zaman.”

(Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah [wafat 751 H], Mukhtashor Ash-Showaiqul Mursalah, hal. 559)

287) ANTI HOAX

إن كنت ناقلًا فالصحة، أو مدعيًا فالدليل

“Jika kamu MENUKIL, maka PASTIKAN keshohihan/KEVALIDAN NUKILAN-nya; dan jika kamu MENUDUH/MENGKLAIM sesuatu, maka HADIRKAN FAKTA dan DATA-nya.”

(Abdurrohman Habangkah Al-Maidany [wafat 1425 H], Al-Hadhoroh Al-Islamiyyah, hal. 366)

288) MODAL SEDIKIT UNTUNG TAK TERHINGGA

Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ. وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Kesucian itu bagian dari Iman dan kata “Alhamdulillah” memenuhi Timbangan dan “Subhãnallõh wal hamdulillah” memenuhi antara langit dan bumi, sholat adalah cahaya, shodaqoh adalah bukti, sabar adalah sinar, dan Al Qur’an adalah pembela bagi kita ataukah penghujat bagi kita. Setiap manusia akan pergi, akan menjual dirinya, apakah membebaskannya (– dari adzab Allõh سبحانه وتعالى – pent. –) ataukah akan menjerumuskannya (–ke dalam adzab Allooh – pent.–).”

(HR. Muslim no: 223, dari Abu Mãlik Al-Asy’ary رضي الله عنه)

289) PENGHAPUS DOSA

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

إسباغ الوضوء في السبرات وانتظار الصلاة بعد الصلاة ونقل الأقدام إلى الجماعات

“Tiga perkara PENGHAPUS DOSA : menyempurnakan wudhu di musim dingin, menunggu sholat setelah sholat dan melangkahkan kaki menuju sholat berjama’ah.”

(HR. Thobrony, Al-Bazzaar dan Al-Mundziry, dari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin Al-Albaany dalam “Silsilah Shohiihah” no: 1802)

290) PENINGGI DERAJAT

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

إطعام الطعام وإفشاء السلام والصلاة بالليل والناس نيام

“Tiga perkara PENINGGI DERAJAT : memberi makan, menebar salam dan sholat malam di kala orang terlelap tidur.”

(HR. Thobrony, Al-Bazzaar dan Al-Mundziry, dari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin Al-Albaany dalam “Silsilah Shohiihah” no: 1802)

291) PENYEBAB MANUSIA SELAMAT

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

العدل في الغضب والرضا والقصد في الفقر والغنى وخشية الله في السر والعلانية

“Tiga Perkara PENYEBAB MANUSIA SELAMAT : bersikap adil dalam posisi senang maupun marah; sederhana baik dalam keadaan miskin maupun berkecukupan (kaya); takut kepada Allooh baik dalam keadaan bersendirian maupun ditengah-tengah banyak orang.”

(HR. Thobrony, Al-Bazzaar dan Al-Mundziry, dari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin Al-Albaany dalam “Silsilah Shohiihah” no: 1802)

292) PENYEBAB MANUSIA CELAKA

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

شح مطاع وهوى متبع وإعجاب المرء بنفسه

“Tiga perkara PENYEBAB MANUSIA CELAKA: bakhil (kikir), hawa nafsu yang diikuti dan ujub (sikap bangga seseorang terhadap dirinya sendiri).”

(HR. Thobrony, Al-Bazzaar dan Al-Mundziry, dari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin Al-Albaany dalam “Silsilah Shohiihah” no: 1802)

293) AJARAN BARU

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

المحدثات من الأمور ضربان. أحدهما: ما أحدث يخالف كتاباً أو سنة أو أثراً أو إجماعاً. فهذه البدعة الضلالة. والثانية: ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا. وهذه محدثة غير مذمومة.

“Perkara baru (dalam Islam) itu tampak dalam dua jenis: 1) Perkara baru yang MENYELISIHI AL-QUR’AN atau AS-SUNNAH atau ATSAR (Peninggalan para Shohabat dan At-Taabi’iin) atau AL-IJMA’ (Kesepakatan para Shohabat); maka inilah yang disebut BID’AH DHOLALAH (Bid’ah yang sesat); dan 2) Perkara baru yang DIANGGAP BAIK dan TIDAK MENYELISIHI SATUPUN DARIPADA ITU; maka inilah yang disebut “perkara baru yang TIDAK TERCELA”.”

(Al-Baihaqy [wafat 458 H], Manaaqibisy Syaafi’i, 1/469)

294) KEMUNGKINAN

قال المزني: دخلت على الشافعي، وهو عليل فقلت: كيف أصبحت يا أبا عبد الله؟ قال: أصبحت من الدنيا راحلا، وللإخوان مفارقا، ولسوء أفعالي ملاقيا، وعلى الله وارادا، وبكأس المنية شاربا، ولا والله ما أدري أروحي تصير إلى الجنة فأهنيها، أو إلى النار فأعزيها؟

Al-Imam al-Muzany berkunjung pada Al-Imam asy-Syaafi’i yang sedang sakit, lalu bertanya, “Apa kabarmu pagi ini?”
Al-Imaam Asy-Syaafi’i pun menjawab: “Pagi ini aku sedang akan meninggalkan dunia, berpisah dengan Ikhwan, bertemu dengan amalan burukku, menemui Allooh, merasakan mati; dan demi Allooh, aku tidak tahu apakah rohku akan ke surga lalu aku ucapkan selamat, ataukah akan ke neraka lalu aku akan berbelasungkawa.”

(Al-Baihaqy [wafat 458 H], Manaaqibisy Syaafi’i, 2/111)

295) TONGGAK MURU’AH

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

لِلْمُرُوءَةِ أَرْبَعَةُ أَرْكَانٍ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالسَّخَاءُ وَالتَّوَاضُعُ وَالنُّسُكُ

“Tonggak Muru’ah (kehati-hatian) seseorang itu empat, yaitu: 1) Akhlak yang terpuji; 2) Dermawan, 3) Tawadhu’ (rendah hati); dan 4) Tekunberibadah.”

(An-Nawawi (wafat 676 H), Al-Majmuu’, 1/13)

296) HIDUP BERKUALITAS

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

لَا يَكْمُلُ الرِّجَالُ فِي الدُّنْيَا إلَّا بِأَرْبَعٍ بِالدِّيَانَةِ وَالْأَمَانَةِ وَالصِّيَانَةِ وَالرَّزَانَةِ

“Seseorang tidak akan mengalami keunggulan di dunia ini, kecuali dengan empat: 1) Berpegang teguh pada agamanya; 2) Kejujuran; 3) Menjaga diri (– dari ma’shiyat – pent.); dan 4) Kepatutan.”

(An-Nawawi (wafat 676 H), Al-Majmuu’, 1/13)

297) RAHASIA

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

أرفع الناس قدراً من لا يرى قدره، وأكثر الناس فضلا من لا يرى فضله

“Manusia yang paling tinggi derajatnya adalah yang tidak kelihatan statusnya; dan manusia yang paling utama adalah yang justru keutamaannya tidak tampak (tersembunyi).”

(Al-Baihaqy (wafat 458 H), Manaaqibisy Syaafi’i, 2/201)

298) AKIBAT KENYANG

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

الشِّبَعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ وَيُقَسِّي الْقَلْبَ وَيُزِيلُ الْفِطْنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ، وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةَ

“Kenyang itu menyebabkan: badan berat (untuk dibawa ibadah), keras hati, menghilangkan kecerdasan, mengundang kantuk, dan lemah dalam ibadah.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahani [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 9/127)

299) KEBAIKAN DUNIA AKHERAT

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

خير الدنيا والآخرة في خمس خصال: غنى النفس، وكف الأذى، وكسب الحلال، ولباس التقوى، والثقة بالله عز وجل على كل حال

“Kebaikan dunia dan akherat itu terdapat dalam lima: 1) Jiwa yang cukup; 2) Tangannya tidak menyebabkan orang lain terluka; 3) Berusaha mendapatkan rizki dari yang Halal; 4) Berpakaian taqwa; dan 5) Yakin terhadap Allooh dalam segala keadaan.”

(Al-Baihaqy (wafat 458 H), Manaaqibisy Syaafi’i, 2/170)

300) RAHASIA SUKSES

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يقتح اللَّهُ قَلْبَهُ أَوْ يُنَوِّرَهُ فَعَلَيْهِ بِتَرْكِ الْكَلَامِ فيما لا يعنيه وا جتناب الْمَعَاصِي وَيَكُونُ لَهُ خَبِيئَةٌ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عَمَلٍ

“Barangsiapa yang ingin agar Allooh buka hatinya atau agar hatinya bercahaya, maka: 1) Hendaknya dia tidak berbicara yang tidak bemanfaat; 2) Meninggalkan maksiat; dan 3) Hendaknya dia memiliki amalan yang tidak diketahui (siapapun), kecuali oleh Allooh dan dirinya sendiri.”

(An-Nawawi [wafat 676 H], Al-Majmuu’, 1/13)

301) PASSWORD ILMU

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

من أحب أن يفتح الله قلبه ويرزقه الحكمة فعليه بالخلوة، وقلة الأكل، وترك مخالطة السفهاء، وبغض أهل العلم الذين ليس معهم إنصاف ولا أدب.

“Barangsiapa yang ingin Allooh buka hatinya dan diberi hikmah (‘ilmu), maka hendaknya dia melakukan: 1) Kholwat (bersendirian dengan Allooh); 2) Sedikit makan; 3) Tidak bergaul dengan orang-orang jahil/bodoh; dan 4) Membenci ‘Ulama yang tidak adil serta kurang adab.”

(Al-Baihaqy [wafat 458 H], Manaaqibisy Syaafi’i, 2/172)

302) SETIA KAWAN

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

من صدَق في أخوة أخيه قَبِلَ عِلَلَه، وسدّ خَلَلَه، وعفا عن زَلَلِه.

“Barangsiapa yang benar dalam mempersaudarai saudaranya, maka dia akan: 1) Menerima kekurangannya; 2) Menutupi cacatnya; dan 3) Memaafkan kesalahannya.”

(Al-Baihaqy [wafat 458 H], Manaaqibisy Syaafi’i, 2/194)

303) TERGANTUNG PEMIMPINNYA

Al-Qoosim bin Mukhoimiroh rohimahullooh berkata:

إنما زمانكم سلطانكم؛ فإذا صلح سلطانكم؛ صلح زمانكم وإذا فسد سلطانكم؛ فسد زمانكم.

“Sesungguhnya zaman kalian adalah penguasa kalian, jika penguasa kalian baik maka akan baiklah zaman kalian; tetapi jika penguasa kalian rusak maka rusaklah zaman kalian.”

(Al-‘Aajurri [wafat 1162 H], Kasyful Khofaa, 2/377)

304) SIAPA YANG MENUAI

Maalik bin Dinar rohimahullooh berkata:

مَكْتُوبٌ فِي التَّوْرَاةِ: كَمَا تَدِينُ تُدَانُ، وَكَمَا تَزْرَعُ تَحْصُدُ

“Tercatat dalam Taurot bahwa: “Sebagaimana kalian berbuat, maka kalian akan diperbuat; dan sebagaimana kalian menanam, maka kalian akan menuai.”

(Al-Khothiib al-Baghdaadi, Iqtidho’ul ‘Ilmi al-‘Amal, hal. 98, no. 164)

305) BERKATA ATAS NAMA ALLOOH

Al-Imaam al-Aajurri rohimahullooh berkata:

وَلَا يَقُولُ إِنْسَانٌ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ، وَلَا يُفَسِّرُ الْقُرْآنَ، إِلَّا مَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، أَوْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ التَّابِعِينَ أَوْ عَنْ إِمَامٍ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ

“Dilarang seseorang berkata tentang al-Qur’an dengan pendapatnya; dan dilarang menafsirkan al-Qur’an kecuali dengan apa yang datang dari Nabi, atau dari salah seorang dari Sahabat, atau dari salah seorang dari Taabi’iin, atau dari salah seorang dari Imam dari Imam-Imam kaum muslimin.”

(Al-Aajurri [wafat 360 H], Asy-Syarii’ah, 1/476)

306) SEGALANYA DENGAN ILMU

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم.

“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaknya dengan Ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan akherat maka hendaknya dengan Ilmu.”

(Al-Baihaqi [wafat 458 H], Manaaqibisy Syaafi’i, 2/139)

307) BAHAYA HAWA NAFSU

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

لِأَنْ يَلْقَى اللَّهَ الْعَبْدُ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلَا الشِّرْكَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْأَهْوَاءِ

“Seseorang bertemu Allooh dengan berbagai dosa selain syirik adalah lebih baik, daripada bertemu dengan-Nya dengan Hawa Nafsu (selain kebenaran).”

(Abu Nu’aim al-Ashfahani [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 9/112)

308) CINTA YANG MUSTAHIL

Al-Imaam As-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

من ادعى أنه جمع بين حب الدنيا وحب خالقها في قلبه فقد كذب

“Barangsiapa yang mampu dalam hatinya menggabungkan antara cinta dunia dan cinta Allooh, maka dia telah berdusta.”

(Al-Ghozali [wafat 505 H], Ihyaa ‘Ulumuddiin, 1/25)

309) PRO KONTRA

Al-Imaam As-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

مَا أَحَدٌ إِلَّا وَلَهُ مُحِبٌّ وَمُبْغِضٌ، فَإِنْ كَانَ لَابُدَّ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَكُنِ الْمَرْءُ مَعَ أَهْلِ طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap orang pastilah ada yang mencintainya dan ada pula yang membencinya, kalaulah demikian maka jadilah seseorang yang bersama dengan Ahluth-Thoo’ah (orang yang taat kepada Allooh – pent.).”

(Abu Nu’aim al-Ashfahani [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 9/117)

310) BERBAIK SANGKA

Al-Imaam As-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

من أحب أن يقضى له بالحسنى فليحسن بالناس الظن

“Barangsiapa yang ingin diperlakukan baik oleh orang lain, maka berbaiksangkalah pada mereka.”

(Al-Baihaqi [wafat 458 H], Manaaqibisy Syaafi’i, 2/189)

311) IBADAH SEPENUH HIDUP

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman dalam suatu hadits Qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ، مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak manusia, jadikanlah sepenuh hidupmu untuk berhamba kepada-Ku, niscaya akan Ku-penuhi dadamu dengan kecukupan dan kefakiran akan Ku-jauhkan darimu; tetapi jika hal itu tidak kau lakukan maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan membebaskanmu dari kefakiran.”

(HR. At-Turmudzi, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu, Sunan at-Turmudzi, 4/642, no: 2466)

312) LEBIH BERHARGA DARI EMAS

Ibnu Muflih rohimahullooh berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّ الزَّمَانَ أَشْرَفُ مِنْ أَنْ يَضِيعَ مِنْهُ لَحْظَةٌ فَكَمْ يَضِيعُ لِلْآدَمِيِّ مِنْ سَاعَاتٍ يَفُوتُهُ فِيهَا الثَّوَابُ الْجَزِيلُ

“Ketahuilah bahwa waktu adalah sesuatu yang termahal jika seseorang menyia-nyiakannya; berapa banyak orang menyia-nyiakan waktu hingga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebaikan yang besar.”

(Ibnu Muflih [wafat 763 H), Al-Aadaabusy Syar’iyyah, 3/474)

313) KEBAIKAN ITU KEBIASAAN

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

تَعَوَّدُوا الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ بِالْعَادَةِ

“Biasakanlah diri kalian dalam kebaikan, karena kebaikan itu adalah kebiasaan.”

(Waqii’ bin al-Jarrooh [wafat. 197 H], Az-Zuhd, hal. 264)

314) SYAHWAT DUNIA

Al-Imaam As-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

من غلبت عليه شدة الشهوة لحب الدنيا لزمته العبودية لأهلها ومن رضي بالقنوع زال عنه الخضوع

“Barangsiapa yang syahwatnya dominan cinta terhadap dunia, maka dia akan menjadi penghamba terhadap para pecinta dunia; akan tetapi barangsiapa yang rela dengan qona’ah, maka sikap itu akan lenyap darinya.”

(Al-Imam an-Nawawi [wafat 676 H], Bustanul ‘Aarifiin, hal. 52)

315) PEMBAWA AL-QUR’AN

‘Abdulloh bin Mubarok rohimahullooh berkata:

كم من حامل للقرآن والقرآن يلعنه من جوفه وإذاعصى حامل القرآن ربه ناداه القرآن من جوفه: والله ما لهذا حملت. ألا تستحي من ربك

“Berapa banyak pembawa Al-Qur’an, sedangkan Al-Qur’an mengutuknya dari dalam perutnya sendiri; jika orang itu melakukan ma’shiyat kepada Allooh maka Al-Qur’an berteriak dari dalam perutnya, ‘Demi Allooh, bukan untuk ini aku disimpan dalam dirimu. Tidakkah kamu punya malu terhadap Tuhanmu’?”

(Asy-Sya’rooni [wafat 873 H], Tanbihul Mughtariin, hal. 286)

316) PENGARUH PENGUASA

Mundzir bin Sa’id rohimahullooh berkata:

إِذَا خَشَعَ جَبَّارُ الأَرضِ رَحِمَ جَبَّارُ السَّمَاءِ

“Jika penguasa bumi merendahkan hatinya (pada Allooh), niscaya Penguasa langit (Allooh) akan menurunkan kasih sayang-Nya.”

(Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyar A’laamin Nubala, 16/177)

317) MUSLIM PILIHAN

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا سَدَّدَهُ، وَجَعَلَ سُؤَالَهُ عَمَّا يَعْنِيهِ، وَعِلْمَهُ فِيمَا يَنْفَعُهُ

“Jika Allooh menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Allooh akan membimbingnya, menjadikan permintaannya pada hal-hal yang bermanfaat dan memberinya ilmu yang bermanfaat.”

(Ibnu Baththoh [wafat 387 H], Al-Ibaanah al-Kubro, 1/419 No. 337)

318) KUNCI KEDAMAIAN

Abu bakar Ash-Shiddiiq rodhiyalloohu ‘anhu telah berkata:

وجدنا الكرم في التقوى والغنى في اليقين والشرف في التواضع

“Sesungguhnya kedermawanan itu ada pada taqwa, kecukupan itu ada pada yakin, dan kemuliaan itu ada pada tawadhu’ (rendah hati).”

(Al-Ghozali [wafat 505 H], Ihya’u ‘Ulumiddiin, 3/343)

319) STANDARD AL-HAQ & AL-BATHIL

‘Ali bin Abi Tholib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

إن الحق والباطل لا يعرفان بأقدار الرجال، وبإعمال الظن، اعرف الحق تعرف أهله، واعرف الباطل تعرف أهله

“Sesungguhnya AL-HAQ dan AL-BATHIL itu TIDAK lah DIKETAHUI DENGAN KEDUDUKAN ORANG atau PRASANGKA; namun KETAHUILAH AL-HAQ itu niscaya kamu akan KENAL ORANGNYA dan KENALILAH AL-BATHIL itu niscaya kamu akan KENAL ORANGNYA.”

(Al-Baladzri [wafat 279 H], Ansaabul Asyroof, 2/239)

320) KALIMAT BERMAKNA

Telah ditanyakan pada Hamdun bin Ahmad bin ‘Imaroh al-Qoshshoor:

ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا، قال: لأنهم تكلموا لعز الإسلام ونجاة النفوس ورضا الرحمن، ونحن نتكلم لعز النفوس وطلب الدنيا ورضا الخلق

“Mengapa PERKATAAN PENDAHULU UMMAT ini LEBIH MEMBEKAS dibanding perkataan kita?”_*
Beliau menjawab: *_“MEREKA itu jika BERBICARA, maka bicaranya adalah UNTUK KEJAYAAN ISLAM, KESELAMATAN JIWA, dan RIDHO ALLOOH; sedangkan kalau kita berbicara maka untuk kehormatan diri, mencari dunia dan mencari keridhoan manusia.”

(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/313-314, no: 868)

321) TEMAN YANG BURUK

Al-Imaam Ibnu Hibban Al-Busty rohimahullooh berkata:

العاقل لا يصاحب الأشرار لأن صحبة صاحب السوء قطعة من النار تعقب الضغائن لا يستقيم وده ولا يفي بعهد

“Orang yang berakal pastilah tidak akan berteman dengan orang jahat, karena teman yang buruk adalah bagian dari api neraka yang akan memicu kebencian. Rasa cintanya tidak akan abadi, bahkan dia tidak akan menepati janji.”

(Abu Hatim Al-Busty [wafat 354 H], Raudhatul ‘Uqala, hal. 101)

322) 4 KEBAHAGIAAN

Abu Hatim Al-Busty rohimahullooh berkata:

من سعادة المرء خصالا أربعا أن تكون زوجته موافقة وولده أبرارا وإخوانه صالحين وأن يكون رزقه في بلده

“Empat kebahagiaan seseorang: 1) Istrinya yang selalu selaras (dengannya); 2) Anaknya yang berbuat baik; 3) Saudaranya yang shoolih; dan 4) Rizqinya yang didapat dari dalam negeri.”

(Abu Hatim Al-Busty [wafat 354 H],Raudhatul ‘Uqala, hal. 101)

323) PEMBODOHAN

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

(وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ بِـَٔایَـٰتِنَاۤ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِی۟هِۦ فَقَالَ إِنِّی رَسُولُ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ ۝ فَلَمَّا جَاۤءَهُم بِـَٔایَـٰتِنَاۤ إِذَا هُم مِّنۡهَا یَضۡحَكُونَ ۝ وَمَا نُرِیهِم مِّنۡ ءَایَةٍ إِلَّا هِیَ أَكۡبَرُ مِنۡ أُخۡتِهَاۖ وَأَخَذۡنَـٰهُم بِٱلۡعَذَابِ لَعَلَّهُمۡ یَرۡجِعُونَ ۝ وَقَالُوا۟ یَـٰۤأَیُّهَ ٱلسَّاحِرُ ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَ إِنَّنَا لَمُهۡتَدُونَ ۝ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُمُ ٱلۡعَذَابَ إِذَا هُمۡ یَنكُثُونَ ۝ وَنَادَىٰ فِرۡعَوۡنُ فِی قَوۡمِهِۦ قَالَ یَـٰقَوۡمِ أَلَیۡسَ لِی مُلۡكُ مِصۡرَ وَهَـٰذِهِ ٱلۡأَنۡهَـٰرُ تَجۡرِی مِن تَحۡتِیۤۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ۝ أَمۡ أَنَا۠ خَیۡرࣱ مِّنۡ هَـٰذَا ٱلَّذِی هُوَ مَهِینࣱ وَلَا یَكَادُ یُبِینُ ۝ فَلَوۡلَاۤ أُلۡقِیَ عَلَیۡهِ أَسۡوِرَةࣱ مِّن ذَهَبٍ أَوۡ جَاۤءَ مَعَهُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ مُقۡتَرِنِینَ ۝ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ قَوۡمࣰا فَـٰسِقِینَ ۝ فَلَمَّاۤ ءَاسَفُونَا ٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ فَأَغۡرَقۡنَـٰهُمۡ أَجۡمَعِینَ ۝ فَجَعَلۡنَـٰهُمۡ سَلَفࣰا وَمَثَلࣰا لِّلۡـَٔاخِرِینَ)

(46) Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka dia (Musa) berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seluruh alam.”
(47) Maka ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa mukjizat-mukjizat Kami, seketika itu mereka menertawakannya.
(48) Dan tidaklah Kami perlihatkan suatu mukjizat kepada mereka kecuali (mukjizat itu) lebih besar dari mukjizat-mukjizat (yang sebelumnya). Dan Kami timpakan kepada mereka azab agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
(49) Dan mereka berkata, “Wahai pesihir! Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami (jika doamu dikabulkan) akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.”
(50) Maka ketika Kami hilangkan azab itu dari mereka, seketika itu (juga) mereka ingkar janji.
(51) Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?”
(52) “Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?”
(53) “Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas, atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?”
(54) “Maka (Fir’aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.”
(55) Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),
(56) “maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu, dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian.

[QS. Az-Zukhruf/43: 46 – 56]

RENUNGAN:

Nabi Musa ‘alaihissalaam mendatangi Fir’aun dan menyampaikan informasi dan permakluman bahwa dia adalah utusan Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa…

Sikap Fir’aun terhadap Musa ‘alaihissalaam dan informasi yang disampaikannya adalah mentertawakannya…

Bahkan tidak cukup sampai di situ…
Musa ‘alaihissalaam pun dituduhnya sebagai tukang sihir…

Bahkan tidak cukup sampai di situ…
Fir’aun pun menantang dan menagih akan apa yang Allooh janjikan…
Sembari menampakkan keangkuhannya, bahwa dialah orang yang berada di pihak yang benar…

Fir’aun kemudian menunjukkan kepada kaumnya…
Bahwa dialah orang yang terhormat…
Sedangkan Musa ‘alaihissalaam adalah orang yang jelata lagi hina….

Fir’aun kemudian merendahkan dan membodohi kaumnya…
Agar semakin ditaati dan dipatuhi…

Tetapi semua upaya dan makar itu berakhir dengan ditenggelamkannya Fir’aun ke dasar laut merah….
Untuk kemudian menjadi bukti bagi orang yang berakal…
Bahwa yang hina bukanlah Musa ‘alaihissalaam…
Akan tetapi….
Orang yang fasik adalah orang yang berkarakter seperti Fir’aun…
Serta orang-orang yang membela terhadap kemauan Fir’aun….

Nampaknya ada gejala sejarah yang berulang…
Yang harus bangsa kita ini sadari dari pelajaran kisah diatas…
Serta hendaknya kita tajam untuk menganalisa atas hal itu….

Ada STRATEGI MEMBUAT OPINI
Agar kebenaran ditampakkan seakan berada di pihak Fir’aun….
Dan kesalahan, bahkan kesesatan, ditampakkan seakan berada di pihak Musa ‘alaihissalaam…..

Saya khawatir…
Kalaulah benar apa yang terungkap…
Bahwa pembelaan terhadap kesalahan, dikategorikan sebagai peluang investasi…
Sementara…
Menyampaikan aspirasi, justru dituding sebagai upaya radikal…

Opini Fir’aun terus diarahkan dan dibentuk
Agar orang yang lemah dalam berpikir, menjadi membenarkan
Yang pada akhirnya akan berpihak kepada Fir’au

Sehingga….
Yang benar akan tampak bagaikan kesesatan….
Sementara yang sesat, justru seolah ditampakkan bagaikan kebenaran yang harus dipatuhi dan diikuti….

Namun jika hal yang demikian itu tidak segera dibersihkan…
Tidak segera direvisi…
Tidak segera dipulihkan….
Tidak segera diluruskan…
Tidak segera dikembalikan…
Tidak segera diperbaiki…
Maka….
Sungguh saya khawatir….
Sejarah pun akan berulang kembali….
Yaitu bangsa dan negara ini akan ambruk sebagaimana Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa membuat Fir’aun dan kaumnya menjadi ambruk dan terhina….

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc., M.M.Pd.)

324) TAKUT PADA ALLOOH

‘Aamir bin Qois rohimahullooh berkata:

من خاف الله أخاف الله منه كل شيء ومن لم يخف الله أخافه الله من كل شيء.

“Barangsiapa takut pada Allooh, maka segala sesuatu akan takut kepadanya; sedangkan barangsiapa tidak takut pada Allooh, maka dia akan takut pada segala sesuatu.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/122)

325) LIMA PERIODE PERJALANAN UMMAT ISLAM

Dari An Nu’man bin Basyĩr رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda,

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ, ثُمَّ سَكَتَ

“1) KENABIAN ditengah-tengah kalian akan berlangsung sebagaimana Allõh kehendaki, kemudian Allõh angkat jika Allõh kehendaki. Kemudian: 2) KHILAFAH DIATAS PEDOMAN NABI صلى الله عليه وسلم, kemudian Allõh angkat jika Allõh kehendaki. Kemudian: 3) MULKAN ‘ADHON / (KERAJAAN “yang menggigit”/ TURUN TEMURUN –pent.), kemudian Allõh angkat jika Allõh kehendaki. Kemudian: 4) MULKAN JABRIYYAH / KEKUASAAN TIRANI, kemudian Allõh angkat jika Allõh kehendaki. Kemudian: 5) KHILAFAH DIATAS PEDOMAN NABI صلى الله عليه وسلم. Kemudian Rosũlullõh diam.”

(HR. Ahmad no: 18402, dari Shohabat An Nu’man bin Basyĩr رضي الله عنه, dan berkata Syaikh Syuaib Al Arnã’uth رحمه الله bahwa sanad Hadits ini Hasan, dan Hadits ini di-shohĩhkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny رحمه الله dalam Kitab “Silsilah Hadits Shohĩh” no: 5)

326) CUKUP DENGAN YANG MASLAHAT

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

يا ربيع رضا الناس غاية لا تدرك فعليك بما يصلحك فالزمه فانه لا سبيل الى رضاهم

“Wahai Robii’, selera manusia itu tak terbatas, maka ambillah yang maslahat untukmu lalu pegang teguhlah; sebab tidak ada jalan untukmu memenuhi selera mereka semuanya.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 1/436)

327) SEBAB AKIBAT

Al-Imaam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

اعلم انه من تعلم القرآن جل في عيون الناس ومن تعلم الحديث قويت حجته

“Ketahuilah olehmu, bahwa siapa yang mempelajari Al-Qur’an maka dia akan terpandang di tengah-tengah manusia; sedangkan siapa yang mempelajari Al-Hadits maka dia akan kuat argumentasinya.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 1/436)

328) ZUHUD

Ibnu Katsiir rohimahullooh berkata:

الزهد ثلاثة، واجب، ومستحب، وزهد سلامة، فأما الواجب فالزهد في الحرام، وَالزُّهْدُ عَنِ الشَّهَوَاتِ الْحَلَالِ مُسْتَحَبٌّ، وَالزُّهْدُ عَنِ الشُّبَهَاتِ سَلَامَةٌ.

“ZUHUD itu adalah sesuatu yang WAJIB, ANJURAN serta KESELAMATAN; (menjadi) WAJIB ketika menghadapi perkara haram; (menjadi) ANJURAN ketika menghadapi syahwat terhadap yang halal, serta (menjadi) KESELAMATAN ketika menghadapi perkara syubhat (remang-remang).”

(Ibnu Katsiir [wafat 774 H], Al-Bidaayah wan Nihaayah, 10/137-138)

329) YANG LEBIH BERAT

Yusuf bin Asbaath rohimahullooh berkata:

الزهد في الرياسة أشد من الزهد في الدنيا

“Sikap tidak ambisius terhadap kekuasaan adalah lebih berat daripada zuhud terhadap dunia.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/408)

330) PEMBERIAN TERBAIK

وَسُئِلَ ابْنُ الْمُبَارَكِ مَا خَيْرُ مَا أُعْطِيَ الرَّجُلُ قَالَ غَرِيزَةُ عَقْلٍ قِيلَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَالَ أَدَبٌ حَسَنٌ قِيلَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَالَ أَخٌ صَالِحٌ يَسْتَشِيرُهُ قِيلَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَالَ صَمْتٌ طَوِيلٌ قِيلَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَالَ مَوْتٌ عَاجِلٌ

‘Abdullooh bin al-Mubaarok rohimahullooh ditanya: “Apakah sebaik-baik pemberian Allooh yang diberikan pada seseorang?”
Beliau menjawab: “KECERDASAN AKAL; jika tidak, maka AKHLAQ yang BAIK; jika tidak, maka TEMAN yang BAIK sebagai tempat berkonsultasi; dan jika tidak, maka tutup mulut saja; dan jika itupun tidak, maka mati yang disegerakan.”

(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Dzammul Hawa, hal. 10)

331) PENYEBAB AMAL SIA-SIA

Ahmad bin Abul Hawaari rohimahullooh berkata:

من عمل عملا بلا اتباع سنة رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فباطل عمله

“Barangsiapa yang beramal tanpa mengikuti sunnah Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam, maka amalannya sia-sia.”

(Al-Qusyairi [wafat 465 H], Ar-Risaalah al-Qusyairiyah, 1/68)

332) TEMPAT BERMAIN

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan KEHIDUPAN DUNIA hanyalah PERMAINAN dan SENDAU GURAU belaka. Sedangkan NEGERI AKHIRAT itu, sungguh LEBIH BAIK bagi ORANG-ORANG yang BERTAQWA. Tidakkah kamu mengerti?”

(QS. Al-An’aam/6: 32)

333) BEDA KEADAAN

‘Aamir bin Qois rohimahullooh berkata:

إن أشد أهل الجنة فرحاً في الجنة أطولهم حزناً في الدنيا.

“Sesungguhnya orang yang paling berbahagia di surga adalah orang yang paling lama sedihnya di dunia.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/122)

334) CARA PANDANG

Ahmad bin Abul Hawaari rohimahullooh berkata:

من نظر إِلَى الدنيا نظر إرادة وحب لَهَا أخرج اللَّه نور اليقين والزهد من قلبه

“Barangsiapa yang memandang pada dunia ini dengan rasa cinta, maka Allooh hilangkan keyakinan dan zuhud dari dirinya.”

(Al-Qusyairi [wafat 465 H], Ar-Risaalah al-Qusyairiyah, 1/68)

335) DI AKHIR ZAMAN, AMANAH DISIA-SIAKAN

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

“… ثُمَّ يَكُونُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلَا يُوفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ.

“… Akan datang masa setelah kalian, dimana manusia saat itu akan bersaksi padahal tidak diminta bersaksi; mereka berkhianat dan tidak bisa diberi amanah; mereka akan bernadzar tetapi mereka tidak menepatinya; dan akan muncul ditengah mereka orang-orang berbadan gemuk.”

(HR. Al-Bukhori no: 2651 dan HR. Muslim no: 2535 dari ‘Imron bin Hushoin rodhiyalloohu ‘anhu)

336) DI AKHIR ZAMAN, HUKUM DIPERJUALBELIKAN

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

“أَخَافُ سِتًّا إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ، وَبَيْعَ الْحُكْمِ، وَكَثْرَةَ الشُّرَطِ، وَقَطِيعَةَ الرَّحِمِ، وَنَشْءً يَنْشَئُونَ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ، وَسَفْكَ الدَّمِ

“… Aku takut kalian akan mengalami (suatu zaman dimana) para pemimpin yang dungu; hukum yang diperjualbelikan; banyaknya polisi; putus silaturrohim; muncul generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai nyanyian; serta tumpah darah.”

(HR. Ahmad no: 23970, menurut Syaikh Syu’aib al-Arna’uth hadits ini
shohiih lighoirihi)

337) DI AKHIR ZAMAN, KEBODOHAN & KEMUNGKARAN MEREBAK

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

“مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمُهُنَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ

“Diantara tanda hari kiamat, yaitu: Akan nampak kebodohan; Ilmu diangkat; Zina nampak; Khamr diminum; Akan semakin sedikit bilangan laki-laki dan semakin banyak bilangan wanita, sehingga 50 wanita dipimpin (ditanggung) oleh seorang laki-laki’.”

(HR. Al-Bukhoory no: 5577, dari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu)

338) JANGAN TERPESONA PERHIASAN DUNIA

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

“لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan diantara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah hati lah engkau terhadap orang-orang yang beriman.”

(QS. Al-Hijr/15: 88)

339) DAKWAH DENGAN HIKMAH

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

“ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“SERU lah (MANUSIA) kepada jalan Robb (Tuhan)-mu DENGAN HIKMAH dan PELAJARAN yang BAIK; dan BANTAH lah mereka DENGAN CARA yang BAIK. Sesungguhnya TUHAN-mu, Dia lah yang LEBIH MENGETAHUI tentang SIAPA yang TERSESAT dari jalan-Nya, DAN Dia lah yang LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG yang MENDAPAT PETUNJUK.”

(An-Nahl/16: 125)

340) TANGISAN TERBAIK

Ahmad bin Abul Hawaari rohimahullooh berkata:

“أفضل البكاء بكاء العبد عَلَى مَا فاته من أوقاته عَلَى غَيْر الموافقة.

“Sebaik-baik tangisan adalah tangisan seorang hamba akan waktu-waktu lalunya yang tidak sesuai dengan pedoman/tuntunan (Islam).”

(Al-Qusyairi [wafat 465 H], Ar-Risaalah al-Qusyairiyah, 1/68)

341) JIKA DIINGINKAN BAIK

Ma’ruf Al-Karkhi rohimahullooh berkata:

“إذا أراد الله بعبد خيرا فتح الله عليه باب العمل وأغلق عنه باب الجدل وإذا أراد بعبد شرا أغلق عليه باب العمل وفتح عليه باب الجدل

“Jika Allooh menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuka baginya pintu amal dan akan menutup darinya pintu jidal (suka berdebat/ berbantah-bantahan). Jika Allooh menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia akan menutup darinya pintu amal dan akan membuka baginya pintu jidal (suka berdebat).”

(Abu Nu’aim al-Ashfahani [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 8/361)

342) PENGARUH NIAT DALAM MENCARI ILMU

Malik bin Dinar rohimahullooh berkata:

“من طلب العلم للعمل وفقه الله ومن طلب العلم لغير العمل يزداد بالعلم فخرا

“Barangsiapa mencari ILMU (agama) untuk DIAMALKAN, maka Allooh akan terus memberikan TAUFIQ kepadanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ILMU (agama) BUKAN untuk DIAMALKAN maka ilmu itu hanya menjadi suatu kebanggaan (KESOMBONGAN) belaka.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahani [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 2/378)

343) BEDA MURJI’AH DENGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

‘Abdullooh bin al-Mubaarok rohimahullooh (seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah) berkata:

“خالفت المرجئة في ثلاثة أشياء : فإنهم يزعمون أن الإيمان قول بلا عمل . وأنا أقول هو قول وعمل ; ويزعمون أن تارك الصلاة لا يكفر .وانا أقول إنه يكفر ; ويزعمون أن الإيمان لا يزيد ولا ينقص .وأنا أقول هو يزبد وينقص

“Aku menyelisihi Murji’ah dalam tiga hal: 1) Mereka (Murji’ah) meyakini bahwa Iman itu hanya perkataan. Sedangkan aku meyakini Iman itu adalah perkataan dan perbuatan; 2) Mereka meyakini bahwa orang yang meninggalkan sholat itu tidak kafir. Sedangkan aku mengatakan bahwa yang demikian itu kafir; 3) Dan mereka meyakini bahwa Iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang. Sedangkan aku mengatakan bahwa Iman itu bertambah dan berkurang.”

(Asy-Sya’roony, Ath-Thobaqootul Kubro, 1/112)

344) PENGARUH NIAT TERHADAP AMAL

‘Abdullooh bin al-Mubaarok rohimahullooh berkata:

“رب عمل صغير تعظمه النية ورب عمل كبير تصغره النية

“Bisa jadi amalan kecil menjadi besar karena niat; dan sebaliknya, bisa jadi amalan besar menjadi kecil karena niat.”

(Asy-Sya’roony, Ath-Thobaqootul Kubro, 1/109)

345) ROHMAT ALLOOH

‘Abdullooh bin al-Mubaarok rohimahullooh berkata:

“إن الرحمة تنزل عند ذكر الصالحين

“Sesungguhnya Rohmat Allooh turun pada saat menyebutkan para orang shoolih.”

(Asy-Sya’roony, Ath-Thobaqootul Kubro, 1/112 )

346) SYUKUR YANG SEPADAN

Muhammad bin Manshuur rohimahullooh ditanya:

“إِذَا أَكَلْتُ وَشَبِعْتُ، فَمَا شُكْرُ تِلْكَ النِّعمَةِ؟ قَالَ: أَنْ تُصَلِّيَ حَتَّى لاَ يَبْقَى فِي جَوفِكَ مِنْهُ شَيْءٌ

“Jika aku makan sampai kenyang, maka bagaimana mensyukurinya?”_*; maka beliau menjawab: *_“Engkau sholat sehingga tidak tersisa sedikitpun (makanan) dalam perutmu.”

(Adz-Dzahaby, Siyar A’laamin Nubala, 12/213)

347) HAK SAUDARA MUSLIM

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

“اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنَا. يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ
مَرَّاتٍ : بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh mendzoliminya, merendahkannya dan tidak boleh pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini.”
Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali (kemudian beliau bersabda
lagi), “Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila ia meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lainnya; harom darahnya, kehormatannya dan hartanya.”

(HR. Muslim no: 2567, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

348) BAGAIKAN MUSAFIR

“عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Shohabat ‘Abdullõh bin ‘Umar bin Khoththõb رضي الله عنهما, ia berkata: Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم memegang pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah seorang yang asing, atau seorang musafir. Jika engkau masuk waktu Shubuh, maka janganlah engkau menanti sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Shubuh. Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk matimu.”

(HR. Bukhõry no: 5937)

349) PARA PERUSAK AGAMA

Diantara bait syi’ir yang dikatakan ‘Abdullooh bin al-Mubaarok rohimahullooh antara lain:

“وَهَلْ أَفْسَدَ الدِّيْنَ إِلاَّ المُلُوْكُ … وَأَحْبَارُ سَوْءٍ وَرُهْبَانُهَا

“Dan para perusak agama itu, siapa lagi kalau bukan para raja (penguasa), para ‘Ulama suu’ (‘Ulama yang jahat) dan para pendeta (ahli ibadah)-nya.”

(Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyar A’laamin Nubala, 12/213)

350) PENENTANG PALING KERAS

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

“وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allooh mengenai (kebenaran) isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.”

(QS. Al-Baqoroh/2: 204)

351) HAKEKAT SESUNGGUHNYA

“سُنَيْدَ بْنَ دَاوُدَ , يَقُولُ: سَأَلْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ: مَنِ النَّاسُ؟ قَالَ الْعُلَمَاءُ , قُلْتُ: فَمَنِ الْمُلُوكُ؟ قَالَ: الزُّهَادُ، قُلْتُ: فَمَنِ الْغَوْغَاءُ؟ قَالَ: خُزَيْمَةُ وَأَصْحَابُهُ، قُلْتُ: فَمَنِ السَّفَلَةُ؟ قَالَ: الَّذِينَ يَعِيشُونَ بِدِينِهِمْ

Ketika ‘Abdullooh bin al-Mubaarok rohimahullooh ditanya oleh Sunaid bin Daawud tentang: “Siapakah manusia (yang sesungguhnya)?”, maka beliau menjawab: “Mereka adalah ‘Ulama”; lalu ketika ditanya tentang: “Siapakah raja (yang sesungguhnya)?”, beliau menjawab: “Ahli zuhud”; kemudian ketika ditanya tentang: “Siapakah manusia yang paling banyak membuat kegaduhan?”, maka beliau menjawab: “Mereka adalah para penguasa yang dzolim dan orang-orang disekitarnya, sedangkan orang-orang rendahan adalah yang hidup dari agama mereka.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 8/167)

352) PUNCAK IMAN

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

“لا يبلغ عبد حقيقة الإيمان حتى يحل بذروته حتى يكون الفقر أحب إليه من الغنى والتواضع أحب إليه من الشرف وحتى يكون حامده وذامه عنده سواء قال ففسرها أصحاب عبد الله قالوا حتى يكون الفقر في الحلال أحب إليه من الغنى في الحرام والتواضع في طاعة الله أحب إليه من الشرف في معصية الله وحتى يكون حامده وذامه عنده في الحق سواء

“Tidak akan seorang hamba sampai pada hakekat iman sehingga menempati puncaknya (– puncak imaan –), kecuali : 1) Dia lebih mencintai ke-faqir-an, daripada mencintai kekayaan; 2) Dia mencintai tawadhu’, daripada kehormatan; 3) Dia menganggap sama orang yang memuji dan mencelanya.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 1/417)

353) PELOPOR KEBAIKAN & KEBURUKAN

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

“مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa mempelopori suatu amal kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya pahala semisal pahala orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa mempelopori suatu amal keburukan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.”

(HR. Muslim no. 1017, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

354) BERCERMIN DIRI

‘Abdullooh bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

“إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَذْكُرَ عُيُوبَ صَاحِبِكَ فَاذْكُرْ عُيُوبَ نَفْسِكَ

“Jika engkau akan membahas cela saudaramu, maka ingatlah terlebih dahulu terhadap cela yang ada pada dirimu.”

(‘Abdullooh bin Imam Ahmad [wafat 241 H], Zuhud, hal. 154, no: 1046)

355) ILMU SEKEDAR UNTUK BERHIAS

‘Ubay bin Ka’ab rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

“تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَاعْمَلُوا بِهِ وَلَا تَتَعَلَّمُوهُ لِتَتَجَمَّلُوا بِهِ؛ فَإِنَّهُ يُوشِكُ إِنْ طَالَ بِكُمْ زَمَانٌ أَنْ يُتَجَمَّلَ بِالْعِلْمِ كَمَا يَتَجَمَّلُ الرَّجُلُ بِثَوْبِهِ

“Pelajarilah oleh kalian ilmu dan beramal lah dengannya, dan jangan sekali-kali kalian mempelajari ilmu hanya untuk berhias (diri). Sesungguhnya jika masa panjang dialami oleh kalian, niscaya seseorang akan berhias (diri) dengan ilmu, sebagaimana seseorang berhias dengan pakaiannya.”

(Ibnu Rojab al-Hambali [wafat 795 H], Jami’ul Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/693, no: 1226)

356) PERKATAAN SESUAI PERBUATAN/AMALAN

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata,

“إِنَّ النَّاسَ قَدْ أَحْسَنُوا الْقَوْلَ كُلُّهُمْ، فَمَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ فِعْلَهُ فَذَلِكَ الَّذِي أَصَابَ حَظَّهُ، وَمَنْ خَالَفَ قَوْلُهُ فِعْلَهُ، فَإِنَّمَا يُوبِّخُ نَفْسَهُ

“Bisa jadi semua orang berkata baik; akan tetapi YANG MENJADI UKURAN adalah orang yang PERKATAANNYA SESUAI dengan PERBUATAN / AMALANNYA, maka dialah orang yang berhak mendapatkan balasan kebaikannya. Sedangkan barangsiapa yang perkataannya menyelisihi perbuatannya, maka seolah dia telah mencoreng dirinya sendiri.”

(Waki’ bin Al-Jarroh [wafat 197 H], Zuhud, hal. 528, no: 266)

357) JANGAN TERPEDAYA DUNIA

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Robb (Tuhan)-mu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allooh adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaithon) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allooh.”

(QS. Luqman/31: 33)

358) PENUNTUN HIDUP

“قَالَ رَجُلٌ لِأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَوْصِنِي، قَالَ: «اتَّخِذْ كِتَابَ اللهِ إِمَامًا، وَارْضَ بِهِ قَاضِيًا وَحَكَمًا، فَإِنَّهُ الَّذِي اسْتَخْلَفَ فِيكُمْ رَسُولَكُمْ، شَفِيعٌ مُطَاعٌ، وَشَاهِدٌ لَا يُتَّهَمُ، فِيهِ ذِكْرُكُمْ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلَكُمْ، وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ، وَخَبَرَكُمْ وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ»

Seseorang meminta nasehat dari Ubay bin Ka’ab rodhiyalloohu ‘anhu, maka beliau menjawab:
“1) Jadikanlah olehmu Al-Qur’an sebagai penuntun (hidupmu); 2) dan bersikaplah ridho terhadap apa yang diputuskan oleh Allooh, karena Dia lah yang telah menjadikan Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam sebagai pemimpin kalian, sebagai pemberi syafa’at yang ditaati, serta sebagai saksi bagi kalian; 3) Di dalam Al-Qur’an terdapat sebutan tentang kalian dan orang-orang sebelum kalian; 4) Al-Qur’an adalah pemutus perkara sengketa diantara kalian; dan 5) di dalam Al-Qur’an terdapat berita tentang kalian dan orang-orang setelah kalian.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 1/253)

359) 3 SIFAT TERPUJI

Ibnu Buraidah berkata bahwa seseorang telah memaki ‘Abdullooh bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu, maka ‘Abdullooh bin ‘Abbas pun menjawab,

“شَتَمَ رَجُلٌ ابْنَ عَبَّاسٍ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِنَّكَ لَتَشْتُمُنِي وَفِيَّ ثَلَاثُ خِصَالٍ: إِنِّي لَآتِي عَلَى الْآيَةِ مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَلَوَدِدْتُ أَنَّ جَمِيعَ النَّاسِ يَعْلَمُونَ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ، وَإِنِّي لَأَسْمَعُ بِالْحَاكِمِ مِنْ حُكَّامِ الْمُسْلِمِينَ يَعْدِلُ فِي حُكْمِهِ فَأَفْرَحُ بِهِ، وَلَعَلِّي لَا أُقَاضِي إِلَيْهِ أَبَدًا، وَإِنِّي لَأَسْمَعُ بِالْغَيْثِ قَدْ أَصَابَ الْبَلَدَ مِنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ فَأَفْرَحُ بِهِ، وَمَا لِي بِهِ مِنْ سَائِمَةٍ»

“Kamu memakiku, sedangkan padaku ada 3 sifat: 1) Aku suka jika semua manusia mengetahui apa yang aku tahu dari suatu ayat Al-Qur’an; 2) Sungguh aku senang jika aku mendengar ada seorang Penguasa Muslim yang berbuat adil dalam memutuskan perkaranya, dan aku tidak akan membantahnya selamanya; dan 3) Sungguh aku senang mendengar hujan menimpa suatu negeri kaum Muslimin, sedangkan aku tidak memiliki seekor pun hewan peliharaan.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 1/321)

360) 4 PERKARA MUKMIN

Ubay bin Ka’ab rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

” الْمُؤْمِنُ بَيْنَ أَرْبَعٍ: إِنِ ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِنْ أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِنْ قَالَ صَدَقَ، وَإِنْ حَكَمَ عَدَلَ، فَهُوَ يَتَقَلَّبُ فِي خَمْسَةٍ مِنَ النُّورِ، وَهُوَ الَّذِي يَقُولُ اللهُ: {نُورٌ عَلَى نُورٍ} [النور: 35]، كَلَامُهُ نُورٌ، وَعِلْمُهُ نُورٌ، وَمَدْخَلُهُ نُورٌ، وَمَخْرَجُهُ نُورٌ، وَمَصِيرُهُ إِلَى النُّورِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَالْكَافِرُ يَتَقَلَّبُ فِي خَمْسَةٍ مِنَ الظُّلَمِ، فَكَلَامُهُ ظُلْمَةٌ، وَعَمَلُهُ ظُلْمَةٌ، وَمَدْخَلُهُ ظُلْمَةٌ، وَمَخْرَجُهُ فِي ظُلْمَةٍ، وَمَصِيرُهُ إِلَى الظُّلُمَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang Mukmin itu berada diantara 4 perkara: 1) Jika ditimpa musibah, dia bersabar; 2) Jika dia dikaruniai nikmat, dia bersyukur; 3) Jika berkata, dia jujur; dan 4) Jika memutuskan perkara, dia adil. Maka orang yang seperti itu berada diantara 5 cahaya sebagaimana Allooh berfirman tentang “cahaya diatas cahaya Al-Qur’an” (QS. An-Nuur/24: 35), yaitu: 1) Perkataannya cahaya; 2) Ilmunya cahaya; 3) Tempat masuknya cahaya; 4) Tempat keluarnya cahaya; dan 5) Tempat kembalinya pun cahaya pada Hari Kiamat. Sedangkan orang kafir, maka dia berada diantara 5 kegelapan: 1) Perkataan yang gelap; 2) Amalan yang gelap; 3) Tempat masuknya gelap; 4) Tempat keluarnya gelap; dan 5) Tempat kembalinya pun gelap pada Hari Kiamat.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 1/254)

361) PEDOMAN DALAM BERAGAMA

Ubay bin Ka’ab rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

“عَلَيْكُمْ بِالسَّبِيلِ وَالسُّنَّةِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ عَلَى سَبِيلٍ، وَسُنَّةٍ ذَكَرَ الرَّحْمَنَ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ فَمَسَّتْهُ النَّارُ أَبَدًا، وَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ عَلَى سَبِيلٍ، وَسُنَّةٍ ذَكَرَ اللَّهَ فَاقْشَعَرَّ جِلْدُهُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ إِلَّا كَانَ مَثَلُهُ كَمَثَلِ شَجَرَةٍ يَبِسَ وَرَقُهَا، فَهِيَ كَذَلِكَ إِذْ أَصَابَتْهَا رِيحٌ فَتَحَاتَّ وَرَقُهَا عَنْهَا إِلَّا تَحَاتَّتْ خَطَايَاهُ، كَمَا يَتَحَاتُّ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ وَرَقُهَا، وَإِنَّ اقْتِصَادًا فِي سُنَّةٍ وَسَبِيلٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتِهَادٍ فِي غَيْرِ سُنَّةٍ وَسَبِيلٍ، فَانْظُرُوا أَعْمَالَكُمْ، فَإِنْ كَانَتِ اقْتِصَادًا وَاجْتِهَادًا أَنْ تَكُونَ عَلَى مِنْهَاجِ الْأَنْبِيَاءِ وَسُنَّتِهِمْ

“Pegang teguhlah oleh kalian jalan dan Sunnah (Rosuul); sebab sesungguhnya tidaklah seorang hamba yang berada diatasnya lalu kedua matanya menangis ketika mengingat Allooh akibat rasa takut kepada-Nya, akan disentuh oleh api neraka. Dan tidaklah seorang hamba yang berada diatas jalan dan Sunnah; kemudian kulitnya merinding karena takut kepada-Nya melainkan kesalahan-kesalahannya akan tersapu bersih laksana sebuah pohon yang rontok dedaunannya lalu terhempas oleh angin. Dan sesungguhnya seseorang mencukupkan diri dalam beragama ini diatas Sunnah dan jalan Rosuulullooh adalah lebih baik, daripada bersungguh-sungguh akan tetapi diluar Sunnah dan jalan Rosuul. Maka perhatikanlah amalan-amalan kalian, sebab sesungguhnya mencukupkan diri dan bersungguh-sungguh di dalam beribadah itu hendaknya diatas pedoman para nabi dan Sunnah mereka.”

(Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 7/224, no: 35526)

362) HAKEKAT TAWADHU

Ibrohim berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail mengenai apa itu TAWADHU’; maka beliau menjawab:

“تخضع للحق، وتنقاد له وتقبله ممن قاله، ولو تسمعه من صبي قبله، ولو تسمعه من أجهل الناس قبله

“Engkau TUNDUK dan PATUH pada KEBENARAN. Jika ada sebuah kebenaran yang engkau dengar dari anak kecil, maka engkau menerimanya. Bahkan sebuah kebenaran yang engkau terima dari orang bodoh pun, engkau menerimanya.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 8/91)

363) HANYA ALLOOH YANG MENGETAHUINYA

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

“إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya hanya di sisi Allooh lah ilmu tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allooh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

(QS. Luqman/31: 34)

364) BERKORBAN DENGAN ILMU

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

“(قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَاۤ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ)

“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allooh dengan yakin, Maha Suci Allooh, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”
[QS. Yusuf/12: 108]

Berdakwah adalah menyeru manusia kepada jalan Allooh…

Seorang Dai pada saat mengajak manusia kepada jalan Allooh, maka haruslah dengan menggunakan ilmu….
Baik ILMU YANG AKAN DISERUKAN kepada mereka….
Maupun ILMU BAGAIMANA CARA MENYERU mereka DENGAN TEPAT….

Pada saat mereka sudah mau menerima dakwah….
Demikian pula, mereka tidak bisa didiamkan…
Tetapi haruslah dibina….

Sedangkan…
PEMBINAAN itu adalah HARUS DENGAN ILMU…
Dan bukan dengan dongeng, atau dengan dagelan maupun lelucon….

Setelah mereka terbina….
Maka, MENJALANKAN APA YANG TELAH DIKAJI dan DIPAHAMI juga HARUS DENGAN ILMU…
Tidak cukup dengan sekedar semangat….

SEPANJANG HIDUP MANUSIA sampai dengan ajal menjemputnya….
Tetap harus berisi antara: MENGKAJI ILMU, MENJALANKAN ILMU dan MEMPERJUANGKAN TEGAKNYA ILMU…
Bahkan…
MEMPERTAHANKAN DIRI agar MENGAKHIRI HIDUP adalah JUGA DENGAN ILMU….

Sedangkan….
Berkorban, baik dengan harta maupun nyawa, termasuk waktu dan tenaga; adalah suatu hal yang mutlak dituntut dalam berbagai jenis kegiatan keilmuan….

Kalau ini dipahami, maka orang akan menyadari bahwa:
BERILMU sesungguhnya LEBIH PENTING dari sekedar mengisi perut dengan makanan dan minuman.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd.)

365) BAGAIKAN KELEDAI MEMANGGUL KITAB

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

“(مَثَلُ ٱلَّذِینَ حُمِّلُوا۟ ٱلتَّوۡرَىٰةَ ثُمَّ لَمۡ یَحۡمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ یَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢاۚ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ لَا یَهۡدِی ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِینَ)

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allooh. Dan Allooh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”
[QS. Al-Jumu’ah/62: 5]

RENUNGAN :

Era digital 4.0 yang sudah mulai “booming” saat ini..
Diantara ciri terpentingnya adalah “big data”
Dimana data yang dahulu membutuhkan gudang-gudang yang besar untuk menyimpannya….
Maka saat ini, cukup dengan “chip” kecil, segala jenis konsep teori ilmu semuanya dapat dituangkan dalam bentuk memori dan data…..

Bahkan perencanaan-perencanaan canggih di masa mendatang pun bisa disimpan dalam bentuk data….

Kemudian yang tidak kalah penting….
Adalah dirancang dan dioperasikannya suatu sistem untuk mengoperasikan, mengolah dan menyajikan data secara cepat, sehingga dapat memudahkan dalam mewujudkannya secara efektif dan efisien….

Tidak ketinggalan…
Yang demikian itu pun bahkan sampai digunakan dalam bidang ilmu-ilmu Islam…
Baik untuk penyimpanan, pengkajian, pemahaman dan seterusnya….

Sangat sulit bagi orang yang hidup di masa kini…
Untuk menyatakan susah atau tidak bisa…
Karena semua fasilitas, bahkan semua data yang pada zaman dahulu itu sulit didapat, kini sangatlah mudah dijangkau…
Karena memang semua data dan ilmu itu telah tersebar dan berserakan di mana-mana…

Namun…
Ada MASALAH yang harus tetap ditelaah secara jeli, cermat dan tajam di dalam menyikapi kemajuan peradaban seperti ini…
Karena toh kenyataannya….
Problematika kualitas umat ini, semakin hari justru semakin mengkhawatirkan….

Bahkan…
Bukan bermasalah dalam upaya untuk memahami, menggalinya….
Akan tetapi….
BAGAIMANA MELAKSANAKAN DAN MEWUJUDKANNYA DALAM BENTUK “REAL”/ NYATA…

Dan……
Tidak sedikit kendala yang dihadapi dan yang akan dihadapi dalam mewujudkannya….

Bukan generasi mendatang saja yang akan pusing tujuh keliling menghadapi munculnya berbagai fitnah di akhir zaman ini….
Bahkan orang yang masih hidup di zaman kita sekarang ini pun, sudah merasa prihatin….
Karena KUALITAS MANUSIA, baik dari sisi AQIDAH, dari sisi IBADAH, maupun dari sisi AKHLAQ dan yang lainnya justru SEMAKIN MEROSOT JAUH….

Berbagai peringatan Allooh…
Allooh sudah turunkan sebagai Peringatan…
Sekaligus sebagai Ancaman bagi mereka yang beriman….

Namun…
Semakin hari yang tumbuh adalah justru tidak sedikit orang-orang yang cemas…
Orang-orang yang khawatir….
Orang-orang yang ketakutan….
Bahkan orang-orang yang minder di dalam MEYAKINI dan MENJADI PRIBADI MUSLIM….

Lebih parah dari itu….
Adalah tidak sedikit dari orang yang mengaku muslim…
Bahkan berilmu…
Bahkan tokoh…
Tetapi kenyataannya….
Adalah menjadi “speaker” (CORONG) bagi SEKULERISME, LIBERALISME dan ISLAMOPHOBIA….

Betapapun data dan ilmu tinggal disentuh oleh ujung jari….
Akan tetapi kenyataannya….
Adalah kalau tidak memiliki alat yang cukup….
Tidak memiliki kemampuan yang cukup…..
Tidak memiliki kemauan yang cukup…..
Maka saya khawatir….
Isi ayat ini adalah menjadi tegurannya….

Na’uudzu billaahi min dzaalik….

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd.)

366) HAKEKAT KEBAIKAN

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

“لَيْسَ الْخَيْرُ أَنْ يَكْثُرَ مَالُكَ وَوَلَدُكَ وَلَكِنَّ الْخَيْرَ أَنْ يَكْثُرَ عِلْمُكَ وَيَعْظُمَ حِلْمُكَ وَأَنْ لَا تُبَاهِيَ النَّاسَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَإِذَا أَحْسَنْتَ حَمِدْتَ اللَّهَ تَعَالَى وإذا أسأت استغفرت الله تعالى

“Kebaikan itu bukan dengan banyaknya harta dan anak; akan tetapi kebaikan itu adalah jika ilmumu semakin banyak, maka semakin luhur budimu; dan engkau tidak berbangga dengan ibadahmu di hadapan manusia; dan jika engkau berbuat kebaikan maka engkau akan memuji Allooh, dan jika engkau berbuat keburukan maka engkau akan memohon ampunan Allooh.”

(Al-Ghozali [wafat 505 H], Ihya’u ‘Ulumiddiin, 3/178)

367) NASEHAT BERHARGA

Abud Darda rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

“اعْبُدُوا اللَّهَ كَأَنَّكُمْ تَرَوْنَهُ، وَعُدُّوا أَنْفُسَكُمْ فِي الْمَوْتَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ قَلِيلًا يُغْنِيكُمْ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ يُلْهِيكُمْ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْبِرَّ لَا يَبْلَى، وَأَنَّ الْإِثْمَ لَا يُنْسَى

“Beribadahlah engkau kepada Allooh seakan-akan engkau melihat-Nya, dan anggaplah dirimu berada ditengah-tengah orang mati; dan ketahuilah bahwa sedikit tetapi mencukupimu adalah lebih baik daripada banyak akan tetapi melalaikanmu. Dan ketahuilah bahwa kebaikan itu tidak akan punah, dan bahwa dosa itu tidak akan pernah terlupakan.”

(Waki’ bin al-Jarroh [wafat 197 H], Az-Zuhud, hal. 234, no: 13)

368) TEMAN MANUSIA

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

“أَخِلَّاءُ ابْنِ آدَمَ ثَلَاثَةٌ: فَخَلِيلٌ يَقُولُ: أَنَا مَعَكَ حَيًّا وَمَيِّتًا فَهُوَ عَمَلُهُ. وَخَلِيلٌ يَقُولُ: أَنَا مَعَكَ حَيًّا فَإِذَا مِتَّ خَلَّيْتُ سَبِيلَكَ فَهُوَ مَالُهُ. وَخَلِيلٌ يَقُولُ: أَنَا مَعَكَ حَتَّى تَأْتِيَ بَابَ الْمَلِكِ، ثُمَّ أُخَلِّي عَنْكَ فَهُوَ وَارِثُهُ

“Teman manusia itu tiga: 1) Teman yang mengatakan ‘Aku akan bersamamu sehidup semati’, dan itu adalah AMALAN-nya; 2) Teman yang mengatakan ‘Aku bersamamu semasa hidup, jika kamu mati maka aku akan mempersilahkanmu pergi’; dan itu adalah HARTA-nya; 3) Teman yang mengatakan ‘Aku bersamamu sehingga kamu sampai ke pintu raja, setelah itu aku akan meninggalkanmu’; dan itu adalah PEWARIS-nya.”

(Waki’ bin al-Jarroh [wafat 197 H], Az-Zuhud, hal. 852, no: 530)

369) SERBA TERBALIK

Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

“أعجب من هذا أن معروفكم اليوم منكر زمان قد مضى وأن منكركم اليوم معروف زمان قد أتى وإنكم لا تزالون بخير ما عرفتم الحق وكان العالم فيكم غير مستخف به

“Aku terheran-heran dengan zaman ini; sesuatu yang kalian anggap ma’ruf di hari ini, justru merupakan perkara yang munkar di masa lampau. Sedangkan, sesuatu yang kalian anggap munkar di hari ini, justru merupakan perkara ma’ruf yang terbukti (kebenarannya). Sungguh kalian akan tetap dalam kebaikan selama kalian mengetahui kebenaran, dan orang-orang alim ditengah-tengah kalian tidak menyepelekannya.”

(Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 7/504, no: 37577)

370) YANG MEMBUAT TERTAWA & MENANGIS

Salmaan al-Faarisi rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

“أَضْحَكَنِي ثَلَاثٌ وَأَبْكَانِي ثَلَاثٌ: ضَحِكْتُ مِنْ مُؤَمِّلِ الدُّنْيَا وَالْمَوْتُ يَطْلُبُهُ، وَغَافِلٍ لَا يُغْفَلُ عَنْهُ، وَضَاحِكٍ مِلْءَ فِيهِ لَا يَدْرِي أَمُسْخِطٌ رَبَّهُ أَوْ مُرْضِيهِ، وَأَبْكَانِي ثَلَاثٌ: فِرَاقُ الْأَحِبَّةِ مُحَمَّدٍ وَحِزْبِهِ، وَهَوْلُ الْمَطْلَعِ عِنْدَ غَمَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالْوُقُوفُ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّ الْعَالَمِينَ حِينَ لَا أَدْرِي إِلَى النَّارِ أَنْصَرِفُ أَمْ إِلَى الْجَنَّةِ

“Ada 3 perkara yang membuatku tertawa dan ada 3 perkara pula yang membuatku menangis. Yang membuatku tertawa: 1) Orang yang berpanjang angan-angan sedangkan kematian mengintainya, 2) Orang yang lalai, padahal dia tidak akan terlalaikan (dari pengawasan Allooh); 3) Orang yang mulutnya penuh (makanan), sembari dia tidak sadar apakah itu menyebabkan Allooh ridho ataukah murka. Sedangkan yang membuatku menangis: 1) Berpisah dari orang-orang yang kucintai, Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam dan para shohabatnya; 2) Disaat dahsyatnya sakarotul maut; 3) Disaat berdiri dihadapan Allooh sedangkan aku tidak tahu apakah akan menjadi penghuni neraka ataukah menjadi penghuni surga.”

(Ahmad bin Hambal [wafat 241 H], Az-Zuhud, hal. 127, no: 837)

371) PENGGANTI YANG SETARA

Sulaiman berkata :

“إذا اسات سيئة في سريرة فاحسن حسنة في سريرة وإذا اسات سيئة في علانية فاحسن حسنة في علانية لكي تكون هذه بهذه.

“Jika engkau berbuat keburukan disaat bersendirian; maka berbuatlah kebaikan pula disaat engkau bersendirian. Dan jika engkau berbuat keburukan secara terang-terangan, maka berbuatlah kebaikan secara terang-terangan pula; agar kebaikan itu menghapus kesalahan tersebut.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 1/208)

372) TAWADHU’

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullooh berkata :

“يَخْضَعُ لِلْحَقِّ وَيَنْقَادُ لَهُ، وَيَقْبَلُ الْحَقَّ مِنْ كُلِّ مَنْ يَسْمَعُهُ مِنْهُ

“TAWADHU’ adalah TUNDUK dan PATUH kepada KEBENARAN, dan MENERIMA KEBENARAN yang dia dengar DARI SIAPAPUN.”

(Al-Imam al-Baihaqi [wafat 458 H], Syu’abul ‘Iman, 10/510, no: 7895)

373) BUKAN AKAL/LOGIKA YANG MENJADI UKURAN

Qotadah berkata :

“مَا قُلْتُ بِرَأْيِي مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً، قَالَ أَبُو هِلَالٍ مُنْذُ أَرْبَعِينَ سَنَةً

“Aku tidak berbicara tentang agama ini melalui akalku sejak 30 tahun lalu”, dan hal serupa juga dikatakan oleh Abu Hilal: “Aku tidak berbicara tentang agama ini melalui akalku sejak 40 tahun lalu”.

(Al-Imam Ad-Darimi [wafat 255 H], Sunan Ad-Darimi, 1/234, no: 107)

374) BUKAN SEMATA BERDASARKAN AKAL/LOGIKA

‘Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata,

“لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya agama berdasarkan akal/logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam mengusap bagian atas khuf (sepatu)-nya (ketika berwudlu – pent.).”

(HR. Abu Daud no. 162, dishohiihkan oleh Nashiruddiin Al-Albaany)

375) AKHLAQ SEBELUM ILMU

Sofyan Ats-Tsauri berkata :

“كَانَ الرَّجُلُ لَا يَطْلُبُ الْعِلْمَ حَتَّى يَتَعَبَّدَ قَبْلَ ذَلِكَ أَرْبَعِينَ سَنَةً

“Pada zaman kami, seseorang tidak mencari ilmu kecuali setelah beribadah sebelumnya 40 tahun.”[*]

(Al-Imam Ad-Darimi [wafat 255 H], Sunan Ad-Darimi, 1/377, no: 384)

[*] Maksudnya: Pada zaman dahulu, Ilmu lebih dihormati dan diagungkan; karena SEBELUM MEMPELAJARI ILMU, terlebih dahulu MEMPELAJARI AKHLAQ dan TATAKRAMA bagaimana menjadi seorang PENCARI ILMU, serta PENGAMAL ILMU.

376) BALASAN BER-AKHLAQ MULIA

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda :

“أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di atas kebenaran, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun hanya bercanda, dan sebuah rumah di tempat tertinggi di surga bagi siapa yang membaguskan akhlaqnya.”

(HR. Abu Dawud no: 4802, dihasankan oleh Nashiruddiin Al-Albaany dalam
Shohiihul Jami’ no: 1464)

377) BALASAN SERUPA

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

“مَنْ ضَارَّ ضَارَّ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa menjadi penyebab timbulnya bahaya terhadap orang lain, maka Allooh pun akan timpakan bahaya kepadanya; dan barangsiapa yang membuat orang lain mengalami kesulitan, maka Allooh pun akan timpakan padanya kesulitan.”

(HR. Ibnu Majah no: 2342, dari Abu Shirmah rodhiyalloohu ‘anhu, dihasankan oleh Nashiruddiin Al-Albany)

378) CIRI ORANG BERAKHLAQ MULIA

‘Abdullooh bin al-Mubaarok rohimahullooh berkata tentang Ciri Orang Ber-AKHLAQ MULIA:

هُوَ بَسْطُ الوَجْهِ، وَبَذْلُ المَعْرُوفِ، وَكَفُّ الأَذَى

“Yaitu: 1) Berwajah ramah; 2) Berbuat baik pada orang; 3) Berhenti dari menyakiti (orang lain).”

(At-Turmudzi, Sunnan At-Turmudzi, 4/363, no: 2005)

379) CIRI ULAMA LURUS: TIDAK CINTA DUNIA

Anas bin Maalik rohimahullooh berkata:

العلماء أمناء الرسل مالم يخالطوا السلطان ويداخلوا الدنيا، فإذا خالطوا السلطان وداخلوا الدنيا فقد خانوا الرسل فاحذروهم

“Para ‘Ulama adalah orang kepercayaan para Rosuul untuk manusia, selama mereka tidak bergabung dengan Penguasa dan tidak cinta dunia; jika mereka lakukan itu maka mereka telah mengkhianati para Rosuul; oleh karena itu waspadailah mereka dan hindarilah mereka.”

(Al-Muttaqi Al-Hindy [wafat 975 H], Kandzul ‘Ummal, 10/183, no: 28952)

380) CIRI ULAMA LURUS: TIDAK MENDEKATI “PINTU PENGUASA” UNTUK MENDAPATKAN KEUNTUNGAN DUNIAWI

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

الفقهاء أمناء الرسل ما لم يدخلوا في الدنيا ويتبعوا السلطان، فإذا فعلوا ذلك فاحذروهم

“Para Fuqoha (Ahli Fiqih) adalah orang-orang kepercayaan para Rosuul, namun jika kalian melihat mereka bergabung dengan para Penguasa, maka hindarilah mereka.”

(Al-Muttaqi Al-Hindy [wafat 975 H], Kandzul ‘Ummal, 10/183, no: 28953)

381) 3 RACUN BAGI ISLAM

‘Abdullooh bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

آفة الدين ثلاثة: فقيه فاجر، وإمام جائر، ومجتهد جاهل

“Tiga hal yang meracuni Islam: 1) Seorang Faqih (Ahli Fiqih) yang fasiq; 2) Pemimpin yang dzolim; 3) Seorang Mujtahid yang jahil/bodoh.”

(Al-Muttaqi Al-Hindy [wafat 975 H], Kandzul ‘Ummal, 10/183, no: 28954)

382) NASEHAT ALI BIN ABI THOLIB KEPADA KEDUA ANAKNYA

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berpesan kepada Al-Hasan dan Al-Husein,

إني أوصيكما بتقوى الله، ولا تبغيا الدنيا وإن بغتكما، ولا تبكيا على شيء منها زوي عنكما. قولا الحق، وارحما اليتيم، وأعينا الضالع، واصنعا للآخرة، وكونا للظالم خصماً، وللمظلوم عوناً، ولا تأخذ كما في الله لومة لائم

“Sungguh aku berpesan kepada kalian berdua, agar bertaqwa kepada Allooh, dan janganlah mencari dunia betapapun dunia itu mencarimu. Dan janganlah kalian menangis terhadap sesuatupun dari dunia karena ia menjauhimu. Berkata benar lah kalian, sayangilah anak yatim, tolonglah orang lemah, dan berbuatlah untuk akherat, serta jadilah kalian berdua musuh bagi orang-orang dzolim, dan penolong bagi orang-orang terdzolimi; dan janganlah kalian berdua takut terhadap celaan orang-orang yang mencela.”

(Al-Mubarrod [wafat 285 H], At-Ta’aazi, hal. 137)

383) ILMU UNTUK BERAMAL

Malik bin Dinar rohimahullooh berkata,

إِذَا تَعَلَّمَ الْعَبْدُ الْعِلْمَ لِيَعْمَلَ بِهِ كَسَرَهُ عِلْمُهُ وَإِذَا تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ بِهِ زَادَهُ فَخْرًا

“Jika seseorang mempelajari ‘Ilmu untuk mengamalkannya, maka ‘Ilmu-nya akan menjadikannya tawadhu’; tetapi jika mempelajarinya bukan untuk diamalkan, maka akan membuatnya semakin bangga diri.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya, 2/372)

384) JANGAN MENGANGGAP SEPELE

Abud Darda rodhiyalloohu ‘anhu berkata;

فَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الشَّرِّ أَنْ تَتَّقِيَهُ، وَلَا شَيْئًا مِنَ الْخَيْرِ أَنْ تَفْعَلَهُ

“Jangan sekali-kali kamu sepelekan keburukan yang harus kamu hindari, dan jangan sekali-kali kamu sepelekan kebaikan yang harus kamu kerjakan.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 1/212)

385) MAYAT HIDUP

Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyalloohu ‘anhu pernah ditanya:

مَا مَيِّتُ الْأَحْيَاءِ؟ قَالَ: مَنْ لَمْ يَعْرِفِ الْمَعْرُوفَ بِقَلْبِهِ، وَيُنْكِرِ الْمُنْكَرَ بِقَلْبِهِ

“Apa yang dimaksud dengan ‘Orang mati tapi hidup (mayat hidup)’?”_*
Beliau menjawab, *_“Orang yang tidak mengetahui sesuatu yang ma’ruf dengan hatinya, dan orang yang tidak mengingkari kemungkaran dengan hatinya.”

(Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 7/504, no: 37577)

386) NASEHAT LUQMAN AL-HAKIM

Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ مَنْ لَا يَمْلِكْ لِسَانَهُ يَنْدَمْ، وَمَنْ يُكْثِرِ الْمِرَاءَ يُشْتَمْ، وَمَنْ يَدْخُلْ مَدَاخِلَ السُّوءِ يُتَّهَمْ، وَمَنْ يَصْحَبْ صَاحِبَ السُّوءِ لَا يَسْلَمْ، وَمَنْ يَصْحَبِ الصَّاحِبَ الصَّالِحَ يَغْنَمْ، وَمَنْ طَلَبَ عِزًّا بِغَيْرِ عِزٍّ يُجْزَ الذُّلَّ جَزَاءً بِغَيْرِ ظُلْمٍ، وَمِنْ أَرْدَى الْأَخْلَاقِ لِلدِّينِ حُبُّ الدُّنْيَا وَالشَّرَفِ، وَمَنْ حَبَّ الدُّنْيَا وَالشَّرَفَ يَسْتَحِلَّ غَضَبَ اللَّهِ، وَغَضَبَ اللَّهِ الَّذِي لَا دَوَاءَ لَهُ إِلَّا رِضْوَانُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمِنْ أَعْوَنِ الْأَخْلَاقِ عَلَى الدِّينِ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا، وَمَنْ يَزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يَعْمَلْ لِلَّهِ تَعَالَى، وَمَنْ يَعْمَلْ لِلَّهِ تَعَالَى يَأْجُرْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Wahai anakku, barangsiapa yang tidak mengendalikan lisannya maka ia akan menyesal; barangsiapa yang sering berdebat maka ia akan dicaci; barangsiapa yang memasuki pintu-pintu keburukan, maka ia akan tertuduh; barangsiapa yang berteman dengan orang yang buruk, maka ia tidak akan selamat (dari keburukannya); barangsiapa yang berteman dengan orang shoolih maka ia akan meraih banyak kebaikan; barangsiapa yang mencari kemuliaan bukan dengan cara terpuji, maka ia akan dibalas dengan kehinaan; diantara akhlaq tercela terhadap Islam adalah cinta dunia dan kehormatan; barangsiapa yang mencintai dunia dan kehormatan, maka ia berhak mendapatkan murka Allooh; sedangkan murka Allooh tidak ada obatnya, kecuali ridho Allooh; dan akhlaq yang terpuji dalam Islam adalah Zuhud terhadap dunia; barangsiapa yang zuhud maka dia akan beramal karena Allooh; dan barangsiapa yang beramal karena Allooh, maka Allooh akan beri dia pahala kebaikan.”

(Al-Marwazi [wafat 181 H], Az-Zuhdu war Roqo’iq, 1/373, no: 1059)

387) BERTAUHID KARENA ALLOOH


إِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا
اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

“Sesungguhnya Allooh mengharomkan neraka bagi yang mengucapkan “Laa
Ilaaha Illallooh” dengan tujuan mengharap wajah Allooh.”

(HR. Bukhoory no: 6938, HR. Muslim no: 33, dari ‘Itbaan bin Maalik
al-Anshoory rodhiyalloohu ‘anhu)

388) GANJARAN INFAQ KARENA BERHARAP DARI ALLOOH

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَإنَّكَ لَنْ تُنفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغي بِهَا وَجهَ اللهِ إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ في فِيِّ امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya tidaklah engkau menginfaqkan satu infaq pun yang dengannya engkau mengharapkan wajah Allooh, kecuali engkau akan diberi ganjaran atasnya, sampai-sampai suapan yang kau suapkan ke mulut istrimu.”

(HR. Al-Bukhory no: 56 dan HR. Muslim no: 1628, dari Sa’ad bin Abi Waqqoosh rodhiyalloohu ‘anhu)

389) BENAR/ SALAHNYA SUATU IJTIHAD

Ibnu Mas’ud rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

سأقول فيها بجهد رأيي فإن كان صوابا فمن الله وحده وإن كان خطأ فمني ومن الشيطان والله ورسوله بريء

“Aku akan berkata pada permasalahan ini dengan sekuat ijtihad pendapatku, jika benar maka hal itu semata-mata dari Allooh dan jika salah maka hal itu dariku dan dari syaithon, dan Allooh serta Rosuul-Nya berlepas diri.”

( Al-Muhalla, 1/61, atsar ini dishohiihkan oleh Ibnu Qoyyim dalam I’lamul Muwaqqi’in, 1/57)

390) KEUTAMAAN ORANG-ORANG LEMAH

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنما يَنْصُرُ الله هذه الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

“Sesungguhnya Allooh hanyalah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah diantara mereka, yaitu dengan do’a mereka, sholat mereka, serta keikhlasan mereka.”

(HR An-Nasaa’i no: 3178, dishohiihkan oleh Nashiruddin Al-Albaany)

391) SALING BERSAUDARA

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allooh yang bersaudara.”

(HR Al-Bukhoory no: 6064 dan HR. Muslim no: 2563)

392) SOMBONG ITU SUNNAHNYA IBLIS

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

وَاِ ذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰ دَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ اَبٰى وَا سْتَكْبَرَ ۖ وَكَا نَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam! Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.”
(QS. Al-Baqoroh/2: 34)

RENUNGAN:

Allooh-lah yang menciptakan semesta alam ini…
Allooh lah Pencipta malaikat….
Pencipta jin, termasuk manusia….

Sebagai PENCIPTA…
Maka ALLOOH BERHAK untuk MEMILIKI…

Dan sebagai PEMILIK….
Maka ALLOOH BERHAK untuk MENGUASAI….

Dan sebagai PENGUASA…
Maka ALLOOH BERHAK untuk MEMERINTAH dan MENGATUR….

Adalah merupakan kewajaran…
Bahwa Allooh memerintahkan malaikat, termasuk Jin yang hadir saat itu…
Untuk sujud kepada ‘Adam ‘alaihissalam…
Sebagai bukti bahwa ‘Adam ‘alaihissalam adalah makhluk-Nya yang mulia….
Dan sebagai UJIAN kepada mereka….
APAKAH mereka TAAT ataukah justru MEMBANGKANG…

Malaikat telah berhasil melalui ujian itu….
Karena Malaikat patuh terhadap apa yang dikehendaki dan apa yang diperintahkan oleh Allooh…

Sementara Iblis gagal….
Karena Iblis bersikap sombong dan enggan untuk taat dan patuh atas perintah Allooh…

Sehingga pelajaran yang harus kita ambil melalui ayat ini…
Antara lain adalah…
Bahwa DALAM SUATU UJIAN….
SESEORANG BERKEMUNGKINAN untuk berkesempatan LEBIH MULIA….
Sebagaimana dia berkesempatan pula untuk menjadi LEBIH HINA…

Malaikat terbukti lebih mulia dari Iblis…
Karena Malaikat mematuhi dan mentaati apa yang menjadi perintah Allooh atas mereka….
Sementara Iblis menjadi terhina…
Karena Iblis membantah dan membangkang perintah Allooh…

Demikian pula dengan Manusia…
Manusia berkemungkinan seperti Malaikat, atau lebih mulia lagi daripada Malaikat….
Akan tetapi disisi lain…
Manusia juga berkemungkinan menjadi hina seperti hinanya Iblis…
Atau bahkan lebih hina daripada Iblis…
Karena Manusia yang tadinya sudah diberi posisi mulia, akan tetapi lalu rela untuk melakukan perbuatan seperti Iblis yang telah Allooh hinakan….

Yang menjadi RAHASIA adalah…..
Mengapa suatu MAKHLUK MENJADI MULIA ATAU akan menjadi HINA adalah….
Dia MAMPU MEMPOSISIKAN DIRINYA DENGAN TEPAT SAAT MENGHADAPI UJIAN ALLOOH Subhaanahu Wa Ta’aalaa…

Allooh MENGUJI Manusia dengan PERINTAH dan LARANGAN….
Perintah untuk dipatuhi…
Dan Larangan untuk dihindari, dijauhi serta ditinggalkan….

Siapapun dia yang taat dan patuh terhadap perintah dan anjuran Allooh…
Pastilah akan menjadi Manusia yang berhasil dan mulia….

Dan sebaliknya…
Siapa saja yang melanggar atau justru mengerjakan apa yang dilarang oleh Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa…
Pasti lah dia akan menjadi orang yang terhina….

Ketika ketaatan dan kepatuhan itu semakin ditingkatkan dan semakin ditinggikan….
Maka demikian pula lah status kemuliaannya menjadi berpeluang lebih tinggi dan lebih mulia lagi….
Sebagaimana Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa telah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia dari kalian adalah yang paling bertaqwa dari kalian.”
(QS. Al-Hujurot/49 : 13)

Dan ternyata…
Ketika kita telisik rahasia mengapa Iblis menjadi terkutuk dan dihinakan oleh Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa adalah…
Karena Iblis telah lupa diri….
Iblis tidak tahu tentang siapa dirinya…
Bahkan dia telah lupa serta sudah tidak lagi memiliki rasa malu…
Sehingga Iblis pun membangkang perintah Allooh…
Dan dia telah SOMBONG terhadap Penciptanya yang menyebabkan ia ada….

Maka….
Barangsiapa yang mengikuti jejak Iblis….
Dengan melupakan status dirinya…
Serta tidak mampu untuk mengendalikan malunya…
Yang dengan itu, kemudian membangkang perintah Robb (Tuhan)-nya….
Dan beranggapan bahwa….
Dengan sombong itu, seolah dia menjadi lebih baik atau lebih mulia daripada selain dirinya…
Padahal pada hakekatnya, dia sama dengan makhluk lainnya, yakni sama-sama sebagai ciptaan Allooh…
Maka pastilah akan bernasib seperti Iblis pada akhirnya….

Na’uudzu billaahi min dzaalik

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

393) BAHAYA MENDAHULUKAN RO’YU (AKAL/LOGIKA) DARIPADA WAHYU

Bilal bin Sa’ad rohimahullooh berkata:

ثَلَاثٌ لَا يُقْبَلُ مَعَهُنَّ عَمَلٌ: الشِّرْكُ، وَالْكُفْرُ، وَالرَّأْيُ. قِيلَ: وَمَا الرَّأْيُ؟ قَالَ: يتْرُكُ كِتَابَ اللهِ، وَسُنَّةَ رَسُولِهِ، وَيعْمَلُ بِرَأْيهِ

“Tiga perkara jika ada pada suatu amalan, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa: 1) Syirik; 2) Kufur; dan 3) Ro’yu (akal/logika).”
Lalu ditanya, “Apa yang dimaksud dengan “ro’yu”?”
Beliau menjawab, “Meninggalkan al-Qur’an dan sunnah Rosuul-Nya, dan lebih mengutamakan untuk mengamalkan ro’yu (akal/logika)-nya.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’ , 5/229)

394) SUNNAH SHOHABAT

Shoolih bin Kaisan rohimahullooh berkata:

“اجْتَمَعْتُ أَنَا وَالزُّهْرِيُّ -وَنَحْنُ نَطْلُبُ الْعِلْمَ- فَقُلْنَا: نَكْتُبُ السُّنَنَ فَكَتَبْنَا مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم قَالَ: ثُمَّ قَالَ الزُّهْرِيُّ نَكْتُبُ مَا جَاءَ عَنْ أَصْحَابِهِ فَإِنَّهُ سُنَّةٌ”. قال: فقلت: “نا: لا ليس بسنة لا نكبته قَالَ: فَكَتَبَ وَلَمْ أَكْتُبْ فَأَنْجَحَ وَضَيَّعْتُ”

“Suatu hari aku berkumpul dengan Az-Zuhri dalam mencari ilmu, kita berkata: “Kita menulis sunnah-sunnah Nabi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam.”
Kemudian Az-Zuhri berkata, “Kita tulis juga apa yang datang dari para Shohabat Nabi, karena itu juga sunnah.”
Maka aku berkata lagi, “Tidak, itu bukan sunnah” ; maka Az-Zuhri menulisnya, sedangkan aku tidak menulisnya; sehingga dia berhasil, sedangkan akulah yang gagal (salah).”

(Ibnu Sa’ad [wafat 230 H], Ath-Thobaqootul Kubro, hal.168)

395) RUJUKAN SUNNAH

Imam Asy-Syaathiby rohimahullooh berkata:

سُنَّةُ الصَّحَابَةِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ- سُنَّةٌ يُعْمَلُ عَلَيْهَا وَيُرْجَعُ إِلَيْهَا

“Sunnah para Shohabat rodhiyalloohu ‘anhum adalah sunnah yang diamalkan dan menjadi rujukan.”

(Asy-Syaathiby [wafat 790 H], Al-Muwaafaqoot, 4/446)

396) AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH MENURUT IMAM ASY-SYAFI’I

Imam Asy-Syaafi’i rohimahullooh berkata:

ومن قال بما تقول به جماعةُ المسلمين فقد لزم جماعتهم، ومن خالف ما تقول به جماعةُ المسلمين فقد خالف جماعتهم التي أُمِرَ بلزومها

“Barangsiapa yang berkata dengan perkataan Jama’ah Muslimin (para Shohabat Rosuulullooh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam), maka mereka telah berpegang teguh dengan Jama’ah itu; dan barangsiapa yang menyelisihi apa yang dikatakan oleh Jama’ah Muslimin, maka berarti dia telah menyelisihi Jama’ah mereka yang diperintahkan untuk berpegang-teguh dengannya.”

(Al-Imam Asy-Syaafi’i [wafat 204 H], Ar-Risaalah, 1/475)

397) MENDAHULUKAN WAHYU

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz rohimahullooh berkata:

سَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَولَاةُ الْأَمْرِ بَعْدَهُ سُنَنًا , الْأَخْذُ بِهَا تَصْدِيقٌ لِكِتَابِ اللَّهِ , وَاسْتِكْمَالٌ لِطَاعَتِهِ , وَقُوَّةٌ عَلَى دِينِ اللَّهِ ,
لَيْسَ لِأَحَدٍ تَغْيِيرُهَا وَلَا تَبْدِيلُهَا , وَلَا النَّظَرُ فِي رَأْيِ مَنْ خَالَفَهَا , فَمَنِ اقْتَدَى بِمَا سُنُّوا اهْتَدَى , وَمَنِ اسْتَبْصَرَ بِهَا تَبَصَّرَ, وَمَنْ خَالَفَهَا وَاتَّبَعَ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ وَلَّاهُ اللَّهُ مَا تَوَلَّى , وَأَصْلَاهُ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wasallam dan para Pemimpin setelahnya telah menetapkan sunnah, mengambilnya adalah bukti pembenaran terhadap Al-Qur’an, kesempurnaan ketaatan kepada Allooh, penguat terhadap agama Allooh, dan tidaklah ada kewenangan bagi seorangpun untuk merubah dan menggantinya atau lebih memandang pada pendapat yang menyelisihinya; dan barangsiapa yang menjadikannya sebagai panutan maka dia telah berpegang teguh dengan petunjuk; barangsiapa yang membuka wawasannya dengan Al-Qur’an maka dia akan tercerahkan; dan barangsiapa yang menyelisihinya serta mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman (para Shohabat), maka Allooh akan palingkan dia dan tempat kembalinya adalah neraka jahanam.”

(Ibnu Jawaan al-Faarisy [wafat 277 H], Al-Ma’rifah wat Tariikh, 3/386)

398) SIFAT ULAMA

Ibnu Hamdun rohimahullooh berkata:

الْمُسْتَعْمِلُونَ لِعِلْمِهِمْ وَالْمُتَّهِمُونَ آرَاءَهُمْ وَالْمُقْتَدُونَ بِسِيَرِ السَّلَفِ وَالْمُتَّبِعُونَ لِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِبَاسُهُمُ الْخُشُوعُ وَزِينَتُهُمُ الْوَرَعُ وِحِلْيَتُهُمُ الْخَشْيَةُ وَكَلَامُهُمُ ذِكْرُ اللَّهِ أَوْ أَمْرٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نُهِيٌ عَنْ مُنْكَرٍ وَصَمْتُهُمْ تَفَكُّرٌ فِي آلَاءِ اللَّهِ وَنِعَمِهِ، نَصِيحَتُهُمْ لِلْخَلْقِ مَبْذُولَةٌ وَعُيُوبُهُمْ عِنْدَهُمْ مَسْتُورَةٌ يُزَهِّدُونَ الْخَلْقَ فِي الدُّنْيَا بِالْإِعْرَاضِ عَنْهَا وَيُرَغِّبُونَهُمْ فِي الْآخِرَةِ بِالْحِرْصِ عَلَى طَلَبِهَا

“Ulama adalah mereka yang mengamalkan ilmunya, menuding pendapatnya sendiri, menjadikan kehidupan salafush shoolih sebagai panutan, mengikuti al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam, pakaian mereka adalah khusyu, perhiasan mereka adalah waro’, pakaian kebesaran mereka adalah khosyah (takut pada Allooh), percakapan mereka adalah dzikir atau amar ma’ruf nahi mungkar, diam mereka adalah berfikir tentang kebesaran Allooh dan nikmat-Nya, selalu berupaya menasehati manusia, menutup aib diri, mengajak orang untuk zuhud dari dunia dan mengajak orang untuk gigih beramal untuk akheratnya.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/231)

399) SOLID TERHADAP SUNNAH

Imam Ahmad bin Hambal rohimahullooh berkata:

ما أحسب أحدا من بعد أصحاب رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم والتابعين أشد اتباعا لكتاب الله وسنة رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من الشافعي

“Aku tidak mengira setelah para Shohabat Rosuul dan At-Tabi’iin, ada orang yang sangat berpegang teguh dalam mengikuti Kitabullooh dan sunnah Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam, melainkan dialah Al-Imaam Asy-Syaafi’i.”

(Imam asl-Ashfahaany [wafat 576 H], Ath-Thuyuriyyaat, 1/65)

400) JIKA BENAR, AMBILLAH

‘Abdullooh bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

خُذِ الْحِكْمَةَ مِمَّنْ سَمِعْتَهَا، فَإِنَّ الرَّجُلَ يَنْطِقُ بِالْحِكْمَةِ، وَلَيْسَ مِنْ أَهْلِهَا، فَتَكُونُ كَالرَّمْيَةِ خَرَجَتْ مِنْ غَيْرِ رَامٍ

“Ambillah hikmah kebenaran itu dari siapapun yang kau dengar; sesungguhnya bisa jadi seseorang berbicara dengan hikmah/kebenaran padahal dia bukanlah Ahlul ‘Ilmi, melainkan hikmah itu keluar darinya seperti panah keluar dari busurnya tanpa ada yang melemparnya.”

(Al-Khorooithy [wafat 327 H], Masaawi’ul Akhlaq, hal. 179)

401) “NAAS” DAN “NASNAAS”

Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

ذَهَبَ النَّاسُ وَبَقِيَ النَّسْنَاسُ. فَقِيلَ لَهُ: وَمَا النَّسْنَاسُ؟ قَالَ: يُشْبِهُونَ النَّاسَ، وَلَيْسُوا بالنَّاسَ

“Manusia (Naas) telah pergi, yang tinggal / tersisa adalah Nasnaas.”
Lalu beliau ditanya, “Apa yang dimaksud dengan Nasnaas?”
Beliau menjawab, “Mereka seperti manusia, tetapi bukan manusia.”

(Abu Daawud [wafat 275 H], Az-Zuhdu, hal. 253, no: 283)

402) KARAKTERISTIK MULUT

Ibnu Hibbaan al-Busty rohimahullooh berkata:

واللسان فيه عشر خصال يجب على العاقل أن يعرفها ويضع كل خصلة منها في موضعها هو أداة يظهر بها البيان وشاهد يخبر عن الضمير وناطق يرد به الجواب وحاكم يفصل به الخطاب وشافع تدرك به الحاجات وواصف تعرف به الأشياء وحاصد تذهب الضغينه ونازع يجذب المودة ومسل يذكي القلوب ومعز ترد به الأحزان

“Mulut itu mempunyai 10 sifat, dimana orang yang berakal hendaknya mengetahuinya; dan meletakkan setiap sifat itu pada tempatnya: 1) Alat untuk menjelaskan, 2) Saksi atas apa yang dipendam oleh jiwa, 3) Pengucap atas jawaban; 4) Pemutus perkara atas suatu ungkapan; 5) Tanggapan dalam memenuhi kebutuhan; 6) Pemberi definisi atas sesuatu; 7) Pemadam api permusuhan; 8) Pembangkit rasa cinta; 9) Jalan pencerah hati; 10) Pengusir rasa duka.”

(Ibnu Hibbaan al-Busty [wafat 354 H], Roudhotul ‘Uqola, 1/43)

403) SEKEDAR HARI

Al-Hasan al-Bashry rohimahullooh berkata:

ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ وَكُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Wahai anak ‘Adam, sesungguhnya engkau hanyalah sekedar hari-hari; setiap hari itu meninggalkanmu maka berkuranglah hidupmu.”

(Al-Imam Ahmad bin Hanbal [wafat 241 H], Az-Zuhdu, hal. 225, no: 1586)

404) ORANG YANG KOKOH ILMUNYA

Al-Imam al-Baghowy rohimahullooh berkata:

الرَّاسِخُ فِي الْعِلْمِ مَنْ وُجِدَ فِي عِلْمِهِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: التَّقْوَى بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ، وَالتَّوَاضُعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْخَلْقِ، وَالزُّهْدُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الدُّنْيَا، وَالْمُجَاهَدَةُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ

“Orang yang kokoh ilmunya adalah orang yang 4 ciri berikut ini merekat pada dirinya, yaitu: 1) Bertaqwa kepada Allooh; 2) Tawadhu’ terhadap sesama manusia; 3) Zuhud terhadap dunia; 4) Bersungguh-sungguh menaklukkan Hawa Nafsu-nya.”

(Al-Baghowy [wafat 510 H], Tafsir al-Baghowy, 1/412)

405) SEKEDAR PENAMPAKAN

Salman al-Faarisy rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

يُوشِكُ أَنْ يَظْهَرَ الْعِلْمُ، وَيُخْزَنَ الْعَمَلُ، يَتَوَاصَلُ النَّاسُ بِأَلْسِنَتِهِمْ وَيَتَقَاطَعُونَ بِقُلُوبِهِمْ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ

“Ilmu nampak ke permukaan, sementara amalan menjadi tersembunyi; manusia satu sama lain saling terhubung dengan lisan mereka, padahal hati mereka satu sama lain saling terputus; jika mereka telah lakukan itu maka Allooh akan kunci mati hati, pendengaran dan penglihatan mereka.”

(Ibnu ‘Abdil Barr [wafat 463 H], Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/702, no: 1259)

406) ESENSI DAN FUNGSI

Abud Darda rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

إِذَا حَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ، وَزَوَّقْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ، فَالدَّمَارُ عَلَيْكُمْ

“Jika kalian telah menghias mushaf-mushaf Al-Qur’an kalian, jika kalian telah mendekorasi masjid-masjid kalian, maka tanda kehancuran akan menimpa kalian.”

(‘Abdullooh bin Mubaarok [wafat 181 H], Az-Zuhdu war Roqo’iq, 1/275, no: 797)

407) SURAT ‘A’ISYAH KEPADA MUAWIYYAH

‘Aa’isyah rodhiyalloohu ‘anha menulis surat kepada Mu’awiyyah rodhiyalloohu ‘anhu:

سَلَامٌ عَلَيْكَ، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى النَّاسِ ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ

“Semoga Allooh memberikan keselamatan padamu…
Amma ba’du…
Sungguh aku mendengar Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mencari ridho Allooh betapapun manusia murka kepadanya, maka Allooh akan berikan kecukupan dari apa yang dibutuhkan oleh manusia. Dan barangsiapa mencari ridho manusia, padahal Allooh murka pada-Nya; maka Allooh akan serahkan urusannya pada manusia. Wassalamu ’alaika.”

(‘Abdulloh bin al-Mubarok [wafat 181 H], Az-Zuhdu war Roqo’iq, 1/66, no: 199)

408) MANUSIA LAH YANG MEMBUTUHKAN ALLÔH

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

وَقَا لَ مُوْسٰۤى اِنْ تَكْفُرُوْۤا اَنْـتُمْ وَمَنْ فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا ۙ فَاِ نَّ اللّٰهَ لَـغَنِيٌّ حَمِيْدٌ

“Dan Musa berkata, “Jika kamu dan orang yang ada di bumi semuanya mengingkari (nikmat Allõh), maka sesungguhnya Allõh Maha Kaya, Maha Terpuji.”
(QS. Ibrahim/14: 8)

RENUNGAN:

Allõh yang menciptakan jagat raya semesta ini…
Dan karenanya, Allõh lah yang Memilikinya….
Dan karenanya, Allõh lah yang Menguasainya..

Manusia adalah ciptaan Allõh….
Manusia adalah milik Allõh, dan akan dikembalikan juga kepada Allõh…

Manusia Allõh ciptakan dengan kesempurnaan…
Dan diantara kesempurnaan yang Allõh berikan pada manusia, adalah mereka DIBERI KEHENDAK dan PILIHAN….

Namun…
Setiap PILIHAN tentu ada KONSEKUENSI dan RESIKO…

Sebelumnya…
Allõh sudah persiapkan manusia dengan fitroh Islam….
Rosũl-Nya pun sudah Allõh utus…
Pedoman-Nya sudah Allõh turunkan….
Perintah-Nya sudah Allõh jelaskan….
Larangan-Nya sudah Allõh bentangkan….
Janji-Nya sudah Allõh gambarkan….
Ancaman-Nya pun sudah Allõh terangkan…

Maka….

Ketika Allõh memerintahkan agar mereka berhamba kepada Allõh…
Tunduk dan patuh kepada Allõh…
Jangan dikira bahwa Allõh membutuhkan mereka…
Sungguh tidak demikian….
Allõh sudah Maha kaya sebelum manusia terkaya bersusah payah untuk menjadi kaya….

Bagi Allõh, seandainya manusia yang telah ditunjukkan dengan rahmat-Nya agar mendapatkan rahmat itu, baik di dunia maupun setelah kehidupan dunia…
Akan tetapi…
Dia tetap membangkang…
Tetap mengingkari…
Dan tetap mengkufuri-Nya…
Maka sungguh, Allõh tetap akan Maha Kaya…

Tetaplah manusia yang membutuhkan Allõh…
Tetaplah manusia yang miskin dan fakir…
Yang jika tidak Allõh tolong, pastilah dia akan sengsara, bahkan meraih hadiah berupa siksa yang pedih…

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

409) PERUSAK HATI

Shoolih al-Murry rohimahullooh berkata:

إِنَّ ذِكْرَ الْمَوْتِ إِذَا فَارَقَنِي سَاعَةً فَسَدَ عَلَيَّ قَلْبِي

“Sesungguhnya jika sesaat saja aku terpisah dari mengingat mati, maka hatiku menjadi rusak.”

(‘Abdullooh bin Mubaarok [wafat 181 H], Az-Zuhdu war Roqoo’iq, 1/88, no: 260)

410) PENGUNCI HATI

‘Abud Darda rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ قَلَّ فَرَحُهُ، وَقَلَّ حَسَدُهُ

“Barangsiapa yang memperbanyak mengingat mati, niscaya dia akan sedikit bersenang-senang dan sedikit irinya.”

(‘Abdullooh bin Mubaarok [wafat 181 H], Az-Zuhdu war Roqoo’iq, 2/37)

411) MENGINGAT MATI

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا، وَكَفَى بِالْيَقِينِ غِنًى، وَكَفَى بِالْعِبَادَةِ شُغُلًا

“Cukuplah kematian sebagai penasehat, yakin sebagai pemberi rasa cukup, dan ibadah sebagai kesibukan.”

(‘Abdullooh bin Mubaarok [wafat 181 H], Az-Zuhdu war Roqoo’iq, 2/37)

412) ARGUMENTASI

Ibnu Baththoh rohimahullooh berkata:

إِنَّ الْحُجَّةَ إِذَا كَانَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ , فَلَمْ تَبْقَ لَمُخَالِفٍ عَلَيْهِمَا حُجَّةٌ إِلَّا بِالْبَهْتِ وَالْإِصْرَارِ عَلَى الْجُحُودِ وَالْإِلْحَادِ , وَإِيثَارِ الْهَوَى , وَاتِّبَاعِ أَهْلِ الزَّيْغِ وَالْعَمَى قَدْ ضَلَّ عَبْدٌ خَالَفَ طَرِيقَ الْمُصْطَفَى فَلَمْ يَرْضَ بِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِجْمَاعِ أَهْلِ دِينِهِ , فَقَدْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ

“Sesungguhnya jika suatu argumentasi itu terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam, maka orang yang menyelisihinya tidak memiliki argumentasi kecuali dengan dusta, penolakan, dan penyelewengan, mengikuti hawa nafsu, mengikuti kebathilan dan kebutaan; sungguh telah sesat seorang hamba yang telah menyelisihi jalan Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam, disebabkan oleh penolakan terhadap Kitabullooh dan sunnah Nabi-Nya dan Ijma’; maka sungguh dia telah tercatat sebagai orang yang sengsara.”

(Ibnu Baththoh [wafat 387 H], Al-Ibaanah al-Kubro, 3/294)

413) TIGA JALAN SELAMAT

Telah datang seseorang kepada ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه lalu berkata:

يا أبا عبد الرحمن علمني كلمات جوامع نوافع فقال له عبد الله لاتشرك به شيئا وزل مع القرآن حيث زال ومن جاءك بالحق فاقبل منه وإن كان بعيدا بغيضا ومن جاءك بالباطل فاردده عليه وإن كان حبيبا قريبا

“Wahai Abu ‘Abdurrohmaan, ajarilah aku kalimat yang padat tapi bermanfaat.”
Maka ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه menjawab:
1. Janganlah engkau menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى
2. Selalu lah engkau bersama Al Qur’an dimanapun dan kapan pun
3. Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran, maka terimalah darinya, betapa pun orang itu sangat jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebaathilan, maka tolaklah darinya, betapapun orang itu sangat dicinta dan dekat.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 1/419)

414) KESEMPURNAAN IMAN

Ats-Tsa’aaliby rohimahullooh meriwayatkan:

ثلاث من كنَّ فيه استكمل الإيمان: من إذا غضب لم يخرجه غضبُهُ عن الحق، ومن إذا رضى لم يخرجْهُ رضاه إلى الظلم، ومن إذا قدَرَ لم يتناول

“Tiga perkara jika ada pada seseorang maka dia telah sempurna imannya: 1) Jika dia marah, marahnya tidak mengeluarkan dirinya dari kebenaran; 2) Jika dia suka, maka rasa sukanya itu tidak menyeretnya pada kedzoliman; 3) Jika dia menetapkan suatu perkara, maka dia tidak mengambil untung dari perkara itu.”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 19)

415) MENYIKAPI ILMU

Imam Maalik rohimahullooh berkata:

كن عالما، أو متعلّما، أو مستمعا؛ وإياك والرابعة فإنها مهلكة؛ ولا تكون عالما حتى تكون عاملا، ولا تكون مؤمنا حتى تكون تقيّا

“Jadilah engkau orang yang berilmu, atau orang yang belajar ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu; dan janganlah menjadi orang yang keempat karena itu akan menjadi penyebab kebinasaan; dan jika dirimu menjadi orang yang berilmu maka beramallah dengan ilmumu; dan jika dirimu menjadi seorang mukmin maka jadilah orang yang bertaqwa.”

(Ibnu Abdi Robih [wafat 328 H], Al-‘Iqdul Fariid, 2/89)

416) CINTAILAH ORANG BERILMU

Abud Darda rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

اطلبوا العلم فان عجزتم فاحبوا أهله فان لم تحبوهم فلا تبغضوهم.

“Carilah oleh kalian ilmu, tetapi jika kalian tidak mampu, maka cintailah orang yang berilmu. Dan jika kalian tidak bisa mencintai mereka, maka janganlah membenci mereka.”

(Ibnul Jauzi [wafat 597 H}, Shifatush Shofwah, 1/240)

417) KATA-KATA YANG MEMBEKAS

Ibnu Abdi Robih rohimahullooh berkata:

الكلمة إذا خرجت من القلب وقعت في القلب، وإذا خرجت من اللسان لم تجاوز الآذان.

“Perkataan itu jika keluar dari hati maka akan meresap kedalam hati pula; sedangkan jika keluar dari mulut maka tidak akan melewati kecuali hingga telinga.”

(Ibnu Abdi Robih [wafat 328 H], Al-‘Iqdul Fariid, 3/83)

418) PETUNJUK BAHAYA

Ibnu Muqoffa’ berkata:

الحسد والحرص دعامتا الذنوب؛ فالحرص أخرج آدم من الجنة، والحسد نقل إبليس عن جوار الله.

“Iri dan ambisi adalah dua tonggak dosa, karena Ambisi lah yang telah menyebabkan ‘Adam ‘alaihissalam keluar dari surga; sedangkan rasa Iri lah yang telah menyebabkan Iblis keluar dari pemeliharaan Allooh.”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 47)

419) PANCINGAN IBLIS

Ats-Tsa’aaliby rohimahullooh meriwayatkan:

ثلاث من كن فيه أدركت منه جاجتي: من استكثر علمه، ونسي جُرْمهُ، وأُعْجبَ برأْيه.

“Barangsiapa terdapat tiga perkara ini pada dirinya, maka target iblis pun tercapai: 1) Barangsiapa memperbanyak ilmu (yang tidak bermanfaat); 2) Orang yang lupa akan dosanya; 3) Orang yang kagum akan pendapat dirinya sendiri (‘Ujub).”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 43)

420) URGENSI HIDAYAH

Ditanyakan kepada Al-Hakiim,

ما الشيء الذي لا يستغنى الإنسان عنه في كل حالٍ؟ فقال: التَّوفيق.

“Apakah yang senantiasa dibutuhkan manusia dalam setiap keadaan?”
Beliau menjawab : “Taufiq (Hidayah).”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 37)

421) SIKAP BIJAK

Ats-Tsa’aaliby rohimahullooh meriwayatkan:

استعمالُ الِحْلمِ مع اللئيم، أضرُّ من استعمال الجهْلِ مع الكريم.

“Bersikap lembek terhadap orang yang tercela adalah lebih berbahaya daripada bersikap bodoh terhadap orang yang mulia.”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 27)

422) TAKUT MATI

Seseorang bertanya kepada Abud Darda rodhiyalloohu ‘anhu: “Mengapa kita benci kematian?”

قال رجل لأبي الدرداء: ما بالنا نكرهُ الموت؟ فقال: لأنكم أخربْتُمْ آخرتَكُمْ، وعمَّرتُمْ دُنياكمْ، فأنتم تكْرهُون أن تُنْقلُوا من العُمران إلى الخراب.

Abud Darda menjawab: “Karena kalian merusak akherat kalian dan memakmurkan dunia kalian; maka sudah barang tentu kalian tidak suka untuk dipindahkan dari kemakmuran kepada kerusakan.”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 26)

423) YANG DIWASPADAI

Ats-Tsa’aaliby rohimahullooh meriwayatkan:

شيئان ينبغي للعاقل أن يحذرهما: الزَّمانُ، والأشرارُ.

“Dua perkara yang harus diwaspadai oleh orang yang berakal: 1) Waktu; 2) Orang-orang jahat.”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 20)

424) PERUSAK TATANAN

Ats-Tsa’aaliby rohimahullooh meriwayatkan:

فسادُ أكثر الأُمور من خصْلَتَيْن: إذاعة السر، وائتمان أهل الغدر

“Penyebab banyak perkara menjadi rusak adalah karena 2 hal, yaitu: 1) Menebarkan rahasia; 2) Melimpahkan amanah kepada pengkhianat.”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 20)

425) 8 HAL YANG MEMALUKAN

ثمانية إن أهينوا فلا يلوموا إلا أنفسهم: الجالسُ على مائدة لم يُدْع َإليها، والمتأمَّرُ على رَبَّ البيْت، وطالب الخير من أعدائه، وطالب الفضل من اللئام، والداخل بين أثْنين من غير أن يُدخلاهُ، والُمسْتَخَفُّ بالسُّلطان، والجالسُ مجلساً ليس بأهل، والمقبلُ بحديثه على من لا يسمع منه.

“8 perkara jika seseorang terjerumus kedalamnya, maka janganlah mencela kecuali dirinya sendiri: 1) Menghadiri hidangan makan yang ia tidak diundang (untuk mendatanginya); 2) Tamu yang mengatur Tuan rumah; 3) Mencari kebaikan dari musuh; 4) Mencari keutamaan dari orang yang tercela; 5) Masuk kedalam pembicaraan dua orang, tanpa izin mereka; 6) Orang yang menyepelekan penguasa; 7) Menghadiri majlis yang tidak sesuai tingkatan dirinya; 8) Orang yang berbicara pada orang yang tidak mau mendengar perkataannya.”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 20)

426) KESENGSARAAN

Ats-Tsa’aaliby rohimahullooh meriwayatkan:

أربعٌ من الشَّقاوةِ: جمودُ العيْنِ، وقساوة القلب، والإصرار على الذَّنْب، والحرص على الدنيا.

“Empat perkara yang merupakan kesengsaraan: 1) Mata yang tidak pernah menangis (karena Allooh); 2) Hati yang membatu; 3) Terus-menerus dalam dosa; 4) Rakus terhadap dunia.”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 20)

427) PESAN KHIDIR UNTUK MUSA عليه السلام

وقال موسى للخضر أوصني فقال : كن بساما ولا تكن غضابا وكن نفاعا ولا تكن ضرارا وانزع عن اللجاجة ولا تمش في غير حاجة ولا تضحك من غير عجب ولا تعير الخطائين بخطاياهم وابك على خطيئتك يا ابن عمران.

Telah berkata Musa عليه السلام terhadap Khidir, “Berilah aku pesan.”
Maka Khidir berkata, “Jadilah engkau orang yang suka tersenyum, dan jangan menjadi orang yang pemarah. Jadilah engkau orang yang banyak memberi manfaat, dan jangan menjadi orang yang menjadi sumber bahaya (madhorot). Cabutlah (dari dirimu) sifat membangkang, dan jangan engkau berjalan tanpa keperluan. Jangan engkau tertawa tanpa kekaguman. Jangan engkau mempermalukan orang yang salah karena kesalahan mereka. Menangislah terhadap kesalahanmu, wahai putra ‘Imron.”

(Al-Imam Al-Manaawy [wafat 1031 H], Faidhul Qodiir, 1/124)

428) AKIBAT BANYAK TERTAWA

Berkata ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه:

من كثر ضحكه قلت هيبته ومن كثر مزاحه استخف به ومن أكثر من شيء عرف به ومن كثر كلامه كثر سقطه ومن كثر سقطه قل حياؤه ومن قل حياؤه قل روعه ومن قل روعه مات قلبه.

“Barangsiapa yang banyak tertawa, maka akan sedikit wibawanya. Barangsiapa yang banyak guraunya, maka dengannya dia akan rendah. Barangsiapa yang memperbanyak sesuatu, maka dengannya dia dikenal. Barangsiapa yang banyak berbicara, maka akan banyak salahnya. Barangsiapa yang banyak salahnya, maka akan berkurang malunya. Barangsiapa yang berkurang malunya, maka akan berkurang pula waro’ (kehati-hatian dalam hidup)-nya. Barangsiapa yang bekurang waro’-nya, maka akan mati hatinya.”

(Al-Imaam Al-Baihaqy [wafat 458 H], Syu’abul ‘Iimaan, no: 5019)

429) SETIAP AMALAN TERGANTUNG NIAT

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allooh dan Rosuul-Nya, maka hijrahnya untuk Allooh dan Rosuul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”

[HR. Bukhoory no: 1, dari ‘Umar bin al-Khoththoob rodhiyalloohu ‘anhu]

430) SEBAIK-BAIK SIMPANAN / TABUNGAN

Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله,

أنفع الذخائر التقوى وأضرها العدوان.

“Simpanan yang paling bermanfaat adalah taqwa. Dan simpanan yang mencelakakan adalah permusuhan.”

(An-Nawawy [wafat 676 H], Bustaanul Aarifiin, hal. 53)

431) MENCUCI HATI

Berkata Syaikh ‘Abdul Maalik Al-Qoosim,

عجبت لمن يغسل وجهه خمس مرات في اليوم مجيباً داعي اللّه، ولا يغسل قلبه مرة في السنة ليزيل ما علق به من أدران الدنيا، وسواد القلب، ومنكر الأخلاق

“Aku heran pada orang yang lima kali membasuh wajahnya setiap hari, memenuhi panggilan mu’adzdzin, tetapi tidak mencuci hatinya sekalipun dalam satu tahun agar menghilangkan kotoran ketergantungan terhadap dunia, kelamnya hati dan buruknya akhlaq.”

(‘Abdul Maalik Al-Qoosim, Arba’uuna Darsan Liman Adroka Romadhoon, hal. 224)

432) BERSYAHADAT DENGAN KEYAKINAN KUAT

لا يكفي مجرد التلفظ بالشهادتين، بل لابد من استيقان القلب

“Bukanlah hanya sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi harus ada keyakinan kuat dalam hati bahwa benar-benar tidak ada yang diibadahi kecuali hanyalah Allooh.”

(Al-Imam al-Qurthuby [wafat 656 H], Al-Mufhim Limaa Asykala min
Shohiih Muslim,
1/204)

433) SYAHADAT PALSU

قَالَ لَا إِلَه إِلَّا الله بِلِسَانِهِ ثمَّ أطَاع الشَّيْطَان وهواه فِي مَعْصِيّة الله ومخالفته فقد كذب فعله قَوْله وَنقص من كَمَال توحيدة بِقدر مَعْصِيّة الله فِي طَاعَة الشَّيْطَان والهوى

“Orang yang mengatakan “Laa Ilaaha Illallooh” dengan lisannya, akan tetapi orang itu mentaati syaithoon, mentaati hawa nafsunya dengan berma’shiyat kepada Allooh, serta menyelisihi Allooh dan ajaran-Nya; maka orang itu telah berdusta. Pekerjaan dan amalannya mendustai perkataannya.”

(Al-Imam Ibnu Rojab [wafat 795 H], Al-Ikhlaash, hal. 28)

434) PEMBENARAN OLEH AMAL

Al-Hasan al-Bashri berkata:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيْسَ بِالتَّحَلِّي، وَلَا بِالتَّمَنِّي , إِنَّ الْإِيمَانَ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ، وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ

“Bukanlah Iman itu hanya sekedar untuk hiasan dan angan-angan belaka; akan tetapi apa yang menghujam dalam hati dan dibenarkan oleh amal.”

(Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/189, no: 30351 dan no: 35211)

435) BISA BERTAMBAH, BISA BERKURANG

Al-Imam al-Baghowy berkata:

إِنَّ الإِيمَانَ قَوْلٌ، وَعَمَلٌ، وَعَقِيدَةٌ، يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

“Mereka (para Shohabat, Tabi’in dan Ahlus Sunnah sesudahnya) mengatakan bahwa: “Iman adalah Perkataan, Perbuatan, dan Keyakinan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan ma’shiyat.”

(Al-Imam al-Baghowy [wafat 516 H], Syarhus Sunnah, 1/39)

436) KUNCI HARUS BERGIGI

لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ: أَلَيْسَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الجَنَّةِ؟ قَالَ: بَلَى، وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ، فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ، وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ

Ketika ditanya: “Bukankah “Laa Ilaaha Illallooh”adalah kunci untuk masuk (pintu) surga?”
Al-Imam Wahab bin Munabbih menjawab: “Benar, tetapi… tidak semua kunci bergigi. Kalau engkau diberi kunci dan kunci itu bergigi, maka dengan kunci itu, pintu akan terbuka. Tetapi… Jika kunci itu tidak bergigi, pintu itu tidak akan terbuka bagimu.”

(Al-Bukhoory [wafat 256 H], Shohiih al-Bukhoory, 2/71)

437) ORANG YANG BENAR IMANNYA

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَا بُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allooh dan Rosuul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allooh. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

(QS. Al-Hujurot/49: 15)

438) MUSTAHIL

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ يُوَآ دُّوْنَ مَنْ حَآ دَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَا نُوْۤا اٰبَآءَهُمْ اَوْ اَبْنَآءَهُمْ اَوْ اِخْوَا نَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِ يْمَا نَ وَاَ يَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ ۗ وَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ اُولٰٓئِكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allooh dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allooh dan Rosuul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan …”

(QS. Al-Mujadilah/58: 22)

439) SKALA PRIORITAS

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman :

قُلْ اِنْ كَا نَ اٰبَآ ؤُكُمْ وَاَ بْنَآ ؤُكُمْ وَاِ خْوَا نُكُمْ وَاَ زْوَا جُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَ اَمْوَا لُ ٭ِ قْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَا رَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَا دَهَا وَ مَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَاۤ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ جِهَا دٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَ بَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَ مْرِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

“Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

(QS. At-Taubah/9: 24)

440) SKALA PRIORITAS

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata :

وَالْمُجْتَهِدُ مَنْ جَمَعَ خَمْسَةَ عُلُومٍ عِلْمُ كِتَابِ اللَّهِ وَعِلْمُ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَقَاوِيلُ عُلَمَاءِ السَّلَفِ مِنْ إِجْمَاعِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ وَعِلْمُ اللُّغَةِ وَعِلْمُ الْقِيَاسِ

“Ulama yang bertingkat Mujtahid adalah mereka yang terhimpun padanya 5 ilmu, yakni : 1) Ilmu tentang Kitabulloh; 2) Ilmu tentang Sunnah Rosululloh; 3) Ilmu tentang Pernyataan dan Pendapat para Ulama Salaf, baik dalam hal Ijma’ (perkara yang disepakati), maupun perkara yang diperselisihkan; 4) Ilmu Bahasa Arab; dan 5) Ilmu tentang Qiyas.”

(‘Aunul Ma’bud, 9/354)

441) 3 AMALAN TERBERAT

Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu berkata :

أَشَدُّ الْأَعْمَالِ ثَلَاثَةٌ: إِعْطَاءُ الْحَقِّ مِنْ نَفْسِكَ، وَذِكْرُ اللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَمُوَاسَاةُ الْأَخِ فِي الْمَالِ

“Amalan yang paling berat adalah 3 perkara, yaitu : 1) Menunaikan hak orang lain, 2) Mengingat Alloh di setiap keadaan, dan 3) Solider dengan harta terhadap saudara.”

(Hilyatul Auliya’, 1/85)

442) 5 JENIS HARI

يوم مفقود، ويوم مشهود، ويوم مورود، ويوم موعود، ويوم ممدود، فالمفقود
أمسك قد فاتك مع ما فرطت فيه، والمشهود يومك الذي أنت فيه فتزود فيه من الطاعات؛ والمورود هو غدك لا تدري هل هو من أيامك أم لا؟ والموعود هو آخر
أيامك من أيام الدنيا فاجعله نصب عينيك؛ واليوم الممدود هو آخرتك وهو يوم لا انقضاء له فاهتم له غاية اهتمامك، فإنه إما نعيم دائم أو عذاب مخلد.

“Hari itu ada 5: 1) Hari yang hilang, 2) Hari yang disaksikan, 3) Hari yang akan datang, 4) Hari yang dijanjikan, dan 5) Hari yang abadi.

Terhadap “Hari yang hilang” , maka bisa jadi engkau telah kehilangan peluang. Adapun “Hari yang disaksikan” adalah hari dimana engkau menikmatinya untuk berbekal dengan ketaatan. Pada “Hari yang akan datang” adalah hari esokmu, engkau tidak tahu apakah hari itu akan menjadi milikmu ataukah tidak. Dan “Hari yang dijanjikan” adalah hari akhir dari kehidupanmu dari dunia ini, maka pusatkanlah perhatianmu padanya. Sedangkan “Hari yang abadi” adalah hari akhiratmu dimana hari itu tak akan pernah berakhir, maka pusatkan pula perhatianmu padanya, karena bisa jadi engkau berada di negeri yang penuh nikmat selamanya, atau penuh azab selamanya.”

(Al-Kasykul, 1/124)

443) SAAT ADZAB TURUN

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz berkata:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِذَنْبِ الْخَاصَّةِ وَلَكِنْ إِذَا عُمِلَ الْمُنْكَرُ جِهَارًا اسْتَحَقُّوا الْعُقُوبَةَ كُلُّهُمْ.

“Sesungguhnya Allooh tidak menurunkan adzab pada khalayak manusia karena dosa segelintir orang; akan tetapi jika suatu kemungkaran telah dikerjakan dengan terang-terangan maka segenap mereka berhak mendapatkan adzab.”

(Imam Ahmad bin Hambal [wafat 241 H], Zuhud, hal. 239, no: 1704)

444) PESAN PEMIMPIN PADA RAKYATNYA

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz berpesan di awal masa kekhilafahannya:

يُوصل إِلَيْنَا حَاجَة من لَا تصل إِلَيْنَا حَاجته ويدلنا من الْعدْل إِلَى مَا لَا نهتدي إِلَيْهِ وَيكون عونا لنا على الْحق وَيُؤَدِّي الْأَمَانَة إِلَيْنَا وَإِلَى النَّاس وَلَا يغتب عندنَا أحدا.

“Dampingilah kami dengan lima perkara: 1) Sampaikanlah pada kami kebutuhan orang yang informasi tentang mereka tidak sampai pada kami; 2) Tunjukkanlah kami pada KEADILAN, jika kami belum menjangkaunya; 3) Jadilah penolong kami dalam kebaikan; 4) Tunaikanlah amanah pada kami dan orang lain; 5) Jangan ada seorang pun diantara kita yang berghibah (menceritakan keburukan orang lain).”

(‘Abdullooh al-Mishry [wafat 214 H], Siroh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz, hal. 39)

445) BERGAUL DENGAN ORANG DUNGU

Wuhaib bin al-Ward berkata:

خالطت الناس خمسين سنة فما وجدت رجلا غفر لي ذنبا فيما بيني وبينه ولا وصلني إذا قطعته ولا ستر على عورة ولا أمنته إذا غضب فالاشتغال بهؤلاء حمق كبير.

“Selama 50 tahun aku bergaul dengan manusia; kesimpulannya adalah: Jika ada orang yang ketika aku bersalah padanya maka ia tidak memberi maaf; jika aku memutuskan dia maka dia tidak lagi menghubungiku; dan tidak menutup aibku; serta aku tidak merasa aman jika dia marah; maka bergaul dengan mereka adalah kedunguan yang besar.”

(Ibnul Jauzy [wafat 590 H], Shifatush Shofwah, 1/419, no: 214)

446) SANDIWARA IBLIS

Al-Imam Sufyaan ats-Tsaqofy berkata:

إذَا رَأَيْتَ الْقَارِئَ يَلُوذُ بِالسُّلْطَانِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ، وَإِنْ لَاذَ بِالْأَغْنِيَاءِ فَمُرَاءٍ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَخْدَعَ فَيُقَالُ: لَعَلَّك تَرُدُّ عَنْ مَظْلِمَةٍ أَوْ تَدْفَعُ عَنْ مَظْلُومٍ، فَإِنَّ هَذِهِ خَدْعَةٌ مِنْ إبْلِيسَ اتَّخَذَهَا فَجَازَ الْقُرَّاءُ سُلَّمًا.

“Jika engkau melihat ada pembaca Al-Qur’an mendatangi Penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri, demikian pula jika ada orang kaya mendatangi Fuqoro, maka sekali-kali janganlah tertipu; bisa jadi kalian berkata ‘Mungkin mereka berupaya untuk membela orang yang terdzolimi’; sungguh yang demikian itu adalah upaya Iblis menjerumuskan para Qurro.”

(Ibnu Muflih [wafat 763 H], Al-Aadaabusy Syar’iyyah, 3/481)

447) SIKAP HIDUP DI MASA FITNAH
Al-Imam adz-Dzahaby berkata:

تمسَّكْ بِالسّنَة، وألزم الصَّمْت، وَلاَ تَخضْ فِيمَا لاَ يَعْنِيكَ، وَمَا أَشكلَ عَلَيْكَ فَرُدَّهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِه، وَقِفْ، وَقُلْ: اللهُ وَرَسُوْلُه أَعْلَمُ.

“Berpegang teguhlah kalian pada As-Sunnah dan jagalah lisan, serta janganlah sibuk dengan sesuatu yang tidak berguna bagi dirimu. Apa saja yang kalian anggap bermasalah maka kembalikanlah pada: “Walloohu a’lam” (kepada Allooh dan Rosuul-Nya dengan mengatakan: “Allooh dan Rosuul-Nya lah yang mengetahui).”

(Syamsuddin Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyaru A’laamin Nubala, 20/142)

448) TONGGAK PERUBAHAN

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz berkata:

مَنْ عَمِلَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ.

“Barang siapa yang beramal tanpa ilmu, maka dia akan berpeluang merusak lebih banyak dari pada memperbaiki.”

(Imam Ahmad bin Hambal [wafat 241 H], Zuhud, hal. 244, no: 1737)

449) HAKIM IDEAL

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz berkata:

إذا كان في القاضي خمس خصال فقد كمل: علم بما كان قبله، ونزاهة عن الطمع، وحلم عن الخصم، واقتداء بالأئمة، ومشاورة أهل العلم والرأي.

“Jika lima perkara berikut ada pada seorang Hakim, berarti dia seorang Hakim yang Ideal: 1) Berilmu sebelumnya; 2) Bersih dari sifat tamak; 3) Bersikap lembut pada penuntut/pendakwa; 4) Ber-qudwah pada para Imam; 5) Berkonsultasi pada Ahlul ‘Ilmi dan cendekia.”

(Ibnu ‘Abdi Robbihi [wafat 328 H], Al-‘Iqdul Fariid, 1/78)

450) TIGA PERKARA

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz berkata:

الأمور ثلاثة: أمر استبان رشده فاتبعه؛ وأمر استبان ضرّه فاجتنبه؛ وأمر أشكل أمره عليك فردّه إلى الله.

“Perkara yang terang benderang kebenarannya, maka ikutilah. Perkara yang jelas bahayanya, maka hindarilah. Perkara yang bermasalah, maka kembalikanlah kepada Allooh.”

(Ibnu ‘Abdi Robbihi [wafat 328 H], Al-‘Iqdul Fariid, 5/182)

451) MENUJU JAHANNAM

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz berkata:

سن رسول الله صلى الله عليه وسلم وخلفاؤه بعده سنناً، الأخذ بها تصديق لكتاب الله، واستعمال لطاعة الله، ليس على أحد تغييرها ولا تبديلها، ولا النظر في رأي من خالفها، فمن اقتدى بما سبق هدي، ومن استبصر بها أبصر، ومن خالفها واتبع غير سبيل المؤمنين ولاه الله ما تولى، وأصلاه جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيراً

“Rosulullooh dan para shohabat setelahnya, telah menunjukkan jalan dimana mengambil jalan itu adalah merupakan sikap membenarkan terhadap al-Qur’an, dan taat pada Allooh; tidak dibenarkan atas siapapun untuk merubah dan menggantinya atau mengambil pandangan yang menyelisihinya. Maka barangsiapa yang menjadikan seperti ini sebagai panutan, maka dia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang telah menjadikannya sebagai penerang maka akan teranglah pandangannya; akan tetapi barangsiapa menyelisihinya dan mengikuti selain jalan para Shohabat, maka Allooh akan palingkan dia dan Allooh siapkan baginya Jahannam yang merupakan tempat kembali yang seburuk-buruknya.”

(Ibnu Katsir [wafat 774 H], Al-Bidayah wan Nihayah, 9,/242-243)

452) IKATLAH

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz berkata:

قيدوا النعم بالشكر، وقيدوا العلم بالكتاب

“Ikatlah oleh kalian ni’mat Allooh dengan bersyukur dan ikatlah ilmu dengan catatan.”

(Al-Mubarrod [wafat 285 H], Al-Kaamil fil Lughoh wal Adab, 1/240)

453) PRIORITASKANLAH SHOLAT

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz berkata:

اجْتَنِبُوا الِاشْتِغَالَ عِنْدِ حَضْرَةِ الصَّلَاةِ، فَمَنْ أَضَاعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ أَشَدُّ تَضْيِيعًا

“Hindarilah melalaikan diri dari menghadiri sholat berjama’ah, karena barangsiapa yang menyepelekan sholat maka (bisa dipastikan) terhadap ajaran Islam yang lainnya dia akan lebih menyepelekan.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 5/316)

454) ORANG BAHAGIA DAN ORANG SENGSARA

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata:

أهل السعادة هم الذين عرفوا الحق واتبعوه، وأن أهل الشقاوة هم الذين جهلوا الحق وضلوا عنه، أو خالفوه واتبعوا غيره

“Orang Bahagia adalah mereka yang mengetahui Kebenaran dan mengikutinya; sedang Orang Celaka adalah mereka yang tidak mengetahui Kebenaran dan atau tersesat darinya, atau menyelisihi Kebenaran dan mengikuti selain Kebenaran.”

(Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah [wafat 751 H], Ighootsatil Lahafaan, 1/37)

455) PENGATUR MANUSIA

Ats-Tsa’aaliby rohimahullooh meriwayatkan:

شيئان يُدبَّران الناس: القضاءُ، والرَّجاءُ

“Dua perkara yang mengatur manusia: 1) Ketetapan Allooh; dan 2) Harapan.”

(Ats-Tsa’aaliby [wafat 429 H], Durorul Hikam, hal. 20)

456) TIPE MANUSIA DI MATA IBLIS

Wuhaib menceritakan tentang dialog Nabi Yahya bin Zakaria ‘alaihissalam dengan Iblis terkutuk, bahwa: “Manusia itu menurut Iblis ada tiga tipe, yaitu: 1) Tipe para Nabi, sama sekali tidak bisa digoda karena mereka ma’shum; 2) Tipe Ahlul Istighfar, maka Iblis mendatangi mereka, menggoda mereka, tetapi mereka selalu beristighfar dan bertaubat, demikian terjadi berulang-ulang sehingga Iblis kelelahan terhadap mereka tetapi tidak pernah berputus asa; 3) Tipe bola mainan anak, maka mereka menjadi mainan Iblis yang dibolak-balikkan semau sang Iblis.”

((Ibnul Jauzy [wafat 590 H], Shifatush Shofwah, 1/381, no: 214)

457) ILMU YANG UTAMA

Sahl bin ‘Abdullooh rohimahullooh berkata:

مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنْ عِلْمٍ يَسْتَزِيدُ بِهِ افْتِقَارًا إِلَى اللَّهِ

“Tidak ada sesuatu yang paling berharga yang diberikan pada seseorang, kecuali ilmu yang meningkatkan rasa semakin butuh kepada Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/195)

458) ORANG CERDAS

Sahl bin ‘Abdullooh rohimahullooh berkata:

وَسُئِلَ سَهْلٌ عَنِ الْعَقْلِ، فَقَالَ: احْتِمَالُ الْمَئُونَةِ وَالْأَذَى مِنَ الْخَلْقِ

Sahl bin ‘Abdullooh berkata:
“Orang yang berakal adalah orang yang tangguh (tahan uji) terhadap rintangan hidup, dan terhadap sikap orang lain yang menyakitkannya.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/197)

459) EMPAT HAL YANG PENTING

Sahl bin ‘Abdullooh rohimahullooh berkata:

لَا مُعِينَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا دَلِيلَ إِلَّا رَسُولُ اللَّهِ وَلَا زَادَ إِلَّا التَّقْوَى وَلَا عَمَلَ إِلَّا الصَّبْرُ عَلَيْهِ

“Tidak ada penolong kecuali Allooh, tidak ada penunjuk kecuali Rosuulullooh, tidak ada bekal kecuali taqwa, dan tidak ada amalan kecuali bersabar dalam beramal.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/198)

460) EMPAT KEHIDUPAN

Sahl bin ‘Abdullooh rohimahullooh berkata:

الْعَيْشُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ: عَيْشُ الْمَلَائِكَةِ فِي الطَّاعَةِ، وَعَيْشُ الْأَنْبِيَاءِ فِي الْعِلْمِ وَانْتِظَارِ الْوَحْيِ، وَعَيْشُ الصِّدِّيقِينَ فِي الِاقْتِدَاءِ وَعَيْشُ سَائِرِ النَّاسِ عَالِمًا كَانَ أَوْ جَاهِلًا، زَاهِدًا كَانَ أَوْ عَابِدًا فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ

“Ada empat pola kehidupan: 1) Kehidupan malaikat dalam keta’atan; 2) Kehidupan para Nabi dalam ilmu dan menunggu wahyu; 3) Kehidupan ash-shiddiiqiin dalam bercontoh; dan 4) Kehidupan manusia pada umumnya, baik berilmu maupun tidak, baik zuhud maupun ahli ibadah, dalam makan maupun minum.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/198)

461) ORANG BIJAK

Sahl bin ‘Abdullooh rohimahullooh berkata:

لَقَدْ أَيِسَ الْعُقَلَاءُ الْحُكَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ الْخَلَّالِ: مُلَازَمَةُ التَّوْبَةِ، وَمُتَابَعَةُ السُّنَّةِ، وَتَرْكُ أَذَى الْخَلْقِ

“Orang pandai dan bijak itu memiliki 3 sifat: 1) Selalu bertaubat; 2) Mengikuti sunnah; dan 3) Tidak melukai orang.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/202)

462) SEGERALAH BERBUAT BAIK

‘Amr berkata:

إِذَا سَمِعْتَ بِالْخَيْرِ فَاعْمَلْ بِهِ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً

“Jika engkau mendengar ada suatu kebajikan maka kerjakanlah, walaupun sekali.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 5/102)

463) TENTANG BERPANUTAN

Abu Hazim berkata kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ لَا تَقْتَدِ بِمَنْ لَا يَخَافُ اللهَ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، وَلَا يَعَفُّ عَنِ الْعَيْبِ، وَلَا يَصْلُحُ عِنْدَ الشَّيْبِ

“Wahai anakku, janganlah engkau mengikuti: 1) Orang yang tidak takut pada Allooh disaat bersendirian; 2) Orang yang tidak memaafkan kekurangan orang lain; dan 3) Orang yang tidak bersikap santun terhadap orang yang tua (lanjut usia).”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 3/230)

464) CINTA DAN BENCI

Abu Hazim berkata:

إِنْ يَبْغَضْكَ عَدُوُّكَ الْمُسْلِمُ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يُحِبَّكَ خَلِيلُكَ الْفَاجِرُ

“Engkau dibenci musuhmu yang muslim masih lebih baik bagimu, daripada engkau disukai sahabatmu yang faajir (dzolim).”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 3/245)

465) SIKAP ORANG BERILMU

Abu Hazim berkata:

لَا تَكُونُ عَالِمًا حَتَّى يَكُونَ فِيكَ ثَلَاثُ خِصَالٍ: لَا تَبْغِي عَلَى مَنْ فَوْقَكَ، وَلَا تَحْتَقِرْ مَنْ دُونَكَ، وَلَا تَأْخُذْ عَلَى عِلْمِكَ دُنْيَا

“Engkau tidak akan menjadi seorang yang berilmu, kecuali pada dirimu terdapat tiga sifat: 1) Tidak sombong pada orang yang lebih ‘alim; 2) Tidak merendahkan orang yang ilmunya dibawahmu; dan 3) Tidak menjual ilmumu dengan dunia.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 3/243)

466) PETAKA MANUSIA

Sa’iid bin Jubair berkata:

مَا عَلامَةُ هَلاكِ النَّاسِ؟ قَالَ: إِذَا هَلَكَ عُلَمَاؤُهُمْ

“Apakah tanda rusaknya suatu zaman? Tandanya adalah jika para ‘Ulamanya sudah meninggal dunia.”

(Al-Imam al-Baghowy [wafat 516 H], Syarhus Sunnah, 1/317)

467) ORANG YANG BERHAK DIAMBIL ILMUNYA

Ibnu Mas’uud berkata:

لَا يَزَالُ النَّاسُ صَالِحِينَ مُتَمَاسِكِينَ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ أَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَتَاهُمْ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ، هَلَكُوا

“Manusia disebut shoolih jika mereka berpegang teguh pada ilmu yang berasal dari Allooh, dan para Shohabat Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam serta para ‘Ulama yang mu’tabar; namun jika ‘Ilmu itu telah datang dari orang-orang yang menyelisihi sunnah, maka berarti mereka akan binasa.”

(Al-Imam al-Baghowy [wafat 516 H], Syarhus Sunnah, 1/317)

468) MAU LARI KEMANA

Abul Qoosim Al-Hakiim berkata:

من خاف من شَيْء هرب منه ومن خاف من اللَّه عَزَّ وَجَلَّ هرب إِلَيْهِ

“Barangsiapa yang takut pada sesuatu, maka dia akan lari menghindarinya; akan tetapi barangsiapa yang takut pada Allooh. maka dia justru akan lari mengejar-Nya.”

(Al-Qusyairy [wafat 465 H], Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, 1/253)

469) SAAT ANDA TERTAWA

Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا وَهُوَ يَضْحَكُ، دَخَلَ النَّارَ وَهُوَ يَبْكِي

“Barangsiapa yang berbuat dosa sedangkan dia tertawa, maka dia akan masuk neraka dalam keadaan menangis.”

(As-Samarqondy [wafat 373 H], Tanbihul Ghoofiliin, hal. 197)

470) TERBANYAK MENANGIS

As-Samarqondy rohimahullooh berkata:

أَكْثَرُ النَّاسِ ضَحِكًا فِي الدُّنْيَا، أَكْثَرُهُمْ بُكَاءً فِي الْآخِرَةِ. وَأَكْثَرُهُمْ بُكَاءً فِي الدُّنْيَا، أَكْثَرُهُمْ ضَحِكًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang banyak tertawa di dunia, maka dia akan banyak menangis di Akherat; dan barangsiapa yang banyak menangis di dunia, maka dia akan banyak tertawa di Surga.”

(As-Samarqondy [wafat 373 H], Tanbihul Ghoofiliin, hal. 197)

471) PERUNDUNG DUKA

Yahya bin Mu’aadz Ar-Roozi rohimahullooh berkata:

أَرْبَعُ خِصَالٍ لَمْ يُبْقِينَ لِلْمُؤْمِنِ ضَحِكًا وَلَا فَرَحًا: هَمُّ الْمَعَادِ، يَعْنِي هَمَّ الْآخِرَةِ، وَشُغْلُ الْمَعَاشِ، وَغَمُّ الذُّنُوبِ، وَإِلْمَامُ الْمَصَائِبِ

“Empat perkara yang sulit meninggalkan rasa senang bagi orang beriman : 1) Gundah terhadap Akherat; 2) Sibuk dengan mencari dunia; 3) Gundah karena banyak dosa; 4) Musibah.”

(As-Samarqondy [wafat 373 H], Tanbihul Ghoofiliin, hal. 197-198)

472) PELAKU PERUBAHAN

As-Samarqondy rohimahullooh berkata:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمُ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ الْخَلْقَ، وَيُدِلُّونَهُمْ عَلَى طَرِيقِ الْآخِرَةِ، فَإِذَا تَرَكَ الْعُلَمَاءُ طَرِيقَ الْآخِرَةِ، فَمَنِ الَّذِي يَدُلُّهُمْ عَلَى الطَّرِيقِ؟ ! وَبِمَنْ يَقْتَدِي الْجُهَّالُ

“’Ulama adalah mereka yang memperbaiki manusia, menunjukkan manusia pada jalan Akherat; dan jika para’Ulama itu telah meninggalkan jalan Akherat, maka siapa lagi yang akan menunjukkan manusia pada jalan itu, dan siapa pula yang akan membimbing orang bodoh.”

(As-Samarqondy [wafat 373 H], Tanbihul Ghoofiliin, hal. 195)

473) POSISI SYAHWAT

As-Surry As-Saqothy rohimahullooh berkata:

لَنْ يَكْمُلَ رَجُلٌ حَتَّى يُؤْثِرَ دِينَهُ عَلَى شَهْوَتِهِ وَلَنْ يَهْلِكَ حَتَّى يُؤْثِرَ شَهْوَتَهُ عَلَى دِينِهِ

“Tidak akan sempurna seseorang sehingga dia memprioritaskan agamanya diatas syahwatnya, dan tidak akan binasa seseorang sehingga dia memprioritaskan syahwatnya diatas agamanya.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Dzammul Hawa, hal. 29)

474) MENGENAL “QIBLAT”

Sahl bin ‘Abdillah rohimahullooh berkata:

اللَّهُ قِبْلَةُ النِّيَّةِ، وَالنِّيَّةُ قِبْلَةُ الْقَلْبِ، وَالْقَلْبُ قِبْلَةُ الْبَدَنِ، وَالْبَدَنُ قِبْلَةُ الْجَوَارِحِ، وَالْجَوَارِحُ قِبْلَةُ الدُّنْيَا

“Allooh adalah qiblatnya Niat; Niat adalah qiblatnya Hati; Hati adalah qiblatnya badan; badan adalah qiblatnya anggota badan; dan anggota badan adalah qiblatnya dunia.”

(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/194)

475) SYAHWAT & SURGA

Yahya bin Mu’adz rohimahullooh berkata:

من أحب الجنة انقطع عن الشهوات، ومن خاف النار إنصرف عن السيئات

“Barangsiapa yang mencintai surga, dia akan memutuskan syahwatnya; dan barangsiapa yang takut masuk neraka, niscaya dia akan berpaling dari keburukan.”

(Ibnul Jazary [wafat 833 H], Az-Zahrul Faa’ih, hal. 101)

476) MAU KEMANA

Al-Imam ‘Abdullooh Ibnul Mubaarok rohimahullooh berkata:

يا ابن آدم، استعد للآخرة، وأطع الله بقدر حاجتك إليه، وأغضب الله بقدر صبرك على النار

“Wahai manusia, bersiaplah menghadapi Akherat dan taatilah Allooh sesuai dengan kebutuhanmu, dan buatlah Allooh murka sesuai dengan kadar sabarmu di dalam neraka.”

(Ibnul Jazary [wafat 833 H], Az-Zahrul Faa’ih, hal. 95)

477) BERAMALLAH SESUAI PILIHANMU

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashry rohimahullooh berkata:

إن الله تعالى أمر بالطاعة وأعان عليها، ونهى عن المعصية وأغنى عنها، فاعمل بقدرك على النار، ولا تجعل في ركوبها حجة

“Sesungguhnya Allooh memerintahkan manusia untuk taat kepada-Nya, kemudian memberi kemudahan untuknya; sebagaimana Allooh melarang untuk berbuat maksiat dan Allooh telah memberi kalian kecukupan, maka beramallah sesuai dengan kemampuanmu menuju neraka, dan janganlah engkau jadikan maksiat sebagai alasan untuk menghindarinya.”

(Ibnul Jazary [wafat 833 H], Az-Zahrul Faa’ih, hal. 95)

478) ORANG ANEH

Al-Imam Al-Fudhoil bin ‘Iyaadh rohimahullooh berkata:

العجب كل العجب لمن عرف الله ثم عصاه بعد المعرفة

“Aku terheran-heran pada orang yang mengaku mengenal Allooh, kemudian setelah itu dia bermaksiat kepada-Nya.”

(Ibnul Jazary [wafat 833 H], Az-Zahrul Faa’ih, hal. 95)

479) JANGAN SALAHKAN ORANG LAIN

Al-Imam Al-Fudhoil bin ‘Iyaadh rohimahullooh berkata:

أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى بَعْضِ أَنْبِيَائِهِ: إِذَا عَصَانِي مَنْ يَعْرِفُنِي سَلَّطْتُ عَلَيْهِ مَنْ لَا يَعْرِفُنِي

“Allooh memberikan wahyu kepada sebagian para Nabi-Nya: “Jika ada orang yang mengaku mengenal-Ku, sedangkan dia bermaksiat kepada-Ku, maka Aku akan kuasai dia melalui orang yang tidak mengenali-Ku”.”

(Al-Imam Ibnu Abid Dunyaa [wafat 281 H], Al-‘Uquubaat, hal. 37, no: 33)

480) AKIBAT BODOH

Humaid Ath-Thowiil rohimahullooh berkata:

يا أخي، إذا عصيت وظننت أنه يراك فقد تجرأت على عظيم، ولكنك بجهلك تظن انه لا يراك

“Wahai saudaraku, jika engkau bermaksiat kepada Allooh sedangkan engkau mengira bahwa Allooh melihatmu maka sungguh engkau telah berani melanggar Yang Maha Agung; akan tetapi jika engkau bodoh niscaya engkau akan mengira bahwa Allooh tidak melihatmu.”

(Ibnul Jazary [wafat 833 H], Az-Zahrul Faa’ih, hal. 95)

481) WAJAH MURAM

Hamaad bin Yaziid rohimahullooh berkata:

إذا أذنب العبد بالليل أصبح ومذلته في وجهه

“Jika seorang hamba berbuat dosa di malam hari, maka di pagi hari akan nampak kehinaannya pada wajahnya.”

(Ibnul Jazary [wafat 833 H], Az-Zahrul Faa’ih, hal. 95)

482) KENALI DIRIMU

Al-Imam Al-Fudhoil bin ‘Iyaadh rohimahullooh berkata:

رحم الله عبداً نظر لنفسه، فإنه إن لم ينظر لنفسه لم ينظر لها غيره

“Semoga Allooh melimpahkan rahmat-Nya pada seorang hamba yang tahu diri, sebab sesungguhnya barangsiapa yang tidak tahu kadar dirinya maka orang lain tidak akan mengetahuinya.”

(Ibnul Jazary [wafat 833 H], Az-Zahrul Faa’ih, hal. 96)

483) SIKAP HIDUP SELAMAT

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ» رواه الترمذي

“Sikap hidup selamat adalah engkau kendalikan lisanmu; kau anggap rumahmu lapang dan kau tangisi kesalahanmu.”

(HR. At-Turmudzy no: 2406, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir rodhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin Al-Albaany)

484) ORANG BERILMU

Al-Imam ‘Abdullooh Ibnul Mubaarok rohimahullooh berkata:

كَيْفَ يُعْرَفُ الْعَالِمُ الصَّادِقُ فَقَالَ الَّذِي يَزْهَدُ فِي الدُّنْيَا وَيُقْبِلُ عَلَى أَمْرِ آخِرَتِهِ

“Orang ‘Alim yang hakiki adalah orang yang zuhud dalam perkara dunia dan bersungguh-sungguh menyambut perkara Akheratnya.”

(Ahmad bin Hambal [wafat 241 H], Al-Waro’, hal. 131, no: 400)

485) INTELEKTUAL

Yahya bin Mu’adz rohimahullooh berkata:

ألا إن العاقل المصيب من عمل ثلاثاً: ترك الدنيا قبل أن تتركه، وبنى قبره قبل أن يدخله، وأرضى ربه قبل أن يلقاه

“Orang yang berakal benar adalah orang yang mengerjakan tiga perkara: 1) Meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya; 2) Membangun kuburannya sebelum memasukinya; 3) Meraih ridho Allooh sebelum menemui-Nya.”

(Ibnul Jauzy [wafat 590 H], Shifatush Shofwah, 2/295)

486) TOLOK UKUR

Al-Hasan Al-Bashry rohimahullooh berkata:

اقْرَأِ الْقُرْآنَ مَا نَهَاكَ فَإِذَا لَمْ يَنْهَكَ فَلَسْتَ تَقْرَؤُهُ، رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرُ فَقِيهٍ وَمَنْ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ ضَرَّهُ جَهْلُهُ

“Bacalah olehmu Al-Qur’an, selama Al-Qur’an itu melarangmu (mengaturmu); tetapi jika tidak, maka sebenarnya dirimu tidaklah membacanya; bisa jadi seorang pembawa ilmu bukanlah seorang yang mendalam ilmunya; dan barangsiapa yang ilmunya tidak memberinya manfaat maka kebodohannya lah yang akan menjerumuskannya.”

(Ahmad bin Hambal [wafat 241 H], Az-Zuhdu, hal. 231, no: 1644)

487) IDENTITAS

Al-Imam Al-Auzaa’iy rohimahullooh berkata:

خَمْسٌ كَانَ عَلَيْهَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعُونَ بِإِحْسَانٍ: لُزُومُ الْجَمَاعَةِ , وَاتِّبَاعُ السُّنَّةِ , وَعِمَارَةُ الْمَسَاجِدِ , وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ , وَالْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Lima perkara yang menjadi kehidupan para Shohabat Nabi Muhammad beserta para Tabi’in yang setia mengikuti mereka: 1) Selalu bersatu dalam jama’ah; 2) Mengikuti sunnah Nabi; 3) Memakmurkan masjid; 4) Membaca Al-Qur’an; 5) Berjihad di jalan Allooh.”

(Al-Imam Al-Laalikaa’i [wafat 418 H], Syarah Ushuul I’tiqood Ahli As-Sunnati wal Jamaa’ah, 1/71, no: 48)

488) ASAL ILMU

Al-Imam Al-Auzaa’iy rohimahullooh berkata:

العلم ما جاء به أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم فما كان غير ذلك فليس بعلم

“Ilmu itu adalah apa saja yang disampaikan oleh para Shohabat Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam; jika tidak, maka bukanlah ilmu.”

(Ibnu Rojab Al-Hambali [wafat 795 H], Bayaan Fadhli ‘Ilmis Salafi ‘ala ‘Ilmil Kholaf, hal. 6)

489) SIKAP ISTIQOMAH

Al-Imam Al-Ajurry rohimahullooh berkata:

فَلَوْ فَعَلَ إِنْسَانٌ فِعْلًا كَانَ لَهُ فِيهِ قُدْوَةً بِأَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , كَانَ عَلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ , وَمَنْ فَعَلَ فِعْلًا يُخَالِفُ فِيهِ الصَّحَابَةَ فَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْهُ , مَا أَسْوَأَ حَالَهُ

“Jika seseorang mengerjakan suatu pekerjaan mencontoh salah seorang Shohabat Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam, maka orang itu berada diatas jalan yang lurus; sedangkan jika mengerjakan suatu pekerjaan yang menyelisihi mereka, maka sungguh aku berlindung kepada Allooh darinya karena betapa buruk keadaan orang itu.”

(Al-Imam Al-Ajurriy [wafat 360 H], Asy Syarii’ah, 4/1691)

490) JENIS KEDZOLIMAN

Al-Imam Al-Baghowy rohimahullooh berkata:

الظُّلْمُ ثَلاثَةٌ: ظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُتْرَكُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ، فَالشِّرْكُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ، فَظُلْمُ النَّاسِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ، فَظُلْمُ الْعَبْدِ نَفْسَهُ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Kedzoliman itu ada tiga macam: 1) Kedzoliman yang tidak diampuni; 2) Kedzoliman yang dibiarkan; dan 3) Kedzoliman yang diampuni. Adapun Kedzoliman yang tidak diampuni, maka dia adalah Syirik. Dan adapun Kedzoliman yang dibiarkan adalah Kedzoliman manusia satu sama lainnya. Sedangkan Kedzoliman yang diampuni adalah kedzoliman seorang hamba terhadap dirinya terkait dengan Allooh.”

(Al-Imam Al-Baghowy [wafat 516 H], Syarhus Sunnah, 14/363)

491) BAHAYA AKHLAQ TERCELA

Al-Imam Abu Hatim Ar-Roozy rohimahullooh berkata:

إن الخلق الحسن يذيب الخطايا كما تذيب الشمس الجليد وإن الخلق السيء ليفسد العمل كما يفسد الخل العسل

“Sesungguhnya akhlaq yang mulia itu dapat menghapus kesalahan seperti halnya matahari menguapkan embun; sedangkan akhlaq yang tercela itu dapat merusak amalan sebagaimana halnya cuka merusak madu.”

(Al-Imam Abu Hatim Ar-Roozy [wafat 354 H], Roudhotul ‘Uqola, hal. 64)

492) MULUT MANUSIA

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullooh berkata:

إما لسان ذاكر، وإما لسان لاغ، ولا بد من أحدهما

“Sesungguhnya mulut manusia itu jika tidak dipergunakan untuk berdzikir, maka dia akan sibuk dengan hal yang melalaikan.”

(Al-Imam Ibnul Qoyyim [wafat 751 H], Al-Waabilu Ash-Shoibu, hal. 82)

493) JIWA MANUSIA

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullooh berkata:

النفس إن لم تشغلها بالحق شغلتك بالباطل

“Sesungguhnya jiwa manusia itu jika tidak disibukkan oleh Kebenaran, maka dia akan disibukkan oleh Kebathilan.”

(Al-Imam Ibnul Qoyyim [wafat 751 H], Al-Waabilu Ash-Shoibu, hal. 82)

494) HATI MANUSIA

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullooh berkata:

القلب إن لم تسكنه محبة الله عز وجل سكنه محبة المخلوقين

“Sesungguhnya hati manusia itu jika tidak merasa tentram dengan cinta kepada Allooh, maka dia akan disibukkan oleh cinta kepada makhluq Allooh.”

(Al-Imam Ibnul Qoyyim [wafat 751 H], Al-Waabilu Ash-Shoibu, hal. 82)

495) KEPATUTAN#1

Mu’awiyah rodhiyalloohu ‘anhu berkata,

الْمُرُوءَةُ تَرْكُ الشَّهَوَاتِ وَعِصْيَانُ الْهَوَى

“Muru’ah (Kepatutan) adalah seseorang meninggalkan syahwatnya dan menyelisihi hawa nafsunya.”

(As-Safaariiny [wafat 1188 H], Ghidzaa’ul Albaab, 2/457)

496) KEPATUTAN#2

Al-Mughiroh bin Syu’bah rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

الْعِفَّة عَمَّا حرم الله تَعَالَى والحرفة فِيمَا احل الله تَعَالَى

“Muruu’ah (Kepatutan) adalah sikap berbersih hati dari apa saja yang diharomkan Allooh dan bersibuk diri dengan apa yang dihalalkan oleh Allooh.”

(Al-Mirzabaan [wafat 309 H], Al- Muruu’ah, hal. 127)

497) PERILAKU ULAMA

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashriy rohimahullooh berkata:

لا تكن ممن يجمع علم العلماء وطرائف الحكماء ويجري في العمل مجرى السفهاء

“Janganlah engkau menjadi orang yang mengkoleksi ilmu para ulama, dan kata mutiara para ahli hikmah; namun sikap hidupmu bagaikan orang dungu.”

(Al-Ghozaaliy, Ihyaa’u ‘Uluumuddiin, 1/59)

498) PERIKSALAH BICARAMU

Ibnul Jauzy rohimahullooh berkata:

إِيَّاكَ أَنْ تَتَكلَّمَ فِي مَسْأَلَةٍ لَيْسَ لَكَ فِيهَا إِمَامٌ

“Hindarilah olehmu berkata tentang suatu perkara, dimana kamu tidak punya perkataan Imam sebagai rujukannya.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Manaaqibul Imam Ahmad, hal. 245)

499) ARGUMENTATIF

Al-Kursaj rohimahullooh berkata:

إن استطعت أن لا تحك رأسك إلاّ بأثر فافعل

“Jika engkau mampu, maka berusahalah untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali ada atsar (riwayat tuntunan) tentang itu.”

(Al-Kursaj [wafat 251 H], Masaa’ilul Imam Ahmad wa Ishaq bin Rohawaih, 1/7)

500) WAHYU

Al-Kursaj rohimahullooh berkata:

إنّما العلم ما جاء من فوق

“Sesungguhnya ilmu itu adalah apa saja yang berasal dari Atas (Wahyu – pent.).”

(Al-Kursaj [wafat 251 H], Masaa’ilul Imam Ahmad wa Ishaq bin Rohawaih, 1/8)

501) TINGGALKAN RIBA

Disamping upaya manusiawi berupa _Hand Sanitizer, Disinfectant, Masker_, menghindar dari kerumunan, dll; termasuk tidak berjama’ah di masjid atau sholat jum’at, penting juga bagi yang masih BERGELIMANG dengan RIBA untuk BERHENTI DARINYA; karena bisa jadi wabah ini merupakan *TANDA PERANG DARI ALLOOH*, sebagaimana Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (279) البقرة

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allooh dan TINGGALKAN SISA RIBA (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka JIKA KAMU TIDAK MENGERJAKAN (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa ALLOOH dan ROSUUL-Nya AKAN MEMERANGIMU. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al Baqoroh/2: 278-279)

RENUNGAN:

Bagaimana kalau Allooh turunkan dan kerahkan tentaraNya yang LEBIH BESAR, atau LEBIH BANYAK, atau LEBIH KEJAM lagi dari Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) ???

Jangan sampai LEBIH TEGA MENINGGALKAN MASJID DARIPADA MENINGGALKAN RIBA.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

502) KETERGANTUNGAN

Bagi seorang MU’MIN…
Betapapun gigihnya usaha, canggihnya teknologi atau anggapan lengkapnya persiapan…
Tetap saja….
Disaat: Menghadapi ancaman, gelisah, galau, kekurangan, ketakutan, cemas, butuh bantuan…
Maka sikap dirinya adalah : Tidak lupa, Tidak lalai, Tidak lengah, apalagi Sombong, apalagi Membangkang Syari’at-Nya…
Karena bagi dirinya ALLOOH adalah sebagai PENCUKUP-nya…

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Bukankah Allooh cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allooh? Dan siapa yang disesatkan Allooh maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya”. (QS. Az-Zumar/39: 36)

503) BANGSA ARAB AKAN BINASA

‘Umar bin al-Khoththoob rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

حِينَ يَسُوسُ أَمَرَهُمْ مَنْ لَمْ يُعَالِجْ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ، وَلَمْ يَصْحَبِ الرَّسُولَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Demi Allooh, bangsa Arab akan binasa disaat pemimpin mereka adalah orang yang tidak mengatasi perkara Jahiliyyah, dan dia tidak mendampingi (– tidak mengikuti – pent.) Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam.”

(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah (wafat 235 H), Al-Mushonnaf, 6/410, no: 32472)

504) MERAIH KEHIDUPAN HAKIKI

Al-Imam An-Nawawy rohimahullooh berkata:

التَّأَدُّبُ بمَا صَحَّ عَنْ نَبِيِّنَا سَيِّدِ الأَوَّلينَ والآخرينَ , وَأَكْرَمِ السَّابقينَ والَّلاحِقينَ. صَلَواتُ اللهِ وسَلامُهُ عَلَيهِ وَعَلى سَائِرِ النَّبيِّينَ

“Orang yang berakal cerdas adalah yang meyakini bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggalnya yang sesungguhnya, maka dia akan menjadikan amal shoolih sebagai kendaraannya; melalui berakhlak dengan apa saja yang shohiih dari Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam.”

(An-Nawawy (wafat 676 H), Riyaadhush Shoolihiin, hal. 28)

505) SHIDDIQIIN

Malik bin Dinar rohimahullooh berkata:

إن الصديقين إذا قرئ عليهم القرآن طربت قلوبهم إلى الآخرة.

“Orang-orang yang termasuk Shiddiqiin adalah mereka yang apabila dibacakan pada mereka Al-Qur’an, maka hati mereka menjadi tergetar menuju Akherat.”

(Ibnul Jauziy (wafat 597 H), Shifatush Shofwah, 2/169)

506) TIGA NASEHAT

‘Abdul ‘Aziiz bin Abi Ruwwad rohimahullooh berkata:

ومن لم يتعظ بثلاث لم يتعظ بشيء الإسلام والقرآن والمشيب

“Barangsiapa yang tidak mengambil pelajaran dari tiga hal, maka dia tidak akan dapat mengambil pelajaran dari tiga hal itu: Al-Islam, Al-Qur’an dan orang beruban.”

(Ibnul Jauziy (wafat 597 H), Shifatush Shofwah, 2/423)

507) UNTUK ULAT

Luqmanul Hakim berkata kepada anaknya:

خلق الإنسان ثلاثة أثلاث: ثلث لله، وثلث لنفسه، وثلث للدود

“Manusia itu dicipta 1/3 untuk Allooh, 1/3 untuk dirinya, dan 1/3 lagi untuk ulat.”

(Ibnul Jazary [wafat 833 H], Az-Zahrul Faa’ih, hal. 99)

508) ORANG YANG MENGHERANKAN

‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam berkata:

عجبت لثَلَاثَة لغافل وَلَيْسَ بمغفول عَنهُ ومؤمل دنيا وَالْمَوْت يَطْلُبهُ وَبَان قصرا والقبر مَسْكَنه

“Sungguh aku heran pada tiga orang: 1) Orang yang lalai (pada Allooh), padahal dia selalu dalam pengawasan-Nya; 2) Orang yang berpanjang angan dalam urusan dunia, padahal kematian mengintainya; dan 3) Orang yang membangun istana, padahal kuburan yang pasti akan menjadi tempat tinggalnya.”

(Ibnul Khoroth (wafat 581 H), Al-‘Aqibah fi Dzikril Maut, hal. 91)

509) ROHMAT ALLOOH

عن أَبي مُوسَى قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا مَرِضَ العَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا» رواه البخاري

“Jika seorang hamba (mengalami) sakit atau melakukan safar (bepergian jauh), maka baginya akan dicatat seperti apa yang dikerjakannya saat muqim atau sehat.” (HR. Al-Bukhooriy, no. 2996)

RENUNGAN :

Dalam situasi dimana COVID-19 sudah menjadi pandemik seperti saat ini, maka ummat islam tidak lagi dapat menunaikan antara lain kewajibannya terhadap Allooh Robbul ‘Alamiin sebagaimana mestinya.

Sehingga bagi hamba Allooh yang mengetahui dan menyadari hal ini, maka KERUGIAN itu dirasa tidak dapat dihindarkan.

Namun bagi mereka yang sudah atau sedang membiasakan sikap hidup ISTIQOMAH, yakni berusaha hidup selalu dalam keta’atan dan ketaqwaan dan menghindarkan diri dari maksiyat dan melakukan perkara apa saja yang mengundang murka Allooh, maka dengan Rohmat (kasih dan sayangNya) Allooh justru menghadiahi mereka seolah tetap senantiasa melakukan ibadah itu, sehingga mereka tidak memperoleh kerugian, malah justru tetap mendapat pahala dan atau kebajikan yang biasa dia peroleh saat dia sehat wal ‘afiyah dan tidak dalam perjalanan, dimana biasanya saat perjalanan seseorang tidak dapat dengan tuma’ninah menunaikan ibadah dan keta’atan kepada Allooh.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

510) MENUAI HASIL

‘Umar bin al-Khoththoob rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

ويل لمن كانت الدنيا همه، والخطايا عمله، كيفما يقدم غدا بقدر ما تحرثون تحصدون

“Celaka bagi siapa yang menjadikan dunia sebagai kegundahannya dan maksiat sebagai pekerjaannya; bagaimana besok dia menghadap Allooh; karena sebagaimana dia menanam, maka pastilah dia akan menuai.”

(Ibnul Jazary [wafat 833 H], Az-Zahrul Faa’ih, hal. 99)

511) WASPADALAH DENGAN AKHIR HAYATMU

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا، أَصَابَ العَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ، ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ

“Apabila Allooh turunkan adzab pada suatu kaum, maka adzab itu akan menimpa siapa saja yang ada pada kaum itu; kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan amalan mereka.”
(HR. Al-Bukhoriy no: 7108, dari ‘Abdullooh bin ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhuma)

RENUNGAN :

Dalam situasi dimana merebak pandemi COVID-19, dan korban setiap harinya semakin bertambah…
Serta tidak pandang bulu korbannya…
Apakah orang kaya ataukah orang miskin,
Apakah pejabat ataukah rakyat biasa….
Maka…
Sudah seharusnya setiap diri kita bersikap WASPADA….
Jangan merasa bahwa dirinya sehat atau staminanya lebih kuat, sehingga kemudian bersikap lalai…
Walau toh pada akhirnya, ajal itu tidaklah ada yang tahu kapan datang menjemputnya…

Dalam kondisi berbagai kegiatan di saat ini berkesempatan untuk dikerjakan di rumah…
Maka ada banyak hikmah seharusnya yang bisa dioptimalkan…
Mungkin untuk mempererat komunikasi dengan keluarga…
Atau bahkan mungkin dimanfaatkan untuk MENINGKATKAN KUALITAS IMAN dan TAQWA….
Seperti…
Tilawatul Qur’an, dzikir, do’a, istighfar, bertaubat, qiyamul lail, infaq/shodaqoh atau berbagai keshoolihan lainnya….
Dan bukan justru untuk menjadi banyak tidur atau bermalas-malasan, apalagi rela menjadi korban HP atau Game, atau malah bermaksiat.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

512) SEBELUM BERTAQWA

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚفَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allooh.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”
(QS. Yunus/10: 31)

MUTIARA AYAT:

Ayat di atas mengisyaratkan kepada kita berbagai hal, antara lain:

Ada hal mendasar mengapa SIKAP HIDUP TAQWA itu SUNYI DALAM KEHIDUPAN…
TAQWA hanya sekedar menjadi SERUAN dan SEMBOYAN…

TAQWA seolah “jimat” yang kesaktiannya ditunggu oleh para penganutnya, dimana saat memerlukannya dia disebut, lalu keajaibannya akan menjadi solusi….

TAQWA dijadikan slogan, dijadikan impian; padahal TAQWA nyaris sesuatu hal yang fiktif dan tidak nyata dan dan susah untuk diukur….

Ada yang yang harus disadari bahwa Taqwa memang tidak akan terwujud, tanpa ada hal yang permanen yang tertanam dan tumbuh dalam kepribadian manusia…

Melalui ayat di atas…
Allooh memberi isyarat kepada kita, terutama ummat yang beriman…
Bahwa BERTAQWA itu HARUS DEFINITIF APA, BAGAIMANA dan SEPERTI APA
Dan HARUS FOKUS KEPADA SIAPA HARUS DITUJUKAN….
Jadi…
MOTIVASINYA HARUS JELAS, PROSESNYA HARUS JELAS dan ORIENTASI serta VISI MISInya juga HARUS JELAS….

Jika tiga perkara itu tidak ada, maka wajarlah taqwa itu tidak lain kecuali hanya sekedar 5 huruf dan tidak lebih dan tidak kurang….

Motif dan Motivasi Taqwa itu adalah harus didasari oleh keyakinan bahwa pelaku takwa adalah objek yang diperintahkan untuk mengerjakan takwa…
Dia adalah manusia, bukan hewan, bukan tumbuhan, apalagi benda mati…..
Tanpa ini, dia tidak akan terdorong untuk melakukan sesuatu; karena justru hawa nafsunya lah nantinya yang akan lebih dia patuhi…

Proses Taqwa akan menjadi keliru dan salah alamat…
Karena bisa jadi manusia mengklaim bahwa dialah orang yang paling bertaqwa…
Padahal sebenarnya, dengan SEBAB TIDAK SESUAI DENGAN PROSEDUR TAQWA itu sendiri, maka pekerjaan yang dianggapnya taqwa justru tidak bermakna, bahkan sia-sia dan tidak patut diharap hasilnya….

Seseorang baru akan bisa menuntut hasil dari TAQWA jika prosesnya sudah benar; sehingga jika ibarat dia seorang karyawan, dia menuntut gajinya agar dengan “full” (penuh) diterimanya di akhir bulan, padahal kalau dia sadari tahap sebelumnya; sesungguhnya dia bukanlah orang yang berhak untuk mendapatkan bonus atau gaji, tetapi dia adalah karyawan yang berhak untuk mendapat pemecatan dan PHK…

Seseorang yang tidak tahu siapa “Boss” yang dia harus bela, yang dia harus loyal terhadapnya, yang dia berharap agar pekerjaannya dinilai sangat baik, yang diharapkan mempromosikannya menuju puncak kesuksesannya; pastilah dia akan bekerja asal-asalan…
Harapannya sekedar bekerja, lalu mendapat upah…
Tidak lebih dari itu….

Ayat di atas memberikan NILAI yang SANGAT FUNDAMENTAL bahwa MA’RIFAH, ILMU dan KEYAKINAN YANG BENAR

Bahwa:

HANYA ALLOOH lah satu-satunya yang menurunkan rizqi dari langit dan mengeluarkannya dari perut bumi…

HANYA ALLOOH lah yang memiliki seliruh indra hamba-Nya, yang dengannya manusia menjadi memungkinkan untuk lebih sempurna dan lebih unggul…

HANYA ALLOOH lah yang menjadikan segala apa yang hidup menjadi mati, tak berdaya…

Dan HANYA ALLOOH pulalah yang menjadikan segala sesuatu yang mati menjadi hidup kembali…

HANYA ALLOOH lah yang menata yang mengatur, dan yang mengurus segala urusan dan perkara….

Jika manusia dengan FITRAH, dengan AKAL, dengan HATI, dengan ILMU, bahkan dengan SAINS memproses semua ini, pastilah jawabannya adalah ALLOOH; BUKAN SELAIN ALLOOH…

TAQWA adalah jelmaan dari ILMU (PENGETAHUAN), KESADARAN dan KEYAKINAN…
Tanpa itu, maka TAQWA seperti yang kita dengar dan kita saksikan saat ini….
Betapapun ramai dibicarakan, tetapi dia adalah sesuatu yang tidak bisa diraba, tidak bisa dirasa….

Manusia adalah tidak lain hanyalah diantara makhluk lemah yang Allooh ciptakan…
Hidup di muka bumi karena kehendakNya…
Dan dia ada di muka bumi ini adalah untuk MENGABDI, BERIBADAH dan BERTAQWA kepada ALLOOH, bukan untuk yang lain !!!

Inilah KESADARAN….

Akan tetapi…
Bagaimana akan terwujud orientasi Ini…
Sementara dia mengingkari terhadap pembuktian sebelumnya..

KESIMPULANNYA adalah…

TAUHID yang BENAR dan LURUS TERLEBIH DAHULU…
Baru setelah itu, IBADAH yang BENAR dan ISTIQOMAH….

JIKA yang demikian ITU TERWUJUD…
Maka…
KEADILAN…
KEMAKMURAN…
KESEJAHTERAAN…
KEAMANAN…
Juga…
KETENTRAMAN…

Adalah JANJI ALLOOH YANG PASTI TIDAK AKAN DIINGKARI-Nya.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

513) PERILAKU ZINA, PENYEBAB EPIDEMI DAN KELAPARAN

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِىْ قَوْمٍ قَطٌّ حَتَّى يَعْمَلُوْا بِهَا إِلاَّ ظَهَرَ فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلاَفِهِمْ

“Tidaklah kekejian (zina) itu nampak pada suatu kaum sehingga mereka melakukannya, melainkan akan muncul ditengah-tengah mereka tho’un (penyakit menular) dan kelaparan yang belum pernah sedahsyat itu terjadi pada kaum-kaum sebelum mereka.”

(HR. Al-Hakim no: 8667, HR. Ibnu Majah no: 4019. Sanadnya Hasan (lihat Silsilah Hadits Shohiihah, 1/167-169, no:106), dari ‘Atho bin Abi Robah dari ‘Abdullooh bin ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhuma)

514) PERILAKU CURANG & GEJOLAK SOSIAL – EKONOMI – POLITIK

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَلَمْ يَنْقُصُوْا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوْا بِالسَّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمُؤْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

“Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka akan ditimpa dengan kemarau panjang, beban hidup yang berat dan penguasa yang dzolim.”

(HR. Al-Hakim no: 8667, HR. Ibnu Majah no: 4019. Sanadnya Hasan (lihat Silsilah Hadits Shohiihah, 1/167-169, no:106), dari ‘Atho bin Abi Robah dari ‘Abdullooh bin ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhuma)

515) ZAKAT & KEMAKMURAN

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَلَمْ يَمْنَعُوْا الزَّكَاةَ إِلاَّ مُنِعُوْا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْ لاَ الْيَهَـائِمِ لَمْ يُمْطَرُوْا

“Tidaklah suatu kaum enggan menunaikan zakat, melainkan mereka akan dihalangi dari hujan dari atas mereka; dan jikalau bukan karena Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa sayang pada binatang maka Allooh tidak akan turunkan hujan bagi mereka.”

(HR. Al-Hakim no: 8667, HR. Ibnu Majah no: 4019. Sanadnya Hasan (lihat Silsilah Hadits Shohiihah, 1/167-169, no:106), dari ‘Atho bin Abi Robah dari ‘Abdullooh bin ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhuma)

516) PENGUASAAN ASING

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَلَمْ يَنْقُضُوْا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُوْلِهِ إِلاَّ سَلَّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوُّهُمْ مِنْ غَيْرِهِمْ وَأَخَذُوْا بَعْضَ مَا كَانَ فِيْ أَيْدِيْهِمْ

“Tidaklah suatu kaum membatalkan ikatan perjanjian mereka dengan Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan Rosuul-Nya, melainkan musuh-musuh dari luar diri mereka akan menguasai mereka dan akan mengambil sebagian dari apa yang mereka miliki.”

(HR. Al-Hakim no: 8667, HR. Ibnu Majah no: 4019. Sanadnya Hasan (lihat Silsilah Hadits Shohiihah, 1/167-169, no:106), dari ‘Atho bin Abi Robah dari ‘Abdullooh bin ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhuma)

517) INSTABILITAS

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَا لَمْ يَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ أَلْقَى اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Dan jika para pemimpin dari suatu kaum tidak berhukum dengan kitab Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa, maka Alloh akan campakkan ketengah-tengah mereka kecekcokan.”

(HR. Al-Hakim no: 8667, HR. Ibnu Majah no: 4019. Sanadnya Hasan (lihat Silsilah Hadits Shohiihah, 1/167-169, no:106), dari ‘Atho bin Abi Robah dari ‘Abdullooh bin ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhuma)

518) SEGALA SESUATU DALAM PENGETAHUAN ALLOOH

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

وَمَا مِنْ غَائِبَةٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (QS. An Naml/27: 75)

Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thobary _rohimahullooh_ dalam menafsirkan ayat ini (al Qur’an surat an naml/27: 75) berkata:
“Tidak ada serahasia apapun, setersembunyi apapun dari jangkauan pandangan manusia, baik itu di langit maupun di bumi; KECUALI ALLOOH TELAH CATAT DALAM AL-LAUHUL MAHFUDZ SEJAK DICIPTAKANNYA sesuatu yang ada hingga hari kiamat.”
(Ath-Thobary, Tafsir ath-Thobary, 19/494)

RENUNGAN:

Kalau manusia yang tidak beriman itu mengaku MAMPU…
Maka harusnya virus itu sudah bisa diantisipasi dan di atasi sejak awal…
Bukan malah menyebar ke 200 negara, atau bahkan bisa lebih….

Bagaimana, masih tidak mau beriman juga?

Virus Corona yang menghebohkan saat ini, SUDAH ALLOOH KETAHUI….

ALLOOH KETAHUI :
Kapan harus muncul?
Sebab apa yang memicu kemunculannya?
Dimana pertama kali harus muncul?
Akan menyebar kemana saja?
Pada siapa menjangkitnya?
Siapa yang akan sembuh darinya?
Siapa yang akan menjadi korbannya?
Apa akibatnya?
Berapa trilyun dalam mengatasinya akan habis?

…..
……
……
dstnya
dstnya

Tetapi yang pasti…
Dia BUKANLAH ADZAB (siksa) BAGI ORANG-ORANG yang BERIMAN dan patuh pada-Nya)…
Bahkan…
Jika diantara mereka mati karenanya pun, adalah SYAHID….

Atau dia adalah UJIAN…
Jika mereka mampu melaluinya dengan YAKIN, SABAR, UPAYA, DO’A dan TAWAKKUL (bergantung pada Allooh)…
Sehingga justru akan menaikkan DERAJATnya disisi Allooh.
الله المستعان

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

519) JENIS IBADAH

Ibnul Atsir berkata:

الْعِبَادَةَ قِسْمَانِ: نُسْكٌ ووَرَع، فالنُّسْك: مَا أمَرتْ بِهِ الشَّرِيعَةُ. والورَع: مَا نَهَت عَنْهُ

“Ibadah itu ada dua (jenis): Nusuk dan Waro’; adapun Nusuk maka dia adalah apa-apa yang diperintahkah oleh Syari’at; sedangkan Waro’ adalah apa-apa yang dilarang oleh Syari’at.”

(Ibnul Atsir [wafat 606 H], An-Nihayah fii Ghoriibil Hadiits wal Atsar, 5/65)

520) KARENA DZOLIM TERHADAP UMMAT ISLAM

Abud Darda rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يُنْقَصُ مِنْ أَرْزَاقِ الْمُسْلِمِينَ شَيْءٌ إِلَّا نُقِصَتِ الْأَرْضُ مِثْلَهُ

“Demi Yang jiwaku ditangan-Nya, apabila rizqi (haq) Ummat Islam dikurangi, maka Bumi (Sumber Daya Alam) juga akan dikurangi semisalnya.”

(Ibnu Abid Dunya, [wafat 281 H], Al-‘Uquubaat, hal. 190, no: 292)

521) BANYAK BENARNYA

Al-Imaam Asy-Syaafi’iy rohimahullooh berkata:

عَلَيْكُمْ بِأَصْحَابِ الحَدِيْثِ، فَإِنَّهُمْ أَكْثَرُ النَّاسِ صَوَاباً

“Ikutilah (oleh kalian) jejak AHLI HADITS, sesungguhnya merekalah manusia yang paling banyak benarnya.”

(Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyaru A’laamin Nubala, 10/70)

522) JANGAN DIIKUTI

Al-Junaid rohimahullooh berkata:

من لَمْ يحفظ الْقُرْآن وَلَمْ يكتب الْحَدِيث لا يقتدى بِهِ فِي هَذَا الأمر، لأن علمنا هَذَا مقيد بالكتاب والسنة.

“Barangsiapa yang tidak menghafal Al-Qur’an dan tidak mencatat Al-Hadiits, maka dia tidaklah patut untuk dijadikan panutan; sesungguhnya ilmu kita ini senantiasa terpaut dengan Al-Qur’an.”

(Al-Qusyairiy [wafat 465 H], Ar-Risaalah al-Qusyairiyyah, 1/79)

523) KEBERADAANMU MENYUSAHKAN SEMESTA

Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِيٍّ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ، فَقَالَ: «مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا المُسْتَرِيحُ وَالمُسْتَرَاحُ مِنْهُ؟ قَالَ: «العَبْدُ المُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ، وَالعَبْدُ الفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ العِبَادُ وَالبِلاَدُ، وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ» متفق عليه

Dari Abu Qatadah bin Rib’iy al-Anshori, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa disaat ada jenazah dibawa melaluinya, maka beliau bersabda: “Mustarih dan Mustaroh”; para Shohabat pun bertanya: “Apa itu maksudnya, ya Rosuulullooh?”
Beliau menjawab: “Seorang hamba yang beriman beristirahat dari lelahnya hidup di dunia dengan segala apa yang menyakitinya, menuju kasih sayang Allooh; sedangkan seorang hamba yang berdosa, maka manusia, negeri, tumbuhan dan hewan beristirahat dengan kematiannya.” (Muttafaqqun ‘alaihi)

Ada empat hal yang disebutkan oleh Rosuulullooh pada hadits ini yaitu:

1) Al-‘Ibad, yang merupakan kata jamak dari ‘Abdun, yaitu: hamba; berarti bisa diartikan hamba-hamba, dimana kata ini biasa diartikan dengan “manusia” secara khusus, tetapi karena Rosuul diutus juga untuk kalangan jin maka kata ‘abdun ini juga bisa diartikan jin, atau bahkan lebih luas daripada itu yaitu: segenap makhluq Allooh.

2) Kata Al-Bilad, jamak dari kata balad, artinya adalah: negeri, berarti al-bilad diartikan “negeri-negeri”; dan itu berarti bukan saja suatu desa atau kampung yang sempit, tetapi juga negeri dan negara yang jumlahnya paling sedikit dua negeri, hingga ratusan; sebagaimana kita ketahui di bumi ini terdiri dari ratusan negeri.

3) Asy-Syajar, yang artinya adalah pohon, dan pohon adalah satuan dari tumbuhan; berarti apa saja yang termasuk dalam apa yang tumbuh di atas permukaan bumi ini, disebut tetumbuhan, atau dalam kata Bahasa Arabnya adalah nabat, artinya: apa saja yang tumbuh dari bumi.

4) Dawab, jamak dari dabbah, yang artinya adalah: apa saja yang berjalan di atas permukaan bumi, biasanya kita kenal dengan hewan.

Bisa dibayangkan, bahwa empat makhluq Allooh ini semuanya merasakan rohah, artinya: istirahat
Artinya: tidak sibuk, tidak lelah, tidak capek, apalagi menderita dan tersiksa oleh keberadaan makhluq yang namanya “manusia” yang dzolim ini.

Mengapa?

Tentu kalau manusia itu beriman, maka mereka akan menjadi sebab bagi tersebarnya Rohmah (kasih dan sayang) Allooh di muka bumi ini terhadap makhluq lainnya.

Sementara lenyapnya rasa yang diidamkan semua orang ini adalah karena adanya aniaya (dzulm), ketidak adilan, atau ketiranian, yang diwujudkan dalam sikap dan karakter yang berdampak pada manusia dan makhluq lainnya.

Dan hal itu menyebabkan selain orang itu, bahkan alam semesta ini pun menjadi tersiksa, rusak, hancur bahkan musnah karenanya.

Jangankan manusia, hewan dan tumbuhan…
Bahkan benda mati pun merasakan ketidaknyamanan karena keberadaan orang yang dzolim dan fasiq ini…

Jangankan yang dekat, bahkan yang jauh sekalipun tersentuh oleh ulahnya….

Jangankan kota…
Bahkan desa dan peloksok negeri ini pun merasakan akibatnya…

Jangankan darat…
Bahkan laut pun sama demikian….

Mengapa?

Tentu karena orang dzolim, fasiq, fajir dan mujrim ini, keberadaan mereka telah menyebabkan terancamnya makhluq Allooh sekalian alam.

Oleh karena itu…

Maka saat orang seperti itu mati, menghembuskan nafas terakhirnya saat meninggalkan dunianya…
Dan saat ia tidak ada atau tidak hadir di dekat dan ditengah makhluk lainnya di dunia ini…
Maka semua makhluq Allooh akan merasa puas, lega dan istirahat dibuatnya…

Semoga kita tidak termasuk orang yang dirindukan kemusnahannya…

Akan tetapi…

Semoga kita menjadi orang yang menyebabkan orang lain, bahkan dunia berduka karena kehilangan kita disaat kita wafat nanti…

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd)

524) SEPELE

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

(Allooh) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
(QS. Al A’rof/7: 12)

Juga berfirman:

قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

(Iblis) berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
(QS. Shood/38: 76)

RENUNGAN:

Bagi Allooh…
Penciptaan iblis itu tidaklah susah, dibanding dengan menciptakan semesta alam ini….

Tapi dasar iblis…
Dia tidak menyadari itu….

Bagi Allooh…
Menjadikan ‘Adam ‘alaihissalam lebih mulia dari semesta alam itu bukanlah sesuatu yang berat…

Tetapi dasar iblis…
Dia tidak menyadari hal itu…

Bagi Allooh…
Tidak diciptakan iblis, tidak diciptakan manusia bahkan alam semesta; tidaklah mendatangkan kerugian bagi Allooh…

Tetapi dasar iblis…
Dia tidak menyadari hal itu…

Bagi Allooh….
Seandainya segenap manusia kafir kepada-Nya…
Bermaksiat kepada-Nya…
Menantang-Nya…
Memusuhi-Nya…
Bahkan memerangi-Nya…
Tidaklah akan dapat mengurangi kemuliaan dan keperkasaan-Nya…

Tetapi dasar iblis…
Dia tidak menyadari hal itu…

Iblis itu sejak awal…
Merasa bahwa dialah yang lebih berhak dimuliakan, sedangkan ‘Adam ‘alaihissalam tidak lebih mulia dari dirinya…

Sejak awal…
Iblis tidak dapat menjangkau bahwa…
ALLOOH lah yang MENGHENDAKI untuk menjadikan manusia lah yang harus lebih mulia…

Sejak awal pula….
Iblis tidak menyadari…
Atau bahkan tidak mau tahu….
Bahwa semua itu terjadi karena KEHENDAK Yang Maha Kuasa ALLOOH Azza wa Jalla

Akhirnya…
Dengan percaya diri Iblis pun bertutur:
“Aku adalah yang lebih baik darinya (‘Adam)”
Atau dengan kata lain:
“Dia (‘Adam) lebih hina dariku”…
“Dia (‘Adam) lebih sepele dariku”….
“Dia (‘Adam) lebih rendah dariku”…

Dan…
“Dia (‘Adam) tidak lebih patut dariku”…

KEKUFURAN DAN KEMAKSIATAN itu…
Adalah BERMULA dari SIKAP MENYEPELEKAN…
Dan itulah KESOMBONGAN…

نعوذ بالله من ذلك

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd)

525) BUKANLAH TUHAN

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

(إِنَّ ٱلَّذِینَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ عِبَادٌ أَمۡثَالُكُمۡۖ فَٱدۡعُوهُمۡ فَلۡیَسۡتَجِیبُوا۟ لَكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ ۝ أَلَهُمۡ أَرۡجُلࣱ یَمۡشُونَ بِهَاۤۖ أَمۡ لَهُمۡ أَیۡدࣲ یَبۡطِشُونَ بِهَاۤۖ أَمۡ لَهُمۡ أَعۡیُنࣱ یُبۡصِرُونَ بِهَاۤۖ أَمۡ لَهُمۡ ءَاذَانࣱ یَسۡمَعُونَ بِهَاۗ قُلِ ٱدۡعُوا۟ شُرَكَاۤءَكُمۡ ثُمَّ كِیدُونِ فَلَا تُنظِرُونِ ۝ إِنَّ وَلِـِّۧیَ ٱللَّهُ ٱلَّذِی نَزَّلَ ٱلۡكِتَـٰبَۖ وَهُوَ یَتَوَلَّى ٱلصَّـٰلِحِینَ ۝ وَٱلَّذِینَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا یَسۡتَطِیعُونَ نَصۡرَكُمۡ وَلَاۤ أَنفُسَهُمۡ یَنصُرُونَ ۝ وَإِن تَدۡعُوهُمۡ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ لَا یَسۡمَعُوا۟ۖ وَتَرَىٰهُمۡ یَنظُرُونَ إِلَیۡكَ وَهُمۡ لَا یُبۡصِرُونَ)

Artinya:
(194) “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allooh itu adalah makhluk (yang lemah), yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu, lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.
(195) Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar. Katakanlah: ‘Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allooh, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, tanpa memberi tangguh (kepadaku).
(196) Sesungguhnya pelindungku adalah Allooh yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan Allooh melindungi orang-orang yang shalih.
(197) Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allooh tidaklah menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.”
(198) Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat.”
[QS. Al-A’rof/7 :194 – 198]

RENUNGAN:

Ternyata yang dianggap “tuhan” itu tidak patut berstatus sebagai “TUHAN”…

Ternyata yang dianggap “tuhan” itu, tidak kurang dan tidak lebih hanyalah seperti yang menganggapnya sebagai “tuhan”

Perlu BUKTI?

Andai saja si “tuhan itu punya kaki, tapi dia TIDAK BISA dengan kakinya itu berjalan toh?

Andai saja pada si “tuhan” itu tergantung tangan, tapi tangannya itu juga TIDAK BISA memegang sesuatu toh?

Andaikan juga yang dianggap sebagai si “tuhan” itu disematkan alat penglihat, tapi tetap juga dia TIDAK BISA melihat toh?

Andai pada yang dianggap “tuhan” itu disematkan alat pendengar, tapi tetap saja dia TIDAK BISA mendengar juga toh?

Kalau JASAD KASAR adalah sebagai prajurit dan operator…
Maka…
Coba posisikan si “tuhan” itu sebagai PENGONSEP TIPU DAYA, tidak bisa juga toh?

“Tuhan” itu TIDAK MESTI HARUS INDRAWI….
Kalau ternyata disematkan alat pengindra tetapi tak ada fungsinya….

TUHAN itu justru harus berstatus sebagai PENCIPTA ALAT dan FUNGSI INDRA

TUHAN itu adalah..
Yang MAHA HIDUP…
Yang MAHA BERKUASA…
Yang KEHENDAK-Nya tak mungkin ada yang mampu menghalangi…
Yang MENCIPTA…
Yang MEMBERI KARUNIA…
Yang MENJAMIN…
Yang MENURUNKAN PEDOMAN yang LURUS…
Yang MENGABULKAN SEGALA PERMINTAAN hamba-Nya…
Dan Yang MEMBERI PERTOLONGAN….

“Tuhan” itu BUKANLAH yang TIDAK BISA MEMBERI PERTOLONGAN…
BUKANLAH yang hanya disematkan nama dan alat penglihat, akan tetapi dia TIDAK DAPAT MELIHAT…
BUKANLAH yang hanya disematkan nama dan alat pendengar, akan tetapi dia TULI…
Dia seolah memelototimu, padahal TIDAK MEMILIKI KEMAMPUAN MELIHAT….

TUHAN itu IDENTITASnya TAK MUNGKIN ADA SESUATU yang mampu untuk MENYERUPAINYA…
Justru yang dimiliki makhluq-Nya adalah KARUNIA-Nya semata…
Dan itu TAK MUNGKIN akan SEBANDING dengan-Nya…

Maka YAKINLAH…
TUHAN itu adalah…
Yang pada-Nya lah SEGALANYA YANG AGUNG…
TUHAN yang MEMBERI segala KARUNIA…
TUHAN yang TAK PERNAH akan KEKURANGAN, jika MEMENUHI kebutuhan makhluq-Nya….
TUHAN yang dengan HIDAYAH-Nya lah, Dia MEMBIMBING dan MENUNTUN…
TUHAN yang MEMBERI PERTOLONGAN saat makhluq-Nya membutuhkan pertolongan…

TUHAN itulah ALLOOH…
BUKAN YANG LAIN…

Maka…
LURUSKANLAH !!!

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd)

526) APAKAH ANDA INGIN BERUNTUNG?

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman! Ruku’lah, sujudlah dan beribadah lah kalian kepada Tuhan kalian; dan berbuatlah kebajikan, mudah-mudahan kalian beruntung.”
(QS. Al-Hajj/22: 77)

RENUNGAN:

Setiap manusia pasti bercita-cita dan berangan-angan menjadi orang yang beruntung….
Walaupun definisi “beruntung” mereka adalah tidak sama….

Ada diantara mereka yang memaknai “beruntung” itu adalah apabila mereka berhasil mencapai puncak kariernya dalam berbisnis dan atau menjadi bos dalam suatu kantor, atau menjadi pemilik berbagai perusahaan di kampung, di kota, di dalam negeri atau bahkan di luar negeri….

Ada juga diantara mereka mungkin yang memaknai “beruntung” itu cukup sebagai sekedar memiliki istri/suami, atau mempunyai anak, atau mempunyai rumah, atau sekedar cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari….

Disisi lain….

Ada yang memaknai “beruntung” dengan mengukur keberhasilan itu jika mereka dapat berharap kebahagiaan di Akherat setelah mati mereka…
Mereka yang seperti ini berharap memperoleh ridho Allooh, kemudian berharap surga-Nya….
Dan mereka yang seperti ini berusaha menjadikan Dunia-nya adalah sebagai penyampai pada kebaikan Akherat-nya….

Ayat di atas mengisyaratkan….
Bahwa RESEP KESUKSESAN itu adalah dengan:
IMAN…
Ruku’ dan sujud (sholat) sebagai IBADAH…
Dan…
MELAKUKAN KEBAJIKAN….

Maka….
Siapapun yang mengharap “keberuntungan”
Hendaknya ayat ini menjadi PEDOMAN baginya…

Betapapun…
Sesungguhnya ayat ini menyimbolkan ISLAM dan IMAN….

Bagi seorang MUSLIM…
Hidup itu cukup dengan satu kata…
Yaitu: HIDUP UNTUK ber-IBADAH kepada ALLOOH…..

Akan tetapi juga ingatlah…
Bahwa satu kata itu terkandung DUA TUNTUTAN di dalamnya:
1) KEIMANAN yang BENAR dan LURUS,
2) AMALAN NYATA sesuai TUNTUNAN SYARI’AT.

Karena….

TANPA IMAN yang BENAR, maka HIDUP MENJADI PERCUMA…
Bahkan hanyalah akan menjemput KERUGIAN, KEHINAAN dan KEBINASAAN….

Juga….

TANPA AMAL yang TEPAT, maka IMAN dan ISLAM-nya TIDAK lah TERBUKTI.

DUA HAL ini jelas adanya…
Bagi yang mau memperhatikan ayat di atas….

Setiap orang yang hidup haruslah sadar…
Bahwa dia itu ada di dunia ini, adalah agar dia beribadah dan berhamba kepada Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa…

IBADAH itu ada yang terkait dengan Sang Pencipta (Allooh) dengan: Ruku’ dan Sujud…
Itu adalah symbol yang paling utama dan prioritas….

Kemudian…
IBADAH itu ada juga yang bukan untuk dirinya semata-mata…
Akan tetapi, juga terhadap siapapun/apapun diluar dirinya….
Yaitu dengan BERBUAT KEBAJIKAN….
Berbuat kebajikan, baik kepada sesama manusia, atau kepada hewan, kepada tumbuhan, dan bahkan terhadap alam semesta….

Jika ibadah terhadap Allooh mereka abaikan….
Maka bukanlah Allooh yang akan merugi…
Akan tetapi…
Diri mereka sendiri lah yang akan menyesal pada akhirnya….

Jika ibadah yang bermakna “berbuat kebajikan” terhadap makhluk lain itu mereka abaikan…
Atau bahkan mereka berbuat aniaya, atau semena-mena dan menghalalkan segala cara…
Maka pastilah harapan dan cita-cita mereka untuk memperoleh “keberuntungan” akan punah,dan kandas…
Dan bahkan, penderitaan akan membayangi hidup dan kehidupan yang abadi kelak.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd)

527) JANGAN MAU MENJADI ORANG YANG MERUGI

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

(فَإِن كُنتَ فِی شَكࣲّ مِّمَّاۤ أَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ فَسۡـَٔلِ ٱلَّذِینَ یَقۡرَءُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلِكَۚ لَقَدۡ جَاۤءَكَ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِینَ ۝ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِ ٱللَّهِ فَتَكُونَ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ)

(94) “Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang yang membaca Kitab sebelummu. Sungguh, telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu,
(95) dan janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang mendustakan ayat-ayat Allooh, nanti engkau termasuk orang yang rugi.”
[QS. Yunus/10: 94 – 95]

RENUNGAN:

Selain lalai…
Selain membangkang…
Ada juga yang menyebabkan manusia menjadi orang yang “MERUGI”

“Merugi” tidak selalu berarti bahwa bisnisnya harus bangkrut saja….
“Merugi” bukan berarti bahwa modalnya tidak kembali, atau bahkan mungkin dia bisa menjadi malah berhutang…

MULAILAH untuk MENGUKUR SEGALA SESUATU itu BUKAN SEKEDAR OLEH MATERI belaka…

Seakan-akan…
Jika orang gemuk, maka otomatis berarti dia bahagia….
Seakan-akan…
Jika orang dompetnya tebal, maka otomatis dia adalah orang yang beruntung…
Seakan-akan…
Jika orang melimpah harta bendanya, maka otomatis dia adalah orang yang sukses….
Seakan-akan…
Jika orang tinggi jabatan dan status sosialnya, maka otomatis dia adalah orang mulia…
dan seterusnya….
dan seterusnya….

YANG DEMIKIAN ITU adalah UKURAN MATERI dan DUNIA…
Landasannya adalah paham MATERIALISME…

Sementara….

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa ternyata TIDAK MELIHAT dari gemuk/kurusnya badan seseorang…
Allooh TIDAK MELIHAT dari penampilan seseorang, keren atau tidak keren kah….
Allooh TIDAK MELIHAT status seseorang, punya jabatan kah atau tidak punya apa-apa…
Allooh TIDAK MELIHAT dari harta seseorang, kaya atau miskin kah….

Akan tetapi….

Justru ALLOOH MELIHAT yang LEBIH JAUH DARI ITU…
Yang orang kafir mungkin tidak membayangkannya…
Namun…
Justru itulah yang Allooh lihat

ALLOOH HANYA MELIHAT kepada HATI dan AMALAN seseorang…
APA yang DIYAKINI…
APA yang TERHUJAM DALAM HATI…
Itu lah yang ALLOOH LIHAT..
APA yang DIKATAKAN…
APA yang DIKERJAKAN…
APA yang DIAMALKAN…
ITULAH yang ALLOOH LIHAT…

ALLOOH adalah MAHA BENAR, itu adalah suatu kebenaran….
AL-QUR’AN adalah BENAR, itu adalah suatu kebenaran…
NABI MUHAMMAD sholalloohu ‘alaihi wasallam adalah BENAR, itu adalah suatu kebenaran….
JANGAN MENJADI ORANG yang RAGU atas itu semua….

Kalau kalian masih ragu dengan kebenaran Al-Qur’an…
Kalau kalian masih ragu dengan kebenaran Wahyu yang Allooh turunkan…
Maka…
PELAJARILAH…
TELUSURILAH…
LIHATLAH…
BACALAH…
Dan PERHATIKANLAH keadaan orang-orang terdahulu…
Dimana SEJARAH TELAH MEMBUKTIKAN…
Bahwa mereka orang yang pernah mendengar Wahyu Allooh…
Pernah membaca Wahyu Allooh…
Pernah diseru kepada Wahyu Allooh…
Akan tetapi kemudian mereka bersikap _ngeyel_…
Mereka bersikap menolak…
Mereka bersikap membangkang…
Bahkan mereka bersikap menentang…
Maka akhir hidup mereka tidak lain adalah hanyalah berupa KERUGIAN dan PENYESALAN, bahkan KEHINAAN yang tak ada ujungnya….

Maka….
Janganlah menjadi orang yang RAGU akan KEBENARAN ini….

Karena orang yang RAGU dengan KEBENARAN ini…
PASTILAH dia akan BERUJUNG dengan KERUGIAN…
Dengan KEKALAHAN…
Dengan PENYESALAN…
Dan KEHINAAN…
Bahkan, bukan saja disaat mereka masih menghirup udara ciptaan Allooh di dunia ini…
Akan tetapi juga setelah alam dunia yang fana ini…
Dimana kelak akan menghadap pengadilan Allooh…
Dan merasakan kutukan dan murka Allooh di Akherat nanti…

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd)

528) KEMBALILAH

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allooh memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syuro/42: 30)

Juga berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allooh menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka KEMBALI (KE JALAN YANG BENAR).” (QS. Ar-Rum/31: 41)

Dan berfirman:

وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka KEMBALI (KE JALAN YANG BENAR).” (QS. As-Sajdah/32: 21)

RENUNGAN:

Ayat surat Asy-Syuro dan Ar-Rum di atas mengisyaratkan….
Bahwa ada HUKUM KAUSALITAS dalam semesta ini….
Yaitu bahwa…
Jika manusia berbuat sesuatu, maka pastilah akan ada dampak dan akibat dari perbuatannya itu….

Dalam keyakinan Islam….
Jika seseorang beriman dan beramal shoolih, maka Allooh akan memberkahi hidupnya….
Akan membalasnya dengan kebaikan…
Bahkan akan meridhoi hidup dan kehidupannya, baik di Dunia maupun di Akhirat kelak….

Dan sebaliknya…
Jika seseorang kufur kepada Allooh dan berbuat maksiat, menyelisihi, menyeleweng, melanggar; apalagi menentang, melawan dan memusuhi Allooh…
Maka pastilah Allooh yang akan langsung membalasnya…
Baik dengan istidraj, yaitu dibiarkan berjaya untuk sementara waktu…
Namun menjadi penyesalan di Akherat kelak…
Atau maupun dengan adzab, yaitu berupa siksa, baik di dunia maupun setelah matinya…..

Ayat di atas juga mengisyaratkan…
Bahwa…
AKIBAT BURUK yang MENIMPA dan DIRASAKAN oleh MANUSIA….
Sesungguhnya sebagai AKIBAT dari PERBUATANNYA SENDIRI…
Yang pada hakekatnya, itu adalah merupakan KASIH SAYANG ALLOOH AGAR dia menjadi TIDAK LALAI…
Menjadi SADAR akan KESALAHANNYA…
Dan MENYADARI KEWAJIBAN yang harus dikerjakannya…

Ayat di atas juga mengisyaratkan…
Bahwa…
Jika yang diperintahkan oleh Allooh, lalu dilanggar oleh manusia …
Atau…
Yang semestinya suatu perkara itu harus ditinggalkan, tetapi manusia itu justru mengerjakannya…
Maka….
Semua DAMPAK BURUK akibat perbuatan manuisia itu justru menjadi BUKTI…
Bahwa Allooh memberi ISYARAT dan TEGURAN agar manusia hendaknya segera KEMBALI menuju sesuatu yang mereka cari, yaitu: KESELAMATAN dan KEBAHAGIAAN.

Surat As-Sajdah pun demikian…
Mengulang pelajaran penting kepada kita…
Bahwa Allooh turunkan azab di dunia ini, adalah semata-mata AGAR MANUSIA SADAR…
KEMBALI untuk kemudian MEYAKINI, menerima dan konsekuen untuk menjalankan misi hidupnya sesuai dengan kehendak Allooh….
Yaitu: BERIMAN dan BUKAN KUFUR…
Yaitu: TA’AT dan BUKAN berbuat MAKSIAT…

Oleh karena itu…

Siapa saja yang mengaku bahwa imannya terhujam dalam kalbunya…
Hendaknya memulai kembali merangsang dirinya untuk menjadi SENSITIF, lalu menumbuhkannya menjadi suatu KEYAKINAN YANG BENAR…
Kemudian TERUKUR dalam KIPRAH KEHIDUPANNYA sebagai suatu KONSEKUENSI…
Yaitu: BERIMAN, dan TA’AT, serta PATUH KEPADA ALLOOH SESUAI dengan KEHENDAK-Nya…
Dan BUKAN SESUAI dengan kehendak HAWA NAFSU MANUSIA…

Kembalilah segera…
Sebelum segalanya terlambat….

Kembalilah segera…
Sebelum penyesalan itu tidak lagi bermakna…

Kembalilah segera…
Sebelum penderitaan dan kehinaan tak mungkin lagi ditepis, ditolak atau bahkan diakhiri…

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd)

529) PERKATAAN BERBOBOT

Sibtu Ibnu Jauzi rohimahullooh berkata:

خيرُ الكلامِ ما قل ودل، ولم يَطُل فيُمل

“Sebaik-baik perkataan adalah PENDEK namun BERDALIL, dan tidak panjang karena akan membosankan.”

(Sibtu Ibnu Jauzi [wafat 654 H], Miratuz Zaman, 1/6)

530) PEMICU KEGADUHAN

Al-Muttaqi Al-Hindy rohimahullooh berkata:

أخاف على أمتي من بعدي ضلالة الهوى واتباع الشهوات وهي البطون والفروج والغفلة بعد المعرفة

“Aku takut tiga hal menimpa ummatku: “Aku takut pada ummatku jika: 1) Kesesatan terjadi (akibat) hawa nafsu; 2) Syahwat yang diikuti, yaitu syahwat perut dan syahwat kemaluan; dan 3) Kelalaian setelah berpengetahuan.”

(Al-Muttaqi Al-Hindy, Kandzul ‘Ummal, 10/183, no: 28967)

531) PENJAHAT

Maalik bin Dinar rohimahullooh berkata:

وكفى بالمرء شراً أن لا يكون صالحاً ويقع بالصالحين

“Cukuplah seseorang disebut penjahat, manakala dia tidak menjadi orang yang shoolih, padahal dia berada di tengah-tengah orang orang shoolih.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/167)

532) PENGKHIANAT

Maalik bin Dinar rohimahullooh berkata:

كفى بالمرء خيانة أن يكون أميناً للخونة

“Cukuplah seseorang disebut penghianat, manakala dia menjadi orang kepercayaan bagi para pengkhianat.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/167)

533) TIDAK ADA YANG TERSEMBUNYI

Al-Imaam Ibnu Jariir ath-Thobary rohimahullooh ketika menafsirkan QS. An-Naml/27: 75, berkata :

وَمَا مِنْ) مكتوم سرّ وخفيّ أمر يغيب عن أبصار الناظرين (فِي السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِلا فِي كِتَابٍ) وهو أمّ الكتاب الذي أثبت ربنا فيه كلّ ما هو كائن من لدن ابتدأ خلق خلقه إلى يوم القيامة

“Tidak ada serahasia apapun, setersembunyi apapun dari jangkauan pandangan manusia, baik itu di langit maupun di bumi, kecuali Allooh telah catat dalam Al-Lauhul Mahfuudz, sejak diciptakannya sesuatu yang ada hingga Hari Kiamat.”

(Ath-Thobary [wafat 310 H], Tafsir ath-Thobary, 19/494)

534) PERBUATAN HAROM YANG PALING BURUK

Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullooh berkata:

الرِّضَا بِالْخَطَايَا مِنْ أَقْبَحِ الْمُحَرَّمَاتِ، وَيَفُوتُ بِهِ إِنْكَارُ الْخَطِيئَةِ بِالْقَلْبِ، وَهُوَ فَرْضٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، لَا يَسْقُطُ، عَنْ أَحَدٍ فِي حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ

“Sikap “rela menerima terhadap maksiat (yang ada)” adalah perbuatan harom yang paling buruk; dia lah yang mengakibatkan hilangnya “mengingkari dengan hati sekalipun”, sementara perintah mengingkari kemaksiatan itu tidak berhenti dari siapapun dalam keadaan apa pun.”

(Ibnu Rojab al-Hambaly [wafat 795 H], Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, 2/245)

535) MENYALAGGUNAKAN HARTA AMANAH

Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ رِجَالًا يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Sungguh ada banyak orang yang mereka itu menyalahgunakan harta Allooh dengan cara yang tidak benar; maka bagi mereka adalah neraka pada Hari Kiamat.”

(HR. Al-Bukhoory no: 3118, dari Ibnu Abi ‘Iyyaasy rodhiyalloohu ‘anhu)

536) SELALU MENGINGAT ALLOOH

Abu ‘Utsman rohimahullooh berkata:

الذكر الكثير أن تذكر في ذكرك أنك لا تصل إلى ذكره إلا به وبفضله

“Sikap selalu berdzikir kepada Allooh adalah engkau selalu ingat dalam pikiranmu, bahwa engkau tidak akan dapat mengingat-Nya, kecuali hanya karena keutamaan dari-Nya.”

(Ibnul Jauzy [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/302)

537) MANUSIA TER……..

1) Manusia ter-TAQWA, adalah Manusia yang senantiasa Mengingat Allooh dan tidak melupakan-Nya.
2) Manusia ter-LURUS, adalah Manusia yang senantiasa Mengikuti pedoman Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan Rosuul-Nya shollalloohu ‘alaihi wasallam
3) Manusia ter-BIJAK, adalah Manusia yang menghukumi orang lain seperti ia menghukumi dirinya sendiri
4) Manusia ter-‘ALIM, adalah Manusia yang tidak pernah merasa kenyang dari ‘ilmu (diin)
5) Manusia ter-MULIA, adalah Manusia yang mampu marah, akan tetapi juga mampu memaafkan
6) Manusia ter-KAYA, adalah Manusia yang menerima terhadap apapun yang Allooh berikan
7) Manusia ter-MISKIN, adalah Manusia yang miskin jiwa dan tidak pernah merasa puas

(disarikan dari HR. ibnu Hibban no: 6217, diHasankan oleh Syaikh Syu’aib al-Arna’uuth dan Syaikh Nashiruddiin al-Albaany)

538) MAKHLUQ PALING CURANG

Muthorrif bin ‘Abdullooh bin asy-Syikhkhiir berkata:

أنصحُ عبادِ اللَّهِ لِلْمُؤْمِنِينَ الملائكةُ، وأغشُّ عِبَادِ اللَّهِ لِلْمُؤْمِنِينَ الشياطينُ

“Makhluq Allooh yang paling besar peran nasehatnya pada Manusia adalah Malaikat; sedangkan makhluq yang paling curang adalah Syaithon.”

(Ibnu Katsir [wafat 774], Tafsir Ibnu Katsir, 7/132)

539) DIANTARA PENYEBAB MASUK SURGA

Sa’id bin Jubair berkata:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا دَخَلَ الْجَنَّةَ سَأَلَ عَنْ أَبِيهِ وَابْنِهِ وَأَخِيهِ، وَأَيْنَ هُمْ؟ فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ لَمْ يَبْلُغُوا طَبَقَتَكَ فِي الْعَمَلِ فَيَقُولُ: إِنِّي إِنَّمَا عَمِلْتُ لِي وَلَهُمْ. فَيُلحَقُونَ بِهِ فِي الدَّرَجَةِ

“Sesungguhnya apabila seorang mu’min itu masuk surga, maka dia akan (mencari dan) menanyakan tentang bapaknya, anaknya dan saudaranya, “Dimana mereka (sekarang)?” Ketika jawabannya adalah: “Amalan mereka tidak sederajat denganmu”, maka dia berkata: “Ya Allooh, sungguh saat dulu aku di dunia beramal, maka amalan itu kutujukan untuk diriku dan untuk mereka”; maka akhirnya semua mereka disederajatkan.”

(Ibnu Katsir (Wafat 774), Tafsir Ibnu Katsir, 7/132)

540) MU’MINKAH?

Abdullooh bin ‘Amer berkata:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَجْتَمِعُونَ وَيُصَلُّونَ فِي الْمَسَاجِدِ وَلَيْسَ فِيهِمْ مُؤْمِنٌ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana mereka berkumpul dan sholat di masjid, akan tetapi tidak ada diantara mereka seorangpun yang beriman.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Iman, hal.40)

541) KESADARAN TINGGI

Diantara do’a orang shoolih terdahulu:

جرمي عظيم وعفوك كثير فاجمع بين جرمي وعفوك يا كريم.

“Ya Allooh dosaku (kepada-Mu) besar, sedangkan maaf-Mu (sangat) lah banyak; maka kumpulkanlah dosaku kedalam maaf-Mu, wahai Dzat Yang Maha Mulia”
(Ibnu Rojab al-Hambaly [wafat 795 H], Lathoiful Ma’aarif, hal. 206)

542) DO’A MENYAMBUT ROMADHOON

Yahya bin Katsir rohimahullooh, apabila menjelang tibanya bulan Romadhoon, beliau berdo’a:

اللهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

“Ya Allooh, sampaikanlah aku (dalam keadaan selamat) pada bulan Romadhoon, serahkanlah padaku (segenap kebaikan) Romadhoon, dan terimalah dariku (segenap apa yang telah kuupayakan pada bulan Romadhoon).”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 3/69)

543) BERAMAL, TAPI TAKUT

Maalik bin Dinar rohimahullooh berkata:

الْخَوْفُ عَلَى الْعَمَلِ أَنْ لَا يُتَقَبَّلَ أَشَدُّ مِنَ الْعَمَلِ

“Takut amal tidak diterima itu, lebih besar daripada sekedar beramal.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 2/377)

544) CURANG DALAM SHOLAT

Salman al-Faarisy rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

الصَّلَاةُ مِكْيَالٌ فَمَنْ وَفَّى مِكْيَالَهُ وُفِّيَ لَهُ وَمَنْ طَفَّفَ فَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْمُطَفِّفِينَ

“Sholat itu bagaikan takaran, barangsiapa yang tepat dalam takarannya, maka tepat pula pahala baginya; akan tetapi jika dia curang, maka kalian tahu (konsekwensinya) seperti firman Allooh tentang orang-orang yang curang.”
(Abul Laits as-Samarqondy [wafat 373 H], Tanbihul Ghofiliin, hal. 273)

545) AMAL DAN TAQWA

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

«كُونُوا لِقَبُولِ الْعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا بِالْعَمَلِ فَإِنَّهُ لَنْ يُقْبَلَ عَمَلٌ إِلَّا مَعَ التَّقْوَى وَكَيْفَ يَقِلُّ عَمَلٌ يُتَقَبَّلُ؟ كَانُوا بِاللَّهِ عَالِمِينَ وِلِعِبَادِهِ نَاصِحِينَ»

“Jadilah kalian orang yang sangat memperhatikan amalan kalian, sebab suatu amalan itu tidak akan diterima, kecuali jika disertai Taqwa; (dengan Taqwa) maka sekecil apapun suatu amalan pasti akan diterima. Mereka (orang ber-Taqwa) adalah orang yang paling tahu tentang Allooh, dan paling gigih memberi nasehat pada manusia.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/388)

546) AMALAN YANG DITERIMA

Fudholah bin ‘Ubaid rohimahullooh berkata:

لَأَنْ أَعْلَمَ أَنَّ اللهَ تَقَبَّلَ مِنِّي مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ: {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ} [المائدة: 27]

“Seandainya Allooh menerima amal sekecil apapun dariku maka akan lebih kusukai, dibandingkan dengan dunia serta seisinya; karena Allooh hanya akan menerima amalan orang-orang yang ber-Taqwa (QS. al-Maa’idah/5: 27).”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 3/69)

547) WASPADALAH

‘Atho as-Sulamy rohimahullooh berkata:

الحذر الاتقاء على العمل أن لا يكون لله

“Waspadalah kalian dalam menjaga amalan, jangan sampai tidak karena Allooh (tidak ikhlash).”
(Ibnu Rojab al-Hambaly [wafat 795 H], Lathoiful Ma’aarif, hal. 209)

548) GALAU

‘Abdul ‘Aziz bin Abu Ruwwad rohimahullooh berkata:

أدركتهم يجتهدون في العمل الصالح فإذا فعلوه وقع عليهم الهم أيقبل منهم أم لا

“Aku menjumpai, mereka (orang-orang shoolih) itu bersungguh-sungguh dalam beramal shoolih, sembari mereka gelisah apakah amalan mereka itu diterima ataukah tidak.”
(Ibnu Rojab al-Hambaly [wafat 795 H], Lathoiful Ma’aarif, hal. 209)

549) BERDO’A SEPANJANG TAHUN

Ibnu Rojab al-Hambaly rohimahullooh berkata:

قال بعض السلف كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم

“Dahulu kala, sebagian orang-orang terdahulu dari ummat ini (salaf) berdo’a, memohon kepada Allooh sejak 6 bulan (sebelumnya) agar mereka sampai pada bulan Romadhoon, kemudian setelah Romadhoon merekapun kembali berdo’a, memohon agar ibadah mereka di bulan Romadhoon diterima oleh Allooh.”
(Ibnu Rojab al-Hambaly [wafat 795 H], Lathoiful Ma’aarif, hal. 209)

550) SELEPAS 30 HARI 30 MALAM

Pada hari raya ‘Iedul Fithri, keluarlah Kholifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz untuk berkhutbah, dan dalam khuthbahnya beliau berkata:

أيها الناس إنكم صمتم لله ثلاثين يوما وقمتم ثلاثين ليلة وخرجتم اليوم تطلبون من الله أن يتقبل منكم

“Wahai manusia, sungguh kalian telah shoum (puasa) 30 hari dan malamnya Tarawih 30 hari, dan sekarang kalian pun keluar bermohon agar semua ibadah kalian diterima oleh Allooh.”
(Ibnu Rojab al-Hambaly [wafat 795 H], Lathoiful Ma’aarif, hal. 209)

551) MENANGIS DI HARI RAYA

Saat kembali dari sholat ‘Ied, Shoolih bin ‘Abdul Jalil menangis; maka ditegurnyalah ia oleh keluarga dan kerabatnya bahwa ini adalah hari untuk berbahagia; maka beliau pun menjawab:

صَدَقْتُمْ وَلَكِنِّي عَبْدٌ أَمَرَنِي سَيِّدِي أَنْ أَعْمَلَ لَهُ عَمَلا فَعَمِلْتُهُ، فَلا أَدْرِي أَقَبِلَهُ مِنِّي أَمْ لا؟ فَالأَوْلَى بِي طُولُ الْحُزْنِ!

“Kalian benar, akan tetapi aku hanyalah seorang hamba yang diperintah Tuannya (Allooh) agar beramal, lalu kutunaikan; akan tetapi apakah amalanku itu diterima ataukah tidak, maka aku tidak tahu; maka sewajarnyalah aku senantiasa bersedih.”
(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], At-Tabshirih, 2/110)

552) DAFTAR MENJADI GOLONGAN YANG MANA?

Rosuulullooh shollalloohu ‘laihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الغَافِلِينَ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ القَانِتِينَ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ المُقَنْطِرِينَ

“Barangsiapa yang bangun malam dan membaca 10 ayat, maka dia akan dicatat bukan dari golongan orang-orang yang lalai; barangsiapa yang bangun malam dan membaca 100 ayat, maka dia akan dicatat sebagai orang-orang ta’at; dan barangsiapa yang bangun malam dan membaca 1000 ayat, maka dia akan dicatat sebagai orang yang berhak memperoleh pahala yang besar.”
(HR. Abu Dawud no: 1398, dari ‘Abdullooh bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu ‘anhu, dishohihkan oleh Syaikh Nashiruddiin al-Albaany)

553) DOA MELIHAT HILAL

Apabila melihat Hilal di awal bulan, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berdo’a:

اللهم أهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله

“Alloohumma ahillaahu ‘alainaa bil yumni wal iimaani was salaamati wal islaami, Robbi wa Robbuka Allooh (Ya Allooh perjalankanlah bulan ini kepada kami dengan penuh kebajikan, imaan, selamat dan islam. Robb-ku dan Robb-mu (bulan) adalah Allooh).”
(HR. At-Turmudzy no: 3451, dari Tholhah bin ‘Ubaidillaah rodhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin al-Albaany)

554) GANTILAH DENGAN TASBIH

‘Abdullooh bin al-Mubaarok rohimahullooh berkata:

وَإِذَا مَا هَمَمْتَ بِالنُّطْقِ فِي الْبَا … طِلِ فَاجْعَلْ مَكَانَهُ تَسْبِيحَا

“Jika engkau berkeinginan untuk berbicara yang bathil, maka segera gantilah dengan bertasbih (Subhaanallooh).”
(Al-Khothiib al-Baghdaady [wafat 463 H], Iqtidhoul ‘Ilmi wal Amal, hal. 105, no: 180)

555) SHOUMLAH, JIKA HILAL ROMADHOON TERLIHAT

Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Shoumlah kalian jika kalian melihat Hilal (bulan sabit), dan berbukalah kalian jika kalian melihat Hilal.”
(HR. Al-Bukhoory no: 1909 dan HR. Muslim no: 1081, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

556) APABILA ROMADHOON TIBA

Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika Romadhoon tiba, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithon pun dibelenggu.”
(HR. Al-Bukhoory no: 3277 dan HR. Muslim no: 1079, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

557) BERSEGERALAH BERBUKA

Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ

“Senantiasa manusia (Ummat Islam) ini dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka (shoum).”
(HR. Al-Bukhoory no: 1957 dan HR. Muslim no: 1098, dari Sahal bin Sa’ad rodhiyalloohu ‘anhu)

558) JARAK ANTARA SAHUR KE ADZAN SUBUH

Ketika Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam ditanya : “Seberapa lamakah antara sahur dengan adzan?”
Maka beliau menjawab:

قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Seberapa lamakah antara sahur dengan adzan?” Maka beliau menjawab: “Sekedar seseorang membaca 50 ayat”.
(HR. Al-Bukhoory no: 1921 dan HR. Muslim no: 1097, dari Zaid bin Tsabit rodhiyalloohu ‘anhu)

559) MA’AF, AKU SEDANG SHOUM

Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا، فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ

“Jika suatu hari dimana seorang kalian dalam keadaan shoum, maka janganlah berbuat maksiat atau perkara yang sia-sia; dan jika ada orang yang mencaci atau menyerangmu, maka katakanlah olehmu: “Aku sedang shoum”.”
(HR. Al-Bukhoory no: 1894 dan HR. Muslim no: 1151, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

560) SEHARUM MISIK

Rosuulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلْفَةُ فَمِ الصَّائِمِ، أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Demi yang jiwaku ditangan-Nya, bau mulut orang yang sedang shoum itu (di sisi Allooh) lebih harum dari misik.”
(HR. Al-Bukhoory no: 5927 dan HR. Muslim no: 1151, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

561) AKHIRKANLAH SAHUR

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

بكِّروا بالإفطارِ، وأخِّروا السحورَ»

“Bersegeralah kalian berbuka, dan akhirkanlah sahur.”
(Shohihul Jaami’ush Shoghiir no: 2835, dari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu)

562) DO’A BERBUKA SHOUM

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“DZAHABAZH ZHOMAA’U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU IN SYAA ALLOOH”
(Dahaga telah hilang, urat-urat telah telah basah dan pahala telah Allooh tetapkan; in syaa Allooh).”

(Shohihul Jaami’ush Shoghiir no: 5678)

563) SEDIKIT TETAPI BERMANFAAT

Abu ‘Abdillaah ar-Ruudzabaary berkata:

مَنْ خَرَجَ إِلَى الْعِلْمِ يُرِيدُ الْعِلْمَ لَمْ يَنْفَعْهُ الْعِلْمُ، وَمَنْ خَرَجَ إِلَى الْعِلْمِ يُرِيدُ الْعَمَلَ بِالْعِلْمِ نَفَعَهُ قَلِيلُ الْعِلْمِ

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk mencari ilmu, yang sekedar ilmu, maka ilmunya tidak akan memberinya manfaat; dan barangsiapa yang keluar untuk mencari ilmu untuk mengamalkan ilmunya, maka ilmunya akan bermanfaat baginya, betapa pun sedikit.”
(Al-Khothib al-Baghdaady [wafat 463 H], Iqtidho’ul ‘Ilmi al ‘Amali, hal. 31, no: 29)

564) AMALANMU BESOK

Al-Hasan al-Bashri rohimahullooh berkata:

يا ابْن آدم، عملك عملك، فإنما هو لحمك ودمك، فانظر على أي حال تلقى عملك

“Wahai anak Adam, sungguh perhatikanlah amalan kalian; sesungguhnya dia adalah darah dagingmu. Seperti apakah besok, akan kalian temui.”
(Al-Mizzy [wafat 742 H], Tahdzibul Kamal fii Asma’i Rijaal, 6/116)

565) SEMUANYA UNTUNG

Luqman berpesan pada anaknya:

يا بني بع دنياك بآخرتك تربحهما جميعاً ولا تبع آخرتك بدنياك تخسرهما جميعاً

“Wahai anakku, juallah duniamu untuk akheratmu, niscaya engkau akan mendapatkan keuntungan dalam keduanya, dan janganlah sekali-kali engkau jual akheratmu untuk duniamu, niscaya engkau akan rugi pada keduanya.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Uluumiddin, 3/208)

566) LEBIH BESAR PAHALANYA

Ketika ditanya tentang sedekah manakah yang lebih besar pahalanya, maka Rosuulullooh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ

“Engkau bersedekah disaat engkau masih sehat, disaat engkau takut menjadi fakir, dan disaat engkau berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, barulah engkau berkata, ‘Untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian’, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan.”
(HR. Al-Bukhoory no: 1419 dan HR. Muslim no: 1032, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

567) MENDO’AKAN ORANG DZOLIM

Al-Imam al-Hasan al-Bashri berkata:

مَنْ دَعَا لِظَالِمٍ بِالْبَقَاءِ فَقَدْ أَحَبَّ أَنْ يُعْصَى اللَّهُ

“Barangsiapa yang mendo’akan agar orang dzolim itu langgeng, maka berarti dia suka jika Allooh dimaksiati.”
(Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Ash-Shomtu, hal. 273, no: 600)

568) HAKEKAT IMAN

Al-Imam al-Fudhoil bin ‘Iyaadh rohimahullooh berkata:

لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يَعُدَ الْبَلَاءَ نِعْمَةً وَالرَّخَاءَ مُصِيبَةً , وَحَتَّى لَا يُبَالِي مِنْ أَكَلِ الدُّنْيَا وَحَتَّى لَا يُحِبُّ أَنْ يُحْمَدَ عَلَى عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Seorang hamba tidak akan sampai pada Iman yang hakiki, sehingga dia menganggap ujian adalah nikmat, dan kesenangan adalah musibah; sehingga dia tidak peduli terhadap makanan dunia dan tidak suka dipuji karena ibadahnya.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 8/94)

569) LELAH TAPI SIA-SIA

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

“Berapa banyak orang yang shoum, tetapi tidak ada yang didapatnya kecuali lapar dan haus; berapa banyak orang yang melakukan qiyamul lail, tetapi tidak ada yang diperolehnya kecuali begadang.”
(HR Ahmad no: 8856, sanadnya shohiih)

570) DO’A YANG TERKABUL

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثلاث دعوات مستجابات: دعوة الصائم ودعوة المظلوم ودعوة المسافر

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa: 1) Do’a orang yang shoum; 2) Do’a orang yang teraniaya; dan 3) Do’a musafir.”
(Nashiruddiin al-Albaany, Shohiih al-Jaami’ush Shoghiir, no: 3030)

571) TANDA TAQWA

‘Abdullooh bin Az-Zubair rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

من صبرٍ على البلاء، ورضىً بالقضاء، وشكرٍ النعماء، وذُلٍّ لحكم القرآن

“Tanda ketaqwaan adalah: 1) Sabar menghadapi ujian; 2) Ridho terhadap keputusan Allooh; 3) Mensyukuri nikmat-Nya; dan 4) Tunduk pada hukum Al-Qur’an.”
(Ibnul Jauzi [wafat 597], Shifatush Shofwah, 1/303-304)

572) QONA’AH

Ibnul Jauzi rohimahullooh berkata:

مَنْ قنع، طَاب عيشه، وَمِنْ طمع، طَالَ طَيشه

“Barangsiapa yang Qona’ah, maka dia akan merasakan hidup yang baik, dan barangsiapa yang rakus maka dia akan lama dalam kesengsaraan.”
(Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyar A’laamin Nubalaa, 21/371)

573) SABAR

Al-Haarits al-Muhasiby berkata:

الصدق فِي ثَلَاثَة أَشْيَاء لَا تتمّ إِلَّا بِهِ صدق الْقلب بِالْإِيمَان تَحْقِيقا وَصدق النِّيَّة فِي الْأَعْمَال وَصدق اللَّفْظ فِي الْكَلَام

“Sabar itu dalam 3 hal: 1) Sabar terhadap segala yang diharamkan Allooh; 2) Sabar selama mengikuti perintah Allooh; dan 3) Sabar menghadapi bencana.”
(Al-Haarits al-Muhasiby [wafat 243 H], Risalatul Mustarsyidiin, hal. 170)

574) JUJUR

Al-Haarits al-Muhasiby berkata:

وَالصَّبْر فِي ثَلَاثَة أَشْيَاء لَا تتمّ إِلَّا بِهِ الصَّبْر عَن محارم الله وَالصَّبْر على اتِّبَاع أَمر الله وَالصَّبْر عِنْد المصائب احتسابا لله

“Jujur itu dalam 3 hal : 1) Jujur terhadap maksiat; 2) Jujur niat dalam beramal; dan 3) Jujur mulut dalam berbicara.”
(Al-Haarits al-Muhasiby [wafat 243 H], Risalatul Mustarsyidiin, hal. 170)

575) SEDERHANA

Sufyan ats-Tsauri berkata:

عَلَيْكَ بِالْقَصْدِ فِي مَعِيشَتِكَ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَتَشَبَّهَ بِالْجَبَابِرَةِ، وَعَلَيْكَ بِمَا لَا يُقْرِفُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَاللِّبَاسِ وَالْمَرْكَبِ، وَلْيَكُنْ أَهْلُ مَشُورَتِكَ أَهْلَ التَّقْوَى، وَأَهْلَ الْأَمَانَةِ، وَمَنْ يَخْشَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Sederhanalah dalam hidup, jangan tiru orang yang tirani; hati-hatilah dengan orang yang sembrono dalam makanan minuman, pakaian dan kendaraan; ambillah pembimbing rohanimu orang yang bertaqwa, amanah, dan takut pada Allooh.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 7/12)

576) GERBANG TAQWA

‘Aun bin ‘Abdillah berkata:

فَوَاتِحَ التَّقْوَى حُسْنُ النِّيَّةِ، وَخَوَاتِيمُهَا التَّوْفِيقُ، وَالْعَبْدُ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ بَيْنَ هَلَكَاتٍ، وَشُبُهَاتٍ، وَنَفْسٍ تَحْطِبُ عَلَى شِلْوِهَا، وَعَدُوٍّ مَكِيدٍ غَيْرِ غَافِلٍ وَلَا عَاجِزٍ

“Pintu-pintu Taqwa adalah: Niat yang baik dan akhirnya adalah Taufiq; sedangkan diantara keduanya adalah kehinaan, keremangan, jiwa yang rakus, musuh yang selalu bermakar.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 4/250)

577) MEMATIKAN SUNNAH NABI

Hassan bin ‘Athiyyah berkata:

ما ابتدع قوم في دينهم بدعه إلا نزع الله مثلها من السنة ثم لا يردها عليهم إلا يوم القيامة

“Tidaklah suatu kaum mengerjakan kebid’ahan dalam agama satu saja, niscaya Allooh akan cabut satu sunnah yang semisal dengannya; tidak akan Allooh kembalikan hingga hari kiamat.”
(Al-Harowi [wafat 481 H], Dzammul Kalam wa Ahluhu, 5/120, no. 913)

578) SESAT DAN MENYESATKAN

‘Umar bin al-Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

إِيَّاكُمْ وَأَصْحَابَ الرَّأْيِ , فَإِنَّهُمْ أَعْدَاءُ السُّنَنِ , أَعْيَتْهُمُ الْأَحَادِيثُ أَنْ يَحْفَظُوهَا فَقَالُوا بِالرَّأْيِ , فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Waspadalah kalian dengan mereka yang selalu menggunakan pendapat akalnya (rasionalis); sesungguhnya mereka adalah musuh sunnah; hadits-hadits telah membutakan mereka dari menjaganya, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”
(Al-Laalika’i [wafat 418 H], Syarah Ushul ‘I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 1/139, no. 201)

579) SHOUM DARI PERKARA DUNIA

Orang bijak berkata:

صم عن الدنيا وأفطر على الآخرة وإن رأس مال الدنيا الهوى وربحها النار

“Berpuasalah kamu dari perkara dunia dan berbukalah dengan perkara akherat; sungguh modal dunia itu adalah hawa nafsu dan untuknya adalah neraka (kalau tidak dituntun oleh syari’at – Pent ).”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihya’u ‘Ulumuddiin, 3/207)

580) MANFAAT HARTA

Al-Ghozaali berkata:

من عدم المال صار مستغرق الأوقات في طلب الأقوات وفي تهيئة اللباس والمسكن وضرورات المعيشة ثم يتعرض لأنواع من الأذى تشغله عن الذكر والفكر ولا تندفع إلا بسلاح المال ثم ذلك يحرم عن فضيلة الحج والزكاة والصدقات وإفاضة الخيرات

“Orang yang yang berpunya akan bersibuk waktu dalam mencari sesuap nasi, mempersiapkan pakaian, tempat tinggal dan keperluan hidup lainnya, bahkan bisa terhalang dari beribadah haji, berzakat, dan atau bershodaqoh; sedangkan tidak mustahil dia akan tersibukkan dari berdzikir dan berfikir, dimana itu semua tidak dapat dipungkiri akan terlepas, jika dia bersenjatakan harta.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihya’u ‘Ulumuddiin, 4/104)

581) PERBANDINGAN

Al-Ghozaali berkata:

الدنيا كالثلج الموضوع في الشمس لا يزال في الذوبان إلى الانقراض والآخرة كالجوهر الذي لا فناء له فبقدر قوة اليقين والمعرفة بالتفاوت بين الدنيا والآخرة

“Dunia itu bagaikan es yang diletakkan pada matahari, dimana dia akan menguap hingga habis; sedangkan akherat adalah bagaikan permata, dia akan tetap ada; maka sekokoh apa keyakinan dan pengetahuan seseorang, maka akan ditemukan perbandingannya antara dunia dan akherat.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihya’u ‘Ulumuddiin, 4/217)

582) MODAL

Ja’far bin Muhammad berkata:

«لَا زَادَ أَفْضَلُ مِنَ التَّقْوَى، وَلَا شَيْءَ أَحْسَنُ مِنَ الصَّمْتِ، وَلَا عَدُوَّ أَضَرُّ مِنَ الْجَهْلِ، وَلَا دَاءَ أَدْوَى مِنَ الْكَذِبِ»

“Tidak ada bekal terbaik selain Taqwa, tidak ada perkara terbaik selain tutup mulut, tidak ada musuh terkesumat selain kebodohan, dan tidak ada penyakit paling ganas selain dusta.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 1/196)

583) JEMBATAN MENUJU AKHERAT

Disampaikan oleh al-Ghozali suatu dialog dengan orang bijak tentang : “Apa itu Kenikmatan….” :

ما النعيم فقال الغنى فإني رأيت الفقير لا عيش له قيل زدنا قال الأمن فإني رأيت الخائف لا عيش له قيل زدنا قال العافية فإني رأيت المريض لا عيش له قيل زدنا قال الشباب فإني رأيت الهرم لا عيش له وكأن ما ذكره إشارة إلى نعيم الدنيا ولكن من حيث إنه معين على الآخرة فهو نعمة

Pertanyaan:
“… Menjadi orang kaya?”
Jawaban:
“Orang miskin, tidak memiliki keperluan hidup.”
Pertanyaan:
“… Kondisi aman?”
Jawaban:
“Orang yang ketakutan, tidak dapat menikmati kehidupan.”
Pertanyaan:
“… Kondisi sehat?”
Jawaban:
“Orang sakit, tidak menikmati kehidupan.”
Pertanyaan:
“… Masa Pemuda?”
Jawaban:
“Orang lanjut usia, juga tidak menikmati kehidupan.”
“Semua ini adalah kenikmatan duniawi, tetapi dia baru merupakan KENIKMATAN, jika dijadikan sebagai jembatan menuju akherat.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 4/104)

584) SHOLAT DI MALAM LAILATUL QODAR

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari no. 1901, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

585) DOA LAILATUL QODAR

Dari ‘Aa’isyah rodhiyalloohu ‘anha, beliau bertanya kepada Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam merupakan Lailatul Qodr, apa yang harus aku ucapkan di malam itu?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII (Ya Allooh, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, maka maafkanlah diriku).”
(HR. Ahmad no: 25384, HR. At-Turmudzi no: 3513, HR. Ibnu Majah no: 3850, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albaany)

586) TANDA MALAM LAILATUL QODAR

Rosuulullooh shollalloohu ’alaihi wasallam bersabda tentang (tanda-tanda) Lailatul Qadr:

ليلةٌ سَمْحةٌ طَلْقةٌ ، لا حارَّةٌ ولا باردةٌ ، تُصبِحُ شمسُها صبيحَتَها ضعيفةً حمراءَ

“Sesungguhnya (ia adalah) malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak (berudara) panas maupun dingin, matahari terbit di pagi harinya dengan cahaya kemerah-merahan (tidak terik).”
(HR. Ath-Thayalisi no: 2680, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Al-Albaany dalam Shohiih al-Jaami’ no: 5475)

587) BERSARAPAN SEBELUM PERGI SHOLAT ‘IEDUL FITHRI

Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

“Adalah Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam tidak pergi (ke lapangan untuk sholat ‘Ied) pada hari raya ‘Iedul Fithri, kecuali sebelumnya beliau memakan beberapa butir kurma (sebanyak hitungan ganjil).”
(HR. Al-Bukhoory no: 953)

588) SALING MENGUCAPKAN SELAMAT DI HARI RAYA

Dari Abu Umamah al-Bahili dan lain-lain rodhiyalloohu ‘anhum, berkata:

فَكَانُوا إذَا رَجَعُوا مِنْ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لَبَعْضٍ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Adalah para sahabat Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam, apabila mereka pulang dari sholat ‘Ied, satu sama lain saling mengucapkan TAQOBBALALLOOHU MINNA WA MINKA (Semoga Allooh menerima amalanku dan amalanmu).”
(Ibnu Qudamah al-Maqdisy, Al-Mughni (2/296), dari Abu Umamah al-Bahili dan lain-lain; dan Imam Ahmad berkata: “Hadits Abu Umamah sanadnya jayyid”, dishohiihkan oleh Syaikh al-Albaany dalam kitab “Tamamul Minnah”, hal. 355)

589) DIANTARA LAFADZ TAKBIR DI HARI RAYA (#1)

Takbir ‘Umar bin Al-Khoththoob, Ali bin Abi Thoolib dan ‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhum; juga diikuti oleh Sufyan Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan ‘Abdullooh bin al-Mubaarok adalah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

“ALLOOHU AKBAR, ALLOOHU AKBAR, ALLOOHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLALLOOHU WALLOOHU AKBAR, ALLOOHU AKBAR WA LILLAAHIL HAMD.”

Artinya:
“Allooh Maha Besar, Allooh Maha Besar, Allooh Maha Besar. Tiada Tuhan yang benar dan berhak diibadahi selain Allooh, Allooh Maha Besar, Allooh Maha Besar dan segala puji bagi Allooh”.
(Ibnu Qudamah al-Maqdisy [wafat 620 H], Al-Mughni, 2/293)

590) DIANTARA LAFADZ TAKBIR DI HARI RAYA (#2)

Takbir Al-Imam Asy-Syaafi’iy rohimahullooh :

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ” اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدَّيْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

“ALLOOHU AKBAR, ALLOOHU AKBAR, ALLOOHU AKBAR…. ALLOOHU AKBAR KABIIRAA, WALHAMDULILLAAHI KATSIIRAA… WA SUBHAANALLOOHI BUKRATAW – WA ASHILLAA… ALLOOHU AKBAR WALAA NA’BUDU ILLALLOOH, MUKHLISHIINA LAHUDDIIN… WALAU KARIHAL – KAAFIRUUN… LAA – ILAAHA – ILLALLOOHU WAHDAH, SHODAQO WA’DAH, WA NASHORO ‘ABDAH, – WA HAZAMAL – AHZAABA WAHDAH. LAA – ILAAHA ILLALLOOHU WALLOOHU AKBAR.”

Artinya:
“Allooh Maha Besar, Allooh Maha Besar, Allooh Maha Besar… Allooh Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allooh. Dan segala puji bagi Allooh sebanyak-banyaknya. Allooh Maha Besar. Dan tiada Tuhan yang benar dan berhak diibadahi selain Allooh dan kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang kafir membencinya. Tiada Tuhan selain Allooh dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allooh, Allooh Maha Besar.”
(Imam Asy-Syaafi’iy [wafat 204 H], Al-Umm, 1/276)

591) HUSNUDZDZON YANG SALAH

Al-Hasan al-Bashri rohimahullooh berkata:

إِنَّ قَوْمًا أَلْهَتْهُمْ أَمَانِيُّ الْمَغْفِرَةِ حَتَّى خَرَجُوا مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ تَوْبَةٍ، يَقُولُ أَحَدُهُمْ: لِأَنِّي أُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّي، وَكَذَبَ، لَوْ أَحْسَنَ الظَّنَّ لَأَحْسَنَ الْعَمَلَ

“Sungguh banyak orang yang dibuat lalai oleh angan-angan adanya pengampunan hingga dia mati tanpa bertaubat; sampai-sampai dari mereka ada yang berkata: “Saya berbaik sangka pada Allooh”, padahal itu adalah sikap dusta; kalau saja mereka benar, maka dia akan beramal dengan sebaik mungkin.”
(Ibnu Qoyyim [wafat 751 H], Al-Jawabul Kaafi, hal 28)

592) ANDA, BUKAN ORANG LAIN

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

يَرْحَمُ اللَّهُ رَجُلًا لَمْ يُغْرِهِ مَا يَرَى مِنْ كَثْرَةِ النَّاسِ، ابْنَ آدَمَ تَمُوتُ وَحْدَكَ وَتَدْخُلُ الْقَبْرَ وَحْدَكَ وَتُبْعَثُ وَحْدَكَ وَتُحَاسَبُ وَحْدَكَ، ابْنَ آدَمَ، أَنْتَ الْمَعْنِيُّ وَإِيَّاكَ يُرَادُ

“Berbahagialah orang yang tidak tertipu dengan banyaknya orang. Wahai manusia, engkau akan mati sendirian, masuk kuburan sendirian, dibangkitkan sendirian dan dihisab juga sendirian. Wahai manusia, engkaulah yang dimaksud dan dirimulah yang dituju.”
(Ahmad bin Hambal [wafat 241 H), Az-Zuhdu, hal. 220, no.1539)

593) JANGAN SEPELEKAN MEREKA

‘Abdullooh bin al-Muqoffa’ berkata:

مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأَتْقِيَاءِ أَهْلَكَ دِينَهُ. وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْوُلاَةِ أَهْلَكَ دُنْيَاهُ. وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْإِخْوَانِ أَفْسَدَ مُرُوءَتَهُ.

“Barangsiapa menyepelekan orang-orang bertaqwa, maka mereka sama dengan telah membinasakan agamanya. Barangsiapa menyepelekan penguasa, maka mereka sama dengan telah membinasakan dunianya. Barangsiapa menyepelekan saudara-saudaranya, maka mereka sama dengan telah membinasakan kehormatannya.”
(‘Abdullooh bin al-Muqoffa’ [wafat 142 H], Al-Adab Ash-Shoghiir, hal. 59)

594) SENDI KESUKSESAN

‘Abdullooh bin al-Muqoffa’ berkata:

فالرأي والأدب زوج: لا يكمل الرأي بغير الأدب، ولا يكمل الأدب إلا بالرأي. والأعوان والفرصة زوج: لا ينفع الأعوان إلا عند الفرصة، ولا تتم الفرصة إلا بحضور الأعوان. والتوفيق والاجتهاد زوج: فالاجتهاد سبب التوفيق، وبالتوفيق ينجح الاجتهاد

“Barangsiapa yang mengejar sesuatu, maka dia membutuhkan tiga hal yang berjodohan: 1) Ilmu berdampingan dengan akhlaq, tidak akan sempurna tanpa salah satunya; 2) Teman berdampingan dengan kesempatan, tidak akan sempurna tanpa salah satunya; 3) Petunjuk Allooh berdampingan dengan kesungguhan, tidak akan sempurna tanpa salah satunya.”
(‘Abdullooh bin al-Muqoffa’ [wafat 142 H], Al-Adab Ash-Shoghiir, hal. 59)

595) SENJATA ITU, TAQWA

Abu Hazim telah berkata:

” وَمَا لِي لَا أَتَشَدَّدُ وَقَدْ تَرَصَّدَنِي أَرْبَعَةُ عَشَرَ عَدُوًّا، أَمَّا أَرْبَعَةٌ: فَشَيْطَانٌ يَفْتِنُنِي، وَمُؤْمِنٌ يَحْسُدُنِي، وَكَافِرٌ يَقْتُلُنِي، وَمُنَافِقٌ يُبْغِضُنِي، وَأَمَّا الْعَشَرَةُ فَمِنْهَا: الْجُوعُ، وَالْعَطَشُ، وَالْحَرُّ، وَالْبَرْدُ، وَالْعُرْيُ، وَالْهَرَمُ، وَالْمَرَضُ، وَالْفَقْرُ، وَالْمَوْتُ، وَالنَّارُ، وَلَا أَطِيقُهُنَّ إِلَّا بِسِلَاحٍ تَامٍّ، وَلَا أَجِدُ لَهُنَّ سِلَاحًا أَفْضَلَ مِنَ التَّقْوَى “

“Penyebab diriku bersikap keras/tegas adalah 14 perkara, yaitu: Empat perkara: 1) Syaithon yang merintangiku, 2) Mu’min yang iri padaku, 3) Kafir yang memerangiku, 4) Munafiq yang membenciku; juga Sepuluh perkara: 5) Lapar, 6) Haus, 7) Panas, 8) Dingin, 9) Telanjang, 10) Pikun, 11) Sakit, 12) Kemiskinan, 13) Kematian, 14) Api neraka; dimana tidak mampu semua itu kulawan dengan senjata canggih sekalipun, kecuali dengan TAQWA.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 3/231)

596) HATI-HATILAH

Abu Hazim berkata:

إذا رأيت الله عز وجل يتابع نعمه عليك وأنت تعصيه فاحذرْه

“Jika engkau meyakini bahwa Allooh Ta’ala mengawasi nikmat-nikmat-Nya padamu, sedangkan engkau bermaksiat pada-Nya; maka HATI-HATILAH dirimu.”
(Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Asy-Syukru, hal. 15, no: 31)

597) BERANI KARENA BENAR

‘Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

وَاللَّهِ لَتَجِدُّنَّ فِي أَمْرِ اللَّهِ، وَلَتُقَاتِلُنَّ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ، أَوْ لَيَسُوسَنَّكُمْ أَقْوَامٌ أَنْتُمْ أَقْرَبُ إِلَى الْحَقِّ مِنْهُمْ، ثُمَّ لَيُعَذِّبَنَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Demi Allooh, kalian akan berada diatas ajaran Allooh dan kalian berperanglah diatas ketaatan pada Allooh; atau akan ada suatu kaum yang menguasai kalian, sedangkan kalianlah yang lebih dekat pada kebenaran itu daripada mereka; kemudian Allooh akan mengadzab mereka.”
(Al-Imam al-Baghowy [wafat 516 H], Syarhus Sunnah, 14/347)

598) DIHINDARKAN DARI PENGUASA DZOLIM

Muhammad bin Wasi’ berdo’a:

اللهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ كُلِّ رِزْقٍ يُبَاعِدُنَا مِنْكَ، طَهِّرْنَا مِنْ كُلِّ خَبِيثٍ وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا الظَّلَمَةَ

“Ya Allooh, sungguh kami berlindung kapada-Mu dari rizqi yang menjauhkan kami dari-Mu, sucikanlah kami dari segala perkara yang keji, dan lindungilah kami dari orang-orang yang dzolim yang menguasai kami.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 2/353)

599) DUA INDIKATOR

Al-Imam al-Hasan al-Bashri berkata:

خَصْلَتَانِ مِنَ الْعَبْدِ إِذَا صَلُحَتَا صَلُحَ مَا سِوَاهُمَا: الرُّكُونُ إِلَى الظَّلَمَةِ وَالطُّغْيَانُ فِي النِّعْمَةِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: }وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ} [هود: 113[ وَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي} [طه: 81[

“Dua karakter, jika manusia terbebas dari keduanya maka yang lainnya akan menjadi baik: 1) Cenderung pada orang-orang yang dzolim; dan 2) Melampaui batas dalam nikmat Allooh; sesuai dengan firman Allooh (QS. Hud/11:113 dan QS. Thoha/20: 81).”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 2/158)

600) KEMAUAN MANUSIA

‘Abdullooh berkata:

خَالِطُوا النَّاسَ وَزَايِلُوهُمْ بِمَا يَشْتَهُونَ، وَدِينَكَ لَا تَكْلِمَنَّهُ

“Bergaullah dengan orang, tetapi menghindarlah dari apa yang mereka minati/gandrungi. Dan jangan sampai agamamu yang seakan tidak menjadi bahan perhatianmu.”
(Waqi’ bin al-Jarroh [wafat 197 H], Az-Zuhd, hal. 853, no: 531)

601) HAKEKAT TASHOWWUF

Abu Nu’aim al-Ashfahaany berkata:

إِنَّ التَّصَوُّفَ مُفَارَقَةُ الْأَشْرَارِ، وَمُصَادَقَةُ الْأَخْيَارِ

“Sesungguhnya Tashowwuf itu adalah menjauhkan diri dari orang-orang jahat, dan bersahabat dengan orang-orang shoolih.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 5/364)

602) ZAKAT TUBUHMU

Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصِّيَامُ

“Segala sesuatu ada zakatnya; dan zakat tubuh adalah Shoum (Puasa).”
(Waqi’ bin al-Jarroh [wafat 197 H], Az-Zuhd, hal. 860, no: 537)

603) PAHALA BESAR

Abu Qilabah berkata:

وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا، مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ، يُعِفُّهُمْ أَوْ يَنْفَعُهُمُ اللهُ بِهِ، وَيُغْنِيهِمْ

“Tahukah engkau, siapa yang berpeluang berpahala paling besar? Dia adalah orang yang memberi nafkah pada anggota keluarga yang masih kecil, dengan memberi mereka hal yang bermanfaat dan mencukupi mereka.”
(Al-Imam Muslim [wafat 261 H], Shohiih Muslim, 2/691)

604) KRONI ORANG DZOLIM

Sa’id bin al-Musayyib rohimahullooh berkata:

لَا تَمْلَئُوا أَعْيُنَكُمْ مِنْ أَعْوَانِ الظَّلَمَةِ إلَّا بِإِنْكَارٍ مِنْ قُلُوبِكُمْ لِئَلَّا تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ الصَّالِحَةُ

“Janganlan engkau penuhi matamu dengan melihat para kroni dan kolega orang-orang dzolim, kecuali untuk mengingkari mereka dengan hatimu; agar amalan kalian tidak berguguran.”
(Ibnu Hajar al-Haitsami [wafat 974 H], Az-Zawajir, 2/201)

605) MEMBAHAYAKAN KESELAMATAN ORANG BANYAK

Bilal bin Sa’ad berkata:

إِنَّ الْمَعْصِيَةَ إِذَا أُخْفِيَتْ، لَمْ تَضُرَّ إِلا صَاحِبَهَا، فَإِذَا أُعْلِنَتْ، فَلَمْ تُغَيَّرْ، ضَرَّتِ الْعَامَّةَ

“Sesungguhnya kemaksiatan itu jika disembunyikan, maka tidak membahayakan kecuali pada pelakunya; akan tetapi ketika menjadi terang-terangan kemudian tidak diingkari, maka bahayanya akan melanda ummat manusia secara umum.”
(Al-Imam Al-Baghowy [wafat 516 H], Syarhus Sunnah, 14/350)

606) SEPERTI SHOUM SETAHUN PENUH

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa melakukan shoum (puasa) Romadhoon lalu ia ikuti dengan shoum enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.”
(HR. Muslim no: 1164, dari Abu Ayyub al-Anshoriy rodhiyalloohu ‘anhu)

607) MANUSIA SYAITHON

Al-Imam al-Qurthubi rohimahullooh berkata:

كُلُّ مَنْ صَدَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَأُطِيعَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَهُوَ شَيْطَانٌ لِلْإِنْسَانِ

“Siapapun yang menghalangi manusia dari jalan Allooh dan dita’ati dalam kemaksiatan terhadap Allooh, maka pada hakekatnya dia adalah syaithon bagi manusia.”
(Al-Imam al-Qurthubi [wafat 671 H], Tafsir al-Qurthubi, 13/26)

608) BEKERJA SAMA DENGAN ORANG JAHAT

Malik bin Dinar rohimahullooh berkata:

إِنَّكَ إِنْ تَنْقِلِ الْأَحْجَارَ مَعَ الْأَبْرَارِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَأْكُلَ الْخَبِيصَ مَعَ الْفُجَّارِ

“Sungguh, engkau mengangkat batu bersama orang-orang baik adalah lebih baik bagimu, daripada engkau memakan roti bersama dengan orang-orang yang jahat.”
(Al-Imam al-Qurthubi [wafat 671 H], Tafsir al-Qurthubi, 13/26)

609) AL-MASJIDIL AQSHO, KIBLAT PERTAMA UMMAT ISLAM

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Harom. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Harom itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allooh sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh/2: 144)

SEBELUM Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam dan para Shohabat rodhiyalloohu ‘anhum menghadap ke KA’BAH di Makkah al-Mukarromah, Sholat Rosuulullooh dan para Shohabat itu terlebih dahulu menghadap ke al-Masjidil Aqsho yang berada di Palestina

#Al-Masjidil-Aqsho
#Jangan-Dilupakan
#Selalu-Bela-&-Perjuangkan

610) AL-MASJIDIL AQSHO, MASJID KEDUA UMMAT ISLAM

عن أَبَي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الأَرْضِ أَوَّلَ؟ قَالَ: «المَسْجِدُ الحَرَامُ» قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ «المَسْجِدُ الأَقْصَى» قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: «أَرْبَعُونَ سَنَةً، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلاَةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ، فَإِنَّ الفَضْلَ فِيهِ» رواه البخاري

Abu Dzar rodhiyalloohu ‘anhu bertanya pada Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam: “Di atas bumi ini, masjid manakah yang pertama kali di bangun?” Rosuulullooh menjawab: “Al-Masjidil Harom”; aku (Abu Dzar) bertanya lagi, “Kemudian?”; Rosuulullooh menjawab: “Al-Masjidil Aqsho”; aku (Abu Dzar) bertanya lagi, “Berapa jarak (waktu) keduanya?”; Rosuulullooh menjawab: “40 tahun, dimanapun kamu menemui waktu sholat, maka sholatlah; sebab keutamaan terdapat di dalamnya (di awal waktu).”
(HR. Al-Bukhoory no: 3366, dari Abu Dzar al-Ghifary rodhiyalloohu ‘anhu)

Berdasarkan wahyu Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam, menginformasikan kepada kita ummat manusia — apalagi ummat Islam — bahwa Al-Masjidil Aqsho, selain terkait dengan peradaban Islam, maka lebih penting dari itu adalah bahwa masjid itu adalah merupakan tempat ibadah ummat Islam dari masa ke masa.

#Al-Masjidil-Aqsho
#Jangan-Dilupakan
#Selalu-Bela-&-Perjuangkan

611) AL-MASJIDIL AQSHO, TEMPAT TUJUAN ISRO’ NABI MUHAMMAD SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Allooh Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allooh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Harom ke Al-Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isro’/17: 1)

ISRO’, artinya: Perjalanan Rosuululllooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam dari Makkah menuju al-Masjidil Aqsho di Baitul Maqdis di Palestina. Bahkan sebelum melakukan Mi’roj, yaitu perjalanan Rosuulullooh dari al-Aqsho ke Sidrotul Muntaha, beliau menjadi Imam sholat. Rosulullooh adalah shohibul bait (tuan rumah). Ummat Islam mestinya mengingat bahwa al-Aqsho adalah rumah Muslimin seluruh dunia.
Al-Masjidil Aqsho, Tempat Tujuan Isro’ Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam….

#Al-Masjidil-Aqsho
#Jangan-Dilupakan
#Selalu-Bela-&-Perjuangkan

612) AL-MASJIDIL AQSHO, DESTINASI IBADAH UMMAT ISLAM

عن سُفْيَانُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِي هَذَا، وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى “، متفق عليه واللفظ لمسلم

“Janganlah kalian melakukan perjalanan (Ibadah), kecuali menuju tiga masjid: Masjidku ini, Masjidil Harom dan Masjid al-Aqsho.”
(HR. Al-Bukhoory no: 1189, dan HR. Muslim no: 1397, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

Tujuan rihlah (perjalanan) yang bernilai ibadah ummat Islam hingga tiba hari Kiamat adalah tiga masjid; setelah Al-Masjidil Harom di Makkah al-Mukarromah, Al-Masjid an-Nabawy di Madinah an-Nabawiyyah, adalah Al-Masjidil Aqsho di Baitul Maqdis di Palestina.

#Al-Masjidil-Aqsho
#Jangan-Dilupakan
#Selalu-Bela-&-Perjuangkan

613) AL-MASJIDIL AQSHO, SHOLAT DI DALAMNYA BERPAHALA 500 KALI SHOLAT

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: ” «الصَّلَاةُ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ وَالصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِي بِأَلْفِ صَلَاةٍ وَالصَّلَاةُ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِخَمْسِمِائَةِ صَلَاةٍ» ” رواه البيهقي والهيثمي والسيوطي وحسناه ولكن ضعفه الألباني ورواه أيضا الطبراني عن ابن عمر وأنس بن مالك

Dari Abud Darda’ rodhiyalloohu a’anhu berkata bahwa Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sholat di Al-Masjidil Harom berpahala 100.000 kali sholat, sholat di Masjidku berpahala 1000 kali sholat, dan sholat di Al-Masjidil Aqsho berpahala 500 kali sholat.”
(HR Al-Baihaqy dalam “Asy-Syu’abil Imaan” (no: 3845), Al-Haitsamy dalam “Al-Majma’uz Zawa’id” (no: 5873), As-Suyuthy dalam “Jam’ul Jawami'” (no: 11208) dan Ath-Thobroni dalam “Al-Mu’jamil Ausath” (no: 171 dan 7008). Al-Haitsamy dan As-Suyuuthy menghasankannya; sedang Al-Albaany mendho’ifkannya)

Sebenarnya wajar saja kalau sholat di Al-Masjidil Harom berpahala hingga 100.000 kali sholat, di Al-Masjidin Nabawi berpahala 1000 kali sholat, dan sholat di Al-Masjidil Aqsho berpahala 500 kali sholat; karena hal ini justru menunjukkan bahwa ketiga masjid itu adalah luar biasa.

#Al-Masjidil-Aqsho
#Jangan-Dilupakan
#Selalu-Bela-&-Perjuangkan

614) RIZQI YANG BERKAH

Abul Hasan as-Sarry bin al-Mughollisy rohimahullooh berkata:

وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا سَلِمَ مِنْ خَمْسَةٍ: مِنَ الْآثَامِ فِي الِاكْتِسَابِ وَالْمَذَلَّةِ فِي الْخُضُوعِ فِي السُّؤَالِ، وَالْغِشِّ فِي الصِّنَاعَةِ، وَإِثْبَاتِ آلَةِ الْمَعَاصِي وَمُمَالَأَةِ الظَّلَمَةِ

“Sebaik-baik rizqi adalah jika mendapatkannya dengan cara: 1) Bebas dari dosa; 2) Tidak dengan hina dan meminta; 3) Tidak curang dalam prosesnya; 4) Tidak untuk mengukuhkan alat maksiat; 5) Tidak dengan menjilat pada para penguasa yang dzolim.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/124)

615) TIDAK, SELAIN LIMA

Abul Hasan as-Sarry bin al-Mughollisy rohimahullooh berkata :

وَقَالَ: خَمْسَةُ أَشْيَاءَ لَا يَسْكُنُ فِي الْقَلْبِ مَعَهَا غَيْرُهَا: الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ وَحْدَهُ وَالرَّجَاءُ مِنَ اللَّهِ وَحْدَهُ وَالْحُبُّ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَالْحَيَاءُ مِنَ اللَّهِ وَحْدَهُ وَالْأُنْسُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Ada lima amalan hati dimana seorang hamba harus bertauhid tentangnya: 1) Takut hanya pada Allooh; 2) Berharap hanya dari Allooh; 3) Mencintai Allooh; 4) Malu hanya pada Allooh; dan 5) Rindu terhadap Allooh.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/124)

616) LAHWUN#1

Al-Imam al-Baghowy rohimahullooh berkata:

إِذَا مَرُّوا بِمَجْلِسِ اللَّهْوِ وَالْبَاطِلِ مَرُّوا كِرَامًا مُسْرِعِينَ مُعْرِضِينَ

“Jika mereka (orang-orang yang beriman) itu melewati majelis dimana disana terdapat Lahwun (sesuatu yang tidak berguna) dan atau kebathilan, maka mereka akan segera melewatinya sebagai bentuk penolakan.”
(Al-Baghowy [wafat 510 H], Tafsir al-Baghowy, 6/99)

617) LAHWUN#2

Syaikh ‘Abdurrohman as-Sa’dy rohimahullooh berkata:

فالمؤمنون من صفاتهم الحميدة، كف ألسنتهم عن اللغو والمحرمات

“Diantara sifat terpuji yang merekat dalam diri orang yang beriman adalah mereka berusaha untuk mengendalikan lisannya dari perkara yang tidak bermanfaat, apalagi yang harom.”
(Syaikh ‘Abdurrohman as-Sa’dy [wafat 1376 H], Tafsir as-Sa’dy, hal. 548)

618) LIMA SOLUSI UNTUK LIMA

Al-Hakim Muhammad bin ‘Ali at-Turmudzy rohimahullooh berkata:

صلاَحُ خَمْسَةٍ فِي خَمْسَةٍ: صلاَحُ الصَّبيّ فِي المَكْتب، وَصلاَحُ الفَتَى فِي العِلْمِ، وَصلاَحُ الكَهْلِ فِي المَسْجَدِ، وَصلاَحُ المرأَة فِي البَيْتِ، وَصلاَحُ المُؤْذِي فِي السِّجْن

“Mengatasi lima perkara adalah dengan lima perkara. Mengatasi masalah: 1) Anak usia dini: adalah dengan berada dalam ruangan; 2) Pemuda: adalah dengan disibukkan dengan ilmu; 3) Lanjut Usia: adalah dengan sibuk di masjid; 4) Wanita: adalah dengan berada di dalam rumah; dan 5) Orang Jahat: adalah dengan penjara.”
(Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyar A’laamin Nubalaa, 13/441)

619) LIMA TERBAIK

Abul Hasan as-Sarry bin al-Mughollisy rohimahullooh berkata:

وَأَحْسَنُ الْأَشْيَاءِ خَمْسَةٌ: الْبُكَاءُ عَلَى الذُّنُوبِ وَإِصْلَاحُ الْعُيوبِ، وَطَاعَةُ عَلَّامِ الْغُيوبِ وَجِلَاءُ الرَّيْنِ عَنِ الْقُلُوبِ وَأَنْ لَا تَكُونَ لِمَا تَهْوَى رَكُوبٌ

“Lima perkara terbaik: 1) Menangisi dosa; 2) Memperbaiki cela; 3) Ta’at pada Allooh yang Maha Mengetahui atas apa saja yang tersembunyi; 4) Membersihkan noda dari dalam hati; dan 5) Tidak menuruti hawa nafsu.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/124)

620) ESENSI HIDUP

Muhammad bin ‘Ali at-Turmudzy rohimahullooh berkata :

اجعل مراقبتك لمن لا تغيب عن نظره إليك، واجعل شكرك لمن لا تنقطع عنك نعمته، واجعل خضوعك لمن لا تخرج عن ملكه وسلطانه

“Jadikanlah introspeksimu pada sesuatu Yang tidak pernah luput dari melihatmu; jadikanlah syukurmu pada Yang tidak pernah memutuskan nikmat-Nya padamu; dan jadikanlah kesibukanmu pada sesuatu dimana engkau tidak mungkin dapat keluar dari kerajaan-Nya dan kekuasaan-Nya.”
(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/344)

621) BOBOT TERBERAT

Muhammad bin ‘Ali at-Turmudzy rohimahullooh berkata :

ليس في الدنيا حمل أثقل من البر لأن من برك فقد أوثقك، ومن جفاك فقد أطلقك

“Tidak ada di dunia ini bobot yang terberat melainkan dari suatu kebajikan; karena siapa yang berbuat baik padamu, berarti dia telah mengikatmu, dan siapa yang tidak mempedulikanmu berarti dia telah melepaskanmu.”
(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/344)

622) AKAL MAKAR

Al-Harits al-Muhaasiby berkata :

كل عقل لَا يَصْحَبهُ ثَلَاثَة أَشْيَاء فَهُوَ عقل مكار إِيثَار الطَّاعَة على الْمعْصِيَة وإيثار الْعلم على الْجَهْل وإيثار الدّين على الدُّنْيَا

“Setiap akal yang tidak disertai tiga perkara maka dia adalah Akal Makar: 1) Memprioritaskan taat daripada maksiyat; 2) Memprioritaskan ilmu daripada kebodohan; dan 3) Memprioritaskan syari’at daripada urusan dunia.”
(Al-Harits al-Muhaasiby [wafat 243 H], Risalatul Mustarsyidin, hal. 97)

623) PEMBERAT TIMBANGAN

Al-Harits al-Muhaasiby berkata :

وكل علم لَا يَصْحَبهُ ثَلَاثَة أَشْيَاء فَهُوَ مزِيد فِي الْحجَّة كف الْأَذَى بِقطع الرَّغْبَة وَوُجُود الْعَمَل بالخشية وبذل الْإِنْصَاف بالتباذل وَالرَّحْمَة

“Setiap ilmu yang tidak disertai tiga hal, maka dia akan menambah (beratnya) hujatan (pada hari kiamat): 1) Menghentikan perkara yang melukai dengan cara memutuskan keinginan (tamak terhadap dunia); 2) Mewujudkan amal nyata disertai rasa takut pada Allooh; dan 3) Bersikap Inshof (adil dan objektif) melalui saling memberi dan menyayangi.”
(Al-Harits al-Muhaasiby [wafat 243 H], Risalatul Mustarsyidin, hal. 97)

624) FIQIH ABI HANIFAH (80-150 H) #1

Al-Imam asy-Syafi’i rohimahullooh berkata:

الناس في الفقه عيال على أبي حنيفة

“Dalam fiqih, manusia adalah anak-anak (turunan) dari Abu Hanifah).”
(Al-Baghowy [wafat 516 H), At-Tahdzib fi Fiqhil Imam asy-Syafi’i, 1/42)

625) FIQIH ABI HANIFAH (80-150 H) #2

Al-Imam adz-Dzahaby berkata:

وَأَمَّا الفِقْهُ وَالتَّدْقِيْقُ فِي الرَّأْيِ وَغوَامِضِهِ، فَإِلَيْهِ المُنْتَهَى،وَالنَّاسُ عَلَيْهِ عِيَالٌ فِي ذَلِكَ

“Adapun tentang Fiqih, dan peliknya dalam beristimbath, maka Abu Hanifah adalah puncaknya, dan manusia menjadi pengikutnya dalam dalam hal itu.”
(Al-Imam adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyar A’laamin Nubala, 6/392)

626) NEGERI YANG BAIK

Al-Imam Malik rohimahullooh berkata:

لا ينبغي المقام بأرض يعمل فيها بغير الحق والسب للسلف. وأرض اللَّه واسعة ولقد أنعم اللَّه على عبد أدرك حقاً فعمل به

“Tidak boleh tinggal di suatu negeri, dimana disana tidak ditegakkan kebenaran dan atau malah memaki pendahulu ummat ini. Bumi Allooh itu luas; sungguh Allooh telah karuniai seorang hamba dimana dia mendapati kebenaran lalu mengamalkannya.”
(Al-Imam Malik bin Anas [wafat 179 H], Muwaththo’, 1/262, no: 43)

627) ZUHUD

Ibrohim bin Adham berkata:

الزُّهْدُ فَرضٌ، وَهُوَ الزُّهْدُ فِي الحَرَامِ، وَزُهْدُ سَلاَمَةٍ، وَهُوَ الزُّهْدُ فِي الشُّبُهَاتِ، وَزُهْدُ فَضْلٍ، وَهُوَ الزُّهْدُ فِي الحَلاَلِ

“Zuhud itu ada tiga jenis: 1) Zuhud yang fardhu, yaitu: mengendalikan diri dari perkara yang harom; 2) Zuhud selamat, yaitu: menghindarkan diri dari perkara yang syubhat (remang); dan 3) Zuhud utama, yaitu: pengendalian diri dari perkara yang halal.”
(Al-Imam adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyar A’laamin Nubalaa, 7/390)

628) HUJATAN HARI KIAMAT

Kholiifah ‘Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

أُحَاجُّ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِتِسْعٍ: بِإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَالْعَدْلِ فِي الرَّعِيَّةِ، وَالْقَسْمِ بِالسَّوِيَّةِ، وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ، وَأَشْبَاهِهِ.

“Pada Hari Kiamat, manusia akan dimintai pertanggung jawaban tentang 9 perkara: 1) Penegakan Sholat, 2) Zakat, 3) Amar ma’ruf, 4) Nahi munkar, 5) Adil terhadap rakyat, 6) Pemerataan, 7) Jihad di jalan Allooh, 8) Penegakan hukum, 9) Hudud, dan semisal dengannya.”
(Al-Imam Ahmad bin Hambal [wafat 241 H], Fadho’ilush Shohabat, 1/538, no: 898)

629) SENDI IMAN

Kholiifah ‘Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

الْإِيمَانُ عَلَى أَرْبَعِ دَعَائِمَ عَلَى الصَّبْرِ، وَالْيَقِينِ، وَالْجِهَادِ، وَالْعَدْلِ

“Iman itu diatas empat sendi pokok: 1) Sabar, 2) Yakin, 3) Jihad dan 4) Adil.”
(Al-Laalika’i [wafat 418 H], Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah, 4/924, no: 1570)

630) TUGAS, POKOK & FUNGSI MULUT

Ar-Robi’ bin Khots’am rohimahullooh berkata:

أَقِلُّوا الْكَلَامَ إِلَّا مِنْ تِسْعٍ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَمَسْأَلَةُ الْخَيْرِ، وَالِاسْتِعَاذَةُ مِنَ الشَّرِّ

“Kurangilah mulut untuk berbicara kecuali untuk 9 hal: 1) Subhaanallooh, 2) Walhamdulillaah, 3) Wa Laa Ilaaha Illallooh, 4) Walloohu Akbar, 5) Wa Laa Hawla Wa Laa Quwwata iIlla Billaah, 6) Amar Ma’ruf, 7) Nahi Munkar, 8) Mencari Kebaikan, dan 9) Berlindung dari Keburukan.”
(Al-Imam Ibnu Wahab [wafat 197 H], Al-Jami’, hal. 447, no. 332)

631) MATI HATI

Al-Imam al-Hasan al-Bashri saat ditanya tentang Hukuman bagi seorang ‘Alim, beliau menjawab:

مَوْتُ الْقَلْبِ, قَالَ: وَمَا مَوْتُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: طَلَبُ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ

“Hukuman bagi seorang ‘Alim adalah matinya hati”; lalu ketika ditanya: “Apa maksudnya?”; beliau menjawab: “Mencari dunia dengan amalan Akherat.”
(Al-Imam al-Marwazy [wafat 181 H], Az-Zuhd war Roqo’iq, 1/532, no: 1514)

632) CABANG SABAR

Kholiifah ‘Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

فَالصَّبْرُ مِنْهَا عَلَى أَرْبَعِ شُعَبٍ عَلَى الشَّوْقِ وَالشَّفَقِ، وَالزِّهَادَةِ، وَالتَّرَقُّبِ، فَمَنِ اشْتَاقَ إِلَى الْجَنَّةِ سَلَا عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَمَنْ أَشْفَقَ مِنَ النَّارِ رَجَعَ عَنِ الْحُرُمَاتِ، وَمَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا تَهَاوَنَ بِالْمُصِيبَاتِ، وَمَنِ ارْتَقَبَ الْمَوْتَ سَارَعَ إِلَى الْخَيْرَاتِ

“Cabang sabar itu adalah: 1) Rindu, 2) Belas kasih, 3) Zuhud, dan 4) Muroqobah; “Rindu” artinya: merindukan surga dengan pengendalian hawa nafsu, “Belas kasih” melalui rujuk dari perkara harom; “Zuhud” melalui menganggap ringan musibah; dan “Muroqobah” (merasa diawasi) melalui bersegera berbuat kebaikan menuju kematian.”
(Al-Laalika’i [wafat 418 H], Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah, 4/924, no: 1570)

633) JANGAN TERJERUMUS

Dalam kamus, “Terjerumus” itu diartikan dengan: “Jatuh tersungkur, jatuh masuk lubang/jurang, tersesat; celaka, terperosok, jatuh ke dalam kesengsaraan.”

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

{لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا } [الإسراء: 22]

“Janganlah kamu menjadikan Tuhan selain Allooh kamu sembah bersama Allooh, niscaya kamu akan bernasib tercela dan terhina.”
(QS. Al-Isro’/17: 22)

RENUNGAN:

Perhatikanlah firman Allooh ini !!

SEJAK AWAL, Allooh MELARANG manusia untuk berbuat SYIRIK, yaitu menyekutukan Allooh dengan sesuatu selain-Nya, termasuk dengan manusia….

Sungguh ayat ini merupakan ANCAMAN KERAS, yang akan menyebabkan manusia menjadi menyesal; karena dengan ayat ini Allooh memberikan aba-aba, bahwa siapa saja yang menyekutukan Allooh, maka berarti dia harus bersiap untuk mengalami akibatnya…
Dan akibat itu adalah tercela dan terhina….

“Tercela” diartikan dengan “Tidak terpuji, atau minimal tidak pantas”, baik dari kalangan orang-orang yang beriman atau para malaikat.

“Terhina”, karena telah menjadi manusia yang tidak mendapatkan pertolongan Allooh; sedangkan apa yang engkau sembah itu, yang engkau ibadahi itu, dan yang engkau sekutukan selain Allooh itu, SAMA SEKALI TIDAK lah MEMILIKI MANFAAT, maupun BAHAYA….

Kemudian Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa pun berfirman:

{وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَاوَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا } [الفرقان: 27 – 29]

(27) “Dan (ingatlah) olehmu hari saat orang yang dzolim menggigit kedua tangannya, dan berkata: “Betapa kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rosuul”.
(28) Celakalah bagiku; andai saja aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu sebagai teman akrabku.
(29) Sungguh dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang padaku. Dan syaithon itu adalah sangat menjerumuskan manusia.”
(QS. Al-Furqon/25: 27-29)

Padahal….

Andaikan saja manusia itu HANYA BERGANTUNG KEPADA ALLOOH dan tidak bergantung kepada selain Alloh…
Maka…
Sesungguhnya dia BERADA DALAM JAMINAN ALLOOH…

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ ﴿آل‌عمران: ١٦٠

“Jika Allooh menolong kalian, maka tidak ada siapapun yang dapat mengalahkan kalian; dan jika Allooh tidak lagi menolong kalian, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian selain Allooh; maka dari itu hendaknya hanya kepada Allooh sajalah orang-orang mukmin itu bertawakkul.”
(QS. Ali ‘Imron/3: 160)

Jadi….
Syaithon itu akan senantiasa menjerumuskan manusia dan menyebabkan manusia terhina, tersesat dan bersamanya dalam neraka Jahannam…
Antara lain melalui kesyirikan dan kesesatan….

Sebaliknya…

Jika manusia ingin menjadi mulia, memperoleh pertolongan Allooh dan surga-Nya…
Maka….
TAUHID-kan lah Allooh…
ESA-kan lah Allooh…
Dan beribadah lah HANYA pada Allooh…
Dan jangan sekali-kali beribadah, atau berhamba pada selain-Nya.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

634) MAJELISMU

‘Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

إياكَ وَكُلَّ جَلِيسٍ لَا يُفِيدُك عِلْمًا

“Hindarilah olehmu orang yang tidak memberimu manfaat ilmu.”
(Muhammad bin Muflih [wafat 763 H], Al-Adab asy-Syar’iyyah, 3/572)

635) GIZI IMAN

‘Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ مَلَأَ اللَّهُ قَلْبَهُ إيمَانًا صُحْبَةُ الْفَقِيهِ، وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ، وَالصِّيَامُ

“Ada tiga perkara jika terdapat pada seseorang, maka Allooh akan memenuhi hatinya dengan iman: 1) Bersahabat dengan orang ‘alim; 2) Membaca Al-Qur’an; dan 3) Melakukan shoum.”
(Muhammad bin Muflih [wafat 763 H], Al-Adab asy-Syar’iyyah, 3/572)

636) JANGAN DUDUK DI SITU

‘Abdurrohman bin Abi Laila berkata:

لَا تُجَالِسْ عَدُوَّكَ فَإِنَّهُ يَحْفَظُ عَلَيْك سَقَطَاتِك وَيُمَارِيك فِي صَوَابِك

“Janganlah engkau duduk disamping musuhmu, karena dia akan menyimpan salahmu dan akan mendebatmu dalam kebenaranmu.”
(Muhammad bin Muflih [wafat 763 H], Al-Adab asy-Syar’iyyah, 3/572)

637) KOMUNITAS YANG BURUK

‘Umar Ibnul Khoththoob rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

لَا خير فِي قوم لَيْسُوا بناصحين وَلَا خير فِي قوم لَا يحبونَ الناصحين

“Tidak ada kebaikan pada suatu kaum jika diantara mereka tidak ada yang memberi nasehat; dan tidak ada kebaikan pada suatu kaum jika mereka (kaum itu) membenci orang-orang yang memberi nasehat.”
(Al-Muhasibi [wafat 243 H], Risalatul Mustarsyidin, hal. 73-74)

638) YANG DITAKUTI MU’MIN

Imam Al-Hasan al-Bashri rohimahullooh berkata:

مَا خَافَهُ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلاَ أَمِنَهُ إِلَّا مُنَافِقٌ

“Tidak ada yang takut terhadap kemunafikan kecuali orang yang beriman; dan tidak ada yang merasa aman dari kemunafikan kecuali orang munafik.”
(Al-Imam al-Bukhoory [wafat 256 H], Shohiih al-Bukhoory, 1/19)

639) ISI MASJID

‘Abdullooh bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

وَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَجْتَمِعُونَ فِي الْمَسَاجِدِ لَيْسَ فِيهِمْ مُؤْمِنٌ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana manusia berkumpul di masjid, padahal tidak ada seorangpun dari mereka merupakan orang yang beriman.”
(Al-Imam Abu Bakar al-Khillaal [wafat 311 H], As-Sunnah, 4/119, no: 1308)

640) LARANGAN MEMOTONG RAMBUT & KUKU BAGI YANG BERQURBAN

Rosuulullooh shollalloohu ’alaihi wasallam bersabda:


إذا رَأَيْتُمْ هِلالَ ذِي الحِجَّةِ، وأَرادَ أحَدُكُمْ أنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عن شَعْرِهِ وأَظْفارِه

“Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah, dan seseorang sudah berniat untuk berqurban, maka hendaklah ia membiarkan (tidak memotong) semua rambutnya dan semua kukunya.”
(HR. Muslim no: 1977, dari Ummu Salamah rodhiyalloohu ‘anha)

641) KEUTAMAAN SHOUM ‘AROFAH (9 DZULHIJJAH)

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda,


صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Shoum (Puasa) ‘Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim no: 1162, dari Abu Qotadah rodhiyalloohu ‘anhu)

642) LARANGAN MENJUAL KULIT HEWAN QURBAN

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

من باع جلد أضحيته فلا أضحية له

“Barangsiapa yang menjual kulit qurbannya, maka ia tidak mendapat pahala dari qurbannya.”
(HR. Al-Hakim no: 3468, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu, di-hasankan oleh Syaikh Nashiruddiin al-Albaany – Shohiih At-Targhiib wat Tarhiib no: 1088)

643) BILA LAPANG HARTA, BERQURBANLAH

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

من وجد سعة فلم يذبح فلا يقربن مصلانا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan harta, lalu orang itu tidak ber-Qurban; maka janganlah orang itu dekat-dekat dengan masjid kami”.
(HR. Al-Hakim no: 7565, HR. Ibnu Maajah no: 3123, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu, di-Hasankan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albaany)

644) ANJURAN BAGI YANG BERQURBAN UNTUK MEMAKAN SEMBELIHAN HEWAN QURBANNYA, SESUDAH SHOLAT ‘IEDUL ADHA

Dari ‘Abdullooh bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

“Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam biasa pergi untuk sholat ‘ied di hari ‘Iedul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan di hari ‘Iedul Adha, beliau tidak makan terlebih dahulu, akan tetapi setelah pulang dari sholat ‘ied barulah beliau menyantap hasil qurbannya.”
(HR. Ahmad 5/352, Syaikh Syu’aib al-Arna’uuth mengatakan bahwa hadits ini Hasan)

645) MENYEMBELIH QURBAN SESUDAH SHOLAT ‘IEDUL ADHA

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

“Siapa yang menyembelih hewan Qurbannya sebelum sholat (– sholat ‘Iedul Adha–pent.), maka sembelihlah lagi hewan sebagai pengganti dari apa yang ia sembelih sebelum sholat itu. Dan siapa yang belum menyembelih, maka marilah menyembelih hewan sekarang, dengan Nama Allooh.”
(HR. Al-Bukhoory no: 4700 dan HR. Muslim no: 5179, dari Jundub bin Sufyan rodhiyalloohu ‘anhu)

646) MEMBACA BASMALAH & TAKBIR SAAT BERQURBAN

Selesai sholat ‘Iedul Adha, Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam mendatangi dua ekor kambing qibas beliau, kemudian menyembelihnya seraya mengucapkan :

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى

“Bismillah, Walloohu Akbar, hadzaa ‘anni wa ‘amman lamyudhohhi min ummati (Dengan Nama Allooh, Allooh Maha Besar, ya Allooh ini Qurban dariku dan dari umatku yang tidak bisa ber-Qurban).”
(HR. Abu Daawud no: 2812, di-Shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin al-Albaany, dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyalloohu ‘anhu)

647) DOA TERBAIK DI HARI ‘AROFAH

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

خير الدعاء دعاء يوم عرفة وخير ما قلت أنا والنبيون من قبلي : لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

“Sebaik-baik doa adalah doa di hari ‘Arofah, dan sebaik-baik apa yang aku (Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam) dan para Nabi sebelumku katakan adalah: “Laa Ilaaha Illalloohu Wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa ‘Alaa Kulli Syai’in Qodiir” (Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya, kecuali hanya Allooh; dan tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala Kerajaan dan Pujian dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu).”
(HR. At-Turmudzy no: 3585, dari ‘Amr bin Syu’aib rodhiyalloohu ‘anhu, di-Shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin al-Albaany – Silsilah -al-Ahadits ash-Shohiihah, 4/8 no: 1503)

648) TIDAK ADA SHOLAT QOBLIYAH / BA’DIYAH ‘IED

‘Abdulloon bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَ’هَا وَلاَ بَعْدَهَا

“Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam pernah keluar di hari ‘Iedul Adha atau ‘Iedul Fithri, lalu melaksanakan sholat ‘ied dua raka’at, namun tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.”
(HR. Al-Bukhoory no: 964 dan HR. Muslim no: 884, dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu)

649) KEIKUTSERTAAN WANITA PADA SHOLAT ‘IED

Ummu ‘Athiyah rodhiyalloohu ‘anha berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ . قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِحْدَانَا لا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ . قَالَ : لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Bahwa Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami agar mengeluarkan para wanita dalam sholat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha, mereka yang sudah/mendekati baligh, yang sedang haid, dan yang masih dipingit (perawan). Adapun mereka yang sedang haid, hendaknya menjauh dari tempat sholat dan menyaksikan kebaikan hari tersebut dan do’a-do’a kaum Muslimin.” Aku berkata: “Wahai Rosuulullooh, salah satu diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab.” Maka beliau bersabda: “Hendaknya saudaranya meminjaminya.”
(HR. Al-Bukhoory no: 324 dan HR. Muslim no: 890, dari Ummu ‘Athiyah rodhiyalloohu ‘anha)

650) UNTA / SAPI UNTUK 7 PEQURBAN

Jabir bin ‘Abdillaah rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

حَجَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحَرْنَا الْبَعِيرَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

“Kami haji bersama Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam, kami berqurban dengan Unta untuk tujuh orang, dan Sapi untuk tujuh orang.”
(HR. Muslim No. 1318, dari Jabir bin ‘Abdillaah rodhiyalloohu ‘anhu)

651) TAJAMKAN GOLOK / PISAU SEBELUM MENYEMBELIH

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allooh memerintahkan agar berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.”
(HR. Muslim no. 1955, dari Syaddad bin Aus rodhiyalloohu ‘anhu)

652) TUJUAN & TUNTUNAN PEMBAGIAN DAGING SEMBELIHAN QURBAN

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

لِّيَشْهَدُوْا مَنَا فِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْۤ يَّا مٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَ نْعَا مِ ۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَ طْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْـرَ ۖ

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allooh pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rizqi yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”
(QS. Al-Hajj/22: 28)

653) HARI RAYA SEPANJANG TAHUN

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullooh berkata:

كل يوم لا يعصى الله فيه فهو عيد كل يوم يقطعه المؤمن في طاعة مولاه وذكره وشكره فهو له عيد

“Setiap hari dimana Allooh tidak dimaksiati, maka hari itu adalah Hari Raya. Setiap hari dimana seorang mukmin berada dalam keadaan taat kepada Allooh, mengingat-Nya dan mensyukuri-Nya, maka baginya adalah Hari Raya.”
(Ibnu Rojab Al-Hambaly [wafat 795 H], Latho’iful Ma’arif, hal. 278)

654) BAGI ORANG YANG MENGERTI

Ibnu Abi Mulaikah rohimahullooh berkata:

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ

“Aku bertemu dengan 30 orang shohabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, mereka semua sangatlah takut bila kemunafikan bercokol pada diri mereka; tidak seorangpun dari mereka yang mengatakan bahwa imannya seperti iman Jibril dan Mikail.”
(Al -Imam al-Bukhoory [wafat 256 H], Shohiih al-Bukhoory, 1/18)

655) JALAN MENJADI SEPI

Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

لَوْ هَلَكَ الْمُنَافِقُونَ لَاسْتَوْحَشْتُمْ فِي طُرُقَاتِكُمْ مِنْ قِلَّةِ السَّالِكِ

“Jika orang-orang munafik itu binasa, niscaya engkau akan temui jalan dalam keadaan sepi; karena sedikitnya orang yang beriman.”
(Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], Madarijus Salikin, hal. 388)

656) SYAITHOON PUN TERDIAM

Ibrohiim bin Adham rohimahullooh berkata:

ليس شيء أشد على الشيطان من عالم يتكلم بعلم ويسكت بعلم يقول انظروا إلى هذا سكوته أشد علي من كلامه

“Tidak ada yang paling mengerikan bagi syaithoon, melainkan orang yang berilmu yang berbicara atas dasar ilmu dan diam atas dasar ilmu.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 1/69)

657) BERLINDUNG DARI SHIFAT NIFAQ

Abud Darda rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ خُشُوعِ النِّفَاقِ، قِيلَ لَهُ: وَمَا خُشُوعُ النِّفَاقِ؟ قَالَ: أَنْ يُرَى الْجَسَدُ خَاشِعًا وَالْقَلْبُ لَيْسَ بِخَاشِعٍ

“Berlindunglah kalian kepada Allooh dari “Khusyu’ Nifaq”, kemudian beliau ditanya apa maksudnya, maka beliau menjawab: “Yaitu tubuh yang tampak seperti orang khusyu’, padahal hatinya tidak demikian”.”
(Al-Imam Ahmad bin Hanbal [wafat 241 H], Az-Zuhdu, hal. 117, no: 762)

658) BUKAN TEMANMU

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ لَا يُصَاحِبَ خَمْسَةً: الْمَاجِنَ وَالْكَذَّابَ، وَالْأَحْمَقَ وَالْبَخِيلَ، وَالْجَبَانَ فَأَمَّا الْمَاجِنُ فَعَيْبٌ إنْ دَخَلَ عَلَيْك، وَعَيْبٌ إنْ خَرَجَ مِنْ عِنْدِك، لَا يُعِينُ عَلَى مُعَادٍ وَيَتَمَنَّى أَنَّك مِثْلُهُ، وَأَمَّا الْكَذَّابُ فَإِنَّهُ يَنْقُلُ حَدِيثَ هَؤُلَاءِ إلَى هَؤُلَاءِ، وَيُلْقِي الشِّحْنَةِ فِي الصُّدُورِ وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَإِنَّهُ لَا يُرْشِدُ لِسُوءٍ يَصْرِفُهُ عَنْك، وَرُبَّمَا أَرَادَ أَنْ يَنْفَعَكَ فَيَضُرّكَ فَبُعْدُهُ خَيْرٌ مِنْ قُرْبِهِ وَمَوْتُهُ خَيْرٌ مِنْ حَيَاتِهِ، وَأَمَّا الْبَخِيلُ فَأَحْوَجُ مَا تَكُونُ إلَيْهِ أَبْعَدَ مَا تَكُونُ مِنْهُ، فَفِي أَشَدِّ حَالَاتِهِ يَهْرُبُ وَيَدَعُك

“Hendaknya seseorang tidak berteman dengan lima orang: 1) Orang yang krisis malu, 2) Pendusta, 3) Orang yang dungu, 4) Orang yang kikir, dan 5) Pengecut. “Orang yang Krisis Malu”, merupakan sesuatu yang cela jika dia keluar masuk berkunjung padamu, karena dia tidak menolongmu untuk perkara akhiratmu dan engkau pun tidak berangan menjadi sepertinya. Adapun “Pendusta”, maka perkataan mereka tidak patut untuk dinukil, bahkan akan melahirkan kebencian dalam dada. Sedangkan “Orang Dungu”, maka bisa jadi dia bermaksud baik, akan tetapi justru menimbulkan bahaya bagimu, sehingga lebih baik jauh darinya; bahkan matinya lebih baik dari hidupnya. Demikian pula dengan “Orang yang Kikir”, karena bisa jadi pada saat engkau membutuhkannya, justru dia akan lari meninggalkanmu.”
(Muhammad bin Muflih [wafat 763 H], Al-Adab asy-Syar’iyyah, 3/573)

659) BARTER YANG MERUGIKAN

Abu Dzar al-Ghifari rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

لا تغش أبواب السلاطين فإنك لا تصيب شيئاً من دنياهم إلا أصابوا من دينك أفضل منه

“Janganlah engkau memasuki pintu-pintu penguasa, karena jika dirimu mendapatkan sesuatu dari dunia mereka, maka pastilah mereka akan merugikan agamamu jauh lebih banyak.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 1/69)

660) FATWA DALAM SEGALA MASALAH

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

إن الذي يفتي الناس في كل ما يستفتونه لمجنون وقال جنة العالم لا أدري

“Sesungguhnya orang yang (beranggapan dirinya mampu) berfatwa dalam segala masalah itu adalah orang gila.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin,1/69)

661) BISU TERHADAP HARGA DIRI ORANG

Al-Ghozaali rohimahullooh berkata:

قَالَ بَعْضُهُمْ أَدْرَكْنَا السَّلَفَ وَهُمْ لَا يَرَوْنَ الْعِبَادَةَ فِي الصَّوْمِ وَلَا فِي الصَّلَاةِ وَلَكِنْ فِي الْكَفِّ عَنْ أَعْرَاضِ النَّاسِ

“Mereka (para orang shoolih) menganggap ibadah itu bukanlah hanya sekedar sholat atau shoum, akan tetapi hakekat ibadah itu adalah berhenti dari merendahkan / menjelekkan harga diri orang lain.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 3/143)

662) KEPATUTAN/MARWAH

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

الادب حلى فِي الْغنى كنز عِنْد الْحَاجة عون على الْمُرُوءَة صَاحب فِي الْمجْلس مؤنس فِي الْوحدَة

“Akhlak itu adalah perhiasan bagi orang yang kaya, simpanan berharga saat dibutuhkan, penolong atas kepatutan, teman dalam suatu majlis, dan pendamping saat bersendirian.”
(Al-Marzabany [wafat 309 H], Al-Muru’ah, hal. 122)

663) FILSAFAT YUNANI

Ibnu Taimiyyah rohimahullooh berkata:

الْمَنْطِقَ الْيُونَانِيَّ لَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ الذَّكِيُّ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ الْبَلِيدُ

“Filsafat Yunani itu, tidak dibutuhkan oleh orang yang cerdas dan tidak bermanfaat bagi orang yang lemah akalnya.”
(Ibnu Taimiyyah [wafat 728 H], Majmu’ Fatawa, 9/82)

664) IKATAN YANG KUAT

Al-Imam al-Auza’i rohimahullooh berkata:

إِنَّمَا الْإِيمَانُ اسْمٌ جَامِعٌ كَمَا يَجْمَعُ هَذِهِ الْأَدْيَانَ اسْمُهَا وَيُصَدِّقُهُ الْعَمَلُ فَمَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَعَرَفَ بِقَلْبِهِ وَصَدَّقَ ذَلِكَ بِعَمَلِهِ فَتِلْكَ الْعُرْوَةُ الْوثْقَى الَّتِي لَا انْفِصَامَ لَهَا، وَمَنْ قَالَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَعْرِفْ بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَصْدُقْهُ بِعَمَلِهِ لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ وَكَانَ فِي الْأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Iman itu adalah segenap apa yang dicakup oleh nama “Islam”, kemudian dibuktikan oleh amalannya. Maka barangsiapa yang mulutnya beriman, hatinya meyakini, dan dibuktikan oleh amalannya, maka itulah ikatan yang kokoh yang tidak pernah akan putus; tetapi barangsiapa yang beriman dengan mulutnya, tetapi tidak meyakini dengan hatinya, dan tidak dibuktikan oleh amalannya, maka tidak akan diterima darinya dan di akherat kelak akan tergolong orang-orang yang merugi.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 6/143)

665) BUKA TUTUP MULUT

Abul Qosim al-Qusyairi rohimahullooh berkata:

الصَّمْتُ بِسَلَامَةٍ وَهُوَ الْأَصْلُ وَالسُّكُوتُ فِي وَقْتِهِ صِفَةُ الرِّجَالِ كَمَا أَنَّ النُّطْقَ فِي مَوْضِعِهِ مِنْ أَشْرَفِ الْخِصَالِ

“Tutup mulut demi keselamatan itu adalah hukum asalnya; tutup mulut pada waktunya adalah sikap para ksatria; sedangkan angkat bicara pada tempatnya adalah sifat yang sangat terpuji.”
(Al-Imam an-Nawawy [wafat 676 H], Syarh Shohiih Muslim, 2/19-20)

666) HAMBA YANG DICINTAI ALLOOH

Al-Hasan al-Bashri rohimahullooh berkata:

ابن آدم إنك لن تصيب حقيقة الإيمان حتى لا تغيب الناس بعيب هو فيك وحتى تبدأ بصلاح ذلك الغيب فتصلحه من فإذا فعلت ذلك كان شغلك في خاصة نفسك وأحب العباد إلى الله من كان هكذا

“Sungguh engkau tidak akan sampai pada hakekat Iman, sehingga engkau tidak berghibah terhadap orang yang mana kekurangan itu juga ada pada dirimu; sehingga engkau perbaiki dulu kesalahanmu; dan jika engkau lakukan itu, maka engkau akan sibuk dengan urusan dirimu sendiri, dan orang yang demikian adalah orang yang paling dicintai Allooh.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 3/143)

667) MEMBEBANI DIRI

Ibnu Taimiyyah rohimahullooh berkata:

كل مسألة لا ينبني عليها عمل، فالخوض فيها من التكلف الذي نهينا عنه

“Setiap masalah yang tidak membimbing pada aplikasi ‘Amaliyah, maka menyelaminya adalah sikap membebani diri yang dilarang.”
(Ibnu Taimiyyah [wafat 728 H], Majmu’ Fatawa, 9/82)

668) DEKORASI KONSEP

Al-Imam al-Auza’i rohimahullooh berkata:

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ، وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءِ الرِّجَالِ، وَإِنْ زَخْرَفُوا لَكَ بِالْقَوْلِ

“Hendaknya engkau berpegang teguh dengan peninggalan Pendahulu Ummat ini, betapapun manusia menolakmu; dan hindarilah olehmu pendapat-pendapat orang, betapapun pendapat itu dihias dengan bahasa seindah mungkin.”
(Al-Aajurry [wafat 360 H], Asy-Syari’ah, 1/445, no: 127)

669) PEJABAT BERINTEGRITAS

كتب عمر بن عبد العزيز رحمه الله إلى الحسن أما بعد فأشر علي بأقوام أستعين بهم على أمر الله تعالى فكتب إليه أما أهل الدين فلا يريدونك وأما أهل الدنيا فلن تريدهم ولكن عليك بالأشراف فإنهم يصونون شرفهم أن يدنسوه بالخيانة

‘Umar bin ‘Abdul Aziiz bersurat pada Al-Hasan Al-Bashri: “Tunjukkan aku kepada orang-orang yang dapat membantuku dalam perkara Allooh.”
Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab: “Adapun orang yang beragama, maka mereka tidak akan menginginkanmu; sedangkan pengikut dunia, maka engkau tidak menginginkan mereka; akan tetapi hendaknya engkau mencari orang-orang yang terhormat, karena mereka pasti akan menjaga kehormatan diri mereka dari upaya mencoreng diri mereka sendiri dengan khianat.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 1/69)

670) DZIKIR ADALAH OBAT

‘Umar bin al-Khoththoob rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

عَلَيْكُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ شِفَاءٌ وَإِيَّاكُمْ وَذِكْرَ النَّاسِ فَإِنَّهُ دَاءٌ

“Hendaknya kalian perbanyak mengingat Allooh; sebab mengingat Allooh itu adalah obat; dan hindarilah oleh kalian menyebut cela orang, karena yang demikian itu adalah penyakit.”
(Al-Imam Ahmad bin Hambal [wafat 241 H], Az-Zuhd, hal. 101, no: 644)

671) LENYAPNYA ILMU

Al-Imam az-Zuhri rohimahullooh berkata:

كَانَ مَنْ مَضَى مِنْ عُلَمَائِنَا يَقُولُونَ: إِنَّ الِاعْتِصَامَ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ، وَالْعِلْمُ يُقْبَضُ قَبْضًا سَرِيعًا، فَنَشْرُ الْعِلْمِ ثَبَاتُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَفِي ذَهَابِ الْعِلْمِ ذَهَابُ ذَلِكَ كُلِّهِ

“Para ‘Ulama sebelum kita mengatakan: “Sesungguhnya berpegang teguh pada sunnah Nabi adalah keselamatan; sedangkan ilmu, Allooh akan segera cabut; oleh karena itu, menyebarkan ilmu adalah upaya mengukuhkan Islam, juga termasuk mengukuhkan dunia; sedangkan lenyapnya ilmu adalah lenyapnya agama, sekaligus juga lenyapnya dunia.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 3/369)

672) SEPERTI MEREKA

Al-Imam al-Auza’i rohimahullooh berkata:

اصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، وَقُلْ فِيمَا قَالُوا، وَكُفَّ عَمَّا كَفُّوا عَنْهُ، وَاسْلُكْ سَبِيلَ سَلَفِكَ الصَّالِحِ، فَإِنَّهُ يَسَعُكِ مَا وَسِعَهُمْ

“Bersabarlah dirimu diatas Sunnah, berhentilah pada perkara dimana mereka (Pendahulu Ummat ini yang shoolih) berhenti, katakanlah olehmu apa yang mereka katakan, dan kendalikanlah dirimu pada perkara dimana mereka pun mengendalikan diri dalam perkara itu, titilah jalan yang mereka jalani; niscaya kalian akan meraih apa yang mereka raih.”
(Al-Aajurry [wafat 360 H], Asy-Syari’ah, 2/673, no. 294)

673) HANYA ADA SATU ALTERNATIF

Al-Imam al-Junaid rohimahullooh berkata:

الطُّرُقُ كُلُّهَا مَسْدُودَةٌ عَلَى الْخَلْقِ إِلَّا مَنِ اقْتَفَى أَثَرَ الرَّسُولِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ وَلَزِمَ طَرِيقَتَهُ فَإِنَّ طُرُقَ الْخَيْرَاتِ كُلَّهَا مَفْتُوحَةٌ عَلَيْهِ

“Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali bagi yang mencukupkan diri pada peninggalan Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam dan mengikuti sunnah-sunnahnya, serta istiqomah diatasnya; dan sesungguhnya semua jalan kebaikan terbuka diatas semua sunnah itu.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/257)

674) POSISI PENDAPAT

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz rohimahullooh berpesan:

لَا رَأْيَ لِأَحَدٍ مَعَ سُنَّةٍ سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ

“Tidak ada pendapat yang boleh menyaingi sunnah Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam.”
(Al-Aajurry [wafat 360 H], Asy-Syari’ah, 1/423, no:107)

675) TIDAK PERLU PANJANG LEBAR

Al-Imam al-Ghozali rohimahullooh berkata:

الفطن يغنيه القليل عن الكثير والبليد لا يغنيه التطويل أيضاً فلا فائدة في التفصيل

“Sedikit penjelasan akan bermanfaat bagi orang yang cerdas, akan tetapi bagi orang yang lambat berpikir, maka penjelasan yang panjang lebar pun tidak akan bermanfaat maka tidak ada gunanya memperpanjang.”
(Al-Ghozaali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 4/384)

676) KHOLWAT (BERSENDIRIAN)

Abu Yazid al-Busthomi berkata:

انْظُرْ أَنْ يَأْتِيَ عَلَيْكَ سَاعَةٌ لَا تَرَى فِي السَّمَاءِ غَيْرَهُ وَلَا فِي الْأَرْضِ غَيْرَكَ

“Perhatikanlah olehmu saat dimana di langit tidak kamu lihat selain hanyalah Allooh, dan di bumi tidak kamu lihat kecuali hanyalah dirimu.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/39)

677) KRONI PENGUASA

قال السجان لأحمد بن حنبل: هل أنا من أعوان الظلمة؟ فقال: لا، أنت من الظلمة؛ إنما أعوان الظلمة من أعانك في أمر

Suatu hari Al-Imam Ahmad rohimahullooh ditanya oleh sipir (penjaga penjara), “Apakah aku termasuk penolong penguasa yang dzolim?”
Maka beliau pun menjawab: “Tidak, engkau justru adalah bagian dari orang-orang yang dzolim itu sendiri; adapun penolong orang dzolim itu adalah orang yang memberimu pertolongan dalam suatu masalah.”
(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/302)

678) BERSAMA AHLI SURGA

Maalik bin ‘Anas rohimahullooh berkata:

من لزم السنة، وسلم منه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم مات، كان مع النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، وإن كان له تقصير في العمل

“Barangsiapa yang konsisten diatas sunnah maka para Shohabat akan terbebas dari caci makinya; dan jika orang itu mati maka dia akan bersama para Nabi, para Shiddiqiin, para Syuhada dan para Shoolihiin; betapapun dia memiliki kekurangan dalam amalannya.”
(Al-Imam al-Barbahaary [wafat 329 H], Syarhus Sunnah, hal.133)

679) IMAN DAN AMAL

Al-Imam al-Auza’i rohimahullooh berkata:

وَكَانَ مَنْ مَضَى مِنْ سَلَفِنَا لَا يُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ، الْعَمَلُ مِنَ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ مِنَ الْعَمَلِ،

“Para Pendahulu Ummat ini tidak membedakan antara IMAN dan AMAL; Amal adalah bagian dari Iman, dan sebaliknya Iman juga bagian dari Amal.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H), Hilyatul Auliya’, 6/143)

680) SESUAI SUNNAH

Al-Imam al-Auza’i rohimahullooh berkata:

لَا يَسْتَقِيمُ الْإِيمَانُ إِلَّا بِالْقَوْلِ وَلَا يَسْتَقِيمُ الْقَوْلُ إِلَّا بِالْعَمَلِ وَلَا يَسْتَقِيمُ الْإِيمَانُ وَالْقَوْلُ وَالْعَمَلُ إِلَّا بِالنِّيَّةِ مُوَافَقَةً لِلسُّنَّةِ

“Iman itu tidak akan pernah lurus tanpa perkataan (Ikrar); perkataan (Ikrar) itu tidak akan pernah lurus tanpa Iman; demikian pula Iman dan perkataan tidak akan lurus tanpa niat untuk sesuai Sunnah.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 6/143)

681) ALASAN BERAMAL

Abu Yazid al-Busthomi berkata:

لَأَنْ يُقَالَ لِي: لِمَ لَا تَفْعَلُ؟ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يُقَالَ لِي لِمَ فَعَلْتَ؟

“Aku lebih suka ditanya: “Mengapa tidak engkau kerjakan”?; daripada ditanya: “Mengapa engkau kerjakan?”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/39)

682) EFEKTIF

Mathor meriwayatkan dari Al-Imam Maalik, beliau berkata:

عَمَلٌ قَلِيلٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ فِي بِدْعَةٍ، وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا فِي سُنَّةٍ قَبِلَ اللهُ مِنْهُ عَمَلَهُ، وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا فِي بِدْعَةٍ رَدَّ اللهُ عَلَيْهِ بِدْعَتَهُ

“Amalan yang sedikit tetapi menepati Sunnah Nabi adalah lebih baik daripada Amalan yang banyak tetapi diatas kebid’ahan. Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan sesuai dengan sunnah, maka Allooh akan menerima amalannya itu; sedangkan barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan berdasarkan bid’ah (perkara baru dalam agama), niscaya Allooh akan mengembalikan bid’ah itu kepadanya.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 3/76)

683) HINA DALAM PANDANGAN ALLOOH

Al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullooh berkata:

مَا أَهْوَنُ الْخَلْقِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَضَاعُوا أَمْرَهُ

“Betapa hinanya manusia dalam pandangan Allooh, jika mereka menyia-nyiakan tuntunan-Nya.”
(Al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], Al-Jawabul Kaafi, hal. 44)

684) SUSAH DIDIDIK

‘Umar bin al-Khoththoob rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

من لم يؤدّبه الشّرع لا أدّبه الله

“Barang siapa yang susah dididik oleh Syari’at (Islam), niscaya Allooh tidak akan mengajarinya (memberinya petunjuk).”
(Ibnu Kholdun [wafat 808 H], Tarikh Ibnu Kholdun, 1/744)

685) KEUTAMAAN SHOUM DI BULAN MUHARROM

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Sebaik-baik shoum (puasa) setelah shoum Romadhoon adalah shoum di bulan Allooh, bulan Muharrom.”
(HR. Muslim no: 2812, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

686) MENUDUH BERKHIANAT

Al-Imam Maalik rohimahullooh berkata:

من أحدث في هذه الأمة اليوم شيئا لم يكن عليه سلفها فقد زعم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خان الرسالة

“Barangsiapa pada hari ini yang mengada-adakan sesuatu perkara yang baru di dalam (agama) ummat ini, apapun itu; padahal tidak ada ajaran tentang itu sebelumnya, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam telah menghianati Risalah (da’wahnya).”
(Al-Imam Ibnu Hazm al-Andalusy [wafat 456 H], Al-Ihkaam fî Ushuulil Ahkaam, 6/58)

687) MENAKJUBKAN, TAPI TIDAK BERNILAI

Abu Yazid al-Busthomi berkata:

الَّذِي يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ لَيْسَ بَعَجَبٍ , لِلَّهِ خَلْقٌ كَثِيرٌ يَمْشُونَ عَلَى الْمَاءِ لَيْسَ لَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ قِيمَةٌ

“Orang yang berjalan di atas air itu bukanlah suatu hal yang aneh; sungguh ada banyak orang yang berjalan di atas air, namun di sisi Allooh mereka sama sekali tidak berharga.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/39)

688) KONSISTEN

Abu ‘Utsman al-Jiry rohimahullooh berkata:

مَنْ أَمَّرَ السُّنَّةَ عَلَى نَفْسِهِ قَوْلًا وَفِعْلًا نَطَقَ بِالْحِكْمَةِ وَمَنْ أَمَّرَ الْهَوَى عَلَى نَفْسِهِ نَطَقَ بِالْبِدْعَةِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا} [النور: 54

“Barangsiapa yang menegakkan sunnah pada dirinya, baik melalui perkataan maupun perbuatan, niscaya akan terlontar darinya perkataan yang hikmah/ bijak. Sedangkan barangsiapa yang menegakkan hawa nafsu atas dirinya, niscaya yang terlontar darinya adalah kebid’ahan; hal itu sebagaimana firman Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa: “Dan jika kalian mentaatinya, niscaya kalian akan mendapat petunjuk (QS. An-Nuur/24:54).”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/244)

689) SHOUM SUNNAH 9 MUHARROM (TAASU’A)

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasalllam bersabda:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan shoum (puasa) pada hari kesembilan (Muharrom).”
(Hadits Muslim no: 2723, HR. Ahmad no: 1971, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu)

690) KEUTAMAAN SHOUM SUNNAH 10 MUHARROM (‘AASYUROO)

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Rosuulullooh shollalloohu ’alaihi wasallam ditanya tentang keutamaan shoum (puasa) ‘Aasyuroo, maka beliau bersabda: ” Shoum ‘Aasyuroo akan menghapus dosa* setahun yang lalu.”
(HR. Muslim no: 1162, dari Abu Qotadah al-Anshoriy rodhiyalloohu ‘anhu)
[* Yang dimaksud adalah: dosa kecil (Al-Imam an-Nawawy, Syarh Shohiih Muslim, 8/46))

691) SHOUM 9 & 10 MUHARROM, UNTUK MENYELISIHI YAHUDI & NASHRONI

عن بْن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع،َ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhuma, bahwa pada saat Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam shoum (puasa) pada hari ‘Aasyuroo’ dan juga memerintahkan para shohabatnya untuk shoum, maka para shohabat berkata, “Wahai Rosuulullooh, hari ‘Aasyuroo adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashroni.” Maka Rosuulullooh bersabda: “Pada tahun depan in-syaa Allooh, kita akan shoum pada hari ke sembilan (Muharrom).” Dan belum tiba tahun yang akan datang itu, namun Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam sudah wafat.’
(HR. Muslim no: 1916)

692) BID’AH (PERKARA BARU DALAM AGAMA)

Al-Imam Abu Syaamah rohimahullooh berkata:

مَا أسْرع النَّاس الى الْبدع

“Betapa cepatnya manusia (cenderung mengikuti) terhadap berbagai kebid’ahan (perkara baru dalam beragama Islam).”
(Al-Imam Abu Syaamah [wafat 665 H], Al-Baa’its ‘alaa Inkaaril Bida’ wal Hawadits, hal. 44)

693) KEBAIKAN PALSU

‘Abdullooh bin ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ , وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap Bid’ah (perkara baru dalam beragama Islam) itu adalah kesesatan, betapapun manusia menganggapnya baik.”
(Al-Imam al-Lalika’i [wafat 418 H], Syarh Ushul I’tiqood Ahlus Sunnah wal Jama’ah, 1/104, no: 126)

694) SUDAH CUKUP

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعوَا فَقَدْ كُفِيتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Ikutilah oleh kalian (Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam), dan janganlah kalian berbuat kebid’ahan (perkara baru dalam beragama Islam); sungguh kalian telah diberi kecukupan, dan (ketahuilah) setiap kebid’ahan itu adalah kesesatan.”
(Al-Imam al-Marwazi [wafat 294 H], As-Sunnah, hal. 28, no: 78)

695) AMAL SHOOLIH

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

الْعَمَلُ الصَّالِحُ الَّذِي لَا تُرِيدُ أَنْ يَحْمَدَكَ عَلَيْهِ أَحَدٌ إِلَّا لِلَّهِ

“Amal shoolih adalah keimanan yang kamu tidak menginginkan seorang pun memujinya, kecuali Allooh.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 35)

696) TAQWA

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

لَا يَقِلُّ عَمَلٌ مَعَ تَقْوَى، وَكَيْفَ يَقِلُّ مَا يُتَقَبَّلُ؟

“Amalan yang disertai Taqwa itu tidak akan bernilai kecil, karena bagaimana akan bernilai kecil padahal itu lah sesungguhnya yang akan Allooh terima.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-ikhlash wan Niyyah, hal. 35)

697) CIRI ISLAM

Ar-Robî’ bin Anas rohimahullooh berkata:

لَعلامة الدين الإخلاص لله، وعلامةُ العلم خشية الله

“Ciri Islam adalah Ikhlash; sedangkan ciri Ilmu adalah takut kepada Allooh”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 33)

698) KERAJAAN ALLOOH

Abu Yazid al-Busthomi berkata:

إِنَّا لِلَّهِ [البقرة: 156] إِقْرَارٌ لِلَّهِ بِالْمُلْكِ {وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156] إِقْرَارٌ عَلَى الْيَقِينِ بِالْمُلْكِ

“Sesungguhnya “inna lillaahi” (kita adalah milik Alloh) artinya: “Kita menetapkan bahwa kerajaan itu adalah milik Alloh” (berupa suatu KEYAKINAN); dan “wa inna ilaihi rooji’uun” (dan sesungguhnya kita pasti akan kembali kepada Allooh) artinya: “Kita menetapkan dengan sepenuh keyakinan akan kerajaan Allooh (SIKAP kita ATAS KEYAKINAN) itu.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 10/39)

699) ORIENTASI AMALAN

‘Ibrohiim berkata:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الْعَمَلَ الْحَسَنَ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ، أَوِ الْعَمَلَ لَا يُرِيدُ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ فَيَقَعُ لَهُ الْمَقْتُ وَالْعَيْبُ عِنْدَ النَّاسِ حَتَّى يَكُونَ عَيْبًا، وَإِنَّهُ لَيَعْمَلُ الْعَمَلَ أَوِ الْأَمْرَ يَكْرَهُهُ النَّاسُ يُرِيدُ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ فَيَقَعُ لَهُ الْمِقَةُ وَالْحُسْنُ عِنْدَ النَّاسِ

“Bisa jadi seseorang beramal amalan yang baik di mata manusia, tetapi dia tidak ikhlash dalam melakukannya; sehingga yang terjadi adalah dia menjadi buruk dan dibenci di mata manusia. Sebaliknya bisa jadi seseorang beramal dengan amalan yang tidak disukai orang, tetapi dia berusaha untuk ikhlash karena Allooh, maka dia akan mulia dan terpuji di mata manusia.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 40, no: 11)

700) AGAR AMALAN DITERIMA

‘Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

كُونُوا لِقُبُولِ الْعَمَلِ أَشَدَّ هَمًّا مِنْكُمْ بِالْعَمَلِ، أَلَمْ تَسْمَعُوا اللَّهَ يَقُولُ {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ} [المائدة: 27

“Jadikanlah dirimu agar amalanmu diterima oleh Allooh adalah lebih engkau prioritaskan daripada sekedar beramal; tidakkah engkau mendengar Allooh berfirman: “Sungguh Allooh hanya menerima amal orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Maa’idah/5: 27).”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 39, no: 10)

701) MANA YANG DIPRIORITASKAN

Abu Tsumaamah berkata:

قَالَ الْحَوَارِيُّونَ لِعِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَا الْإِخْلَاصُ لِلَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي يَعْمَلُ الْعَمَلَ لَا يُحِبُّ أَنْ يَحْمَدَهُ عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: فَمَنِ الْمُنَاصِحُ لِلَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي يَبْدَأُ بِحَقِّ اللَّهِ قَبْلَ حَقِّ النَّاسِ إِذَا عُرِضَ عَلَيْهِ أَمْرَانِ أَحَدُهُمَا لِلدُّنْيَا وَالْآخَرُ لِلْآخِرَةِ بَدَأَ بِأَمْرِ اللَّهِ قَبْلَ أَمْرِ الدُّنْيَا

“Al-Hawariyyun bertanya pada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, “Apa maksud “Ikhlash karena Allooh” itu?” Beliau menjawab, “Amalan yang dikerjakan dimana engkau tidak suka seorangpun dari manusia memuji.” Mereka kembali bertanya, “Siapakah orang yang “Memberi nasehat kepada Allooh”?” Beliau menjawab, “Orang yang memulai dengan Hak Allah sebelum hak manusia; apabila ditawarkan kepadanya 2 perkara dimana yang pertama perkara dunia dan yang kedua perkara akhirat, niscaya dia akan mendahulukan perkara yang terkait dengan Allooh sebelum perkara dunia.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 34)

702) PERKARA YANG MEMBAHAGIAKAN

Seorang putra ‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

طُوبَى لِمَنْ أَخْلَصَ عِبَادَتَهُ وَدُعَاءَهُ لِلَّهِ وَلَمْ يَشْغَلْ قَلْبَهُ مَا تَرَاهُ عَيْنَاهُ، وَلَمْ يُنْسِهِ ذِكْرُهُ مَا تَسْمَعُ أُذُنَاهُ، وَلَمْ يُحْزِنْ نَفْسَهُ مَا أُعْطِيَ غَيْرُهُ

“Berbahagialah bagi orang yang: (1) Ikhlash dalam ibadah dan doanya; (2) Hatinya tidak disibukkan oleh apa yang dilihat oleh kedua matanya; (3) Apa yang didengar kedua telinganya tidak menjadikannya lupa dari mengingat Allooh; dan (4) Dia tidak bersedih atas apa yang Allooh berikan kepada orang lain.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 36, no: 7)

703) DO’A MUSTAJAB

‘Abdul Wahid bin Zaid berkata:

الْإِجَابَةُ مَقْرُونَةٌ بِالْإِخْلَاصِ لَا فُرْقَةَ بَيْنَهُمَا

“Do’a menjadi mustajab jika dibarengi ikhlash, tidak dapat dipisahkan antara keduanya.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 37, no: 8)

704) NIKAHKANLAH AKU DENGAN BIDADARI

Seorang yang sedang bermain kerikil berdo’a:

اللَّهُمَّ زَوِّجْنِي مِنَ الْحُورِ الْعَيْنِ. فَقَامَ عَلَيْهِ عُمَرُ فَقَالَ: بِئْسَ الْخَاطِبُ أَنْتَ أَلَا أَلْقَيْتَ الْحَصَى، وَأَخْلَصْتَ لِلَّهِ الدُّعَاءَ

“Ya Allooh nikahkanlah aku dengan bidadari”; maka serentak ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz berkata, “Seburuk-buruk pelamar (wanita) adalah dirimu; coba engkau lemparkan kerikilmu, lalu berdo’alah dengan ikhlash kepada Allooh.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 38, no: 9)

705) AMALAN YANG SEMPURNA

Abu ‘Abdin an-Nibaaji rohimahullooh berkata:

خَمْسُ خِصَالٍ بِهَا تَمَامُ الْعَمَلِ: الْإِيمَانُ بِمَعْرِفَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمَعْرِفَةُ الْحَقِّ، وَإِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَالْعَمَلُ عَلَى السُّنَّةِ، وَأَكْلُ الْحَلَالِ، فَإِنْ فَقَدْتَ وَاحِدَةً، لَمْ يَرْتَفِعِ الْعَمَلُ، وَذَلِكَ أَنَّكَ إِذَا عَرَفْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَمْ تَعْرِفِ الْحَقَّ، لَمْ تَنْتَفِعْ، وَإِذَا عَرَفْتَ الْحَقَّ، وَلَمْ تَعْرِفِ اللَّهَ، لَمْ تَنْتَفِعْ، وَإِنْ عَرَفْتَ اللَّهَ، وَعَرَفْتَ الْحَقَّ، وَلَمْ تُخْلِصِ الْعَمَلَ، لَمْ تَنْتَفِعْ، وَإِنْ عَرَفْتَ اللَّهَ، وَعَرَفْتَ الْحَقَّ، وَأَخْلَصْتَ الْعَمَلَ، وَلَمْ يَكُنْ عَلَى السُّنَّةِ، لَمْ تَنْتَفِعْ، وَإِنْ تَمَّتِ الْأَرْبَعُ، وَلَمْ يَكُنِ الْأَكْلُ مِنْ حَلَالٍ لَمْ تَنْتَفِعْ.

“Lima perkara dengannya suatu amalan menjadi sempurna: (1) Beriman terhadap apa saja yang terkait dengan Allooh; (2) Mengenal kebenaran (Al-Haq); (3) Ikhlas karena Allooh dalam beramal; (4) Beramal sesuai sunnah; (5) Memakan makanan yang halal. Apabila hilang salah satu darinya, maka suatu amalan tidaklah akan bermanfaat. Jika engkau mengenal Allooh, tetapi tidak mengenal Al-Haq/Kebenaran, maka tidak akan bermanfaat. Jika engkau mengenal Al-Haq tetapi tidak mengenal Allooh, juga tidak akan bermanfaat. Dan jika engkau mengenal Allooh, serta mengenal Al-Haq, tetapi engkau tidak ikhlash pada saat beramal, maka juga tidak akan bermanfaat. Jika engkau mengenal Allooh, serta ikhlash dalam beramal, hanya saja engkau tidak sesuai dengan sunnah Rosuulullooh, maka juga tidak akan bermanfaat. Dan jika engkau tunaikan empat perkara, tetapi makananmu tidak halal, maka juga tetap tidak akan bermanfaat.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 32)

706) SEBAB KESESATAN

Al-Imam Al-Barbahaary rohimahullooh berkata:

واعلم أن الخروج من الطريق على وجهين؛ أما أحدهما: فرجل زل عن الطريق، وهو لا يريد إلا الخير، فلا يُقتدى بزلته، فإنه هالك، وآخر عاند الحق وخالف من كان قبله من المتقين، فهو ضال مضل، شيطان مريد في هذه الأمة، حقيق على من يعرفه أن يحذر الناس منه، ويبين لهم قصته؛ لئلا يقع أحد في بدعته فيهلك.

“Ketahuilah olehmu bahwa keluar dari jalan yang benar itu ada 2 sisi: (1) Seseorang yang terpleset dari jalan yang benar sedangkan dia tidak menginginkan darinya kecuali adalah kebaikan, maka janganlah engkau ikuti kesalahannya; karena sesungguhnya dia adalah celaka; (2) Seseorang yang membangkang kebenaran dan menyelisihi orang-orang yang bertaqwa sebelumnya, maka orang itu adalah orang yang sesat dan menyesatkan, merupakan syaithoon yang ada pada ummat ini, dan adalah merupakan suatu keharusan bagi orang yang mengetahuinya untuk mentahdzir manusia darinya, menjelaskan kisahnya, agar tidak ada seorangpun yang terjerembab dalam kebijakannya, lalu dia menjadi orang yang binasa.”
(Imam Al-Barbahaary [wafat 329 H], Syarhus Sunnah, hal. 38–39, no: 7)

707) LEBIH TERKESAN

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ ، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ، نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ

Dari ‘Abdullooh bin ‘Amr rodhiyalloohu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam telah ditanya, “Siapakah manusia yang paling utama?” Beliau pun menjawab, “Setiap orang yang hatinya MAKHMUM, dan setiap orang yang lisannya selalu (berusaha berkata) benar”; para shohabat pun kembali bertanya, “Adapun orang yang lisannya selalu (berusaha) benar maka kami sudah mengetahuinya, namun apakah yang dimaksud dengan orang yang hatinya MAKHMUM?” Rosuul pun menjawab, “Orang yang sangat bertaqwa, dan orang yang sangat bersih hatinya; tidak ada dosa, tidak merusak, tidak dendam dan tidak iri.”
(HR. Ibnu Maajah no: 4216, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin al-Albaany)

RENUNGAN:

Tidak jarang dan tidak sedikit dari kalangan ummat Islam yang lebih terkesan dengan ucapan dan ungkapan orang, terlebih jika ungkapan itu keluar dari orang yang disukainya, atau dari orang Barat, atau dari para Filsuf…
Padahal…
Kalau kita kembali kepada Pedoman agama kita, pastilah hampir lima belas abad lalu kita dapat menemukannya….
Diantaranya adalah Hadits diatas…

Di dalam hadits tersebut, jelas sekali Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam tunjukkan INDIKATOR HATI dan MULUT ORANG yang BERIMAN…
Dimana hati orang beriman adalah bebas (sedapat mungkin) dari hal-hal yang menyebabkan berdosa, tidak merusak dirinya serta tidak merusak orang lain, maupun tidak merusak makhluk lain dan alam semesta…
Dan ia pun berusaha untuk tidak dendam pada orang lain, tidak iri pada orang lain yang mungkin memperoleh anugrah yang dirinya sendiri belum atau tidak meraihnya…
Demikian pula mulut/lisannya….
Dimana dia berusaha agar lisannya tidak melukai orang lain, tidak mengundang bahaya, tidak berdusta, tidak menipu, tidak mengelabui, dan juga tidak memalsu….

Maka…

Jika semua yang diisyaratkan oleh Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam dalam hadits diatas kita usahakan terwujud dalam alam nyata dalam berbagai forum dan momentum, maka niscaya individu akan selamat, masyarakat akan aman dan tentram; bahkan akan terwujud negara yang adil dan makmur sebagaimana yang sering didengungkan…

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd)

708) MAU LARI KEMANA?

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ …ۗ{

“Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh…”
[QS. An-Nisa’/4: 78]

RENUNGAN:

Semesta alam ini adalah…
Ciptaan Allooh…
Milik Allooh…
Dalam Pengaturan Allooh…
Dalam Pengawasan Allooh…
Dan dalam Pengetahuan Allah…

Kemanapun dan dimanapun manusia bersembunyi untuk melarikan diri agar dia tidak bisa mati…
Pastilah yang demikian itu adalah merupakan usaha yang sia-sia dan mustahil….
Karena jika ajal telah tiba…
Maka malaikat akan menjemputnya dimanapun dan kapanpun, serta dalam keadaan apapun ia….

Maka…

Hendaknya setiap manusia sadar akan itu dengan sedalam-dalamnya…
Dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd)

709) AKIBAT SIKAP SOMBONG

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

سَأَصْرِفُ عَنْ ءَايَٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَإِن يَرَوْا۟ كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا۟ بِهَا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلْغَىِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُوا۟ عَنْهَا غَٰفِلِينَ

“Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.”
[QS. Al-A’rof/7: 146]

RENUNGAN:

Marilah setiap kita jujur terhadap diri sendiri…

Ada manusia yang dalam hidupnya berada dalam sikap yang tidak jauh dari apa yang Allooh gambarkan dalam ayat diatas…
Jika diperlihatkan kepadanya ayat-ayat Allooh, maka dia tidak menggubrisnya, tidak menerimanya; bahkan menolaknya…

Jika ditunjukkan kepadanya jalan yang lurus, jalan yang menunjukkan dia menuju Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa, maka orang itu pun TIDAK menjadikannya sebagai Pedoman Hidupnya….

Mereka bersikap SOMBONG…
Mereka mendustakan ayat-ayat Allooh..
Mereka lalai…

Semua itu adalah karena kesombongan….
Kesombongan lah yang sesungguhnya telah menyebabkan mereka menolak apapun bentuk kebenaran yang yang diperlihatkan, yang ditampakkan, yang diperdengarkan kepadanya….

Maka…
Apa yang menjadi RAHASIA SESEORANG SANGAT SULIT untuk MENERIMA dan mendapatkan kebenaran dan PETUNJUK ALLOOH…
Jawabannya adalah…
KESOMBONGAN….

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd)

710) DOA BERLINDUNG DARI PENYAKIT MENULAR DAN SEGALA PENYAKIT YANG BURUK

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

“ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL BAROSHI WAL JUNUUNI WAL JUZAAMI WA MIN SAYYI’IL ASQOOMI
(Ya Allooh aku berlindung kepada-Mu dari Penyakit Kulit, Gila, Kusta dan dari segala penyakit yang buruk[#]).”

(HR. Abu Daawud no: 1554 dan HR. Ahmad 3/192, dari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddiin al-Albaany)
[#] Termasuk antara lain: Corona Virus (Covid-19)

711) KELUHAN ‘UMAR BIN AL-KHOTHTHOOB:

‘Umar bin al-Khoththoob rodhiyalloohu ‘anhu berdo’a:

اللَّهُمَّ أَشْكُو إلَيْك جَلَدَ الْفَاجِرِ وَعَجْزَ الثِّقَةِ

“Ya Allooh, sungguh aku mengadu pada-Mu akan tiraninya orang dzolim dan lemahnya orang yang terpercaya.”
(Ibnu Taimiyyah [wafat 728 H], Majmu’ Fatawa, 28/254)

712) DENGAN HATI

Muhammad bin Wasi’ berkata:

إِذَا أَقْبَلَ الْعَبْدُ إِلَى اللَّهِ أَقْبَلَ اللَّهُ بِقُلُوبِ الْعِبَادِ إِلَيْهِ

“Jika seorang hamba menghadap Allooh dengan hatinya, niscaya Allooh akan menjadikan hati manusia menghadap kepadanya.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 41, no: 24)

713) APABILA ILMU TERSEMBUNYI

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَلْتُفْشُوا العِلْمَ، وَلْتَجْلِسُوا حَتَّى يُعَلَّمَ مَنْ لاَ يَعْلَمُ، فَإِنَّ العِلْمَ لاَ يَهْلِكُ حَتَّى يَكُونَ سِرًّا

“Sebarkanlah ilmu dan duduklah untuk mengajar, sesungguhnya ilmu itu tidak akan musnah kecuali saat dia (ilmu itu menjadi) tersembunyi.”
(HR. Al-Bukhoory, 1/31)

714) HARTA DENGAN HARTA

Ketika dikatakan kepada sang pemilik toko bahwa orang yang akan berbelanja tersebut adalah Ibnu Muhairiiz (seorang ahli ibadah dan orang yang zuhud dalam hidupnya), maka beliau (Ibnu Muhairiiz) justru berkata:

اخْرُجْ إِنَّمَا نَشْتَرِي بِأَمْوَالِنَا لَا بِأَدْيَانِنَا

“Menjauhlah engkau, sungguh aku akan berbelanja dengan harta, dan bukan dengan agama.”
(Al Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H), Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 43, no: 15)

715) SEBELUM ILMU MUSNAH

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm:

انْظُرْ مَا كَانَ مِنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاكْتُبْهُ، فَإِنِّي خِفْتُ دُرُوسَ العِلْمِ وَذَهَابَ العُلَمَاءِ

“Perhatikanlah dan tulislah olehmu apa saja yang berasal dari Hadits Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam, sungguh aku takut akan rusaknya ilmu dan selanjutnya wafatnya para ‘Ulama.”
(Shohiih al-Bukhoory, 1/31)

716) KEMULIAAN KARENA KEAGAMAAN

Sulaiman al-Khowwash melewati Ibrohim bin Adham yang sedang berada ditengah orang-orang yang memuliakannya; maka Sulaiman berkata:

نِعْمَ الشَّيْءُ هَذَا يَا أَبَا إِبْرَاهِيمَ إِنْ لَمْ يَكُنْ تَكْرِمَةَ دِينٍ

“Inilah sebaik-baik perkara wahai Abu Ibrohim, jika bukan karena memuliakan agama (maka karena apa lagi?)”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 44, no: 16)

717) MALAIKATPUN TIDAK MAMPU MENYELAMINYA

Dhomroh bin Habiib berkata:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ يَرْفَعُونَ عَمَلَ الْعَبْدِ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ فَيُكْثِرُونَهُ وَيُزَكُّونَهُ حَتَّى يَنْتَهُوا بِهِ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ مِنْ سُلْطَانِهِ فَيُوحِيَ إِلَيْهِمْ: إِنَّكُمْ حَفَظَةٌ عَلَى عَمَلِ عَبْدِي، وَأَنَا رَقِيبٌ عَلَى مَا فِي نَفْسِهِ، إِنَّ عَبْدِي هَذَا لَمْ يُخْلِصْ لِي عَمَلَهُ فَاجْعَلُوهُ فِي سِجِّينٍ قَالَ: وَيَصْعَدُونَ بِعَمَلِ الْعَبْدِ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ يَسْتَقِلُّونَهُ وَيَحْتَقِرُونَهُ حَتَّى يَنْتَهُوا بِهِ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ فَيُوحِيَ اللَّهُ إِلَيْهِمْ: إِنَّكُمْ حَفَظَةٌ عَلَى عَمَلِ عَبْدِي وَأَنَا رَقِيبٌ عَلَى مَا فِي نَفْسِهِ فَضَاعِفُوهُ لَهُ وَاجْعَلُوهُ فِي عِلِّيِّينَ

“Malaikat mengantarkan amalan seorang hamba kepada Allooh dengan membanggakannya, namun Allooh berfirman kepada mereka: “Kalian adalah pencatat amalan hamba-Ku dan Aku lah yang mengawasi apa yang ada pada jiwanya; sesungguhnya hambaKu ini belum tulus karena Aku dalam amalannya, maka jadikanlah dia di dalam (neraka) sijjin”; dan juga malaikat lain melakukan hal yang sama terhadap amalan hamba yang lain, kemudian Allooh berfirman kepada mereka: “Sesungguhnya kalian adalah pencatat amalan hamba-Ku dan Aku lah yang mengawasi hati mereka, maka lipat-gandakan lah amalannya dan jadikan dia di dalam (surga) illiyyiin”.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H)], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 46, no: 18)

718) SEBAIK-BAIK AMALAN

Dalam mimpi ‘Abdul Malik bin ‘Attaab bertemu dangan ‘Aamir bin Qois dan beliau berkata:

أَيُّ الْأَعْمَالِ وَجَدْتَ أَفْضَلَ؟ قَالَ: مَا أُرِيدَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ

“Amalan yang sebaik-baiknya adalah yang diorientasikan hanya kepada Allooh.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 42, no: 13)

719) AKAN LEBIH BERHARGA

Fudholah berkata:

لَأَنْ أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا؛ لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينِ] {المائدة: 27

“Keadaan dimana aku mengetahui bahwa Allooh menerima sebiji sawit dari amalku adalah lebih aku cintai daripada dunia beserta isinya, karena Allooh berfirman: “Sesungguhnya Allooh hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa (QS Al-Maa’idah/5: 27)”.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 49, no: 20)

720) MENGAKU “MUSLIM” TAPI ISLAMOPHOBIA?

ISLAMOPHOBIA itu bisa terjadi karena:
1) Anti Agama
2) Anti Islam
3) Salah faham tentang Islam
4) “Software” di kepala berasal dari Pembenci Islam, atau
5) Hawa Nafsu yang membutakan

(Ust. Dr. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.)

721) KARENA KEDUDUKAN

Muhammad bin Abi Mansyur menceritakan:

أَنَّ عَابِدًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ عَبَدَ اللَّهَ فِي سِرْبٍ أَرْبَعِينَ سَنَةً فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: وَعِزَّتِكَ رَبَّنَا مَا رَفَعْنَا إِلَيْكَ خَفَاءً. قَالَ: صَدَقْتُمْ مَلَائِكَتِي وَلَكِنَّهُ يُحِبُّ أَنْ يَعْرِفَ مَكَانَهُ

Bahwa seorang hamba dari kalangan Bani Isro’il beribadah kepada Allooh selama 40 tahun sehingga malaikat berkata, “Demi kemuliaan-Mu wahai Allooh, kami menghantarkan amalannya kepada-Mu, selain yang tersembunyi”; maka Allooh berfirman, “Kalian benar wahai malaikat, akan tetapi orang ini beramal karena dia suka jika kedudukannya diketahui oleh manusia.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 48, no: 19)

722) WASPADA

‘Atho as-Salimy ditanya :

مَا الْحَذَرُ؟ قَالَ: الِاتِّقَاءُ عَلَى الْعَمَلِ أَلَّا يَكُونَ لِلَّهِ

“Apakah yang dimaksud dengan “waspada”?”
Beliau berkata, “Waspada adalah engkau berlindung dari amalan yang ditunaikan bukan karena Allooh.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 50, no: 21)

723) LURUSKAN HATI

Abu Hazim rohimahullooh berkata:

عِنْدَ تَصْحِيحِ الضَّمَائِرِ تُغْفَرُ الْكَبَائِرُ، وَإِذَا عَزَمَ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْآثَامِ أَتَتْهُ الْفُتُوحُ

“Ketika seorang hamba meluruskan hatinya maka dosanya akan diampuni; dan jika seorang hamba berkemauan untuk meninggalkan dosa maka keberhasilan akan menghampirinya.”
(Al Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 43, no: 114)

724) MUDAH UNTUK DIHAFAL

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

إِنَّا صَعُبَ عَلَيْنَا حِفْظُ أَلْفَاظِ الْقُرْآنِ، وَسَهُلَ عَلَيْنَا الْعَمَلُ بِهِ، وَإِنَّ مَنْ بَعْدَنَا يَسْهُلُ عَلَيْهِمْ حِفْظُ الْقُرْآنِ، وَيَصْعُبُ عَلَيْهِمُ الْعَمَلُ بِهِ

“Sungguh pada masa kami, Al-Qur’an mengalami kesulitan untuk dihafal, namun mudah untuk kami amalkan; akan tetapi di zaman setelah kami, maka bagi mereka adalah mudah untuk menghafal Al-Qur’an, namun sulit untuk mengamalkannya.”
(Al-Imam Al-Qurthubi [wafat 671 H], Tafsir al-Qurthubi, 1/40)

725) GUDANG PERADABAN

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

مَنْ أَرَادَ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ والآخرين فليثور القرآن

“Barangsiapa yang menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang terakhir, maka pikirkanlah tentang Al-Quran.”
(Al-Iman Az-Zarkasyi [wafat 794 H], Al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an, 2/154)

726) ISI HATI

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ أَوْعِيَةٌ فَاشْغَلُوهَا بِالْقُرْآنِ، وَلَا تَشْغَلُوهَا بِغَيْرِهِ

“Sesungguhnya hati ini adalah bejana, maka sibukkanlah hati kalian dengan Al-Qur’an dan janganlah kalian sibukkan dengan selainnya.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 6/126, no: 30011)

727) WALAUPUN 3 AYAT

‘Abdullooh bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

مَا يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ إِذَا رَجَعَ مِنْ سُوقِهِ أَوْ مِنْ حَاجَتِهِ فَاتَّكَأَ عَلَى فِرَاشِهِ أَنْ يَقْرَأَ ثَلَاثَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ

“Tidak mengapa jika seorang dari kalian setelah pulang dari pasarnya atau urusan kebutuhan hidupnya, sambil bersandar kemudian ia membaca 3 ayat dari Al-Qur’an.”
(Al-Imam ad-Darimy [wafat 255 H], Sunan ad-Darimy, 4/2101, no: 3379)

728) PENGUNDANG KEBERKAHAN

Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

الْبَيْتُ يُتْلَى فِيهِ كِتَابُ اللَّهِ كَثُرَ خَيْرُهُ، وَحَضَرَتْهُ الْمَلَائِكَةُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الشَّيَاطِينُ، وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي لَمْ يُتْلَ فِيهِ كِتَابُ اللَّهِ ضَاقَ بِأَهْلِهِ، وَقَلَّ خَيْرُهُ، وَحَضَرَتْهُ الشَّيَاطِينُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ

“Rumah yang didalamnya dbacakan Al-Qur’an, maka rumah itu akan semakin banyak kebaikannya, akan dihadiri oleh malaikat dan syaithoon pun akan lari darinya; sebaliknya rumah yang didalamnya tidak dibacakan Al-Qur’an maka penghuninya akan merasa sempit, kebaikannya sedikit, dan syaithoon pun semakin sering hadir ke tengah mereka, sedangkan malaikat justru akan keluar dari rumah itu.”
(Al-Imam ‘Abdullooh bin al-Mubaarok [wafat 797 H], Az-Zuhd, 1/273, no: 790)

729) PENERANG DI MALAM KELAM

Jundab bin ‘Abdillaah pernah berkata :

أُوْصِيْكُم بِتَقْوَى اللهِ، وَأُوْصِيْكُم بِالقُرْآنِ، فَإِنَّهُ نُوْرٌ بِاللَّيْلِ المُظْلِمِ، وَهُدَىً بِالنَّهَارِ، فَاعْمَلُوا بِهِ عَلَى مَا كَانَ مِنْ جُهْدٍ وَفَاقَةٍ، فَإِنْ عَرَضَ بَلاَءٌ، فَقَدِّمْ مَالَكَ دُوْنَ دِيْنِكَ، فَإِنْ تَجَاوَزَ البَلاَءُ، فَقَدِّمْ مَالَكَ وَنَفْسَكَ دُوْنَ دِيْنِكِ، فَإِنَّ المَخْرُوْبَ مَنْ خَرِبَ دِيْنُهُ، وَالمَسْلُوْبَ مِنْ سُلِبَ دِيْنُهِ، وَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ فَاقَةَ بَعْدَ الجَنَّةِ، وَلاَ غِنَىً بَعْدَ النَّارِ

“Aku berpesan kepada kalian agar kalian senantiasa bertaqwa kepada Allooh, berpegang teguh dengan Al-Qur’an: karena ia adalah cahaya di malam yang kelam dan petunjuk di siang hari yang bolong; beramallah kalian dengan Al-Qur’an betapapun dengan segala kesulitan dan kekurangan, karena yang demikian itu adalah merupakan ujian; korbankanlah hartamu untuk agamamu, betapapun harus melampaui ujian; tetap korbankanlah harta dan jiwamu untuk agamamu, karena kehancuran itu adalah bagi siapa yang menghancurkan agamanya; kenistaan itu adalah bagi yang dicabut darinya agamanya; dan ketahuilah bahwa tidak ada kekurangan setelah surga dan tidak ada kecukupan setelah neraka.”
(Al-Imam adz-Dzahabi [wafat 748 H], Siyar A’lam an-Nubala, 3/174, no: 30)

730) SURAT UNTUKMU

Al-Hasan bin ‘Ali rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

إن من كان قبلكم رأوا القرآن رسائل من ربهم فكانوا يتدبرونها بالليل ويتفقدونها في النهار

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang bahwa Al-Qur’an adalah surat-surat dari Tuhan kalian (Allooh), maka dari itu mereka mentadabburinya (memikirkannya) di malam hari dan membuktikannya di siang hari.”
(Al-Imam an-Nawawy [wafat 676 H], At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 54)

731) PELAJARI DAN AJARKANLAH AL QUR’AN

‘Abdullooh bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

عَلَيْكُمْ بِالْقُرْآنِ فَتَعَلَّمُوهُ، وَعَلِّمُوهُ أَبْنَاءَكُمْ، فَإِنَّكُمْ عَنْهُ تُسْأَلُونَ، وَبِهِ تُجْزَوْنَ، وَكَفَى بِهِ وَاعِظًا لِمَنْ عَقَلَ

“Pelajarilah oleh kalian Al-Qur’an, dan ajarkanlah Al-Qur’an kepada anak-anak kalian; sungguh kalian akan ditanya tentang Al-Qur’an, dan kalian akan diberi ganjaran atasnya; dan cukuplah Al-Qur’an sebagai penasehat bagi orang yang berakal.”
(Al-Imam al-Qosim bin Salam [wafat 224 H], Fadho’ilul Qur’an, hal. 53)

732) ORANG CERDAS

عَنْ أَنَسٍ: بَعَثَنِي الأَشْعَرِيُّ إِلَى عُمَرَ، فَقَالَ لِي: كَيْفَ تَرَكْتَ الأَشْعَرِيَّ؟ قُلْتُ: تَرَكْتُهُ يُعَلِّمُ النَّاسَ القُرْآنَ .فَقَالَ: أَمَا إِنَّهُ كَيِّسٌ! وَلاَ تُسْمِعْهَا إِيَّاهُ

Suatu hari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu diutus oleh Abu Musa al-Asy’ari untuk mengunjungi ‘Umar Ibnul Khoththoob rodhiyalloohu ‘anhuma, maka bertanyalah ‘Umar bin Khoththoob kepadanya, “Bagaimana keadaan Abu Musa al-Asy’ari pada saat engkau tinggalkan dia?”
Anas bin Maalik menjawab, “Aku meninggalkannya pada saat dia sedang mengajari orang-orang al-Qur’an.”
‘Umar bin Khoththoob pun berkata, “Sungguh dia memang adalah orang yang cerdas, akan tetapi jangan sampaikan perkataanku ini kepadanya.”
(Al-Imam Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyar A’lamin Nubala, 2/390)

733) TIDAK AKAN SESAT

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

إِنَّا نَقْتَدِي وَلَا نَبْتَدِي , وَنَتَّبِعُ وَلَا نَبْتَدِعُ , وَلَنْ نَضِلَّ مَا تَمَسَّكْنَا بِالْأَثَرِ

“Sesungguhnya kita hanya mencontoh, bukan mengada-ada, mengikuti bukan berbuat bid’ah; kita tidak akan sesat, selama kita berpegang teguh pada peninggalan (Pendahulu Ummat yang shoolih).”
(Al-Imam al-Laalika’i [wafat 418 H), Syarh Ushul I’tiqood Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, 1/96, no: 106)

734) BENAR DAN IKHLASH

‘Ibrohiim bin al-Asy’ats berkata:

لِيَبلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [هود: 7] قَالَ: أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ، قَالَ: إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا، وَالْخَالِصُ إِذَا كَانَ لِلَّهِ، وَالصَّوَابُ: إِذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ

Arti firman Allooh: “Agar Allooh menguji kalian siapa diantara kalian yang paling baik amalannya (QS.Huud/10: 7)” maksudnya adalah: “Amalan yang paling ikhlash dan paling benar”. Sesungguhnya amalan itu, jika dia ditunaikan dengan ikhlash akan tetapi tidak benar maka tidak akan diterima, begitu pula jika ditunaikan dengan benar akan tetapi tidak ikhlash, sama juga tidak akan diterima; sehingga amalan itu ditunaikan dengan ikhlash dan benar. “Ikhlash” itu sendiri artinya adalah “karena Allooh” dan “Benar” artinya adalah “diatas (sesuai) sunnah”.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Al-Ikhlash wan Niyyah, hal. 50, no: 22)

735) KEMENANGAN YANG BESAR

Seseorang datang kepada Wahab bin Munabbih rohimahullooh seraya berkata, “Tolong berilah aku nasehat yang bermanfaat untukku.”
Maka beliau pun menjawab,

أَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ الْمَوْتِ، وَأَقْصِرْ أَمَلَكَ، وَخَصْلَةٌ ثَالِثَةٌ، إِنْ أَنْتَ أَصَبْتَهَا بَلَغْتَ الْغَايَةَ الْقُصْوَى، وَظَفِرْتَ بِالْعِبَادَةِ. قَالَ: مَا هِيَ؟ قَالَ: التَّوَكُّلُ

“1) Banyaklah mengingat mati; 2) Pendekkanlah angan-anganmu; 3) Engkau akan sampai pada puncak ibadahmu serta berhasil dalam ibadahmu, apabila engkau mampu mengamalkan perkara ini.” Orang itu kembali bertanya, “Perkara apakah itu?” Beliau pun menjawab, “AT-TAWAKKUL.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], At-Tawakkul, hal. 75, no: 56)

736) MENJADI TERKUTUK

Yahya bin Abi Katsiir rohimahullooh berkata :

ملعون من كان ثقته بإنسان مثله

“Termaktub dalam kitab At-Tauroh: “Terkutuklah manusia yang bertawakkul (yang bergantung) kepada manusia seperti dirinya”.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H)], At-Tawakkul, hal. 76, no: 59)

737) TIGA TINGKATAN AT-TAWAKKUL

Sebagian Ahli Hikmah berkata :

التَّوَكُّلُ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ: أُولَاهَا تَرْكُ الشِّكَايَةِ، وَالثَّانِيَةُ الرِّضَا، وَالثَّالِثَةُ الْمَحَبَّةُ، فَتَرْكُ الشِّكَايَةِ دَرَجَةُ الصَّبْرِ، وَالرِّضَا سُكُونُ الْقَلْبِ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَهُ، وَهِيَ أَرْفَعُ مِنَ الْأُولَى، وَالْمَحَبَّةُ أَنْ يَكُونَ حُبُّهُ لِمَا يَصْنَعُ اللَّهُ بِهِ، فَالْأُولَى لِلزَّاهِدِينَ، وَالثَّانِيَةُ لِلصَّادِقِينَ، وَالثَّالِثَةُ لِلْمُرْسَلِينَ

“Bertawakkul kepada Allooh itu ada tiga tingkatan : 1) Tingkatan Orang Zuhud: yaitu memiliki sikap tidak suka mengeluh, karena dengan sikap tersebut seseorang akan menjadi penyabar; 2) Tingkatan Shoodiqiin: yaitu seseorang akan memiliki sikap ridho, dimana dengan sikap itu seseorang akan menerima sepenuh hati atas pembagian dari Allooh; 3) Tingkatan Mursaliin: yaitu memiliki sikap suka terhadap apapun yang Allooh putuskan bagi dirinya.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], At-Tawakkul, hal. 71, no: 46)

738) TIDAK PERLU BERTANYA

Pada zaman dahulu, ada seorang Ahli Ibadah yang datang kepada seorang ‘Alim, kemudian bertanya :

إني أريد أن أخرج إلى مكة ، أفأخرج وأتوكل ؟

“Aku akan pergi menuju Mekkah, apakah aku harus bertawakkul disaat aku pergi keluar?”
Sang ‘Alim pun menjawab :

لو أردت أن تتوكل لخرجت ولم تسألني

“Kalau engkau benar-benar bertawakkul, maka engkau akan pergi tanpa harus bertanya kepadaku.”
(Al-Imam Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], At-Tawakkul, hal. 57, no: 57)

739) TAWAKKULNYA BURUNG

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَو أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرزُقُ الطَّيرَ ، تَغدُو خِماصاً ، وتَروحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian benar-benar bertawakkul kepada Allooh, sungguh Allooh akan memberi kalian rizqi sebagaimana burung mendapatkan rizqinya. Burung tersebut pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali di waktu sore dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Turmudzy no: 2344, beliau mengatakan Hadits ini Hasan Shohiih, dari ‘Umar bin Khoththoob rodhiyalloohu ‘anhu)

740) JAGALAH ALLOOH

Pada suatu hari ‘Abdullooh bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhuma pernah berada di belakang Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda :

يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allooh, niscaya Allooh akan menjagamu. Jagalah Allooh, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allooh. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allooh. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak bisa memberimu manfaat kecuali dengan yang telah Allooh tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan yang telah Allooh tetapkan bagimu. Pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.”
(HR. At-Turmudzy no: 2516, beliau berkata bahwa hadits ini Hasan Shoohih)

741) JATAH RIZQI

Ibnu ‘Abbaas rodhiyalloohu ‘anhuma berkata:

ما من مؤمن ولا فاجر إلا وقد كتب الله تعالى له رزقه من الحلال فان صبر حتى يأتيه آتاه الله تعالى وإن جزع فتناول شيئا من الحرام نقصه الله من رزقه الحلال

“Seorang mukmin dan seorang fajir (gemar maksiat) sudah ditetapkan rizqi baginya dari yang halal. Jika ia mau bersabar hingga rizqi itu diberi, niscaya Allooh akan memberinya. Namun jika ia tidak sabar kemudian ia menempuh cara yang harom, niscaya Allooh akan mengurangi jatah rizqi halal untuknya.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 1/326)

742) HARTA SEBENARNYA

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

“Seorang hamba berkata, “Harta-hartaku.” (Padahal) bukankah hartanya itu hanyalah tiga: 1) Yang ia makan dan akan sirna, 2) Yang ia kenakan dan akan usang, 3) Yang ia berikan (shodaqohkan) lah harta yang sebenarnya ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan akan diberikan kepada orang-orang yang ia tinggalkan (– bila ia wafat – pen.).”
(HR. Muslim no. 2959, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

743) JUJUR PADA ALLOOH

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullooh berkata :

من صدق الله فِي جَمِيع أُمُوره صنع الله لَهُ فَوق مَا يصنع لغيره

“Barangsiapa yang bersikap jujur kepada Allooh dalam segala hal, niscaya Allooh akan memperlakukannya lebih dari apa yang dia perbuat terhadap selainnya.”
(Al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], Al-Fawaa’id, hal. 186)

744) LIMA KHOLIIFAH

Al-Imam asy-Syaafi’iy rohimahullooh berkata :

الْخُلَفَاءُ خَمْسَةٌ: أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ، وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Kholiifah itu lima: 1) Abu Bakar Ash-Shiddiiq, 2) ‘Umar bin al-Khoththoob, 3) ‘Utsmaan bin ‘Affaan, 4) Ali bin Abi Thoolib, dan 5) ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz rodhiyalloohu ‘anhum.”
(Abu Hatim al-Razi [wafat 327 H], Adaab asy-Syaafi’iy, hal. 145)

745) INDUK KEUTAMAAN

Ibnu Maskawaih rohimahullooh berkata :

الفضائل أربع وهي الحكمة والعفة والشجاعة والعدالة

“Keutamaan itu berinduk pada empat hal : 1) Hikmah (kebijaksanaan); 2) Kesucian hati; 3) Keberanian; dan 4) Sikap Adil.”
(Ibnu Maskawih [wafat 421 H], Tahdzibul Akhlaq, hal. 24)

746) AMALAN YANG BERARTI

Ibnu ‘Ajlan rohimahullooh berkata:

لا يصلح العمل إلا بثلاث التقوى لله والنية الحسنة والإصابة

“Suatu amalan tidak akan dicatat sebagai amalan yang benar, kecuali jika terpenuhi tiga hal: 1) Taqwa, 2) Niat yang baik, dan 3) Sesuai tuntunan (Allooh dan Rosuul-Nya).”
(Ibnu Rojab al-Hambali [wafat 795 H], Jaami’ul ‘Uluumil wal Hikam, 1/24)

746) POKOK ILMU

Al-Imam asy-Syaafi’iy rohimahullooh berkata:

أصل العلم التثبت وثمرته السلامة وأصل الورع القناعة وثمرته الراحة وأصل الصبر الحزم وثمرته الظفر وأصل العمل التوفيق وثمرته النجح وغاية كل أمر الصدق

“Pokok dari Ilmu adalah Teliti, buahnya adalah Selamat. Pokok Waro’ adalah Qona’ah, buahnya adalah Ketentraman Jiwa. Pokok Kesabaran adalah Tekad yang Kuat, buahnya adalah Keberhasilan. Pokok Amalan adalah Petunjuk Allooh, buahnya adalah Kesuksesan. Sedangkan titik akhir dari segala perkara adalah Kejujuran.”
(Ibnu ‘Asakir [wafat 571 H], Tarikh Dimasyqo, 51/408)

747) NIHIL ILMU

Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullooh berkata :

أَشَدُّ النَّاسِ لِلْعِلْمِ ادِّعَاءً … أَقَلُّهُمُ لِمَا هُوَ فِيهِ عِلْمَا

“Sesungguhnya orang yang paling mengaku berilmu, dialah orang yang paling nihil ilmunya.”
(Ibnu ‘Abdil Barr [wafat 463 H], Jaami’ul Bayaan ‘Ilmi wa Fadlihi, 1/553, no: 923)

748) LIMA ALAT KEKUASAAN

Al-Imam asy-Syaafi’iy rohimahullooh berkata:

آلات الرياسة خمس صدق اللهجة وكتمان السر والوفاء بالعهد وابتداء النصيحة وآداء الأمانة

“Alat Kekuasaan itu ada lima: 1) Bahasa yang lugas; 2) Menyembunyikan rahasia; 3) Menepati perjanjian; 4) Memulai dalam memberi nasehat; dan 5) Menunaikan amanah.”
(Ibnu Asakir [wafat 571 H], Tarikh Dimasyqo, 51/413)

749) MENGETAHUI KEIKHLASAN

Al-Imam Asy-Syaafi’iy rohimahullooh berkata:

لا يعرف الرياء إلا مخلص

“Tidak ada yang tahu tentang riya’, kecuali orang yang mukhlis.”
(Al-Imam an-Nawawy [wafat 676 H], Bustanul Arifin, hal. 53)

750) ILMU, HARTA DAN TAHTA

‘Abdullooh bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

خير سليمان بن داود عليهما السلام بين العلم والمال والملك فاختار العلم فأعطي المال والملك معه

“Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihissalam diberi pilihan antara ilmu, harta, atau kerajaan; maka beliau lebih memilih ilmu; dan pada akhirnya beliau diberi oleh Allooh harta dan juga kerajaan secara bersamaan.”
(Al-Ghozali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 1/7)

751) MUMPUNG MASIH MUDA

Al-Imam as-Sarry rohimahullooh berkata:

يا معشر الشباب اعملوا فانما العمل في الشبيبة

“Wahai segenap para pemuda, berkaryalah. Sesungguhnya berkarya itu pada masa muda.”
(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 1/499)

752) AMALAN TERBAIK

Al-Imam Asy-Syaafi’iy rohimahullooh berkata:

أفضل الأعمال ثلاثة ذكر الله تعالى ومواساة الأخوان وإنصاف الناس من نفسك

“Amalan terbaik itu tiga: 1) Mengingat Allooh, 2) Solidaritas sesama saudara, dan 3) Objektif (menilai) terhadap dirimu sendiri.”
(Al-Imam an-Nawawy [wafat 676 H], Bustanul Arifin, hal. 53)

753) MULUT MALAIKAT

Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata :

كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّ مَلَكًا يَنْطِقُ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ

“Kami para Shohabat mengatakan bahwa: Malaikat berbicara melalui mulut ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhu.”
(Abu Nu’aim al-Ashfahaany [wafat 430 H], Hilyatul Auliya’, 1/42)

754) LEBIH MULIA DARI RAJA

Abul Aswad berkata:

ليس شيء أعز من العلم الملوك حكام على الناس والعلماء حكام على الملوك

“Tidak ada sesuatu yang paling mulia daripada ‘Ilmu. Para Raja adalah penguasa terhadap manusia, tetapi para ‘Ulama adalah penguasa terhadap para Raja.”
(Al-Ghozali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 1/7)

755) SETENGAH SABAR

Sebagian salaf berkata:

الصوم نصف الصبر

“Shoum (Puasa) itu setengah dari sabar.”
(Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], ‘Uddatush Shoobiriin, hal. 112)

756) BUKAN TEMAN

Al-Imam Ibnu Hibban rohimahullooh berkata:

الواجب على العاقل أن يستعيذ بالله من صحبة من إذا ذكر اللَّه لم يعنه وإن نسي لم يذكره وإن غفل حرضه على ترك الذكر

“Orang yang berakal haruslah berlindung kepada Allooh dari teman yang: 1) Jika untuk mengingat Allooh, maka dia tidak menolongnya; 2) Jika lupa mengingat Allooh, maka dia tidak mengingatkannya; dan 3) Jika lalai, maka dia justru semakin membawanya pada lalai dari mengingat Allooh.”
(Al-Imam Ibnu Hibban al-Busty [wafat 354 H], Roudhotul ’Uqola, hal. 102)

757) PALING GIGIH MENASEHATI

Ma’mar berkata:

كَانَ يُقَالُ: أَنْصَحُ النَّاسِ إِلَيْكَ مَنْ خَافَ اللَّهَ فِيكَ

“Orang yang paling gigih menasehatimu adalah orang yang paling takut Allooh murka kepadamu.”
(Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Amar Ma’ruf Nahi Munkar, hal. 98, no: 59)

758) KESEMPURNAAN MANUSIA

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullooh berkata:

الكمال الانسانى في ثلاثة أمور علوم يعرفها وأعمال يعمل بها وأحوال ترتب له على علومه وأعماله

“Kesempurnaan manusia itu pada tiga perkara: 1) Ilmu yang diketahuinya, 2) Amal yang dikerjakannya, dan 3) Keadaan yang mempengaruhi pada pengetahuan dan amalannya.”
(Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], ‘Uddatush Shoobiriin, hal. 113-114)

759) PENGARUH TEMAN

Al-Imam Ibnu Hibban rohimahullooh berkata:

الخير لا يصحب إلا البررة والردى لا يصحب إلا الفجرة

“Orang yang baik tidak akan berteman kecuali dengan orang baik, dan orang jahat tidak akan berteman kecuali dengan orang yang jahat pula.”
(Al-Imam Ibnu Hibban al-Busty [wafat 354 H], Roudhotul ’Uqola, hal. 102)

760) KONSEKWEN

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullooh berkata:

إِذَا كُنْتَ مِمَّنْ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ فَكُنْ مِنْ آخِذِ النَّاسِ بِهِ وَإِلَّا هَلَكْتَ، وَإِذَا كُنْتَ مِمَّنْ يَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ فَكُنْ مِنْ أَتْرَكِ النَّاسِ لَهُ وَإِلَّا هَلَكْتَ

“Jika kamu termasuk orang yang melakukan Amar Ma’ruf, maka jadilah orang terdepan dalam hal itu, jika tidak maka kamu akan celaka; sebaliknya jika kamu termasuk orang yang melakukan Nahi Munkar, maka Jadilah kamu orang yang paling jauh darinya, jika tidak maka kamu akan celaka.”
(Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Amar Ma’ruf Nahi Munkar, hal. 124)

761) BELUM LEVEL MEREKA

Hamdun rohimahullooh berkata:

من نظر في سير السلف عرف تقصيره وتخلفه عن درجات الرجال

“Barangsiapa yang memperhatikan sejarah Pendahulu Ummat, niscaya dia akan mengakui kekurangannya dan tergolong orang yang bukan level pegiat.”
(Al-Imam Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/314)

762) HATI YANG MENGHILANG

Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

إِنَّ الرَّجُلَ لِيَدْخُلُ الْمَدْخَلَ الَّذِي يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِيهِ لِلَّهِ فَلَا يَتَكَلَّمُ، فَلَا يَعُودُ قَلْبُهُ إِلَى مَا كَانَ أَبَدًا

“Seseorang bisa jadi memasuki suatu kawasan dimana seharusnya di sana dia wajib menyatakan sesuatu karena Allooh, namun orang itu tidak mengatakannya; maka hatinya tidak akan kembali lagi kepadanya.”
(Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Amar Ma’ruf Nahi Munkar, hal. 107)

763) BUKAN ORANG YANG JUJUR

‘Ibroohiim bin ‘Adham rohimahullooh berkata:

مَا صَدَقَ اللَّهَ عَبْدٌ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ

“Bukanlah orang yang jujur, orang yang suka terkenal.”
(Al-Imam Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Taariikh al-Islaam, 10/49)

764) SESUATU YANG HARUS TERTUTUPI

Hamdun rohimahullooh berkata:

لا تفش على أحد ما تحب أن يكون مستوراً منك

“Janganlah kamu tebar tentang seseorang, sesuatu yang kamu sukai sesuatu itu tersembunyi pada dirimu.”
(Al-Imam Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/314)

765) MAMPUKAH?

Hamdun rohimahullooh berkata:

من استطاع منكم أن لا يعمى عن نقصان نفسه فليفعل

“Barangsiapa yang mampu untuk tidak buta akan kekurangan dirinya sendiri, maka lakukanlah.”
(Al-Imam Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/314)

766) JUJUR DAN IKHLAS

Al-Harits al-Muhaasiby berkata:

الصدْق وَالْإِخْلَاص أصل كل حَال فَمن الصدْق يتشعب الصَّبْر والقناعة والزهد وَالرِّضَا والأنس وَعَن الْإِخْلَاص يتشعب الْيَقِين وَالْخَوْف والمحبة والإجلال وَالْحيَاء والتعظيم

“Jujur dan ikhlas adalah pokok dari segala hal; maka siapa yang jujur, dia akan memiliki sikap: sabar, qona’ah, zuhud, ridho (pada Allooh) dan ceria; dan siapa yang ikhlash, maka akan tumbuh dalam dirinya sikap: yakin, takut dan cinta (pada Allooh), menjunjung tinggi Allooh, malu dan mengagungkan Allooh.”
(Al-Harits al-Muhaasiby [wafat 243 H], Risaalah al-Mustarsyidiin, hal. 170)

767) YAKIN

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

مِنَ الْيَقِينِ أَنْ لَا تُرْضِي النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ , وَلَا تَحْمَدَنَّ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ , وَلَا تَلُومَنَّ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ

“Diantara tanda Yakin adalah: 1) Tidak mengejar ridho manusia dengan kemurkaan Allooh, 2) Tidak menyanjung seseorang atas rizqi Allooh (kepadanya), dan 3) Tidak mencela seseorang karena Allooh tidak memberimu apa yang diberikan-Nya pada orang itu.”
(Hannad as-Sarry [wafat 243 H], Az-Zuhd, 1/304, no: 535)

768) CIRI AKHLAQ MULIA

Al-Harits al-Muhaasiby berkata:

من عَلامَة حسن الْخلق احْتِمَال الاذى فِي ذَات الله وكظم الغيظ وَكَثْرَة الْمُوَافقَة لاهل الْحق على الْحق وَالْمَغْفِرَة والتجافي عَن الزلة

“Diantara tanda Akhlaq Mulia adalah: 1) Tahan uji di jalan Allooh, 2) Mengendalikan amarah, 3) Sesuai dengan penganut kebenaran diatas kebenaran, 4) Pemaaf, dan 5) Menghindar dari segala kesalahan.”
(Al-Harits al-Muhaasiby [wafat 243 H], ‘Adabun Nufus, hal. 153)

769) SEDIH DAN SENANG

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

إِنَّ اللَّهَ بِقِسْطِهِ وَعَدْلِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا , وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ فِي الشَّكِّ وَالسُّخْطِ

“Sesungguhnya karena keadilan Allooh lah, Allooh menjadikan ruh duka dan senang dalam Yakin dan Ridho; dan menjadikan gundah dan sedih dalam keraguan dan kemurkaan.”
(Hannad as-Sarry [wafat 243 H], Az-Zuhd, 1/304, no: 535)

770) CIRI AKHLAQ TERCELA

Al-Harits al-Muhaasiby rohimahullooh berkata:

ومن عَلامَة سوء الْخلق كَثْرَة الْخلاف وَقلة الِاحْتِمَال

“Diantara ciri Akhlaq Tercela adalah: 1) Sering menyelisihi Kebenaran, dan 2) Jarang tahan uji dalam ketaatan.”
(Al-Haris al-Muhaasiby [wafat 243 H], ‘Adabun Nufus, hal. 153)

771) PERKATAAN YANG PALING BENAR

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كَلَامُ اللَّهِ

“Sungguh sebaik-baik perkataan adalah Firman Allooh.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

772) DIANTARA ENAM PERKARA TANDA HARI KIAMAT

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا: إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ، وَسَفْكُ الدِّمَاءِ، وَبَيْعُ الْحُكْمِ، وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ، وَنَشْوٌ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ، وَكَثْرَةُ الشُّرَطِ

“Aku takut 6 perkara menimpa kalian: 1) Kepemimpinan yang bodoh (dungu); 2) Tumpah darah; 3) Jual beli hukum; 4) Putus Silaturrohim; 5) Anak-anak kecil menjadikan Al Qur’an sebagai seruling; dan 6) banyaknya Polisi.”
(HR. Ath-Thobrony, Al-Mu’jam al-Kabiir no: 14532, di-shohiih-kan oleh Nashiruddiin al-Albaany dalam Shohiih al-Jaami’ush Shoghiir no: 216, dari ‘Auf bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu)

773) BAHAYA TIDAK AMANAH DAN SUKA TIDAK MENEPATI JANJI

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai amanah dalam dirinya dan tidak ada diin (agama) bagi orang yang tidak punya ikatan janji pada dirinya.”
(HR. Ahmad no: 13199, dari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu, menurut Syuaib al-Arnaa’uth Hadĩts ini Hasan)

774) SERIGALA BERBULU DOMBA

Nauf al-Bikaly rohimahullooh berkata:

إِنِّي لَأَجِدُ صِفَةَ نَاسٍ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ فِي كِتَابِ اللَّهِ الْمُنَزَّلِ: قَوم يَحْتَالُونَ عَلَى الدُّنْيَا بِالدِّينِ، أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، وَقُلُوبُهُمْ أمَرّ مِنَ الصّبرِ، يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ مُسوك الضَّأْنِ، وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ

“Sungguh aku mendapati manusia dari kalangan ummat ini sebagaimana tertera dalam al-Qur’an, yaitu suatu kaum yang berkilah untuk meraih dunia dengan menjual agamanya; mulut mereka lebih manis daripada madu, hati mereka lebih pahit daripada getah pohon; mereka berbaju bulu domba, akan tetapi hati mereka adalah hati serigala.”
(Ibnu Katsiir [wafat 774 H], Tafsiir Ibnu Katsiir, 1/562)

775) POSISI IMAN SAAT FITNAH AKHIR ZAMAN

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian beramal shoolih, sebelum terjadinya banyak fitnah; dimana pada waktu itu Fitnah adalah bagaikan sebagian malam yang gelap. Pada pagi hari seseorang beriman, tiba-tiba di sore hari ia kãfir. Bisa jadi seseorang itu di sore hari beriman, tetapi tiba-tiba esok paginya ia kãfir. Dia jual diin (agama)-nya dengan sebagian dari kenikmatan dunia.”
(HR. Muslim no: 118, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

776) ZAMAN TIDAK PEDULI HALAL HAROM

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Sungguh benar-benar akan datang pada manusia suatu zaman, dimana seseorang tidak lagi mempedulikan asal pengambilan hartanya, dari halal kah atau dari harom kah.”
(HR. Al-Bukhoory no: 2083, dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu ‘anhu)

777) WAJIB YANG DIABAIKAN

Adh-Dhohhak rohimahullooh berkata:

الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ، مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Diantara perkara yang Allooh wajibkan atas manusia adalah Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.”
(Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Amar Ma’ruf Nahi Munkar, hal. 83, no: 39)

778) DISERBU DARI SEGALA PENJURU

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا . فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ . فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Ummat-ummat ini (bangsa-bangsa – pent.) hampir menerkam kalian sebagaimana orang-orang lapar menerkam nampan makanan mereka.”
Seseorang bertanya, “Karena sedikitkah jumlah kita pada hari itu?”
Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bahkan pada hari itu, kalian berjumlah banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih di air bah; sungguh Allooh akan cabut dari dada-dada musuh kalian rasa segan (wibawa) terhadap kalian, dan sungguh Allooh akan campakkan pada hati-hati kalian Al-Wahn.”
Seseorang bertanya, “Ya Rosuulullooh, apakah Al-Wahn itu?”
Rosuul pun menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”
(HR. Abu Daawud no: 4299, dari Tsaubãn rodhiyalloohu ‘anhu, dishohiihkan oleh Nashiruddiin Al-Albaany)

779) BERAKIBAT DOA TIDAK DIKABULKAN

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

والذي نفسي بيده لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر أو ليوشكن الله أن يبعث عليكم عقابا منه ثم تدعونه فلا يستجاب لكم

“Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran atau (– kalau kalian tidak lakukan, maka pasti –) Allooh akan menurunkan siksa kepada kalian, hingga kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan.”
(HR. At-Turmudzy no: 2169, dari Hudzaifah rodhiyalloohu ‘anhu, menurut Nashiruddiin al-Albaany Hadits ini Hasan)

780) JIKA PENDUDUK NEGERI BERIMAN

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
(QS. Al-A’roof/7: 96)

781) BANYAK NAMUN TAK BERGUNA

Ibnu Sammak Muhammad bin Shubaih rohimahullooh berkata:

هب الدنيا في يديك ، ومثلها ضم إليك ، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك ، فإذا جاءك الموت ، فماذا في يديك

“Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah (perbendaharaan) timur dan barat datang kepadamu; akan tetapi jika kematian datang, apalah gunanya yang ada di genggamanmu itu?”
(Al-Imam Adz-Dzahaby [wafat 748 H], Siyar A’lamin Nubala, 8/330)

782) MALU

Al-Imam Junaid rohimahullooh berkata:

رؤية الآلاء ورؤية التقصير فيتولد من بينهما حالة تسمى الحياء

“Malu adalah keadaan seseorang dalam menyikapi berbagai nikmat Allooh, dan rasa kurang dirinya dalam bersyukur kepada Allooh.”
(Al-Qusyairy [wafat 465 H], Ar-Risaalah al-Qusyairiyyah, 2/370)

783) PENERIMA PETUNJUK ALLOOH

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allooh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allooh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
(QS. Al-Qoshosh/28: 56)

784) DUNIA, BARZAKH DAN ADZAB

Al-Imam Ibnul Jauzi rohimahullooh berkata:

مقدار اللبث في الدنيا قليل , والحبس في القبور طويل , والعذاب على موافق الهوى وبيل

“Masa tinggal di dunia itu singkat, berada di kuburan itu lama; dan siksa akibat setia terhadap Hawa Nafsu adalah petaka.”
(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Lathfatul Kabad ila Nashihatil Walad, hal 29)

785) MUKHLISH

Fathimah al-Khurosamiyyah berkata:

من عمل لله على المشاهدة فهو عارف، ومن عمل على مشاهدة الله إياه فهو مخلص

“Orang yang beribadah seolah dia melihat Allooh, berarti dia adalah orang yang mengenal Allooh; sedangkan orang yang beribadah karena Allooh melihat dia, berarti orang itu adalah mukhlish.”
(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Shifatush Shofwah, 2/315)

786) DOA DARI SAUDARA MUSLIM

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بِهِ : آمِينَ ، وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada dihadapannya akan dikabulkan. Di dekat kepala orang tersebut ada malaikat yang diberi tugas untuk itu. Setiap kali seorang muslim berdoa kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diberi tugas itu berkata, “Aamiiin, dan untuk dirimu seperti doamu juga.”
(HR. Muslim no: 2733, dari Abud Darda rodhiyalloohu ‘anhu)

787) SHODAQOH HASIL TANAMAN

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلاَ دَابَّةٌ وَلاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu (hasilnya) dimakan oleh manusia, hewan atau burung; kecuali hal itu merupakan shodaqoh untuknya sampai Hari Kiamat.”
(HR. Muslim no: 1552, dari Jabir rodhiyalloohu ‘anhu)

788) TUMBUHKAN RASA MALU

Orang shoolih berkata:

خَفِ اللَّهَ عَلَى قَدْرِ قُدْرَتِهِ عَلَيْكَ، وَاسْتَحْيِ مِنْهُ عَلَى قَدْرِ قُرْبِهِ مِنْكَ

“Takutlah kamu kepada Allooh sebesar Kuasanya Allooh pada dirumu; dan malulah kamu kepada-Nya sedekat Allooh pada dirimu.”
(Ibnu Rojab al-Hambaly [wafat 795 H], Jaami’u al-‘Ulum wal Hikam , 1/129)

789) EMPAT CIRI MUNAFIQ

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا أَوْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Barangsiapa pada dirinya terdapat empat perkara ini, maka dia adalah seorang munaafiq tulen. Barangsiapa yang memiliki satu dari empat sifat ini, maka dalam dirinya terdapat sifat kemunaafiqan, sehingga dia meninggalkannya, yaitu: 1) Jika ia berbicara maka ia berdusta; 2) Jika ia berjanji maka ia menyalahi (janjinya); 3) Jika ia mengikat suatu kesepakatan maka ia menyelisihinya, dan 4) Jika ia berdebat maka ia curang.”
(HR. Al-Bukhoory no: 2459 dan HR. Muslim no: 219, dari ‘Abdullooh bin ‘Amr bin al-Ash rodhiyalloohu ‘anhu)

790) BUKAN MENELANJANGI

Sulaiman bin al-Khowwash berkata:

مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ فَهِيَ نَصِيحَةٌ، وَمَنْ وَعَظَهُ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ فَإِنَّمَا فَضَحَهُ

“Menasehati adalah mengembalikan saudaranya kepada kebenaran, tanpa orang tahu. Adapun orang yang memberi nasehat di muka umum, maka itu adalah sama dengan menelanjangi.”
(Ibnu Abid Dunya [wafat 281 H], Amar Ma’ruf Nahi Munkar, hal. 99, no: 61)

791) TAUFIQ

Ibnul Jauzi rohimahullooh berkata:

لا خاذل لمن وفق ولا مرشد لمن أضل

“Tidak akan ada yang mampu menghinakan orang yang Allooh beri Taufiq; dan tidak ada yang akan dapat membimbing orang yang Allooh sesatkan.”
(Ibnul Jauzi [wafat 597 H], Lathfatul Kabad ila Nashihatil Walad, hal. 27)

792) SAM’AN WATH THOO’AH

Al-Imam Ali bin Abi Thoolib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

حق على الإمام أن يحكم بما أنزل الله ويؤدي الأمانة فإذا فعل ذلك فحق على الرعية أن يسمعوا ويطيعوا

“Adalah merupakan kewajiban atas seorang penguasa untuk ber-Hukum dengan apa yang Allooh turunkan dan menunaikan amanah. Jika dia melaksanakan itu, maka wajib bagi rakyat untuk mendengar dan mentaatinya.”
(Al-Imam al-Baghowy [wafat 510 H], Tafsiir al-Baghowy, 2/240)

793) ULIL AMRI

Al-Imam al-Mawardi rohimahullooh berkata:

في أولي الأمر أربعة أقاويل: هم الأمراء، هم العلماء والفقهاء، هم أصحاب رسول الله هم أبو بكر وعمر

“Ada empat pengertian tentang Ulil Amri : 1) Penguasa; 2) ‘Ulama dan Fuqoha; 3) Para Shohabat Rosuulullooh; 4) Abu Bakar dan ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhuma.”
(Al-Imam al-Mawardi [wafat 450 H], An-Nukat wal ‘Uyun, 1/499-500)

794) PALING DICINTAI ALLOOH

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai Allooh adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya. Adapun amalan paling dicintai Allooh adalah membuat muslim lain bahagia, mengangkat kesusahan orang lain, membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku muslim untuk sebuah keperluannya lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (–masjid Nabawi–) selama sebulan penuh.”
(HR. Thobrony no: 13280, Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12/453, dari Ibnu ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhuma, di-Hasan-kan oleh Al-Albaany dalam Shohiih al-Jaami’ no: 176)

795) BERATNYA PERTANGGUNGJAWABAN DI HARI AKHERAT

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”
(QS. ‘Abasa/80: 34-37)

796) BACALAH WALAU TERBATA-BATA

Rouulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda :

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

“Barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, maka dia bersama para malaikat yang mulia. Dan barangsiapa yang membaca Al-Qur`an sedangkan dia terbata-bata, maka baginya dua pahala.”
(HR. Al-Bukhoory no: 4937 dan HR. Muslim no: 798, dari Aa’isyah rodhiyalloohu ‘anha)

797) IKATAN TERKOKOH

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

أَوْثَقَ الْعُرَى كَلِمَةُ التَّقْوَى

“Sekokoh-kokoh ikatan adalah kalimat Taqwa (Laa Ilaaha Illallooh).”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

798) JANGAN TEBANG PILIH

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ ٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا [150] أُولَئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا [151

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allooh dan rosuul-rosuul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allooh dan rosuul-rosuul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)”, serta bermaksud mengambil jalan tengah (antara iman atau kafir), merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.”
(QS. An-Nisa’/4: 150-151)

799) BERATNYA PERTANGGUNGJAWABAN AKHERAT

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”.
(QS. ‘Abasa/80: 34-37)

800) NILAI ILMU

Ibnu Abid Dunya rohimahullooh mengatakan bahwa orang-orang terdahulu berkata:

لو أن أهل العلم صانوا علمهم لسادوا أهل الدنيا لكن وضعوه غير موضعه فقصر في حقهم أهل الدنيا

“Seandainya para ‘Ulama menjaga ilmu mereka, niscaya mereka menjadi penguasa bagi ahli dunia; akan tetapi mereka menempatkannya bukan pada tempatnya sehingga ahli dunia pun tidak menghargai mereka.”
(Ibnu Abdi Robbihi [wafat 328 H], Al-‘Iqdul Farid, 2/76)

801) TAHU DAN TIDAK TAHU

Al-Kholiil bin Ahmad rohimahullooh berkata:

الرجال أربعة : فرجل يدري ويدري أنه يدري فذلك عالم فسلوه , ورجل يدري ولا يدري إنه يدري فذلك الناسي فذكروه , ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري فذلك الجاهل فعلموه , ورجل لا يدري ولا يدري إنه لا يدري فذلك الأحمق فارفضوه

“Ada 4 jenis orang: 1) Orang yang tahu, dan dia tahu bahwa dirinya tahu, maka dialah orang yang berilmu, maka bertanyalah kalian kepadanya; 2) Orang yang tahu tetapi dia tidak tahu bahwa dirinya tahu, maka dia adalah orang yang lupa, maka kalian ingatkan dia; 3) Orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dirinya tidak tahu, maka orang seperti itu adalah orang bodoh, ajarilah dia; dan 4) Orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, maka itulah orang dungu, menjauhlah darinya.”
(Ibnu Abdi Robbihi [wafat 328 H], Al-‘Iqdul Farid, 2/132)

802) SEBAIK-BAIK AJARAN DAN KISAH

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

خَيْرَ الْمِلَلِ مِلَّةُ إِبْرَاهِيمَ , وَأَحْسَنَ الْقَصَصِ هَذَا الْقُرْآنُ

“Sebaik-baik ajaran adalah ajaran ‘Ibrohiim ‘alaihissalaam, dan sebaik-baik kisah adalah kisah dalam Al-Qur’an.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

803) AKIBAT MAKSIAT

Sebagian Salaf bahkan sampai berkata:

إِنِّي لَأَعْصِيَ اللهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ خَادِمِي وَدَابَّتِي

“Sungguh jika aku bermaksiat kepada Allooh, maka aku akan temui pengaruh jeleknya pada akhlaq pembantuku hingga perangai buruk pada hewan tungganganku.”
(Ibnu Rojab al-Hambaly [wafat 795 H], Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/468)

804) FATAMORGANA

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di Hari Kiamat. Dan Allooh memberi rizqi kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”
(QS. Al-Baqoroh/2: 212)

805) PRASANGKA BURUK

Al-Imam al-Ghozali rohimahullooh berkata:

لَيْسَ لَكَ أَنْ تَعْتَقِدَ فِي غَيْرِكَ سُوءًا إِلَّا إِذَا انْكَشَفَ لَكَ بعيان لا يقبل التأويل

“Tidak dibenarkan bagimu meyakini bahwa selain dirimu itu adalah buruk, kecuali jika tersingkap padamu dengan nyata sesuatu yang tidak dapat ditakwil.”
(Abu Hamid Al-Ghozali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 3/150)

806) PELAKU TIPU DAYA

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا فِيْ كُلِّ قَرْيَةٍ اَكٰبِرَ مُجْرِمِيْهَا لِيَمْكُرُوْا فِيْهَا وَمَا يَمْكُرُوْنَ اِلَّا بِاَ نْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ

“Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri (mereka) sendiri tanpa menyadarinya.”
(QS. Al-An’am/6: 123)

807) PEDOMAN DAN TUNTUNAN TERBAIK

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ الْأَنْبِيَاءِ , وَأَحْسَنَ السُّنَنِ سُنَّةُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Pedoman terbaik adalah pedoman para Nabi. Dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

808) MUHSININ (ORANG-ORANG YANG BERBUAT BAIK)

Yahya bin Mu’adz ar-Rozy rohimahullooh berkata:

لِيَكُنْ حَظُّ الْمُؤْمِنِ مِنْكَ ثَلَاثُ خِصَالٍ لِتَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ: أَحَدُهَا أَنَّكَ إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُ فَلَا تَضُرُّهُ. وَالثَّانِي إِنْ لَمْ تَسُرُّهُ فَلَا تَغُمُّهُ. وَالثَّالِثُ إِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلَا تَذُمَّهُ

“Perlakukanlah orang-orang yang beriman itu dengan 3 perkara, niscaya engkau akan tergolong orang-orang yang beriman: 1) Jika engkau tidak dapat memberinya manfaat, maka janganlah berbuat sesuatu yang membahayakan mereka; 2) Jika engkau tidak dapat membahagiakan mereka, maka janganlah membuat mereka gundah; 3) Jika engkau tidak bisa memuji mereka, maka janganlah mencela mereka.”
(As-Samarqondy [wafat 373 H], Tanbihul Ghofilin, hal. 165)

809) PERKARA TERBAIK & PERKARA TERBURUK

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

خَيْرَ الْأُمُورِ عَزَائِمُهَا , وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا

“Perkara paling baik adalah perkara yang semestinya dilakukan; dan perkara yang paling buruk adalah sesuatu yang baru (dalam urusan agama).”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

810) MENERIMA SEPENUH HATI

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa’/4: 65)

811) JANGAN SEPELEKAN ORANG LAIN

Ibnu Hajar al-Haitsamy rohimahullooh berkata:

لَا تَحْتَقِرْ غَيْرَك عَسَى أَنْ يَكُونَ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرًا مِنْك وَأَفْضَلَ وَأَقْرَبَ

“Jangan sekali-kali engkau sepelekan orang lain; bisa jadi dia lebih lebih baik dari dirimu, lebih utama dan lebih dekat kepada Allooh.”
(Ibnu Hajar al-Haitsamy [wafat 974 H], Az-Zawajir, 2/8)

812) PUNCAK HIKMAH/SIKAP BIJAK

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

رَأْسَ الْحِكْمَةِ مَخَافَةُ اللَّهِ

“Puncak Hikmah (sikap bijak) adalah takut kepada Allooh.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

813) PALING DICINTAI ALLOOH

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai Allooh adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya. Adapun amalan paling dicintai Allooh adalah membuat muslim lain bahagia, mengangkat kesusahan orang lain, membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku muslim untuk sebuah keperluannya lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (–masjid Nabawi–) selama sebulan penuh.”
(HR. Thobrony no: 13280, Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12/453, dari Ibnu ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhuma, di-Hasan-kan oleh Al-Albaany dalam Shohiih al-Jaami’ no: 176)

814) ZUHUD

Al-Imam al-Hasan al-Bashry rohimahullooh berkata:

رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا جَعَلَ الْعَيْشَ عَيْشًا وَاحِدًا، فَأَكَلَ كِسْرَةً، وَلَبِسَ خَلَقًا، وَلَزِقَ بِالْأَرْضِ، وَاجْتَهَدَ فِي الْعِبَادَةِ، وَبَكَى عَلَى الْخَطِيئَةِ، وَهَرَبَ مِنَ الْعُقُوبَةِ؛ ابْتِغَاءَ الرَّحْمَةِ، حَتَّى يَأْتِيَهُ أَجَلُهُ وَهُوَ عَلَى ذَلِكَ

“Allooh akan mengasih-sayangi orang yang menjadikan hidupnya satu, makan sepotong roti, berbaju sudah lapuk, rekat dengan bumi (sujud), bersungguh-sungguh dalam ibadah, menangisi dosa, lari dari hukuman Allooh dan mengejar rohmat Allooh; terus-menerus demikian hingga ajal menjemputnya.”
(Al-Baihaqy [wafat 458 H], Az-Zuhdul Kabiir , hal. 65)

815) SYARATNYA TIDAK BERBUAT SYIRIK

Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”
(HR. At-Turmudzy no: 3540, di-shohiih-kan oleh Nashiruddin Al Albaany, dari Anas bin Maalik rodhiyalloohu ‘anhu)

816) SEJAHAT-JAHAT KEBUTAAN & KESESATAN PALING BUTA

Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

شَرَّ الْعَمَى عَمَى الْقَلْبِ , وَأَعْمَى الضَّلَالَةِ الضَّلَالَةِ بَعْدَ الْهُدَى

“Sejahat-jahat kebutaan adalah buta mata hati; dan kesesatan yang paling buta adalah sesat setelah memperoleh petunjuk.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

817) LEMAH AKIBAT AMBISI DUNIA

Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

شَرَّ الْعَمَى عَمَى الْقَلْبِ , وَأَعْمَى الضَّلَالَةِ الضَّلَالَةِ بَعْدَ الْهُدَى

“”Siapa yang ambisi memperoleh dunia, maka dunia akan melemahkannya.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

818) TUTUPILAH KELEMAHAN

Orang bijak berkata:

إِنْ ضَعُفْتَ عَنْ ثَلَاثَةٍ فَعَلَيْكَ بِثَلَاثٍ: إِنْ ضَعُفْتَ عَنِ الْخَيْرِ فَامْسِكْ عَنِ الشَّرِّ، وَإِنْ كُنْتَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْفَعَ النَّاسَ فَامْسِكْ عَنْهُمْ ضُرَّكَ، وَإِنْ كُنْتَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ فَلَا تَأْكُلْ لُحُومَ النَّاسِ

“Jika dirimu lemah dalam tiga perkara, maka lakukanlah olehmu tiga perkara: 1) Jika lemah dalam berbuat kebajikan, maka kendalikanlah dirimu dari berbuat keburukan; 2) Jika engkau tidak mampu memberi manfaat pada orang lain, maka janganlah berbuat yang membahayakan mereka; 3) Jika engkau tidak mampu shoum (ibadah puasa), maka janganlah memakan daging manusia (berghibah).”
(As-Samarqondy [wafat 373 H], Tanbihul Ghofiliin, hal. 166)

819) KEAJAIBAN JUJUR

Muhammad bin Said al-Marwazi rohimahullooh berkata:

إذا طلبت الله بالصدق آتاك الله مرآة بيدك تبصر كل شيئ من عجائب الدنيا والأخرة

“Kalau engkau meminta kepada Allooh dengan kejujuran, maka Allooh akan memberikan cermin di tanganmu, sehingga engkau akan dapat melihat segala keajaiban dunia dan akhirat.”
(Al-Ghozali [wafat 505 H], Ihyaa’u ‘Ulumuddiin, 4/387)

820) SEORANG ‘ALIM

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh rohimahullooh berkata:

عَالِمٌ عَامِلٌ مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ

“Seorang ‘Aalim (orang yang berilmu) yang beramal dengan ilmunya dan mengajarkan ilmunya, akan dikenal sebagai “orang besar” dikalangan alam langit.”
(Al-Imam at-Turmudzy [wafat 279 H], Sunan at-Turmudzy, 5/50)

821) SEBURUK-BURUK PERMINTAAN MAAF & PENYESALAN

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

شَرَّ الْمَعْذِرَةِ عِنْدَ حَضْرَةِ الْمَوْتِ , وَشَرَّ النَّدَامَةِ نَدَامَةُ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Seburuk-buruk permintaan maaf adalah pada saat kematian menjemput; dan seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan pada hari Kiamat.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

822) PENYEBAB KEBINASAAN SUATU NEGERI

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman:

وَاِ ذَاۤ اَرَدْنَاۤ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada ORANG yang HIDUP MEWAH di negeri itu (agar mentaati Allooh), tetapi bila mereka MELAKUKAN KEDURHAKAAN di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).”
(QS. Al-Isro’/17: 16)

823) FAASIQ

Al-Imam al-Qurthuby rohimahullooh berkata:

من لقب أخاه أو سخر منه فهو فاسق

“Barangsiapa yang menjuluki saudaranya (dengan julukan buruk) atau mengolok-oloknya, maka dia adalah orang fasiq.”
(Al-Imam al-Qurthuby [wafat 671 H], Tafsiir al-Qurthuby, 16/328)

824) RASA CUKUP

‘Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ مَا قَنِعَتْ بِهِ نَفْسُهُ , وَمَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى

“Seseorang itu hendaknya merasa cukup dengan apa yang jiwanya merasa puas dengannya; dan sesuatu yang sedikit dan cukup adalah lebih baik daripada yang banyak namun melalaikan.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

825) JANGAN RAGU

Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

اَفَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْتَغِيْ حَكَمًا وَّهُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ اِلَيْكُمُ الْـكِتٰبَ مُفَصَّلًا وَا لَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْـكِتٰبَ يَعْلَمُوْنَ اَنَّه مُنَزَّلٌ مِّنْ رَّبِّكَ بِا لْحَـقِّ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Pantaskah aku mencari hakim selain Allooh, padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu secara rinci? Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengetahui benar bahwa (Al-Qur’an) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS. Al-An’am/6: 114)

826) HAK ALLOOH YANG BANYAK DILALAIKAN MAKHLUQ

Allooh Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

“MENETAPKAN HUKUM itu hanyalah HAK ALLOOH. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”
(QS. Al-An’aam/6:57)

827) YANG TERTANAM DI HATI

Abdullooh bin Mas’uud rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

خَيْرَ مَا أُلْقِيَ فِي الْقُلُوبِ الْيَقِينُ , وَالرَّيْبَ مِنَ الْكُفْرِ

“Sebaik-baik apa yang ditanam dalam hati adalah keyakinan; sedangkan keragu-raguan adalah bagian dari kekufuran.”
(Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah [wafat 235 H], Al-Mushonnaf, 7/106, no: 34552)

828) 7 PERKARA YANG DIPERINTAHKAN

Abu ‘Umaaroh Al-Baroo’ bin ‘Aazib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم بِسَبعٍ: “بِعِيادَةِ الَمرِيضِ. وَاتِّبَاعِ الجَنائِزِ، وَتَشْمِيْتُ العَاطِسِ، وَنَصْرِ الضَّعِيْفِ، وَعَوْنُ المَظْلُومِ، وَإفْشَاءِ السَّلاَمِ، وَإِبْرَارِ المُقسِمِ “مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، هَذَا لَفْظُ إِحْدَى رِوَايَاتِ البُخَارِي.

“Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami 7 perkara: (1) Menjenguk orang yang sakit, (2) Mengantarkan jenazah, (3) Mendoakan orang yang bersin, (4) Membantu yang lemah, (5) Menolong yang didzolimi, (6) Menyebarkan salam, (7) Memenuhi sumpah.”
(HR. Al-Bukhoory, no: 1239 dan HR. Muslim no: 2066)

829) GEGABAH DALAM URUSAN RIBA

Ibnul Jauzi rohimahullooh berkata:

رأيت كثيرًا من الناس يتحرزون من رشاش نجاسة، ولا يتحاشون من غيبة! ويكثرون من الصدقة، ولا يبالون بمعاملات الربا! ويتهجدون بالليل، ويؤخرون الفريضة عن الوقت في أشياء يطول عددها، من حفظ فروع، وتضييع أصول، فبحثت عن سبب ذلك؟ فوجدته من شيئين: أحدهما: العادة. والثاني: غلبة الهوى في تحصيل المطلوب، فإنه قد يغلب، فلا يترك سمعًا ولا بصرًا.

“Aku melihat banyak orang yang berhati-hati dari cipratan najis, namun mereka tidak menjaga mulut dari ghibah; mereka banyak bershodaqoh namun mereka tidak peduli dengan riba dalam keseharian mereka; mereka bertahajjud di malam hari namun mereka mengakhirkan perkara fardhu — dari mulai perkara ibadah