TEXT: Bahaya Nifaq & Orang Munãfiq (menurut Al-Qur’ãn)
(Resume Ceramah BM 26052025 – BM 09082025)
BAHAYA NIFĀQ & ORANG MUNĀFIQ (MENURUT AL-QUR’ĀN)
Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i, Lc. MM.Pd
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allōh سبحانه وتعالى,
Kita masih melanjutkan rangkaian kajian yang berkaitan dengan Bab. Pemadam Iman, dan kali ini kita akan membahas tentang “Bahaya Nifãq” serta siapa sajakah “Orang-Orang yang Munãfiq menurut Al-Qur’ãn”; agar kita dapat mewaspadainya serta menghindarinya demi kebaikan kita semua di dunia maupun di Akherat kelak.
Dari berbagai kajian terdahulu, telah kita bahas bagaimanakah gambaran tentang “Orientasi Hidup Manusia dan Akibat dari Pilihan Hidupnya”:
Gambar #1 – “Orientasi Hidup (Pilihan Manusia dan Akibatnya)”
Pada bagian tengah Gambar #1, maka kita (Manusia) adalah berstatus sebagai: ‘Abdun (Hamba) Allōh سبحانه وتعالى yang Tugas Hidup kita adalah Tunduk – Patuh – Taat – Pasrah dalam ber-hamba serta beribadah pada Allōh سبحانه وتعالى, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku (Allōh) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzãriyat/51: 56)
Apabila sang Manusia sadar (memperoleh Hidãyah) untuk apa dirinya diciptakan, lalu ia pun berjuang dan ber-Amal Shōlih sesuai tuntunan Pencipta dirinya; sehingga selama di dunia ia pun memilih pilihan-pilihan hidupnya untuk selalu berusaha menjadi golongan Hamba yang Taat (bagian kanan Gambar #1), maka dengan “mahar” berupa: 1) Imãn, 2) Ihsãn, 3) Sholãh (Sholat), 4) Ibãdah, 5) Thō’ah (Taat pada Allōh dan Rosũl-Nya), serta 6) Taqwa; maka sebagai balasannya ia di Akherat kelak berhak atas: 1) Falãh / Fauz (orang yang menikmati Surga), 2) Sa’ãdah (bahagia abadi), dan 3) Jannah (Surga).
Namun sebaliknya, apabila sang Manusia Tersesat (Ghiwãyah) akibat lalai dari tujuan untuk apa dirinya diciptakan, lalu ia pun berbuat sesuka Hawa Nafunya sendiri didalam memilih pilihan-pilihan hidupnya di dunia dengan menjadi Hamba yang Tidak Taat pada Penciptanya (bagian kiri Gambar #1), maka akibat “pilihan” berupa: 1) Ishyãn (Perbuatan Durhaka/ Maksiat pada Allōh), 2) Fusũq (Kefasikan), 3) Dzulm (Kedzoliman), 4) Nifãq (Kemunafikan), 5) Fujũr (Tenggelam dalam Keburukan / Perbuatan Dosa), 6) Dholãl / Buthlan (Kesesatan), 7) Jarĩmah (Perbuatan Dosa), 8) Bid’ah (Perkara Agama yang Diada-adakan), 9) Riddah (Murtad), 10) Kufur (Kekufuran); maka sebagai balasannya ia di Akherat kelak terancam berhak atas: 1) Khosãroh / Khoibah (orang yang sengsara di Neraka), 2) Syaqōwah (sengsara), dan 3) Jahannam (Neraka).
Adapun ancaman “Kekal di Neraka” ataukah “Tidak Kekal di Neraka” maka itu tentunya tergantung Kehendak Allōh سبحانه وتعالى dan tergantung pada kadar besar kecilnya dosa yang dilakukan (dan hal ini telah kita bahas pada kajian terdahulu, silahkan dilihat kembali bagan “10 golongan diancam menjadi penghuni Neraka” pada link berikut ini:
Gambar #2 – “10 golongan diancam menjadi penghuni Neraka”
Pada Bab Pemadam Iman kali ini, akan kita bahas istilah yang sangat banyak ditemui di dalam Al-Qur’ãnul Karĩm, yaitu: “Nifãq” (Kemunafikan / النِّفَاقُ), dan pelakunya yang disebut sebagai orang “Munãfiq”; lalu dalam jumlah jamak disebut sebagai “Munãfiqũn / Munãfiqĩn” ( الْمُنَافِقِينَ ).
“Bahaya Nifãq & Orang-Orang yang Munãfiq menurut Al-Qur’ãn” ini akan kita bahas dalam 13 bagian, yakni: 1) Muqoddimah: Manusia dalam Timbangan Iman; 2) Definisi Nifãq (Secara Bahasa & Secara Istilah); 3) Munãfiq & Zindiq; 4) Kemunculan kaum Munãfiq; 5) Sikap Salafush Shōlih terhadap Nifãq; 6) Sifat & Karakteristik Orang Munãfiq; 7) Bahaya yang Mengancam Munãfiq Akbar (Pelaku Nifãq Akbar); 8) Status Kaum Munãfiqũn; 9) Bahaya Orang Munãfiq bagi Islam & kaum Muslimin; 10) Perintah Allōh سبحانه وتعالى: Bagaimana Muslim Menyikapi kaum Munãfiqũn; 11) Ketika Satu Group Bersama Munãfiqũn; 12) Waspadai Sendi-Sendi Bangunan Nifãq (Kemunafikan);13) Upaya Pencegahan Diri dari Nifãq (Kemunafikan).
I. MUQODDIMAH: MANUSIA DALAM TIMBANGAN IMAN
Gambar #3 – “Manusia dalam Timbangan Iman”
Al-Qur’ãnul Karim memberikan gambaran secara jelas tentang perbedaan antara “Siapakah yang disebut Mu’minũn (Orang-orang Beriman)”, “Siapakah yang disebut Kuffãr (Orang-orang Kãfir)”, maupun “Siapakah yang disebut Munãfiqũn (Orang-orang Munãfiq)”; sebagaimana diantara-nya adalah ayat-ayat berikut ini:
1) MU’MINUN
Allõh سبحانه وتعالى berfirman tentang “Siapakah orang-orang beriman / Mu’min” itu:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ(2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ(3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ(4) أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)
(2) “Kitab (Al-Qur’ãn) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa; (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan sholat, dan menafkahkan sebahagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka; (4) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’ãn) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (Hari) Akhirat; (5) Mereka itulah orang yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Bãqoroh/2: 2-5)
2) KUFFĀR
Allõh سبحانه وتعالى berfirman tentang “Siapakah kaum Kuffãr / Orang-orang Kãfir” itu:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (6) خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (7)
(6) “Sesungguhnya orang-orang kãfir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman; (7) Allõh telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”
(QS. Al-Bãqoroh/2: 6-7)
3) MUNĀFIQ
Allõh سبحانه وتعالى berfirman tentang “Siapakah kaum Munãfiqũn / Orang-orang Munãfiq” itu dalam banyak ayat, antara lain:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ (13) وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (14) اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (15) أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ (16)
(8) “Diantara manusia ada yang mengatakan:“Kami beriman kepada Allõh dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman; (9) Mereka hendak menipu Allõh dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (10) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allõh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (11) Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi“. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan“. (12) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (13) Apabila dikatakan kepada mereka:“Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman“. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. (14) Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman“. Dan bila mereka kembali kepada syaithon-syaithon mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok“. (15) Allõh akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.(16) Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Bãqoroh/2: 8-16)
Dan Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139) وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا (140) الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا (141) إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا (142) مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا (143)
(138) “Kabarkanlah kepada orang-orang munãfiq bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (139) (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kãfir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kãfir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allõh. (140) Dan sungguh Allõh telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al-Qur’ãn bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allõh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kãfir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allõh akan mengumpulkan semua orang-orang munãfiq dan orang-orang kãfir di dalam Jahannam, (141) (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allõh mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” Dan jika orang-orang kãfir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata:“Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allõh akan memberi keputusan diantara kamu di Hari Kiamat dan Allõh sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kãfir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (142) “Sesungguhnya orang-orang munãfiq itu menipu Allõh, dan Allõh akan membalas tipuan mereka.Dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allõh kecuali sedikit sekali. (143) Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kãfir), tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kãfir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”
(QS. An-Nisã’/4: 142-143)
Dan Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ (204) وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (205) وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ (206)
(204) “Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allõh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (205) Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allõh tidak menyukai kebinasaan. (206) Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertaqwalah kepada Allõh“, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.”
(QS. Al-Bãqoroh/2: 204-206)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman juga di ayat yang lain:
يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ (64) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66) الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67) وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ (68)
(64) “Orang-orang yang munãfiq itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allõh dan Rosũl-Nya)“. Sesungguhnya Allõh akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. (65) Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja“. Katakanlah: “Apakah dengan Allõh, ayat-ayat-Nya dan Rosũl-Nya kamu selalu berolok-olok?” (66) Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kãfir sesudah beriman.Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (67) Orang-orang munãfiq laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allõh, maka Allõh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munãfiq itu adalah orang-orang yang fãsiq .(68) Allõh mengancam orang-orang munãfiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kãfir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allõh melaknati mereka, dan bagi mereka adzab yang kekal.”
(QS. At-Taubah/9: 64-68)
Juga Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61) فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا (62) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (63(
(60) Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada toghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari toghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (61) Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kalian (tunduk) kepada hukum yang telah Allõh turunkan dan kepada hukum Rosũl,” niscaya kamu lihat orang-orang munãfiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.(62) Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munãfiq) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah, “Demi Allõh, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.” (63) Mereka itu adalah orang-orang yang Allõh mengetahui apa yang di dalam hati mereka.Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.”
(QS. An-Nisã’/4: 60-63)
Dan firman-Nya di ayat yang lain:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisã’/4: 65)
Dan Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ (44) إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ (45)وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ (46) لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلا خَبَالا وَلأوْضَعُوا خِلالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (47) لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ الأمُورَ حَتَّى جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ (48) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلا تَفْتِنِّي أَلا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ (49) إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ (50) قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (51) قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ (52) قُلْ أَنْفِقُوا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا لَنْ يُتَقَبَّلَ مِنْكُمْ إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ (53) وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلا وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنْفِقُونَ إِلا وَهُمْ كَارِهُونَ (54) فَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ (55) وَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنَّهُمْ لَمِنْكُمْ وَمَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَفْرَقُونَ (56) لَوْ يَجِدُونَ مَلْجَأً أَوْ مَغَارَاتٍ أَوْ مُدَّخَلا لَوَلَّوْا إِلَيْهِ وَهُمْ يَجْمَحُونَ (57) وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ (58) وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ (59) إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (60)وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (61)يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ (62) أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ (63)يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ (64) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66) الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67) وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ (68) كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالا وَأَوْلادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (69) أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (70)
(44) Orang-orang yang beriman kepada Allõh dan Hari Kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka Dan Allõh mengetahui orang-orang yang bertaqwa. (45) Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allõh dan Hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu.Karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. (46) Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allõh tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allõh melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kalian bersama orang-orang yang tinggal itu.” (47) Jika mereka berangkat bersama-sama kalian niscaya mereka tidak menambah kalian selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisan kalian, untuk mengadakan kekacauan diantara kalian; sedangkan diantara kalian ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allõh mengetahui orang-orang yang dzolim. (48) Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur berbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allõh), dan menanglah agama Allõh, padahal mereka tidak menyukainya. (49) Diantara mereka ada orang yang berkata, “Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah.” Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kãfir. (50) Jika engkau (Muhammad) mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh suatu bencana, mereka berkata,“Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi berperang),” dan mereka berpaling dengan rasa gembira. (51) Katakanlah (Muhammad), “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allõh bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allõh orang-orang yang beriman bertawakal.” (52) Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Allõh akan menimpakan kepada kalian adzab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (adzab) melalui tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersama kalian.” (53) Katakanlah (Muhammad), “Infaqkanlah harta kalian, baik dengan sukarela ataupun terpaksa, namun (infaqmu) itu sekali-kali tidak akan diterima dari kalian. Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang fãsiq.” (54) Dan yang menghalang-halangi infaq untuk diterima Adalah karena mereka kãfir (ingkar) kepada Allõh dan Rosũl-Nya dan mereka tidak mengerjakan sholat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menginfaqkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (terpaksa). (55) Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya Allõh menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan kãfir. (56) Dan mereka (orang-orang munãfiq) bersumpah dengan (Nama) Allõh, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (57) Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya. (58) Dan diantara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat:jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati: dan jika tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (59) Jikalau mereka sungguh-sungguh ridho dengan apa yang diberikan Allõh dan Rosũl-Nya kepada mereka, dan (mereka akan) berkata, “Cukuplah Allõh bagi kami, Allõh akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rosũl-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allõh,” (60) Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat (pengurus-pengurus zakat), para mu’allaf yang dilunakkan hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allõh, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allõh; dan Allõh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (61) Diantara mereka (orang-orang munãfiq) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan, “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah, “Ia mempercayai semua yang baik bagimu, ia beriman kepada Allõh, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman diantaramu. Dan orang-orang yang menyakiti Rosũlullõh itu, bagi mereka adzab yang pedih. (62) Mereka bersumpah kepadamu dengan (Nama) Allõh untuk mencari keridho’anmu, padahal Allõh dan Rosũl-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridho’annya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. (63) Tidakkah mereka (orang-orang munãfiq itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allõh dan Rosũl-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar. (64) “Orang-orang yang munãfiq itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allõh dan Rosũl-Nya)“. Sesungguhnya Allõh akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. (65) Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja“. Katakanlah: “Apakah dengan Allõh, ayat-ayat-Nya dan Rosũl-Nya kamu selalu berolok-olok?” (66) Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kãfir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (67) Orang-orang munãfiq laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allõh, maka Allõh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munãfiq itu adalah orang-orang yang fãsiq. (68) Allõh mengancam orang-orang munãfiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kãfir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allõh melaknati mereka, dan bagi mereka adzab yang kekal.” (69) (keadaan kalian, hai orang-orang munãfiq dan musyrik adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kalian, mereka lebih kuat daripada kalian, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kalian. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kalian telah menikmati bagian kalian sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian menikmati bagiannya, dan kalian mempercakapkan (hal yang bathil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi. (70) Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Samud. kaum ‘Ibrohim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rosũl-rosũl dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allõh tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
(QS. At-Taubah/9: 44-70)
Dan Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (73) يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا وَمَا نَقَمُوا إِلا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الأرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (74)وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77) أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلامُ الْغُيُوبِ (78) الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (79) اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (80) فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ (81) فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (82) فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَى طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا إِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ (83) وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ;;’’وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ (84) وَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ (85)وَإِذَا أُنزلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُوا بِاللَّهِ وَجَاهِدُوا مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُولُو الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوا ذَرْنَا نَكُنْ مَعَ الْقَاعِدِينَ (86) رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ (87)
(73) Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kãfir dan orang orang munãfiq itu. dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (74) Mereka (orang-orang munãfiq itu) bersumpah dengan (Nama) Allõh, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu).Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekufuran, dan telah menjadi kãfir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allõh dan Rosũl-Nya), kecuali karena Allõh dan Rosũl-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka; dan jika mereka berpaling, niscaya Allõh akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (75) Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar/berjanji kepada Allõh, “Sesungguhnya jika Allõh memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shõlih.” (76) Maka setelah Allõh memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). (77) Maka Allõh menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allõh, karena mereka telah memungkiri terhadap Allõh apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. (78) Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allõh mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allõh amat mengetahui segala yang ghoib? (79) (Orang-orang munãfiq) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munãfiq itu menghina mereka. Allõh akan membalas penghinaan mereka (orang-orang munãfiq) itu, dan untuk mereka adzab yang pedih. (80) Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allõh sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kãfir kepada Allõh dan Rosũl-Nya. Dan Allõh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fãsiq. (81) Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rosũlullõh, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allõh, dan mereka berkata,“Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas-(nya)“, jikalau mereka mengetahui. (82) Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (83) Maka jika Allõh mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, “Kalian tidak boleh keluar dengan aku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kalian telah rela tidak pergi berperang sejak semula. Karena itu. duduklah (tinggallah) bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (84) Dan janganlah kamu sekali-kali mensholatkan (jenazah) seorang pun yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kãfir kepada Allõh dan Rosũl-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fãsiq. (85) Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya Allõh menghendaki akan mengadzab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kãfir. (86) Dan apabila diturunkan surat (yang memerintahkan kepada orang yang munãfiq itu), “Berimanlah kalian kepada Allõh dan berjihad-lah beserta Rosũl-Nya“, niscaya orang-orang yang memiliki kesanggupan diantara mereka akan meminta izin kepadamu (untuk tidak berangkat) dan mereka berkata, “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk (tinggal di rumah).” (87) Mereka rela untuk berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad).”
(QS. At-Taubah/9: 73-87)
Lalu di ayat yang lain, Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ (29) وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ ۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ (30) وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ (31)
(29) “Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allõh tidak akan menampakkan kedengkian mereka? (30) Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allõh mengetahui perbuatan-perbuatanmu. (31) Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”
(QS. Muhammad/47: 29-31)
Dan berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kãfir dan orang-orang munãfiq dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.”
(QS. At-Tahrĩm/66: 9)
Allõh سبحانه وتعالى juga berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (14) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (15) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (16) لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (17) يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ (18) اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (19) إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الأذَلِّينَ (20)
(14) “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allõh sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan (mereka), sedangkan mereka mengetahui. (15) Allõh telah menyediakan bagi mereka adzab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (16) Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allõh; karena itu mereka mendapat adzab yang menghinakan. (17) Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikit pun (untuk menolong) mereka dari adzab Allõh. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (18) (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allõh, mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang-orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu, dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. (19) Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allõh; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (20) Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allõh dan Rosũl-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.”
(QS. Al-Mujãdilah/58: 14-20)
Dan berfirman:
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (1) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (2) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ (3) وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (4)وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ (5) سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (6) هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ (7) يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأعَزُّ مِنْهَا الأذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ (8)
(1) Apabila orang-orang munãfiq datang kepadamu(Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya engkau benar-benar Rosũl Allõh.” Dan Allõh mengetahui bahwa engkau benar-benar Rosũl-Nya; dan Allõh mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munãfiq itu benar-benar orang pendusta. (2) Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allõh. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (3) Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kãfir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (4) Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikanmu kagum. Dan jika mereka bertutur kata, engkau mendengarkan tutur katanya (dengan saksama karena kefasihannya). Mereka bagaikan (seonggok) kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadailah mereka; semoga Allõh membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (5) Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman), agar Rosũlullõh memintakan ampunan bagimu“, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling, sedangkan mereka menyombongkan diri. (6) Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Allõh tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allõh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fãsiq. (7) Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshor), “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rosũlullõh supaya mereka bubar (meninggalkan Rosũlullõh).” Padahal kepunyaan Allõh-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munãfiq itu tidak memahami. (8) Mereka berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, pastilah orang-orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allõh, bagi Rosũl-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munãfiq itu tidaklah mengetahui.”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 1-8)
Kemudian Allõh سبحانه وتعالى juga berfirman:
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ(2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (2) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, (3) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”
(QS. Al-Muthoffifĩn/83: 1-3)
Hendaknya manusia sibuk memperhatikan bagaimanakah keadaan dirinya dalam “pandangan Allõh سبحانه وتعالى” berdasarkan ayat-ayat diatas; menilai kira-kira dirinya termasuk kedalam golongan yang mana; karena tidak mustahil di zaman sekarang ini ternyata ada diantara orang-orang yang sekalipun di KTP-nya tertulis “Muslim” tetapi sikap hidupnya tidaklah mencerminkan ke-Islamannya bahkan ia gemar ke dukun, gemar ber-wala’ (loyal) ke orang-orang kafir sembari mencela perjuangan kaum Muslimin, gemar menyendat penegakan Syariat Islam, gemar menebar kemungkaran lalu disisi lain justru menghalang-halangi penegakan perkara yang ma’ruf, bahkan hingga tak segan mengolok-olok Allõh – Rosũl-Nya maupun Syariat-Nya; dan lain sebagainya. Maka ketahuilah, bahwa “Kedudukan Manusia dalam Timbangan Iman” itu adalah berdasarkan “pandangan Allõh” dan berdasarkan apa yang Allõh سبحانه وتعالى telah jelaskan dalam Al-Qur’ãnul Karim; jadi bukanlah semata-mata berdasarkan “pandangan manusia” terhadap diri orang tersebut. Bisa jadi di zaman ini ada berbagai jenis orang yang dipuja-puji, dielu-elukan, ditinggikan jabatan kedudukannya di mata manusia di dunia, padahal ia sesungguhnya adalah tergolong orang yang sangat dimurkai Allõh سبحانه وتعالى. Maka, hendaknya kita kaum Muslimin senantiasa melakukan introspeksi diri, masuk kedalam golongan manakah diri kita ditinjau dari ayat-ayat diatas.
II. DEFINISI NIFĀQ
Adapun definisi Nifãq (Kemunafikan) bila ditinjau dari sisi Bahasa, maupun ditinjau dari sisi Istilah, menurut para ‘Ulama Ahlus Sunnah, adalah sebagai berikut:
A) SECARA BAHASA:
Nifãq (Kemunafikan) berasal dari kata “An-Nafaq”, yang berarti: Terowongan; yang kemudian dijelaskan oleh para ‘Ulama sebagai berikut:
قال شرف الدين الحسين بن عبد الله الطيبي (743 هـ):
النفق سرب في الأرض، له مخلص إلى مكان. و((النافقاء)): إحدى جحرتي اليربوع، وهو موضع يدققه، فإذا أتى من قبل القاصعاء – وهو جحره الذي يقصع فيه أي يدخل – ضرب النافقاء برأسه، فانتفق أي خرج، يقول: نافق اليربوع أي أخذ في نافقائه. ومنه اشتقاق المنافق: وهو الذي يدخل في الشرع من باب ويخرج من باب، أيضا يكتم الكفر، ويظهر الإيمان، كما أن اليربوع يكتم النافقاء، ويظهر القاصعاء، كانوا يظهرون الإسلام تسترا به، وهم مقيمون على كفرهم.[1]
Syarf ad-Din al-Husain bin ‘Abdullõh ath-Thoyyibi (wafat tahun 743 H) berkata:
“An-Nafaq (Terowongan) adalah suatu lorong didalam tanah yang mengarah ke suatu tempat. Dan “An-Nafiqõ” adalah salah satu dari dua lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya; dimana jika ia dicari dari satu lubang maka ia akan keluar dari lubang yang lainnya. Ketika yarbu’ (tikus) itu datang dari arah Al-Qos‘ā’ – yang merupakan lubang tempat ia menggali dalam-dalam, tempat ia masuk – lalu ia pun menabrak-nabrak An-Nafiqõ’ dengan kepalanya, sehingga ia pun muncul di lubang lainnya, tempat ia keluar.” Kemudian Ath-Thoyyibi berkata: “Tikus menggali dalam-dalam ke dalam kedua terowongannya, yaitu, ia masuk ke kedua terowongannya. Dan dari sinilah berasal kata “Munãfiq“: “Orang yang memasuki agama melalui satu pintu dan keluar melalui pintu yang lain. Juga, ia menyembunyikan kekafirannya dan memperlihatkan imannya, sebagaimana tikus menyembunyikan An-Nafiqõ’ dan memperlihatkan Al-Qos‘ā’. Mereka menjadikan Islam sebagai kedoknya, namun mereka tetap bersikukuh pada kekafirannya.”
(Syarif ad-Din al-Husain bin ‘Abdullõh ath-Thoyyibi [743 H], “Syarh al-Misykat li ath-Thoyyibi al-Kasyif ‘an Haqoyiq as-Sunan/Penjelasan al-Misykat oleh ath-Thoyyibi, Mengungkap Kebenaran Sunnah”, 2/508)
B) SECARA ISTILAH:
قال ابن كثير (700 – 774 هـ):
«النِّفَاقُ: هُوَ إِظْهَارُ الْخَيْرِ وَإِسْرَارُ الشَّرِّ، وَهُوَ أَنْوَاعٌ: اعْتِقَادِيٌّ، وَهُوَ الَّذِي يَخْلُدُ صَاحِبُهُ فِي النَّارِ، وَعَمَلِيٌّ وَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ الذُّنُوبِ، كَمَا سَيَأْتِي تَفْصِيلُهُ فِي مَوْضِعِهِ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، وَهَذَا كَمَا قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: الْمُنَافِقُ يُخَالِفُ قَوْلُه فِعْلَهُ، وسِرّه عَلَانِيَتَهُ، وَمَدْخَلُهُ مَخْرَجَهُ، وَمَشْهَدُهُ مَغِيبه»[2]
Ibnu Katsir (700 – 774 H) berkata:
“Kemunafikan adalah memperlihatkan kebaikan sambil menyembunyikan keburukan.Kemunafikan ada beberapa jenis: 1) Kemunafikan dalam perkara ‘Aqodiyyah / I’tiqodi / Nifãq Akbar / Nifãq Besar (– Kemunafikan dalam perkara Keyakinan, dimana seseorang menampakkan keIslaman namun menyembunyikan Kekufuran – pent.), yang akan menyebabkan pelakunya berada di neraka selama-lamanya; dan 2) Kemunafikan dalam perkara Amaliyyah / Nifãq Asghor / Nifãq Kecil (– Kemunafikan yang nampak dalam amal lahiriyahnya namun batinnya tidak sampai kufur – pent.), yang merupakan salah satu dari dosa-dosa besar (– namun tidak sampai keluar dari Islam – pent.), sebagaimana nanti akan dijelaskan secara terperinci, in-syā Allõh. Hal ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Jurayj: “Perkataan orang munãfiq bertentangan dengan perbuatannya, dan rahasia batinnya bertentangan dengan yang ditampakkan lahiriahnya. Ia memiliki 2 wajah, lahir batinnya berbeda.”
(Ibnu Katsir al-Qurosyi ad-Dimasyqi (700-774 H), “Tafsir Ibnu Katsir”, 1/176)
III. MUNĀFIQ & ZINDIQ
Adapun definisi Munãfiq dan Zindiq adalah sebagaimana penjelasan para ‘Ulama Ahlus Sunnah berikut ini:
قال ابن تيمية:
«ومنافق كافر في الباطن مع كونه مسلماً في الظاهر»[3]
Ibnu Taimiyah berkata:
“Orang munãfiq adalah orang yang kãfir secara batin, meskipun ia seorang muslim secara lahir.”
(Ibnu Taimiyah, “Al-Iman al-Awsath / Beriman di Pertengahan – edisi Ibn al-Jawzi”, hal. 302)
وقال: «الزنديق في عرف هؤلاء الفقهاء هو المنافق الذي كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم وهو أن يظهر الإسلام ويبطن غيره سواء أبطن ديناً من الأديان كدين اليهود والنصارى أو غيرهم أو كان معطلاً جاحداً للصانع والمعاد والأعمال الصالحة.»[4]
Beliau kemudian berkata:
“Seorang zindiq, menurut para ahli hukum, ini adalah seorang munãfiq yang hidup pada masa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Ia secara lahiriah menyatakan Islam tetapi menyembunyikan sesuatu yang berbeda, entah ia menyembunyikan keyakinan agamanya seperti agama Yahudi, Nashroni, atau yang lainnya; atau ia mengingkari Allõh Sang Pencipta, mengingkari akhirat, dan ataupun mengingkari amal shõlih.”
(Ibnu Taimiyah, “Al-Iman al-Awsath / Beriman di Pertengahan – edisi Ibn al-Jawzi”, hal. 303)
قال الفيومي (ت نحو 770 هـ):
«الزِّنْدِيقُ مِثْلُ: قِنْدِيلٍ قَالَ بَعْضُهُمْ فَارِسِيٌّ مُعَرَّبٌ وَقَالَ ابْنُ الْجَوَالِيقِيِّ رَجُلٌ زَنْدَقِيٌّ وَزِنْدِيقٌ إذَا كَانَ شَدِيدَ الْبُخْلِ وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ ثَعْلَبٍ وَعَنْ بَعْضِهِمْ سَأَلْتُ أَعْرَابِيًّا عَنْ الزِّنْدِيقِ فَقَالَ هُوَ النَّظَّارُ فِي الْأُمُورِ وَالْمَشْهُورُ عَلَى أَلْسِنَةِ النَّاسِ أَنَّ الزِّنْدِيقَ هُوَ الَّذِي لَا يَتَمَسَّكُ بِشَرِيعَةٍ وَيَقُولُ بِدَوَامِ الدَّهْرِ وَالْعَرَبُ تُعَبِّرُ عَنْ هَذَا بِقَوْلِهِمْ مُلْحِدٌ أَيْ طَاعِنٌ فِي الْأَدْيَانِ وَقَالَ فِي الْبَارِعِ زِنْدِيقٌ وَزَنَادِقَةٌ وَزَنَادِيقُ وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنْ كَلَامِ الْعَرَبِ فِي الْأَصْلِ. وَفِي التَّهْذِيبِ وَزَنْدَقَةُ الزِّنْدِيقِ أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ وَلَا بِوَحْدَانِيَّةِ الْخَالِقِ.»[5]
Al-Fayyumi (wafat tahun 770 H) berkata:
“Sebagian dari mereka mengatakan bahwa Zindiq itu berasal dari bahasa Persia yang diserap kedalam bahasa Arab.” Ibnu al-Jawaliqi berkata bahwa: “Seseorang disebut Zindiq jika ia sangatlah kikir.” Hal ini diriwayatkan dari Tho’lab dan dari sebagian dari mereka bahwa: “Aku bertanya kepada seorang Arab tentang Zindiq, dan dia berkata bahwa Zindiq adalah orang yang tidak berpegang teguh pada Syari’at, dan dia mengatakan bahwa waktu adalah abadi, dan orang-orang Arab mengungkapkan hal tersebut dengan mengatakannya sebagai “atheis,” yang berarti seseorang yang anti agama.” Dia mengatakan dalam Al-Bari’ bahwa: “Zindiq”/ “zindiqah” / “zindiqs”, itu bukanlah berasal dari bahasa asli Arab.” Adapun dalam At-Tahdzib dikatakan bahwa: “Orang Zindiq itu tidak percaya pada kehidupan setelah mati, atau ia pun (tidak percaya) pada ke-Esaan Allõh Sang Pencipta.”
(Al-Fayyumi (wafat sekitar tahun 770 H), “Al-Mishbah al-Munir fi Ghorib al-Syarh al-Kabir”, 1/256)
IV. KEMUNCULAN KAUM MUNĀFIQ
Awal mula kemunculan kaum Munãfiq, adalah sebagaimana yang dikisahkan berikut ini:
قال أحمد بن تيمية:
«وأما قبل الهجرة فلم يكن الناس إلا مؤمن أو كافر لم يكن هناك منافق فإن المسلمين كانوا مستضعفين فكان من آمن آمن باطنا وظاهرا، ومن لم يؤمن فهو كافر. فلما هاجر النبي صلى الله عليه وسلم إلى المدينة وصار للمؤمنين بها عز وأنصار ودخل جمهور أهلها في الإسلام طوعا واختيارا: كان بينهم من أقاربهم ومن غير أقاربهم من أظهر الإسلام موافقة رهبة أو رغبة وهو في الباطن كافر. وكان رأس هؤلاء عبد الله بن أبي ابن سلول وقد نزل فيه وفي أمثاله من المنافقين آيات.»[6]
Ahmad bin Taimiyah berkata:
“Sebelum Hijrah, manusia hanya bisa beriman atau kãfir. Tidak ada orang munãfiq, karena umat Islam dikala itu berada dalam keadaan lemah. Siapa pun yang beriman, maka ia beriman lahir dan batin, dan siapa pun yang tidak beriman, maka ia kãfir (lahir dan batin). Ketika Nabi صلى الله عليه وسلم hijrah ke Madinah, dan orang-orang beriman di sana mendapatkan kehormatan dan dukungan, maka mayoritas penduduknya pun masuk Islam dengan sukarela, kemudian diantara mereka ada beberapa kerabat dari mereka serta dari yang lainnya yang secara lahiriah memeluk Islam akan tetapi (melakukannya) karena takut atau karena hawa nafsu, sehingga secara batiniah mereka tetap kãfir. Pemimpin mereka adalah ‘Abdullõh bin Ubay bin Salul, dan ayat-ayat pun diturunkan berkenaan dengan dia dan orang-orang seperti dia dari kalangan orang-orang munãfiq.”
(Ahmad Ibnu Taimiyyah, “Majmu’ al-Fatawa”, 7/463)
V. SIKAP SALAFUSH SHÕLIH TERHADAP NIFĀQ
Para Salafush Shõlih terdahulu, mereka sangat khawatir terjangkit Nifãq (Kemunafikan), hal ini adalah sebagaimana berbagai riwayat berikut ini:
قال عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ:
“أَدْرَكْتُ زِيَادَةً عَلَى خَمْسِينَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْهُمْ إِلَّا وَهُوَ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، قَالَ: فَمَا رَضَى أَحَدٌ مِنْ هَؤُلَاءِ حَتَّى قَالَ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا كَانَ يَتَفَوَّهُ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم بِذَلِكَ “»[7]
‘Abdullõh bin Abī Mulaykah berkata:
“Aku sempat menjumpai lebih dari 50 (lima puluh) sahabat Rosũlullōh ﷺ, tidak seorang pun dari mereka wafat kecuali dalam keadaan khawatir terhadap kemunafikan atas dirinya.”Beliau (‘Abdullõh bin Abī Mulaykah) kemudian berkata: “Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa puas lalu berkata bahwa dirinya telah berada diatas iman seperti imannya Jibril ‘alaihissalam. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Muhammad ﷺ sendiri tidak pernah mengucapkan hal seperti itu.”
(Muhammad bin Nashir al-Marwazī (wafat 294 H), Ta‘ẓīm Qodr ash-Ṣolāh (2/634), no: 688; Al-Firyābī, Ṣifat an-Nifāq wa Dhamm al-Munāfiqīn, hal. 123, no: 82)
قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ:
أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ.[8]
Ibnu Abī Mulaykah berkata:
“Aku sempat menjumpai 30 (tiga puluh) sahabat Nabi ﷺ, semuanya merasa takut terhadap kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang berkata bahwa dirinya berada diatas iman seperti imannya Jibril dan Mikā’īl.“
(Muhammad bin Isma’il al-Bukhōry, Shohih al-Bukhōry, 1/18, no: 1)
قال الْحَسَنِ:
مَا خَافَهُ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا أَمِنَهُ إِلَّا مُنَافِقٌ، وَمَا يُحْذَرُ مِنَ الْإِصْرَارِ عَلَى النِّفَاقِ وَالْعِصْيَانِ مِنْ غَيْرِ تَوْبَةٍ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى {وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ}»[9]
Al-Hasan berkata:
“Tidak ada yang takut pada kemunafikan kecuali orang yang beriman, dan tidak ada yang merasa aman darinya kecuali orang munãfiq. Dan hendaknya kita takut untuk terus-menerus berbuat kemunafikan dan kemaksiatan tanpa taubat, sebagaimana firman Allōh سبحانه وتعالى: “Dan mereka tidak terus-menerus berbuat apa yang telah mereka kerjakan, padahal mereka mengetahuinya.“
(Muhammad bin Isma’il al-Bukhōry, Shohih al-Bukhōry, 1/18)
قال أبو الدرداء:
استعيذوا بالله من خشوع النفاق. قيل: وما خشوع النفاق؟ قال: أن ترى الجسد خاشعاً، والقلب ليس بخاشع.[10]
Abud Darda’ رضي الله عنه berkata:
“Berlindunglah kepada Allōh dari kerendahan jiwa akibat kemunafikan.” Ada yang bertanya: “Apa itu kerendahan jiwa karena kemunafikan?” Beliau menjawab: “Bahwa engkau melihat tubuhmu khusyu’, tetapi hatimu tidak khusyu’.“
(Abu al-Layts as-Samarqondi (wafat 373 H), Tafsir as-Samarqondi = Bahr al-Ulum, 3/406)
قَالَ سُفْيَان الثَّوْريّ رَحمَه الله تَعَالَى:
سَيَأْتِي أَقوام يتخشعون رِيَاء وَسُمْعَة هم كالذئاب الضواري غايتهم الدِّينَار وَالدِّرْهَم من الْحَلَال وَالْحرَام»[11]
Sufyan al-Tsauri رَحمَه الله تَعَالَى, berkata:
“Akan datang suatu kaum yang rendah jiwa akibat kemunafikan maupun (rendah jiwa dalam) reputasi. Mereka bagaikan serigala yang ganas. Tujuan akhir mereka adalah dinar dan dirham, baik yang halal maupun yang harom.”
(Abu Syãmah al-Maqdisī (wafat 665 H), Al-Bã’its ‘alã Inkãr al-Bida’ wa al-Hawãdits, hal. 82)
قال حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ:
«إِنَّ الْمُنَافِقِينَ الْيَوْمَ شَرٌّ مِنْهُمْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، كَانُوا يَوْمَئِذٍ يُسِرُّونَ وَالْيَوْمَ يَجْهَرُونَ.»[12]
Ḥudzayfah bin al-Yamān رضي الله عنه berkata:
“Sesungguhnya orang-orang munãfiq pada hari ini lebih buruk daripada orang-orang munãfiq di zaman Nabi ﷺ. Dahulu mereka menyembunyikan (kemunafikannya), sedangkan sekarang mereka menampakkannya secara terang-terangan.”
(Muhammad bin Isma’il al-Bukhōry, “Shohih al-Bukhōry” (9/58), no: 7113)
عن حُذَيْفَةَ رضي الله عنه، يَقُولُ:
مَاتَ رَجُلٌ مِنَ الْمُنَافِقِينَ، فَلَمْ أُصَلِّ عَلَيْهِ، فَقَالَ عُمَرُ رضي الله عنه: مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَيْهِ؟ قُلْتُ: إِنَّهُ مِنْهُمْ، فَقَالَ: أَبِاللَّهِ مِنْهُمْ أَنَا؟ قُلْتُ: لَا، قَالَ: (فَبَكَى) رضي الله عنه»[13]
Dari Ḥudzayfah رضي الله عنه, ia berkata:
“Seorang laki-laki dari kalangan munãfiq meninggal, dan aku tidak mensholatinya. Lalu ‘Umar رضي الله عنه berkata: ‘Apa yang mencegahmu untuk mensholatinya?‘ Aku (Ḥudzayfah) menjawab: ‘Sesungguhnya ia termasuk dari mereka (orang-orang munãfiq).‘ ‘Umar berkata: ‘Demi Allōh, apakah aku termasuk dari mereka?‘ Aku (Ḥudzayfah) menjawab: ‘Tidak.’ Maka ia (‘Umar رضي الله عنه) pun menangis.”
(Ibnu Ḥajar al-‘Asqolānī (wafat 852 H), “Al-Maṭōlib al-‘Āliyah bi-Zawāʾid al-Masōnīd al-Thamāniyah” (14/702), Hadits no: 3623)
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ:
«إِنَّمَا كَانَ النِّفَاقُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَأَمَّا الْيَوْمَ: فَإِنَّمَا هُوَ الْكُفْرُ بَعْدَ الْإِيمَانِ.»[14]
Dari Ḥudzayfah رضي الله عنه, ia berkata:
“Sesungguhnya kemunafikan itu (terutama yang diketahui seperti) ada pada masa Nabi ﷺ, adapun pada hari ini kemunafikan (bisa jadi) adalah kekufuran.“
(Muhammad bin Isma’il al-Bukhōry, “Shohih al-Bukhōry”, (9/58), no: 7114)
عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي فَضَالَةَ، قَالَ:
كَانَ بَعْضُ الْمُهَاجِرِينَ يَقُولُ: وَاللَّهِ مَا أَخَافُ الْمُسْلِمَ وَلَا أَخَافُ الْكَافِرَ أَمَّا الْمُسْلِمُ فَيُحْجِزُهُ إِسْلَامُهُ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَقَدْ أَذَلَّهُ اللَّهُ عز وجل وَلَكِنْ كَيْفَ لِي بِالْمُنَافِقِ؟»[15]
Dari Habīb bin Abi Fadhōlah, ia berkata:
“Sebagian Muhajirin berkata: ‘Demi Allōh, aku tidak takut kepada orang-orang Muslim dan tidak pula takut kepada orang-orang kãfir. Karena orang-orang Muslim, maka keislamannya akan melindunginya, adapun bagi orang-orang kãfir, maka Allōh سبحانه وتعالى telah menghinakannya. Akan tetapi, bagaimana dengan orang-orang munãfiq?’”
(Ja’far al-Firyābī (wafat 301 H), “Ṣifat an-Nifāq wa Dhamm al-Munāfiqīn”, hal. 102, no: 59)
قال الْحَسَنَ:
والله الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مَا مَضَى مُؤْمِنٌ قَطُّ وَلَا بَقِيَ إِلَّا هُوَ مِنَ النِّفَاقِ مُشْفِقٌ وَلَا مَضَى مُنَافِقٌ قَطُّ وَلَا بَقِيَ إِلَّا هُوَ مِنَ النِّفَاقِ آمِنٌ قَالَ: وَكَانَ يَقُولُ: مَنْ لَمْ يَخَفِ النِّفَاقَ فَهُوَ مُنَافِقٌ»[16]
Al-Hasan al-Bashri berkata:
“Demi Allōh, yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya; tiadalah seorang mukmin pun dari yang terdahulu hingga (yang tertinggal) saat ini kecuali ia akan takut terhadap kemunafikan, dan tiadalah seorang munãfiq pun dari yang terdahulu hingga (yang tertinggal) saat ini kecuali ia merasa aman dari kemunafikan.” Al-Hasan kemudian berkata: “Barangsiapa yang tidak takut akan kemunafikan, maka ia adalah seorang munãfiq.”
(Ja’far al-Firyābī (wafat 301 H), “Ṣifat an-Nifāq wa Dhamm al-Munāfiqīn”, hal. 121, no: 81)
قال الْحَسَنَ البصري:
إِنَّمَا النَّاسُ بَيْنَ ثَلَاثَةِ نَفَرٍ: مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ وَكَافِرٌ , فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَعَامِلٌ بِطَاعَةِ اللَّهِ عز وجل وَأَمَّا الْكَافِرُ فَقَدْ أَذَلَّهُ اللَّهُ تَعَالَى كَمَا رَأَيْتُمْ وَأَمَّا الْمُنَافِقُ فَهَهُنَا وَهَهُنَا فِي الْحَجَرِ وَالْبُيُوتِ وَالطُّرُقِ نَعُوذُ بِاللَّهِ وَاللَّهِ مَا عَرَفُوا رَبَّهُمْ بَلْ عَرَفُوا إِنْكَارَهُمْ لِرَبِّهِمْ بِأَعْمَالِهِمُ الْخَبِيثَةِ ظَهَرَ الْجَفَا وَقَلَّ الْعِلْمُ وَتُرِكَتِ السُّنَّةُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، حَيَارَى سُكَارَى لَيْسُوا بِيَهُودَ وَلَا نَصَارَى وَلَا مَجُوسَ فَيُعْذَرُوا
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
“Manusia terbagi menjadi tiga golongan: orang-orang beriman, orang-orang munãfiq, dan orang-orang kãfir.Orang beriman, ia beramal karena Allōh سبحانه وتعالى. Orang kãfir, Allōh سبحانه وتعالى telah menghinakannya, sebagaimana telah kalian lihat. Orang munãfiq, ia ada di sana-sini, di batu-batu, rumah-rumah, dan jalan-jalan. Kita berlindung kepada Allōh. Demi Allōh, mereka tidak mengenal Tuhan mereka, tetapi mereka mengetahui keingkaran mereka kepada Tuhan mereka melalui perbuatan mereka. Orang-orang yang fãsiq itu, telah nampak kekasarannya, telah berkurang ilmunya, dan telah ditinggalkan oleh sunnah. Sesungguhnya kita milik Allōh dan kepada-Nya lah kita akan kembali. Dalam keadaan bingung dan mabuk, jika mereka bukanlah orang Yahudi, Nashroni, ataupun Majusi, maka mereka dimaafkan.”
وَقَالَ: إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَمْ يَأْخُذْ دِينَهُ عَنِ النَّاسِ وَلَكِنْ أَتَاهُ مِنْ قِبَلِ اللَّهِ عز وجل فَأَخَذَهُ، وَإِنَّ الْمُنَافِقَ أَعْطَى النَّاسَ لِسَانَهُ وَمَنَعَ اللَّهَ قَلْبَهُ وَعَمَلَهُ. فَحَدَثَانِ أُحْدِثَا فِي الْإِسْلَامِ رَجُلٌ ذُو رَأْيِ سَوْءٍ زَعَمَ أَنَّ الْجَنَّةَ لِمَنْ رَأَى مِثْلَ رَأْيِهِ فَسَلَّ سَيْفَهُ وَسَفَكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِينَ وَاسْتَحَلَّ حُرْمَتَهُمْ، وَمُتْرَفٌ يَعْبُدُ الدُّنْيَا لَهَا يَغْضَبُ وَعَلَيْهَا يُقَاتِلُ وَلَهَا يَطْلُبُ
Beliau berkata lagi: “Orang beriman tidak mengambil agamanya dari manusia, melainkan agama itu datang kepadanya dari Allōh سبحانه وتعالى, maka ia pun mengambilnya. Adapun orang munãfiq, memberikan lidahnya kepada manusia, tetapi Allōh menahan hati dan amalnya. Dua hal ini telah terjadi dalam Islam: seorang pria berakal buruk yang mengklaim bahwa Surga diperuntukkan bagi mereka yang sependapat dengannya, sehingga ia pun menghunus pedangnya dan menumpahkan darah ummat Islam, serta melanggar kesucian mereka; dan seorang pria yang bermewah-mewahan dengan menyembah dunia, menjadi marah karena (dunia)-nya, memperjuangkan (dunia)-nya, dan mengejarnya.”
وَقَالَ: يَا سُبْحَانَ اللَّهِ مَا لَقِيَتْ هَذِهِ الْأُمَّةُ مِنْ مُنَافِقٍ قَهَرَهَا وَاسْتَأْثَرَ عَلَيْهَا وَمَارِقٍ مَرَقَ مِنَ الدِّينِ فَخَرَجَ عَلَيْهَا. صِنْفَانِ خَبِيثَانِ قَدْ غَمَّا كُلَّ مُسْلِمٍ، يَا ابْنَ آدَمَ دِينَكَ دِينَكَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمُكَ وَدَمُكَ فَإِنْ تَسْلَمْ بِهَا فَيَالَهَا مِنْ رَاحَةٍ وَيَا لَهَا مِنْ نِعْمَةٍ وَإِنْ تَكُنِ الْأُخْرَى فَنَعُوذُ بِاللَّهِ فَإِنَّمَا هِيَ نَارٌ لَا تُطْفَأُ وَحَجَرٌ لَا يُبْرَدُ وَنَفَسٌ لَا تَمُوتُ»[17]
Lalu beliau berkata: “Maha Suci Allōh! Ummat ini belum pernah bertemu dengan seorang munãfiq yang menindas dan menguasainya, maupun pelaku bid’ah yang meninggalkan agamanya serta memberontak terhadapnya. Dua keburukan itu telah menimpa setiap Muslim. Wahai anak ‘Adam, agamamu adalah agamamu, karena ia tak lain adalah darah dagingmu. Jika engkau merasa aman karenanya, maka sungguh suatu kelegaan dan nikmat. Namun jika sebaliknya, maka kita berlindung kepada Allōh, karena ia tak lain hanyalah api yang tak padam, batu yang tak dingin, dan jiwa yang tak pernah mati.”
قال الْحَسَنَ:
إِنَّ الْقَوْمَ لَمَّا رَأَوْا هَذَا النِّفَاقَ يَغُولُ الْإِيمَانَ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ هَمٌّ غَيْرَ النِّفَاقِ»[18]
Al-Hasan Al-Bashri kemudian berkata:
“Ketika manusia melihat kemunafikan ini menghancurkan iman, mereka tidak punya hal lain yang perlu dikhawatirkan selain kemunafikan tersebut.”
(Ja’far al-Firyābī (wafat 301 H), “Ṣifat an-Nifāq wa Dhamm al-Munāfiqīn”, hal. 119, no: 76; Al-Jawhari al-Farobi (wafat 393 H), Ash-Shihah Taj’al Lughoh wash Shihah al-‘Arobiyyah, 3/1254)
عن جبير بن نفير قال:
دخلت على أبي الدرداء منزله بحمص، فإذا هو قائم يصلي في مسجده، فلمّا جلس يتشهّد، جعل يتعوّذ بالله من النفاق، فلمّا انصرف قلت: غفر الله لك يا أبا الدرداء! ما أنت والنفاق؟ قال: اللهم غفرا-ثلاثا-من يأمن البلاء؟ من يأمن البلاء؟ والله إنّ الرجل ليفتتن في ساعة فينقلب عن دينه.»[19]
Dari Jubair bin Nufayr, ia berkata:
“Aku menemui Abud Darda di rumahnya di Hims, dan beliau sedang berdiri sholat di masjidnya. Ketika beliau duduk untuk membaca Syahadat, beliau mulai memohon perlindungan Allōh dari kemunafikan. Setelah selesai, aku berkata: ‘Semoga Allōh mengampunimu, wahai Abud Darda! Apa urusanmu dengan kemunafikan?’ Beliau berkata: ‘Ya Allōh, ampunilah kami!’ – tiga kali – ‘Siapakah yang selamat dari musibah? Siapakah yang selamat dari musibah?’ Demi Allōh, seseorang bisa saja tergoda dalam satu saat dan berpaling dari agamanya.”
(Al-Baihaqi (384 – 458 H), “Syu’ab Al-Iman”, 1/506, no: 857)
قال ابن حجر العسقلاني (773 – 852 هـ):
وقد جزم بأنهم كانوا يخافون النفاق في الأعمال، ولم ينقل عن غيرهم خلاف ذلك فكأنه إجماع، وذلك لأن المؤمن قد يعرض عليه في عمله ما يشوبه مما يخالف الإخلاص.»[20]
Ibnu Hajar al-Asqolani (773-852 H) berkata:
“Telah dipastikan bahwa mereka semua khawatir akan kemunafikan dalam perbuatan/amaliyah-nya, dan tidak ada riwayat lain yang menyatakan hal yang sebaliknya, sehingga tampaknya itu telah menjadi ijma’ / konsensus (kata sepakat). Hal ini (bisa terjadi) karena seorang mukmin bisa saja menemukan dalam perbuatan / amaliyah-nya sesuatu yang mengotorinya dan bertentangan dengan keikhlasan.”
(Ibnu Hajar al-Asqolani (773-852 H), “Fath al-Bari”, 1/111)
قال ابن المنظور:
والأَصلُ فِي الإِيمان الدخولُ فِي صِدْقِ الأَمانةِ الَّتِي ائْتَمَنه اللَّهُ عَلَيْهَا، فَإِذَا اعْتَقَدَ التصديقَ بِقَلْبِهِ كَمَا صدَّقَ بلِسانِه فَقَدْ أَدّى الأَمانةَ وَهُوَ مؤمنٌ، وَمَنْ لَمْ يَعْتَقِدِ التَّصْدِيقَ بِقَلْبِهِ فَهُوَ غَيْرُ مؤدٍّ للأَمانة الَّتِي ائْتَمَنَهُ اللَّهُ عَلَيْهَا، وَهُوَ مُنافِقٌ، ومَن زَعَمَ أَن الإِيمان هُوَ إِظْهَارُ الْقَوْلِ دُونَ التصديقِ بِالْقَلْبِ فَإِنَّهُ لَا يَخْلُو مِنْ وَجْهَيْنِ أَحدهما أَن يَكُونَ مُنافِقاً يَنْضَحُ عَنِ الْمُنَافِقِينَ تأْييداً لَهُمْ، أَو يَكُونَ جَاهِلًا لَا يَعْلَمُ مَا يَقُولُ وَمَا يُقالُ لَهُ، أَخْرَجَه الجَهلُ واللَّجاجُ إِلى عِنادِ الحقِّ وتَرْكِ قبولِ الصَّوابِ، أَعاذنا اللَّهُ مِنْ هَذِهِ الصِّفَةِ وَجَعَلَنَا مِمَّنْ عَلِم فاسْتَعْمل مَا عَلِم، أَو جَهِل فَتَعَلَّمَ مِمَّنْ عَلِمَ، وسلَّمَنا مِنْ آفَاتِ أَهل الزَّيْغ والبِدَع بمنِّه وَكَرَمِهِ.[21]
Ibnu al-Manzur berkata:
“Prinsip dasar iman adalah memasuki amanah Kebenaran sebagaimana yang telah Allōh percayakan kepadanya. Maka, jika ia meyakini iman dalam hatinya sebagaimana ia meyakini dengan lisannya, maka ia telah memenuhi amanah tersebut dan ia adalah seorang mukmin. Dan barangsiapa yang tidak meyakini iman dalam hatinya, maka ia tidak memenuhi amanah yang telah Allōh percayakan kepadanya, dan ia adalah seorang munãfiq. Dan barangsiapa yang mengklaim bahwa iman adalah ungkapan lahiriah dengan kata-kata tanpa keyakinan dalam hati, maka ia memiliki dua kemungkinan, salah satunya adalah bahwa ia mungkin seorang munãfiq yang berbicara menentang orang-orang munãfiq untuk mendukung mereka; atau ia mungkin seorang yang bodoh/jahil, tidak menyadari apa yang ia katakan atau apa yang dikatakan kepadanya. Ketidaktahuan dan sikap keras kepala telah membuatnya menjadi keras kepala terhadap Kebenaran dan menolak untuk menerima apa yang benar. Semoga Allōh melindungi kita dari sifat ini dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang berilmu dan mengamalkan-nya, atau orang-orang yang bodoh dan belajar dari orang-orang yang berilmu. Semoga Dia menyelamatkan kita dari malapetaka orang-orang yang menyimpang dan bid’ah, dengan rahmat dan kemurahan-Nya.”
(Ibnu Manzur, “Lisan al-Arob”, 13/23)
Demikianlah berbagai perkataan para ‘Ulama tentang Bahaya Nifaq (Kemunafikan); yang bahkan para Shohabat Rosũlullōh صلى الله عليه وسلم pun sangatlah takut terhadapnya. Apalagi kita yang hidup di zaman sekarang?! Tentu lebih khawatir lagi !! Kalau dahulu para Shohabat Rosũl yang hidup dikala “Islam masih ajeg dalam tata kehidupan masyarakat Muslim” dikala itu saja mereka (para Shohabat) sangat khawatir; maka apalagi diri kita yang hidup dimasa dimana Sekulerisme – Pluralisme – Liberalisme marak tersebar di berbagai penjuru negeri yang dihuni kaum Muslimin?! Tentu amat sangat khawatirlah diri kita ini, jangan sampai merasa diri tergolong sebagai kaum Mukminin / Muslimin, namun ternyata Allōh golongkan kedalam golongan berbeda; akibat tidak menegakkan Hukum-Hukum Allōh / Perintah Allōh dan Rosũl-Nya dalam berbagai sisi kehidupan. Tidakkah kita kaum Muslimin merasa gundah gulana, manakala Syari’at Allōh banyak yang ghoib tergantikan oleh Hukum Buatan Manusia (Undang-Undang Buatan Manusia yang menyelisihi Perintah Allōh dan Rosũl-Nya dalam berbagai perkara)?! Belum lagi Ekonomi Ribawi yang marak tersebar; belum lagi khomr yang banyak diperjualbelikan bahkan sampai pabrik khomr pun ada didirikan di negeri mayoritas kaum Muslimin; dan segudang permasalahan lainnya yang membutuhkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di berbagai sisi kehidupan ummat saat ini.
Lalu yang harus selalu dilakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri adalah:“Bagaimanakah posisi kita di Akhir Zaman yang sudah seperti ini keadaannya?” Adakah kita justru larut dalam berbagai kemunkaran; bahkan Na’ũdzu billãhi min dzãlik lebih parah lagi kalau justru menjadi pelaku “Amar Munkar Nahi Ma’ruf” (penyebar kemunkaran, penyendat kema’rufan) yang merupakan sifat karakter dari kaum Munãfiqũn; ataukah paling tidak kita berusaha sekuat tenaga berdiri di barisan para pelaku “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” (penyebar kema’rufan, penyendat kemunkaran) / berusaha menjadi “pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan”?? Berdiri di posisi manakah diri kita?? Maka hendaklah kita senantiasa bersikap “kritis terhadap diri kita sendiri” terlebih dahulu, sebelum bersikap kritis terhadap orang lain.
VI. SIFAT & KARAKTERISTIK KAUM MUNĀFIQ
Orang-orang Munãfiq adalah orang-orang yang memiliki sifat Nifãq (kemunafikan). Kemunafikan itu sendiri ada 2 macam, yaitu: 1) Nifãq I’tiqodi (Nifãq dalamKeyakinan Hati / Batin, dimana seseorang menampakkan keIslaman namun menyembunyikan kekufuran Keyakinan Hati / Batinnya), dan Nifãq I’tiqodi ini dapat menyebabkan seseorang terjatuh dalam Kemunafikan Akbar/ Besar yang apabila mati dalam keadaan tak pernah bertaubat daripadanya maka diancam Allõh سبحانه وتعالى berupa diadzab abadi dalam kerak api Neraka Jahanam, yakniposisi dasar Neraka yang paling dahsyat bahkan sekalipun dibandingkan dengan posisi Neraka abadi yang disediakan bagi orang-orang Kafir Yahudi maupun Nashroni; dan 2) Nifãq ‘Amali (Nifãq dalam Amal Lahiriyah, namun tidak nampak kekufuran pada Batinnya), dimana Nifãq ‘Amali ini dapat menyebabkan seseorang terjerembab dalam Kemunafikan Asghor/Kecil yang terancam hukuman diadzab Alloh سبحانه وتعالى dalam Neraka walaupun tidak abadi.
قال ابن قيم الجوزية (ت 751هـ):
«لَا تَسْتَطِلْ أَوْصَافَ الْقَوْمِ، فَالْمَتْرُوكُ وَاللَّهِ أَكْثَرُ مِنَ الْمَذْكُورِ، كَادَ الْقُرْآنُ أَنْ يَكُونَ كُلُّهُ فِي شَأْنِهِمْ، لِكَثْرَتِهِمْ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ وَفِي أَجْوَافِ الْقُبُورِ، فَلَا خَلَتْ بِقَاعُ الْأَرْضِ مِنْهُمْ لِئَلَّا يَسْتَوْحِشَ الْمُؤْمِنُونَ فِي الطُّرُقَاتِ، وَتَتَعَطَّلَ بِهِمْ أَسْبَابُ الْمَعَايِشِ، وَتَخْطَفَهُمُ الْوُحُوشُ وَالسِّبَاعُ فِي الْفَلَوَاتِ»[22]
Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H) berkata tentang kaum Munãfiqũn sebagai berikut:
“Janganlah terlalu panjang lebar dalam menggambarkan manusia, karena apa yang tidak tampak, demi Allōh, adalah lebih banyak daripada apa yang disebutkan. Al-Qur’an hampir seluruhnya membahas mereka, karena jumlah mereka yang banyak di muka bumi dan di kedalaman kubur. Tidak ada tempat di bumi ini yang kosong dari mereka, agar orang-orang beriman tidak merasa kesepian di jalan, dan mata pencaharian mereka tidak terganggu. Dan binatang buas serta predator merenggut mereka di padang-padang pasir.”
(Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H), “Madarij as-Salikin” (1/364)
Berikut ini, minimal ada 61 Sifat dan Karakter orang-orang Munãfiq yang perlu kita waspadai, agar janganlah karakter ini ada pada diri kita:
1) IMAN MEREKA HANYA DI MULUT
2) MENIPU ORANG MU’MIN
3) BERPENYAKIT HATI (RAGU & RIYA’)
4) BERBUAT KERUSAKAN DI MUKA BUMI
5) MEREKA MENGANGGAP DIRI MEREKA SEBAGAI PELAKU PERBAIKAN/ PELAKU PERUBAHAN
6) MENJULUKI MU’MIN SEBAGAI ORANG DUNGU
7) MENGOLOK-OLOK MU’MIN
8) BERMUKA DUA
9) MEMPERJUALBELIKAN HIDAYAH DENGAN KESESATAN
10) BAGAIKAN ORANG YANG MENYALAKAN API, TAPI CAHAYA API ITU TIDAK MAMPU MENERANGI DIRINYA SENDIRI
11) TEROMBANG-AMBING ANTARA IMAN & KUFUR (BIMBANG / TIDAK MANTAP KEIMANANNYA / DICENGKRAM KETAKUTAN)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ (13) وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (14) اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (15) أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ (16) مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ (17) صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (18)أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ (19) يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
(8) “Diantara manusia ada yang mengatakan:“Kami beriman kepada Allõh dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman; (9) Mereka hendak menipu Allõh dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (10) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allõh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (11) Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi“. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan“. (12) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (13) Apabila dikatakan kepada mereka:“Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman“. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. (14) Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman“. Dan bila mereka kembali kepada syaithon-syaithon mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok“. (15) Allõh akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (16) Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (17) Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allõh hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (18) Mereka tuli, bisu, dan buta; maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (19) Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allõh meliputi orang-orang yang kãfir. (20) Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu; dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allõh menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allõh berkuasa atas segala sesuatu.
(QS. Al-Bãqoroh/2: 8-20)
Betapa dalam ayat diatas, Allōh سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa orang Munãfiq itu imannya hanyalah sebatas di mulut belaka, dia bisa saja mengaku dirinya beriman, padahal menurut Allōh سبحانه وتعالى dia bukanlah orang beriman; karena Allōh سبحانه وتعالى Maha Mengetahui isi hati orang Munãfiq itu yang dikatakan Allōh سبحانه وتعالى sebagai “hati yang berpenyakit” (contoh: hati yang justru condong pada kekufuran, menyukai kekufuran, berwala’ pada orang-orang kãfir, ketika diajak pada Syariat / Hukum Allōh maka ia justru tidak menyukainya / mengingkari / menolaknya, ketika diajak memperjuangkan Islam justru dia malah menyendat perjuangan kaum Muslimin, memfitnah para pejuang Muslim, dan lain sebagainya – pada intinya “hatinya bersama orang-orang Kãfir walau fisiknya bersama kaum Muslimin”, “keberpihakannya kepada orang-orang kãfir dan bukan berpihak pada kepentingan meninggikan Kalimat Allōh / Al-Islam”); sehingga manakala Allōh سبحانه وتعالى uji orang tersebut dengan Perintah maupun Larangan-Nya, maka orang Munãfiq itu dikatakan Allōh “telah berdusta”; dalam artian: “Orang Munãfiq bisa saja lisannya bersyahadat Asyhadu an Lã Ilãha Illallōh Asyahadu anna Muhammadur Rosũlullōh; namun ternyata hatinya justru condong pada kekufuran, keberpihakannya – sikap hidupnya – perkataannya, perbuataannya yang condong pada kekufuran dan membela kepentingan orang-orang kãfir dalam memusuhi Allōh / Rosũl-Nya / Al-Islam itu menunjukkan keadaan yang sebaliknya, berarti ia telah mendustakan kalimat syahadat yang diucapkan lisannya sendiri; ia bisa saja mengaku cinta Allōh سبحانه وتعالى dan cinta Rosũl-Nya namun dalam kenyataannya ia berpaling dari Allōh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya ketika diuji ketundukan – ketaatan – kepatuhan – kepasrahan pada Allōh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya”.
Di era akhir zaman ini bahkan ada diantara sebagian kalangan yang bersumpah dengan meletakkan Al-Qur’an diatas kepalanya untuk mengemban suatu amanah jabatan; namun manakala jabatan itu telah diperolehnya, ia bahkan tidak menjadikan Al-Qur’an itu sebagai pedoman dalam menjalankan amanah jabatannya; ia justru memperjuangkan nilai-nilai Sekulerisme – Pluralisme – Liberalisme dengan jabatannya itu serta memadamkan Syariat Allōh dengannya; ia justru tenggelam dalam memperjuangkan kepentingan Hawa Nafsu dan dunianya sendiri. Maka bagaimanakah kelak ketika di Hari Akherat ia dimintai pertanggungjawaban oleh Allōh سبحانه وتعالى atas sumpah yang dibuatnya dengan menggunakan Al-Qur’an tersebut? Maka sungguh khawatir, yang demikian dapat terkena ancaman pada ayat diatas: “merasa dirinya melakukan perbaikan / perubahan, padahal sesungguhnya tergolong orang yang telah berbuat kerusakan di muka bumi”; karena memadamkan Syari’at Allōh serta mengganti Hukum-Hukum Allōh dengan Hukum Buatan Manusia yang menyelisihi Perintah / Larangan-Nya pada dasarnya adalah diantara “berbuat kerusakan di muka bumi”.[23]
Syariat / Hukum-Hukum Allōh سبحانه وتعالى adalah dibangun diatas nilai-nilai Kebenaran maupun Keadilan dari sisi-Nya; sehingga memadamkan Sumber Kebenaran dan Keadilan Ilahi tersebut adalah sama saja dengan membuat “kerusakan di muka bumi”. Dan keadaan ini pulalah yang dinyatakan Allōh سبحانه وتعالى sebagai “memperjualbelikan hidayah dengan kesesatan” atau dengan kata lain: “aqidahnya dijual demi kepentingan duniawi”; dan Allōh سبحانه وتعالى memberikan penggambaran tentang keadaan orang Munãfiq yang demikian itu adalah bagaikan orang yang menyalakan api namun cahaya api itu tidak dapat menerangi dirinya / menuntun dirinya ke Jalan yang Lurus, Allōh padamkan cahaya api itu karena ia telah “memperjualbelikan hidayah dengan kesesatan”, dan akibatnya ia akan berada dalam keadaan tuli – bisu – buta. Buta dan gelap gulita lah mata hatinya, serta tuli dan bisulah ia dari menyerap Cahaya Kebenaran Allōh سبحانه وتعالى. Dan kondisi inilah yang menyebabkan orang-orang Munãfiq itu selalu terombang-ambing antara Iman dan Kufur, ragu-ragu dan tidak mantap keimanannya karena ia sendirilah yang telah memilih untuk “menjual aqidahnya untuk kepentingan duniawinya. Orang-orang Munãfiq ini gemar mengolok-olok orang beriman yang tidak mau mengikuti Hawa Nafsu duniawi-nya (namun dengan cara melanggar Perintah Allōh)itu sebagai “orang-orang yang bodoh”, maka dalam ayat ini Allōh سبحانه وتعالى membantahnya dan menjelaskan bahwa orang Munãfiq itulah yang justru sebenar-benarnya bodoh karena telah “menukar hidayah Allōh dengan kesesatan” demi kepentingan Hawa Nafsu duniawinya yang sesaat serta meninggalkan janji Alloh berupa Surga yang Abadi di Akherat kelak. Orang yang menukar Kebahagiaan Akherat yang Abadi dengan Nikmat Dunia sesaat, itulah yang sesungguhnya “orang yang bodoh” menurut Allōh سبحانه وتعالى.
12) MENGHALANGI MANUSIA DARI JALAN ALLÕH (SYARIAT ISLAM / HUKUM ALLÕH & SUNNAH ROSUL-NYA)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allõh telah turunkan dan kepada hukum Rosũl’, niscaya kamu lihat orang-orang munãfiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”
(QS. An-Nisã’/4: 61)
قال ابن قيم الجوزية (ت 751هـ):
«إن حاكمتهم إلى صريح الوحي وجدتهم عنه نافرين، وإن دعوتهم إلى حكم كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم رأيتهم عنه معرضين، فلو شهدت حقائقهم لرأيت بينها وبين الهدى أمدا بعيدا. ورأيتها معرضة عن الوحي إعراضا شديدا»[24]
Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H) berkata:
“Jika kalian menghakimi mereka berdasarkan Wahyu yang sangatlah jelas, maka kalian akan mendapati bahwa mereka menentangnya. Jika kalian mengajak mereka kepada Hukum Kitabullōh dan Sunnah Rosũl-Nya, maka kalian akan melihat bahwa mereka berpaling daripadanya. Jika kalian menyaksikan realitas mereka itu, maka kalian akan melihat jarak yang sangat jauh antara mereka dan Petunjuk. Dan kalian akan melihat bahwa mereka berpaling dari Wahyu dengan keengganan yang sangat besar.”
(Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H), “Shifat al-Munãfiqin, (hlm. 12))
Hal ini terlebih lagi dapat kita saksikan terutama di zaman kita sekarang di Fase 4 kehidupan Ummat[25] sebagaimana yang telah diperingatkan Rosũlullōh ﷺ sebagai fase / periode berkuasanya para tirani yang Rosũl ﷺ sendiri beri julukan sebagai para “Mulkan Jabriyyah” yakni para penguasa yang memaksakan Kehendak Hawa Nafsunya serta menyingkirkan Hukum-Hukum / Syariat Allōh di berbagai lini kehidupan serta menggantinya dengan Hukum-Hukum Buatan Manusia yang bertentangan dengan Syariat Allōh itu marak tersebar di berbagai wilayah kaum Muslimin; atau dengan kata lain paham Sekulerisme – Pluralisme – Liberalisme lah yang dianut dan diterapkan di banyak negeri; maka betapa QS. An-Nisã’/4: 61 serta penjelasan ‘Ulama Ahlus Sunnah Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah menggambarkan secara tepat apa yang terjadi. Ketika diajak / diseru pada penegakan Syariat Islam; ada orang-orang yang “mengaku dirinya Muslim” tetapi justru dialah yang paling keras memusuhi dan menghambat penegakan Syariat Islam, bahkan hal ini terjadi di negeri mayoritas Muslim sekalipun. Maka khawatirlah orang-orang yang memusuhi dan menghalang-halangi penegakan Syariat Islam itu terancam Allōh سبحانه وتعالى golongkan sebagai “orang-orang Munãfiq”, yang apabila tidak bertaubat sebelum nyawa sampai di kerongkongannya maka terancam dapat “membahayakan posisi dirinya di Hari Akherat” kelak ketika ia harus mempertanggungjawabkan segala pilihan perilaku hidupnya dihadapan Allōh سبحانه وتعالى. Na’ũdzu billãhi min dzãlik.
Mengapa ia yang “mengaku dirinya Muslim”, namun tidak mencerminkan sikap tunduk – patuh – taat – pasrah pada Allōh سبحانه وتعالى dengan jalan mempercayai bahwa Hukum-Hukum Allōh سبحانه وتعالى itulah yang seyogyanya merupakan Sumber Kebenaran dan Sumber Keadilan Ilahi yang akan dapat memberi Solusi bagi aneka problematika kehidupan ummat, asalkan ummat itu ajeg diatas Iman dan Islam. Dan meninggalkan Hukum-Hukum Allōh, justru hal itulah yang dapat menyebabkan kecekcokan diantara Ummat[26].
13) MENYEPELEKAN MAKNA PERJUANGAN
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعالَوْا قاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتالاً لاتَّبَعْناكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمانِ يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِما يَكْتُمُونَ (167) الَّذِينَ قالُوا لِإِخْوانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطاعُونا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَؤُا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صادِقِينَ (168) [آل عمران: 167-168]
(167) “Dan supaya Allõh mengetahui siapa orang-orang yang munãfiq. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allõh atau pertahankanlah (dirimu)“. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu“. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allõh lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allõh lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan; (168) Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh“. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar“.”
(QS. Āli ‘Imrōn/3: 167-168)
14) EGOIS
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيداً (72) وَلَئِنْ أَصابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزاً عَظِيماً (73) [النساء: 72-73]
(72) “Dan sesungguhnya diantara kamu ada orang yang enggan (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sungguh, Allõh telah menganugerahkan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berperang bersama mereka; (73) Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allõh, tentulah dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai ssekiranya aku bersama mereka, tentu aku akan memperoleht kemenangan yang agung (pula)“.”
(QS. An-Nisã’/4: 72-73)
15) CINTA DUNIA
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا [النساء: 77]
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat!” Ketika telah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munãfiq) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allõh, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan didzolimi sedikitpun.”
(QS. An-Nisã’/4: 77)
Penyakit Al-Wahn (Cinta Dunia dan Takut Mati)[27] telah pula diperingatkan Rosũlullōh ﷺ sejak dahulu kala, dimana penyakit ini adalah diantara penyebab keterpurukan Ummat. Bisa kita saksikan di zaman sekarang ini, bahwa Para Mujahidin Gaza Palestina (mereka) bisa dikatakan nyaris berjihad sendirian[28] menghadapi Kekufuran Global, padahal jumlah kaum Muslimin di seluruh dunia diperkirakan sekitar 2 Milyar. Tetapi jumlah yang banyak itu bagaikan buih.
16) MEREKA PENGECUT
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْ وَالْقَائِلِينَ لإخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلا قَلِيلا (18) أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا(19) يَحْسَبُونَ الأحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا وَإِنْ يَأْتِ الأحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الأعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا قَاتَلُوا إِلا قَلِيلا(20) [الأحزاب: 18-20]
(18) “Sesungguhnya Allõh mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi diantara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami“. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. (19) Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allõh menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allõh. (20) Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 18-20)
17) HATI MEREKA PENUH DENGAN KERAGUAN
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُورَةٌ ۖ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ فِيهَا الْقِتَالُ ۙ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَأَوْلَىٰ لَهُمْ [محمد: 20]
“Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.”
(QS. Muhammad/47: 20)
18) TIDAK KONSISTEN
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77) أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلامُ الْغُيُوبِ (78) الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (79) [التوبة: 75-79]
(75) Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar/berjanji kepada Allõh, “Sesungguhnya jika Allõh memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shõlih.” (76) Maka setelah Allõh memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). (77) Maka Allõh menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allõh, karena mereka telah memungkiri terhadap Allõh apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. (78) Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allõh mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allõh amat mengetahui segala yang ghoib? (79) (Orang-orang munafiq) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munãfiq itu menghina mereka. Allõh akan membalas penghinaan mereka (orang-orang munãfiq) itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.”
(QS. At-Taubah/9: 75-79)
Allõh سبحانه وتعالى juga berfirman:
وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ الأدْبَارَ وَكَانَ عَهْدُ اللَّهِ مَسْئُولا (15) قُلْ لَنْ يَنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ إِنْ فَرَرْتُمْ مِنَ الْمَوْتِ أَوِ الْقَتْلِ وَإِذًا لَا تُمَتَّعُونَ إِلا قَلِيلا (16) قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا (17) [الأحزاب: 15-17]
(15) “Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allõh, “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur).” Dan adalah perjanjian dengan Allõh akan diminta pertanggung-jawabannya. (16) Katakanlah, “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu. Jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian),kamu hanya akan mengecap kesenangan sebentar saja.” (17) Katakanlah, “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir/ ketentuan)Allõh jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang munãfiq itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allõh.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 15-17)
19) MEREKA MENEBAR ISSUE, GOSIP & FITNAH
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (11) لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (12) لَوْلا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ (13) وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (14) إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (15) وَلَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16) يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (17) وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (18) إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (19) وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (20) [النور: 11-20]
(11) “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golonganmu juga. Janganlah kamu mengiira bahwa berita bohong itu buruk bagimu, bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa diantara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar. (12) Mengapa diwaktu mendengar berita bohong itu, orang-orang mukmin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (13) Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allõh Adalah orang-orang yang dusta. (14) Sekiranya tidak ada karunia Allõh dan rahmat-Nya kepada kalian semua di dunia dan di akhirat, niscaya kalian ditimpa adzab yang besar, karena pembicaraan kalian tentang berita bohong itu. (15) (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu perkara yang ringan/remeh saja. Padahal itu di sisi Allõh adalah besar. (16) Dan mengapa kalian tidak berkata di waktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (17) Allõh memperingatkan kalian agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kalian orang-orang yang beriman, (18) dan Allõh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian. Dan Allõh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (19) Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab ypng pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allõh mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. (20) Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allõh dan rahmat-Nya kepada kalian semua, dan Allõh Maha Penyantun dan Maha Penyayang,”
(QS. An-Nũr/24: 11-20)
20) MEREKA LOYAL PADA ORANG KĀFIR
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
بَشِّرِ الْمُنافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذاباً أَلِيماً (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعاً (139) [النساء: 138-139]
(138) Kabarkanlah kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (139) (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kãfir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kãfir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allõh.”
(QS. An-Nisã’/4: 138-139)
21) IBADAH MEREKA PADA ALLÕH ADALAH KONDISIONAL
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ [الحج: 11]
“Diantara manusia ada yang menyembah Allõh hanya di tepian (tidak dengan penuh keyakinan). Jika memperoleh kebaikan, dia pun tenang. Akan tetapi, jika ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata.”
(QS. Al-Hajj/22: 11)
22) BESAR MULUT
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لإخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (11) لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الأدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ (12) لأنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ (13) [الحشر: 11-13]
(11) “Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munãfiq? Mereka berkata kepada saudara-saudaranya yang kãfir diantara Ahlul Kitab,“ Sungguh, jika kamu diusir, kami pasti akan keluar bersamamu dan kami selamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu. Jika kamu diperangi, kami pasti menolongmu.” Allõh bersaksi bahwa mereka benar-benar para pendusta. (12) Jika mereka benar-benar diusir, orang-orang (munãfiq) itu tidak akan keluar bersama mereka. Jika mereka benar-benar diperangi, orang-orang (munãfiq) itu tidak akan menolongnya. Kalaupun menolongnya, niscaya orang-orang (munãfiq) itu akan berpaling (untuk lari) ke belakang, kemudian mereka tidak akan ditolong. (13) Kamu (kaum yang beriman) benar-benar lebih ditakuti di dalam hati mereka daripada Allõh. Hal itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengerti.”
(QS. Al-Hasyr/59: 11-13)
23) BERPENAMPILAN MEMUKAU
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ [المنافقون: 4]
“Apabila engkau melihat mereka, tubuhnya mengagumkanmu. Jika mereka bertutur kata, engkau mendengarkan tutur katanya (dengan saksama karena kefasihannya). Mereka bagaikan (seonggok) kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan (kutukan) ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka, waspadalah terhadap mereka. Semoga Allõh membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 4)
24) SOMBONG
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ [المنافقون: 5]
“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman) agar Rosũlullōh memohonkan ampunan bagimu,”mereka membuang muka dan engkau melihat mereka menolak (ajakan itu) sambil menyombongkan diri.”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 5)
25) MENTERTAWAKAN PENDERITAAN UMAT ISLAM
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ (50) قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (51) قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا ۖ فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ [التوبة: 50-52]
(50) “Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan (maka) mereka tidak senang. Akan tetapi, jika engkau ditimpa bencana, mereka berkata,“Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (dengan tidak pergi berperang)” dan mereka berpaling dengan (perasaan) gembira. (51) Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allōh bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allōh hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. (52) Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu (kedatangannya) bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). (Sebaliknya,) kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allōh akan menimpakan adzab kepadamu dari sisi-Nya atau (adzab) melalui tangan kami. Maka, tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu.”
(QS. At-Taubah/9: 50-52)
26) MENGHALANGI & MENYENDAT PERJUANGAN UMAT ISLAM
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ (7) يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأعَزُّ مِنْهَا الأذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ (8) [المنافقون: 7-8]
(7) Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshor), “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rosũlullõh supaya mereka bubar (meninggalkan Rosũlullõh).” Padahal kepunyaan Allõh-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munãfiq itu tidak memahami. (8) Mereka berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, pastilah orang-orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allõh, bagi Rosũl-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munãfiq itu tidaklah mengetahui.”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 7-8)
27) GONJANG-GANJING DALAM SIKAP & PENDIRIAN (MASHLAHIYYUN)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدادُوا كُفْراً لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلاً (137) بَشِّرِ الْمُنافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذاباً أَلِيماً (138) [النساء: 137-138]
(137) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, lalu kãfir, kemudian beriman (lagi), kemudian kãfir lagi, lalu bertambah-tambah kekafirannya, maka Allõh tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus). (138) Kabarkanlah kepada orang-orang munãfiq bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih.”
(QS. An-Nisã’/4: 137-138)
28) TIDAK BERPENDIRIAN
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا [النساء: 143]
“Mereka (orang-orang munãfiq) dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kãfir), tidak termasuk golongan (orang beriman) ini dan tidak (pula) golongan (orang kãfir) itu. Barangsiapa yang dibiarkan sesat oleh Allõh (karena tidak mengikuti tuntunan-Nya dan memilih kesesatan), kamu tidak akan menemukan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”
(QS. An-Nisã’/4: 143)
29) MELUKAI NABI
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ ۚ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ ۚ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ [التوبة: 61]
“Diantara mereka (orang-orang munãfiq) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allõh, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman diantara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rosũlullōh itu, bagi mereka adzab yang pedih.”
(QS. At-Taubah/9: 61)
30) MENGOLOK-OLOK MU’MINUN
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ [التوبة: 79]
“(Orang-orang munãfiq itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munãfiq itu menghina mereka. Allõh akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.”
(QS. At-Taubah/9: 79)
31) MENGOLOK-OLOK ALLÕH, AYAT-AYAT-NYA & ROSŪL-NYA
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ [التوبة: 65]
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja“. Katakanlah: “Apakah dengan Allõh, ayat-ayat-Nya dan Rosũl-Nya kamu selalu berolok-olok?”
(QS. At-Taubah/9: 65)
32) MEREKA BERUSAHA MENIPU ALLÕH
33) MEREKA MALAS MENDIRIKAN SHOLAT
34) MEREKA BERAMAL KARENA INGIN DINILAI ORANG (MEMBUAT “FRAMING” & RIYA’)
35) MEREKA TENGGELAM DALAM KELALAIAN & SEDIKIT MENGINGAT ALLÕH
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا [النساء: 142]
“Sesungguhnya orang-orang munãfiq itu hendak menipu Allõh, tetapi Allõh membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk sholat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya’ di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allõh, kecuali sedikit sekali.”
(QS. An-Nisã’/4: 142)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَٰؤُلَاءِ دِينُهُمْ ۗ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [الأنفال: 49]
“(Ingatlah), ketika orang-orang munãfiq dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya“. (Allõh berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allõh, maka sesungguhnya Allõh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Anfãl/8: 49)
قال ابن جرير:
«غَرَّ هؤلاء الذين يُقاتِلون المشركين مِن أصحابِ محمدٍ صلى الله عليه وسلم مِن أنفسِهم – دينُهم وذلك الإسلامُ. وذُكِر أن الذين قالوا هذا القولَ كانوا نفرًا ممن كان قد تكَلَّم بالإسلامِ مِن مشركي قريشٍ، ولم يَسْتَحْكمِ الإسلامُ في قلوبُهم.»[29]
Ibnu Jarir berkata:
“(Mereka berkata): ‘Orang-orang yang memerangi kaum musyrik dari kalangan sahabat Muhammad ﷺ, semoga Allõh memberkahinya dan memberinya kedamaian, telah tertipu oleh agama mereka, yaitu Islam’. Telah disebutkan bahwa mereka yang mengatakan hal seperti ini adalah sekelompok orang dari kalangan musyrik Quraisy yang telah berbicara tentang Islam, padahal Islam belum berakar di hati mereka.“
(Tafsir ath-Thobari, 11/226)
36) MEREKA SOLID SESAMA MEREKA
37) MEREKA GIGIH DALAM MENGGALAKKAN KEMUNGKARAN & MENUMPAS KEMA’RUFAN
38) MEREKA KIKIR DALAM BERINFAQ FII SABIILILLĀH
39) MEREKA LALAI & LUPA PADA ALLÕH
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [التوبة: 67]
“Orang-orang munãfiq laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain (adalah sama saja). Mereka menyuruh (berbuat) munkar dan mencegah (berbuat) ma’ruf. Mereka pun menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allõh, maka Allõh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munãfiq adalah orang-orang yang fãsiq.”
(QS. At-Taubah/9: 67)
قال ابن جرير:
«ويُمسكون أيديَهم عن النفقةِ في سبيلِ اللَّهِ، ويَكُفُّونها عن الصدقةِ، فيَمْنَعون الذين فَرَضَ اللَّهُ لهم في أموالِهم ما فَرَضَ مِن الزكاةِ حقوقَهم.»[30]
Ibnu Jarir berkata:
“Mereka (orang-orang munãfiq itu) menahan diri dari menafkahkan harta di jalan Allõh dan mereka enggan bersedekah. Dengan demikian, mereka menghalangi orang-orang yang telah Allõh tetapkan untuk menerima dari harta mereka apa yang telah Allõh tetapkan sebagai zakat, dari mendapatkan hak mereka.”
(Tafsir ath-Thobari, 11/548)
40) MALAS MEMPERJUANGKAN ISLAM
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِنْكُمْ ۖ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ [آل عمران: 154]
“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allõh menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allõh seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?“. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allõh“. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini“. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh“. Dan Allõh (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allõh Maha Mengetahui isi hati.”
(QS. Āli ‘Imrõn/3: 154)
Tidak sedikit dari kalangan kaum Muslimin yang mengira bahwa dirinya bebas dari tugas “Memperjuangkan Islam” / “Meninggikan Kalimatullõh”; dianggapnya hidupnya cuma untuk kepentingan diri pribadinya saja (atau dianggapnya hidupnya cuma semata-mata sekolah, bekerja, cari makan, menikah, beranak-pinak, lalu selesai sampai disitu saja); dia tidak punya cita-cita tinggi yang Allõh سبحانه وتعالى embankan pada orang-orang beriman yakni tugas “Memperjuangkan Islam” agar Islam ajeg dalam tatanan kehidupan kaum Muslimin. Disisi lain, ada pula kalangan yang kesibukannya hanyalah semata-mata memperjuangkan kepentingan diri individu dan komunitas / kelompoknya belaka, kepentingan suku / rasnya saja, tetapi mengabaikan tugas “Menjaga dan Membela Al-Islam”. Karena tidaklah kita menikmati sampainya Al-Islam ke diri kita kaum Muslimin pada hari ini, melainkan itu adalah karena buah perjuangan para Pendahulu Ummat (Salafush Sholih) di masa lalu dalam menyebarkan Al-Islam. Maka seharusnya kita juga memiliki misi untuk menjaga agama Allõh ini, janganlah sampai Al-Islam tergerus dari kehidupan Ummat, janganlah sampai Al-Islam tergantikan oleh Sekulerisme – Pluralisme – Liberalisme ataupun nilai-nilai kekufuran lainnya yang dapat membahayakan ‘Aqidah Ummat. Jangan sampai generasi penerus kelak adalah generasi yang semakin lemah, baik dari sisi ‘Aqidah maupun dari sisi Ibadahnya.
41) MENGGEMBOSI SEMANGAT JUANG MUSLIM
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقالُوا لِإِخْوانِهِمْ إِذا ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ أَوْ كانُوا غُزًّى لَوْ كانُوا عِنْدَنا مَا ماتُوا وَما قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (156) وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (157) [آل عمران: 156-157]
(156) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian seperti orang-orang kãfir (orang-orang munãfiq) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang, “Kalau mereka tetap bersama-sama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.” Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu Allõh menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allõh menghidupkan dan mematikan. Dan Allõh melihat apa yang kalian kerjakan. (157) Dan sungguh kalau kalian gugur di jalan Allõh atau meninggal, tentulah ampunan Allõh dan rahmat-Nya lebih baik (bagi kalian) daripada harta rampasan yang mereka kumpulkan. Dan sungguh jika kalian meninggal atau gugur, tentulah kepada Allõh saja kalian dikumpulkan.”
(QS. Āli ‘Imrõn/3: 156-157)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman di ayat yang lain:
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلا غُرُورًا (12) وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلا فِرَارًا (13) [الأحزاب: 12-13]
(12) “Dan (ingatlah) ketika orang-orang munãfiq dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “Allõh dan Rosũl-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya. (13) Dan (ingatlah) ketika segolongan diantara mereka berkata, “Hai penduduk Yasrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, “Sesungguhnya rumah-rumah kamu terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 12-13)
Di zaman sekarang pun demikian. Apabila ada diantara sebagian kalangan ummat ini yang “mengaku dirinya beriman”; namun ketika dihadapkan dalam “memandang persoalan Jihad yang tengah berlangsung di Palestina antara para Mujahidin penjaga Masjidil Aqsho melawan kaum Yahudi Zionis dan para sekutunya”, lalu ia justru tidak berpihak pada perjuangan para Mujahidin, tidak mendukung perjuangan para Mujahidin tersebut dengan sikap loyalitas diatas Iman (al-wala’) entah dengan doa – dana – tenaga; lalu na’ũdzu billãhi min dzãlik justru bersikap sebaliknya yakni berprasangka buruk terhadap para Pejuang Islam yang berada di garis terdepan dalam membela Masjidil Aqsho / mengucapkan kata-kata yang bermakna melemahkan semangat perjuangan para Mujahidin / mengucapkan kata-kata yang justru melemahkan semangat kaum Muslimin lainnya dalam mendukung perjuangan para Mujahidin; maka khawatirlah kalau perilaku demikian itu terkena ancaman Allõh سبحانه وتعالى dalam ayat diatas.
42) MENJADIKAN SUMPAH SEBAGAI TAMENG KELEMAHAN MEREKA
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [المنافقون: 2]
“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisailalu mereka menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allõh. Sesungguhnya apa yang selalu mereka kerjakan itu sangatlah buruk.”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 2)
Betapa di periode berkuasanya para Mulkan Jabriyyah, ada sebagian kalangan yang bersumpah dengan menggunakan Al-Qur’an manakala ia diberi amanah jabatan, namun ia pulalah yang kemudian memadamkan Syariat / Hukum-Hukum Allõh serta menggantinya dengan nilai kekufuran Sekulerisme – Pluralisme – Liberalisme; sehingga ia laksana yang dijelaskan dalam ayat diatas yakni “menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allõh سبحانه وتعالى”.
Dan Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ [التوبة: 62]
“Mereka (orang-orang munãfiq) bersumpah kepadamu (kaum muslimin) dengan (Nama) Allõh untuk membuat kamu ridho, padahal Allõh dan Rosũl-Nya lebih pantas mereka (raih) keridho’an-Nya jika mereka adalah orang-orang beriman.”
(QS. At-Taubah/9: 62)
Dan di banyak ayat lain, Allõh menggambarkan tentang sifat / karakter “menjadikan sumpah sebagai tameng menutupi kelemahan diri” dalam firman-Nya:
وَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنَّهُمْ لَمِنْكُمْ وَمَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَفْرَقُونَ (56) لَوْ يَجِدُونَ مَلْجَأً أَوْ مَغَارَاتٍ أَوْ مُدَّخَلا لَوَلَّوْا إِلَيْهِ وَهُمْ يَجْمَحُونَ (57) [التوبة: 56-57]
(56) “Mereka (orang-orang munãfiq) bersumpah dengan (Nama) Allõh, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka adalah kaum yang sangat takut (kepadamu). (57) Seandainya mereka memperoleh tempat berlindung, gua-gua, atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi (lari) ke sana dengan secepat-cepatnya.”
(QS. At-Taubah/9: 56-57)
Lalu Allõh berfirman pada ayat berikut, agar terhadap orang-orang Munãfiq itu hendaknya ucapkanlah nasehat dengan “perkataan yang membekas pada jiwa mereka”; perkataan yang telak yang dapat menyadarkan mereka:
فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا (62) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (63( [النساء: 62-63]
(62) “Bagaimana halnya apabila (kelak) musibah menimpa mereka (orang munãfiq) karena perbuatannya sendiri. Kemudian, mereka datang kepadamu (Muhammad) sambil bersumpah, “Demi Allõh, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan dan perdamaian.” (63) Mereka itulah orang-orang yang Allõh ketahui apa yang ada di dalam hatinya. Oleh karena itu, berpalinglah dari mereka, nasihatilah mereka, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.”
(QS. An-Nisã’/4: 62-63)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (42) عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ (43) [التوبة: 42-43]
(42) “Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) adalah keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu. Akan tetapi, (mereka enggan karena) tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (Nama) Allõh, “Seandainya kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiridan Allõh mengetahui sesungguhnya mereka benar-benar para pembohong. (43) Allõh memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang) sehingga jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sehingga engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?”
(QS. At-Taubah/9: 42-43)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman di ayat yang lain:
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا ۚ وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ ۚ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [التوبة: 74]
“Mereka (orang-orang munãfiq) bersumpah dengan (Nama) Allõh bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakiti Nabi Muhammad). Sungguh, mereka benar-benar telah mengucapkan perkataan kekafiran (dengan mencela Nabi Muhammad) dan (karenanya) menjadi kãfir setelah berislam. Mereka menginginkan apa yang tidak dapat mereka capai. Mereka tidak mencela melainkan karena Allõh dan Rosũl-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka, jika mereka bertaubat, itu lebih baik bagi mereka. Jika berpaling, niscaya Allõh akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di bumi.”
(QS. At-Taubah/9: 74)
43) GEMAR BERBOHONG
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (42) عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ (43) [التوبة: 42-43]
(42) “Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) adalah keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu. Akan tetapi, (mereka enggan karena) tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (Nama) Allõh, “Seandainya kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiridan Allõh mengetahui sesungguhnya mereka benar-benar para pembohong. (43) Allõh memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang) sehingga jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sehingga engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?”
(QS. At-Taubah/9: 42-43)
44) MEMATA-MATAI UMAT ISLAM
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ (46) لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلا خَبَالا وَلأوْضَعُوا خِلالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (47) [التوبة: 46-47]
(46) “Seandainya mereka mau berangkat (sejak semula), niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Akan tetapi, (mereka memang enggan dan oleh sebab itu) Allõh tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (47) Seandainya mereka keluar bersamamu, niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)-mu, malah hanya akan membuat kekacauan dan mereka tentu bergegas maju ke depan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (di barisanmu), sedang diantara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allõh Maha Mengetahui orang-orang yang dzolim.”
(QS. At-Taubah/9: 46-47)
قال ابن جرير:
«وفيكم منهم سَمَّاعون يَسْمَعون حديثكم لهم، فيُبلغونهم ويُؤَدُّونه إليهم، عيونٌ لهم عليكم.»[31]
Ibnu Jarir berkata:
“Diantara kalian ada orang yang mendengarkan pembicaraan kalian (kaum Muslimin), kemudian menyampaikan (pembicaraan itu) kepada mereka (– musuh-musuh Islam – pent.), dan bertindak sebagai mata-mata bagi mereka untuk melawan kalian.”
(Tafsir ath-Thobari, 11/487)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَحْسَبُونَ الْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا ۖ وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا قَاتَلُوا إِلَّا قَلِيلًا [الأحزاب: 20]
“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan (yang bersekutu) itu belum pergi. Jika golongan-golongan itu datang kembali, mereka pasti ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanyakan berita tentangmu. Seandainya mereka berada bersamamu, niscaya mereka tidak akan berperang, kecuali sebentar saja.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 20)
Orang-orang Munãfiq itu laksana “serigala berbulu domba”; ia justru menjadi mata-mata (intelijen) yang bekerja untuk kepentingan musuh Allõh سبحانه وتعالى; dan tak segan membocorkan kelemahan kaum Muslimin kepada musuh-musuh Allõh yang hendak memadamkan Al-Islam.
45) MEREKA MEMBENCI JIHAD
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ (81) فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (82) فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَى طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا إِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ (83) [التوبة: 81-83]
(81) “Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) merasa gembira dengan duduk-duduk setelah kepergian Rosũlullõh (ke medan perang). Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allõh dan mereka (justru) berkata, “Janganlah kamu berangkat (ke medan perang) di tengah panas terik.” Katakanlah (Muhammad), “Api neraka Jahanam lebih panas.” Seandainya saja selama ini mereka memahami. (82) Maka, biarkanlah mereka tertawa sedikit (di dunia) dan menangis yang banyak (di akhirat) sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka perbuat. (83) Maka, jika Allõh memulangkanmu (Muhammad) ke satu golongan dari mereka (orang-orang munafiq), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), katakanlah, “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya sejak semula kamu telah ridho duduk (tidak berperang). Oleh karena itu, duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).”
(QS. At-Taubah/9: 81-83)
46) IMAN MEREKA DALAM KERAGUAN
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا [الأحزاب: 12]
“(Ingatlah) ketika orang-orang munãfiq dan orang-orang yang di hatinya terdapat penyakit berkata, “Apa yang dijanjikan Allōh dan Rosũl-Nya kepada kami, hanyalah tipu daya belaka.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 12)
قال ابن جرير:
«شكٌّ في الإيمانِ، وضعفٌ في اعتقادِهم إياه»[32]
Ibnu Jarir ath-Thobary berkata:
“Keraguan dalam iman dan kelemahan dalam keyakinan mereka (orang Munãfiq) terhadapnya (janji Allōh dan Rosũl-Nya).”
(Tafsir al-Thobary, 19/38)
47) BERSAKSI PALSU
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ [المنافقون: 1]
“Apabila orang-orang munãfiq datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar utusan Allōh.” Allōh mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Allōh pun bersaksi bahwa orang-orang munãfiq itu benar-benar para pendusta.”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 1)
Ada diantara kalangan ummat ini yang bersumpah dengan kalimat “…. Asyhadu anna Muhammadur Rosũlullōh”; namun manakala diseru untuk melaksanakan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ, ia justru memilih mengikuti Hawa Nafsu-nya. Maka khawatir perilaku yang demikian itu menjadikannya termasuk yang Allõh سبحانه وتعالى nyatakan sebagai “para pendusta”.
48) BATIN MEREKA KHAWATIR JIKA HAKEKAT (KEMUNAFIKAN) MEREKA, ALLÕH UNGKAP
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ [التوبة: 64]
“Orang-orang munãfiq khawatir jika diturunkan suatu surah yang mengungkapkan apa yang ada dalam hati mereka. Katakanlah (kepada mereka), “Olok-oloklah (Allōh, Rosũl-Nya, dan orang beriman sesukamu). Sesungguhnya Allōh pasti akan menampakkan apa yang kamu khawatirkan itu.”
(QS. At-Taubah/9: 64)
49) TEGUH DALAM NIFĀQ (KEMUNAFIKAN)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ۖ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ [التوبة: 101]
“Diantara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu ada orang-orang munãfiq. (Demikian pula) diantara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafiq), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”
(QS. At-Taubah/9: 101)
50) ENGGAN & MENGHALANGI MANUSIA DARI BERHUKUM PADA HUKUM ALLÕH
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61) فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا (62) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (63( وَما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّاباً رَحِيماً (64) فَلا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيما شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً (65) [النساء: 06-65]
(60) “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan Hukum kepada Thoghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thoghut itu. Dan syaithõn bermaksud menyesatkan mereka (dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya; (61) “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) pada apa yang telah diturunkan Allõh dan (patuh) kepada Rosũl”, (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang-orang munãfiq benar-benar berpaling (dan menghalang-halangi manusia dengan keras) darimu. (62) Maka bagaimana halnya apabila (kelak) musibah menimpa mereka (orang-orang munãfiq) disebabkan karena perbuatannya sendiri. Kemudian, mereka datang kepadamu (Muhammad) sambil bersumpah, “Demi Allõh, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan dan perdamaian.” (63) Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allõh mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.Oleh karena itu, berpalinglah kamu dari mereka, nasihatilah mereka, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya. (64) Dan Kami tidak mengutus seorang Rosũl pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allõh. Dan sungguh, sekiranya mereka (orang-orang munãfiq) setelah mendzolimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allõh, dan Rosũlpun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allõh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (65) Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai Hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan (Hukum) yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisã’/4: 60-65)
51) HUNUS MULUT (BERLISAN FASIH DALAM MEMBELA KEBATHILAN)
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «الحَيَاءُ وَالعِيُّ شُعْبَتَانِ مِنَ الإِيمَانِ، وَالبَذَاءُ وَالبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ النِّفَاقِ» رواه الترمذي[33]
Dari Abu ‘Umãmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Rasa malu dan keterbatasan bicara (sikap hati-hati dalam berbicara) adalah dua cabang dari iman, sedangkan keburukan lisan dan kefasihan bicara (yang digunakan untuk membenarkan kebathilan) adalah dua cabang dari kemunafikan.”
(HR. At-Tirmidzi)
“Hunus Mulut” (Keburukan lisan serta kefasihan bicara yang digunakan untuk membenarkan Kebathilan) itu memiliki tingkatan yang berbeda-beda; apakah ia sudah tergolong kedalam Nifaq Akbar ataukah masih tergolong kedalam Nifaq Asghor; maka tidaklah sama dalam kadar tingkatan dosa penyebabnya (lihat Gambar #4 – “Perbedaan Nifãq Akbar / Kemunafikan Besar & Nifãq Asghor / Kemunafikan Kecil”)
52) MEMBENCI ANSHOR
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَبْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “آيَةُ الْمُنَافِقِ بغض الأنصار. وآية المؤمن حب الأنصار”.» متفق عليه[34]
Dari ‘Abdullōh bin ‘Abdullōh bin Jabr, ia berkata: “Aku mendengar Anas berkata: “Rosũlullōh ﷺ bersabda: “Tanda orang munafiq adalah kebencian (mereka) terhadap kaum Anshor (para penolong Madinah). Dan tanda orang mukmin adalah cinta (mereka) pada kaum Anshor.”
(Muttafaq ‘Alaihi – HR. Al-Bukhōry dan HR. Muslim)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ” حُبُّ الْأَنْصَارِ إِيمَانٌ، وَبُغْضُهُمْ نِفَاقٌ “» رواه أحمد[35]
Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: “Rosũlullōh ﷺ bersabda: “Cinta kepada kaum Anshor adalah iman, dan membenci mereka (kaum Anshor) adalah kemunafikan.“
(HR. Ahmad)
53) BERHARAP KEKALAHAN BAGI UMAT ISLAM
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَىٰ أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَٰلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا [الفتح: 12]
“Bahkan, (sejak semula) kamu menyangka bahwa Rosũl dan orang-orang mukmin sama sekali tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selama-lamanya dan dijadikan terasa indah yang demikian itu di dalam hatimu. Kamu telah berprasangka buruk. Oleh sebab itu, kamu menjadi kaum yang binasa.”
(QS. Al-Fath/48: 12)
Apakah karena mereka orang-orang Munãfiq itu berprasangka buruk bahwa Allõh سبحانه وتعالى tidak akan menolong dan memenangkan perjuangan para Pembela agama-Nya? Padahal kalaulah seluruh penduduk bumi bersatu padu dalam bermakar terhadap Allõh, Rosul-Nya dan para Pejuang Islam; maka sungguh mereka tak akan mampu meruntuhkan agama-Nya. Allõh سبحانه وتعالى hanyalah sedang menguji, siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh beriman dan menjadi pembela agama-Nya yang sejati, dan siapakah yang justru berprasangka buruk pada Allõh سبحانه وتعالى dengan meragukan Pertolongan-Nya serta berharap kekalahan di pihak ummat Islam.
54) MEMBENCI ALI BIN ABI THÕLIB
عَنْ زِرٍّ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ! إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ صلى الله عليه وسلم إِلَيَّ “أَنْ لَا يُحِبَّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ، ولا يبغضني إلا منافق”.» رواه مسلم[36] والنسائي[37]
Dari Zirr, ia berkata: “’Ali رضي الله عنه berkata: “Demi Dia (Allõh) yang membelah benih dan menciptakan jiwa! Ini adalah perjanjian dari Nabi yang ummi ﷺ, kepadaku bahwa ‘Tidak ada yang akan mencintaiku kecuali seorang mukmin, dan tidak ada yang akan membenciku kecuali seorang munãfiq.'”
(HR. Muslim dan HR. An-Nasã’i)
Berikut adalah penjelasan Al-Imam an-Nawawy:
قال النووي (ت 676هـ):
وَمَعْنَى هَذَهِ الْأَحَادِيثِ أَنَّ مَنْ عَرَفَ مَرْتَبَةَ الْأَنْصَارِ وَمَا كَانَ مِنْهُمْ فِي نُصْرَةِ دِينِ الْإِسْلَامِ وَالسَّعْيِ فِي إِظْهَارِهِ وَإِيوَاءِ الْمُسْلِمِينَ وَقِيَامِهِمْ فِي مُهِمَّاتِ دِينِ الْإِسْلَامِ حَقَّ الْقِيَامِ وَحُبِّهِمُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَحُبِّهِ إِيَّاهُمْ وَبَذْلِهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَأَنْفُسَهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَقِتَالِهِمْ وَمُعَادَاتِهِمْ سَائِرَ النَّاسِ إِيثَارًا لِلْإِسْلَامِ وَعَرَفَ مِنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قُرْبَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَحُبِّ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لَهُ وَمَا كَانَ مِنْهُ فِي نُصْرَةِ الْإِسْلَامِ وَسَوَابِقِهِ فِيهِ ثُمَّ أَحَبَّ الْأَنْصَارَ وَعَلِيًّا لِهَذَا كَانَ ذَلِكَ مِنْ دَلَائِلِ صِحَّةِ إِيمَانِهِ وَصِدْقِهِ فِي إِسْلَامِهِ لِسُرُورِهِ بِظُهُورِ الْإِسْلَامِ وَالْقِيَامِ بِمَا يُرْضِي اللَّهَ سبحانه وتعالى وَرَسُولَهُ صلى الله عليه وسلم وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ كَانَ بِضِدِّ ذَلِكَ وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى نِفَاقِهِ وَفَسَادِ سَرِيرَتِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ وَأَمَّا قَوْلُهُ فَلَقَ الْحَبَّةَ فَمَعْنَاهُ شَقَّهَا بِالنَّبَاتِ وَقَوْلُهُ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ هُوَ بِالْهَمْزَةِ أَيْ خَلَقَ النَّسَمَةَ وَهِيَ بِفَتْحِ النُّونِ وَالسِّينِ وَهِيَ الْإِنْسَانُ وَقِيلَ النَّفْسُ[38]
An-Nawawi (wafat tahun 676 H) berkata:
“Makna Hadits-Hadits ini adalah bahwa barangsiapa yang mengetahui kedudukan kaum Anshor dan apa yang mereka lakukan dalam membela agama Islam, berjuang menyebarkan Islam, serta melindungi kaum Muslimin, dan pendirian mereka dalam perkara-perkara penting agama Islam dengan cara yang benar, dan kecintaan mereka kepada Nabi ﷺ, dan kecintaan beliau ﷺ kepada mereka, dan pengorbanan harta dan jiwa mereka terhadap beliau ﷺ, dan perjuangan serta permusuhan mereka terhadap musuh beliau ﷺ, maka mereka itulah kaum yang lebih memilih Islam daripada manusia lainnya dan mengetahui tentang (keutamaan) ‘Ali bin Abi Thōlib رضي الله عنه, kedekatan beliau رضي الله عنه dengan Rosũlullōh ﷺ, dan kecintaan Nabi ﷺ terhadap beliau, dan apa yang telah beliau lakukan dalam membela Islam dan keutamaannya di dalamnya. Maka mereka itu akan mencintai kaum Anshor dan ‘Ali رضي الله عنه. Oleh karena hal tersebut adalah merupakan salah satu tanda keteguhan iman dan ketulusan beliau dalam keislamannya, karena kegembiraannya atas kemunculan Islam dan mengerjakan apa yang diridhoi Allōh. Maha Suci Dia, Yang Maha Tinggi, dan Rosũl-Nya, semoga Allōh memberkahinya dan memberinya kedamaian. Siapa pun yang membenci mereka adalah kebalikannya, dan ini adalah bukti kemunafikannya dan kerusakan batinnya. Dan Allōh Maha Mengetahui.Adapun firman-Nya, “Dia membelah benih,” berarti Dia membelahnya menjadi tetanaman. Dan firman-Nya, “Dan Dia menciptakan jiwa,” adalah dengan hamzah, artinya Dia menciptakan jiwa, yang dengan fathah pada nun dan dosa, dan itu adalah manusia. Telah juga dikatakan bahwa itu adalah jiwa.”
(An-Nawawi (wafat 676 H), “Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim”, 2/64)
55) ENGGAN & CARI-CARI ALASAN AGAR TIDAK IKUT BERJIHAD (TANPA UDZUR)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ [التوبة: 49]
“Diantara mereka ada orang yang berkata, “Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Muhammad) menjerumuskan aku ke dalam fitnah.” Ketahuilah, bahwa mereka (dengan keengganannya pergi berjihad) telah terjerumus ke dalam fitnah. Sesungguhnya (neraka) Jahanam benar-benar meliputi orang-orang kãfir.”
(QS. At-Taubah/9: 49)
عن الزُّهْرِيِّ، ويزيد بن رُومانَ، وعبد الله بن أبي بكرٍ، وعاصم بن عمر بن قتادة وغيرهم، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يومٍ، وهو في جهازه، للجَدِّ بن قَيْسٍ أخي بني سلمة: “هل لك يا جَدُّ العام في جِلادِ بنى الأصْفَرِ؟ “. فقال: يا رسولَ اللَّهِ، أَو تَأْذَنُ لى ولا تَفْتِنِّى؟! فوالله لقد عَرَف قومى ما رَجلٌ أَشدَّ عُجْبًا بالنساءِ مِنِّي، وإني أخشَى إن رأيتُ نساء بنى الأصْفرِ أَلَّا أَصْبِرَ عنهنَّ. فأَعْرَضَ عنه رسولُ الله صلى الله عليه وسلم، [وقال: قد] “أَذِنْتُ لك”. ففى الجَدِّ بن قَيْسٍ نَزَلَت هذه الآية: {وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي} الآية. أي: إن كان إنما يَخْشَى الفِتْنة من نساء بنى الأصفر وليس ذلك به، فما سَقَط فيه من الفِتْنة بتَخَلُّفِه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، والرَّغْبة بنفسه عن نفسه -أعظم»[39]
“Dari Az-Zuhri, dari Yazid bin Ruman, dari ‘Abdullōh bin Abi Bakar, dari ‘Ashim bin ‘Umar bin Qotadah, dan lainnya, dia berkata: Rosũlullōh ﷺ berkata suatu hari, saat bersiap berperang, kepada Jadd bin Qoys, saudara Bani Salamah:
“Wahai Jadd, apakah tahun ini engkau akan ikut dalam pertempuran melawan Bizantium?” Dia menjawab: “Wahai Rosũlullōh, apakah engkau mengizinkanku (tidak ikut berperang) dan tidak mengujiku?! Demi Allōh, umat tahu bahwa tidak ada laki-laki yang lebih tergila-gila pada wanita daripada aku, dan aku khawatir jika aku melihat wanita-wanita Bani Ashfar, aku tidak akan mampu menolak mereka.” Maka Rosũlullōh ﷺ berpaling darinya dan berkata: “Aku telah memberimu izin.” Mengenai Jadd bin Qoys, ayat ini diturunkan: {Dan diantara mereka ada orang-orang yang berkata, “Berikanlah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Muhammad) menjadikan aku terjerumus kedalam fitnah“} (QS. At-Taubah/9:49). Artinya: Jika ia hanya takut akan godaan dari para wanita Bizantium, yang mana tidaklah demikian, maka godaan yang ia alami karena tidak mendampingi Rosũlullōh ﷺ dan keinginannya untuk hidupnya sendiri, adalah lebih besar.”
(Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thobary [224-310 H], “Tafsir ath-Thobary“, 11/492)
Allõh سبحانه وتعالى lah yang Maha Mengetahui segala isi hati makhluq-Nya; Allõh سبحانه وتعالى Tahu persis: (1) Siapa yang tidak mampu berjihad karena memang sungguh-sungguh memiliki Udzur, atau (2) Siapa yang tengah menunda berjihad karena sedang dalam rangka siasat perang / dalam rangka siasat membangun kekuatan kaum Muslimin terlebih dahulu (QS. Al-Anfãl/8:15-16)[40], atau (3) Siapakah yang memang enggan serta membenci berjihad padahal dirinya mampu.
Kondisi-kondisi ini tentulah membawa implikasi Hukum yang berbeda-beda. Allõh سبحانه وتعالى tidak akan menghukuminya sama.
Dan yang dimaksud dalam bahasan pada poin ini adalah orang-orang Munãfiq yang enggan serta membenci berjihad di jalan Allõh سبحانه وتعالى padahal ia tergolong mampu serta tidak memiliki udzur sama sekali.
56) ENGGAN, MALAS SHOLAT BERJAMA’AH (TANPA UDZUR)
عن عبد الله بن مسعود، قال: «حافظوا على هؤلاء الصلوات الخمس، حيث ينادى بهن فإنهن من سنن الهدى، وإن الله شرع لنبيه صلى الله عليه وسلم سنن الهدى، ولقد رأيتنا وما يتخلف عنها إلا منافق بين النفاق، ولقد رأيتنا وإن الرجل ليهادى بين الرجلين حتى يقام في الصف، وما منكم من أحد إلا وله مسجد في بيته، ولو صليتم في بيوتكم وتركتم مساجدكم تركتم سنة نبيكم صلى الله عليه وسلم ولو تركتم سنة نبيكم صلى الله عليه وسلم لكفرتم»[41]
Dari ‘Abdullõh bin Mas’ũd, ia berkata:
“Jagalah kelima sholat (wajib) ini di tempat yang diserukan, karena sholat-sholat tersebut termasuk sunah-sunah petunjuk yang Allõh telah mewajibkan bagi Nabi-Nya ﷺ. Aku telah melihat bahwa tidaklah seseorang itu menjauh / meninggalkannya melainkan ia adalah seorang munãfiq, yang merupakan munãfiq tulen. (Karena bahayanya meninggalkan sholat berjama’ah sedemikian rupa), bahkan sampai ada seseorang (– yang sakit – pent.) didatangkan dengan dipapah oleh dua orang sampai ia bisa masuk dalam shaf. Tidaklah seorang pun diantara kalian yang tidak memiliki masjid di rumahnya; lalu jika kalian sholat di rumah-rumah kalian serta meninggalkan masjid-masjid kalian, maka kalian telah meninggalkan sunah Nabi ﷺ kalian. Jika kalian meninggalkan sunah Nabi ﷺ kalian ini, maka kalian telah kãfir.”
(Sunan Abu Dawud, Bab tentang Keburukan akibat Meninggalkan Sholat Berjama’ah, (1/150), no: 550)
Hukum “sholat berjama’ah 5 waktu di masjid bagi kaum laki-laki”, memang terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ‘Ulama Ahlus Sunnah dalam menetapkan apakah ia termasuk kedalam Wajib / Fardhu ‘Ain, ataukah termasuk Fardhu Kifayah ataukah termasuk Sunnah Mu’akkad. Dan saat ini, kita tidak sedang membahas perbedaan pendapat ‘Ulama dalam masalah ini, karena pembahasan tersebut hendaknya lebih fokus dilaksanakan secara detail di kajian tersendiri.
Apabila ada yang meyakini bahwa sholat berjama’ah 5 waktu di masjid sebagai Fardhu Kifayah atau Sunnah Mu’akkad, maka tentunya ia dihukumi sesuai keyakinannya itu, ia tidaklah termasuk golongan Munãfiq yang dibahas pada poin ini; karena ia tidak pula tergolong orang yang meninggalkan sama sekali / terus-menerus tidak pernah melaksanakan sholat berjama’ah 5 waktu di masjid; ia masih dalam beberapa waktunya tetap datang melaksanakan sholat berjama’ah 5 waktu di masjid, dan terkadang tidak datang karena beranggapan bahwa sholat berjama’ah 5 waktu di masjid adalah Fardhu Kifayah / Sunnah Mu’akkad baginya.
Namun yang dimaksud di poin ini adalah orang yang benar-benar enggan melaksanakan sholat berjama’ah 5 waktu di masjid, dan hampir-hampir ia tidak pernah melaksanakan sholat berjama’ah 5 waktu di masjid sama sekali sepanjang tahun walau tanpa udzur sekalipun; sehingga masjid-masjid bertebaran dimana-mana namun sepanjang tahunnya hampir dikatakan sepi dari shaf sholat berjama’ah 5 waktu. Masjid-masjid barulah terasa lebih penuh di bulan Romadhõn saja; sehingga seakan-akan sholat berjama’ah 5 waktu di masjid itu “bagaikan Ibadah Tahunan” belaka. Maka bagaimana ummat Islam berbicara “Kebangkitan Ummat”, manakala sholat berjama’ah 5 waktu di masjid yang diantara kebaikannya adalah “mempersatukan Ummat Islam” serta “mempererat Ukhuwwah Islamiyyah”, masih bermalas-malasan melaksanakannya?!
Jika seseorang tidak pernah sama sekali sholat berjama’ah 5 waktu di masjid sepanjang tahun karena malas, namun tidak sampai mengingkari kebenaran Ayat maupun Hadits Nabi ﷺ tentang adanya perintah sholat berjama’ah 5 waktu di masjid (bagi kaum laki-laki), maka dikhawatirkan terjangkiti sifat / karakter Munãfiq Asghor. Namun kalau sampai ia dalam i’tiqod / keyakinan hatinya adalah mengingkari, menolak serta membenci Ayat dan Hadits Nabi ﷺ terkait perintah sholat berjama’ah 5 waktu di masjid (bagi kaum laki-laki); maka dikhawatirkan terjangkit sifat / karakter Nifãq Akbar. Berikut adalah Bagan / Tabel yangmenjelaskan Perbedaan antara Nifãq Akbar (Kemunafikan Besar) dan Nifãq Asghor (Kemunafikan Kecil):
Gambar #4 – “Perbedaan Nifãq Akbar (Kemunafikan Besar) & Nifãq Asghor (kemunafikan Kecil)”
NIFAQ ‘AMALI:
57) TIDAK MENEPATI JANJI
58) BERKHIANAT TERHADAP AMANAH
59) BERKHIANAT PADA KESEPAKATAN
60) CONDONG PADA KEBATHILAN
Empat tanda-tanda kemunafikan yang tergolong Nifãq ‘Amali (Nifãq dalam Amalan Lahiriyyah / Nifãq Asghor / Kemunafikan Kecil) adalah sebagaimana yang dijelaskan para ‘Ulama dalam riwayat berikut:
عن سُفْيَانُ. عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “أَرْبَعٌ مَنْ كن فيه كان منافق خَالِصًا. وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ. حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ. وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ. وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ. وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ” وفي رواية لسُفْيَانَ “وَإِنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كانت فيه خصلة من النفاق”.» متفق عليه[42]
Dari Sufyan, dari al-A’masy, dari ‘Abdullah bin Murroh, dari Masruq, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, berkata: “Rosũlullōh ﷺ bersabda: “Ada empat sifat, barangsiapa memiliki semuanya maka ia munãfiq total.Dan barangsiapa memiliki salah satunya, maka ia memiliki sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya: 1) Jika berbicara ia berdusta; 2) Jika berjanji ia mengingkarinya; 3) Jika berjanji ia lalai; dan 4) Jika berbantah-bantahan/ bertengkar maka ia bertindak tidak adil.” Dan dalam sebuah riwayat dari Sufyan: “Dan jika ia memiliki salah satu sifat tersebut, maka ia memiliki sifat kemunafikan.”
(Muttafaq ‘Alaihi – HR. Al-Bukhōry dan HR. Muslim)
Kemudian di Hadits yang lain, dijelaskan tiga tanda-tanda Nifãq ‘Amali (Nifãq dalam Amalan Lahiriyyah):
عَنْ أَبِي هريرة؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: “آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ. وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ. وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ“.» متفق عليه[43] وفي رواية لمسلم قال الْعَلَاءَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ: “آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ. وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ”.»
“Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosũlullōh ﷺ bersabda: “Tanda-tanda orang munãfiq ada tiga: 1) Jika berbicara, ia berdusta; 2) Jika berjanji, ia mengingkarinya; dan 3) Jika diberi amanah, ia berkhianat.”
(HR. Muslim. Dan dalam riwayat Muslim, Al-‘Ala bin Abdurrohman berkata: “Tanda-tanda orang munãfiq ada tiga, meskipun ia shoum/berpuasa, sholat, dan mengaku sebagai seorang Muslim.”)
(Muttafaq ‘Alaihi – HR. Al-Bukhōry dan HR. Muslim)
Yang dimaksud sebagai Nifãq I’tiqodi yang merupakan Nifãq Akbar / Kemunafikan Besar itu adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh ‘Ulama sebagai berikut:
قال عياض أبو الفضل (ت 544هـ):
قال ابن الأنبارى: فى تسمية المنافق مُنافقاً ثلاثة أقوال: أحدها: أنه سُمى بذلك لأنه يستر كفره، فأشبه الداخل للنفق وهو السرب ليستتر فيه. والثانى: أنه شُبّه باليربوع الذي له جحر يقال له: النافقاءُ، وآخر يقال له: القاصعاء، فإذا طلب من القاصعاء خرج من النافقاء [وكذلك المنافق]؛ لأنه يخرج من الإيمان من غير الوجه الذي يدخل فيه. والثالث: أنه شُبّه باليربوع – أيضاً – ولكن من جهة أن اليربوع يخرق الأرض حتى إذا كاد يبلغ ظاهرها أرق التراب، فإذا رابه ريب رفع ذلك التراب برأسه فخرج، فظاهر جحره ترابٌ على وجه الأرض وباطنه حُفر، فكذلك المنافق ظاهره الإيمان وباطنه الكفر.»[44]
‘Iyãdh Abu al-Fadhl (wafat 544 H) berkata:
“Ibnu al-Anbãry berkata: “Ada tiga pendapat berkenaan dengan penamaan seorang munãfiq sebagai “munãfiq”: Salah satunya adalah bahwa “ia dinamakan demikian karena ia menyembunyikan kekafirannya, sehingga ia seperti orang yang memasuki terowongan atau lorong untuk bersembunyi di dalamnya”. (Pendapat) kedua: “Ia diumpamakan seperti yarbu’ (hewan sejenis tikus), yang memiliki liang bernama An-Nafiqõ’dan liang lainnya bernama Al-Qos‘ā’. Jika ia dicari dari Al-Qos‘ā’, ia keluar dari An-Nafiqõ’[dan begitu pulalah orang munãfiq] karena ia keluar dari iman dengan cara yang berbeda dari cara ia memasukinya”. (Pendapat) ketiga adalah ia disamakan dengan yarbu’ – juga – tetapi dalam arti yarbu’ menggali tanah hingga hampir mencapai permukaan, lalu ia menipiskan tanah. Jika ia mencurigai ada yang tidak beres, maka ia mengangkat tanah itu dengan kepalanya dan muncul. Dengan demikian, bagian luar liangnya adalah tanah di permukaan bumi, sementara bagian dalamnya adalah lubang. Demikian pula, orang munãfiq yang secara lahiriah mengaku beriman, tetapi di dalam hatinya menyimpan kekufuran.”
(Abu al-Fadhl [wafat 544 H], “Ikmāl al-Mu’allim bi-Fawā’id Muslim”, 1/314)
Adapun terkait Hadits yang memberitakan 3 (tiga) ataupun 4 (empat) tanda-tanda Kemunafikan diatas yang digolongkan sebagai Nifãq ‘Amali yang merupakan Nifãq Asghor / Kemunafikan Kecil, maka dapatlah disimak penjelasan Al-Imam al-Qurthuby sebagai berikut:
قال القرطبي (578 – 656 هـ):
«اختلَفَ العلماءُ فيه على أقوال: أحدها: أنَّ هذا النفاقَ هو نفاقُ العملِ الذي سألَ عنه عمرُ حذيفةَ لما قال له: هل تعلَمُ فيَّ شيئًا من النفاق؟ أي: مِن صفات المنافقين الفعليَّة، ووجهُ هذا: أنَّ مَن كَانَت فيه هذه الخصالُ المذكورة، كان ساترًا لها، ومظهرًا لنقائضها؛ فصدَقَ عليه اسمُ منافق. وثانيها: أنّه محمولٌ على مَن غلبت عليه هذه الخصال، واتَّخَذَها عادةً، ولم يبالِ بها؛ تهاوُنًا واستخفافًا بأمرها؛ فأي مَن كان هكذا، كان فاسدَ الاِعتقادِ غالبًا، فيكونُ منافقًا خالصًا. وثالثها: أنَّ تلك الخصالَ كانت علامةَ المنافقين في زمانه؛ فإنَّ أصحابَ النبيِّ صلى الله عليه وسلم كانوا متجنبين لتلك الخصال؛ بحيث لا تقع منهم، ولا تُعرَفُ فيما بينهم؛ وبهذا قال ابنُ عبَّاس وابنُ عمر، ورُوِيَ عنهما في ذلك حديثٌ، وهو أنهما أَتَيَا النبيَّ صلى الله عليه وسلم فسألاه عن هذا الحديث، فضحكَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم وقال: ما لكم ولهنَّ، إنما خصَصتُ بهنَّ المنافقين، أنتم مِن ذلك بُرَآء»[45]
Al-Qurthubi (578-656 H) berkata:
“Para ‘Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, mereka memiliki beberapa pendapat: Pendapat pertama adalah bahwa kemunafikan ini adalah kemunafikan dalam perbuatan yang ditanyakan ‘Umar kepada Hudzaifah, ketika beliau berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mengetahui adanya kemunafikan dalam diriku?’ artinya: “salah satu ciri-ciri orang munãfiq”. Alasan dibalik ini adalah bahwa “siapa pun yang memiliki sifat-sifat tersebut menyembunyikannya dan memperlihatkan kebalikannya; dengan demikian, sebutan “munãfiq” benar-benar ditujukan kepadanya”. Pendapat kedua adalah bahwa “ini merujuk pada orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, yang mengamalkannya secara kebiasaan, dan yang tidak memperhatikannya, karena kelalaian dan ketidakpedulian terhadap pentingnya sifat-sifat tersebut. Siapapun yang seperti ini pada umumnya rusak imannya, dan dengan demikian ia adalah seorang munãfiq total”. Pendapat ketiga adalah bahwa “sifat-sifat ini merupakan tanda-tanda orang munãfiq pada zamannya, karena para sahabat Nabi ﷺ menghindari sifat-sifat ini. Agar hal itu tidak jatuh terhadap diri mereka, dan tidak pula diketahui (ada) diantara mereka”; dan inilah yang dikatakan Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar, dan sebuah Hadits diriwayatkan dari mereka tentang hal itu, yaitu bahwa mereka datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya kepadanya tentang Hadits ini, maka Nabi ﷺ tertawa dan berkata:“Apa urusan kalian dengannya? Aku hanya mengkhususkannya untuk orang-orang munãfiq, kalian bukan yang dimaksud dalam hal itu”.”
(Al-Qurthubi (578-656 H), “Al-Mufhim limã Asykala min Talkhish Kitãb Muslim”, 1/250)
Dan terdapat pula penjelasan dari Al-Imam An-Nawawy tentang Hadits yang berkenaan 3 (tiga) ataupun 4 (empat) tanda-tanda Kemunafikan diatas, sebagai berikut:
قال النووي (ت 676هـ):
«هَذَا الْحَدِيثُ مِمَّا عَدَّهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ مُشْكِلًا مِنْ حَيْثُ إِنَّ هَذِهِ الْخِصَالَ تُوجَدُ فِي الْمُسْلِمِ الْمُصَدِّقِ الَّذِي لَيْسَ فِيهِ شَكٌّ وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ مَنْ كَانَ مُصَدِّقًا بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ وَفَعَلَ هَذِهِ الْخِصَالَ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهِ بِكُفْرٍ وَلَا هُوَ مُنَافِقٌ يُخَلَّدُ فِي النَّارِ فَإِنَّ إِخْوَةَ يُوسُفَ صلى الله عليه وسلم جَمَعُوا هَذِهِ الْخِصَالَ وَكَذَا وُجِدَ لِبَعْضِ السَّلَفِ وَالْعُلَمَاءِ بَعْضُ هَذَا أَوْ كُلُّهِ وَهَذَا الْحَدِيثُ لَيْسَ فِيهِ بِحَمْدِ اللَّهِ تَعَالَى إِشْكَالٌ وَلَكِنِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي مَعْنَاهُ فَالَّذِي قَالَهُ الْمُحَقِّقُونَ وَالْأَكْثَرُونَ وَهُوَ الصَّحِيحُ الْمُخْتَارُ أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْخِصَالَ خِصَالُ نِفَاقٍ وَصَاحِبُهَا شَبِيهٌ بالمنافقين فِي هَذِهِ الْخِصَالِ وَمُتَخَلِّقٌ بِأَخْلَاقِهِمْ فَإِنَّ النِّفَاقَ هُوَ إِظْهَارُ مَا يُبْطِنُ خِلَافَهُ وَهَذَا الْمَعْنَى مَوْجُودٌ فِي صَاحِبِ هَذِهِ الْخِصَالِ وَيَكُونُ نِفَاقُهُ فِي حَقِّ مَنْ حَدَّثَهُ وَوَعَدَهُ وَائْتَمَنَهُ وَخَاصَمَهُ وَعَاهَدَهُ مِنَ النَّاسِ لَا أَنَّهُ مُنَافِقٌ فِي الْإِسْلَامِ فَيُظْهِرُهُ وَهُوَ يُبْطِنُ الْكُفْرَ وَلَمْ يُرِدِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِهَذَا أَنَّهُ مُنَافِقٌ نِفَاقَ الْكُفَّارِ الْمُخَلَّدِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَقَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا مَعْنَاهُ شَدِيدُ الشَّبَهِ بِالْمُنَافِقِينَ بِسَبَبِ هَذِهِ الْخِصَالِ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَهَذَا فِيمَنْ كَانَتْ هَذِهِ الْخِصَالُ غَالِبَةً عَلَيْهِ فَأَمَّا من يندر ذلك منه فَلَيْسَ دَاخِلًا فِيهِ فَهَذَا هُوَ الْمُخْتَارُ فِي مَعْنَى الْحَدِيثِ وَقَدْ نَقَلَ الْإِمَامُ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ رضي الله عنه مَعْنَاهُ عَنِ الْعُلَمَاءِ مُطْلَقًا فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ نِفَاقُ الْعَمَلِ وَقَالَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ الْمُرَادُ بِهِ الْمُنَافِقُونَ الَّذِينَ كَانُوا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَحَدَّثُوا بِإِيمَانِهِمْ وَكَذَبُوا وَاؤْتُمِنُوا عَلَى دِينِهِمْ فَخَانُوا وَوَعَدُوا فِي أَمْرِ الدِّينِ وَنَصْرِهِ فَأَخْلَفُوا وَفَجَرُوا فِي خُصُومَاتِهِمْ وَهَذَا قَوْلُ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَعَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَرَجَعَ إِلَيْهِ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رحمه الله بَعْدَ أَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِهِ وَهُوَ مروى عن بن عباس وبن عُمَرَ رضي الله عنهم وَرَوَيَاهُ أَيْضًا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ رحمه الله وَإِلَيْهِ مَالَ كَثِيرٌ مِنْ أَئِمَّتِنَا وَحَكَى الْخَطَّابِيُّ رحمه الله قَوْلًا آخَرَ أَنَّ مَعْنَاهُ التَّحْذِيرُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَعْتَادَ هَذِهِ الْخِصَالَ الَّتِي يُخَافُ عَلَيْهِ أَنْ تُفْضِيَ بِهِ إِلَى حَقِيقَةِ النِّفَاقِ وَحَكَى الْخَطَّابِيُّ رحمه الله أَيْضًا عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّ الْحَدِيثَ وَرَدَ فِي رَجُلٍ بِعَيْنِهِ مُنَافِقٍ وَكَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَا يُوَاجِهُهُمْ بِصَرِيحِ الْقَوْلِ فَيَقُولُ فُلَانٌ مُنَافِقٌ وَإِنَّمَا كَانَ يُشِيرُ إِشَارَةً كَقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَفْعَلُونَ كَذَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ وَأَمَّا قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم فِي الرِّوَايَةِ الْأُولَى أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا وَفِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ فَلَا مُنَافَاةَ بَيْنَهُمَا فَإِنَّ الشَّيْءَ الْوَاحِدَ قَدْ تَكُونُ لَهُ عَلَامَاتٌ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ تَحْصُلُ بِهَا صِفَتُهُ ثُمَّ قَدْ تَكُونُ تِلْكَ الْعَلَامَةُ شَيْئًا وَاحِدًا وَقَدْ تَكُونُ أَشْيَاءَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ وَقَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ هُوَ دَاخِلٌ فِي قَوْلِهِ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَقَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم وَإِنْ خَاصَمَ فَجَرَ أَيْ مَالَ عَنِ الْحَقِّ وَقَالَ الْبَاطِلُ وَالْكَذِبُ قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَأَصْلُ الْفُجُورِ الْمَيْلُ عَنِ الْقَصْدِ وَقَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم آيَةُ الْمُنَافِقِ أَيْ عَلَامَتُهُ وَدَلَالَتُهُ وَقَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم خَلَّةٌ وَخَصْلَةٌ هُوَ بِفَتْحِ الْخَاءِ فِيهِمَا وَإِحْدَاهُمَا بِمَعْنَى الْأُخْرَى»[46]
An-Nawawy (wafat 676 H) berkata:
“Hadits ini dianggap bermasalah oleh sebagian ‘Ulama karena ciri-ciri ini terdapat pada seorang Muslim yang beriman tanpa keraguan. Para ‘Ulama telah sepakat bahwa siapa pun yang beriman dengan hati dan lisannya serta mengamalkannya, tidak dianggap kãfir, dan tidak pula munãfiq yang ditakdirkan masuk neraka. Contohnya, saudara-saudara Yusuf. Dan mereka mengumpulkan ciri-ciri ini, dan beberapa diantaranya juga terdapat pada sebagian umat Islam dan ‘Ulama terdahulu, atau bahkan semuanya. Hadits ini, Alhamdulillah, tidak ambigu, tetapi para ‘Ulama berbeda pendapat dalam maknanya. Apa yang dikatakan oleh para ‘Ulama yang paling otoritatif dan mayoritas, dan merupakan penafsiran yang benar dan lebih disukai, adalah bahwa maknanya adalah bahwa ciri-ciri ini adalah ciri-ciri kemunafikan, dan orang yang memilikinya serupa dengan orang-orang munãfiq dalam hal ini, dan ia meniru akhlaq mereka, karena kemunafikan adalah memperlihatkan apa yang disembunyikan, dan makna ini hadir pada orang yang memiliki ciri-ciri ini. Kemunafikannya adalah terhadap orang-orang yang ia ajak bicara, berjanji, percaya, berdebat, dan membuat perjanjian diantara manusia, bukan bahwa ia seorang munãfiq dalam Islam, yang menampakkan keIslaman sambil menyembunyikan kekafiran. Nabi ﷺ tidak bermaksud dengan ini bahwa ia seorang munãfiq dengan kemunafikan orang-orang kãfir yang akan kekal di neraka paling bawah. Sabda Nabi ﷺ, “Ia adalah seorang munãfiq sejati,” berarti ia sangat mirip dengan orang-orang munãfiq karena ciri-ciri ini. Sebagian ‘Ulama mengatakan bahwa ini berlaku bagi mereka yang memiliki ciri-ciri ini dominan. Adapun mereka yang jarang memiliki ciri-ciri ini, mereka tidak termasuk. Ini adalah penafsiran Hadits yang lebih disukai, dan telah diriwayatkan. Imam Abu ‘Isa at-Tirmidzi rodhiyallōhu ‘anhu berkata tentang penafsiran para ‘Ulama atas ayat ini: “Menurut para ‘Ulama, ini mengacu pada kemunafikan dalam tindakan.” Sekelompok ‘Ulama berkata bahwa ini mengacu pada orang-orang munãfiq yang hidup pada masa Nabi ﷺ, yang mengaku beriman tetapi berdusta, yang dipercayakan agama mereka tetapi mengkhianati amanah itu, dan berjanji tentang agama dan pemeliharaannya tetapi mengingkarinya. Mereka melampaui batas dalam perselisihan mereka, dan ini adalah perkataan Sa’id bin Jubair dan ‘Atho’ bin Abi Robbah. Al-Hasan al-Bashri rohimahullōh, kembali kepada pandangan ini setelah sebelumnya tidak setuju dengannya. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar rodhiyallōhu ‘anhu, dan mereka juga meriwayatkannya dari Nabi ﷺ. Qodhi ‘Iyadh rohimahullōh berkata, “Banyak Imam kami yang condong kearah pandangan ini.” Al-Khoththobi rohimahullōh meriwayatkan Hadits lain yang maknanya adalah peringatan bagi umat Islam agar tidak menjadikannya kebiasaan. Inilah sifat-sifat yang dikhawatirkan dapat mengantarkan pada realitas kemunafikan. Al-Khoththobi rohimahullōh juga meriwayatkan dari sebagian lainnya bahwa Hadits tersebut diriwayatkan tentang seorang munãfiq yang tertentu, dan Nabi ﷺ tidak menegur mereka secara langsung dengan mengatakan, “Si fulan adalah munãfiq.” Sebaliknya, beliau memberi isyarat, seperti ketika beliau ﷺ bersabda, “Ada apa dengan orang-orang yang melakukan ini dan itu?” Dan Allōh Maha Mengetahui. Adapun Nabi ﷺ bersabda dalam riwayat pertama, “Tanda-tandanya ada empat; barangsiapa yang memilikinya maka dia munãfiq,” dan dalam riwayat kedua, “Tanda-tanda orang munãfiq ada tiga.” Tidak ada pertentangan diantara keduanya, karena suatu hal bisa saja memiliki tanda-tanda, yang masing-masing merupakan ciri khasnya. Lebih lanjut, tanda itu bisa satu hal, atau bisa juga beberapa hal. Dan Allōh Maha Mengetahui. Dan beliau ﷺ bersabda: “Dan ketika dia membuat perjanjian, dia mengingkarinya.” Termasuk dalam sabdanya: “Dan jika dia dipercaya, dia berkhianat,” dan sabdanya: “Dan jika dia membantah, dia melampaui batas,” artinya: dia menyimpang dari kebenaran dan berbicara dusta dan dusta. Ahli bahasa berkata, “Akar dari pelanggaran adalah menyimpang dari jalan yang benar.” Dan sabdanya: “Tanda orang munãfiq” artinya: tanda dan indikasinya. Dan sabdanya: “Sebuah karakteristik dan sifat,” dengan huruf “kho” pada keduanya memiliki fathah, dan salah satunya memiliki makna yang sama dengan yang lainnya.”
(An-Nawawi [wafat 676 H], “Syarh An-Nawawi ‘alã Muslim”, 2/46-48).
61) GEMBUL / RAKUS (NIFAQ ‘AMALI)
عن ابن عمر، عن النبي صلى الله عليه وسلم. قال : (الْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ. وَالْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ في معي واحد). متفق عليه[47] وفي رواية للبخاري: الْكَافِرَ أَوِ الْمُنَافِقَ بالشك
Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Orang kãfir makan dengan 7 (tujuh) perut, sedangkan orang mukmin makan dengan 1 (satu) perut.“
(Muttafaqun ‘alaih – Dan dalam riwayat Al-Bukhōry: “Orang kãfir atau orang munãfiq” dengan keraguan)
Pelajaran yang dapat dipetik dari Hadits diatas adalah bahwa diantara sifat / karakter orang-orang Munãfiq adalah mereka itu gembul / rakus; dimana hal itu adalah dekat kepada sifat “tabdzir” / “isrof” / berlebih-lebihan.[48] Namun tentunya tidak bisa dikatakan bahwa semua orang yang suka makan itu lantas otomatis dihukumi Munãfiq; tentu tidaklah demikian. Bisa jadi ada orang yang harus makan banyak karena ia buruh pekerja berat sehingga membutuhkan makanan yang banyak agar ia mampu melaksanakan tugas pekerjaannya yang membutuhkan tenaga ekstra.
Sehingga, hendaknya dipahami bahwa sifat gembul / rakus yang dekat pada sifat tabdzir / isrof itu merupakan diantara karakter orang-orang Munãfiq (Nifãq ‘Amali / Nifãq Asghor / Kemunafikan Kecil); namun kaidah ini jangan dibalik, jangan dikatakan bahwa semua orang yang suka makan maka otomatis ia Munãfiq. Tentu tidak demikian pemahamannya.
Demikianlah diantara 61 sifat / karakter kaum Munãfiqũn, yang keseluruhannya dapat dilihat pada Bagan / Tabel berikut ini:
Gambar #5 – “Sifat & Karakteristik Munãfiqĩn #1 (Sifat no: 1-21)”
Gambar #6 – “Sifat & Karakteristik Munãfiqĩn #2 (Sifat no: 22-40)”
Gambar #7 – “Sifat & Karakteristik Munãfiqĩn #3 (Sifat no: 41-61)”
VII. BAHAYA YANG MENGANCAM MUNĀFIQ AKBAR (PELAKU NIFĀQ AKBAR)
Terdapat minimal 6 bahaya yang mengancam pelaku Nifãq Akbar, sebagai berikut:
1) Mereka Berhak akan Adzab Allõh dalam Neraka Jahannam Terbawah bersama Orang-Orang Kãfir
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا [النساء: 138]
“Berilah kabar ‘gembira’ kepada orang-orang munāfiq bahwa sesungguhnya bagi mereka adzab yang sangat pedih.”
(QS. An-Nisã’/4: 138)
Allõh سبحانه وتعالى juga berfirman:
…إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا [النساء: 140]
“… Sesungguhnya Allõh akan mengumpulkan semua orang munāfiq dan orang kāfir di (Neraka) Jahanam.”
(QS. An-Nisã’/4: 140)
Dan berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا [النساء: 145]
“Sesungguhnya orang-orang munāfiq itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari Neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”
(QS. An-Nisã’/4: 145)
Dan Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ [التحريم: 9]
“Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kāfir dan orang-orang munāfiq dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah (Neraka) Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. Tahrim/66: 9)
Dan berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ [التوبة: 68]
“Allõh telah mengancam orang-orang munāfiq laki-laki dan perempuan serta orang-orang kāfir dengan Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (Neraka) itu bagi mereka. Allõh melaknat mereka. Bagi mereka adzab yang kekal.”
(QS. At-Taubah/9: 68)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman di ayat yang lain:
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا [الأحزاب: 24]
“Agar Allõh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya dan mengadzab orang munafiq jika Dia menghendaki atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allõh Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 24)
Dan berfirman:
لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا [الأحزاب: 73]
“Dengan demikian, Allõh akan mengadzab orang-orang munāfiq laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan. Allõh akan menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allõh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 73)
Dan Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ۖ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ [التوبة: 101]
“Diantara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu ada orang-orang munāfiq. (Demikian pula) diantara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munāfiq), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Nabi Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”
(QS. At-Taubah/9: 101)
2-3) Mereka Berhak akan Siksa berupa Murka Allõh, dan Kutukan-Nya dalam Neraka Jahannam
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [الفتح: 6]
“(Juga agar) Dia mengadzab orang-orang munāfiq laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allõh. Mereka akan mendapat giliran (adzab) yang buruk. Allõh pun murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (Neraka) Jahanam bagi mereka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. Al-Fath/48: 6)
4) Keberlangsungan Hidup Mereka adalah Sekedar Istidroj
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلا (60) مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلا (61) سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا (62) [الأحزاب: 60-62]
(60) “Sungguh, jika orang-orang munāfiq, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), pasti Kami perintahkan engkau (Muhammad untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar. (61) Dalam keadaan terlaknat. Dimana pun dijumpai, mereka akan ditangkap dan benar-benar dibunuh. (62) (Hukuman itu) sebagai sunatullõh yang berlaku terhadap orang-orang yang telah berlalu sebelum kamu. Engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunatullõh.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 60-62)
5) Kegelapan pada Hari Kiamat adalah Nasib Mereka Selamanya
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ [الحديد: 13]
“Pada hari ketika orang-orang munāfiq laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)“. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.”
(QS. Al-Hadĩd/57: 13)
6) Mereka dalam Keadaan Serba Merugi
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (14) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (15) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (16) لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (17) يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ (18) [المجادلة: 14-18]
(14) “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allõh sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. (15) Allõh telah menyediakan bagi mereka adzab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (16) Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allõh; karena itu mereka mendapat adzab yang menghinakan. (17) Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari adzab Allõh. Mereka itulah penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya. (18) (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allõh lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.”
(QS. Al-Mujãdilah/58: 14-18)
Gambar #7 – “Bahaya yang Mengancam kaum Munãfiq Akbar (Pelaku Nifãq Akbar)”
VIII. STATUS KAUM MUNĀFIQŪN
Berikut adalah status kaum Munãfiqũn:
1) Mereka (Munãfiqũn) adalah Orang-orang yang Tidak Berpengetahuan
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ [المنافقون: 8]
“Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allõh, bagi Rosũl-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munãfiq itu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 8)
2) Mereka (Munãfiq Akbar) Berstatus “Seperti Orang Kãfir”
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا [النساء: 88]
“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munãfiq, padahal Allõh telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allõh? Barangsiapa yang disesatkan Allõh, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.”
(QS. An-Nisã’/4: 88)
قال ابن جرير
«واللهُ رَدَّهم إلى أحكامِ أهلِ الشركِ في إباحةِ دمائهم، وسَبْي ذَراريِّهم، [{بِمَا كَسَبُوا}، يعنى: بما كذَبوا الله ورسولَه، وكفَروا بعدَ إسلامِهم]»[49]
Ibnu Jarir berkata:
“Dan Allõh mengembalikan mereka kepada hukum-hukum orang-orang musyrik tentang kebolehan menumpahkan darah mereka dan menawan anak-anak mereka, [{karena apa yang mereka usahakan}, yaitu: karena mereka telah berdusta kepada Allõh dan Rosũl-Nya, dan mereka telah kãfir setelah mereka masuk Islam].”
(Ibnu Jarir ath-Thobari [224-310 H], “Tafsir ath-Thobari”, 7/280)
3) Mereka adalah Orang Sesat
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا [النساء: 88]
“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munãfiq, padahal Allõh telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allõh? Barangsiapa yang disesatkan Allõh, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.”
(QS. An-Nisã’/4: 88)
4) Mereka adalah Orang Fasiq
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [التوبة: 67]
“Orang-orang munãfiq laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allõh, maka Allõh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munãfiq itu adalah orang-orang yang fãsiq.”
(QS. At-Taubah/9: 67)
قال ابن جرير:
«هم المُفارِقون طاعةَ اللهِ، الخارِجون عن الإيمانِ به وبرسولِه.»[50]
Ibnu Jarir berkata: “Mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan ketaatan kepada Allõh dan telah menyimpang dari iman kepada-Nya dan Rosũl-Nya.”
(Tafsir ath-Thobari, 11/550)
5) Mereka Orang yang Terkutuk
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ [التوبة: 68]
“Allõh mengancam orang-orang munãfiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kãfir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allõh melaknati mereka, dan bagi mereka adzab yang kekal.”
(QS. At-Taubah/9: 68)
6) Mereka adalah Pendusta
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ [المنافقون: 1]
“Apabila orang-orang munãfiq datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosũl Allõh”. Dan Allõh mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosũl-Nya; dan Allõh mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munãfiq itu benar-benar pendusta.”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 1)
7) Mereka adalah Orang yang Tidak Mengerti
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَىٰ مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَنْفَضُّوا ۗ وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ [المنافقون: 7]
“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshor): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rosũlullōh supaya mereka bubar (meninggalkan Rosũlullōh)”. Padahal kepunyaan Allah-lõh perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munãfiq itu tidak memahami.”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 7)
8) Hati Mereka Terkunci
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ [التوبة: 87]
“Mereka (orang-orang munãfiq) rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang, dan hati mereka telah dikunci mati maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad). “
(QS. At-Taubah/9: 87)
IX. BAHAYA ORANG MUNĀFIQ BAGI ISLAM & KAUM MUSLIMIN
Mereka memecah belah ummat (Masjid Dhiror)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (107) لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ (108) أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (109) لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (110) [التوبة: 107-110]
(107) “Dan (diantara orang-orang munãfiq itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudhorotan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allõh dan Rosũl-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan“. Dan Allõh menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (108) Janganlah kamu melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama (masjid Quba), adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allõh menyukai orang-orang yang bersih. (109) Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya diatas dasar taqwa kepada Allõh dan keridho’an-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahannam. Dan Allõh tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzolim. (110) Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allõh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah/9: 107-110)
مَنْ عِظَمِ النِّفَاقِ أَنَّ الْقَتْلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَمْحُو كُلَّ الْخَطَايَا وَلا يَمْحُو النِّفَاقَ قَالَ اللَّهُ عز وجل: {فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ} [التوبة: 77].»[51]
“Salah satu bentuk (bahaya dosa) kemunafikan terbesar adalah bahwa terbunuh dalam membela agama Allõh menghapus semua dosa, tetapi tidak menghapus kemunafikan. Allõh سبحانه وتعالى berfirman: {Maka Dia jadikan kemunafikan mengikuti mereka dalam hati mereka sampai hari mereka menemui-Nya, disebabkan mereka lalai menepati janji mereka kepada Allõh dan karena mereka selalu berdusta.} [At-Taubah: 77]”
(Abu Nu’aim al-Ashfahany (430 H), Shifat an-Nifaq wa Na’t al-Munafiqin li Abu Nu’aim, hal. 63)
عن عُتْبَةَ بْنِ عَبْدِ السُّلَمِيُّ -وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “الْقَتْلَى ثَلَاثَةٌ: 1. رَجُلٌ مُؤْمِنٌ جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا لَقِيَ الْعَدُوَّ، قَاتَلَهُمْ حَتَّى يُقْتَلَ، فَذَلِكَ الشَّهِيدُ الْمُمْتَحَنُ فِي خَيْمَةِ اللَّهِ تَحْتَ عَرْشِهِ، وَلَا يَفْضُلُهُ النَّبِيُّونَ إِلَّا بِفَضْلِ دَرَجَةِ النُّبُوَّةِ، 2. وَرَجُلٌ مُؤْمِنٌ قَرَفَ عَلَى نَفْسِهِ مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا، جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا لَقِيَ الْعَدُوَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ، فَتِلْكَ مَصْمَصَةٌ مَحَتْ ذُنُوبَهُ وَخَطَايَاهُ، إِنَّ السَّيْفَ مَحَّاءٌ لِلْخَطَايَا، وَأُدْخِلَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَ، فَإِنَّ لَهَا ثَمَانِيَةَ أَبْوَابٍ، وَلِجَهَنَّمَ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ، وَبَعْضُهَا أَفْضَلُ مِنْ بَعْضٍ، 3. وَرَجُلٌ مُنَافِقٌ، جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا لَقِيَ الْعَدُوَّ، قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ فَذَلِكَ فِي النَّارِ، إِنَّ السَّيْفَ لَا يَمْحُو النِّفَاقَ“» رواه ابن حبان[52] وقال الأرنؤوط: إسناده حسن، رجاله ثقات رجال الصحيح غير أبي المثنى –واسمه ضمضم- فقد روى عنه اثنان، وذكره المؤلف في “الثقات
Dari ‘Utbah bin ‘Abdul Sulami رضي الله عنه bahwa Rosũlullōh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tiga orang yang terbunuh: (1) Seorang mukmin yang berjuang dengan jiwa dan hartanya di jalan Allõh hingga ketika bertemu musuh, ia memerangi mereka hingga terbunuh. Itulah kedudukan syahid yang ditempatkan di kemah Allõh di bawah ‘Arsy-Nya, dan para Nabi tidak mengunggulinya kecuali dengan keunggulan mereka dalam derajat keNabian; (2) Dan seorang mukmin yang telah membersihkan dirinya dari dosa dan pelanggaran, dan berjuang dengan jiwa dan hartanya di jalan Allōh hingga ketika bertemu musuh, ia berperang hingga terbunuh, maka itu adalah pengorbanan yang menghapus dosa dan pelanggarannya, karena pedang menghapus dosa. Dan ia dimasukkan melalui pintu Surga mana saja yang ia kehendaki, karena Surga memiliki delapan pintu. Neraka memiliki tujuh pintu, sebagian lebih baik daripada sebagian lainnya; (3) Orang munãfiq yang berjuang dengan jiwa dan hartanya di jalan Allōh hingga ketika bertemu musuh, ia berperang hingga terbunuh. Orang itu berada di dalam Neraka. Sesungguhnya pedang tidak dapat menghapus kemunafikan.”
(HR. Ibnu Hibban. Al-Arna’uth berkata: “Sanadnya Hasan. Para perowinya adalah orang-orang shohih yang terpercaya, kecuali Abu al-Mutsanna—namanya Damdam—sebagaimana diriwayatkan dari dua orang, dan penulisnya menyebutkannya dalam kitab Ats-Tsiqot“)
X. PERINTAH ALLÕH: BAGAIMANA MUSLIM MENYIKAPI KAUM MUNĀFIQ
1) Menghadapi Mereka dengan Jihad
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ [التحريم: 9]
“Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kãfir dan orang-orang munãfiq dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah (Neraka) Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. At-Tahrim/66: 9)
2) Mewaspadai Mereka
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ [المنافقون: 4]
“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikanmu kagum. Dan jika mereka bertutur kata, engkau mendengarkan tutur katanya (dengan saksama karena kefasihannya). Mereka bagaikan (seonggok) kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allõh membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”
(QS. Al-Munãfiqũn/63: 4)
3) Mengetahui dan Selektif terhadap Mereka
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ [العنكبوت: 11]
“Dan sesungguhnya Allõh benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munãfiq.”
(QS. Al-Ankabũt/29: 11)
قال ابن جرير الطبري:
«ولَيَعْلَمَنَّ أولياءُ اللهِ وحِزْبُه أَهلَ الإيمانِ باللهِ منكم أيُّها القومُ، وليَعْلَمُنَّ المنافقين منكم، حتى يَمِيزُوا؛ كلَّ فريقٍ منكم مِن الفريقِ الآخرِ، بإظهارِ اللهِ ذلك منكم بالمحنِ والابتلاءِ والاختبارِ، وبمسارعةِ المُسارِعِ منكم إلى الهجرةِ من دارِ الشركِ إلى دارِ الإسلامِ، وتَثَاقُلِ المُتَثاقِلِ منكم عنها.»[53]
Ibnu Jarir ath-Thobari berkata:
“Dan para wali Allõh dan golongan-Nya pasti akan mengetahui orang-orang yang beriman kepada Allõh diantara kamu, wahai manusia; dan pasti akan mengetahui orang-orang munãfiq diantara kamu, hingga mereka dapat membedakan satu golongan diantara kamu dengan golongan yang lain, dengan perantaraan Allõh yang menyingkapkan hal itu kepada kamu melalui cobaan demi cobaan, dan ujian, dan dengan disegerakannya orang-orang diantara kamu yang bersegera berhijrah dari negeri kemusyrikan ke negeri Islam, dan dengan keraguan orang-orang diantara kamu yang ragu-ragu untuk meninggalkannya.”
(Tafsir Ath-Thobari, 18/367)
4) Larangan Allõh bagi Muslim untuk Mentaati Munãfiq
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا [الأحزاب: 1]
“Hai Nabi, bertaqwalah kepada Allõh dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kãfir dan orang-orang munãfiq. Sesungguhnya Allõh adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 1)
5) Waspada dan Hindari Upaya Makar Mereka
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا [الأحزاب: 48]
“Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kãfir dan orang-orang munãfiq itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allõh. Dan cukuplah Allõh sebagai Pelindung.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 48)
6) Tidak Berbelas Kasih Terhadap Mereka
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ [التحريم: 9]
“Wahai Nabi,berjihadlah (melawan) orang-orang kãfir dan orang-orang munãfiq dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah (Neraka) Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. At-Tahrim/66: 9)
قال ابن جرير:
«أمَر اللَّهُ عز وجل نبيَّه عليه السلام أنْ يجاهدَ الكفارَ بالسيفِ، ويُغْلِظَ على المنافقين بالحدودِ {وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ}. يقولُ: واشْدُدْ عليهم في ذاتِ اللَّهِ[54]
Ibnu Jarir ath-Thobari berkata:
“Allõh سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم, untuk memerangi orang-orang kãfir dengan pedang dan bersikap keras terhadap orang-orang munãfiq dengan hukuman yang telah ditetapkan. {Dan bersikap keras terhadap mereka} artinya: Bersikaplah keras terhadap mereka karena Allõh.”
(Tafsir Ath-Thobari, 23/110)
7) Hakekat Kemunafikan Mereka Tak Akan Terjangkau Kecuali oleh Allõh
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ۖ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ [التوبة: 101]
“Diantara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munãfiq; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”
(QS. At-Taubah/9: 101)
8) Tidak Mempergunakan Fasilitas Mereka
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (107) لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ (108) أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (109) لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (110) [التوبة: 107-110]
(107) “Dan (diantara orang-orang munãfiq itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudhorotan (pada orang-orang mukmin), untuk kekãfiran, dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allõh dan Rosũl-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allõh menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (108) Janganlah kamu melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allõh menyukai orang-orang yang bersih. (109) Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar taqwa kepada Allõh dan keridho’an-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahannam. Dan Allõh tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzolim. (110) Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allõh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah/9: 107-110)
Gambar #8 – “Perintah Allõh: Bagaimana Muslim Menyikapi Kaum Munãfiq”
XI. KETIKA SATU GROUP BERSAMA MUNĀFIQŪN
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
الْأَعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا وَأَجْدَرُ أَلَّا يَعْلَمُوا حُدُودَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ [التوبة: 97]
“Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan sangat wajar (mereka) tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allõh kepada Rosũl-Nya. Dan Allõh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah/9: 97)
عن حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قال:
كان رَجُلًا يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْمُنَافِقِينَ، فَقَالَ: يَا ابْنَ أَخِي، لَوْ هَلَكَ الْمُنَافِقُونَ لَاسْتَوْحَشْتُمْ فِي طُرُقَاتِكُمْ مِنْ قِلَّةِ السَّالِكِ.[55]
Dari Hudzaifah rodhiyallōhu ‘anhu, beliau bersabda:
“Ada seorang laki-laki yang berdoa: ‘Ya Allōh, hancurkanlah orang-orang munãfiq’. Maka beliau berkata: ‘Wahai keponakanku, seandainya orang-orang munãfiq dihancurkan, engkau akan merasa kesepian di jalan-jalanmu karena sedikitnya orang yang melewatinya’.”
(Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], “Madarij as-Salikin”, 1/365)
عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ:
مَا أَمِنَهُ إِلَّا مُنَافِقٌ، وَمَا خَافَهُ إِلَّا مُؤْمِنٌ[56]
Al-Hasan al-Basri berkata:
“Hanya orang munãfiq yang merasa aman dari kemunafikan, dan hanya orang mukmin yang takut pada kemunafikan.”
(Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], “Madarij as-Salikin”, 1/365)
لَقَدْ ذُكِرَ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ خُشُوعِ النِّفَاقِ، قِيلَ: وَمَا خُشُوعُ النِّفَاقِ؟ قَالَ: أَنْ يُرَى الْبَدَنُ خَاشِعًا وَالْقَلْبُ لَيْسَ بِخَاشِعٍ.[57]
Diriwayatkan bahwa salah seorang sahabat berdoa: “Ya Allõh, aku berlindung kepada-Mu dari kemunafikan berpura-pura tawadhu.” Kemudian ditanyakan padanya: “Apakah itu kemunafikan tawadhu yang pura-pura?” Beliau menjawab: “Yaitu ketika tubuhku tampak tawadhu, tetapi hatiku tidak tawadhu.”
(Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], “Madarij as-Salikin”, 1/365)
XII. WASPADAI SENDI-SENDI BANGUNAN NIFĀQ (KEMUNAFIKAN)
قال ابن قيم الجوزية (ت 751هـ):
زَرْعُ النِّفَاقِ يَنْبُتُ عَلَى سَاقِيَتَيْنِ: سَاقِيَةِ الْكَذِبِ، وَسَاقِيَةِ الرِّيَاءِ، وَمَخْرَجُهُمَا مِنْ عَيْنَيْنِ: عَيْنِ ضِعْفِ الْبَصِيرَةِ، وَعَيْنِ ضَعْفِ الْعَزِيمَةِ، فَإِذَا تَمَّتْ هَذِهِ الْأَرْكَانُ الْأَرْبَعُ اسْتَحْكَمَ نَبَاتُ النِّفَاقِ وَبُنْيَانُهُ، وَلَكِنَّهُ بِمَدَارِجِ السُّيُولِ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ، فَإِذَا شَاهَدُوا سَيْلَ الْحَقَائِقِ يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ، وَكُشِفَ الْمَسْتُورُ، وَبُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ، وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ، تَبَيَّنَ حِينَئِذٍ لِمَنْ كَانَتْ بِضَاعَتُهُ النِّفَاقَ»[58]
Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H) berkata:
“Benih-benih kemunafikan tumbuh dari dua sumber: 1) sumber kepalsuan, dan 2) sumber kepura-puraan. Keduanya pun tumbuh dari dua sumber pula, yakni: 1) sumber lemahnya wawasan, dan 2) sumber lemahnya tekad. Ketika keempat pilar ini utuh, maka (sendi-sendi) pertumbuhan dan struktur kemunafikan akan berakar kuat, tetapi ia bagaikan aliran deras yang mengalir di tepi jurang yang runtuh. Kemudian, ketika mereka menyaksikan derasnya Kebenaran pada Hari (Akherat – pent.) ketika rahasia-rahasia tersingkap; apa yang tersembunyi terungkap, apa yang ada di dalam kubur berserakan, dan apa yang ada di dalam hati terungkap, maka akan menjadi jelas (segalanya) bagi mereka yang dagangannya adalah kemunafikan.”
XIII. UPAYA PENCEGAHAN DIRI DARI NIFĀQ (KEMUNAFIKAN)
Berikut ini adalah berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh kaum Muslimin agar terhindar dari Nifãq (Kemunafikan), yakni:
1) MEMPERBANYAK DZIKIR
قال كعب:
من أكثر ذكر الله عز وجل برئ من النفاق»[59]
Ka’ab berkata:
“Barangsiapa yang sering (berdzikir) mengingat Allõhسبحانه وتعالى, maka ia terbebas dari sifat munãfiq.”
(Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], “Al-Wãbil ash-Shoyyib”, hal. 80)
«إن كثرة ذكر الله عز وجل أمان من النفاق، فإن المنافقين قليلو الذكر لله عز وجل،»[60]
“Sering mengingat Allõh سبحانه وتعالى merupakan benteng dari kemunafikan, karena orang munãfiq jarang sekali mengingat Allõh سبحانه وتعالى.”
(Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], “Al-Wãbil ash-Shoyyib”, hal. 80)
2) BERTAWAKKUL KEPADA ALLÕH
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا [الأحزاب: 48]
“Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kãfir dan orang-orang munãfiq itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allõh. Dan cukuplah Allõh sebagai Pelindung.”
(QS. Al-Ahzãb/33: 48)
3) TARBIYYAH
Kaum Muslimin perlu terus menerus melakukan Tarbiyyah (pembinaan) kedalam internal barisan kaum Muslimin itu sendiri, dan mewaspadai munculnya sifat/ karakteristik Nifãq (Kemunafikan) maupun mewaspadai munculnya sosok-sosok Munãfiqũn yang dapat berperan memecah belah barisan kaum Muslimin dari dalam.
Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَوْ نَشَاءُ لأرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ (30)وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ (31) [محمد: 30-31]
(30) Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad) sehingga engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allõh mengetahui segala perbuatanmu. (31) Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar diantara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ikhwalmu.”
(QS. Muhammad/47: 29-31)
قال ابن زيدٍ في قولِه:
{وَلَوْ نَشَاءُ لأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ}. قال: هؤلاء المنافقون. قال: وقد أراه اللَّهُ إياهم، وأمَر بهم أن يَخرُجوا من المسجدِ. قال: فأبَوا إلا أن تَمَسَّكوا بلا إلهَ إلا اللَّهُ، فلما أبَوا إلا أن تَمَسَّكوا بلا إلهَ إلا اللَّهُ، حُقِنت دماؤُهم، ونكَحوا ونُوكِحوا بها.
Ibnu Zaid berkata tentang ayat ini,
“Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, dan niscaya kamu akan mengenali mereka dari tanda-tandanya” (QS. Muhammad/47:30)”; beliau berkata: “Mereka itulah orang-orang munãfiq.” Ia berkata: “Allõh telah menunjukkan mereka kepadanya dan memerintahkan mereka untuk meninggalkan masjid.” Ia berkata: “Tetapi mereka menolak kecuali dengan berpegang teguh pada pernyataan iman: “Tidak ada Tuhan selain Allõh.” Maka, ketika mereka menolak kecuali dengan berpegang teguh pada pernyataan iman, darah mereka terjaga, dan mereka diizinkan untuk menikah dan dikawinkan.”
وقولُه: {وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ}. يقولُ: ولتَعْرِفَنَّ هؤلاء المنافقين في معنى قولِهم نحوَه. قال ابن زيدٍ في قولِه: {فِي لَحْنِ الْقَوْلِ}. قال: قولِهم.
“Dan firman-Nya: {Dan kamu pasti akan mengenali mereka dari nada bicara mereka}; artinya Allõh berfirman: “Dan kamu pasti akan mengenali orang-orang munãfiq itu dari makna ucapan mereka, yang serupa dengan itu.”
Ibnu Zaid lalu berkata tentang pernyataannya: “{dalam nada bicara}.” Ia berkata: “(artinya) Ucapan-ucapan mereka.”
{وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ}: لا يَخْفَى عليه العاملُ منكم بطاعتِه، والمخالفُ ذلك، وهو مُجازِى جميعِكم عليها.»[61]
“{Dan Allõh mengetahui pekerjaanmu}, artinya: “Dia tidak lengah terhadap siapa diantara kamu yang mentaati-Nya dan tidak (pula lengah terhadap) siapa yang mendurhakai-Nya. Dan Dia pasti (akan) memberi balasan kepadamu secara setimpal dengan (yang dikerjakan) itu.”
(Ibnu Jarir ath-Thobari [224-310 H], “Tafsir ath-Thobari”, 21/223)
Maksud “Orang-Orang Munãfiqun” bisa dikenali dari “tanda-tandanya / nada bicaranya” adalah karena mereka itu berbicara dan bekerja serta berwala’-nya untuk kepentingan kemaslahatan orang-orang Kãfir / Musyrikin dan sekutunya; contoh: Bila terjadi suatu kasus perseteruan diantara kaum Muslimin melawan orang-orang Kãfir / Musyrikin / kaum Sekuler dan semisalnya, maka orang-orang Munãfiq akan cenderung membela kepentingan orang-orang Kãfir / Musyrikin / orang-orang Sekuler yang menjadi “tuan-tuan mereka dalam mencari kenyamanan hidup”; dan orang-orang Munãfiq itu enggan menyampaikan Kebenaran dari Allõh dan Rosũl-Nya serta tidak memberikan pembelaan terhadap kepentingan kemaslahatan kaum Muslimin dalam menjaga hak-hak kaum Muslimin ataupun tidak memberikan pembelaan terhadap kepentingan perjuangan kaum Muslimin dalam meninggikan Kalimat Allõh serta menegakkan Al-Islam.
Oleh karenanya, melakukan Tarbiyyah (pembinaan) terhadap internal kaum Muslimin adalah perlu terus-menerus dilakukan agar ummat Islam terbimbing nilai-nilai keIslamannya, serta terbentengi dari munculnya tokoh-tokoh Munãfiqun yang dapat menghambat Perjuangan serta Kebangkitan Ummat Islam di Akhir Zaman.
4) MENJAGA KONSISTENSI SHOLAT BERJAMA’AH DI MASJID
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ» رواه الترمذي[62]
Dari Anas bin Mãlik, ia berkata: “Rosũlullōh ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang sholat berjama’ah selama empat puluh hari, dan mendapatkan takbir pertama imam (takbirotul ihrom), niscaya ia terbebas dari dua perkara: terbebas dari api neraka dan terbebas dari kemunafikan.”
(HR. At-Tirmidzi)
5) DO’A
Berbagai do’a yang diajarkan Rosũlullōh ﷺ agar terhindar dari Kemunafikan adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِي الأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ؛ قَالَ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ. فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى. وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ. وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ. وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً. وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً. وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً. وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ، مَعْلُومُ النِّفَاقِ. وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصف.» رواه مسلم[63]
Dari Abu al-Ahwash, dari ‘Abdullõh, ia berkata:
“Barangsiapa yang ingin bertemu Allõh kelak sebagai seorang Muslim, hendaklah ia rajin melaksanakan sholat-sholat (wajib) di tempat-tempat yang telah dikumandangkan adzan (masjid).“Karena Allõh telah mewajibkan bagi Nabi kalianﷺ sunah-sunah petunjuk; dan sholat-sholat ini adalah termasuk sunah-sunah itu. Seandainya kalian sholat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang tinggal di rumah ini sholat di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunah Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunah Nabi kalian, niscaya kalian akan tersesat. Dan tidaklah seorang pun yang bersuci dan mengerjakannya dengan baik, ke mudian pergi ke salah satu masjid ini, melainkan Allõh akan menuliskan baginya kebaikan pada setiap langkahnya, mengangkatnya satu derajat, dan menghapus dosanya dengan itu. Dan aku telah melihat keadaan kita, dan tidaklah ada (orang) yang menjauh darinya kecuali orang munãfiq yang kemunafikannya telah diketahui.Dan sesungguhnya, bahkan seseorang ( — yang sakit – pent.) akan dipapah dengan dibantu oleh dua orang, hingga ia ditempatkan diantara shaf (sholat).”
(HR. Muslim)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ جَاءَهُ حَرْمَلَةُ بْنُ زَيْدٍ فَجَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ,فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، الْإِيمَانُ هَهُنَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى لِسَانِهِ وَالنِّفَاقُ هَهُنَا، وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ وَلَا يَذْكُرُ اللهَ إِلَّا قَلِيلًا، فَسَكَتَ عَنْهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ,فَرَدَّدَ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَسَكَتَ حَرْمَلَةُ , فَأَخَذَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِطَرَفِ لِسَانِ حَرْمَلَةَ، فَقَالَ: «اللهُمَّ اجْعَلْ لَهُ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا شَاكِرًا، وَارْزُقْهُ حُبِّي وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّنِي وَصَيِّرْ أَمْرَهُ إِلَى الْخَيْرِ»، فَقَالَ حَرْمَلَةُ: ” يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ لِي إِخْوَانًا مُنَافِقِينَ كُنْتُ فِيهِمْ رَأْسًا أَفَلَا أَدُلُّكَ عَلَيْهِمْ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «لَا، مَنْ جَاءَنَا كَمَا جِئْتَنَا اسْتَغْفَرْنَا لَهُ كَمَا اسْتَغْفَرْنَا لَكَ، وَمَنْ أَصَرَّ عَلَى ذَنْبِهِ فَاللهُ أَوْلَى بِهِ وَلَا تَخْرِقْ عَلَى أَحَدٍ سَتْرًا» رواه الطبراني في الكبير[64] قال الهيثمي: «رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ.»[65]
Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallōhu ‘anhu, beliau berkata:
“Aku pernah bersama Nabi ﷺ, ketika Harmalah bin Zaid datang dan ia lalu duduk di hadapan Rosũlullōh ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Iman itu di sini,” seraya menunjuk dengan tangannya ke lidahnya, “dan kemunafikan itu di sini,” seraya menunjuk dengan tangannya ke dadanya, “dan ia tidak mengingat Allōh kecuali sedikit.” Harmalah tetap diam. Beliau mengulangi hal ini kepadanya, dan Harmalah tetap diam. Kemudian Nabi ﷺ menyentuh ujung lidah Harmalah seraya berdoa, “Ya Allōh, anugrahkanlah padanya lidah yang jujur dan hati yang penuh rasa syukur, dan berikanlah kepadanya cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan tuntunlah urusannya kepada kebaikan.” Harmalah kemudian berkata, “Wahai Rosũlullōh, aku memiliki saudara-saudara munãfiq diantara mereka yang aku pimpin. Maukah aku ceritakan kepadamu tentang (keadaan) mereka?” Nabi ﷺ menjawab, “Tidak. Barangsiapa yang datang kepada kami sebagaimana engkau datang kepada kami, maka kami akan memohonkan ampunan baginya. Baginya adalah sebagaimana kami telah memohon ampunan kepadamu, dan barangsiapa yang terus-menerus berbuat dosa, maka Allōh lebih berhak atasnya, dan janganlah engkau membongkar rahasia siapa pun.”
(HR. Ath-Thobroni dalam “Al-Kabir”. Al-Haitsami berkata: “Ini diriwayatkan oleh Ath-Thobroni, dan para perowinya adalah para perowi yang shohih.”)
عن أبي هريرة: إن رسول صلى عليه وسلم كان يدعو يقول: «اللهم إني أعوذ بك من الشقاق، والنفاق، وسوء الأخلاق» رواه أبو داود[66] والنسائي[67]
Dari Abu Hurairoh, sesungguhnya Rosũlullōh ﷺ biasa berdoa dengan mengucapkan: “Ya Allōh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perselisihan (perpecahan), kemunafikan, dan akhlaq yang buruk.”
(HR. Abu Dãud[68] dan An-Nasã’i[69])
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِي دُعَائِهِ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ وَالْقَسْوَةِ، وَالْغَفْلَةِ، وَالْعِيلَةَ وَالذِّلَّةَ وَالْمَسْكَنَةَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالْفُسُوقِ، وَالشِّقَاقِ، وَالنِّفَاقِ وَالسُّمْعَةِ، وَالرِّيَاءِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الصَّمَمِ وَالْبَكَمِ وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَالْبَرَصِ، وَسَيِّئِ الْأَسْقَامِ» رواه الحاكم[70] ” قال الهيثمي: رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ.[71] صححه الألباني في صحيح الجامع الصغير وزيادته[72]
Dari Anas bin Mãlik berkata: “Rosũlullōh ﷺ biasa mengucapkan dalam doanya: “Ya Allōh, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan dari kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dari pikun dan kerasnya hati, dari kelalaian, dari kefakiran, kehinaan, dan kemelaratan. Aku berlindung kepada-Mu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kefasikan, perpecahan, kemunafikan, mencari popularitas, dan riya. Aku berlindung kepada-Mu dari tuli, bisu, kegilaan, penyakit kusta, belang (vitiligo), dan berbagai penyakit yang buruk.”
(HR. Al-Hakim[73]. Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jam ash-Shoghir, dan para perowinya adalah perowi Kitab-Kitab Shohih.”[74] Dishohihkan oleh Al-Albãny dalam Shohih al-Jami’ ash-Shoghir wa Ziyadatuhu)[75]
Sekian dulu bahasan pada kesempatan kali ini, mudah-mudahan Allōh سبحانه وتعالى selalu melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk istiqomah sampai akhir hayat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Jakarta, Sabtu shubuh, 28 Dzul-qo’dah 1446 H / 26 Mei 2025 M. – 15 Safar 1447 H / 09 Agustus 2025 M.
[1] شرف الدين الحسين بن عبد الله الطيبي (743 هـ)، «شرح المشكاة للطيبي الكاشف عن حقائق السنن» (2/ 508) = Syarf ad-Din al-Husain bin ‘Abdullõh ath-Thoyyibi [743 H], “Penjelasan al-Misykat oleh ath-Thoyyibi, Mengungkap Kebenaran Sunnah”, (2/508)
[2] ابن كثير القرشي الدمشقي (700 – 774 هـ)، «تفسير ابن كثير – ت السلامة» (1/ 176) = Ibnu Katsir al-Qurosyi ad-Dimasyqi (700-774 H), “Tafsir Ibnu Katsir”, (1/176)
[3] ابن تيمية، «الإيمان الأوسط – ط ابن الجوزي» (ص302) = Ibnu Taimiyah, “Al-Iman al-Awsath / Beriman di Pertengahan – edisi Ibn al-Jawzi” (hlm. 302)
[4] ابن تيمية، «الإيمان الأوسط – ط ابن الجوزي» (ص303) = Ibnu Taimiyah, “Al-Iman al-Awsath / Beriman di Pertengahan – edisi Ibn al-Jawzi” (hlm. 303)
[5] الفيومي (ت نحو 770 هـ)، «المصباح المنير في غريب الشرح الكبير» (1/ 256) = Al-Fayyumi (wafat sekitar tahun 770 H), “Al-Mishbah al-Munir fi Ghorib al-Syarh al-Kabir”, (1/256)
[6] أحمد بن تيمية، «مجموع الفتاوى» (7/ 463) = Ahmad Ibnu Taimiyyah, “Majmu’ al-Fatawa”, (7/463)
[7] محمد بن نصر المَرْوَزِي (ت 294 هـ)، «تعظيم قدر الصلاة – محمد بن نصر المروزي» (2/ 634) برقم: 688 و«صفة النفاق وذم المنافقين للفريابي» (ص123) برقم: «82» = Muhammad bin Nashir al-Marwazī (wafat 294 H), Ta‘ẓīm Qodr ash-Ṣolāh (2/634), no: 688; Al-Firyābī, Ṣifat an-Nifāq wa Dhamm al-Munāfiqīn, hal. 123, no: 82
[8] محمد بن إسماعيل البخاري، «صحيح البخاري» (1/ 18) = Muhammad bin Isma’il al-Bukhōry, Shohih al-Bukhōry, 1/18, no: 1
[9] محمد بن إسماعيل البخاري، «صحيح البخاري» (1/ 18) = Muhammad bin Isma’il al-Bukhōry, Shohih al-Bukhōry, 1/18
[10] أبو الليث السمرقندي (ت 373هـ)، «تفسير السمرقندي = بحر العلوم» (3/ 406) = Abu al-Layts as-Samarqondi (wafat 373 H), Tafsir as-Samarqondi = Bahr al-Ulum, (3/406)
[11] أبو شامة (ت 665هـ)، «الباعث على إنكار البدع والحوادث» (ص82) = Abu Syãmah al-Maqdisī (wafat 665 H), Al-Bã’its ‘alã Inkãr al-Bida’ wa al-Hawãdits, hal. 82.
[12] محمد بن إسماعيل البخاري، «صحيح البخاري» (9/ 58) برقم: 7113 = Muhammad bin Isma’il al-Bukhōry, “Shohih al-Bukhōry” (9/58), no: 7113.
[13] ابن حجر العسقلاني (ت 852هـ)، «المطالب العالية بزوائد المسانيد الثمانية» (14/ 702) برقم: 3623 قال: (إِسْنَادُهُ) صَحِيحٌ = Ibnu Hajar al-Asqolani (wafat 852 H), “Al-Maṭōlib al-‘Āliyah bi-Zawāʾid al-Masōnīd al-Thamāniyah” (14/702) no: 3623, ia berkata: sanadnya shohih)
[14] «صحيح البخاري» (9/ 58) برقم: 7114 = Shohih Al-Bukhōry, (9/58), no: 7114
[15] جعفر الفِرْيابِي (ت 301هـ)، «صفة النفاق وذم المنافقين للفريابي» (ص102) برقم: 59 = Ja’far al-Firyābī (wafat 301 H), “Ṣifat an-Nifāq wa Dhamm al-Munāfiqīn”, hal. 102, no: 59
[16] جعفر بن محمد بن الحسن بن المُسْتَفاض الفِرْيابِي (ت 301هـ)، «صفة النفاق وذم المنافقين للفريابي» (ص121) برقم: 81 = Ja’far al-Firyābī (wafat 301 H), “Ṣifat an-Nifāq wa Dhamm al-Munāfiqīn”, hal. 121, no: 81
[17] جعفر الفِرْيابِي (ت 301هـ)، «صفة النفاق وذم المنافقين للفريابي» (ص91) برقم: 49 = Ja’far al-Firyābī (wafat 301 H), “Ṣifat an-Nifāq wa Dhamm al-Munāfiqīn”, hal. 91, no: 49
[18] جعفر الفِرْيابِي (ت 301هـ)، «صفة النفاق وذم المنافقين للفريابي» (ص119) برقم: 76 والجوهري الفارابي (ت 393هـ)، «الصحاح تاج اللغة وصحاح العربية» (3/ 1254) = Ja’far al-Firyābī (wafat 301 H), “Ṣifat an-Nifāq wa Dhamm al-Munāfiqīn”, hal. 119, no: 76; Al-Jawhari al-Farobi (wafat 393 H), Ash-Shihah Taj’al Lughoh wash Shihah al-‘Arobiyyah, 3/1254.
[19] البيهقي (384 – 458 هـ)، «شعب الإيمان» (1/ 506 ت زغلول) برقم: 857 = Al-Baihaqi (384 – 458 H), “Syu’ab Al-Iman”, 1/506, no: 857.
[20] ابن حجر العسقلاني (773 – 852 هـ)، «فتح الباري» لابن حجر (1/ 111 ط السلفية) = Ibnu Hajar al-Asqolani (773-852 H), “Fath al-Bari”, 1/111.
[21] ابن المنظور، «لسان العرب» (13/ 23) = Ibnu Manzur, “Lisan al-Arab”, (13/23).
[22] ابن قيم الجوزية (ت 751هـ)، «مدارج السالكين» (1/ 364 ط الكتاب العربي) = Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H), “Madarij as-Salikin” (1/364)
[23] Memadamkan Syariat Islam itu sama dengan berbuat kerusakan dimuka bumi, karena sebagaimana Allōhسبحانه وتعالى berfirman :
وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ…
“… Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-A’rōf/7:142).
Syaikh Prof. Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqor dalam Kitabnya “Khoshō-ish Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah” berkata: “Sesungguhnya Syari’at Islam itu adalah mewujudkan kemaslahatan/kebaikan manusia, dengan cara memelihara aturan ummat (manusia); dimana manfa’at / maslahat itu adalah dalam berbagai keadaan dan secara menyeluruh bagi kehidupan manusia. Apa saja yang merupakan manfa’at/maslahat bagi kehidupan ummat manusia maka ia akan diadakan serta dipelihara oleh Syari’at Islam; dan sebaliknya apabila ada bahaya/madhorot/keburukan maka bahaya /madhorot itu akan ditiadakan / dinafikan, dihentikan, dibatasi atau dikurangi oleh Syari’at Islam.” (Prof. Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqor, Khoshō-ish Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah, Kuwait: Maktabah Al Falah, I, 1982 M, 78)
[24] ابن قيم الجوزية (ت 751هـ)، «صفات المنافقين» (ص12) = Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H), “Shifat al-Munafiqin, (hlm. 12)
[25] تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ, ثُمَّ سَكَتَ
Dari An-Nu’man bin Basyĩr رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosũlullõh ﷺ bersabda: “(1) Kenabian ditengah-tengah kalian akan berlangsung sebagaimana Allõh kehendaki, kemudian Allõh angkat jika Allõh kehendaki; (2) Kemudian adalah Khilãfah diatas pedoman Nabi, kemudian Allõh angkat jika Allõh kehendaki; (3) Kemudian adalah Mulkan ‘Ādhõn / Kerajaan yang menggigit (– turun temurun –pent.), kemudian Allõh angkat jika Allõh kehendaki; (4) Kemudian adalah Mulkan Jabriyyah (Tirani), kemudian Allõh angkat jika Allõh kehendaki; (5) Kemudian Khilãfah diatas Pedoman Nabi.” Kemudian Rosũlullõh ﷺ diam.”
(HR. Ahmad no: 18402. Menurut A-Arnã’uth: “Sanad Hadits ini Hasan”; dan Hadits ini di-shohĩh-kan oleh Al-Albãny dalam Kitab Silsilah Hadits Shohĩh no: 5)
[26] Rosũlullõh ﷺ bersabda:
وَمَا لَمْ يَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ أَلْقَى اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
“Dan jika para pemimpin dari suatu kaum tidak berhukum dengan Kitab Allõh, maka Allõhakan campakkan ketengah-tengah mereka kecekcokan.” (HR. Al-Hakim no: 8667, HR. Ibnu Majah no: 4019. Sanadnya Hasan (Silsilah Hadits Shohĩhah, 1/167-169, no:106, dari ‘Atho bin Abi Robbah dari ‘Abdullõh bin ‘Umar rodhiyallõhu ‘anhuma).
[27] Rosũlullõh ﷺ bersabda:
يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا . فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ . فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Ummat-ummat ini (bangsa-bangsa – pent.) hampir menerkam kalian sebagaimana orang-orang lapar menerkam nampan makanan mereka.” Seseorang bertanya, “Karena sedikitkah jumlah kita pada hari itu?” Rosũlullõh ﷺ menjawab, “Bahkan pada hari itu, kalian berjumlah banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih di air bah; sungguh Allõh akan cabut dari dada-dada musuh kalian rasa segan (wibawa) terhadap kalian, dan sungguh Allõh akan campakkan pada hati-hati kalian Al-Wahn.” Seseorang bertanya, “Ya Rosũlullõh, apakah Al-Wahn itu?” Rosũl ﷺ pun menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”
(HR. Abu Dãwud no: 4299, dari Tsaubãn رضي الله عنه, dishohĩhkan oleh Al-Albãny)
[28]Sebagaimana dalam Hadits berikut bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang sekelompok kecil Ummat Islam yang berada disekitar Baytul Maqdis yang tetap teguh diatas Kebenaran Al-Islam:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الدِّينِ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ“.قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ: “بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ“» رواه أحمد وذكره الألباني في السلسلة الصحيحة
Dari Abu ‘Umamah رضي الله عنه, ia berkata: “Rosũlullõh ﷺ bersabda:‘Akan senantiasa ada sekelompok kecil dari umatku yang tetap teguh diatas agama, menang atas musuh-musuh mereka. Orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka, kecuali kesulitan yang mereka alami, hingga datang keputusan Allōh dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.‘”Sahabat bertanya, “Wahai Rosũlullōh, di manakah mereka itu?” Beliau ﷺ menjawab: “Di Baytul Maqdis dan di sekitar Baytul Maqdis.“
(HR. Ahmad, Musnad Aḥmad, 36/657, no: 22320; Al-Arna’ūṭh berkata: “Hadits ini ṣoḥīḥ li-ghoyrih (shohīh karena ada penguat dari jalur lain.” Disebutkan oleh Al-Albāny dalam Silsilah al-Aḥādīṡ aṣ-Ṣoḥīḥah wa Shay’un min Fiqhihā wa Fawā’idihā“, 4/600, no: 1957)
[29] «تفسير الطبري» (11/ 226): = “Tafsir al-Thobari”, (11/226)
[30] «تفسير الطبري» (11/ 548) = “Tafsir ath-Thobari”, (11/548)
[31] «تفسير الطبري» (11/ 487) = Tafsir ath-Thobari, (11/487)
[32] «تفسير الطبري» (19/ 38) = “Tafsir al-Thobary”, (19/38)
[33] «سنن الترمذي» بَابُ مَا جَاءَ فِي العِيِّ (4/ 375) برقم: 2027 صححه الألباني = Sunan At-Tirmidzi, Bab tentang Apa yang Telah Diriwayatkan tentang Buruk Lisan (4/375), no: 2027, dishohihkan oleh Al-Albãny.
[34] «صحيح البخاري» بَابُ حُبُّ الْأَنْصَارِ (5/ 32) برقم: «3784» و«صحيح مسلم» بَاب الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ حُبَّ الأَنْصَار وَعَلِيٍّ رضي الله عنهم مِنَ الإِيمَانِ وَعَلَامَاتِهِ. وَبُغْضِهِمْ مِنْ عَلَامَاتِ النِّفَاقِ (1/ 85 ت عبد الباقي) برقم: (74) = Shohih Al-Bukhōry, Bab tentang Kecintaan terhadap kaum Anshor, (5/32), no: 3784; dan Shohih Muslim, Bab tentang Bukti bahwa Kecintaan mereka terhadap kaum Anshor dan ‘Ali rodhiyallōhu ’anhu adalah merupakan Bagian dari Iman dan Salah Satu Tandanya, dan Kebencian terhadap Mereka adalah Tanda Kemunafikan (1/85), no: 74.
[35] «مسند أحمد» (18/ 208 ط الرسالة) برقم: 11668 قال الأرنؤوط: حديث صحيح لغيره = “Musnad Ahmad”, (18/208), no: 11668. Al-Arna’ũth= berkata: “Hadits ini shohih karena adanya dalil-dalil yang mendukungnya”.
[36] «صحيح مسلم» بَاب الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ حُبَّ الأَنْصَار وَعَلِيٍّ رضي الله عنهم مِنَ الإِيمَانِ وَعَلَامَاتِهِ. وَبُغْضِهِمْ مِنْ عَلَامَاتِ النِّفَاقِ (1/ 86 ت عبد الباقي) برقم: (78) = Shohih Muslim, Bab tentang Dalil bahwa Mencintai kaum Anshor dan ‘Ali (rodhiyallōhu ‘anhu) merupakan bagian dari iman dan salah satu tanda-tandanya, dan membenci mereka merupakan salah satu tanda-tanda kemunafikan, (1/86), no: 78.
[37] «سنن النسائي» باب علامة المنافق (8/ 198) برقم: 5022 = “Sunan an-Nasã’i”, Bab tentang Tanda-tanda Orang Munãfiq, (8/198), no: 5022,
[38] النووي (ت 676هـ)، «شرح النووي على مسلم» (2/ 64) = An-Nawawi (wafat 676 H), “Syarh An-Nawawi “ala Muslim”, (2/64)
[39] «تفسير الطبري» أبو جعفر محمد بن جرير الطبري (224 – 310 هـ) (11/ 492) = Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thobary [224-310 H], “Tafsir ath-Thobary“, (11/492).
[40] Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ (15) وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (16)
(15) “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kãfir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur); (16) Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allõh, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.”
(QS. Al-Anfal/8: 15-16)
[41] «سنن أبي داود» باب في التشديد في ترك الجماعة (1/ 150 ت محيي الدين عبد الحميد) برقم: 550 = Sunan Abu Dawud, Bab tentang Keburukan akibat Meninggalkan Sholat Berjama’ah (1/150), no: 550
[42] «صحيح البخاري» بَابُ عَلَامَةِ الْمُنَافِقِ (1/ 16) برقم: 34 و بَابٌُ: إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ (3/ 131) برقم: «2459» و«صحيح مسلم» بَاب بَيَانِ خِصَالِ الْمُنَافِقِ (1/ 78 ت عبد الباقي) برقم: (58) = Shohih Al-Bukhōry, Bab tentang Tanda-Tanda Orang Munãfiq, (1/16), no: 34; dan Bab tentang Ketika Dia (Orang Munãfiq) Berdebat dan Menjadi Kasar (3/131), no: 2459; dan Shohih Muslim, Bab tentang Menjelaskan Karakteristik Orang Munãfiq, (1/78), no: 58.
[43] «صحيح البخاري» بَابُ عَلَامَةِ الْمُنَافِقِ (1/ 16) برقم: «33» وبَابُ مَنْ أَمَرَ بِإِنْجَازِ الْوَعْدِ (3/ 180) برقم: «2682» وبَابُ قَوْلِ اللهِ تَعَالَى: {مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ} (4/ 5) برقم: «2749» وبَابُ قَوْلِ اللهِ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} وَمَا يُنْهَى عَنِ الْكَذِبِ (8/ 25) برقم: «6095» و«صحيح مسلم» بَاب بَيَانِ خِصَالِ الْمُنَافِقِ (1/ 78 ت عبد الباقي) برقم: (59) = “Shohih Al-Bukhōry”, Bab tentang Tanda-Tanda Orang Munãfiq, (1/16), no: 33; dan Bab tentang Orang yang Memerintahkan Pemenuhan Janji, (3/180), no: 2682; dan Bab tentang Firman Allōh Subhãnahu Wa Ta’ãlã: {setelah Wasiat apa pun yang [mungkin] telah dibuatnya atau hutang}, (4/5) no: 2749; dan Bab tentang Firman Allōh Subhãnahu Wa Ta’ãlã: {Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allōh dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur} dan Bab tentang Apa yang Dilarang terkait dengan Berbohong (8/25), no: 6095. Dan “Shohih Muslim”, Bab tentang Deskripsi Karakteristik Orang Munãfiq (1/78), no: 59.
[44] أبو الفضل (ت 544هـ)، «إكمال المعلم بفوائد مسلم» (1/ 314) = Abu al-Fadhl (wafat 544 H), “Ikmāl al-Mu’allim bi-Fawā’id Muslim”, (1/314).
[45] القرطبي (578 – 656 هـ)، «المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم» (1/ 250) = Al-Qurthubi (578-656 H), “Al-Mufhim limã Asykala min Talkhish Kitãb Muslim”, (1/250)
[46] النووي (ت 676هـ)، «شرح النووي على مسلم» (2/ 46-48): = An-Nawawi (wafat 676 H), “Syarh An-Nawawi ‘alã Muslim”, (2/46-48).
[47] «صحيح البخاري» بَابٌ: الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ (7/ 71) برقم: 5394 و«صحيح مسلم» بَاب: الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ (3/ 1631 ت عبد الباقي) برقم: (2060) = “Shohih Al-Bukhōry” Bab tentang Orang Beriman Makan dengan Satu Perut, (7/71), no: 5394; dan “Shohih Muslim” Bab tentang Orang Beriman Makan dengan Satu Perut, dan Orang Kafir Makan dengan Tujuh Perut, (3/1631), no: 2060.
[48] Allõh سبحانه وتعالى berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithõn dan syaithõn itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Isrō’17: 27)
[49] ابن جرير الطبري (224 – 310 هـ)، «تفسير الطبري» (7/ 280) = Ibnu Jarir ath-Thobari [224-310 H], “Tafsir ath-Thobari”, (7/280)
[50] «تفسير الطبري» (11/ 550) = “Tafsir ath-Thobari”, (11/550).
[51] صفة النفاق ونعت المنافقين لأبي نعيم (ص63) = Abu Nu’aim al-Ashfahany, Shifat an-Nifaq wa Na’t al-Munafiqin li Abu Nu’aim, hal. 63
[52] «الإحسان في تقريب صحيح ابن حبان» «ذِكْرُ الْبَيَانِ بِأَنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَا يُفْضُلُونَ الشُّهَدَاءَ إِلَّا بِدَرَجَةِ النُّبُوَّةِ فَقَطْ (10/ 519) برقم: 4663 = Al-Ihsan fi Taqrib Shohih Ibnu Hibban, (10/519), no: 4663
[53] «تفسير الطبري» (18/ 367) = Tafsir Ath-Thobari, (18/367)
[54] «تفسير الطبري» (23/ 110) = Tafsir Ath-Thobari, (23/110)
[55] ابن قيم الجوزية (ت 751هـ)، «مدارج السالكين» (1/ 365 ط الكتاب العربي) = Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], “Madarij as-Salikin”, (1/365).
[56] ابن قيم الجوزية (ت 751هـ)، «مدارج السالكين» (1/ 365 ط الكتاب العربي) = Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], “Madarij as-Salikin”, (1/365).
[57] ابن قيم الجوزية (ت 751هـ)، «مدارج السالكين» (1/ 365 ط الكتاب العربي) = Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], “Madarij as-Salikin”, (1/365).
[58] ابن قيم الجوزية (ت 751هـ)، «مدارج السالكين» (1/ 365 ط الكتاب العربي) = Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah [wafat 751 H], “Madarij as-Salikin”, (1/365).
[59] ابن قيم الجوزية (ت 751هـ)، «الوابل الصيب» (ص80) = Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H), “Al-Wãbil ash-Shoyyib”, hal. 80.
[60] ابن قيم الجوزية (ت 751هـ)، «الوابل الصيب» (ص80) = = Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H), “Al-Wãbil ash-Shoyyib”, hal. 80.
[61] ابن جرير الطبري (224 – 310 هـ)، «تفسير الطبري» (21/ 223) = Ibnu Jarir ath-Thobari [224-310 H], “Tafsir ath-Thobari”, (21/223)
[62] «سنن الترمذي» (2/ 7) برقم: 241 = Sunan At-Tirmidzi, (2/7), no: 241
[63] «صحيح مسلم» (1/ 453 ت عبد الباقي) برقم: (654) = Shohih Muslim, (1/453), no: 654.
[64] «المعجم الكبير للطبراني» (4/ 5) برقم: 3475 = Al-Mu’jam al-Kabir li ath-Thobroni, (4/5), no: 3475
[65] «مجمع الزوائد ومنبع الفوائد» (9/ 410) برقم: 16147 = “Majma’ az-Zawã’id wa Manba’ al-Fawã’id”, (9/410), no: 16147.
[66] «سنن أبي داود» (2/ 91 ت محيي الدين عبد الحميد) برقم: 1546 ضعفه الألباني = “Sunan Abu Daud” (2/91), no: 1546. Hadits ini dinilai lemah oleh Al-Albãny.
[67] «سنن النسائي» باب الاستعاذة من الشِّقاق والنِّفاق وسوء الأخلاق (8/ 476) برقم: 5470 قال المحقق: صحيح لغيره = “Sunan An-Nasã‘i“, Bab tentang Memohon Perlindungan dari Perselisihan, Kemunafikan, dan Akhlaq yang Buruk, (8/476), no: 5470. Peneliti (muhaqqiq) menyatakan: Hadits ini shohih li ghoirihi (shohih karena didukung oleh riwayat lain)
[68] “Sunan Abu Daud” (2/91), no: 1546. Hadits ini dinilai lemah oleh Al-Albãny.
[69] “Sunan An-Nasã‘i“, Bab tentang Memohon Perlindungan dari Perselisihan, Kemunafikan, dan Akhlaq yang Buruk, (8/476), no: 5470. Peneliti (muhaqqiq) menyatakan: Hadits ini shohih li ghoirihi (shohih karena didukung oleh riwayat lain)
[70] «المستدرك على الصحيحين» (1/ 712) برقم: 1944 قال: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ = “Al-Mustadrok ‘alã ash-Shohĩhayn”, (1/712), no: 1944: Al-Hakim menyatakan: “Hadits ini shohih menurut kriteria Al-Bukhōry dan Muslim, tetapi mereka tidak memasukkannya ke dalam kumpulan/kolelsi mereka.”
[71] «مجمع الزوائد ومنبع الفوائد» (10/ 143) برقم: 17172 = Majma’ al-Zawa’id wa Manba’ al-Fawã‘id, (10/143), no: 17172.
[72] «الجامع الصغير وزيادته» (ص2165 بترقيم الشاملة آليا) برقم: «2165» و«صحيح الجامع الصغير وزيادته» (1/ 276) برقم: «1285» = Al-Jami’ ash-Shoghĩr wa Ziyadatuhu, hal. 2165, no: 2165; dan Shohĩh al-Jami’ ash-Shoghĩr wa Ziyadatuhu, (1/276), no: 1285.
[73] Al-Mustadrok ‘alãash-Shohĩhayn, (1/712), no: 1944. Al-Hakim menyatakan: “Hadits ini shohih menurut kriteria Al-Bukhōry dan Muslim, tetapi mereka tidak memasukkannya ke dalam kumpulan/ kolelsi mereka.”
[74] Majma’ al-Zawã‘id wa Manba’ al-Fawã‘id, (10/143), no: 17172.
[75] Al-Jami’ ash-Shoghĩr wa Ziyadatuhu, hal. 2165, no: 2165; dan Shohĩh al-Jami’ ash-Shoghĩr wa Ziyadatuhu, (1/276), no: 1285.
*******o0o*******
Silahkan Download PDF: https://archive.org/download/finale-bahaya-nifaq-orang-munafiq-menurut-al-quran/FINALE%20BAHAYA%20NIFAQ%20%26%20ORANG%20MUNAFIQ%20MENURUT%20AL-QURAN.pdf














