Skip to content

TEXT: “Dholãl” (Orang yang Sesat) menurut Al-Qur’an

8 August 2024

(Resume Ceramah BM 13072024)

DHOLAL (ORANG SESAT MENURUT AL-QUR’AN)

Oleh: Ustadz Dr. Achmad Rofi’i, Lc. MM.Pd

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allōh سبحانه وتعالى,

Setelah mengkaji perkara Islam – Iman – Ihsan secara berurutan dalam kurun waktu yang sekian lamanya, maka kita kali ini telah sampai pada pembahasan yang berkenaan dengan Bab Pemadam Iman; dimana Bab ini haruslah disikapi bahasannya dengan hati-hati (terutama di dalam kehidupan sehari-hari), agar janganlah sampai kita terjatuh kedalamnya yang dapat berujung pada kemurkaan Allōh سبحانه وتعالى.

Dalam Bab Pemadam Iman, kita pekan ini akan membahas tentang “Dholãl” (kesesatan); dimana seorang manusia dapat tersesat disebabkan oleh 2 hal: 1) Keyakinannya yang Menyimpang; dan 2) Praktek Hidupnya yang Keliru / Menyimpang, yang jauh dari Tuntunan Allōh dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم.

Kita akan membahas “dholãl (kesesatan)” ini dalam 2 bahasan, yakni: 1) Dari sisi Pengertian “dholãl” menurut Al-Qur’an; dan 2) Dari sisi Penyebab “dholãl” menurut Al-Qur’an. Adapun akibatdholãl (sesat)” itu pastilah berujung kerugian dan kemurkaan Allōh سبحانه وتعالى (dijelaskan pada Bahasan ke-3), lalu bagaimana agar terhindar dari tergolong “dholãl (sesat)” adalah pada Bahasan ke-4.

I. BERAGAM PENGERTIAN “DHOLAL”

Tabel-1 : Berbagai Makna “Dholãl” menurut Al-Qur’an

Kata “Dholãltidak selamanya bermaknaKufur” di dalam Al-Qur’an, namun ternyata ada 11 arti dari kata “Dholãlmenurut Al-Qur’an (berdasarkan konteks makna ayat yang terkait), yakni:

1) Makshiyah/Maksiat

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allōh dan Rosũl-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allōh dan Rosũl-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

(QS. Al-Ahzab/33: 36)

Dalam ayat ini, Allōh سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa apabila Mu’min (laki-laki ataupun perempuan) mengambil keputusan diluar keputusan yang telah Allōh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم tetapkan, maka mereka dapat terjatuh kedalam “Dholãl” yang bermakna “Makshiyah / Maksiat”, yang tergantung kadar besar atau kecilnya Maksiat tersebut; apabila Kadar Maksiatnya Besar maka pada akhirnya dapat pula terjatuh kepada “Kufur (Dholãlam Mubĩ / ضَلَالًا مُبِينًا )”.

2) Kufur

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُ ۗ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rosũl kamu seperti Bani Isro’ĩl meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.

(QS. Al-Bãqoroh/2: 108)

Kemaksiatan terhadap Allōh سبحانه وتعالى yang dimaksud dalam ayat ini adalah tergolong yang Besar, karena telah menukar Iman dengan Kekufuran. Ayat ini menyinggung keadaan orang Kafir yang tidak mau beriman, baik dari kalangan Yahudi, Nashroni, Musyrikin, ataupun dari kalangan orang yang tadinya beriman lalu memilih Murtad dari Islam; maka dinyatakan Allōh سبحانه وتعالى sebagai “telah sesat dari jalan yang lurus / ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ / dhollã sawã’a as-sabĩl”.

3) Lupa

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan Hutang Piutang (bermu’amalah tidak secara tunai) untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allōh mengajarkan kepadanya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allōh Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhoi, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya

(QS. Al-Bãqoroh/2: 282)

Ayat ini terkait perkara Hutang Piutang, dimana dalam perkara Hutang Piutang hendaknya tertulis disertai adanya saksi-saksi. Dalam ayat ini, kata “tadhilla / تَضِلَّ ” adalah bermakna “Lupa”; sehingga kadarnya tentulah tidak sebesar / tidak seberat sebagaimana dalam QS. Al-Bãqoroh/2: 108 diatas.

4) Syaithōn Menyesatkan Manusia (Ghiwayah)

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (60) وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا ۖ أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ  (62)

(60) “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani ‘Adam supaya kamu tidak menyembah syaithōn? Sesungguhnya syaithōn itu adalah musuh yang nyata bagi kamu“, (61) dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. (62) Sesungguhnya syaithōn itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?

(QS. Yãsin/36: 60-62)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa apabila setiap makhluq yang diperintah Allōh سبحانه وتعالى untuk beribadah hanya kepada-Nya, namun sebaliknya ia beribadah kepada selain Allōh سبحانه وتعالى, maka berarti ia telah disesatkan oleh syaithōn.

5) Berujung Rugi

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ (23) إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (24) فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا نِسَاءَهُمْ ۚ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (25)

(23) “Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, (24) kepada Fir’aun, Haman dan Qorun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”. (25) Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: “Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka”. Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka).” 

(QS. Ghofir/40: 23-25)

Dalam ayat ini, “dholãl” bermakna “berujung kerugian”; yang contohnya terdapat dalam kisah Fir’aun, Haman dan Qorun yang dahulu mereka menolak dakwah Tauhid yang diserukan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam; bahkan Fir’aun memerintahkan untuk membunuhi anak laki-laki dari kalangan orang-orang yang beriman kala itu. Maka Allōh سبحانه وتعالى menegaskan dalam ayat ini bahwa tipu daya orang-orang Kafir akan berujung pada kerugian belaka bagi mereka sendiri.

6) Sengsara

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِالنُّذُرِ  (23) فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ (24)

(23) Kaum Tsamud pun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). (24) Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) diantara kita?” Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila“.

(QS. Al-Qomar/54: 23-24)

Adapun “dholãl” dalam ayat ini bermakna “sengsara”, sebagaimana kaum Tsamud yang berujung sengsara akibat menolak dakwah Tauhid dari Nabi utusan Allōh سبحانه وتعالى.

7) Tertolak (Buthlan)

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ

Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allōh, Allōh menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka.

(QS. Muhammad/47: 1)

Kata “dholãl” dalam ayat ini adalah terkait dengan kondisi dimana orang-orang Kafir yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allōh, maka Allōh سبحانه وتعالى pun akan menjadikan amalan orang-orang Kafir itu tertolak.

8) Tersesat Jalan

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (١٧) وَلا يَسْتَثْنُونَ (١٨) فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (١٩) فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ (٢٠) فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ  (٢١) أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ (٢٢) فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ (٢٣) أَنْ لا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ (٢٤) وَغَدَوْا عَلَى حَرْدٍ قَادِرِينَ (٢٥) فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ (٢٦) بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ (٢٧) إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (١٧) وَلا يَسْتَثْنُونَ (١٨) فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (١٩) فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ (٢٠) فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ  (٢١) أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ (٢٢) فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ (٢٣) أَنْ لا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ (٢٤) وَغَدَوْا عَلَى حَرْدٍ قَادِرِينَ (٢٥) فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ (٢٦) بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ (٢٧)

(17) “Sungguh, Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil)nya pada pagi hari, (18) tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, “In sya Allōh”), (19) Lalu kebun itu diliputi bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, (20) Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, (21) lalu pada pagi hari mereka saling memanggil. (22) “Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasil.” (23) Maka mereka pun berangkat sambil berbisik-bisik. (24) “Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin masuk ke dalam kebunmu.” (25) Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya). (26) Maka ketika mereka melihat kebun itu, mereka berkata, “Sungguh, kita ini benar-benar orang-orang yang sesat, (27) bahkan kita tidak memperoleh apa pun.

(QS. Al-Qolam/68: 17-27)

Dalam ayat ini, kata “dholãl” bermakna “tersesat jalan”, dimana terkait dengan kondisi suatu kaum yang dikaruniai Allōh سبحانه وتعالى alam yang subur nan makmur, namun manakala mereka tidak beriman pada Allōh سبحانه وتعالى, maka Allōh pun menghalangi mereka dari menikmati hasil alam (kebun-kebun) mereka.

9) Mati & Dikubur (Kematian)

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

وَقَالُوا أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۚ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ

Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?” Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya.

(QS. As-Sajdah/32: 10)

Kata “dholãl” dalam ayat ini bermakna “kematian (mati dan dikubur)”, dimana terkait dengan kondisi suatu kaum yang tidak beriman pada Hari Kebangkitan.

10) Bodoh / Khilaf

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ  (18) وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (19) قَالَ فَعَلْتُهَا إِذًا وَأَنَا مِنَ الضَّالِّين (20)

(18) “Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu diantara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. (19) dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna. (20) Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang bodoh (Khilaf).

(QS. Asy-Syu’aro/26: 18-20)

Kata “dholãl” dalam ayat ini bermakna “bodoh / khilaf”, dimana Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab tuduhan Fir’aun bahwa seakan tidak membalas budi pada Fir’aun; padahal justru dakwah Tauhid yang diserukan Nabi Musa ‘alaihissalam itulah Kebenaran dan Kebaikan yang sesungguhnya, bukan sebagaimana di masa lalu yang justru berada dalam posisi bodoh / khilaf dari petunjuk Allōh سبحانه وتعالى.

11) Taqlid pada Budaya Nenek Moyang (yang Tidak Sesuai Tuntunan Syari’at Allōh)

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ (58) إِلا مَوْتَتَنَا الأولَى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (59) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (60) لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ (61) أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ (62) إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ (63) إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ (64) طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ (65) فَإِنَّهُمْ لآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ (66) ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ (67) ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لإلَى الْجَحِيمِ (68) إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ (69) فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ (70) وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الأوَّلِينَ (71) وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِمْ مُنْذِرِينَ (72) فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ (73) إِلا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ (74)

(58) Maka apakah kita tidak akan mati, (59) melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (60) Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang agung. (61) Untuk kemenangan serupa ini hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal’. (62) (Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. (63) Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang dzolim. (64) Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim (Neraka yang menyala), (65) mayangnya seperti kepala setan-setan. (66) Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. (67) Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. (68) Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar Neraka Jahim. (69) Karena sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat. (70) Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak nenek moyang mereka itu. (71) Dan sesungguhnya sebelum mereka (suku Quraisy) telah sesat sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, (72) dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (rosũl-rosũl) di kalangan mereka. (73) Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. (74) Kecuali hamba-hamba Allōh yang dibersihkan (dari dosa).

(QS. Ash-Shoffãt/37: 58-74)

Kata “dholãl” dalam ayat ini terkait kondisi kaum yang menjadi “sesat karena taqlid pada budaya nenek moyang yang tidak sesuai tuntunan Syari’at Allōh”. Di zaman sekarang pun bukankah yang seperti ini masih banyak dilakukan oleh ummat ini? Ada yang di KTP-nya tertulis Muslim, ia mengaku dirinya Muslim, namun pada saat bersamaan ia melakukan ritual sesembahan pada Nyi Roro Kidul, melakukan ruwatan, memberikan “sedekah gunung” (yaitu: memberi sesajen pada selain Allōh, yang dianggapnya sebagai penjaga gunung), dan lain sebagainya dari budaya nenek moyang yang bernuansa kesyirikan; yang itu semua adalah bertolak belakang dengan makna men-Tauhid-kan Allōh dan itu semua adalah justru dapat berujung kedalamdholãl / sesatyang dikecam Allōh سبحانه وتعالى.

II. PENYEBAB “DHOLAL/SESAT”

Adapun “Dholãl” yang akan kita bahas berikut ini adalah “Dholãldalam artianSesat yang sesungguh-sungguhnya” (“Sesat yang Nyata”), dimana diantara penyebabnya adalah 16 perkara berikut ini:

1) Nashoro

Allōh سبحانه وتعالى berfirman dalam ayat berikut bahwa kaum Yahudi adalah kaum yang dimurkai Allōh, sedangkan kaum Nashoro adalah kaum yang tersesat menurut Allōh :

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (– Yahudi –) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (–Nashoro –).

(QS. Al-Fatihah/1: 7)

Dan hal itu pun juga dijelaskan dalam Hadits berikut ini, bahwa Rosũlullōh صلى الله عليه وسلم bersabda:

اليَهُودُ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ ‌وَالنَّصَارَى ‌ضُلَّالٌ

Yahudi adalah kaum yang dimurkai (Allōh), sedangkan Nashoro adalah kaum yang tersesat.

(HR. At-Turmudzi no: 2954, dishohihkan oleh Al-Albãny)

Ayat dan Hadits diatas merupakan kaidah tuntunan yang jelas bagi kaum Muslimin dalam menetapkan sikap Al-Wala’ wal Baro’, suatu perkara yang sangat penting disaat ini, terutama di masa ketika Fitnah Akhir Zaman merebak dalam skala yang masif dalam berbagai lini kehidupan, seperti: banyaknya penyebaran paham Sekulerisme – Pluralisme (saat ini “Pluralisme”, kerap diistilahkan juga sebagai: “Moderasi Agama”) – Liberalisme, Komunisme, Atheisme, Kapitalisme, dan aneka ragam isme / paham-paham yang bertentangan dengan Al-Islam. Allōh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم telah memperingatkan agar kaum Muslimin janganlah mengikuti Yahudi dan Nashroni, baik dalam keyakinan, maupun dalam perilaku kehidupan mereka yang tidak sesuai dengan tuntunan Allōh & Rosũl-Nya.

Paham Pluralisme Agama yang banyak disebarkan saat ini, yang berkedok “penyatuan agama-agama dunia / interfaith religion / sinkretisme agama”, juga ungkapan-ungkapan seperti “semua agama sama”; maka itu semua pada dasarnya adalah bertentangan dengan peringatan Allōh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم dalam ayat dan Hadits ini. Karena agama yang diridhoi Allōh سبحانه وتعالى hanyalah Al-Islam; para Nabi dan Rosũl utusan Allōh سبحانه وتعالى sejak dahulu, baik dari zaman Nabi ‘Ibrohim ‘alaihissalam, Nabi Musa ‘alaihissalam, Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, hingga penutup para Nabi yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, semuanya menyerukan Al-Islam” yakni berupa dakwah Tauhid agar manusia hanya beribadah pada Allōh سبحانه وتعالى saja.

2) Mengikuti Hawa Nafsu

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ قُلْ لَا أَتَّبِعُ أَهْوَاءَكُمْ ۙ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allōh”. Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.”

(QS. Al-An’ãm/6: 56)

Tuhan-tuhan selain Allōh” itu ada yang nampak berupa: patung-patung berhala / pohon / binatang / manusia / hukum dan perundang-undangan yang bertentangan syari’at Allōh / benda-benda yang dikeramatkan lalu disembah manusia, dan lain sebagainya; padahal itu semua tidaklah dapat menghindarkan manusia dari mudhorot ataupun memberikan maslahat sedikitpun tanpa idzin Allōh سبحانه وتعالى. Dan ada pula “Tuhan-tuhan selain Allōh” yang tidak nampak, berupa: “Hawa Nafsu”.

Ayat ini menjelaskan bahwa penyebab sesat yang nyata, diantaranya adalah Mengikuti Hawa Nafsu yang bertentangan dengan petunjuk Allōh سبحانه وتعالى. Dan Hawa Nafsu ini banyak sekali jenisnya, bisa Hawa Nafsu diakibatkan syahwat terhadap Harta, Jabatan / Kekuasaan, Makanan / Minuman, juga berupa kecintaan berlebihan terhadap Wanita / Anak-Anak / Keluarga sehingga terjerembab menempatkan mereka diatas Kehendak dan Kepentingan Allōh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم; maka perkara ini semua terancam “dholãl” sebagaimana yang diperingatkan dalam ayat ini.

Dengan demikian “Mengikuti Hawa Nafsu Manusia yang bertentangan dengan Syari’at Allōh” itu adalah penyebab sesat secara globalnya; lalu diantara Mengikuti Hawa Nafsu” itu ada yang dapat berujung pada sesat yang nyata berupa Syirik.

3) Mengikuti Mayoritas Manusia

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ (116) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (117)

(116) “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allōh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allōh). (117) Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesal dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS. Al-An’ãm/6: 116-117)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa “Mengikuti Mayoritas Manusia”adalah diantara“penyebab sesat yang nyata”; karena seharusnya yang menjadi patokan adalah bukan mengikuti mayoritas manusia dari sisi kwantitas, akan tetapi hendaknya mengikuti Kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah diatas Pemahaman yang Benar (yakni diatas Pemahaman 3 generasi awal Salafush Sholih, dari kalangan: Shohabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in) walaupun minoritas pengikutnya, bila dinilai dari sisi kwalitas Iman.

Jadi bukan kwantitas manusia yang hidup diatas prasangka yang keliru terhadap Allōh yang menjadi penentu keberpihakan, akan tetapi Kebenaran diatas Wahyu serta kwalitas Iman yang Lurus lah yang hendaknya menjadi penentu keberpihakan. Oleh karena itu sistem demokrasi liberal yang berdasarkan “suara terbanyak” dengan cara “one man one vote” dalam memilih pemimpin itu adalah tidak sesuai dengan petunjuk Allōh سبحانه وتعالى; karena sistem demokrasi liberal itu menyamakan suara orang sholih dengan suara orang yang kafir/musyrik – pezina – pemabuk – pencuri/koruptor, dan hal itu pada akhirnya menjadikan terpilihnya bukan orang yang shōlih, dan berujung pula pada kerusakan ummat ketika ummat dipimpin oleh bukan orang yang shōlih yang tidak menjadikan syari’at Allōh sebagai landasan kebijakannya dalam menentukan berbagai perkara.

4) Cinta pada Dunia

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat,dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allōh dan menginginkan agar jalan Allōh itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.

(QS. Ibrohim/14: 3)

Dalam ayat ini, penyebab sesat yang nyata antara lain adalah “Cinta pada Duniayang berlebihan, dan melupakan Akherat; sehingga muncullah paham: Materialisme, Kapitalisme; dimana dunia dijadikan fokus tujuan hidup seseorang sehingga ia tidak peduli untuk mendzolimi orang lain, ia tidak peduli dengan cara-cara Harom demi memperoleh dunianya, bahkan sampai tahap bunuh-membunuhi orang lain karena ia tidak ingin berbagi dunianya dengan orang lain; seakan-akan semua dunia harus diraupnya dan dijadikan milik dirinya sendiri. Itulah akibat dari menjadikan dunia sebagai fokus tujuan hidupnya. Ia lupa bahwa Dunia adalah Fana, sedangkan Akherat lah yang Kekal. Dan ia lupa bahwa di Hari Akherat kelak, Allōh سبحانه وتعالى akan meng-Hisab manusia atas segala perbuatannya selama hidup di dunia ini, dan akan ada pula Qishosh diantara makhluq yang dzolim mendzolimi di Hari Akherat kelak.

5) Menghalangi Manusia dari Jalan Allōh

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allōh dan menginginkan agar jalan Allōh itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.

(QS. Ibrohim/14: 3)

Diantara penyebab sesat yang nyata antara lain adalah “Menghalangi manusia dari jalan Allōh”, ini dilakukan dengan banyak cara seperti: ketika ada orang yang memperjuangkan Syari’at Allōh justru dikriminalisasi olehnya, kalau ada orang yang berusaha menjadi shōlih dan rajin beribadah ke masjid justru difitnah olehnya dan diberinya julukan “bibit radikal”, dan aneka fitnah terhadap orang-orang beriman; yang itu semua tujuannya adalah menghalangi manusia dari jalan Allōh سبحانه وتعالى yang sangat dikecam Allōh sebagaimana dalam ayat ini

6) Mencoreng Indahnya Islam / Menjelekkan Islam

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allōh dan menginginkan agar jalan Allōh itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.

(QS. Ibrohim/14: 3)

Juga diantara penyebab sesat yang nyata antara lain adalah “Menginginkan agar jalan Allōh itu bengkok”, seperti: menjelekkan syari’at Islam, mencegah penegakan syari’at Islam, menakut-nakuti manusia dengan aneka syubhat bahwa Islam tidak relevan dengan perkembangan zaman, menyebarkan Islamophobia, dan aneka sikap merusak terhadap syari’at Allōh سبحانه وتعالى.

7) Memperdebatkan tentang Hari Kiamat

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ ۗ أَلَا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ لَفِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

Orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa Kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya Kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.”

(QS. Asy-Syuro’/42: 18)

Diantara penyebab sesat yang nyata antara lain adalah “Memperdebatkan tentang Hari Kiamat”; contohnya adalah sikap orang-orang yang apabila disampaikan padanya dalil berkenaan dengan adanya Hari Kiamat/Hari Akherat maka ia justru mencela para da’i penyeru Wahyu Allōh tersebut dengan berkilah, “Jangan sok tahu, apakah kamu sendiri sudah pernah melihat surga dan neraka?” dan aneka bentuk cemoohan lainnya yang pada dasarnya menunjukkan bahwa ia tidak beriman pada adanya Hari Kiamat/Hari Akherat.

8) Syirik & Menyembah Berhala

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosũl diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

(QS. Al-Jumu’ah/62: 2)

Dan ayat lain yang serupa dengannya, sebagaimana dalam QS. Ali ‘Imron/3: 164.

Karena Maha Penyayang-nya Allōh سبحانه وتعالى terhadap manusia dan makhluq ciptaan-Nya, maka Allōh سبحانه وتعالى selain menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi makhluq-Nya, Allōh pun mengutus serangkaian para Nabi dan para Rosũl, hingga penutup para Nabi yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk mensucikan ‘Aqidah manusia, mensucikan Akhlaq manusia,serta mengajari dan membimbing manusia dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah; karena tanpa ketiga hal itu manusia berpotensi menjadi tersesat dalam meniti kehidupannya.

Allōh سبحانه وتعالى mengutus Nabi ‘Ibrohim ‘alaihissalam yang menyeru kepada kaumnya dan bapaknya agar janganlah menyembah berhala, hal ini sebagaimana firman-Nya dalam ayat berikut ini:

۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dan (ingatlah) di waktu ‘Ibrohim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata“.

(QS. Al-An’am/6: 74)

Juga firman-Nya dalam ayat berikut:

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (51) إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ (52) قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ (53) قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (54)

(51) “Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada ‘Ibrohim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (52) (Ingatlah), ketika ‘Ibrohim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya? (53) Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”. (54) Ibrohim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”.”

(QS. Al-Anbiya/21: 51-54)

Bahkan dalam ayat berikut, Allōh سبحانه وتعالى mengkisahkan tentang seorang laki-laki shōlih yang mengingatkan kaumnya agar tidak berbuat syirik karena syirikadalah pintu kesesatan yang nyata:

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (20) اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (21) وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (24) إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ (25)

(20) “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. (21) Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (22) Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? (23) Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allōh) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudhorotan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? (24) Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. (25) Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.”

(QS. Yasin/36: 20-25)

9) Dzulm (Kedzoliman)

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا ۖ لَٰكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang dzolim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata.”

(QS. Maryam/19: 38)

Allōh سبحانه وتعالى juga berfirman:

هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ ۚ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Inilah ciptaan Allōh, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allōh. Sebenarnya orang-orang yang dzolim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.

(QS. Luqman/31: 11)

Dalam dua ayat ini, dijelaskan bahwa kedzoliman yang besar seperti Syirik adalah merupakan kesesatan yang nyata.

10) Berhati Keras

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allōh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allōh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

(QS. Az-Zumar/39: 22)

Dalam ayat ini, Allōh سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa orang-orang yang diberi Hidayah dan Taufiq dari-Nya itu akan lapang dadanya dalam menerima syari’at Allōh. Sebaliknya, orang yang selalu “ngeyel” / membantah / membangkang ketika disodorkan padanya petunjuk Allōh سبحانه وتعالى, syari’at Allōh سبحانه وتعالى; maka bisa jadi itu adalah pertanda bahwa orang tersebut telah Allōh palingkan dari cahaya petunjuk-Nya sehingga hatinya menjadi keras membatu. Seruan apapun yang mengajak pada Syari’at Allōh dibantahnya; padahal Syari’at Allōh itulah jalan keselamatan baginya, tak hanya di dunia namun juga di Hari Akherat kelak. Adapun selain Allōh dan selain Syari’at Allōh / hukum jahiliyyah (sebagai thoghut) yang diikutinya dan dibelanya mati-matian itulah yang justru dapat menyesatkan serta mencelakakan dirinya.

Maka waspadailah apabila gejala seperti ini ada pada diri seseorang, maka bisa jadi Allōh telah menutup hatinya sehingga hatinya menjadi keras membatu, tidak mau mendengar dan tidak mau menerima petunjuk Allōh سبحانه وتعالى.

11) Tidak Memenuhi Seruan Allōh

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الأرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَولِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (32)

(29) “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (30) Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (31) Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allōh dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allōh akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. (32) Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allōh maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allōh di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allōh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”

(QS. Al-Ahqof/46: 29-32)

Bahkan jin yang mendengar seruan Al-Qur’an, maka diantara mereka ada yang beriman lalu berdakwah pada kaumnya. Maka apalagi kita, manusia, hendaknya kita harus lebih berusaha keras agar menjadikan diri kita memenuhi seruan Al-Qur’an agar tidak tersesat.

12) Para Pemimpin yang Menyesatkan

Dalam Hadits Riwayat Ibnu Hibban no: 6714, “Shohih Ibnu Hibban” (15/109-110), dari shohabat Tsauban rodhiyallõhu ‘anhu bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda memperingatkan tentang bahaya adanya para Pemimpin yang Menyesatkan Ummat,melalui sabdanya antara lain:

وَإِنَّ مِنْ ‌أَخْوَفِ ‌مَا ‌أَخَافُ ‌عَلَى ‌أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ، وَإِنَّهُمْ إِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِيهِمْ لَمْ يُرْفَعْ عَنْهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي كَذَّابُونَ دَجَّالُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ، وَإِنِّي خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي، وَلَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ مَنْصُورَةٌ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ“.

Sungguh, diantara apa yang paling aku takutkan atas ummatku adalah para pemimpin yang menyesatkan. Sungguh, ketika perang telah diletakkan pada ummatku, maka ia tidak akan bisa diangkat hingga Hari Kiamat. Dan akan keluar dari ummatku, para Dajjal pembohong mendekati tiga puluh orang. Sedang aku adalah penutup para Nabi, tiada Nabi setelahku. Dan akan ada sekelompok kecil dari ummatku yang selalu menang diatas Kebenaran hingga datang Kiamat.”

Jadi dalam Hadits diatas, sangatlah jelas bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم telah memperingatkan ummatnya akan bahaya adanya para Pemimpin yang menyesatkan.

13) Fatwa Tanpa Ilmu

Dalam Hadits Riwayat Al-Imãm Muslim no: 6974, dari ‘Abdullõh bin ‘Amr bin Al-‘Ash  رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda,

عن عَبْد اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو مَارٌّ بِنَا إِلَى الْحَجِّ فَالْقَهُ فَسَائِلْهُ فَإِنَّهُ قَدْ حَمَلَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عِلْمًا كَثِيرًا – قَالَفَلَقِيتُهُ فَسَاءَلْتُهُ عَنْ أَشْيَاءَ يَذْكُرُهَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَ عُرْوَةُ فَكَانَ فِيمَا ذَكَرَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ مِنَ النَّاسِ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ فَيَرْفَعُ الْعِلْمَ مَعَهُمْ وَيُبْقِى فِى النَّاسِ رُءُوسًا جُهَّالاً يُفْتُونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ

Sesungguhnya Allõh tidak akan mencabut ‘ilmu begitu saja dari manusia, tetapi Allõh mencabut ‘ilmu itu melalui dimatikannya para ‘Ulama, sehingga jika tidak tersisa satu ‘alim pun, maka orang akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka. Jika mereka ditanya, maka mereka akan berfatwa tanpa ‘ilmu, sehingga mereka akan sesat dan menyesatkan orang lain.”

Dalam Hadits ini terdapat petunjuk bahwa para Pemimpin Ummat itu haruslah ‘Umaro dari kalangan ‘Ulama yang Robbani seperti dahulu para Khulafã’ur Rosyidin; atau minimal ‘Umaro dari kalangan orang-orang shõlih yang menjadikan Kitabullõh (Al-Qur’an) dan As-Sunnah sebagai rujukannya dalam memimpin ummat. Pemimpin Ummat itu haruslah memiliki sikap Amanah terhadap Jabatan / Kekuasaan yang diembannya, ia harus memahami bahwa Kekuasaan itu adalah Amanah dari Allōh سبحانه وتعالى yang kelak harus dipertanggungjawabkannya di Hari Akherat, sehingga ia tidak bersikap oportunis / “aji mumpung” yang memanfaatkan Jabatan tersebut demi kepentingan pribadi maupun kelompoknya belaka.

Apabila Pemimpin Ummat justru diambil dari kalangan orang-orang yang Jahil terhadap Syari’at Allōh, maka akan terjadi “chaos” / kekacauan, disebabkan karena orang tersebut akan berfatwa tanpa ilmu yang dapat menyebabkan tak hanya dirinya yang sesat, namun juga akan menyesatkan para pengikutnya.

14) Ajaran yang Diada-Adakan

Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم ketika hendak memulai khutbah, maka biasanya beliau صلى الله عليه وسلم mengucapkan:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullõh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلى الله عليه وسلمSejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” 

(HR. Muslim no: 867, dari Jãbir bin ‘Abdillãh رضي الله عنه)

Kemudian dalam Hadits Riwayat An-Nasã’i, Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allõh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dibiarkan sesat oleh Allõh, maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullõh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلى الله عليه وسلمSejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah; setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” 

(HR. An-Nasã’i no: 1578, di-shohihkan oleh Nashiruddin al-Albãny dalam Shohih wa Dho’if Sunnan An-Nasã’i)

Juga dalam Hadits lainnya:

قَالَ الْعِرْبَاضُ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ «أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ ‌وَمُحْدَثَاتِ ‌الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» واه أبو داود والترمذي

Dari Al-Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه, dia berkata: “Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم pernah memberikan nasehat kepada kami dengan sebuah nasehat yang menyebabkan hati kami bergetar dan air mata kami berlinang, lalu kami berkata: ‘Ya Rosũlullõh, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!” Beliau bersabda:“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allõh, mendengar dan taatlah kepada penguasa kalian (– penguasa diatas syari’at Islam – pent.), meskipun kalian diperintah oleh seorang budak Habasyi. Dan sesungguhnya siapa diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kalian pada sunnahku dan sunnah para Khulafã’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dari perkara (agama) yang diada-adakan, karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan itu adalah bid`ah, dan setiap perkara yang bid’ah adalah sesat.”

(HR. Abu Daud, no: 4607 dan HR. At-Tirmidzi, no: 2676)

Dalam Hadits-Hadits diatas, dijelaskan bahwa “Ajaran yang Diada-adakan” yang tidak ada landasan petunjuknya dari Allōh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم adalah dapat berpotensi menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Terutama Al-Bid’ah jenis Mukaffiroh, yang terkategorikan dapat menjadikan manusia keluar / Murtad dari Al-Islam, seperti berbagai paham Sekulerisme – Pluralisme – Liberalisme – Komunisme – Atheisme — Materialisme, dan aneka isme (paham) yang bertentangan dengan Al-Islam; dan juga berbagai pemahaman menyimpang dari kaum Syi’ah Rofidhoh, Ahmadiyah dan masih banyak lagi yang hendaknya diwaspadai oleh kaum Muslimin; karena itu semua dapat menggiring pada “dholãl/ kesesatan yang nyata.

15) Tidak Berpedoman pada Al-Qur’an

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.”

(QS. Az-Zumar/39: 41)

Dalam Hadits Riwayat Muslim, dari Zaid bin’Arqom رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَلَا وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. هُوَ حَبْلُ اللَّهِ. مَنِ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى. وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ‌ضَلَالَةٍ

Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian dua hal yang sangat penting, salah satunya adalah Kitabullōh (Al-Qur’an). Itu adalah tali Allōh (Tuhan kalian). Barangsiapa mengikutinya, maka ia akan berada di jalan yang lurus. Dan siapa pun yang meninggalkannya, maka dia akan terjerumus ke dalam kesesatan.”

(HR. Muslim no: 2408, dari Zaid bin Arqom رضي الله عنه)

Adapun dalam ayat dan Hadits diatas dijelaskan bahwa sangatlah penting untuk mengikuti pedoman Al-Qur’an, karena itu adalah Tali Allōh yang membimbing manusia ke jalan yang lurus. Barangsiapa yang menunjuki manusia ke jalan yang lurus, maka ia akan beroleh pahala dari sisi Allōh سبحانه وتعالى, ditambah dengan pahala dari siapapun yang ditunjukinya ke jalan yang lurus itu; namun barangsiapa yang menunjuki manusia kepada kesesatan maka ia akan memperoleh dosa, ditambah pula dosa dari siapapun yang diajaknya ke jalan kesesatan tersebut. Hal ini adalah sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

من دعا إلى هدى، كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا. ومن دعا إلى ‌ضلالة، كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه، لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

Barangsiapa menyeru (manusia) kepada petunjuk (Allōh) (Al-Qur’an), maka baginya pahalanya sama dengan pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak manusia kepada kesesatan, maka dosanya sama dengan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka.

(HR. Muslim no: 2674, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

16) Mengikuti Jejak Syaithon

Mengikuti Jejak Syaithon adalah dapat berujung pada kesesatan yang nyata, hal ini sebagaimana firman Allōh سبحانه وتعالى berikut ini:

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا (117) لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا (118) وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا (119) يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا (120) أُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا (121)

(117) Yang mereka sembah selain Allōh itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaithōn yang durhaka, (118) yang dilaknati Allōh dan syaithōn itu mengatakan: “Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untukku), (119) dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allōh), lalu benar-benar mereka meubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaithōn sebagai pelindung selain Allōh, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (120) Syaithōn itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaithōn itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (121) Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.”

(QS. An-Nisa’/4: 117-121)

Tabel-2 : Berbagai Penyebab Sesat yang Nyata

III. AKIBAT “DHOLAL/SESAT”

Akibat daripada “Dholãl / Sesat” adalah dapat berujung pada kemurkaan Allōh dan adzab-Nya, berupa Neraka Jahannam; sebagaimana firman-Nya dalam ayat berikut ini:

أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ (24) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ (25) الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ (26) قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ (27)

(24) “Allōh berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, (25) yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, (26) yang menyembah sembahan yang lain beserta Allōh maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat“. (27) Yang menyertai dia berkata (pula): “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”.

(QS. Qof/50: 24-27)

Dan firman-Nya dalam ayat berikut ini:

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ (91) وَقِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (92) مِنْ دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنْصُرُونَكُمْ أَوْ يَنْتَصِرُونَ (93) فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ (94) وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ (95) قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ (96) تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (97)

(91) Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat, (92) dan dikatakan kepada mereka: “Dimanakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) (93) selain dari Allōh? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?” (94) Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, (95) dan bala tentara iblis semuanya. (96) Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka: (97) “demi Allōh, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata.”

(QS. Asy-Syu’aro/26: 91-97)

IV. AGAR TIDAK TERGOLONG “DHOLAL/SESAT”

Agar tidak terjatuh kedalam golongan orang yang sesat, maka hendaknya kaum Muslimin memperhatikan beberapa langkah berikut ini:

1) Ikuti Petunjuk Allōh, karena Petunjuk Allōh adalah Petunjuk yang Sebenarnya

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allōh, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudhorotan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allōh memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaithōn di bumi dalam keadaan kebingungan, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami”. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allōh itulah (yang sebenar-benarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.

(QS. Al-An’am/6: 71)

Kemudian firman-Nya dalam ayat berikut ini:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا

Dan siapakah yang lebih dzolim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.

2) Do’a Agar Tidak Tergolong “Dholãl” / Orang yang Sesat

Terdapat do’a yang dapat dipanjatkan kepada Allōh سبحانه وتعالى agar terhindar dari kesesatan, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)“.

(QS. Ali ‘Imron/3: 8)

3) Agar Masuk kedalam kelompok “Al-Muhtadun / Orang-orang yang Diberi Petunjuk Allōh”

Agar kita kaum Muslimin dapat tergolong orang-orang yang diberi petunjuk Allōh سبحانه وتعالى dan terhindar dari kesesatan yang nyata, maka berikut inilah yang harus ditempuh.

Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (153) وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ (154) وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

(153) “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allōh beserta orang-orang yang sabar. (154) Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allōh, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (155) Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillãhi wa innã ilaihi rōji’ũn”. (157) Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS. Al-Bãqoroh/2: 153-157)

Allōh سبحانه وتعالى juga berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allōh ialah orang-orang yang beriman kepada Allōh dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allōh, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(QS. At-Taubah/9: 18)

Dan Allōh سبحانه وتعالى berfirman:

مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allōh), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rosũl.”

(QS. Al-Isro’/17: 15)

Kemudian Allōh سبحانه وتعالى juga berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

(QS. Az-Zumar/39: 41)

Sekian dulu bahasan pada kesempatan kali ini, mudah-mudahan Allōh سبحانه وتعالى selalu melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk istiqomah sampai akhir hayat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Sabtu shubuh, 7 Muharrom 1446 H – 13 Juli 2024 M.

*****oOo*****

Silahkan download PDF: https://archive.org/download/dholal-orang-yang-sesat-menurut-al-qur-an-fnle/DHOLAL%20-%20ORANG%20YANG%20SESAT%20MENURUT%20AL-QUR%27AN%20FNLE.pdf

No comments yet

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.