Skip to content

Mahabbah

13 August 2010

(Transkrip Ceramah AQI 190410)

MAHABBAH

Oleh: Ustadz Achmad Rofi’I, Lc.


بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Mahabbah adalah mengerjakan amalan-amalan yang menyebabkan Allooh cinta kepada kita, merupakan upaya agar kita bertaqwa kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Sebenarnya perkara tersebut sudah biasa kita laksanakan, akan tetapi kita bahas lagi untuk memperkuat (memperkokoh) ingatan kita kepada masalah Mahabbah ini. Bahwasanya yang menyebabkan amalan kita diterima oleh Allooh سبحانه وتعالى ada dua perkara :

1. Ikhlas. Bahwa amalan kita hanya untuk Allooh سبحانه وتعالى saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

2. Mengikuti Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Untuk perkara yang pertama diatas, adalah mudah untuk mengatakannya, tetapi tidak mudah bagi orang yang tidak mendapat hidayah dan taufiq dari Allooh سبحانه وتعالى. Ikhlas karena Allooh adalah perkara yang sangat sulit dilakukan oleh mereka para ’Ulama dan orang-orang shoolih. Maka wajar bila Ikhlas itu mudah diucapkan tetapi sulit dipraktekkan. Walau pun demikian, karena ikhlas adalah kunci diterima atau tidaknya amalan kita, kita selalu bermohon kepada Allooh سبحانه وتعالى agar kita dikaruniai ikhlas dalam perkataan dan perbuatan: ”Ya Allooh karuniakan kepada kami ikhlas dalam perkataan maupun perbuatan kami”.

Dalam do’a yang dipanjatkan oleh Umar bin Khoththoob, Amirulmu’minin  رضي الله عنه, seorang Khaliifah: ”Ya Allooh, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahui dan menyadarinya.  Dan aku bermohon ampun kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dari perkara yang tidak aku ketahui”.

Demikian berhati-hatinya mereka para ’Ulama dalam memproteksi diri dalam perkara Ikhlas. Dan ikhlas tidak perlu diucapkan.

Kata para ’Ulama: ”Orang yang mengatakan ”Ikhlas” dalam suatu perbuatan, maka sebetulnya ikhlasnya itu perlu pada ikhlas yang lain”.

Ikhlas bukan urusan mulut melainkan urusan hati, bukan urusan kita dengan manusia melainkan urusan kita dengan Allooh سبحانه وتعالى.

Dalilnya adalah  Surat Al Furqoon (25) ayat 23, Allooh سبحانه وتعالى berfirman :

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً

Artinya: ”Dan Kami akan perlihatkan segala amal*] yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”

*] Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia. Amal-amal itu tidakk diberi balasan oleh Allooh karena mereka tidak beriman.

Artinya, amalan itu akan berakhir dengan sia-sia (bagai debu beterbangan), karena amalan itu tidak ikhlas.

Surat An Nisaa’ (4) ayat 125 :

وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allooh, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allooh mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”

Surat Al Baqoroh (2) ayat 112 :

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allooh, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Artinya bahwa pahala, hilang dari rasa takut dan hilang dari rasa sedih, semuanya bukanlah perkara yang mudah. Zaman sekarang, orang sedang krisis rasa aman, krisis jiwa. Banyak orang yang tidak merasa aman jiwanya, merasa selalu ketakutan, tidak bahagia, bahkan mereka merasa sedih dan duka hatinya. Karena mereka tidak ber-pasrah diri kepada Allooh سبحانه وتعالى, tidak tulus  (ikhlas) dalam beramal.

Dalam Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya amalan itu disertai dengan niatnya (tergantung niatnya).” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dari ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه)

Mengikuti Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Ikhlas menjadi motivasi dan landasan dalam beramal, yang menjadi tujuan dan orientasi dari amalan kita. Semuanya itu untuk, dengan dan dari Allooh سبحانه وتعالى.

Tetapi prosedur, mekanisme, tehnis dan strategis yang harus dikerjakan oleh seorang hamba ketika beribadah kepada Allooh, tidak boleh ia mengarang sendiri, tidak boleh orang membuat aturan sendiri atau atas dasar kreatif dirinya sendiri. Tidak demikian.

Untuk urusan Din (agama) hukum asalnya adalah terpaku kepada Wahyu.

Dengan kalimat lain, segala urusan dan perkara Din semuanya sudah baku, terpaku pada panduan. Kalau panduan mengatakan boleh berarti boleh, kalau panduan mengatakan tidak boleh berarti tidak boleh. Dalam panduan ada ajarannya, maka dikerjakan. Tetapi bila dalam panduan tidak ada ajarannya, maka tidak boleh dikerjakan. Kalau ada perintah atau contohnya, maka dikerjakan. Kalau tidak ada perintah dan contohnya, jangan dikerjakan, karena yang demikian itu akan sia-sia, ibarat debu yang beterbangan.

Seperti itulah prosedurnya.

Hadits yang sangat masyhur, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

”Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dalam urusan kami (Sunnah Rosuulullooh) maka amalan itu tertolak”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

Imam An Nawawi (salah seorang tokoh terpenting dari Ahlussunnah wal Jama’ah, beliau adalah ber-madzhab As Syafi’iy), menjelaskan Hadits tersebut. Hadits ini merupakan kaidah yang agung dari kaidah-kaidah yang terdapat dalam Islam. Ini merupakan ringkasan dari apa yang terkandung dalam Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sesungguhnya Hadits ini merupakan aturan yang sangat syaarih, jelas, gamblang, terang dalam penolakan setiap perkara-perkara yang Bid’ah dan perkara-perkara baru yang tidak pernah ada pada masa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Bisa jadi ada orang yang membangkang dari sekian banyak orang yang melakukan ke-Bid’ah-an itu. Atau mengamalkan apa saja yang tidak pernah ada contohnya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Yang demikian itu tidak menjadikan amalan kita berhasil dan berbuah dan menguntungkan, tetapi sebaliknya, amal menjadi gugur.

Tolok Ukur.

Ada tolok ukur yang diberikan oleh salah seorang ’Ulama abad masa kini antara lain adalah Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, beliau menuliskan perkara ini dalam Kitab Ahkamul Janaa-iz, kata beliau, ”Kalau kita ingin tahu tentang ke-bid’ahan sesuatu, maka cobalah tilik (tidak kurang) dari 8 poin yang akan menjadikan tolok ukur  yang harus kita ketahui, jika perkara ini ada maka ia termasuk perkara yang baru dan terancam tertolak dalam ukuran Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Sesungguhnya Bid’ah yang dijelaskan, dinaskahkan, diredaksikan, terhadap kesesatannya dalam Syari’at, (maksudnya karena semua Bid’ah adalah sesat, berarti: Perkara yang dikatakan sesat menurut Syar’i) bisa diukur dari beberapa poin berikut ini :

1. Setiap apa saja yang menentang As Sunnah, apakah itu berbentuk perkataan, atau perbuatan, atau keyakinan; betapapun perkataan, perbuatan dan keyakinan itu bertitik tolak dari Ijtihad sebelumnya.

Dalam perkara Aqidah tidak boleh ada unsur Ijtihad. Setiap penolakan dan pembantahan terhadap Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah termasuk dalam kategori Bid’ah. Sejak zaman Rosuulullooh, para sahabat selalu ”sami’naa wa atho’naa”. Dan ketika mereka ada ketidak sempurnaannya, lalu mereka berdo’a kepada Allah: ”Ghufroonaka (Ampunilah kami bila ada kekurangan”.

Contoh: Ada yang berpaham, kalau perempuan bercerai dengan suaminya maka perempuan itu mempunyai masa Iddah, tentunya laki-laki juga punya masa Iddah, yaitu tiga bulan. Agar sama antara laki-laki dan perempuan. Aturan yang demikian itu berarti menentang Sunnah. Itu Bidah.

2. Setiap perkara mendekatkan diri kepada Allooh سبحانه وتعالى tetapi tidak sesuai dengan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang demikian itu dilarang.

Contoh: Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ

Jangan kalian memperlakukan (mengkultuskan) aku seperti orang-orang Nasrani memperlakukan Isa Ibnu Maryam”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dari ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه)

Orang-orang Nasrani membikin perayaan Natal, dalam memperingati hari kelahiran Nabi Isa عليه السلام, lalu sekelompok orang Islam (ikut-ikutan kaum Nasrani / tasyabbuh) membikin acara Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Lalu dalam acara itu mereka berdiri mengelu-elukan dan berdo’a meminta sesuatu kepada arwah beliau, karena mereka menganggap bahwa arwah beliau hadir di antara mereka, maka itu merupakan kultus kepada Nabi Muhammad صلىالله عليه وسلم. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak pernah memerintahkan untuk merayakan Maulid, tetapi sebagian umat Islam merayakan Maulid beliau. Itu adalah bagian dari perkara mendekatkan diri kepada Allooh سبحانه وتعالى, padahal perkara tersebut dilarang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri.

Contoh lagi: Shaum (puasa) itu dilakukan sejak Subuh hingga terbenamnya matahari. Dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melarang menyambung (melebihi) dari waktu itu, sehingga puasanya bersambung sampai waktu malam hari. Itu dilarang. Tetapi ada sekelompok orang yang melakukannya, katanya itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allooh سبحانه وتعالى, padahal itu dilarang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Apalagi bertapa, tidak makan-minum sampai sehari-semalam bahkan sampai mati, itu tidak boleh.

3.  Setiap perkara tidak mungkin disyari’atkan kecuali melalui Nash (dalil dari Al Qur’an dan Hadits). Atau perkara yang baku yang tidak boleh manusia biasa merekayasa, harus berasal dari Allooh dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Maka janganlah meyakini sesuatu itu benar atau salah, (dimana  diperlukan dalil) tetapi ternyata tidak ada dalilnya.

Misalnya membenarkan mimpi, kalau bermimpi giginya tanggal berarti dalam waktu dekat ini  akan ada anggota keluarga yang meninggal. Lalu orang itu menjadi gelisah, tidak tenang karena memikirkan perkara mimpi itu. Yang demikian itu Bid’ah, dilarang.  Karena tidak ada orang tahu tentang waktu kematian seseorang. Tidak boleh meyakini sesuatu tanpa dalil.

4. Apa-apa yang dibarengkan (diboncengkan) dengan perkara ibadah, padahal itu adalah adat-istiadat orang kafir.

Misalnya mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dengan metodologi orang-orang Nasrani. Orang-orang Nasrani memperingati kelahiran Isa Ibnu Maryam, dengan istilah Natal. Lalu orang-orang Islam ikut-ikutan mengadakan Maulid Nabi. Yang demikian itu tidak bisa dibuktikan dengan dalil ataupun lewat sejarah, atau pun lewat ajaran yang berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, atau para shohabat ataupun lewat tabi’in bahkan lewat para Imam sekalipun,

Cara mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dengan membonceng cara Nasrani itu, tidak boleh ada dalam kebiasaan kaum Muslimin.

5. Perkara-perkara yang dianjurkan oleh sebagian para ’Ulama, terutama dari kalangan ulama muta-akhiriin.

Kapan batas ’Ulama muta-akhiriin? Ialah setelah abad ke-3 (tiga) Hijriyah. Abad ke-4 (empat) Hijriyah sampai sekarang dikategorikan abad muta-akhiriin. Termasuk dalam kategori  muta-akhiriin adalah Al Mu’ashiriin. Maka apabila ada orang mulai abad ke-4 Hijriyah  sampai sekarang, mengatakan bahwa dianjurkan melakukan ini dan itu, padahal tidak ada dalilnya maka itu dikategorikan Bid’ah.

Misalnya Bid’ah dalam masalah pernikahan, Bid’ah dalam masalah ibadah sholat, Bid’ah dalam masalah Wudhu, Bid’ah dalam masalah Adzan, Bid’ah dalam masalah masjid dstnya. Masih banyak sekali Bid’ah-Bid’ah yang lain.

Bid’ah dalam masalah pernikahan, misalnya:

–  Pengantin bersanding di pelaminan, itu adalah Bid’ah, karena itu tidak ada ajarannya.

–  Seorang yang hendak dinikahkan disuruh mengucapkan dua Kalimah Syahadat, barulah dinikahkan.

–   Juga seorang anak disuruh sungkem di depan orangtuanya ketika hendak dinikahkan.

Semua itu tidak ada dalam ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, semua itu adalah rekayasa. Padahal dalam satu menit, ijab-qobul, maka sah pernikahan itu, karena mudahnya menurut ajaran Islam. Tidak harus berjam-jam menunggu dulu segaala macam ritual dan acara-acara yang tidak ada ajarannya.

Misalnya Bid’ah dalam Wudhu:

–   Menetapkan bahwa harus ada do’a dalam setiap gerakan Wudhu. Cuci tangan ada do’a, berkumur ada do’a, membasuh muka ada do’a, mengusap kepala ada do’a dstnya. Padahal itu semua tidak ada ajarannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Lalu ada juga Bid’ah yang terjadi ketika seseorang berdo’a. Setiap selesai berdo’a ditutup dengan mengusap muka, itu tidak ada ajarannya.

Di dalam rumah pun ada Bid’ah, yang asal-usulnya adalah dari budaya. Yaitu ditempelkannya foto-foto tentang riwayat pernikahan sejak pengantin sehingga punya anak, punya cucu dstnya. Foto-fotonya ditempel pada dinding,  semua itu adalah perkara yang tidak ada pada masa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan gambar-gamabar yang demikian itu dilarang untuk dipajangkan, bahkan gambar–gambar itu akan menjadi tempat bersemayamnya jin. Maka bila dalam rumah itu ada orang kesurupan,  pertama yang harus dikerjakan adalah membuang gambar-gambar (makhluk bernyawa) yang dipasang di dinding rumah itu.

Bid’ah dalam Adzan: Sebelum adzan membaca ayat Al Qur’an dan berbagai bacaan sebelum adzan Subuh. Ada lagi nyanyian Asmaul Husna dinyanyikan sebelum adzan Subuh, dsbnya. Semua itu tidak ada ajarannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Atau bacaan-bacaan lainnya seperti sholawat dan sebagainya, tidak ada ajaran yang demikian itu. Semua itu adalah tambahan-tambahan yang entah dari mana asalnya, tetapi jelas bukan dari Nash Al Qur’an atau Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Bid’ah dalam masjid: Hiasan-hiasan dalam masjid, kuburan dalam masjid, dstnya, yang semuanya tidak ada ajarannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Setiap ibadah yang tersebut diatas tidak ajarannya dari Sunnah yang shohiihah dari Muhammad صلى الله عليه وسلم, kecuali tata-cara ibadah itu hanyalah didasarkan pada hadits yang lemah atau hadits palsu.

Dan seluruh Hadits sudah dikodifikasikan sejak abad ke-3 Hijriyah, maka sudah matang ilmu itu pada abad ke-3 Hijriyah. Maka para ’Ulama mengatakan bahwa tidak ada hadits, adalah karena para ’Ulama telah memberikan komentar tentang kedudukan dan status hadits-hadits tersebut.

Kita ini adalah ber-madzhab Syafi’iy, dimana madzhab Syafi’i adalah madzhab yang paling ketat dalam penerimaan hadits-hadits yang dho’iif (lemah). Antara lain kata beliau: ”Dho’iifnya tidak boleh terlalu dho’if. Tidak boleh sangat lemah. Dan hadits palsu tidak boleh dipakai.” Para ulama sudah menjelaskan tentang hal tersebut.

Ibnul Jauzi menulis kitab sampai dengan tiga jilid tentang Hadits palsu. Isinya tentang Hadits palsu. Untuk menunjukkan kepada umat Islam bahwa banyak hadits-hadits palsu  dan semua yang disebutkan dalam kitab tersebut adalah hadits palsu, sampai dengan penjelasan dan pembahasannya.

Maka hendaknya  kita berhati-hati terhadap pernyataan orang yang mengatakan ini ibadah, tetapi ternyata haditsnya palsu atau tidak ada dalilnya.

Ibadah kita semuanya harus jelas, benar, shohiih, diatas dalil, insyaa Allooh maqbul.  Yang seperti itu yang kita kerjakan. Karena masih banyak hadits-hadits shohiih yang belum kita kerjakan. Misalnya saja Hadits-hadits yang menjadi pegangan Ahlussunnah wal Jama’ah adalah Kutubus-Sittah, misalnya: Shohiih Al Bukhoory, Shohiih Muslim, Sunnan Abi Daawud, Sunnan At Turmudzy, Sunnan An Nasaa’i, Sunnan Ibnu Maajah. Kalau setiap kitab berisi 4000 Hadits, maka dikalikan 6 menjadi  6 X 4000 Hadits = 24.000 Hadits.

Artinya masih banyak Hadits-Hadits yang shohiih yang belum kita kerjakan. Jangankan 24.000 Hadits, Kitab Riyaadhush Shoolihiin (Kitab yang paling akrab dengan kita)  yang berisi 1.800 Hadits saja belum tentu kita sudah mengamalkannya. Bagaimana dengan yang 24.000 Hadits? Mengapa mencari-cari hadits yang dho’iif (lemah)? Padahal Hadits yang shohiih saja masih sedikit yang bisa kita mengamalkannya?

Maka marilah kita efektifkan umur kita dengan mengerjakan (mengamalkan) Hadits yang shohiih-shohiih saja. Masih banyak perkara yang shohiih, tetapi kita belum pernah ”menjamahnya” (menyentuh dan mengkajinya), bagaimana mungkin mengamalkannya?

6.   Berlebihan dalam beribadah.

Misalnya berdzikir dengaan berlebihan, sampai melupakan isteri, lupa mencari nafkah, dstnya. Kalau yang dimaksudkan ingin zuhud, maka sebenarnya zuhud artinya adalah hanya memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar saja, yang berupa kebutuhan primer, tidak butuh yang sekunder dst. Itulah Zuhud.

Tentang dzikir seperti dicontohkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم beliau berdzikir mengucap Astaghfirullooh 100 kali, atau 70 kali sehari/semalam. Lalu ada orang yang berlebihan, berdzizkir terus-menerus di masjid atau dalam rumahnya, sampai lupa mencari nafkah.  Yang demikian itu berlebihan.

Maka ketika Khaliifah ’Umar bin Khoththoob رضي الله عنه melihat ada seseorang ber-dzikir terus-menerus, berlama-lama di masjid, beliau temui dan disuruhnya orang itu keluar mencari nafkah ke pasar, sambil beliau berkata: ”Sesungguhnya langit tidak menurunkan hujan emas dan perak kepadamu karena dzikirmu, pergilah kamu ke pasar, bekerjalah mencari nafkah”.

Artinya, beribadah tidak boleh berlebihan dari apa yang sudah diterangkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Yang penting adalah seperti diucapkan oleh para ’Ulama, yaitu: ”Mencukupkan diri dengan apa adanya dari Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu saja. Hal ini lebih baik daripada menambah-nambah dengan ke-Bid’ahan.”

7. Setiap ibadah yang diutarakan oleh Syari’at tetapi di-muqoyyad-kan (ditetapkan jumlahnya).

Misalnya berdasarkan ayat AlQur’an:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا }

”Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingat kepada Allah) dengan dzikir yang banyak”. (QS. Al Ahzaab ayat 41)

Yang dimaksud dengan ”Dzikir yang banyak”, artinya: sebanyak-banyaknya, tidak ditentukan jumlahnya.

Lalu ada orang yang mengatakan agar mengucap ”Ya Rohman” sebanyak 1.111 kali (seribu seratus sebelas kali) antara Maghrib dan ’Isya,  dibaca di lereng gunung. Atau mengucapkan ”Ayat Kursi” sebanyak 17 kali. Yang seperti ini tidak ada dalam ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Itu mengada-ada (Bid’ah).

Juga ada kesalahan yang sifatnya umum (kaprah), misalnya Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

”Janganlah kamu melakukan perjalanan (ziarah) kecuali kecuali kalian mendatangi Masjid An Nabawy”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

Jadi tujuan Umroh/ Haji itu jangan diniatkan untuk berziarah ke kubur Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, melainkan diniatkan untuk ziarah ke Masjid Nabawy. Jadi tujuannya bukan untuk ziarah kubur. Tetapi bila ada orang ber-ziarah ke kubur Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, itu hanya merupakan sampingan dari kunjungannya ke Masjid Nabawy, maka itu boleh.

Tetapi bila ada orang menyengaja pergi ke Madinah khusus untuk berziarah ke kubur Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka yang seperti ini tidak boleh. Karena ajarannya adalah hanya ke masjid Nabawy.

Ke kubur Nabi صلى الله عليه وسلم saja tidak dianjurkan, apalagi ke kubur Wali atau Kyai.  Jadi kalau ada orang membuat kelompok untuk ziarah Tour ke kubur para Wali atau Kyai, maka itu tidak ada ajarannya. Dan itu merupakan safar (bepergian) yang tidak disunnahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Yang dimaksudkan oleh Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah ziarah (perjalanan ibadah) ke tiga tempat yaitu Makkah, Madinah dan Masjidil Aqsho. Tiga tempat itu saja, bukan ke kubur para Wali dan Kyai !! Itu tidak ada ajarannya, bahkan bisa menjadi syirik (dosa besar).

Sesungguhnya Bid’ah itu bermacam-macam, dan dibagi-bagi menjadi:

1. Bid’ah Qauliyah I’tiqodiyah, yaitu Bid’ah berkenaan dengan keyakinan, misalnya orang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk, atau mengatakan Al Qur’an itu kurang, atau mengatakan tidak boleh mempercayai para Shohabat Rosuul karena para Shohabat itu kafir (sebagaimana ajaran kaum Syi’ah). Yang demikian itu termasuk keyakinan-keyakinan dari ucapan yang Bid’ah.

2. Bid’ah dalam perkara Ibadah. Ini banyak sekali, antara lain: misalnya ibadah dalam sholat. Contoh: Ketika Imam sholat selesai membaca Al Faatihah, lalu jama’ah mengucap: ”Robbighfirlii waliwaali daiyyaa, aamiin”. Ucapan demikian adalah Bid’ah, tidak ada ajaran demikian itu. Yang benar hanyalah mengucapkan: ”Aamiin”. Itu saja yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Dan masih banyak lagi Bid’ah dalam cara-cara beribadah, misalnya menambah dan mengurangi dalam tata-cara beribadah, mengada-ada yang tidak diajarkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Bid’ah juga di bagi dua, yaitu Bid’ah dalam perkara duniawi dan Bid’ah dalam perkara Dien (agama).

Dalam perkara duniawi, yaitu Bid’ah Hasanah kita bahkan diperintahkan, agar mengembangkan tehnologi, mengembangkan sarana beribadah, mengelola dunia ini agar menjadi lebih baik dan modern. Yang ini memang diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى:

وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan(QS. Al Hajj (22) ayat 77)

Memang dibuka kesempatan untuk bid’ah dalam perkara duniawi. Kalau zaman dahulu dari Mekkah ke Madinah atau dari Mekkah ke Masjidil Aqsha memerlukan perjalanan sebulan, karena berkendaraan unta atau jalan kaki. Tetapi zaman sekarang karena perkembangan tehnologi, perkembangan duniawi, maka untuk perjalanan tersebut cukup beberapa jam saja. Itu perkara duniawi.

Bid’ah dalam perkara Dien bisa berkembang menjadi beberapa Hukum:

  1. Bid’ah Mukaffiroh, yaitu bid’ah yang menyebabkan orang menjadi kaafir, keluar dari Islam.
  2. Bid’ah Haroom, yaitu Bid’ah yang termasuk perbuatan dosa dan termasuk perkara yang dibenci.

Bid’ah dalam perkara Dien harus kita hindari, karena dalam hal Dien adalah bukan wewenang kita, semua perkara Dien adalah dari Allooh سبحانه وتعالى.

Al Qur’an diturunkan dari Allooh. Apa yang diucapkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah wahyu dari Allooh. Maka Dien kita adalah wahyu (Khobar). Oleh karena itu, kita tidak boleh mengada-ada, menambah-nambahi atau mengurangi semau kita.

Dan ketika kita mengabdi, beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى , janganlah dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Rosuulullooh Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Banyak dalil baik dari Al Qur’an maupun dari As Sunnah serta perkataan para shohabat dan tabi’in, juga perkataan para ’Ulama bahwa Bid’ah (dalam perkara Din) adalah tercela, dilarang, bahkan hukumnya haram, bahkan bisa menjadi pintu kekufuran. Maka bila ada orang mengatakan bahwa Allooh tidak punya nama, tidak punya sifat, dstnya, itu adalah Bid’ah, yang menyebabkan orang yang mengatakan itu kufur, keluar dari Islam.

Demikian juga, kalau ada orang mengatakan bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini hanya sepertiga dari yang semestinya, yang dua pertiga-nya tidak ada, maka yang mengatakan demikian itu pun kufur. Orang yang mengatakan bahwa para shohabat kafir kecuali beberapa orang saja, maka perkataan yang demikian itu pun bisa menyebabkan orang itu menjadi kaafir. Termasuk yang mengatakan Wihdatul Wujud (Manunggaling kawula lan Gusti) menyebabkan orang menjadi kaafir.

Juga dalam keseharian,ketika kita menghitung dzikir selesai sholat adalah menggunakan jari-jari tangan maka itu lah yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan di hari Kiamat jari-jari tangan kita akan menjadi saksi dzikir kita di hadapan Allooh سبحانه وتعالى. Bukan menggunakan biji-bijian (Tasbih). Itu mirip dengan Budha (agama musyrik). Itu termasuk Bid’ah dan Tasyabbuh (menyerupai) Budha.

Itulah perkara-perkara yang harus kita ketahui dan hendaknya kita selalu merujuk kepada apa yang difirmankan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan disabdakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Surat An Nuur (24) ayat 63 :

لَا تَجْعَلُوا دُعَاء الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاء بَعْضِكُم بَعْضاً قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمْ لِوَاذاً فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Janganlah kamu jadikan panggilan Rosuul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allooh telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Dalam akhir ayat tersebut:  ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Maka hindarilah oleh kalian orang-orang yang menyelisihi (berbuat Bid’ah) atas urusan atau Syari’at Muhammad صلى الله عليه وسلم), demikian dikatakan oleh Ibnu Katsiir. Beliau, Ibnu Katsiir menterjemahkan ”’An amrihi” dalam ayat tersebut adalah: Islam, Syariat, Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Akibatnya, jika Syari’at, Sunnah Muhammad صلى الله عليه وسلم ditinggalkan, diselisihi, maka yang terjadi adalah mereka selalu ditimpa musibah, cobaan di dunia dan di akhirat akan menerima siksa yang sangat pedih.

Barangkali kita sekarang selalu dirundung musibah silih berganti, disana-sini, jangan-jangan karena kita mengaku Muslim tetapi kita meninggalkan dan menyelisihi Sunnah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Dari Sunnah (Hadits), kita sering mendengar Hadits berikut ini (biasanya dibacakan ketika Khutbah Jum’at) :

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

”Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al Qur’an),dan sebaik-baik petunjuk dan bimbingan adalah petunjuk dan bimbingan Muhammad صلى الله عليه وسلم, seburuk-buruk perkara adalah bid’ah, perkara yang baru (yang diada-adakan), setiap yang bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka”.  (Hadits Riwayat Imaam Muslim dari Jaabir bin ‘Abdillaah رضي الله عنه)

Tetapi dalam pelaksanaan sehari-hari, tidak sedikit orang, bahkan dari para khotibnya sendiri yang melakukan Bid’ah. Yaitu ketika selesai sholat, setelah salam, lalu melakukan hal-hal yang tidak diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Itu dilakukan oleh Khotib sendiri. Yaitu: Mengucap salam menengok kekanan, membalikkan tangan kanannya, menoleh ke kiri dengan membalikkan tangan kirinya, lalu mengusap wajah, lalu mengomando kepada jamaah: Al Faatihah. Padahal semua itu tidak ada ajarannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.Jadi orang itu melakukan Bid’ah, padahal sebelumnya ia menyampaikan Hadits yang melarang Bid’ah.

”Seburuk-seburuk perkara adalah perkara-perkara yang baru, yang mengada-ada (Bid’ah)”.Tentunya yang dimaksudkan adalah dalam perkara Dien. Perkara yang baru dalam Dien, apapun bentuknya terancam neraka. ”Dan setiap yang Bidah adalah sesat dan yang sesat tempatnya adalah neraka”.

Selanjutnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits shohiih bersabda:

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ

”Barangsiapa yang Allooh tunjuki, tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allooh, maka tidak ada orang yang bisa memberinya petunjuk”.  (Hadits Riwayat Imaam Muslim dari Jaabir bin ‘Abdillaah رضي الله عنه)

Perkatan Shohabat ’Umar bin Khoththoob رضي الله عنه tentang Bid’ah: ”Hindarilah oleh kalian orang-orang yang mengedepankan akal, karena mereka adalah musuh-musuh Sunnah, mereka telah buta untuk menghafal dan memelihara Hadits; lalu dengan pendapatnya itu, mereka sesat dan menyesatkan”.

Menunjukkan bahwa sejak dahulu Bid’ah itu dibenci.

Kata Ibnu Mas’uud رضي الله عنه: ”Ikutilah Sunnah Rosuulullooh oleh kalian, jangan kalian berbuat Bid’ah, kalian sudah dicukupkan. Setiap Bid’ah adalah sesat”.

Kata ’Umar bin Abdul ’Aziiz رضي الله عنه:”Aku berwasiat kepadamu agar kalian bertaqwa kepada Allooh, mencukupkan diri dengan apa yang menjadi perintah Allooh dan mengikuti Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم,dan meninggalkan apa yang diada-adakan oleh orang, atau sesuatu yang baru”.

Berkata Imam Hasan Al  Bashry: ”Tidak sah suatu perkataan kecuali jika diamalkan. Perkataan dan amal itu tidak sah kecuali dengan niat. Perkataan, perbuatan dan niat itu tidak sah bila tidak sesuai dengan As Sunnah”.

Berkata Imam Syafi’iy: ”Hukumku, keputusanku terhadap mereka yang menggunakan filsafat, menggunakan ilmu kalam, menggunakan mantiq, di dalam Dien adalah: ’Mereka itu agar dipukul dengan pelepah kurma, kemudian dibawa di atas unta orang tersebut, dikelilingkan  kepada orang-orang banyak (kabilah, suku), dan diumumkan (dikatakan ): Inilah balasan orang meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah dan kemudian menjadikan Al Kalam (filsafat) sebagai sumbernya’. ’

Itulah perkara-perkara yang harus kita pegang, bahwa apabila kita ingin agar ibadah kita diterima oleh Allooh سبحانه وتعالى, maka cukupkan :

  1. Dengan ikhlas karena Allooh سبحانه وتعالى سبحانه وتعالى,
  2. Dengan menerima dan menjalankan prosedur yang berasal dari Sunnah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
  3. Jangan Bid’ah karena Bid’ah membuat kita terancam gagal dalam hidup ini, tidak diterima amalannya, rugi modalnya, dan akhirnya menghadap Allooh سبحانه وتعالى dengan hampa, karena amalan kita semua gugur, tidak berhasil.

Tanya-Jawab

Pertanyaan:

Tentang penggunaan ro’yu (akal). Sekarang berkembang adanya penafsiran Al Qur’an dan Hadits dengan sistem kontekstual, yaitu menggunakan ro’yu. Kata mereka yang menggunakan ro’yu, bila tidak ditafsirkan secara kontekstual, maka dikhawatirkan Al Qur’an dan Hadits menjadi tidak sesuai dengan situasi dan kondisi zaman sehingga tidak bisa dipergunakan.

Tetapi ada yang berpendapat bahwa penafsiran hanya boleh secara tekstual, seperti apa adanya yang tertulis. Ada yang berpendapat tidak cukup secara tekstual tetapi juga dengan kontekstual (dua-duanya dipakai). Tetapi akhirnya penafsiran secara konstekstual lalu melahirkan kelompok JIL (Jaringan Islam Liberal).

Apakah boleh penafsiran secara kontekstual itu ?

Jawaban:

Pertama, Al Qur’an adalah Kalamullooh (Firman Allooh). Maka yang paling faham tentang firman Allooh adalah Allooh سبحانه وتعالى. Karena memang Allooh yang berfirman.

Kedua, manusia di dunia ini yang paling faham tentang Al Qur’an adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena beliau lah yang diberikan Firman Allooh itu. Dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah orang yang diberi kepercayaan oleh Allooh untuk menjelaskan Al Qur’an kepada manusia.

Ketiga, setelah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang paling faham tentang Al Qur’an adalah para Shohabat. Dan yang paling mengerti Al Qur’an setelah Shohabat adalah para Tabi’in. Dan berikutnya adalah Tabi’ut Tabi’in dan para Imam, dan selanjutnya adalah Bahasa Arab.

Demikianlah prosedurnya, bila kita ingin bicara tentang Firman Allooh سبحانه وتعالى. Jangan menurut ro’yu (akal).

Berbicara tentang Ar Ro’yu, maka ada dua: Ar Ro’yu Al Mahmud dan Ar Ro’yu Al Madzmuum.

Menafsirkan Al Qur’an secara Al Ma’tsuur adalah menafsirkan Al Qur’an dengan apa yang difahami oleh para pendahulu umat. Menafsirkan Al Qur’an selain dengan cara itu disebut penafsiran secara Ar Ro’yu.

Penafsiran secara Ar Ro’yu Al Mahmud (terpuji), karena ia merupakan pendukung dan penjabaran atau penjelasan dari apa yang ada dalam Tafsir bil Ma’tsur. Penafsiran yang bertentangan dengan itu disebut Ar Ro’yu Al Madzmum.

Adapun pembahasan tafsir Al Qur’an, baik secara tekstual ataupun kontekstual tidak menjadi masalah. Tekstual artinya sesuai dengan redaksinya, sedangkan kontekstual adalah mafhum (memahami) apa yang terkandung dalam ayat Al Qur’an. Para ’Ulama selalu menggabungkan antara keduanya. Jadi tidak ada dikotomi antara tekstual dan kontekstual. Karena tekstual artinya terjemah, sedangkan kontekstual adalah tafsir.

Tetapi yang menjadi masalah bukan soal tersebut, melainkan adalah radikalisme terhadap Firman Allooh سبحانه وتعالى, yang para penafsirnya tidak begitu mahir dalam bahasa Arab, tidak mantap seperti Imaam Sibawaih yang ahli bahasa Arab itu. Juga tidak semantap Ibnu Maalik yang menulis kitab Al Fiyah dalam masalah bahasa Arab.

Bahkan para penafsirnya berbahasa Indonesia, referensinya dari buku-buku orang kaafir, bagaimana mungkin bisa menjabarkan Al Qur’an? Al Qur’an berbahasa Arab, bagaimana mungkin difahami dengan bahasa orientalis? Tentunya itu studi Islam yang salah.

Jadi masalahnya bukan soal tekstual dan kontekstual, melainkan apakah sesuai atau tidak dengan pemahaman yang mendasar,  menurut mereka yang paling faham terhadap Islam.

Orang-orang Orientalis mengatakan bahwa ”Assalamu’alaikum” adalah tradisi, sama dengan ”Good morning, Selamat pagi atau Selamat sore, Selamat malam,” dstnya. Oleh karena itu, menurut orang Orientalis siapa saja boleh mengucapkan  Assalamu’alaikum.

Pencetusnya adalah orang Orientalis (kaafir) yang benci dengan Islam, memahami As Sunnah didefinisikan sama dengan tradisi.

Mereka ingin menjelaskan Al Qur’an dan As Sunnah, dari cara pandang mereka, tentu menjadi tidak benar.

Dan JIL adalah produk dari para Orientalisme. Kita harus hati-hati dan waspada, karena mereka adalah gerakan pemurtadan, tidak usah ragu.

Contoh: Mereka memahami bahwa Hak waris laki-laki dan perempuan sama. Itu bukan menterjemahkan atau tafsir, melainkan sudah mengganti ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى. Itulah gerakan pemurtadan.

Pertanyaan:

Bagaimana memahami Hadits yang berisi dialog antara Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dengan Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه ketika beliau hendak ditugasi menjadi Gubernur  Yaman?  Dan bagaimana perkembangan selanjutnya dimana Islam menghadapi berbagai negara yang mempunyai adat-istiadat yang berbeda?

Jawaban:

Dalam Islam ada dua perkara yaitu Ats Tsawaabid dan Al Mutaghoyyiroot.

Ats Tsawaabid adalah  perkara yang paten, tidak bisa bergerak dan tidak boleh digerak-gerakkan dan sudah standar. Jika bergerak atau berubah sedikit saja, berarti bukan Islam. Misalnya tentang Aqidah, meyakini bahwa Allooh adalah Esa. Meyakini bahwa yang benar di dunia adalah satu: Islam, yang selain itu adalah bathil. Itu permanen, paten.

Al Mutaghoyyiroot artinya berubah-ubah, berbeda-beda. Setiap tempat dan negeri berbeda-beda adat-istiadatnya. Pakaian orang Arab Saudi adalah jubah, gamis. Orang Malaysia memakai celana dan baju koko, dan memakai sarung sebatas lutut. Orang Nigeria memakai jubah tetapi dengan warna-warni yang mencolok, dan seterusnya.

Tetapi intinya adalah kaidahnya, yaitu pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian wanita, demikian pula sebaliknya, pakaian wanita tidak boleh menyerupai laki-laki. Lalu laki-laki tidak boleh musbil (isbal, menutupi mata-kaki).

Kaidah-kaidah ini lah yang semua negeri menyepakatinya. Kalau itu dilanggar, berarti melanggar Sunnah. Adapun ada yang memakai batik, ada yang bercorak lain lagi, itu boleh saja asalkan kaidahnya tidak dilanggar.  Islam itu dimana saja bisa dipakai dan bisa diaplikasikan. Tetapi bukan kemudian diputar-putar sesuai dengan kemauan (hawa nafsu) sendiri.

Pertanyaan:

Tentang Bid’ah, bagaimana dengan penulisan Al Qur’an, yang disusun oleh para Shohabat setelah Nabi Muhamamad صلى الله عليه وسلم, dimana masalah ini sering dibuat alasan bagi mereka yang mempertahankan kebid’ahan?

Jawaban:

Tentang penyusunan Al Qur’an, pada awalnya Abu bBakar as Siddiq رضي الله عنه sendiri menolak. Yang mengusulkan adalah ’Umar bin Khoththoob رضي الله عنه agar Al Qur’an dikodifikasikan (dibukukan).

Tetapi ingat, bahwa sebelum itu Al Qur’an itu ada penulisnya, artinya Al Qur’an sudah ditulis sejak zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.Bahkan penulisan Al Qur’an lebih dahulu diprioritaskan daripada penulisan As Sunnah.

Bahkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم men-spesialisasikan siapa yang menulis Al Qur’an dan siapa yang menulis Hadits (As Sunnah). Sudah ada sejak zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kemudian perkembangan dunia selanjutnya adalah karena pada zaman itu yang dipakai menulis adalah batu, pelepah kurma, kulit kayu, kulit binatang. Lalu pada zaman Khalifah Abu Bakar as Siddiq رضي الله عنه sudah mulai ada kertas, saat itu ’Umar bin Khoththoob رضي الله عنه mengusulkan agar Al Qur’an dibukukan. Tetapi Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه menolak, dengan alasan bahwa tidak pernah ada perintah dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم untuk membukukan Al Qur’an.

Dan melalui istikhoroh, bermusyawarahnya para Shohabat ketika itu, akhirnya terjadilah Ijma’para Shohabat, yaitu penulisan Al Qur’an berbentuk Kitab. Disempurnakan pada masa Khaliifah ’Umar bin Khoththoob رضي الله عنه, kemudian disempurnakan lagi pada masa Khaliifah ’Utsman bin ’Affan رضي الله عنه, semua itu dipimpin tim-nya oleh Zaid bin Haritsah رضي الله عنه.

Untuk menunjukkan bahwa para ’Ulama itu berusaha memelihara Al Qur’an. Penulisan Al Qur’an adalah Ijma’ para Shohabat. Itu adalah Maslahat, tidak dikategorikan Bid’ah, bahkan dalam Ushuul Fiqih disebutnya Mashoolih Mursalah. Termasuk juga pencabangan ilmu, misalnya ada Ilmu Fiqih, Ilmu Ushuul Fiqih, Ushuul Tafsir, Musthola hul Hadiits, Nahwu, Shorof, dstnya. Termasuk Maslahat, bagian dari wasilah yang disyari’atkan.

Sekian bahasan kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 5 Jumadil Ula 1431 H – 19 April 2010 M

—–0O0—–

Silakan download PDF: Mahabbah AQI 190410 FNL

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: