Skip to content

Murooqobbah

13 August 2010

(Transkrip Ceramah AQI 030510)

MUROOQOBAH

Oleh:  Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.

Muroqobah

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Pada pertemuan lalu telah kita bahas tentang Mahabbah, amalan agar Allooh سبحانه وتعالى mencintai kita, merupakan salah satu amalan dari sekian amalan agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Untuk kali ini kita membahas tentang amalan kedua yaitu Murooqobah, juga merupakan salah satu upaya agar kita termotivasi dan bangkit gairah kita untuk bertaqwa kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Beberapa pengertian tentang Murooqobah menurut para ulama.

Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa Murooqobah adalah dawam (selalu), meng-kontiyu-kan pengetahuan seorang hamba dan terus-menerus adanya keyakinan dalam diri seorang hamba Allooh, bahwa Allooh selalu mengetahui tentang dirinya baik secara dhohir maupun secara bathin.

Bila kita selalu ada rasa sebagaimana disebutkan diatas, berarti kita mempunyai sikap Murooqobah. Itu akan menimbulkan “waskat” (pengawasan melekat) pada diri kita. Sikap merasa diawasi oleh Allooh سبحانه وتعالى itu sebenarnya sudah diajarkan sejak 1400 tahun lalu. Mental manusia yang demikian sudah sejak 1400 tahun lalu diobati oleh Islam.

Kinerja manusia supaya tumbuh demikian itu, hendaknya ditumbuhkan pada diri kita bahwa setiap individu diawasi oleh Allooh سبحانه وتعالى. Pekerjaan yang ada dihadapannya adalah amanah. Dalam bahasa menejemen disebut delegasi. Seseorang itu harus melaksanakan job-description yang sudah ditentukan, item dan kontraknya sudah jelas.  Semua itu diawasi, sehingga orang itu tepat waktu, tepat kerja dan tepat guna, sehingga menghasilkan amalan yang bagus.

Murooqobah menimbulkan semangat tinggi dalam diri seseorang karena ia merasa diawasi oleh Allooh سبحانه وتعالى. Bukan karena ia merasa diawasi oleh atasan kerjanya, atau oleh mandornya, sehingga kalau ia bekerja bagus lalu konduite-nya naik lalu gajinyapun naik, lalu diberi jabatan. Tetapi dalam Syar’i, semangat itu bukan karena pekerjaan, bukan karena aatasan, gaji, ataupun pangkat, melainkan orang mengerjakan amalan itu karena Allooh semata. Karena Allooh سبحانه وتعالى selalu melihatnya.

Bila Murooqobah itu tumbuh dalam setiap diri kita, maka akan menjadi luar-biasa, ibadah kita menjadi hebat sekali. Apabila terdengar suara Adzan,  langsung semua kita menuju ke masjid untuk sholat berjamaah. Sebagaimana banyak riwayat menceritakan bahwa umat terdahulu kita apabila sudah dipanggil untuk datang ke masjid, terdengar Adzan, langsung mereka berhenti bekerja, dan bergegas menuju ke masjid. Mereka tahu benar bahwa panggilan Allooh lebih utama dibandingkan lainnya.

‘Ulama lain mengatakan, bahwa Murooqobah adalah perhatian selalu kita terhadap penilaian Allooh سبحانه وتعالى  dalam setiap lintasan pikiran dan langkah hidup kita. Teori tersebut tidak mudah mempraktekkannya. Yaitu bahwa setiap pikir dan gerak langkah kita merasa selalu diawasi oleh Alllooh. Menjadikan kita selalu berhati-hati dan waspada, karena khawatir Allooh murka. Sikap demikian itu disebut Murooqobah.

Murooqobah juga berarti ketulusan, kemurnian, kesejatian perkara yang rahasia maupun yang nampak nyata, hanya untuk Allooh عز وجل. Baik sedang sendiri maupun bersama orang banyak.

Ternyata Murooqobah adalah adanya sikap dalam diri kita merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allooh سبحانه وتعالى, baik dalam keadaan sendirian maupun ditengah orang banyak, apakah itu sesuatu perkara yang nyata ataukah sesuatu perkara yang bersifat bathin (tidak kelihatan). Itulah Murooqobah menurut para ulama.

Bila semua orang mempunyai sikap Murooqobah, maka semua kita akan bekerja dengan jujur karena Allooh. Dan semuanya akan berjalan dengan baik dan benar.

Al Junaid, seorang ‘Ulama yang oleh orang-orang Sufi dijadikan tokoh, padahal beliau adalah seorang Tabi’in yang tidak ada urusannya dengan Sufi, kata beliau Al Junaid ketika ditanya oleh seseorang: “Wahai Junaid, bagaimanakah kiatnya (caranya) agar pandangan mata kita ini terkendali?”. Beliau menjawab: “Caranya adalah dengan satu keyakinan dan ilmu yang ada pada dirimu, bahwa pandangan Allooh kepadamu mendahului apa yang kamu pandang”.

Maka apabila kita benar-benar mempunyai Murooqobah, maka kita akan terkendali, karena takut kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Al Haarits Al Muhaasiby, seorang Imam dari Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa Murooqobah adalah pengetahuan dalam hati kita bahwa Allooh سبحانه وتعالى itu dekat. Bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Bila orang punya pandangan seperti itu maka ia akan selalu berhati-hati, waspada, akan selalu dengan perhitungan, ia akan takut bahkan ia produktif dalam perkara ketaatan kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Dalil dari Ayat Al Qur’an dan Hadits agar kita mempunyai sikap Murooqobah.

Surat Al Hadid (57) ayat 4 :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya:

Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allooh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Allooh سبحانه وتعالى selalu bersamamu dimanapun kamu berada. Allooh سبحانه وتعالى melihat apa saja yang kita kerjakan dan apa yang ada dalam hati kita. Oleh karena itu kita harus berhati-hati, karena kita selalu dilihat oleh Allooh سبحانه وتعالى.

Tafsir Ibnu Katsiir menjelaskan  bahwa maksud ayat tersebut adalah Allooh سبحانه وتعالى selalu melihat kapan dan dimanapun kalian, berarti seluruh hidup kita dilihat oleh Allooh,  amal-amal kita, baik itu berupa kebajikan di darat maupun di laut, apakah itu di siang atau pun di malam hari, di rumah atau ditengah gurun pasir, semua dalam pengetahuan Allooh سبحانه وتعالى.

Kata beliau bahwa dalam pandangan atau pendengaran Allooh, bahwa Allooh سبحانه وتعالى mendengar perkataan kalian, dan Allooh سبحانه وتعالى melihat tempat kalian dan Allooh mengetahui apa yang kalian rasakan dan nyatakan.

Semua gerak dan diam kita diketahui oleh Allooh سبحانه وتعالى. Ayat 4 yang disebutkan diatas adalah firman Allooh سبحانه وتعالى, jadi tidak boleh ada yang ragu-ragu, karena bila ragu-ragu berarti kufur.  Karena itu adalah  ayat Al Qur’an, firman Allooh سبحانه وتعالى.

Surat Huud (11) ayat 5 :

أَلا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُواْ مِنْهُ أَلا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Artinya:

Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allooh mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allooh Maha Mengetahui segala isi hati.”

Semua isi hati manusia, Allooh mengetahui.

Ahli Tafsir Imaam Muhammad Al Amin As Syinqiithy mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى menjelaskan dalam ayat yang mulia tersebut bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi Allooh sesuatu apa pun, yang dirahasiakan dan  yang didhohirkan di sisi Allooh sama saja.

Dan ayat-ayat yang menjelaskan demikian itu dalam Al Qur’an banyak sekali , antara lain dalam Surat Qaaf (50) ayat 16 :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Artinya:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,”

Surat Al Baqoroh (2) ayat 235 :

وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاء أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَـكِن لاَّ تُوَاعِدُوهُنَّ سِرّاً إِلاَّ أَن تَقُولُواْ قَوْلاً مَّعْرُوفاً وَلاَ تَعْزِمُواْ عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىَ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Artinya:

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allooh mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf . Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allooh mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allooh Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”

Pada akhir ayat tersebut: Dan ketahuilah bahwasanya Allooh mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya dan ketahuilah bahwa Allooh Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Dijelaskan ayat tersebut oleh Ahli Tafsir Imam As Sa’di, kata beliau bahwa yang dimaksud dengan Allooh mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka niatkan olehmu dengan niat yang baik, jangan kalian berniat yang jahat, karena kita harus takut dengan hukuman Allooh dan kita harus berharap pahala dari Allooh سبحانه وتعالى.

Allooh Maha Tahu siapa yang ketika berbuat dosa kemudian bertaubat kepada Allooh, Allooh mengetahui. Dan Allooh Maha Lembut (Maha Halus), Dia tidak menyegerakan hukuman bagi orang yang berbuat maksiat, padahal Allooh Maha Kuasa.

Dalam Hadits, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

في هذه الأمة خسف ومسخ وقذف فقال رجل من المسلمين يا رسول الله ومتى ذاك ؟ قال إذا ظهرت القينات والمعارف وشربت الخمور

Sungguh pada umat ini akan terjadi: Tanah runtuh (longsor), gempa bumi, dan Allooh akan lempari dari atas. Ternyata penyebabnya adalah apabila :

  1. Minuman keras (khomer) sudah diminum,
  2. Para penyanyi dijadikan pemuas (hiburan) dalam kehidupan,
  3. Musik dan nyanyian dijadikan gaya hidup.

(Hadits Riwayat Imaam At Tirmidzy dari ‘Imron bin Hushoin رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)

Jadi yang dimaksudkan dalam ayat tersebut “Maha Penyantun” menurut Imam As Sa’di adalah bahwa Allooh tidak menyegerakan hukuman kepada orang yang berbuat maksiat, padahal Allooh Maha Kuasa. Lihat umat Nabi Luth عليه السلام, umat Nabi Nuh عليه السلام, umat Nabi Hud عليه السلام, Umat Nabi Syu’aib عليه السلام, langsung dihukum berat, dibinasakan. Tetapi kepada umat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak demikian, umat ini masih diberikan panjang umur, bahkan diberikan kejayaan. Lalu umat ini menyangka bahwa yang mereka lakukan adalah benar adanya. Bukannya kembali ke jalan Allooh, tetapi semakin bertambah congkak. Karena Allooh sengaja mengundur (istidhraj). Maka hendaknya kita segera kembali ke jalan Allooh sebelum terlambat.

Lihat Surat Al A’roof (7) ayat 7 :

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ

Artinya:

maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).”

Maksudnya, Allooh Maha Mengetahui atas segala  sesuatu.

Al Imam Al Baghowy menjelaskan: “Akan Kami kabarkan kepada mereka dengan sesungguhnya”, menurut Tafsir Ibnu ‘Abbas maknanya adalah bahwa kelak di Hari Kiamat kitab-kitab catatan amal kita akan berbicara. 

Bisa dibayangkan, bila seseorang berbuat dosa setiap hari dicatat satu halaman, misalnya seseorang hidup di dunia sampai usia 60 tahun, dikurangi masa sebelum aqil-baligh 15 tahun, menjadi 45 tahun.

Bila setiap hari untuk tidur selama 8 jam, jadi sepertiga dari umurnya untuk tidur. Yang aktif tinggal 2/3 dari umurnya, yaitu 30 tahun. Kalau sehari satu halaman catatan dosa-dosanya, maka kali 30 tahun sama dengan 360 hari X 30 X 1 lembar = 10.800 halaman. Itulah lembar-halaman catatan amal kita kelak di Akhirat di hadapan Allooh سبحانه وتعالى dan setiap halaman itu akan bercerita (melaporkan): Ya Allooh, orang ini begini, begini, dstnya, dan mulut orang ketika itu dikunci. Yang bisa berbicara hanyalah kulit, jari, mata, telinga dan anggota badan lainnya, yang menjadi saksi. Na’uudzubillaahi min dzaalik !

Lihat Surat Al Jaatziyah (45) ayat 29 :

هَذَا كِتَابُنَا يَنطِقُ عَلَيْكُم بِالْحَقِّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنسِخُ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya:

(Allooh berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan”.

Kata beliau Imam Al Baghowy, bahwa Malaikat telah mencatat apa yang manusia kerjakan di dunia dan malaikat tahu siapa di antara umat ini yang menjawab da’wah dan menolak da’wah. Buku catatan amal kalian  akan berbicara.

Surat Yunus (10) ayat 61 :

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوداً إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء وَلاَ أَصْغَرَ مِن ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Artinya:

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Penjelasan para ‘Ulama atas ayat tersebut, antara lain dari Ahli Tafsir Syaikh ‘Abdur Rohmaan As Sa’di menjelaskan bahwa Allooh سبحانه وتعالى memberitahukan kepada kita bahwa persaksian Allooh itu meliputi segala sesuatu, bahwa Allooh mengetahui segala keadan manusia dalam gerak dan diam mereka, dan hal ini merupakan seruan agar mereka mempunyai Murooqobah. Dalam ayat tersebut Allooh berfirman tentang keadaanmu baik tentang Dien mau pun dunia kamu.

Kata beliau selanjutnya: Hati-hatilah dengan sesuatu yang Allooh benci, sebab Allooh سبحانه وتعالى mengetahui dhohir dan bathin kalian, semua itu tidak ghoib bagi Allooh, dst.

Surat Ghofir (40) ayat 19 :

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Artinya:

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat*] dan apa yang disembunyikan oleh hati.

*] Yang dimaksud dengan pandangan mata yang khianat adalah pandangan yang dilarang, seperti memandang kepada wanita yang bukan muhrimnya.

Menurut Imam Al Baghowy, maksud ayat tersebut adalah Allooh سبحانه وتعالى tahu tentang khianatnya mata kalian, yaitu mencuri pandangan terhadap perkara yang haram. Mata kita sering mencuri-curi untuk melihat yang haram. Allooh سبحانه وتعالى tahu itu.  Pandangan mata yang demikian itu adalah pandangan mata yang khianat.

Dalam Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda kepada kita:

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

Jangan sekali-kali laki-laki melihat aurat laki-laki dan jangan sekali-kali wanita melihat aurat wanita”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim, Imaam At Tirmidzy, Imaam Ibnu Maajah dari Abu Sa’iid Al Khudry  رضي الله عنه)

Sementara zaman sekarang sudah tanpa batas. Bahkan orang telanjang di depan umum dianggap hak azasi manusia untuk ber-ekspresi, katanya. Bayangkan, anggapan itu menjadi peng-halal sesuatu yang haram. Katanya bebas ber-ekspresi. Kata mereka: “Manusia bebas mencari gaya hidup dan mencari penghidupannya masing-masing. Jangan diganggu dan jangan dilarang.”

Dianggapnya manusia itu bebas seperti hewan. Padahal hewan saja punya batasan-batasan perilaku.

Kata beliau Imaam Mujaahid bin Jabr, murid dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه mengatakan: Mata khianat adalah pandangan mata untuk melihat apa yang Allooh larang.  Zaman sekarang banyak sekali ditayangkan secara terbuka di TV-TV, di layar HP, di koran dan majalah. Tanpa malu memamerkan dan menampakkan auratnya.

Karena Jahilnya, mereka bangga berbuat demikian itu.

Itulah dalil-dalil dari Al Qur’an bahwa kita harus selalu menyadari bahwa kita selalu dalam pandangan dan pengawasan Allooh سبحانه وتعالى.

Dalil dari hadits.

Ada beberapa, seperti Hadits shohiih yang diriwayatkan oleh Imam At Turmudzy dan dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, kata beliau melalui ‘Abdullah bin Mas’uud رضي الله عنه , Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

استحيوا من الله حق الحياء قال قلنا يا رسول الله إنا نستحيي والحمد لله قال ليس ذاك ولكن الاستحياء من الله حق الحياء أن تحفظ الرأس وما وعى والبطن وما حوى ولتذكر الموت والبلى ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء

“Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu”. Para sahabat menyahut: “Ya Rosuulullooh, kami telah merasa malu, Alhamdulillaah”. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:“Bukan itu maksudnya wahai saudara-saudaraku, maksud malu kepada Allooh dengan sebenar-benar malu adalah: Kamu harus pelihara kepalamu dan apa isi kepalamu (pelihara pikiran kita, jangan berpikir sesuatu yang mengundang murka Allooh). Peliharalah perut dan apa yang terkandung dalam perut. Ingat kepada mati dan kamu akan menjadi hancur. Meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukan perbuatan itu maka ia telah malu kepada Allooh dengan sebenar-benar malu”. (Hadits Riwayat Imaam At Tirmidzy dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)

Keterangan Hadits.

Malu kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sebenar-benar malu adalah :

  1. Peliharalah kepalamu dan isi kepalamu, maksudnya: Jangan berfikir sesuatu yang mengundang murka Allooh سبحانه وتعالى. Berfikirlah yang positif, yang baik-baik saja. Berfikirlah tentang ketaatan, jangan berfikir tentang maksiat.
  2. Peliharalah perutmu dan apa yang terkandung dalam perut, maksudnya: Jagalah perut kita,  diisi dengan makanan-minuman  yang halal, jangan sampai ada barang haram masuk dalam perut kita. Hidup kita jangan ngawur.
  3. Ingat kepada mati dan kamu akan hancur, maksudnya: Ingat kepada mati dan kalau sudah mati badan kita akan menjadi rusak dan membusuk dalam bumi, menjadi makanan ulat-ulat tanah. Kecuali  yang mati syahid insya Allooh akan diabadikan oleh Allooh سبحانه وتعالى.
  4. Tinggalkan perhiasan dunia, maksudnya: Dalam hidup di dunia jangan terlalu bernafsu dengan harta, pangkat dan jabatan yang merupakan perhiasan dunia. Hidup sederhana saja, harta secukupnya saja. Orang yang terlalu ngoyo (bernafsu kepada harta) berarti ia tidak punya malu kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Selanjutnya, menurut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, perhiasan dunia sekedarnya saja, bukan untuk bermewah-mewah, berfoya-foya, karena negeri kita bukanlah di dunia, negeri kita yang sebenarnya adalah di Akhirat. Beliau صلى الله عليه وسلم  bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia ini adalah penjara bagi orang mu’min dan surga bagi orang kafir”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim, Imaam At Tirmidzy, Imaam Ibnu Maajah dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

Maka adalah wajar bila ketika kita hidup di dunia banyak larangannya, ini tidak boleh, itu tidak boleh, memakai emas tidak boleh bagi laki-laki. Ketaatanlah yang diujikan kepada manusia ketika hidup di dunia. Taat atau tidak kita kepada Allooh سبحانه وتعالى?

Selanjutnya dalam Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Siapa yang rakus kepada dunia, dan mengabaikan akhirat, berarti ia tidak malu kepada Allooh سبحانه وتعالى”.

Perhatikan perkataan Ulama Imam Al Manaawy dalam Kitab Faidhul Qodiir, maksud Hadits tersebut adalah: Malulah kamu kepada Allooh dengan sebenar-benar malu, yaitu dengan meninggalkan syahwat, semua yang diinginkan tidak dituruti. Bila manusia bisa seperti itu maka ia akan menjadi suci, dan manusia itu berada dalam kehidupan sebagaimana yang Allooh berikan, yaitu kehidupan dengan kecukupan.

Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Maajah dan dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Tsauban رضي الله عنه,  Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لأعلمن أقواما من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة بيضا . فيجعلها الله عز و جل هباء منثوراص ) . قال ثوبانث يا رسول الله صفهم لنا جلهم لنا أن لا نكون منهم ونحن لانعلم . قال ( أما إنهم إخوانكم ومن جلدتكم . ويأخذون من الليل كما تأخذون ولكنهم أقوام إذا خلوا بمحارم الله أنتهكوها

“Aku benar-benar tahu kaum-kaum dari umatku yang mereka datang pada hari Kiamat dengan membawa kebajikan seperti Gunung  Tihamah yang putih. Ternyata amal yang sebesar itu oleh Allooh dijadikan porak-poranda, hancur,tidak bermakna”. Lalu Tsauban رضي الله عنه bertanya: “Ya Rosuulullooh, siapakah yang seperti itu, supaya kami tidak menjadi bagian dari mereka, padahal kami tahu?”.

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab: “Mereka adalah saudara kalian, dari bangsa kalian, mereka juga sholat malam (Tahajud), akan tetapi apabila mereka dalam kesendirian, mereka menjalankan suatu yang diharamkan Allooh”. (Hadits Riwayat Imaam At Tirmidzy dari Tsaubaan رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)

Ciri-ciri sikap Murooqobah (Dinukil dari Kitab Madaarijus saalikiin)

  1. Mendahulukan apa yang Allooh turunkan, mengagungkan apa yang Allooh agungkan, mengecilkan sesuatu yang Allooh kecilkan. Maksudnya, yang Allooh turunkan adalah Al Qur’an dan Sunnah. Banyak dalam kehidupan kita tidak menggunakan Al Qur’an dan Sunnah. Apalagi di negeri kita ini, jauh dari Syari’at Allooh سبحانه وتعالى. Dalam berbagai kehidupan kita, belumlah menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai pemandu. Maka kita belum Muroqobah.
  2. Allah akan menjaga gerak tubuhnya, maksudnya: Gerak-geriknya terkendali, tidak melakukan sesuai dengan hawa-nafsunya.Terkendali cara berfikirnya, berbicara (ucapannya), dan perbuatannya terkendali sesuai dengan Syari’at.

Upaya agar kita Murooqobah :

Murooqobah adalah pengabdian terhadap Allooh dengan Nama Allooh bahwa Allooh mengawasi, menjaga, mengetahui, mendengar dan melihat. Kalau semua itu menjiwai dalam kehidupan seseorang, dan ia mengabdi kepada Allooh dengan tuntunan dan konsekuensi lima sebutan tersebut, maka ia akan punya Murooqobah dalam dirinya.

Demikian tentang Murooqobah, mudah-mudahan kita semua dikaruniai sikap Murooqobah sehingga kita bisa saling mengingatkan agar kita mempunyai ruh untuk merasa selalu diawasi oleh Allooh سبحانه وتعالى.

Tanya-Jawab:

Pertanyaan:

Diatas disebutkan dalam suatu Hadits, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Bahwa dunia ini adalah penjara bagi seorang mu’min dan surga bagi orang kaafir.” Bagaimana memahami Hadits tersebut? Padahal sebenarnya seorang mu’min yang  melakukan Syari’atnya dengan baik, ia tidak merasa terkekang, justru merasa banyak ketenangan hati dalam hidup di dunia ini. Sementara orang kaafir banyak yang tidak merasakan bahwa dunia ini surga, karena di antara mereka banyak juga yang menderita dalam hidupnya. Mohon penjelasan bagaimana tentang ke-shohiih-an Hadits dimaksud.

Jawaban:

Hadits yang dimaksud adalah Shohiih, diriwayatkan oleh Imam Muslim. Bila ada hadits yang menurut akal kita kurang jelas, atau remang-remang, jangan lalu menuduh Hadits itu tidak shohiih. Karena mungkin yang remang-remang adalah pemahaman kita. Tetapi hendaknya dipahami lebih dahulu, karena setiap Hadits shohiih adalah wahyu.

Jelas sekali bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mempunyai metodologi dalam men-tarbiyah umat ini. Sehingga umat terpandu dengan hikmah, diberikan perumpamaan-perumpamaan,  bahkan juga dengan ancaman, terkadang janji yang menggiurkan dstnya.

Kata “Penjara” tidak identik dengan siksaan. Bagi pencuri, penjara adalah siksaan. Tetapi bagi politikus atau koruptor adalah Ruang VIP. Bahkan diupayakan agar penjara itu enak, sehingga betah di sana. Jadi yang dimaksud “penjara” dalam Hadits dimaksud adalah batasan, terkekang, tidak bisa bebas sebebas-bebasnya, tidak bisa keluar dari batasan ruang penjara itu.

Bahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم disabdakan dalam Hadits lain bahwa Raja atau Penguasa itu mempunyai pembatas-pembatas. Batasan yang dimaksudkaan adalah perkara yang diharamkan oleh Allooh سبحانه وتعالى. Penafsiran terhadap Hadits tersebut bahwa yang dimaksud dengan “Sijiin” adalah batasan agar selalu ingat yang mana yang halal dan mana yang haram. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Sementara bagi orang kaafir, tidak ada batasan halal dan haram,semuanya boleh, apa yang ia mau ia makan dan telan.

Dan jangan kita berada pada perbatasan, karena bisa menjadi melampaui batas dan melanggarnya. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Janganlah dekat-dekat dengan perbatasan. Karena bisa jadi kamu melangkahi batas itu, lalu menjadi haram”.

Sijin adalah batas aturan bahwa yang haram tidak boleh dilanggar.

Adapun surga bagi orang kaafir, maksudnya bahwa yang dinamakan Surga adalah dimana semua yang dimaui selalu ada, semua kemauan dituruti dan boleh. Orang yang meng-umpamakan dunia adalah surga maksudnya adalah bahwa dunia ini semua serba boleh, bebas, semau kita, itu menunjukkan bahwa dunia adalah surga. Itulah pola kehidupan orang kaafir.

Pertanyaan:

Apakah bedanya Ihsan dan Murooqobah ?.

Jawaban :

Sebenarnya diatas akan disebutkan Hadits tentang Ihsan, bahwa Murooqobah sangat erat hubungannya dengan Ihsan. Seperti disabdakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allooh seolah-olah engkau melihat Allooh. Tetapi bila kamu tidak mampu seolah-olah melihat Allooh,  yakinilah bahwa Allooh melihatmu”.

Tentu Ihsan dan Murooqobah sangat erat, karena dibawakan Hadits itu dalam konteks dengan Muroqobah. Ihsan merupakan ruh dari Muroqobah itu sendiri. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

Pertanyaan:

  1. Disampaikan diatas bahwa jasad para syuhada (orang mati syahid), dalam Hadits Imam Muslim disebutkan, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda bahwa orang yang mati syahid tidak membusuk dimakan tanah. Mohon ditunjukkan Haditsnya.
  2. Bagaimana paham yang berkembang dalam masyarakat bahwa tentang “penghafal Al Qur’an”, karena mereka boleh jadi dihitung sebagai syuhada, dan juga para ‘Ulama?

Jawaban:

  1. Bukti nyata bahwa pada zaman Kibar At Taabi’iin, cucu dari para sahabat, di Madinah yaitu di lokasi kawasan Uhud, ada yang mengenali tentang tubuh kakek mereka. Padahal ia sudah meninggal dan dimakamkan disitu. Karena kakek itu menjadi Syuhada pada Perang Uhud. Karena ia Syuhada maka tidak dikubur di kuburan umum, melainkan dikubur di medan perang itu. Itu bagian dari dalil. Bahkan ada majalah tertentu yang menggali tentang jasad para Syuhada, ada orang-orang yang Allooh karuniakan tubuhnya tidak rusak, tetap utuh sampai sekarang.  Orang yang mati Syahid adalah orang yang mati di medan laga, di jalan Allooh, meninggikan Laa illaaha ilallooh.

Pertanyaan:

Kalau zaman dahulu masih ada peperangan, lalu orang mati syahid karena berperang membela dan menegakkan kalimat Laa illaaha ilallooh, lalu bagaimana dengan zaman sekarang dimana tidak ada peperangan ? Bagaimana kriteria syahid di zaman sekarang ?

Jawaban :

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Jihad adalah hukum yang abadi sampai hari Kiamat. Kalau ada Jihad berarti ada kemungkinan mati syahid. Perkara di Indonesia ada syahid atau tidak, bukan karena tidak ada jihad, tetapi memang Indonesia tidak untuk dalam kerangka jihad itu. Di Indonesia adalah bagaimana membela bangsa dan negara, tidak membela Laa illaaha ilallooh. Tetapi bila ada orang mati karena membela Laa Illaaha Ilallooh Muhammadur Rosuulullooh, maka ia syahid. Siapa pun dia.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 18 Jumadil Ula 1431 H – 3 Mei 2010 M

—–oOo—–

Silakan download PDF : Muroqobah AQI 030510 FNL

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: