Skip to content

Musibah

18 October 2010

(Transkrip Ceramah AQI 051009)

M U S I B A H

Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i,  Lc.


بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Bersyukur kita kepada Allooh سبحانه وتعالى bahwa sampai saat ini kita masih diberi kesempatan untuk menikmati sehat wal’afiat, suatu karunia dan anugerah untuk digunakan dalam rangka mengabdi kepada Allooh سبحانه وتعالى. Jangan lupa bahwa tidak bersyukurnya kita kepada Allooh سبحانه وتعالى, justru akan mendatangkan adzab. Sudah sering kita dengar, tetapi yang paling penting adalah Tadabbur dan mempraktekkan apa yang Allooh سبحانه وتعالى berikan kepada kita.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Surat Ibrohim (14) ayat 7 :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

 

Ayat tersebut sudah sering kita dengar, maka bila setiap muslim mencamkan isi ayat tersebut, sebenarnya insya Allooh hidup kita akan mendapatkan anugerah bahkan akan ditambah oleh Allooh سبحانه وتعالى dan hidup kita akan di jauhkan dari bala’, petaka dan musibah.

Bagian dari ajaran Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, bahwa bila kita terkena musibah, maka kita mengucapkan:

إنا لله وإنا إليه راجعون

“Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji’un”.

Bencana alam gempa bumi yang akhir-akhir ini menimpa saudara-saudara kita baik di Tasikmalaya atau di Sumatera-Barat, semuanya itu adalah musibah.

Perkara Musibah, apakah itu dikatakan adzab, setiap apa saja yang menimpa manusia, adalah musibah.

Bahkan musibah dalam bahasa Hadits Rosuululloohصلى الله عليه وسلم tidak hanya perkara yang bermakana negatif, tetapi yang bermakna keuntungan pun disebut juga sebagai Musibah. Sebagaimana Shuhaib رضي الله عنه berkata, Rosuululloohصلى الله عليه وسلم bersabda:

« عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ »

Aku kagum terhadap perkara urusan mu’min itu. Segala perkara urusan mu’min itu baik dan siapa pun tidak melakukannya kecuali mu’min. Ketika mereka mendapatkan keuntungan/ kebahagiaan langsung mereka bersyukur. Ketika mereka ditimpa musibah, seketika itu mereka bersikap sabar. Maka yang demikian itu, kebaikan untuknya”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7962).

Semua ini berasal dari Allooh, segala puji adalah hanya untuk Allooh سبحانه وتعالى.

Ketika kita ditimpa musibah mereka bersikap sabar. Sabar bukan berarti menerima saja, melainkan juga termasuk mengendalikan jiwa (Habsunnafsi). Artinya bahwa segala sesuatu ini adalah milik Allooh سبحانه وتعالى, maka segala sesuatu ini terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Kita tidak boleh mengeluh, kecewa  atau sedih berlebihan, karena itu akan bertentangan dengan sabar.

Musibah bisa bermakna baik, bisa juga bermakna buruk. Hanya pada umumnya musibah dimaknakan negatif (buruk). Tetapi itulah Hadits Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, bahwa musibah bisa berarti baik, bisa berarti buruk.

Apa yang terjadi pada saudara-saudara kita baik di Sumatera Barat maupun di Tasikmalaya (Jawa-Barat) baru-baru ini, semua itu adalah kehendak Allooh سبحانه وتعالى.

Seperti disebutkan dalam Surat Al Zazalah (99) ayat 5:

بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا

Karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan (memerintahkan) kepada bumi”.

Berarti itu adalah instruksi Allooh سبحانه وتعالى kepada bumi dan berbagai gejala di alam semesta ini. Demikianlah bagi kita orang yang beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى. Oleh karena itu, kita janganlah meniru pendirian dan pendapat orang-orang materialis, yang menggambarkan semata-mata itu akibat gerakan (pergeseran) lempengan bumi. Mereka menyebutkan itu adalah fenomena alam. Tetapi bagi kita orang beriman adalah bahwa itu merupakan kebesaran dan kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى yang berkuasa dan mengatur serta memiliki bumi ini, karena bumi ini adalah atas aturan Allooh, bumi tidak akan bergerak tanpa aturan dan kehendak Allooh سبحانه وتعالى. Itulah yang harus diyakini oleh setiap orang yang beriman kepada Allooh dan beriman kepada ajaran-Nya.

Bahwa dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory, Rosuululloohصلى الله عليه وسلم bersabda bahwa termasuk bagian aturan Allooh سبحانه وتعالى, bahwa umat ini terlahir sebagai tanda akhir zaman. Bukankah Muhammad Rosuululloohصلى الله عليه وسلم adalah Nabi Akhir Zaman? Dan beliau adalah Penutup para Nabi, berarti tidak ada lagi Nabi, artinya zaman ini akan hanya dibimbing oleh satu orang Rosuul. Berarti Hari Kiamat akan terjadi hanya pada zaman umat Muhammad Rosuululloohصلى الله عليه وسلم.

Seperti Rosuululloohصلى الله عليه وسلم sabdakan:

« إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَفْشُوَ الزِّنَا وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ وَتَبْقَى النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ »

Sesungguhnya diantara tanda hari kiamat adalah diangkatnya ‘ilmu dan merebaknya kejahilan dan tersebarnya zina, diminumny khamr dan kaum laki-laki musnah dan yang tinggal adalah kaum wanita sehingga 50 perempuan hanya memiliki 1 pemimpin (laki-laki).” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6957 dari Anas bin Maalik رضي الله عنه)

Dalam Hadits yang lain bahwa “Ilmu dicabut” artinya diwafatkannya para ‘Ulama. Sehingga bila tidak lagi ada orang ‘Alim berarti kualitas dan kuantitas ilmu ketika mendekati hari Kiamat semakin hilang.

Secara kualitas, disebutkan dalam Hadits, bahwa orang yang jelata, tidak berilmu berbicara tentang perkara-perkara yang sangat umum, sudah dianggap sebagai Ustadz / Kyai dan sejenisnya. Sekarang hal ini sudah mulai terjadi, bahwa seseorang itu sebenarnya tidak menguasai suatu ilmu, tetapi karena sering berbicara lalu ia ternobatkan begitu saja sebagai seorang ‘Alim. Padahal ke-‘ulamaan seseorang itu semestinya harus lah memenuhi beberapa kreteria.

Juga disebutkan dalam Hadits, Rosuululloohصلى الله عليه وسلم bersabda, bahwa tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah seringnya terjadi gempa bumi. Dan itu terjadi semakin sering, selesai gempa yang satu, terjadi gempa yang lain lagi. Tinggallah kita siap-siap saja.

Gempa yang terjadi di Tasikmalaya atau di Sumatera-Barat menimpa saudara-saudara kita yang semua mayoritasnya adalah kaum muslimin. Maka yang harus kita ambil pelajaran (ibroh) minimal tiga perkara :

 

Pertama, melakukan Ta’ziyah, dengan mendoakan (mengatakan) kepada mereka:

أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا »

Tidaklah seorang hamba ketika ditimpa musibah, kemudian mengatakan: Sesungguhnya kita adalah milik Allooh dan semua akan kembali kepada Allooh سبحانه وتعالى. Ya Allooh, lindungilah aku dari musibahku dan ganti dia dengan yang lebih baik. Kecuali Allooh akan hindarkan dari musibahnya dan Allooh ganti dengan yang lebih baik.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 2166 dari Ummu Salaamah رضي الله عنها ).

Itulah yang disebut Ta’ziyah, bukan memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop, melainkan memotivasi agar mereka tabah.

 

Kedua, kita berdo’a:

Ya Allooh, angkatlah bala’ dari mereka, segera pulihkan saudara-saudara kami; yang kelaparan, pulihkan kembali kenyang. Yang telanjang, berikanlah mereka pakaian. Yang goncang jiwanya teguhkanlah, istiqomahkan lah mereka. Yang mati, jadikanlah mereka husnul-khootimah.”

 

Ketiga, bila kita mampu, punya rizqi, salurkan kepada mereka. Tidaklah akan berkurang harta kita, bila kita bershodaqoh.Bahkan melalui Abu Hurairoh رضي الله عنه, Rosuululloohصلى الله عليه وسلم bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidaklah suatu pagi seorang hamba turun kepadanya dua malaikat, satu diantaranya mengatakan ‘Ya Allooh, berikan kepada orang yang berinfaq, pengganti.’ Dan malaikat yang lain mengatakan, ‘Ya Allooh berikan kepada orang yang bakhil (kikir) itu kehilangan’.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 1442 dan Imaam Muslim no: 2383)

Maksudnya, Rosuululloohصلى الله عليه وسلم berdo’a kepada Allooh سبحانه وتعالى agar orang-orang yang berinfaq diberikan pengganti yang lebih banyak dari infaqnya, dan orang yang tidak mau berinfaq akan hilang hartanya.

Maka resepnya bagi orang yang ingin selalu bertambah hartanya, sukalah berinfaq untuk saudara kita yang sedang mendapat bencana di Tasikmalaya, di Sumatera Barat, Jambi atau dimana saja. Shodaqoh (infaq) adalah obat. Maka siapa yang punya penyakit, maka agar penyakitnya sembuh (hilang), diantara “obatmya” adalah dengan shodaqoh (infaq).

Yang harus kita ingat adalah apa yang akan terjadi, sebagai I’tibar (pelajaran). Sikap seorang mu’min menghadapi suatu peristiwa ataupun dosa itu diperhitungkan sekali. Yang baru saja terjadi gempa adalah di Tasikmalaya dan Sumatera Barat, itu di daerah yang  secara fisik bangunan-bangunan gedung tidak terlalu tinggi-tinggi.

Bagaimana halnya bila itu terjadi di Jakarta yang bangunan gedungnya tinggi-tinggi sampai puluhan tingkat? Na’uudzubillaahi min dzaalik !  Kita berlindung kepada Allooh سبحانه وتعالى semoga itu tidak terjadi. Semua itu harus kita ingat, harus dijadikan I’tibar (pelajaran).

Bulan Syawwal ini kita baru saja selesai melaksanakan ibadah Romadhoon. Bulan Romadhoon adalah bulan yang “mencuci” kita dari dosa dan salah.

Mudah-mudahan kita termasuk yang dinyatakan oleh Rosuululloohصلى الله عليه وسلم  sebagai orang yang bersih dari dosa.

Sebagaimana Maalik bin Al Huwairis رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuululloohصلى الله عليه وسلم suatu hari naik ke atas mimbar dan ketika menginjak setiap tangga mimbar berkata ‘Aamiiin’ sampai tiga kali. Sabda Rosuululloohصلى الله عليه وسلم ketika beliau mendengar pernyataan malaikat Jibril, beliau mengucap  “Aamiiin”.

عن مالك بن الحويرث قال : صعد رسول الله صلى الله عليه و سلم المنبر فلما رقي عتبة قال : ( آمين ) ثم رقي عتبة أخرى فقال : ( آمين ) ثم رقي عتبة ثالثة فقال : ( آمين ) ثم قال : ( أتاني جبريل فقال : يا محمد من أدرك رمضان فلم يغفر له فأبعده الله قلت : آمين قال : ومن أدرك والديه أو أحدهما فدخل النار فأبعده الله قلت : آمين فقال : ومن ذكرت عنده فلم يصل عليك فأبعده الله قل : آمين فقلت : آمين )

“Yaa Muhammad, barangsiapa yang menemui bulan Romadhoon kemudian tidak mendapat pengampunan, maka Allooh jauhkan dia, lalu aku berkata ‘Aamiiin’. Malaikat lagi berkata, ‘Barangsiapa yang mengalami kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya hidup kemudian dia masuk dalam neraka, maka Allooh jauhkan dia, maka aku berkata ‘Aamiiin’. Ketika malaikat berkata, ‘Barangsiapa yang aku disebut disisinya, tetapi tidak mengucapkan sholawat atasku, maka Allooh akan jauhkan dia, maka aku berkata ‘Aamiiin’.” (Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban no: 409 dan Syaikh Syu’aib Al Arna’uth berkata hadits ini shohiih li ghoirihi).

Artinya beliau mendo’akan seperti do’a malaikat Jibril itu.

Maksudnya, siapa yang selesai bulan Romadhoon, tidak mendapatkan ampunan dosa dari Allooh سبحانه وتعالى, maka ia akan semakin jauh dari Allooh سبحانه وتعالى.

Mudah-mudahan kita selalu dilindungi oleh Allooh سبحانه وتعالى dari “jauh” itu. “Jauh” bisa bermakna jauh dari petunjuk Allooh سبحانه وتعالى. Inilah yang berbahaya.

Pertama,bila seseorang jauh dari petunjuk Allooh سبحانه وتعالى, sekuat dan sebesar apapun kita menyelamatkan orang itu, tidak akan bisa menyelamatkan orang itu. Barangsiapa yang Allooh سبحانه وتعالى sesatkan, tidak seorangpun yang bisa menolong (memberikan) hidayah kepadanya.

Kedua, kalau Allooh سبحانه وتعالى menjauhkan seseorang dari barokah hidup, umur sudah sekian tua, tetapi tidak ada isinya. Catatan hidupnya di akhirat akan kosong.

Ketiga, bila seseorang dijauhkan dari rahmat dan ridho Allooh سبحانه وتعالى, maka ia akan selalu merugi dalam hidupnya di dunia dan di akhirat. Maka mudah-mudahan dengan selesai Romadhoon yang baru lalu, Allooh سبحانه وتعالى memberikaan kepada kita ampunan dari dosa-dosa. Aamiiin.

Dengan dimulainya bulan Syawwal ini, kita mulai lagi dari titik awal. Selesai Romadhoon kita sudah bersih, maka jangan berbuat noda dan dosa lagi dari bulan ini.  Mari kita hati-hati, mari kita sama-sama kendalikan, sayangilah diri dan sayang terhadap semua orang. Jangan berbuat dosa. Kalau ada yang berbuat dosa, hendaknya saling mengingatkan. Kalau kita punya sangkut-paut antara sesama manusia segeralah selesaikan. Karena ini lah yang paling sulit. Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bersabda Rosuululloohصلى الله عليه وسلم:

من كانت عنده مظلمة من أخيه من عرضه أو ماله فليتحلله اليوم قبل أن يؤخذ حين لا يكون دينار ولا درهم وان كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وان لم يكن له أخذ من سيئات صاحبه فجعلت عليه

“Barangsiapa yang mempunyai kedzoliman terhadap saudaranya berkenaan dengan harga diri atau hartanya, maka hendaknya minta dihalalkan hari ini, sebelum diambil ketika tidak lagi bermanfaat dinar dan dirham, betapapun dia mempunyai amalan yang shoolih maka akan diambil darinya sebesar kedzolimannya. Dan jika tidak mempunyai amalan shoolih, maka kejelekan saudaranya akan ditimpakan kepadanya.” (Hadits Riwayat Imaam Ahmad no:10580. Berkata Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, hadits ini sanadnya shohiih sesuai dengan syarat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim)

Menghadapi masa-masa yang akan datang.

Seperti firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Surat Al Hasyr (59) ayat 18 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allooh dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari mendatang (hari esok).”

 

Maka sebelum semua musibah yang tersebut diatas itu terjadi, maka antisipasi kita baik secara pribadi maupun bersama-sama adalah :

1. At Taubah.

Bertaubat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Jangan kita merasa tidak punya dosa. Baik kita punya dosa atau bersih dari dosa, bertaubat adalah bagian dari amalan shoolih. Allooh سبحانه وتعالى:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

“Bertaubatlah kalian kepada Allooh wahai seluruh orang-orang mu’min, mudah-mudahan kalian beruntung”. (QS. An Nuur ayat 31)

Jadi bertaubat bukan hanya karena salah. Setiap saat, setiap hari kita harus bertaubat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Rosuululloohصلى الله عليه وسلم yang bersifat ma’shum (tidak punya dosa), tetapi beliau selalu bertaubat (istighfar) tidak kurang dari 70 kali sehari semalam.

Maka bagi kita yang orang biasa ini hendaknya bertaubatnya lagih banyak lagi. Taubat merupakan salah satu penghindar dari bala’. Bahkan Taubat dan Istighfar bukan hanya penolak bala’ tetapi juga pendatang rizqi, bahkan ia adalah penyubur bagi orang yang mandul (belum punya anak). Maka bagi siapa saja yang sudah menikah sekian lama belum dikaruniai anak, banyak-banyaklah Taubat dan Istighfar, maka Allooh سبحانه وتعالى akan berikan kepada kalian harta dan anak. Inilah salah satu firman Allooh سبحانه وتعالى. Oleh karena itu yakini, bahwa obat penyubur dari kemandulan adalah Istighfar dan Taubat. Sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS Nuh (71) ayat 10-12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً

Artinya:

“maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” (QS Nuh (71) ayat 10)

 

يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً

 

Artinya:

niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,(QS Nuh (71) ayat 11)

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً

 

“dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.(QS Nuh (71) ayat 12)

 

2. Ta’atlah dan tidak  bermaksiat.

Kalimat ini mudah mengucapkannya, tetapi untuk mempraktekkannya maka perlu dengan pembiasaan. Perlu dengan pendidikan, bahkan kadang perlu dengan hukuman. Misalnya kepada anak-anak kita, agar mereka patuh pada kita, kadang-kadang perlu dihukum / dipukul (dengan pukulan yang tidak melukai). Seperti halnya pada diri kita, agar kita terbiasa selalu taat dan patuh kepada Allooh سبحانه وتعالى, hukumlah sesekali tempo, dengan hukuman yang syar’i.

3. Melakukan Ishlah (perbaikan).

Melakukan perbaikan dengan iman dan taat, sesuai dengan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى, bukan dengan maksiat. Yaitu dengan semakin meningkatkan iman dan ibadah.

4. Melakukan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.

Musibah yang muncul bisa jadi semakin hari akan semakin parah. Karena rumusnya adalah: Semakin dunia ini dipenuhi kemaksiatan, maka semakin adzab Allooh سبحانه وتعالى akan diturunkan. Dalam Hadits Shohiih dari Abi Qotadah bin Rib’i رضي الله عنه, bahwa Rosuululloohصلى الله عليه وسلم dilalui jenazah, kemudian beliau bersabda:

مستريح ومستراح منه فقالوا ما المستريح وما المستراح منه قال العبد المؤمن يستريح من نصب الدنيا وأذاها والعبد الفاجر يستريح منه العباد والبلاد والشجر والدواب

Mustariihun wa mustaroohun minhu”. Kemudian para shohabat bertanya, “Apa maksudnya Mustariihun wa mustaroohun minhu?” Maka beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Seorang hamba yang mu’min beristirahat dari lelahnya dunia dan perkara yang melukainya, sedangkan seorang hamba yang berdosa akan beristirahat darinya manusia, negeri, pohon dan hewan.”. (Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’i no: 1930, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany).

Itulah sabda Rosuululloohصلى الله عليه وسلم. Bagaimana jadinya bila yang memenuhi bumi ini adalah orang-orang fasik, dzolim dan maksiat? Maka bumi ini semakin kering, maka wajar yang semula hijau yang selalu menumbuhkan biji-bijian, buah-buahan, bahan makanan, sekarang manjadi tidak berbuah lagi.

Orang dzolim, fasiq dan maksiat itu bila mereka mati maka yang istirahat ada tiga pihak: Manusia, negeri dan hewan. Sebaliknya bila orang banyak bertaqwa, maka semua akan tumbuh, berbuah. Buah-buahan hasil bumi ini suka dimakan oleh orang yang bertaqwa.

Maka bisa kita tanyakan kepada diri kita, apakah maksiat itu semakin berkurang ataukah semakin menyebar di muka bumi? Bila maksiat semakin tumbuh dan menyebar, berarti kita semakin terancam. Untuk itu agar kita tidak semakin terancam, kita harus melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Telah diriwayatkan oleh Al Imam Al Turmudzi di dalam Sunannya, kitab “Al Fitan” Jilid 4/495 melalui salah seorang shohaby bernama ‘Imron bin Hushoin r.a. Lalu Ibnu Abid Dunya, dalam kitabnya “Dzammul Malaa’hi” (“Tercelanya berbagai alat lahwun/ alat-alat yang melalaikan”) melalui salah seorang shohaby, Anas bin Maalik r.a, dan haditsnya dishohiihkan oleh syaikh Nasiruddin Al Albaany dalam Silsilah Hadits Shoohih No: 2203; bahwa Rosuul Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

« في هذه الأمة خسف ومسخ وقذف ” فقال رجل من المسلمين : يا رسول الله ، ومتى ذلك ؟ قال : ” إذا ظهرت المعازف وكثرت القيان وشربت الخمور »

Di tengah-tengah ummat ini akan terjadi tanah longsor, tsunami dan lemparan dari atas langit.”

Salah seorang shohabat lalu bertanya, “Wahai Rosuul, kapankah itu?” Rosuul صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jika telah nampak musik, semakin banyak penyanyi wanita dan khomr (minuman keras) telah diminum.”

Semua itu bisa kita Taddaburi bahwa hal tersebut adalah sebagaimana yang Rosuul sabdakan. Seperti kita dengar bahwa di daerah Jabotabek ini terdapat pabrik khomer terbesar. Semakin banyak peminumnya, tentu semakin banyak pula produksinya, sehingga semakin besar pula pajak yang didapat dari perusahaan khomer itu. Bila bangsa dan negara ini dibangun dari hasil khomer, maka apakah yang akan terjadi?

Jika penyanyi wanita, musik dan khomer sudah dikonsumsi oleh masyarakat, maka terjadilah tiga perkara yang dimaksud dalam hadits tersebut diatas. Hadits tersebut Shohiih.

 

Mungkin kita tidak melakukan kemaksiatan tersebut, bahkan kita melakukan perbaikan, tetap saja kita akan ikut terkena musibah dimaksud. Sebagaimana Zainab bintu Jahsy رضي الله عنها meriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memasuki rumahnya dan mengatakan,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Laa illaaha illalloohu, kebinasaan bagi orang Arab sehubungan dengan kejahatan yang telah mendekat”. Kemudian Zainab bertanya,“Ya Rosuulullooh, apakah kita juga termasuk yang akan dibinasakan, sedangkan di tengah-tengah kita ada orang-orang yang shoolih?” Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab: “Benar, jika yang banyak adalah kemaksiatan dan kefasikan,”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3346 dan Imaam Muslim no: 7418).

Maka orang-rang shoolih pun akan dibinasakan bersama-sama orang fasik. Hanya saja, tentu di akhirat perhitungannya berbeda. Orang yang shoolih yang terkena bencana adalah orang yang syahid, sedangkan yang bermaksiat mati terkena bencana adalah mati dalam keadaan kufur.

5.  Syari’at Islam harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak perlu ragu dan tidak boleh canggung, syari’at Islam harus ditegakkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena yang demikian itu adalah penyelamat. Termasuk Hukum Qishos. Orang membunuh hukumannya harus dibunuh pula. Orang mengatakan bahwa hukum Qishos itu kejam dan sadis, tidak sesuai dengan hak azasi manusia, dst. Padahal Allooh سبحانه وتعالى sudah berfirman dalam Al Qur’an:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

“Sesungguhnya dalam Hukum Qishos itu terdapat kehidupan”. (QS. Al Baqoroh ayat 179)

Maksudnya, dalam hukum Qishos itu justru terdapat hikmah untuk menjaga kelestarian kehidupan. Bila hukum bunuh diterapkan bagi si pembunuh, orang lain akan jera, tidak berani membunuh dan akhirnya tidak terjadi pembunuhan

Maka Syari’at Islam harus dijalankan. Kita umat Muhammad Rosuululloohصلى الله عليه وسلم apalagi Ahlussunnah wal Jamaah hendaknya mendukung  proses diberlakukannya Syari’at Muhammad Rosuululloohصلى الله عليه وسلم di berbagai kehidupan. Bila itu bisa terjadi, insya Allooh masa keemasan Islam seperti yang pernah terjadi di zaman para shohabat, akan terjadi lagi. Kita umat Islam akan menjadi berwibawa, mulia, bermartabat, dicintai Allooh سبحانه وتعالى, seperti zaman keemasan Islam. Tetapi bila Syari’at Islam ini diinjak-injak, diolok-olok, didustakan, maka terjadi berbagai bencana seperti sekarang, bahkan mungkin akan lebih dahsyat lagi.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Surat Al Isroo’ (17) ayat 16 :

 

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً

 

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allooh), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”

Ayat semacam tersebut terdapat juga dalam Surat Faathir dan Surat Al Mu’minuun.

 

Kalau mereka terang-terangkan menyatakan kafir kepada ajaran Allooh, kepada Syari’at Allooh سبحانه وتعالى, maka mereka akan dibinasakan baik di dunia apalagi di akhirat.

Tarofmaknanya Kufur. Kalimat “Fafasaqu”, artinya fasiq, keluar dari ketaatan. Jadi bila orang yang kerjanya maksiat, melanggar Syari’at Allooh, melanggar apa yang menjadi perintah Allooh سبحانه وتعالى mengerjakan apa yang menjadi larangan Allooh maka mereka juga akan diporak-porandakan.

Berbagai kerusakan di muka bumi ini termasuk musibah, karena manusia sudah kafir dan maksiat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Maka marilah kita bersama-sama mengendalikan diri jangan sampai kita fasik apalagi kafir kepada Allooh سبحانه وتعالى.Hendaknya kita setiap hari selalu ingat dan sadar dengan apa yang kita nyatakan dan apa yang kita perbuat. Kita tidak tahu ajal kita kapan, kita juga tidak akan tahu apa yang kita dapatkan esok hari dan tidak akan tahu di bumi mana kita akan mati. Maka kita harus selalu menyadari segala perkataan dan perbuatan kita, agar kita beruntung dan selamat di dunia ini dan di akhirat nanti, mudah-mudahan mendapat ridho dari Allooh سبحانه وتعالى.

 

Tanya-Jawab.

 

Pertanyaan:

Untuk lebih konkrit lagi tentang menyikapi musibah, diatas disinggung bahwa salah satunya adalah dengan mendo’akan orang-orang yang terkena musibah.

Juga yang sering dilakukan di masjid Istiqlal, ba’da sholat Jum’at disana dilakukan sholat Ghoib untuk mereka yang telah nyata-nyata meninggal dunia akibat bencana alam.  Ternyata sekarang ada orang-orang yang belum dinyatakan secara pasti meninggal dunia karena hilang dan jumlahnya lebih banyak, mungkin tertimbun tanah longsor atau tertimbun runtuhan bangunan, jumlahnya mungkin ratusan bahkan ribuan orang.

Pertanyaannya, bagaimanakah dengan sholat Ghoib itu sendiri, apakah perlu dilakukan atau tidak? Dan bagaimana menyikapi mereka yang ternyata meninggal dunia tetapi tidak ditemukan jenazahnya, apakah keluarganya atau masyarakat perlu melakukan sholat Ghoib?

 

Jawaban :

Definisi Sholat Ghoib adalah sholat Jenazah, tetapi pada Jenazah yang belum disholati. Kalau definisinya sesuai dengan keadaan tersebut, maka lakukanlah sholat Ghoib.  Seperti orang yang terkubur, tertimbun longsor, dan tidak terdeteksi, maka yang demikian dibenarkan untuk sholat Ghoib. Karena sholat Ghoib dilakukan untuk saudara kita kaum muslimin yang tidak ada yang menyolatinya, sedangkan mereka langsung terkubur. Maka secara Syar’i, sholat Ghoib itu dibenarkan, untuk korban yang tidak diketahuinya dan tidak ada yang menyentuh.

Pertanyaan:

Belakangan ini setelah peristiwa bom Bali dan Bom Hotel JW Mariot,  kita baca  dalam berita media masa bahwa ada orang-orang tua yang melarang anaknya ikut kelompok pengajian, karena mereka mengkhawatirkan anaknya akan terpengaruh oleh pelaku-pelaku pengebom itu. Pertanyaaannya, ketika kita hendak ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu rambu-rambunya seperti apa, dan tata-caranya yang dibenarkan oleh Syari’at itu bagaimana, karena ketika orang melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar lalu ia langsung dicurigai?

Jawaban:

Berbicara Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah Kitab, bukan bahasan. Seseorang menyuruh berbuat yang Ma’ruf atau mencegah orang lain berbuat Munkar, pertama ia harus tahu mana yang disebut Munkar dan mana yang Ma’ruf. Kalau orang hendak mengajar atau melarang tetapi ia tidak tahu apa yang harus diajarkan dan yang dilarang, maka itu celaka, ia akan mengajarkan taqlid kepada orang. Maka ia harus ber-Ilmu tentang apa yang diseru dan ber-Ilmu tentang apa yang harus dilarang.

 

Kedua, akhlak seorang Da’i atau seorang yang melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah penting. Oleh karena itu Rosuululloohصلى الله عليه وسلم berbekal Akhlak yang mulia dan sangat luhur. Oleh karena itu, seorang Da’i atau seorang yang melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar maka akhlaknya harus lah baik dan mulia.

Ketiga,ketika menyampaikan dan menyuruh, yang disampaikan harus berupa dalil. Sehingga tidak terjadi ketika seorang wanita berkerudung lalu ditanya, siapa yang menyuruh kamu berkerudung (berjilbab), lalu ia menjawab: “Ustad Fulan”.

Berarti ia belum paham. Seharusnya ia menjawab: Yang menyuruh aku berkerudung adalah Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an, dan Rosuululloohصلى الله عليه وسلم dalam Hadits, dengan menunjukkan ayat dan haditsnya. Dan kita di Indonesia ini dijamin menjalankan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى. Tidak usah takut dan khawatir.

Adapun lalu dimunculkan wacana kebencian terhadap Islam (Islam-phobia), benci terhadap kaum muslimin,  harus disadari bahwa yang demikian itu perbuatan orang kaafir.

Dan itu adalah teori bisnis orang kaafir, bagaimana agar orang tertarik dengan dagangannya dan tidak tertarik dengan dagangan orang lain. Jangan pakai yang itu, pakailah yang ini, dst.

Maka ketika berdakwah, mengajar, menyampaikan, harus jelas dalilnya, dasarnya, landasannya, serta pemahamannya. Sehingga tidak lalu terjadi Islam-phobia. Karena Islam-phobia tidak datang dari kaum muslimin. Upaya apa saja yang menjadikan kaum muslimin benci terhadap Islam, itu namanya upaya Islam-phobia. Dan itu tidak dilakukan oleh kaum muslimin.

Singkatnya, untuk berda’wah adalah : Ilmu – Akhlak – Hujjah yang kuat. Insya Allooh bila seseorang ditunjukkan ajaran yang benar beserta dalil-dalilnya, maka orang akan tertarik bahkan akan bertambah keyakinannya; dibandingkan bila dengan menurut pendapat, pikiran ataupun ro’yu seseorang.

Islam bukanlah ro’yu (akal)atau pendapat seserorang, melainkan Wahyu. Bahkan kata ulama Imaam Al ‘Auzaa’i: Waspadalah kalian terhadap pendapat manusia, meskipun pendapat itu dihias dengan bingkai yang indah”.

Karena  itu adalah hanya suatu pendapat. Sedangkan bila berasal dari Al Qur’an dan Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, maka yakinilah kebenarannya.

Demikianlah bahasan kali ini, mudah-mudahan bermanfaat,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 17 Syawwal 1430 H – 5 Oktober 2009 M

—– 0O0 —–

Silakan download PDF : Musibah AQI 051009 FNL

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: