Skip to content

‘Aqiiqoh, Makna dan Hikmahnya

4 February 2012

‘AQIIQOH, MAKNA DAN HIKMAHNYA

Oleh: Ustadz Achmad  Rofi’i, Lc.M.Mpd.


بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ikhwan dan akhwat, jamaa’ah muslimin رحمكم الله,

Bersyukur senantiasa kita panjatkan kepada Allooh Robbul ‘Aalamiin yang telah menetapkan kita semua sebagai ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Salah seorang jamaa’ah telah meminta pada saya untuk menuliskan baginya secara ringkas dan praktis tentang perkara yang bertalian dengan ‘Aqiiqoh, sehubungan dengan kelahiran salah seorang putranya, maka berikut ini adalah sekelumit tentang perkara yang bertalian dengan ‘Aqiiqoh atas kelahiran seorang anak.

Semoga makalah ringkas ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

‘Amma ba’du:

Tentang ‘Aqiiqoh:

Mengadzani :

Adapun tentang adzan, maka terdapat hadits melalui ‘Ubaidillah bin Abi Roofi’ dari ayahnya رضي الله عنهما, bahwa beliau berkata,

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسن بن علي حين ولدته فاطمة بالصلاة 

Artinya:

Aku melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adzan seperti adzan sholat pada telinga Al Hasan bin ‘Ali رضي الله عنه ketika Faathimah رضي الله عنها melahirkannya.”

(HR. Imaam Abu Daawud no: 5105 dan  Al Imaam At Turmudzy no: 1514, dan Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله semula mengatakan bahwa Hadits ini Hasan. Hanya saja Syaikh Nashiruddin Al Abaany رحمه الله pada akhirnya ruju’ dari pernyataannya tersebut dan mengatakan bahwa Hadits tentang Adzan di telinga bayi ini tetap dalam keadaan Dho’iif, tidak bisa diamalkan setelah beliau menemukan Kitab “Syu’abil Iimaan” karya Al Imaam Al Baihaqy رحمه الله)

Jika Allooh سبحانه وتعالى mengaruniai kelahiran anak pada kita, maka ketahuilah bahwa Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan penyambutan kelahiran anak tersebut adalah sebagai berikut:      

1.      Mentahnik :

Tahnik adalah seorang dewasa, bisa bapak ataupun ibu si bayi mengunyah kurma, atau kalau tidak ada maka menggunakan sesuatu makanan yang manis seperti madu dan sejenisnya; kemudian dioleskan ke mulut bayi yang baru lahir sehingga yang pertama kali dirasakan oleh bayi itu masuk kedalam mulutnya adalah sesuatu yang manis.

Dan ini adalah Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagaimana terdapat riwayat dari Asma رضي الله عنها ketika beliau hamil dengan ‘Abdullooh bin Zubair رضي الله عنه, maka beliau berkata,

فخرجت وأنا متم فأتيت المدينة فنزلت بقباء فولدته بقباء ثم أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم فوضعه في حجره ثم دعا بتمرة فمضغها ثم تفل في فيه فكان أول شيء دخل جوفه ريق رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم حنكه بالتمرة ثم دعا له وبرك عليه وكان أول مولود ولد في الإسلام

Artinya:

Aku keluar untuk berhijrah sehingga aku sampai di Madinah, dan setibanya di Quba maka aku melahirkannya, lalu aku membawanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم seraya kuletakkan di pangkuannya kemudian beliau صلى الله عليه وسلم meminta kurma lalu mengunyahnya, dan setelah itu mengoleskannya ke mulut ‘Abdullooh bin Zubair رضي الله عنه sehingga pertama kali yang masuk ke perutnya adalah ludah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang bercampur dengan kurma. Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم mendoakannya agar Allooh سبحانه وتعالى memberkahinya, dan ‘Abdullooh bin Zubair رضي الله عنه adalah manusia pertama yang lahir dalam Islam.”

(HR. Imaam Al Bukhoory dalam Shohiih-nya no: 3697, dan Imaam Muslim no: 2146)

2.      Memberi nama :

Adapun pemberian nama, maka terdapat dalam apa yang diriwayatkan oleh Al Imaam At Turmudzy no: 2832 dimana riwayat ini di-Hasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya رضي الله عنهم bahwa,

أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بتسمية المولود يوم سابعه ووضع الأذى عنه والعق

Artinya:

Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan untuk memberi nama bayi yang baru lahir pada hari ke-7 dan menghilangkan noda darinya serta melakukan ‘Aqiiqoh.”

Hanya saja kebiasaan masyarakat kita dalam memberi nama anak kurang memperhatikan kaidah syar’ie, tetapi berdasarkan kesukuan, semangat atau meniru dari kebudayaan Barat dan Timur, dan lain-lain. Padahal jika kita kembali kepada Al Qur’an ataupun Al Hadiits, maka tidak akan kita temui kecuali bahwa nama itu hendaknya bermakna baik dan merupakan suatu do’a, dan disamping itu hendaknya cukup dengan 1 kata (seperti: Adam, Nuh, Hud, ‘Isa, Isma’iil, Ibrohiim, Mu’adz, dan seterusnya) atau 1 kata majemuk (seperti: ‘Abdullooh, ‘Abdurrohmaan, dan sejenisnya).

Karena itu marilah kita mulai Sunnah ini dan jangan kita lewati.

3.      Menggunduli rambut :

Berikutnya kepala bayi yang baru lahir tersebut digunduli rambutnya, menggunakan pisau pengerok yang biasa dipakai untuk mengerok jenggot (bagi yang melakukannya) dan ini adalah Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagaimana Samuroh bin Jundub رضي الله عنه mengatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Artinya:

Setiap bayi yang lahir tergadai dengan ‘aqiiqohnya, disembelihkan hewan ‘aqiiqoh pada hari ke-7-nya, kemudian digunduli kepalanya dan diberi nama.”

(HR. Imaam Abu Daawud no: 2840, di-Shohiih-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله)

Kata “tergadai” dalam Hadits diatas sebagaimana para ‘Ulama Ahlus Sunnah artikan adalah bermakna syafa’at, yaitu jika anak tersebut mati dalam keadaan kecil maka anak itu tidak dapat memberi syafa’at pada Hari Kiamat terhadap kedua orangtuanya. Sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Al Imaam Khoththtooby, Imaam Ahmad bin Hambal رحمهما الله dan lain-lain. Atau bermakna penekanan seolah dia belum terlepas dari gadainya, karena suatu barang jika tergadai maka dia tidak dapat memanfaatkannya, demikian pula dengan anak yang belum tergadai adalah seolah kita terhalang dari mendapat pahala karena kita tidak melakukan ‘aqiiqohnya.

Sebagai catatan, hendaknya mencukur rambut bayi tersebut bukan bermakna memotong ataupun menggunting, akan tetapi menggunduli semua rambut yang tumbuh dan ada di kepala bayi; yang diantara hikmahnya adalah selain mengikuti Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, juga akan merangsang syaraf kepala berkenan dengan tumbuhnya rambut.

4.      Bershodaqoh seberat rambut dengan nilai perak :

Rambut yang didapat dari proses penggundulan kepala bayi tersebut lalu ditimbang, kemudian bershodaqohlah dengan seberatnya, senilai dengan harga perak sebagaimana ‘Ali bin Abi Thoolib رضي الله عنه berkata,

عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الحسن بشاة وقال يا فاطمة أحلقي رأسه وتصدقي بزنة شعره فضة قال فوزنته فكان وزنه درهما أو بعض درهم

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melakukan ‘aqiiqoh untuk Hasan dengan 1 ekor domba dan bersabda, ‘Ya Faathimah, engkau gunduli kepalanya dan bershodaqohlah seberat timbangan rambutnya dengan perak.”

Maka (‘Ali bin Abi Thoolib رضي الله عنه) berkata, “Aku timbang rambutnya sehingga senilai 1 dirham atau kurang.”

(HR. Imaam At Turmudzy no: 1519, dan Hadits ini di-Hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله)

Syaikh Muhammad bin Shoolih Al ‘Utsaimiin رحمه الله ketika ditanya tentang apakah bershodaqoh itu dengan emas ataukah perak, maka beliau رحمه الله menjawab, “Telah terdapat riwayat dalam Hadits dalam Kitab-Kitab Sunnah dimana Ahlil Ilmu bertumpu padanya, bahwa bayi itu digunduli rambutnya pada hari ke-7 dan bershodaqoh seberatnya dengan perak; akan tetapi khusus untuk anak laki-laki saja. Adapun untuk bayi perempuan maka tidak digunduli kepalanya.”

5.      ‘Aqiiqoh pada hari ke-7 dari hari kelahirannya :

Tentang ‘aqiiqoh, maka dia adalah merupakan sembelihan yang disembelih oleh seseorang yang baru saja mendapatkan karunia Allooh سبحانه وتعالى berupa anak, yang lahir ke dunia menggunakan hewan domba atau kambing yang semuanya itu dilakukan sebagai bentuk ungkapan bahagia dan rasa syukur kepada Allooh سبحانه وتعالى atas lahirnya bayi tersebut dengan selamat.

Adapun tentang ‘aqiiqoh ini ada beberapa hal dalam pelaksanaannya yang harus diperhatikan dan dicamkan dengan baik-baik:

a)      Hewan ‘aqiiqoh adalah hewan kurban.

b)      2 (dua) ekor jika bayinya laki-laki, dan 1 (satu) ekor jika bayinya perempuan.

c)      Pelaksanaan ‘aqiiqoh ini hukumnya adalah Sunnah Muakkadah sebagaimana difatwakan oleh para Masyaikh yang tergabung dalam Lembaga Fatwa Saudi Arabia (Lajnah Daa’imah) no: 4861 yang ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziis bin Baaz, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afiifii, Syaikh ‘Abdullooh bin Hudayyan dan Syaikh ‘Abdullooh bin Qu’uud; mereka menyimpulkan bahwa ‘aqiiqoh adalah Sunnah Muakkadah, bagi bayi laki-laki disembelihkan dua ekor domba dan bagi bayi perempuan disembelihkan satu ekor domba, disembelihnya pada hari ke-7 dari kelahirannya, namun jika mengakhirkan penyembelihan ‘aqiiqohnya dari hari ke-7 tersebut maka yang demikian itu boleh dan sembelihannya disembelih pada waktu kapan saja. Dan tidak berdosa jika dia mengakhirkannya, sedangkan yang paling afdhol (utama) adalah mendahulukannya jika mampu.

d)     Hewan ‘aqiiqoh ini sebagaimana yang kita ketahui adalah disembelih pada hari ke-7. Suatu contoh, jika seseorang lahir pada jam 18.30 (maghrib) hari Jum’at maka ‘aqiiqohnya adalah dilakukan pada hari Kamis pekan depannya sampai batas waktu sebelum jam 18.30.

Waktu ini adalah ketentuannya kita dapati dari Hadits terdahulu.

e)      Tentang hewan yang akan disembelihnya, boleh jantan, boleh betina. Hal ini adalah sebagaimana terdapat dalam Riwayat Ummu Kurz رضي الله عنها bahwa beliau bertanya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang ‘aqiiqoh, lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab,

عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ لاَ يَضُرُّكُمْ أَذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا

Artinya:

Aqiiqoh itu untuk laki-laki 2 domba, sedangkan untuk anak perempuan 1 domba. Sama saja engkau pilih jantan ataukah betina.”

(HR. Imaam Abu Daawud no: 2835, dan Imaam At Turmudzy no: 1516, beliau berkata Hadits ini Hasan Shohiih dan Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله men-Shohiih-kannya)

Ketika kita menyembelih hewan kurban, maka sebut nama si bayi itu sebagaimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memerintahkan hal ini dengan,

وَقُولُوا بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ لَكَ وَإِلَيْكَ هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلاَنٍ

Artinya:

Katakanlah oleh kalian Bismillah Alloohu Akbar, Alloohuma laka wa illaika haadzihi ‘aqiiqotu Fulan.”

(HR. Imaam Al Baihaqy dalam Kitabnya “As Sunnanul Kubro” no: 19772, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

f)       Ketika memasaknya, dianjurkan untuk tidak memotong-motong tulangnya, akan tetapi cukup dengan mengelupaskan dagingnya. Hal ini adalah sebagaimana telah diriwayatkan dari Ummu Kurz dan Abi Kurz رضي الله عنهما, dimana keduanya berkata,

نذرت امرأة من آل عبد الرحمن بن أبي بكر إن ولدت امرأة عبد الرحمن نحرنا جزورا فقالت عائشة رضي الله عنها : لا بل السنة أفضل عن الغلام شاتان مكافئتنان و عن الجارية شاة تقطع جدولا و لا يكسر لها عظم فيأكل و يطعم و يتصدق

Artinya:

Seorang wanita dari keluarga ‘Abdurrohmaan bin Abu Bakr, bahwa jika istri ‘Abdurrohmaan melahirkan maka kita akan menyembelih unta.”

Akan tetapi ‘Aa’isyah رضي الله عنها berkata, “Tidak, justru sunnah yang afdhol adalah lebih utama, yaitu untuk bayi laki-laki adalah dua ekor domba, sedangkan untuk bayi perempuan adalah satu domba. Dipotong ruas per ruas, tetapi tidak dipatah-patahkan tulangnya, kemudian dimakan, dihadiahkan dan dishodaqohkan.”

(HR. Imaam Al Hakim dalam Kitab “Al Mustadrok” no: 7595, dimana beliau mengatakan bahwa Hadits ini Sanadnya Shohiih, akan tetapi Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim tidak meriwayatkannya, sedangkan Imaam Adz Dzahaby men-Shohiih-kannya dalam kitab beliau bernama “At Talkhiish”).

g)      Jika ingin membagi, maka kata Imaam Asy Syaafi’iy, juga Ibnu Siriin رحمهم الله, “Masaklah dagingnya sesukamu.”

Dan Ibnu Juraij رحمه الله berkata, “Dagingnya dimasak dengan air dan garam, lalu hadiahkanlah kepada tetangga, handai taulan dan jangan bershodaqoh sedikit pun dengannya.

Akan tetapi ketika Imaam Ahmad رحمه الله ditanya, maka beliau رحمه الله menceritakan tentang pendapat Ibnu Siriin رحمه الله, dan ini menunjukkan bahwa beliau رحمه الله berpendapat dengan pendapat yang ini.

Dan ketika beliau رحمه الله ditanya apakah memakannya seluruhnya, maka beliau رحمه الله menjawab, “Saya tidak mengatakan untuk memakan seluruhnya, dan tidak juga mengatakan bershodaqohlah darinya. Yang paling tepat adalah mengqiyaskan pada sembelihan kurban, karena ‘aqiiqoh ini merupakan sembelihan ibadah, tidak wajib, sehingga disamakan dengan kurban. Dan karena menyerupainya, baik dalam sifat, sunnah-sunnahnya, kadarnya, syaratnya, maka diserupakan pula dalam pendistribusiannya. Dan jika dimasak, dan mengundang saudara-saudaranya sehingga mereka memakannya maka itu adalah yang lebih baik, serta dianjurkan agar tulang-belulangnya dipisahkan, akan tetapi tidak dipotong-potong.

6.      Memberi do’a baik bagi bayi yang baru lahir, maupun kepada kedua orangtuanya :

Tentang do’a yang walaupun pada kenyataannya tidak sedikit kaum muslimin yang tidak melaksanakannya walaupun mereka menghadiri acara seperti ‘aqiiqoh, pernikahan ataupun ta’ziyah dan lain-lain, walau semestinya do’a-do’a penting seperti itu telah mereka hafal dan secara otomatis mendo’akannya.

Karena itu hendaknya kita berusaha untuk menghafal dan mempraktekkannya sesuai dengan momentum yang ada.

Berikut ini salah satu contoh do’a yang sebaiknya kita ucapkan ketika kita mendengar atau menemui salah seorang saudara / teman kita  yang baru saja mendapatkan anak.

Terdapat riwayat dari Al Hasan Al Bashri رحمه الله bahwa beliau رحمه الله berkata, “Do’a untuk orang yang baru saja mendapat bayi adalah:

بورك لك في الموهوب وشكرت الواهب وبلغ رشده ورزقت بره

(“Buurika laka fil mauhuub wa syakartal waahib wabalagho rusydahu war ruziqta birrohu”)

Artinya:

Semoga Allooh سبحانه وتعالى limpahkan berkah kepada bayimu. Semoga engkau tetap bersyukur kepada Allooh سبحانه وتعالى. Semoga Allooh سبحانه وتعالى sampaikan usia anak ini hingga besar / dewasa (panjang umur). Dan semoga engkau dikaruniai perbuatan baik darinya untukmu.”

(Lihat Kitab “Tuhfatul Mauduud Bi Ahkaamil Mauluud”)

Dan hendaknya bagi orang yang mendapati doa ini menjawab dengan:

بَارَكَ اللهُ لَكَ، وبَارَكَ عَلَيْكَ، وجَزَاكَ اللهُ خَيْراً، ورَزَقَكَ اللهُ مِثْلَهُ، وأجْزَلَ ثَوَابَكَ

(“Baarokalloohu laka, wa baaroka ‘alaika, wa jazaakalloohu khoiron, wa rozaqokalloohu mitslahu, wa ajzala tsawaabaka”)

Artinya:

Semoga keberkahan Allooh سبحانه وتعالى untukmu. Semoga keberkahan Allooh سبحانه وتعالى limpahkan padamu. Semoga Allooh سبحانه وتعالى membalasmu dengan kebaikan. Semoga Allooh سبحانه وتعالى memberimu rizqy semisalnya. Semoga Allooh سبحانه وتعالى melipatgandakan pahalamu.”

(Lihat Kitab “Syarah Hisnul Muslim” halaman 195)

Bahkan terdapat contoh dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bahwa hendaknya kita mendoakan bayi yang baru lahir itu secara khusus. Hal ini sebagaimana ‘Abdullooh bin ‘Abbaas رضي الله عنه berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Artinya:

Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم meminta perlindungan kepada Allooh سبحانه وتعالى untuk Al Hasan dan Al Husein رضي الله عنهما dan bersabda, ‘Sesungguhnya ayah kalian berdua memohon perlindungan kepada Allooh سبحانه وتعالى untuk melindungi Ismail dan Ishaq عليهما السلام dengan mengatakan, ‘Aku berlindung dengan kalam-Mu yang sempurna dari setiap syaithoon dan kejahatannya, dan dari setiap pandangan yang mencela‘.”

(HR. Imaam Al Bukhoory no: 3371)

Hikmah ‘Aqiiqoh :

Kita semua menyadari bahwa anak adalah karunia Allooh سبحانه وتعالى yang merupakan dambaan dan kebahagiaan bagi bapak dan ibunya. Anak adalah perhiasan yang dengannya, bapak dan ibunya menjadi berbangga. Hal ini adalah sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. ‘Aali ‘Imron (3) ayat 14 sebagai berikut:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Artinya:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allooh-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Juga firman-Nya dalam QS. Al Furqoon ayat 74 berikut ini:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Artinya:

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Anak juga adalah simpanan masa depan, karena jika kita pandai dan berhasil mendidiknya dengan benar dan lurus maka mereka adalah 30 persen lebih merupakan simpanan yang akan ditemui di Hari Akhir. Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1631, dari salah seorang Shohabat bernama Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ » رواه مسلم

Artinya:

Jika seorang manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga, yakni: shodaqoh jaariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shoolih yang mendo’akannya.”

Adapun mengenai Hikmah dan pelajaran yang dapat kita sarikan dari Sunnah ‘Aqiiqoh ini, maka sebenarnya adalah sangat banyak, namun berikut ini saya sebutkan 7 perkara diantaranya, yaitu antara lain:

1. Ungkapan rasa syukur pada Allooh سبحانه وتعالى.

Kalau kita sadari dan kita hayati, maka anak adalah karunia yang tak ternilai harganya. Karena itu dengan ‘Aqiiqoh, maka kita diajari untuk mensyukuri nikmat Allooh سبحانه وتعالى tersebut dan tidak melewatkan hal tersebut begitu saja.

2. Mewujudkan kepatuhan pada Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencontohkan ‘aqiiqoh ini pada kedua cucunya yakni Al Hasan dan Al Husein رضي الله عنهما, sedangkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah panutan kita, dan barangsiapa yang mencontoh dan mengikuti Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم maka berarti dia telah mewujudkan cintanya pada Allooh سبحانه وتعالى.

3. Menghidupkan Sunnah dalam berbagai sisi kehidupan.

Sunnah pada saat dimana kita hidup hari ini adalah semakin hari semakin terasing. ‘Aqiiqoh betapa pun sering kita jumpai, namun pada kenyataannya belum sepenuhnya sesuai dengan tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena itu hendaknya kita renungkan kembali tentang ‘aqiiqoh ini sehingga bukan semata-mata merupakan acara ritual rutinitas ataupun kebiasaan saja, akan tetapi hendaknya dihidupkan dan dibangkitkan tentang nilai-nilai yang dimaksud Syar’ie dari adanya amalan ‘aqiiqoh ini.

4. Mempererat silaturrohim

Dengan ‘aqiiqoh, sanak saudara, handai taulan, tetangga, karib kerabat, termasuk faqir miskin  — bagi yang melaksanakan ‘aqiiqoh di rumah shohiibul haajat –, maka semua mereka bertemu, bertatap muka, bercengkerama satu sama lain, saling berkomunikasi serta berinteraksi; yang semua itu adalah bisa dipastikan akan menjadi media bagi kokoh kuatnya silaturrohim.

5. Melatih kedermawanan

‘Aqiiqoh dari sisi harta adalah merupakan ibadah maaliyyah (harta), dimana seorang yang baru saja mendapatkan karunia anak sedangkan dia mempunyai kelapangan rizqy, dididik oleh Al Islam agar membelanjakan sebagian dari hartanya tersebut untuk menjalankan As Sunnah sebagaimana yang dituntunkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang sudah barang tentu Sunnah ini melatih seseorang menjadi dermawan serta jauh dari penyakit kikir.

6. Bagian dari pendidikan terhadap anak

Proses mendidik anak sebenarnya tidak dimulai sejak anak itu lahir ke dunia saja, melainkan jauh sebelum itu. Namun ketika seorang anak mulai Allooh سبحانه وتعالى perlihatkan lahir ke dunia, maka pertama kali yang didengar oleh anak tersebut hendaknya adalah alunan lafadz Allooh سبحانه وتعالى dalam adzan. Juga do’a dari khalayak, keluarga, sanak famili, karib kerabat, tetangga dan handai taulan termasuk ‘aqiiqoh; dimana semua ini adalah proses pendidikan terhadap seorang anak sehingga diharapkan ketika dia besar nanti dimana diceritakan kepadanya apa yang dialaminya disaat dia masih kecil, maka diharapkan semua itu akan menjadi nilai yang akan mengokohkan ke-Islaman, keimanan dan keistiqomahan bagi dirinya.

7. Berbagi bahagia pada sesama terutama orang yang belum beruntung atau lebih miskin dari kita.

Dengan ‘aqiiqoh, bukan hanya bapak dan ibunya saja yang berbahagia, akan tetapi karib kerabat, tetangga, handai taulan dan jangan lupa kaum faqir miskin; semua mereka pun hendaknya mendapat kebahagiaan dan memberi kebahagiaan melalui ‘aqiiqoh yang diselenggarakan.

Bagi yang baru saja mendapatkan anak, maka dia berbahagia dengan kelahiran si anak dan juga dengan do’a-do’a yang disampaikan pada mereka.

Sedangkan ‘aqiiqoh yang dikorbankannya adalah tidak akan sebanding dengan do’a serta ketaatan kepada Allooh سبحانه وتعالى, yang insya Allooh akan mengundang berbagai kebaikan dan keberkahan lainnya.

Adapun bagi mereka yang menghadiri, mendo’akan serta menikmati ‘aqiiqoh ini, mereka pun sama-sama mendapatkan kebahagiaan; karena mereka dibukakan pintu beramal, dimana berdo’a itu adalah amal shoolih, silaturrohim juga adalah amal shoolih, dan semua itu adalah membahagiakan. Bahkan termasuk sesuap nasi dan sekerat daging yang dinikmati oleh kaum faqir miskin yang bisa jadi mereka itu jarang menikmatinya, atau paling tidak perasaan bahwa mereka dianggap ada dalam suatu masyarakat, maka hal ini bisa dipastikan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Intinya, dengan ‘aqiiqoh kita dapat berbagi bahagia dan memberi bahagia terhadap sesama kita.

Demikianlah sekelumit tentang ‘Aqiiqoh beserta hikmahnya, semoga menjadi hal yang bermanfaat serta menjadi penambah motivasi bagi kita untuk senantiasa menegakkan syi’ar-syi’ar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan hendaknya satu sama lain diantara kita saling tolong menolong dalam hal tersebut. Kita berdo’a mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى senantiasa membukakan pintu hidayah untuk kita, memberi kemudahan dalam menjalankan syari’at-Nya, istiqomah serta berpegang teguh dengannya hingga kita mati dan Allooh سبحانه وتعالى kumpulkan kita didalam surga-Nya. Aamiiin.

Karawang, 12 Robbii’ul Awwal 1433 H   –  4 Februari 2012 M.

—– 0O0 —–

Silakan download PDF : AqiiqohFNL

10 Comments leave one →
  1. suryanto permalink
    4 February 2012 4:55 pm

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Mohon izin copy paste ustads, untuk tambah ilmu ana
    Wassalamu’alaikum wr wb

    • 5 February 2012 10:36 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  2. Ummu Abdurrahman permalink
    5 March 2012 10:24 am

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, bagaimana jika anak yang sudah dewasa (bahkan sudah berumahtangga) yang belum di-aqiqohkan? Bagaimana hukumnya? Apa tetap orangtua yang meng-aqiqohkan atau oleh anaknya sendiri?

    • 7 March 2012 7:20 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      ‘Aqiiqoh adalah ibadah yang terkait dengan waktu. Apabila sudah terlewatkan waktunya, maka tidak perlu lagi dilaksanakan. Anti dapat melakukan berbagai amal shoolih yang lainnya saja. Barokalloohu fiiki

  3. alam permalink
    5 March 2012 3:46 pm

    Pak ustadz, banyak tulisan tentang semua hadits masalah adzan & iqomah saat bayi lahir derajatnya dhoif bahkan maudhu, bagaimana mnurut antum? Silahkan antum lihat link berikut :
    http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kritik-anjuran-adzan-di-telinga-bayi.html

    Syukron, jazzakalloh khoir

  4. setiawan permalink
    6 March 2012 5:20 pm

    Maaf Ustadz,saya baca seperti keterangan di bawah kalau hadist yang Ustadz bawakan pada point 1 adalah dho’if, mohon penjelasannya dan pencerahannya.

    Penilaian Pakar Hadits Mengenai Hadits-Hadits di Atas

    Penilaian hadits pertama:

    Para perowi hadits pertama ada enam,

    مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ

    yaitu: Musaddad, Yahya, Sufyan, ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, ‘Ubaidullah bin Abi Rofi’, dan Abu Rofi’.

    Dalam hadits pertama ini, perowi yang jadi masalah adalah ‘Ashim bin Ubaidillah.

    Ibnu Hajar menilai ‘Ashim dho’if (lemah). Begitu pula Adz Dzahabi mengatakan bahwa Ibnu Ma’in mengatakan ‘Ashim dho’if (lemah). Al Bukhari dan selainnya mengatakan bahwa ‘Ashim adalah munkarul hadits (sering membawa hadits munkar).

    Dari sini nampak dari sisi sanad terdapat rawi yang lemah sehingga secara sanad, hadits ini sanadnya lemah.
    Ringkasnya, hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if).

    Kemudian beberapa ulama meng-Hasankan hadits ini seperti At-Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa hadits ini Hasan. Kemungkinan beliau mengangkat hadits ini ke derajat Hasan karena ada beberapa riwayat yang semakna yang mungkin bisa dijadikan penguat. Mari kita lihat hadits kedua

    Penilaian hadits kedua:

    Para perowi hadits kedua ada lima,

    حدثنا جبارة ، حدثنا يحيى بن العلاء ، عن مروان بن سالم ، عن طلحة بن عبيد الله ، عن حسين

    yaitu: Jubaaroh, Yahya bin Al ‘Alaa’, Marwan bin Salim, Tholhah bin ‘Ubaidillah, dan Husain.

    Jubaaroh dinilai oleh Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi dho’if (lemah).

    Yahya bin Al ‘Alaa’ dinilai oleh Ibnu Hajar orang yang dituduh dusta dan Adz Dzahabi menilainya matruk (hadits yang diriwayatkannya ditinggalkan).

    Marwan bin Salim dinilai oleh Ibnu Hajar matruk (harus ditinggalkan), dituduh lembek dan juga dituduh dusta.

    Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321 menilai bahwa Yahya bin Al ‘Alaa’ dan Marwan bin Salim adalah dua orang yang sering memalsukan hadits.

    Dari sini sudah dapat dilihat bahwa hadits kedua ini tidak dapat menguatkan hadits pertama karena syarat hadits penguat adalah cuma sekedar lemah saja, tidak boleh ada perowi yang dusta. Jadi, hadits kedua ini tidak bisa mengangkat derajat hadits pertama yang dho’if (lemah) menjadi Hasan.

    • 13 March 2012 9:04 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Syukron wa jazaakumulloohu khoyron katsiira atas perhatian antum dalam masalah ini. Alhamdulillah telah diberi tambahan keterangan terhadap Hadits tersebut, pada tulisan diatas.

      Berkenaan dengan Adzan di telinga bayi pada saat lahir, para ‘Ulama ada 2 golongan.
      Golongan yang pertama adalah yang tidak mengamalkan, golongan kedua adalah yang mengamalkan.

      Adapun yang tidak mengamalkan antara lain adalah seperti:

      1) Seperti dikatakan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany ketika ditanya, “Apakah benar Hadits tentang adzan di telinga bayi itu lemah?”
      Maka beliau menjawab, “Ya.”
      Kemudian ditanya lagi, “Apakah bisa diamalkan?”
      Maka beliau menjawab, “Tidak.”
      Penanya mengatakan lagi, “Apa nasehat anda seputar perkara ini bagi saudara-saudara yang barangkali mereka tidak mengetahui bahwa anda melemahkannya?”
      Syaikh menjawab, “Nasehat, ini adalah penjelasan untuk manusia sebagaimana kami katakan sebelumnya bahwa adzan di telinga bayi adalah disyari’atkan sehubungan dengan Hadits menyunnahkan untuk adzan di telinga bayi yang diriwayatkan dalam Sunnan At Turmudzy dengan Sanad yang Lemah. Akan tetap,i kami menemukan Hadits-Hadits yang menguatkan Hadits Lemah melalui Syawahid dimana kami menemukan Syahid (Saksi) dalam Kitab Ibnul Qoyyim yang terkenal dengan “Tuhfatul Waduud Fii Ahkaamil Mauluud” pada saat itu beliau (Ibnul Qoyyim) merujuk pada Kitab “Syu’abil Iimaan” karya Al Imaam Al Baihaqy. Betapa pun beliau (Imaam Al Baihaqy) menjelaskan bahwa Sanadnya Lemah.
      Saya (Syaikh Al Albaany) menganggap penjelasan ini bahwa Sanadnya Tidak Sangat Lemah, karena itu saya menjadikannya sebagai Syahid terhadap Hadits At Turmudzy yang diriwayatkan dari jalan Abii Roofii’. Pada saat itu Kitab “Syu’abil Iimaantidak ada padaku………
      Adapun sekarang Kitab “Syu’abil Iimaan” itu sudah ada di berbagai perpustakaan dimana-mana dan itu adalah Kitab yang sangat berharga sekali. Didalamnya banyak Hadits yang tidak kita temui dalam “Al Kutubbus Sittah” dan yang lainnya. Antara lain Hadits yang saya bertumpu pada Ibnul Qoyyim yang menganggap bahwa Hadits Abi Roofii’ dalam Sunnah At Turmudzy sebagai Syahid. Ternyata Hadits yang diriwayatkan oleh Al Imaam Al Baihaqy dalam Kitab “Syu’abil Iimaan” ini didalam Sanadnya terdapat 2 orang yang tertuduh berdusta atas nama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
      Dengan demikian jelaslah bagiku bahwa Ibnul Qoyyim ungkapannya memudahkan tentang Sanad Hadits bahwa Hadits itu adalah sekedar LEMAH, padahal yang benar semestinya adalah beliau mengatakan LEMAH SEKALI, karena dalam keadaan seperti ini tidak boleh bagi orang yang menggeluti Ilmu Hadits menganggap Hadits Lemah Sekali sebagai Saksi (Syahid) terhadap Hadits yang Tidak Sangat Lemah. Maka dari itu tidak ada kata lain bagi saya kecuali untuk rujuk dari menguatkan Hadits Abi Roofii’ dalam Sunnan At Turmudzy melalui dalam Kitab “Syu’abil Iimaan” tadi karena Lemahnya adalah Sangat.
      Maka Hadits Abi Roofii’ tetap berada dalam keadaan Lemah. Dan kita diatas apa yang Allooh سبحانه وتعالى tunjukkan pada kita yaitu tidak bolehnya beramal dengan Hadits yang lemah.
      Dan saya rujuk kepada perkataan selama Hadits Abi Roofii’ asalnya Lemah, Sanadnya dan Syahidnya lebih Lemah. Jadi Hadits itu tetap dalam keadaan Lemah dan saya rujuk dari perkataan yang lalu, yang mengatakan bahwa Adzan pada telinga bayi adalah Sunnah.”
      (http://ejabat.google.com/ejabat/thread?tid=7cf68c0cf11fff0d)

      2) Dijelaskan oleh Syaikh Abu Hammam Bakr bin ‘Abdil ‘Aziiz Al Atsary:
      Berkata Syaikh Sulaimaan Al ‘Alwaan ketika mengomentari perkataan Al Imaam At Turmudzy:
      “Didalamnya (Hadits Abi Roofii’) ada sesuatu, karena ‘Aashim bin ‘Ubaidillah telah menyendiri dan kebanyakan Ahli ‘Ilmu melemahkannya. Ibnu ‘Uyainah berkata, “Para masyaikh berhati-hati terhadap Hadits ‘Aashim bin ‘Ubaidillah.” Ali Ibnul Madiny berkata, “Saya mendengar ‘Abdurrohman Al Mahdy berkata, “Sangat mengingkari Hadits ‘Aashim bin ‘Ubaidillah.” Abu Hatim berkata, “Haditsnya mungkar. Haditsnya goncang, tidak ada yang dapat dijadikan sebagai tumpuan.” Berkata Nasaa’i, “Kami tidak mengetahui Imaam Maalik meriwayatkan dari orang yang Lemah, sangat masyhur dengan Lemahnya kecuali ‘Aashim bin ‘Ubaidillah, karena beliau meriwayatkan Hadits darinya 1 Hadits”.”
      (http://www.tawhed.ws/FAQ/display_question?qid=1177)

      3) Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziiz bin Marzuuq Ath Thuroify dalam Fatwa beliau no: 15.833, dimana beliau mengatakan, “Tidak ada Hadits yang Shohiih tentang anjuran mengadzankan bayi pada saat lahir.”
      (http://www.tegaraworld.com/vb/t-12639.html)

      4) Boleh juga lihat penjelasan dari Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy di video youtube berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=VYga8MPy99c

      Walau demikian para ‘Ulama terdahulu tidak sedikit yang mengamalkan Hadits ini, karena atsar (riwayat-riwayat para ‘Ulama terdahulu) tentang Adzan pada telinga bayi pada saat lahir adalah dari ‘Abdullooh bin ‘Abdul ‘Aziiz dan Al Hasan Al Bashrii, sehingga hal ini bisa dikatakan bahwa mereka menganjurkannya. Berikut ini adalah beberapa yang dapat dinukil penjelasan tentang hal itu seperti:

      1) Ibnul Qoyyim mengatakan dalam Kitab “Tuhfatul Waduud Fii Ahkaamil Mauluud”, “Rahasia mengadzankan bayi, walloohu a’lam adalah menjadikan pertama kali yang mengetuk pendengaran manusia adalah kata-kata yang mengandung kebesaran dan keagungan terhadap Allooh سبحانه وتعالى, dan persaksian yang menandakan awal masuknya seseorang kedalam Al Islam. Maka yang demikian itu bagaikan Talqin sebagai tanda masuknya dia kedalam Islam ketika dia keluar ke alam dunia, sebagaimana kalimat Tauhid ditalqinkan pada seseorang pada saat dia keluar dari dunia (– mati — pent.). Tidak dapat diingkari sampainya pengaruh adzan kepada hati bayi. Betapapun belum dapat kita rasakan adanya manfaat lain yaitu larinya syaithoon dari kata-kata adzan, dimana syaithoon itu mengintai bayi itu hingga dia lahir, sehingga hal ini merupakan pendampingan terhadap apa yang Allooh سبحانه وتعالى takdirkan sehingga diperdengarkan pada syaithoon apa yang melemahkannya di awal kehidupannya. Ada makna lain yaitu menyeru bayi tersebut kepada jalan Allooh سبحانه وتعالى, kepada Islam, beribadah kepada-Nya lebih dahulu daripada ajakan syaithoon, sebagaimana yang demikian itu adalah fithroh Allooh سبحانه وتعالى yang Allooh سبحانه وتعالى menciptakan manusia diatasnya lebih dahulu dari perubahan syaithoon terhadap fithroh tersebut, dan lain-lain.”

      2) Berkata pula Abul ‘Alaa Al Mubaarokfuurii dalam “Tuhfatul Ahwadzy” V/91 perkataan, “Hadits ini diamalkan (Perkataan ini adalah perkataan Al Imaam At Turmudzy) maksudnya Hadits Abi Roofii’ tentang mengadzankan telinga bayi pada saat lahir. Betapapun aku mengatakan bagaimana hal ini diamalkan, bukankah Haditsnya Lemah, karena dalam Sanadnya terdapat ‘Aashim bin ‘Ubaidillaah sebagaimana anda tahu. Aku mengatakan, “Ya, dia Lemah, akan tetapi ditopang dengan Hadits Al Husain bin Ali رضي الله عنهما yang diriwayatkan oleh Abu Yaala Al Muusiliy dan Ibnus Sunnii.”

      3) Syaikh ‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdullooh Ar Roojihii berkata ketika beliau ditanya tentang Hadits Adzan pada telinga bayi, beliau menjawab, “Telah datang dalam sebagian Hadits-Hadits, akan tetapi didalamnya sebagian Lunak dan jika diadzankan pada telinga kanan dan pada telinga kiri, maka tidak mengapa hal itu adalah baik, betapapun sebagian Hadits-Haditsnya Lemah dan sebagian yang lain Lunak.”
      (http://www.muslma1.net/vb/showthread.php?t=13593)

      4) Berkata Syaikh Muhammad bin Shoolih Al ‘Utsaimiin, “Adapun Qomat pada telinga bayi bagian kiri maka Haditsnya Lemah. Adapun Adzan pada telinga kanannya maka tidak mengapa. Betapa pun ada komentar terhadapnya. Akan tetapi hal itu dilakukan langsung pada saat kelahiran. Para ‘Ulama berkata, “Hikmah dari mengadzankan bayi adalah menjadikan pertama yang diperdengarkan kepada telinga bayi itu adalah adzan, yang merupakan seruan untuk sholat dan beruntung. Didalam adzan itu pun terdapat pengagungan terhadap Allooh سبحانه وتعالى, meng-Esakan Allooh سبحانه وتعالى, dan persaksian terhadap kenabian dan kerosuulan Muhammad صلى الله عليه وسلم.”
      (http://www.tawhed.ws/FAQ/display_question?qid=1177)

      Lalu di waktu yang lain, Syaikh Muhammad bin Shoolih Al ‘Utsaimiin berkata pula dalam “Fatwa Nuurun Alad Darby” III/280, “Para ‘Ulama berkata, Hikmah dari pertama yang diperdengarkan pada telinga bayi pada saat lahir adalah seruan pada sholat dan keberuntungan. Didalam adzan itu pun terdapat pengagungan terhadap Allooh سبحانه وتعالى, meng-Esakan Allooh سبحانه وتعالى, dan persaksian terhadap kenabian dan kerosuulan Muhammad صلى الله عليه وسلم.”
      (http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_7005.shtml)

      5) “Hadits-Hadits berkenaan dengan adzan dan iqomat pada telinga bayi tidak lepas Sanadnya dari Lemah terutama yang berkenaan dengan Iqomat-nya yang Lemah Sekali. Orang yang menjadikannya sebagai acuan dari kalangan Ahlil ‘Ilmu menjadikannya sebagai kebolehan mengambil Hadits Dho’iif dalam keutamaan amal (fadhoilul a’maal).”
      (http://www.soonaa.com/vb/showthread.php?t=1433)

      6) Boleh juga antum lihat penjelasan Syaikh Kholid bin ‘Abdillah Al Mushoilih di video youtube berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=Bn4p8pvaqV0&feature=related

      Dan penjelasan dari Syaikh ‘Utsman Al Khomiis di video youtube berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=0SKNupISOmg&feature=related

      Barokalloohu fiika…

  5. 3 April 2012 11:35 pm

    Terima kasih atas semua penjelasannya …

  6. budi ashari permalink
    17 March 2013 8:06 pm

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Izin download PDF nya ustadz…
    Barokallahu fiika

    • 17 March 2013 9:18 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: