Skip to content

Memahami Rukun Kalimat Tauhiid “Laa Ilaaha Illallooh”

21 June 2013

(Ringkasan Transkrip Ceramah Ar Rusydu – Seri Kajian Tauhiid)

MEMAHAMI RUKUN KALIMAT TAUHIID “LAA ILAAHA ILLALLOOH”
oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.Mpd

Memahami Kalimat Laa Ilaaha Illallooh

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Betapa banyak kaum Muslimin yang mewiridkan kalimat Tauhiid ini sehari-harinya; namun perkataan, sikap dan perilakunya justru bertolak belakang dengan kalimat yang meluncur beribu-ribu kali dari mulutnya tersebut. Pada hakekatnya hal itu adalah karena minimnya pemahaman dirinya terhadap makna, kandungan serta konsekwensi yang terdapat didalam kalimat yang agung ini. Oleh karena itu, marilah kita bahas kalimat Tauhiid “Laa Ilaaha Illallooh” dalam kajian ini, mudah-mudahan dengan memahaminya secara benar maka kaum Muslimin dapat memperbaiki serta meluruskan keimanannya kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Al Imaam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah رحمه الله didalam Kitabnya yang berjudul “Zaadul Ma’adJilid 1 halaman 36 telah memaparkan urgensi / kedudukan kalimatAku bersumpah bahwa tidak ada tuhan yang berhaq untuk diibadahi dengan sebenar-benarnya, kecuali hanyalah Allooh” (“Laa Ilaaha Illallooh”), yang diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Kalimat ini adalah menjadi sebab tegaknya eksistensi langit dan bumi.
2) Diciptakannya seluruh makhluk di langit dan di bumi adalah karena kalimat ini.
3) Karena kalimat ini pula, Allooh سبحانه وتعالى mengutus rosuul-rosuul.
4) Karena kalimat ini lah, Allooh سبحانه وتعالى menurunkan Kitab-Kitab-Nya.
5) Karena kalimat ini lah, Allooh سبحانه وتعالى menetapkan Syari’at-Nya.
6) Karena kalimat ini lah maka timbangan amal akan ditegakkan di Hari Kiamat.
7) Karena kalimat ini lah maka buku catatan amal ditulis.
8) Karena kalimat ini lah maka ditegakkan surga dan neraka.
9) Karena kalimat ini lah maka manusia terbagi menjadi 2 golongan, mu’min dan kaafir.
10) Karena kalimat ini lah maka ada istilah “orang-orang yang beruntung” dan “orang-orang yang berlumur dosa”.
11) Kalimat ini adalah merupakan titik awal dari segala penciptaan dan pengurusan.
12) Karena kalimat ini lah maka ada pahala dan ada hukuman.
13) Kebenaran kalimat ini lah yang menyebabkan seluruh makhluk itu diciptakan.
14) Karena kalimat ini lah, maka ada pertanyaan dan perhitungan Kubur.
15) Karena kalimat ini lah maka seseorang berhak atas pahala dan seseorang berhak atas siksa.
16) Karena kalimat ini lah maka Allooh سبحانه وتعالى tegakkan Kiblat.
17) Karena kalimat ini lah maka ajaran Islam dibangun.
18) Karena kalimat ini lah maka ditegakkan / dihunus pedang untuk jihad fii sabiilillah.
19) Karena kalimat ini lah maka ada Haq yang Allooh سبحانه وتعالى tuntut atas seluruh makhluk-Nya.
20) Kalimat ini lah yang merupakan kunci ke-Islaman seseorang.
21) Kalimat ini pula lah yang merupakan kunci Surga.
22) Karena kalimat ini lah maka manusia yang pertama hingga manusia yang terakhir diciptakan itu akan ditanya (dimintai pertanggungjawabannya) di Hari Kiamat.

Mengingat betapa pentingnya kalimat Tauhiid ini, maka marilah kita pahami makna dari tafsiiran yang terkandung didalamnya.

Ada berbagai penafsiiran yang keliru ketika memahami makna kalimat TauhiidLaa Ilaaha Illallooh”, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) “Laa Ilaaha Illallooh” ditafsiirkan dengan “Laa Ilaaha Maujuud Illallooh”, maknanya “Tidak ada tuhan yang ada selain Allooh”. Ini makna yang keliru karena kita tidak menafikan keberadaan tuhan-tuhan yang lain selain Allooh سبحانه وتعالى. Yang demikian ini adalah karena kenyataannya banyak tuhan-tuhan selain Allooh سبحانه وتعالى, yang dijadikan tuhan oleh manusia; padahal permasalahannya adalah bukan dengan menyatakan ada atau tidak adanya tuhan, melainkan kita mengkaafiri dan mengingkari tuhan-tuhan yang ada dan dianggap tuhan oleh manusia, kecuali hanyalah Allooh سبحانه وتعالى.
2) “Laa Ilaaha Illallooh” ditafsiirkan dengan “Laa Haakima Illallooh” yaitu “Tiada Hakim (Pembuat Hukum) kecuali Allooh”. Makna ini adalah kurang tepat serta tidak sempurna, karena baru mengandung sebagian dari kandungan makna “Laa Ilaaha Illallooh” atau parsial yaitu baru Tauhid Rububiyyah saja. Sebagai contoh, jika seseorang itu mentauhidkan Allooh سبحانه وتعالى dalam perkara Hukum, namun disisi lain dia itu beribadah kepada selain Allooh سبحانه وتعالى, maka tetap saja dia belum merealisasikan tuntutan kalimat Tauhiid tersebut.

Adapun makna yang benar dari tafsiir kalimat TauhiidLaa Ilaaha Illallooh” adalah “Laa ma’buda bi haqqin illallooh” (لا معبود بحق إلا لله) / “Laa ma’luuha haqqun illallooh” (لا مألوه حق إلا الله), yaitu: “Tidak ada yang berhaq untuk diibadahi dengan sebenar-benarnya, kecuali hanyalah Allooh”.

Hal ini adalah sesuai dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. SHOOD (38) ayat 5 :

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Artinya:
Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”

Kalimat TauhiidLaa Ilaaha Illallooh” itu sendiri terdiri dari 2 RUKUN, yaitu An-Nafyu (penafian / peniadaan) dan Al-Itsbat (penetapan).
1) “Laa Ilaaha” = Rukun An-Nafyu = Menyatakan “TIDAK” pada Selain Allooh سبحانه وتعالى, Berbebas diri dari Selain Allooh, Pengingkaran pada Thooghuut / ilaah / tuhan-tuhan palsu selain Allooh سبحانه وتعالى (= Al Baroo’)
2) “illa Allooh” = Rukun Al-Itsbat = Penetapan bahwa HANYA ALLOOH سبحانه وتعالى yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya (= Al Walaa’)

KEDUA RUKUN INI HARUS DIYAKINI DAN DIAMALKAN SECARA BERSAMAAN, karena ia merupakan satu paket atau dengan kata lain adalah paketTWO IN ONE” (2 in 1) !!! Dengan demikian, seorang Muslim itu secara AKTIF (– dan bukannya bersikap pasif –) harus berupaya untuk terus-menerus mengamalkan 2 Rukun kalimat Tauhiid ini, baik kedalam maupun keluar dirinya.

Contoh kasus:

a) Rukun “Laa Ilaaha” ini belum dipahami dan seringkali diabaikan oleh kaum Muslimin di zaman sekarang, oleh karena itu: Apabila kaum Muslimin di suatu negeri masih menganut paham Pluralisme, dimana ia meyakini bahwa agama Islam – Hindu – Budha – Kristen – Katolik itu sama saja, berarti kaum itu pada hakekatnya BELUM BERTAUHID secara benar !!!
Karena kaum itu BELUM MENGINGKARI pada SELAIN ALLOOH سبحانه وتعالى, belum berbebas diri dari selain Allooh سبحانه وتعالى; sehingga Rukun ke-1 dari Kalimat Tauhid “Laa Ilaahabelum diamalkannya secara benar.

‘Aqiidah Islam hanya mengajarkan satu: “Yang benar itu hanya Islam, dan selain Islam adalah tidak benar.” Ini adalah Tauhiid.
Adapun sebagian kalangan yang menyatakan bahwa: “Selain Islam itu tidak apa-apa; karena sekalipun jalannya berbeda-beda tetapi tujuannya adalah sama”; paham yang seperti ini adalah baathil, ia adalah ajaran PLURALISME. Untuk apa Allooh سبحانه وتعالى mengutus rosuul-rosuul dari zaman ke zaman kalaulah setiap agama itu sama saja dan tidak ada bedanya disisi Allooh سبحانه وتعالى ?

b) Rukun “illa Allooh” juga belum dipahami dan masih banyak dilanggar oleh sebagian kalangan yang menyatakan dirinya Muslim, seperti: Meminta-minta ke kuburan / berdo’a ke makam Wali-Wali, menganggap bahwa ada selain Allooh سبحانه وتعالى (contoh: sapi kramat Ki Slamet / Mbah Marijan / Nyi Roro Kidul, dll) yang dianggapnya dapat mendatangkan bahaya/ melindungi dirinya dari madhorot, meminta-minta ke dukun / paranormal, dsbnya

c) BERHUKUM DENGAN HUKUM BUATAN MANUSIA / TIDAK BERHUKUM DENGAN SYARI’AT ALLOOH سبحانه وتعالى !!

Hukum / Undang-Undang Buatan Manusia adalah identik dengan TANDINGAN BAGI SYARI’AT ALLOOH. Dengan demikian, melaksanakan Hukum / Undang-Undang Buatan Manusia adalah identik dengan memiliki ilaah / tuhan lain selain Allooh سبحانه وتعالى, yakni tuhan berupa Hawa Nafsu.
Hal ini sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. AL MAA’IDAH (5) ayat 49:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Artinya:
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allooh, dan janganlah kamu mengikuti HAWA NAFSU mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allooh kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allooh), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allooh menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasiq.”

Dan firman-Nya dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 50 :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya:
Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allooh bagi orang-orang yang yakin?

Bahkan selain hukum Allooh سبحانه وتعالى dikategorikan oleh Allooh سبحانه وتعالى sebagai Hukum Jahiliyyah.
Semestinya Undang-Undang yang berlaku di suatu kaum yang mengaku Muslim hanyalah:
Al Qur’an & As Sunnah yang Shohiihah, berdasarkan pemahaman para Pendahulu Ummat yang Shoolih & para Imaam yang mu’tabar.

POIN PENTING:
Ada poin penting yang perlu diketahui dan dipahami oleh kaum Muslimin bahwa:
a) Kata “TUHAN” = “ILAAH” (bisa pula ditujukan terhadap) = “THOOGHUUT”
b) “ALLOOH” ≠ (tidak sama dengan) “TUHAN” ; maksudnya: Allooh sudah pasti Tuhan, tetapi “Tuhan” belum tentu yang dimaksudkan adalah Allooh.
“ALLOOH” ≠ (tidak sama dengan) “ILAAH” ; maksudnya: Allooh sudah pasti Ilaah, tetapi “Ilaah” belum tentu yang dimaksudkan adalah Allooh.
“ALLOOH” ≠ (tidak sama dengan) “THOOGHUUT”

c) PerkataanTUHANYANG MAHA ESA itu BELUM DEFINITIF, siapa yang dimaksud dengan “TUHAN” dalam hal ini.
Karena:

“TUHAN”-nya orang Budha ≠ (tidak sama dengan) “ALLOOH”.
“TUHAN”-nya orang Hindu ≠ (tidak sama dengan) “ALLOOH”.
“TUHAN”-nya orang Nashroni ≠ (tidak sama dengan) “ALLOOH”.
“TUHAN”-nya orang-orang yang menganut ajaran Freemasonry Yahudi (yang menyembah Lucifer / Dewa Api / Baphomet / Iblis) ≠ (tidak sama dengan) “ALLOOH”.
Bagi mereka, “Tuhan Yang Maha Esa”-nya adalah Baphomet / Dewa Api / Iblis, sedangkan bagi kita kaum Muslimin “Tuhan Yang Maha Esa”-nya adalah Allooh سبحانه وتعالى.

Jadi yang benar, katakanlah: “ALLOOH YANG MAHA ESA”, barulah definitif siapa yang dimaksud.

BERBAGAI DALIIL TENTANG 2 (DUA) RUKUN KALIMAT TAUHID:

Ada berbagai daliil didalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang Rukun An-Nafyu (penafian / peniadaan) dan Rukun Al-Itsbat (penetapan) yang selalu berbarengan didalam Kalimat Tauhiid, antara lain adalah sebagai berikut:

1) QS. AN NAHL (16) ayat 36:

…أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ…

Artinya:
“… Sembahlah Allooh (saja), dan jauhilah Thooghuut itu…”

Kalimat ini adalah sama denganLaa Ilaaha Illallooh”, karena:
(أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ) = “Sembahlah Allooh (saja)” = illa Allooh
(وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ) = “dan jauhilah Thooghuut” = Laa ilaaha

Dalam ayat ini dijelaskan pula bahwa Selain Allooh disebut Thooghuut.

2) QS. AL A’ROOF (7) ayat 59 :

… اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ …

Artinya:
“…sembahlah Allooh, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya…”

Kalimat ini adalah sama dengan “Laa Ilaaha Illallooh”= Kalimat Tauhiid.

3) Kalimat Tauhiid ini terulang kembali dalam QS. AL A’ROOF (7) ayat 65 :

…اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…

Artinya:
“…sembahlah Allooh, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya…”

4) Juga dalam QS. AL A’ROOF (7) ayat 73 :

…اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُ…

Artinya:
“…sembahlah Allooh, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya…”

5) Kemudian dalam QS. ATH THUUR (52) ayat 43:

أَمْ لَهُمْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya:
Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allooh. Maha Suci Allooh dari apa yang mereka persekutukan.”

Kalimat ini adalah sama dengan “Laa Ilaaha Illallooh”, karena:
(أَمْ لَهُمْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ) = “Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allooh” = Laa ilaaha
(سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ) = “Maha Suci Allooh dari apa yang mereka persekutukan” = illa Allooh

6) Perhatikan pula QS. FAATHIR (35) ayat 3:

…لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ …

Artinya:
“…Tidak ada Tuhan selain Dia (Allooh)…”

Kalimat ini adalah sama dengan “Laa Ilaaha Illallooh”, karena:
(لَا إِلَٰهَ) = “Tidak ada tuhan” = Laa ilaaha
(إِلَّا هُوَ) = “selain Dia” = illa Allooh

7) Dan juga QS. AL BAQOROH (2) ayat 256 :

…يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ…

Artinya:
“…ingkar kepada Thooghuut dan beriman kepada Allooh…”

Kalimat ini adalah sama denganLaa Ilaaha Illallooh”, karena:
(يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ) = “Ingkar kepada Thooghuut” = Laa ilaaha
(وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ) = “Beriman kepada Allooh” = illa Allooh

Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa Selain Allooh disebut Thooghuut.

8) Sedangkan dalam QS. AN NISAA’ (4) ayat 51-52 :

…يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ … أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ

Artinya:
“…Mereka percaya kepada jibt dan thooghuut Mereka itulah orang yang dikutuki Allooh..”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Jibt & Thooghuut adalah musuh Allooh سبحانه وتعالى

9) Lihat QS. AN NISAA’ (4) ayat 60-61 :

…يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

Artinya:
“…Mereka hendak berhakim kepada thooghuut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thooghuut itu..” (QS. An Nisaa (4) ayat 60)

Ayat ini adalah setara dengan “Laa Ilaaha”, dimana orang beriman seharusnya mempunyai sikap mengingkari selain Hukum Allooh yang merupakan Hukum Thooghuut.
Selanjutnya:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Artinya:
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allooh telah turunkan dan kepada hukum Rosuul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An Nisaa (4) ayat 61)

Ayat ini adalah setara dengan “illa Allooh”, dimana orang beriman seharusnya mempunyai sikap tunduk kepada Hukum Allooh سبحانه وتعالى dan Hukum Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم (Syari’at Islam).

10) Perhatikan pula QS. AN NISAA’ (4) ayat 76 :

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ

Artinya:
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allooh, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thooghuut….”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada 2 kubu yang senantiasa berperang:
Orang beriman di jalan Allooh سبحانه وتعالى versus (lawan) orang Kaafir dijalan Thooghuut.

11) Lihat QS. AL MAA’IDAH (5) ayat 60 :

…مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ … عَبَدَ الطَّاغُوتَ

Artinya:
orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allooh…. (orang yang) menyembah thooghuut…”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allooh سبحانه وتعالى melaknat dan murka kepada para penyembah thooghuut. Berarti Allooh سبحانه وتعالى versus (lawan) thoghuut, yang setara dengan “Laa Ilaaha Illallooh”.

12) Lihat pula QS. AZ ZUMAR (39) ayat 17 :

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ …

Artinya:
Dan orang-orang yang menjauhi thooghuut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allooh…”

Kalimat ini adalah sama dengan “Laa Ilaaha Illallooh”, karena:
(وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا) = “Orang-orang yang menjauhi thooghuut” = Laa ilaaha
(وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ) = “Kembali kepada Allooh” = illa Allooh

13) Lihat QS. AL AN’AAM (6) ayat 19 :

أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُلْ لَا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Artinya:
“… Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allooh?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allooh).”

Kalimat ini adalah sama dengan “Laa Ilaaha Illallooh”, karena:
(وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ) = “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allooh)” = Laa ilaaha
(إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ) = “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa” = illa Allooh

14) Juga QS. AL MUMTAHANAH (60) ayat 4 :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ

Artinya:
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrohiim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allooh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allooh saja…”

Dengan demikian seorang Muslim itu seharusnya ia berbebas diri dari orang-orang musyrik dan juga berbebas diri dari kesyirikan / sistem yang syirik, serta ia hanya beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى saja. Ini pada dasarnya adalah kalimat Tauhiid, dimana :
(إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا) = “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allooh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya” = Laa ilaaha
(حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ) = “Sampai kamu beriman kepada Allooh saja” = illa Allooh

15) Dan QS. SHOOD (38) ayat 65 :

وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Artinya:
“…dan sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allooh Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan.”
Kalimat ini pada dasarnya adalah “Laa Ilaaha Illallooh”.

SIAPA & APA ITU THOOGHUUT

Berikutnya, kita kaum Muslimin perlu mengetahui siapa dan apa itu Thooghuut, agar dapat memahami Rukun An Nafyu (“Laa Ilaaha”) dari rangkaian Kalimat TauhiidLaa Ilaaha Illallooh” dengan lebih baik.

Menurut para ‘Ulama Ahlus Sunnah dari kalangan Pendahulu Ummat seperti Al Imaam Maalik, Al Imaam Al Laits bin Sa’ad Al Fahmy, Abu ‘Ubaidah, Al Imaam Al Waahidy dan Al Kisaa’i رحمهم الله dan para ahli dalam bidang bahasa Arab mengartikan kata “Thooghuut” sebagai: “Setiap apa saja yang diibadahi selain daripada Allooh سبحانه وتعالى.”

Sedangkan ‘Ulama Ahlus Sunnah dari kalangan Taabi’iin yakni Mujaahid bin Jabr رحمه الله (murid dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه) mengartikan kata “Thooghuut” sebagai: “Syaithoon dalam bentuk manusia yang dijadikan sebagai pemutus perkara atau dengan kata lain adalah siapa saja yang memutuskan perkara dengan tidak menggunakan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى.”

Al Imaam Al Asfahaany رحمه الله mengatakan bahwa “Thooghuut” adalah: “Setiap siapa saja yang melampaui batas Syari’at Allooh سبحانه وتعالى dan Syari’at Rosuul-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم, juga setiap apa saja yang disembah selain Allooh سبحانه وتعالى, tukang sihir, dukun, pembangkang dari kalangan Jin serta orang yang memalingkan orang lain dari kebaikan.”

Al Imaam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah رحمه الله mengatakan bahwa “Thoghuut” adalah: “SIAPA SAJA yang DITAATI / DIIKUTI / DIIBADAHI SEMENTARA DIA MELANGGAR HUKUM / SYARI’AT ALLOOH سبحانه وتعالى.”
Kemudian beliau رحمه الله mengatakan bahwa: “Thoghuut bagi setiap kaum itu adalah orang-orang yang menjadikan selain Allooh سبحانه وتعالى dan selain Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai pemutus perkara dimana ia diibadahi / diikuti / ditaati tanpa ilmu dari Allooh سبحانه وتعالى.”
Berikutnya beliau رحمه الله mengatakan bahwa: “Thooghuut adalah siapa saja yang diangkat oleh manusia untuk berhukum dengan Hukum Jahiliyah yang bertolak belakang, kontradiksi serta berlawanan dengan Hukum Allooh سبحانه وتعالى dan Hukum Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
Al Imaam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah رحمه الله juga mendefinisikan “Thooghuut” sebagai: “Dukun, Tukang Sihir, orang yang menyandarkan diri pada Berhala dan setiap Hukum yang bukan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى.”

Adapun Ibnul Mandzur رحمه الله didalam Kitab Kamus Bahasa Arab “Lisaanul Arob” mengatakan bahwa “Thooghuut” adalah: “Setiap apa saja yang diibadahi selain daripada Allooh سبحانه وتعالى dan juga setiap kepala / pionir / tokoh daripada kesesatan.”
Arti lain dari “Thooghuut” menurut beliau adalah: “Berhala (Al Asnaam), dukun (Kahaanah), syaithoon dan para pembangkang dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashroni).”

Syaikh Al ‘Utsaimiin رحمه الله mengatakan bahwa “Thooghuut” adalah: “Setiap apa saja yang menyelisihi Hukum Allooh سبحانه وتعالى dan Hukum Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”

Dengan demikian, apabila disimpulkan maka Thooghuut / Ilaah / tuhan-tuhan Palsu yang diibadahi – disembah – ditaati – diikuti SELAIN daripada ALLOOH سبحانه وتعالى itu sangatlah banyak dan bermacam-macam bentuknya, antara lain bisa berupa:
a) Batu — Baik batu besar (arca) ataupun batu kecil.
Contoh: Batu cincin yang apabila oleh penyembahnya (orang yang memakainya) itu dianggapnya sebagai “batu pengasih” (orang yang menyembah batu cincin ini menganggap bahwa cincin yang dipakainya itu dapat menjadikan dirinya disayangi / dikasihi manusia) atau untuk kegunaan lainnya yang semisalnya,
b) Pohon
c) Patung
d) Keris dan berbagai jimat lainnya
e) Hawa Nafsu
f) Hukum / Undang-Undang / Ajaran buatan Manusia (isme-isme, seperti: Demokrasi, Materialisme, Kapitalisme, Sekulerisme, Pluralisme, Atheisme, Komunisme, Sosialisme, dsbnya)
g) Dukun / Paranormal / Tukang Sihir / Tukang Ramal
h) Jin
i) Malaikat
j) Syaithoon / Iblis
k) Nabi / Wali / ‘Ulama / orang-orang shoolih yang disembah,
termasuk Kuburan Nabi / Wali / ‘Ulama / orang-orang shoolih yang dijadikan sebagai sesembahan
l) Hewan
m) Manusia
n) Dewa-Dewi
o) Roh-Roh
p) Bulan
q) Matahari
r) Bintang
s) Akal
t) Apa saja yang dicintai manusia sehingga menandingi cintanya kepada Allooh سبحانه وتعالى (bisa berupa: istri-istri / suami / anak-anak / tempat tinggal / jabatan / harta benda / popularitas, dsbnya)

Adapun beribadah kepada Thooghuut itu dilakukan antara lain dengan cara:
Sujud
Berdo’a
Mengagungkan
Melakukan penyembelihan
Meminta pertolongan atau manfa’at
Meminta perlindungan dari bahaya
Takut
Berharap
Mencintai
dimana semua ini dilakukannya terhadap Thooghuut, dan bukan kepada Allooh سبحانه وتعالى.

BERBAGAI DALIIL TENTANG SIAPA & APA ITU THOOGHUUT :
Berikut ini adalah berbagai daliil yang menjelaskan tentang siapa dan apa itu Thooghuut yang harus diingkari dan dijauhi oleh kaum Muslimin:
1) Perhatikan QS. YAASIN (36) ayat 74-75 :

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ ﴿٧٤﴾ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ … ﴿٧٥

Artinya:
(74) “Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allooh, agar mereka mendapat pertolongan.”
(75) “Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka….”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada Ilaah (tuhan-tuhan) selain Allooh سبحانه وتعالى yang disembah oleh manusia.

2) Perhatikan pula QS. AL FURQON (25) ayat 3 :

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

Artinya:
Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada Ilaah (tuhan-tuhan) selain Allooh سبحانه وتعالى yang disembah oleh manusia, padahal itu adalah tuhan-tuhan palsu, karena tuhan-tuhan palsu itu tidak mampu mencipta, tidak mampu menolak bahaya dan memberi manfa’at, serta tidak mampu mematikan-menghidupkan dan membangkitkan.

3) Lihat QS. AL ANBIYAA (21) ayat 21-22 :

أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِّنَ الْأَرْضِ هُمْ يُنشِرُونَ ﴿٢١﴾ لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿٢٢

Artinya:
(21) “Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)?
(22) “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allooh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allooh yang mempunyai ´Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa adatuhan-tuhan DARI BUMIyang disembah oleh manusia, yang sesungguhnya itu adalah tuhan-tuhan palsu karena tidak dapat menghidupkan orang-orang mati.

4) Lihat QS. ASH SHOFFAAT (37) ayat 95-96 :

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ ﴿٩٥﴾ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ ﴿٩٦

Artinya:
(95) “Ibrohiim berkata:Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?
(96) “Padahal Allooh-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

5) Adapun dalam QS. AL JAATSIYAH (45) ayat 23 :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan HAWA NAFSU-nya sebagai tuhannya dan Allooh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allooh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk setelah Allooh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada tuhan yang berupa HAWA NAFSU.

6) Sedangkan QS. AL ISROO (17) ayat 42 :

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا

Artinya:
Katakanlah: “Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang memiliki ´Arsy“.

Dari ayat ini dapat diambil pelajaran, bahwa kalau tuhan itu jumlahnya banyak, maka tuhan-tuhan itu akan saling berebut kekuasaan. Tuhan itu tidak mungkin berjumlah banyak. Tuhan itu harus bersifat absolut / mutlak / hanya satu saja, dan Dia adalah hanya Allooh سبحانه وتعالى saja yang memiliki ‘Arsy, yang merupakan Tuhan yang berhak untuk diibadahi dengan sebenarnya.

Dari ayat ini pula dapat diambil pelajaran bahwa sistem kekuasaan itu seharusnya hanya dipimpin oleh 1 orang, sebagaimana didalam Al Islam itu pimpinannya disebut sebagai Kholiifah / Imaam / Amirul Mu’miniin.

Sedangkan sistem Demokrasi yang sekarang dianut oleh kebanyakan kaum itu (yang sesungguhnya ia bukan lah sistem yang berasal dari Al Islam); maka didalam sistem ini kekuasaan dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu: Legislatif – Yudikatif – Eksekutif. Hal ini menyebabkan selalu terjadi kericuhan / perseteruan yang tidak ada habis-habisnya, karena antar pihak yang satu dengan pihak yang lainnya terjadi saling tarik-menarik keuntungan politis diantara mereka.

Dan dalam sistem Demokrasi, dimana “Suara Rakyat adalah suara Tuhan”; maka hal tersebut adalah notabene dengan menjadikan adanya tuhan-tuhan yang berjumlah banyak.

7) Perhatikan QS. AN NAJM (53) ayat 19-20 dan 23 :

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ ﴿١٩﴾ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ ﴿٢٠
نْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ ﴿٢٣

Artinya:
(19) “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Latta dan Al Uzza,”
(20) “dan Manaat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allooh)?” …
(23) “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allooh tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)-nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Robb mereka.”

Al Latta, Al Uzza dan Manaat adalah orang-orang yang shoolih semasa hidupnya, namun setelah mereka itu meninggal, orang-orang pun kemudian memuliakan kuburannya, membuat gambar dan patung tentang mereka, dan pada akhirnya menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allooh سبحانه وتعالى.

Adapun di negeri kita Indonesia, sampai saat ini kuburan-kuburan Wali Songo atau kuburan-kuburan yang dianggap keramat pun seringkali dijadikan sebagai tempat berdo’a memohon kemanfaatan atau memohon perlindungan dari bahaya; yang semestinya semua itu dilakukan hanya terhadap Allooh سبحانه وتعالى.

8) Kemudian dalam QS. Al An’aam (6) ayat 75-79 :

وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ ﴿٧٥﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ ﴿٧٦﴾ فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ ﴿٧٧﴾ فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ ﴿٧٨﴾ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٧٩

Artinya:
(75) “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrohiim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.”
(76) “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah BINTANG (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.”
(77) “Kemudian tatkala dia melihat BULAN terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”
(78) “Kemudian tatkala ia melihat MATAHARI terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”
(79) “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Robb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada Bintang, Bulan dan Matahari yang disembah oleh manusia.

Adapun kalimat berikut adalah merupakan kalimat Tauhiid:
(إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ) = “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” = Laa ilaaha
(إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ) = “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Robb yang menciptakan langit dan bumi” = illa Allooh

19) Sedangkan QS. AL JINN (72) ayat 6 :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Artinya:
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada Jin yang dijadikan sebagai tempat meminta pertolongan oleh manusia.

20) Perhatikan QS. SABA (34) ayat 40-42 :

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَٰؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ ﴿٤٠﴾ قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِم ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُم بِهِم مُّؤْمِنُونَ ﴿٤١﴾ فَالْيَوْمَ لَا يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ نَّفْعًا وَلَا ضَرًّا وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿٤٢

Artinya:
(40) “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allooh mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allooh berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?
(41) Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.”
(42) “Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang dzolim: “Rasakanlah olehmu adzab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu“.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada diantara manusia yang menyembah Malaikat dan Jin.

21) Perhatikan pula QS. AL AN’AAM (6) ayat 100 :

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ ۖ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ

Artinya:
Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allooh, padahal Allooh-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allooh mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allooh dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.”

Ayat ini juga menjelaskan bahwa ada Jin yang dijadikan manusia sebagai sekutu bagi Allooh سبحانه وتعالى.

21) Kemudian dalam QS. AN NISAA’ (4) ayat 117-119 :

إِن يَدْعُونَ مِن دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِن يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَّرِيدًا ﴿١١٧﴾ لَّعَنَهُ اللَّهُ ۘ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا ﴿١١٨﴾ وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِّن دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا ﴿١١٩

Artinya:
(117) “Yang mereka sembah selain Allooh itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaithoon yang durhaka,”
(118) “yang dilaknati Allooh dan syaithoon itu mengatakan: “Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba-Mu bagian yang sudah ditentukan (untukku),”
(119) “dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allooh), lalu benar-benar mereka merubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaithoon menjadi pelindung selain Allooh, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.”

Dijelaskan bahwa ada yang menjadikan berhala dan syaithoon itu sebagai pelindung dan sesembahan selain Allooh سبحانه وتعالى.

22) Adapun QS. AL MAA’IDAH (5) ayat 116-117 :

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ ﴿١١٦﴾ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿١١٧

Artinya:
(116) “Dan (ingatlah) ketika Allooh berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allooh?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghoib-ghoib.”
(117) “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allooh, Robb-ku dan Robb-mu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada yang menjadikan Nabi dan manusia itu sebagai sesembahan selain daripada Allooh سبحانه وتعالى, contohnya: kaum Nashroni yang menjadikan Nabi ‘Isa عليه السلام dan ibunya Maryam sebagai tuhan-tuhan / sekutu-sekutu bagi Allooh سبحانه وتعالى.

23) Kemudian dalam QS. AT TAUBAH (9) ayat 31 :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya:
Mereka menjadikan alim ulama dan rahib-rahib (pendeta-pendeta) mereka sebagai tuhan selain Allooh dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allooh dari apa yang mereka persekutukan.”

Kembali dijelaskan dalam ayat ini bahwa ada dikalangan manusia (kaum Nashroni) yang menjadikan “Al Ahbaar” (yaitu para alim ulama) dan “Ar Ruhbaan” (yaitu rahib-rahib / pendeta-pendeta / para ahli ibadah) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allooh سبحانه وتعالى, karena mereka itu menghalalkan apa yang diharomkan Allooh سبحانه وتعالى (contoh: memakan daging babi, meminum khomr, dll) dan mengharomkan apa yang dihalalkan Allooh سبحانه وتعالى (contoh: diharomkan menikah bagi para biarawan); kemudian manusia pun mengikuti atau bersikap taqliid pada mereka.

Sayangnya ada dikalangan sebagian kaum Muslimin yang terjangkiti sikap ini, dimana mereka menjadikan para ‘Ulama / Kyai / Ajeungan / Ustadz / pimpinan agama atau tokoh-tokoh masyarakat mereka untuk diikuti perkataan atau ajarannya dengan cara taqliid; sekalipun perkataan / ajaran itu tidak berlandaskan atas daliil yang shohiih dari Al Qur’an dan As Sunnah, serta tidak didasarkan pada pemahaman yang benar.
24) Perhatikan QS. AL BAQOROH (2) ayat 165 :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Artinya:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allooh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allooh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allooh….”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada “Al Andaad” yaitu apa saja yang merupakan tandingan-tandingan selain Allooh سبحانه وتعالى yang dicintai manusia sebagaimana ia mencintai Allooh سبحانه وتعالى. Padahal seyogyanya seorang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allooh سبحانه وتعالى daripada kepada selain-Nya. Dan yang terkategorikan ini adalah banyak sekali bentuknya, bisa jadi ia adalah istri-istri / suami / anak-anak / harta benda / rumah tempat tinggal / jabatan / kedudukan / popularitas, atau apa saja yang amat dicintai manusia yang dapat menjadikan dirinya terhalang dari beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sebenar-benarnya peribadatan.

Demikianlah, hendaknya setiap Muslim memahami kedua rukun kalimat Tauhiid ini sebagaimana mestinya, agar ia dapat lurus dalam beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 425 dan Al Imaam Muslim no: 33, dari Shohabat ‘Itbaan bin Maalik Al Anshoory رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إن الله قد حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله

Artinya:
Sesungguhnya Allooh mengharomkan neraka bagi orang yang mengucapkan”Laa ilaaha illallooh” dengan tujuan mengharap wajah Allooh.”

Tentunya “Laa Ilaaha Illallooh” yang dimaksud dalam Hadits diatas adalah “Laa Ilaaha Illallooh” sebagaimana yang rukun-rukunnya telah dijelaskan didalam Al Qur’an, As Sunnah, dan dipahami dengan benar sebagaimana pemahaman Para Pendahulu Ummat yang shoolih dan para Imaam yang mu’tabar; bukan “Laa Ilaaha Illallooh” yang asal diwiridkan tetapi tidak dipahami makna, kandungan dan konsekwensinya. Semoga Allooh سبحانه وتعالى memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang akhir hayatnya ditutup dengan ucapan “Laa Ilaaha Illallooh” yang telah kita pahami dengan benar tersebut dengan hati yang ikhlas berharap pada wajah-Nya, agar kelak Allooh سبحانه وتعالى pun memasukkan kita kedalam Surga-Nya.

Sekian bahasan kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

—–0O0—–

Silakan download PDF : Memahami Kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallooh FNL

6 Comments leave one →
  1. 28 June 2013 9:18 am

    السلام عليكم
    Izin copas & share ya admin,
    Hatur nuhun..

    • 28 June 2013 4:19 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  2. Abu Faris permalink
    1 July 2013 12:05 pm

    Assalamu’alaykum.

    Afwan ustadz, kok tidak ada audio nya? Ana sedang mengumpulkan rekaman audio nya untuk tema-tema seperti ini, semoga bisa segera diadakan agar bisa segera ana download dan ana sebarkan. Untuk audio yang lainnya sudah ana download, seperti judul, Hakekat Makna Laa Ilaaha Illallooh, Syarat Laa Ilaaha Illallooh, Ayat Al Qur’an tentang Thooghuut, semoga tema-tema seperti ini bisa lebih banyak lagi dikaji dan lebih detail lagi, agar dapat meluruskan pemahaman tauhid umat ini yang saat ini keadaannya sedang rusak aqidahnya.

    • 1 July 2013 5:44 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Syukron atas masukan antum…. Untuk Rukun Kalimat Tauhiid qodarollooh waktu itu memang tidak terekam audio ceramahnya, tapi in-syaa Allooh mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat dimuat di Blog ini audio ceramah Dauroh yang merupakan rangkuman tema “Syarat Laa Ilaaha Illallooh” yang beberapa waktu lalu telah terselenggara… Lagipula disamping itu, penjabaran tentang daliil-daliil yang berkaitan dengan Rukun-Rukun “Laa Ilaaha Illallooh” adalah lebih mudah dipahami dalam bentuk Artikel Tulisan (Transkrip Ceramah)… Semoga tetap dapat menjadi ilmu bermanfaat bagi ana, antum, kaum Muslimin serta siapa saja yang mengkajinya…. Dan semoga Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa memperbaiki keadaan kaum Muslimin, memberi hidayah dan taufiq agar kaum Muslimin lurus diatas jalan-Nya serta istiqomah hingga akhir hayat.

  3. Sulastri permalink
    7 January 2016 9:29 pm

    Izinshare pa ustadl

    • 9 January 2016 10:14 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silahkan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: